SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

NEWSLETTER

19 October 2017

#AAGoMakeItReal: Jika Pergi ke Bangkok selama 3 Hari 2 Malam bersama AirAsiaGo!

Foto milik Lonely Planet. Cool huh?
Ada yang bisa menebak tempat yang selalu saya cek harga tiketnya setiap minggu? Jika kamu menjawab Bangkok, yes kamu benar! Dan karena kamu benar, saya punya hadiah yaitu itinerary (☆ULTIMATE☆) 3D2N di Bangkok yang saya susun sendiri! Woo hooo! Dan melalui itinerary (☆ULTIMATE☆) ini saya harap saya juga akan segera dapat hadiah dari AirAsiaGo Indonesia untuk terbang sejauh 3000 kilometer menuju Bangkok dan bersenang-senang disana. Tapi sebelumnya, silahkan cek hadiahmu dulu berikut ini:

3D2N Ultimate Itinerary in Bangkok for You Who Travel and Enjoy Everything with AirAsiaGo Indonesia!

Delicious food in Bangkok. Foto milik Mark Weins dari Migrationology
Day 1: Selamat datang!
Pergi ke Bangkok naik AirAsia dengan jadwal penerbangan pagi supaya bisa langsung mulai eksplor! Dari bandara langsung menuju Pasar Apung Khlong Lat Mayom untuk menikmati aktivitas pagi dan cari sarapan. Untuk menuju pasar sebenarnya bisa naik BTS Skytrain, hanya saja naik taksi/mobil bisa lebih cepat dan tidak perlu banyak transit. Sarapan yang bisa jadi pilihan ada goong ob woon sen, bihun goreng dengan udang besar-besar dan saus seafood, atau ikan lele goreng tepung, atau sate ayam dengan saus Thailand yang khas.

Jika sudah cukup kenyang, lanjut kegiatan eksplor dengan naik perahu berkeliling sekitar sungai. Dengan naik perahu, kita bisa turun di desa-desa atau kuil-kuil. Seru sekali! Setelah puas berkeliling, beli jajan khao lam (semacam campuran beras ketan, gula, dan santan dimasukan ke dalam bambu lalu di bakar), es kelapa muda, dan lanjut jalan ke sentral Bangkok.

Check in hotel The Warehouse Bangkok, taruh barang, bersih-bersih. Hotel yang sudah bundling dengan pesawat AirAsia ini harganya terjangkau (di website AirAsiaGo sering sekali ada diskon lho!) dan lokasinya strategis di Bangkok City Center. Asyik kan. Kemana-mana jadi dekat. Yang unik lagi adalah desain interiornya. Secara umum furniturnya minimalis dengan warna kayu pucat, tapi gambar pada dinding kamar itu gemas-gemas semua! Cek foto-fotonya disini.

Setelah bebersih, siapkan diri untuk mengikuti Bangkok Midnight Food Tour dengan naik tuk-tuk. Seru banget! Acara ini akan memperkenalkan kita seperti apa kehidupan Bangkok di malam hari. Selain itu kita juga akan mencicipi jajanan lokal yang jadi favorit seperti pad thai dan guay tiew kua gai, juga melihat kuil-kuil asrtistik secara dramatis. Bisa book lewat AirAsiaGo juga lho! Klik disini. Mudah kan?

Wat Pho. Foto milik Samantha Siahaan.
Day 2: Historical Day!
Sudah rahasia umum bahwa Bangkok adalah kota eksotis. Ibu kota Thailand ini bahkan pernah memenangkan penghargaan sebagai kota terbaik. Sebelum kita memulai eksplorasi Bangkok, jajan street food khas Bangkok di Wang Lang Market supaya kuat jalan-jalan. Setelah puas jajan, saatnya mulai datangi tempat-tempat eksotis. Pertama kita ke Wat Saket (Golden Mount), lalu ke Bangkok National Museum, lanjut ke The Grand Palace, Amulet Market, Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan, dan akhir perjalanan hari ini ke Wat Trai Mit (Golden Buddha Temple).

Semua destinasi ini berlokasi di kota tua Bangkok, berdekatan, dan memiliki ciri khas masing-masing. Pastikan kamu berpakaian sopan supaya tidak dilarang masuk ke dalam kuil. Jika masih ada waktu dan tenaga, bisa kunjungi kuil-kuil atraktif yang menarik untuk di eksplor dan lokasinya sungguh dekat dengan hotel The Warehouse, hanya sepuluh sampai lima belas menit jalan kaki, misalnya Wat Phra Kaew (Temple of Emerald Buddha), Wat Suthat, dan Wat Ratchanadda. Siap-siap wawasan dan kameramu akan menangkap banyak hal menakjubkan.

Setelah puas menikmati kuil dan eksotisme Bangkok, kita main ke Night Market di Khao San Road. Lokasinya tak jauh juga dari hotel. Disini kita akan menemukan macam-macam barang buatan lokal dan impor. Disini juga cocok untuk cari oleh-oleh. Selain barang-barang unik, kita bisa cicip banyak jajanan lokal khas Thailand. Pasar ini ramai, jadi jangan sampai hilang di tengah kerumunan ya.

Lelah jalan kaki? Saatnya menghibur diri dengan pertunjukan paling menarik di Bangkok, apalagi kalau bukan nonton Kabaret Calypso Bangkok. Apa serunya? Kita akan menyaksikan senimar transgender profesional menari, drama komedi, juga peragaan berliuk-liuk menirukan gaya artis! Mudahnya adalah tiket pertunjukan ini bisa dipesan lewat AirAsiaGo juga untuk pertunjukan jam 8 atau jam 9 malam. Klik disini untuk pesan tiket (pssst, sudah sama tranportasi antar jemput lho!).

Suasana di Pasar Mahachai. Sumber foto dari sini.
Day 3: A Day of Interacting!
Hari terakhir di Bangkok sebaiknya diisi dengan kegiatan seru yang melegenda, apalagi kalau bukan berinteraksi langsung dengan aktivitas lokal dengan melihat Pasar Mahachai yang berada di rel kereta api. Ya benar, pasar di jalur kereta api yang masih aktif. Seru bukan? Kita akan menikmati pasar unik ini dengan menaiki kereta api lokal, main ke desa nelayan (jangan lupa jajan seafood), melihat situasi pasar dan aktivitas sosial yang eksotis. Untuk mempermudah, kamu bisa book trip ini lewat AirAsiaGo. Klik disini deh.

Sepulang dari Mahachai, kita tambahkan aktivitas interaksi dengan main ke China Town di Yaowarat Road. Tunggu jangan protes dulu. Kenapa harus ke China Town di Bangkok? Itu dia jawabannya, China Town di Bangkok, siapa yang tidak penasaran? Intip bagaimana kehidupan orang Cina disini, bagaimana mereka membuat kawasan ini hidup dan menarik. Bagaimana mereka bisa ada disini. Interaksilah dengan mereka sebanyak-banyaknya, tanya macam-macam, rasakan ambience yang muncul dari aktivitas para penjaja sambil makan siang.

Sore hari terakhir di Bangkok saatnya memanjakan diri sebelum pulang. Mencoba Traditional Thai Massage sepertinya ide bagus. Tubuh kita akan menerima pijatan lembut untuk menghilangkan letih setelah dua setengah hari eksplorasi Bangkok, jadi saat pulang kembali ke tanah air badan sudah segar dan siap beraktivitas.

---

Tulisan ini adalah submisi saya dalam program #AAGoMakeItReal yang diselenggarakan oleh AirAsiaGo Indonesia. Ini juga hadiah untuk kalian semua yang sudah baca tulisan ini sampai selesai, semoga bermanfaat buat kalian yang mau main ke Bangkok (nanti saya susul ya naik AirAsia 😁).
No comments

10 October 2017

London First-timer: Expectation vs Reality

London at Night
Hari pertama saya dan Mas Gepeng tiba di London dikejutkan oleh fakta bahwa kota ini tidak sebersih yang kami kira. Tiba di pintu keluar Victoria Station, kami melihat sampah dimana-mana: pinggir jalan, tengah jalan, pinggiran gedung, halte, dan di sekitar tempat sampah. Kami pun sempat berpapasan dengan seorang gadis yang melempar pelastik sampah dari dalam toko dan hampir mengenai kami. Is this London? Is London really has fallen? Untungnya tidak. London tetaplah London, salah satu dari sekian banyak bintang terang di Eropa. Saya rasa dia setara dengan Paris, atau Jakarta, atau Kathmandu, atau ibu kota negara lain yang meski terkesan menawan dia tetap memiliki kelemahan. Saya banyak menemukan hal seru di London. Tidak begitu bersih? Itu baru satu. Apa lagi selanjutnya?

Selamat datang di London!
Expectation: Red telephone box I'm coming! Pasti bisa ketemu boks telepon ikonik ini dan mau foto bareng dan mau coba telepon.
Reality: Gemes banget memang boks telepon ini. Tapi ternyata mayoritas boks sudah tidak digunakan sebagai tempat telepon. Bahkan ada yang tidak terawat dan jorok sampai-sampai kalau pegang kayaknya bakalan kena tetanus.
Siapa yang tidak tau salah satu ikon London ini? Saya pun gembira ketika melihatnya secara langsung untuk pertama kali. Sayangnya boks pertama yang saya temui itu sudah bukan lagi boks telepon umum, melainkan 'lemari' penuh coretan vandalisme, sampah rokok, pecahan botol, sampah-sampah, pokoknya mengerikan. Yang dekat Big Ben pun tak semua layak foto. Ada dua yang lumayan, sisanya? Mending jangan coba-coba sentuh apalagi buka pintunya daripada menyesal. Kabarnya ada beberapa boks telepon merah yang 'disulap' menjadi media tanaman. Ide bagus! Ada juga yang jadi kafe, toko topi, perpustakaan, tempat kerja kecil, dan lain-lain. Sejak pertama kemunculannya di tahun 1921, boks telepon merah ini sudah bertransformasi berkali-kali dan kini sedang proses desain ulang dengan bentuk jauh lebih modern dan (sayangnya) berwarna hitam.

Pemandangan di depan balkon kamar kami dan rasanya seperti jadi orang lokal.
Expectation: Harga hostel Rp1,5juta per malam, hanya tempat tidur, tak perlu bagus-bagus yang penting WiFi, jalan kaki agak jauh ke stasiun tak apalah.
Reality: Double-bed kamar baru, harga Rp800ribuan per malam, dapur bagus, WiFi canggih, dan dekat stasiun! I love you Airbnb! ✨
Salah satu komponen paling mengkhawatirkan ketika mau ke London adalah akomodasi. Beruntung ada dua teman baik saya yang siap membantu mencari akomodasi murah, namanya HostelWorld dan Airbnb. Dua situs itu memang luar biasa. Ada yang lain sih, tapi untuk ke London saya dibantu oleh mereka. Menginap di dorm mungkin pilihan terakhir yang ada di list-mu, tapi jangan samakan dorm di London dengan di Kamboja lho. Well, at least meski bentuknya sama, cuaca dan tidak berdebunya London membuatnya terasa jauh lebih baik. Airbnb juga alternatif luar biasa. Harga yang ditawarkan bersaing dan tidak jarang lokasinya sangat strategis. Jangan khawatir untuk hal ini, budget penginapan sungguh bisa diakali. Kamu bisa mendapatkan harga yang sama dengan hostel yang kamu pesan di Bali atau Yogyakarta.

Apartemen saya di London berada di kawasan Shadwell Garden, 10 menit saja dari Stasiun Shadwell. Beruntungnya, rumah baru saja di renovasi sehingga semua masih dalam kondisi prima. Kasur nyaman, penghangat ruangan hidup, kamar mandi bersih, dapur bagus (gratis bikin teh sesuka hati), hanya saja dia di lantai 4, jadi lumayan bikin keringatan.

Kamar Airbnb kami di London yang sebenarnya terlihat lebih sophisticated ketimbang kamar kami di rumah.
Dapur bersama apartemen. Cakep kan?
Expectation: Bawa tisu basah glove untuk mandi. Satu pak cukup.
Reality: Butuh tisu basah satu pak besar khusus untuk seka bokong! Astaga! Tidak ada selang semprot untuk cebok di semua toilet di London! Eeew!
Mengejutkan. Sekaligus mengerikan. Toilet di London entah di apartemen, di kafe, rumah makan, stasiun, rumah penduduk, semua tidak pakai selang. Tak heran tempat sampah disana selalu penuh dan berantakan dengan tisu. Bagi Mas Gepeng yang rutin buang air pagi dan malam ini musibah. Saya meski tidak sesering Mas Gepeng pun tidak siap mental kalau kami harus cacingan selama jalan-jalan di London. Saya pernah melihat toko souvenir di Skotlandia yang memiliki vending machine, didalamnya menjual jajanan dan barang-barang. Yang mengejutkan adalah mereka menjual tisu basah seukuran travel kit khusus untuk cebok. Lah? Tau untuk cebok itu butuh sesuatu yang higienis tapi kenapa tidak disediakan gratis dimana-mana? Kenapa tidak terpikirkan untuk menggunakan selang semprot? Kalau takut toilet jadi becek, tinggal kasih keset sintetis. Lagipula toilet-toilet di Inggris meski pakai tisu pun tetap bisa becek juga.

Saya harap ada orang Inggris yang membaca tulisan ini dan mulai mengkaji bahwa cebok dengan tisu kering atau basah itu tidak cukup higienis (dan jumlah tisu kering/basah yang habis terbuang untuk sekali cebok BAB itu lumayan banyak lho!).


Expectation: Banyak sekali moda transportasi umum di London. Siap-siap bingung.
Reality: Memang ada banyak: tube (underground), train, taksi, Uber, becak, dan bus. Tapi memilih moda transportasi di London bisa dibuat mudah kok.
Mungkin kamu akan membutuhkan tenaga ekstra untuk membuat itinerary tempat mana saja yang ingin dikunjungi di London. Buatlah seefisien mungkin karena kemana kamu akan jalan-jalan menentukan moda transportasi apa yang akan kamu gunakan. Kamu bisa baca tulisan teman saya @MiraAfianti yang telah melakukan amal jariyah luar biasa karena membantu menyusun itinerary agar efisien dan menemani saya jalan keliling London. Menurut Mira, ada baiknya kita konsisten memilih moda transportasi. Jika ingin naik tube, naik tube terus. Begitu juga dengan bus. Berhubung saya hanya punya 2 hari, di London saya mencoba dua moda transportasi: bus dan tube. Naik bus untuk menuju tujuan yang lebih dekat ke halte ketimbang ke stasiun. Sedangkan naik tube untuk ke lokasi yang lebih jauh. Kalau naik bus dan tube kita bisa memanfaatkan fitur daily cap yaitu jika sehari sudah menghabiskan sekian pound, maka seharian akan gratis (untuk di zona 1 dan 2 saja tapi).

Suasana stasiun. Ini masih siang, jadi tidak terlalu ramai.
Expectation: Naik tube pertama kali pasti menyenangkan! Meski yakin akan beberapa kali salah turun karena peta jalurnya terlihat rumit.
Reality: Yeah benar menyenangkan! Seru sekali naik tube pindah-pindah jalur dan bertemu macam-macam orang. Ternyata membaca peta jalur tube mudah lho! Selama tidak ketiduran dan tidak bengong, saya yakin pasti turun di stasiun yang tepat!
Hari pertama kami di London cukup impresif.  Sepulang dari Inggris selatan, kami tiba di Victoria Station, London sekitar pukul 9 malam. Penginapan kami berada persis di sebelah Shadwell Station di zona 2 sehingga moda tercepat menuju kesana adalah naik tube. Setelah beli Oyster Card, dari Victoria yang berada di jalur kuning zona 1 menuju Shadwell di jalur oranye-dua-garis zona 2, saya naik tube yang menuju Tower Hill, turun disitu lalu pindah ke jalur hijau dengan pemberhentian terakhir di Upminster. Selanjutnya sekali lagi, saya harus berpindah jalur yang menjadi irisan antara jalur hijau dan jalur oranye-dua-garis tujuan saya. Lalu saya turun di Whitechapel dan pindah ke jalur oranye-dua-garis dan turun di Shadwell. Terdengar melelahkan? Tidak kok. Yang melelahkan hanya karena kami membawa dua carrier besar dan beberapa stasiun sangat tidak-ramah-pemalas alias banyak tangga. Untuk mekanisme tube dan masa transisi tidak ada yang menyusahkan. Peralihan antar jalur dan tidak terprediksinya jarak antar stasiun membuat kami benar-benar awas. Berusaha tidak tidur meski mengantuk kelelahan. Yang menjadi kejutan adalah ternyata tidak sulit membaca peta jalur tube selama mata kita jeli dan tau dimana lokasi tujuan.

Expectation: Stasiun dan tube di London pasti kinclong! London gitu lho!
Reality: Tidak juga, haha. Sejujurnya stasiun beserta kereta bawah tanah di Hong Kong lebih menakjubkan.
Secara umum kereta tube terawat baik, hanya saja ada yang menggunakan AC ada yang tidak. Saya sempat merasakan tube yang membuat berkeringat. Pemandangan pun tak selamanya indah dan tidak selamanya berada dibawah tanah. Kadang kita bisa lihat kawasan kumuh, kadang tidak lihat apa-apa, kadang bisa lihat kota yang cantik, dan kadang bisa juga lihat kawasan padang rumput pendek yang berantakan. Kalau stasiun sih karena adanya dibawah stasiun besar dan lebih ramai, jadi kelihatan tidak terawat. Hawanya pun agak suram. Perjalanan naik tube akan membuat kita tau bahwa London dibawah sana lumayan berantakan mulai dari kabel-kabel besar, pipa, dan beberapa kawasan fakir.

Foto yang saya ambil saat berada di kursi depan lantai 2 bus double decker.
Expectation: Naik the iconic double decker pasti mahal. Foto atau colek-colek saja tak apa deh.
Reality: Double decker adalah kendaraan umum, ada dimana-mana, harganya beragam tergantung rute dan tenang saja, ada fitur daily cap. Lagipula naik bus ini ternyata mudah karena ada CityMapper!
Kemunculan bus double decker ini dulu terinspirasi dari moda transportasi di Paris. Kreasi pertama dimulai tahun 1892 dengan kuda sebagai mesin utamanya. Baru pada tahun 1899 mulai pakai mesin mekanik. Jatuh bangun penggunaan bus sebagai moda transportasi mulai dari untuk perang, mengirim pasokan makanan, melindungi masyarakat dari serangan musuh, hingga dijadikan rumah sakit darurat, akhirnya mengalami masa transformasi besar pada tahun 1946. Bus mulai dijadikan moda transportasi favorit. Ingat Routemaster? Desain bus double decker pertama yang ikonik sekali. Bentuknya seperti dua kotak pensil ditumpuk dan punya 'jidat' kotak. Namun karena dirasa kurang efisien, desain bus pun diotak-atik sampai bentuknya smooth seperti yang kita nikmati sekarang.

Selama naik bus (dan tube juga sih) saya menggantungkan nasib ke Mira yang punya handphone dengan internet jadi selalu punya guide untuk bus mana yang akan kami naiki. Guide hebat ini bernama CityMapper. Saya pun ketika pergi tanpa Mira, baik naik bus atau tube sangat mengandalkan aplikasi ini. Tinggal buat rute dari lokasi ke tujuan, nanti muncul nomor bus/jalur kereta yang dibutuhkan dan berapa tarif yang diperlukan, lalu save offline. Jika kehidupanmu di London mengandalkan WiFi maka siapkan rute perjalananmu dan simpan semuanya di CityMapper. Dengan semua kemudahan itu, kami tak ada momen 'terpaksa' naik the iconic black cab atau pesan Uber. Nah kalau naik double decker coba deh naik ke lantai 2 lalu duduk di barisan depan. Seru banget! Pandanganmu akan luas sekali, jadi bisa melihat banyak hal. Apakah kamu lihat ada badak gantung pada foto diatas?


Makanan saya di Restoran Chopsticks, satu porsi mix starters £6 dimakan berdua karena porsinya besaaar.
Expectation: Disana makanan hambar dan porsinya banyak. Bisa masak nasi juga di apartemen, apa perlu bawa Magic Jar ya?
Reality: Makanan di London memang hambar, beruntung bawa BonCabe. Dan porsinya sungguh besar-besar! Karena banyak yang murah, tak perlu lah menanak nasi sendiri. Dan percayalah, meski banyak yang hambar, yang luar biasa enak juga banyak!
Seseorang pernah berkata,"Traveling ke London itu mahal!". Tentu saja mahal. Mata uang poundsterling itu memang sinting jika dibandingkan dengan rupiah. Pengalinya terlalu banyak. Dan banyak orang yang buang jauh mimpinya ke London karena alasan ini. Manusiawi, memang. Siapa rela makan sandwich seharga Rp25ribu yang hanya mampu menafkahi satu dari seribu ekor cacing di ususmu? Tapi percayalah, mengeksplorasi London saat umurmu produktif adalah hal yang hebat. Dari awal keberangkatan kami sudah menerima peringatan bahwa lidah Asia akan sedikit tidak cocok dengan makanan Inggris yang cenderung hambar. Makanan di Inggris dan Skotlandia basically harganya tak jauh beda. Harga satu porsi makanan standar kira-kira sekitar £5 - £10 dan percayalah porsinya banyak. Mahal, memang. Tapi ini bisa diakali. Selama kamu bisa menemukan Lidl, Tesco, Sainsburry, atau Marks&Spencer, maka kamu selamat karena memasak sendiri akan jauh lebih murah ketimbang jajan, prinsip yang sama seperti negara kita bukan?

Untuk mendukung penghematan ini, pastikan kamu sewa hostel atau Airbnb yang menyediakan dapur, jadi mau masak total (mulai dari nasi, lauk, dan sayur) atau menghangatkan (bisa beli pasta atau sandwich murah), semua bisa dilakukan. Saya banyak beli makanan siap saji yang tinggal dihangatkan, biasanya beli yang sudah diskon jadi makin murah. Minum tak perlu muluk-muluk mengharapkan mojito atau soda, cukup tap water saja. Mau hemat kan?

Minuman mewah nomor 2 setelah cokelat panas. Setidaknya untuk yang berbayar. Oh jangan lupa kalau kita belanja di supermarket dan menggunakan pelastik dari sana, kita bayar 5 pence.
Jangan lupa banyak cicipan gratis di Borough Market. Kebanyakan cicip-cicip itu menggunakan roti dan keju yang 5 kali makan saja sudah terasa kenyang.
Sup seafood tidak sedap.
Expectation: Kalau bingung makan apa di London, coba makanan cina saja. Rasanya bisa lebih familiar dan biasanya selalu enak.
Reality: TIDAK ENAK! Dan pelayanannya tidak ramah! Benar-benar deh, kirain sesama Asia bakalan saling baik-baik gitu.
Mungkin tidak adil jika saya mengatakan ini sedangkan di London saya hanya coba makan di restoran cina sekali saja. Tapi sedihnya, makanan ini jadi hidangan penutup di hari terakhir sebelum pulang. Rasanya hambar dan kaldunya tidak gurih. Apakah mereka menyesuaikan makanan dengan cita rasa London? Entahlah.


Expectation: Saya hanya akan beli magnet kulkas sebagai cinderamata, sisanya meh 😒. Primark adalah tempat yang bagus untuk beli pakaian jikalau masih butuh syal atau jaket.
Reality: Pakaian di Decathlon bagus plus banyak sekali potongan harga! Dan beberapa kali kami melewati Primark, mereka tidak seramai yang saya bayangkan.
Apakah belanja harus selalu di Primark? Ya, mungkin, jika kamu memerlukan baju atau jaket atau celana. Selain makanan, ongkos transportasi, baju olahraga Decathlon, dan magnet kulkas, saya tidak mengeluarkan uang lagi. Saya bawa jaket hangat dari Indonesia hasil pemberian teman, pun sepatu, tas, dan kebutuhan pokok lainnya. Pada dasarnya saya memang bukan tipe orang yang banyak belanja barang saat traveling. Kalau kamu ingin belanja hemat, memang Primark tempatnya. Alternatif lain mungkin flea market atau sale musiman atau charity shop. Jadi advis yang bisa saya berikan hanya membeli magnet kulkas –lagipula ini ide Mira haha. Kemarin saya beli magnet di Queensway, dan kalau masih mau yang lebih murah bisa cari juga di Camden Lock Market. Kabar baiknya lagi, kamu masih bisa minta diskon tambahan meski mereka sudah memberikan harga diskon. Siapa yang tidak suka dobel diskon?


Westminster Abbey dinikmati dari luar. Atraktif. Dan gratis (kalau hanya di luar saja).
Expectation: Banyak tourist spot gratis dan bisa dinikmati lama-lama.
Reality: Ya benar, banyak! Kita hanya perlu uang untuk menuju kesana, sisanya, silahkan berkeliling.
Semua tempat yang kami kunjungi bebas biaya dan tidak ada penjual jajan yang membuat lapar seketika. Saat itu kami tidak berkunjung ke museum, tapi main ke Big Ben, foto di boks telepon merah, Westminster Abbey, Tower Bridge, Sungai Thames, Hyde Park, nonton musisi jalanan (mereka bagus-bagus banget nyanyinya!), lihat pameran tugas akhir di Bartlett School of Architecture, cicip makanan gratis di Borough Market, main ke kawasan muslim sekitar Shadwell, foto dengan pria yang seolah-olah detektif di The Sherlock Holmes Museum, tempat kongkow, lihat-lihat kampus, dan acara senang-senang gratis lainnya. London is full of simple attractions. Semua bisa dinikmati dengan mudah tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Lokasi piknik dimana-mana

Piknik di Hyde Park atau taman-taman lain di London adalah hal yang menarik dan menyenangkan dan gratis.
Terowongan artistik
Sumpah saya kira mereka akan memasang wajah fierce a la Sherlock Holmes.

Expectation: Langit London terkenal gloomy. Tapi kan summer, pasti langitnya biru. Dan tidak terlalu dingin.
Reality: London selalu gloomy. Dan memang tidak terlalu dingin.
Ya begitulah. Seperti foto-foto yang ada di tulisan ini, semua gloomy, kelabu, suram. Seperti sedang ada di Gotham City –eh tau tidak, meski setting film Batman adalah New York, sebenarnya di Inggris ada desa yang bernama Gotham lho!
 
Masih di sekitar Westminster Abbey. Jalan kaki disekitaran ini seru lho. Dan gratis.
Tempat kongkow gratis, terawat, dan nyaman ditengah kota. WiFi gratis!
Wanita keren ini punya suara lembut agak serak-serak basah tapi strong. Membuat lagu Englishman in New York siang itu seolah lagu baru.

Mira dan Tower Bridge!

Expectation: Saya dan Mas Gepeng akan bersenang-senang di London bersama teman dan sepupu-sepupu kami.
Reality: Saya dan Mas Gepeng sangat amat bersenang-senang di London bersama semua orang disana!
Sampai jumpa lagi, London!
19 comments

9 October 2017

Jendela Dunia bernama Instagram

Saya ingin bertanya pada teman-teman pembaca yang mungkin datang dari berbagai generasi (milenial, Y, Z, atau baby boomers –karena saya tau orang tua, atasan, dan mungkin kakek saya juga membaca blog ini), apa yang kalian suka dari Instagram? Bisa live dengan stiker? Upload foto liburan mu tahun lalu dan tidak masalah karena ada #latepost? Bisa update gosip penting/tidak penting artis yang kadang kamu tau dia siapa kadang juga tidak? Saya termasuk orang yang menggunakan Instagram setiap hari. Pagi, siang, sore, malam, selalu menilik Instagram.

Suatu hari ketika saya sedang bosan dengan suasana kantor, saya duduk sendiri di pantry dan memandangi langit. Saya menerka-nerka, apa yang dilakukan orang Inggris di jam seperti ini ya? Atau, apakah unta-unta sedang bekerja mengantarkan tamu atau sedang leha-leha di pinggir gurun Sahara? Lalu saya membuka Instagram. Delapan puluh persen akun yang saya follow adalah traveler, entah travel blogger, travel writer, atau travel photographer. Dan setiap saya buka feed, saya melihat seluruh dunia.

Ini yang saya suka dari Instagram. Dia adalah jendela dunia. Bisa melihat Afrika, Tibet, India, Islandia, Austria, semua semua keindahan alam semesta dalam kemasan visual yang apik dalam sekali scroll. 

Sebenarnya saya agak kasihan dengan nasib Instagram di era milenial ini. Terlalu banyak hal konyol yang entah muncul darimana. Sebut saja akun gosip –thanks Gossip Girl atas inspirasinya, nyinyir atau komentar sarkasme yang menyebar diberbagai komentar artis dan selebgram, juga akun-akun menarik tidak menarik yang mengupas berapa harga pakaian seseorang. Saya rasa sudah saatnya setiap orang lebih bijak dalam menggunakan media sosial jika tidak mau ada prasangka gelap yang sedikit-sedikit-lama-lama-menjadi-bukit.

Sekali lagi, Instagram adalah jendela dunia. Seperti buku, kita bisa melihat dan mempelajari banyak hal. Jendela itu ada ratusan, bahkan jutaan, atau milyaran. Tidak perlu semua jendela dikunjungi, pilih yang disukai dan membuat hati senang saja. Tidak perlu membenci jika salah jendela, kita tinggal geser sedikit atau agak banyak untuk menemukan jendela lain yang lebih menarik.

Lihat lah dunia seluas-luasnya. Jika melihatnya di Instagram membuatmu berteriak girang, maka kunjungilah, lalu nikmati sebaik-baiknya.
3 comments

26 September 2017

London Foto-Esai: Interaksi antara Manusia dan Makanan di Borough Market

Interaksi di Borough Market
Siapa yang setuju dengan saya bahwa Borough Market adalah salah satu tempat paling indah di dunia? Bagaimana tidak, makanan enak? Cek. Suasana hangat? Cek. Makanan unik? Cek. Buah segar? Cek. Murah meriah? Umm, saya lebih suka bilang terjangkau. Bersih? Cek. Tap water gratis? Cek. Orang-orang ramah? Cek. Interaksi? Cek. Happiness? Cek. Buat saya, tempat ini lebih dari sekedar lokasi touristy dengan jajanan serbaneka. Tempat ini sangat hangat akan interaksi, dan passion. Kali ini saya akan menjadi tour guide kalian untuk menikmati Borough Market di London melalui pameran visual lengkap dengan esai hasil riset kecil-kecilan saya yang, yah, lumayan menambah wawasan. Kita mulai ya.

0.
Borough Market adalah pasar makanan tertua di London. Usianya sudah satu abad lebih. Bermula dari pusat nongkrong dengan hotel dan pub, kemudian sejak tahun 90an bertransformasi menjadi sentra kuliner dan perdagangan. Traders yang ada disini pun berkembang seiring waktu, mulai dari makanan segar sampai makanan jadi ada disini. Tak heran pasar berkonsep semi terbuka ini jadi favorit pelancong termasuk orang Inggris sendiri. Pasar ini luas banget. Berbagai toko atau kedai makanan memamerkan hasil kreasinya dengan apik diatas meja kayu berbalut taplak klasik atau kabinet tingkat tiga. Menu terbaik mereka tulis di papan kapur, tak lupa mereka sampaikan jika hari ini ada menu atau promo spesial. Jajaran berbagai jenis keju, bumbu-bumbu, jus, roti, masakan eksotis, burger, semua disajikan rapih dengan papan informasi yang artistik. Pada awalnya kita akan bingung harus memulai darimana, tapi di Borough Market, dari titik manapun kamu memulai akan bermuara di satu kondisi bernama kepuasan.

1.
Kappacasein, Borough Market, London
London Raclette adalah kudapan pertama yang saya coba sesampainya di Borough Market. Makanan seharga £6 ini bisa didapatkan di gerai Kappacasein. Makanan ini terdiri dari kentang panggang ukuran sedang, di potong besar, lalu dilumuri keju raclette yang lumer karena dihangatkan dengan raclette grill, ditaburi black-pepper, dan didampingi acar timun dan bawang putih. Sebelum makan, coba deh hirup dulu aromanya. Saat hangat, keju asal Perancis ini mengeluarkan aroma yang luar biasa sedap! Aroma susu yang gurih bercampur hawa asin khas keju yang segar. Makin menggairahkan ketika hangatnya bertemu sejuk udara London, membuat saya memejamkan mata saking nikmatnya. Setelah puas menghirup, ambil potongan kentang dengan lumeran keju, makanlah selagi hangat. Lembut kentang dan keju dan black-pepper sungguh kenikmatan duniawi yang hakiki!

2.
Kappacasein, Borough Market, London
Raclette di Swiss dan Perancis tidak selalu berarti keju, bisa juga nama makanan dengan keju meleleh, bisa juga grill peleleh keju. Semuanya tetap berkaitan dengan keju, sih. Kata raclette berasal dari racler, bahasa Perancis yang artinya 'mengikis'. Nama ini diambil dengan filosofi setelah keju dilelehkan lalu dikikis melapisi makanan. Seperti yang kamu lihat di gambar, keju raclette dihangatkan selama beberapa menit lalu bagian yang sudah meleleh dikikis dengan pisau. Meski berasal dari Swiss dan Perancis, keju raclette yang memenangkan penghargaan juga diproduksi di Amerika lho!

3.
Kappacasein, Borough Market, London
Apakah roti lapis ini terlihat seksi? Selain London Raclette, gerai Kappacasein juga menjual toasted cheese sandwich yang nikmatnya tak ada dua. Benar-benar tak terkalahkan! Dua buah roti sourdough Poilâne seukuran telapak tangan, ditengahnya berisi campuran Montgomery cheddar cheese, cacahan bawang putih, bawang merah, dan daun bawang, lalu dipanggang hingga roti mengeras dan keju meleleh. Aromanya luar biasa! Harum bawang yang dipanggang bercampur dengan asin gurih keju cheddar, tidak ada tandingannya, ini sandwich dahsyat banget! Enak sumpah!

4.
Kappacasein, Borough Market, London
Montgomery cheddar cheese adalah salah satu produk keju unggulan produksi The Montgomery Family yang sudah mengolah keju sejak 1911. Keju Montgomery beberapa kali mendapatkan penghargaan seperti British Cheese Awards, World Cheese Award, dan Taste of Somerset Award. Dengan penghargaan dan pengalaman seperti itu, tak heran jika rasa yang dihasilkan pun memang berkualitas. Saat membuat sandwich, keju cheddar yang diberikan itu dua genggam! Banyak sekali! Saya sempat kaget karena, sungguhan akan ada keju segitu banyak di sandwich saya? Sebanyak itu? Meleleh semua? Dengan harga £6 saya rasa ini setimpal, bahkan lebih dari cukup! Si penjual pun tersenyum geli saat saya berkata "wuaaaaah" pada sandwich buatannya. Seperti melihat masterpiece.

5.
Parmigiano-Reggiano Cheese, Borough Market, London
Di Italia ada organisasi pembuat keju yang bernama Consorzio Formaggio Parmigiano-Reggiano, yang membuat keju parmigiano-reggiano (kalau di negara lain, lebih dikenal dengan nama parmesan). Seperti yang terlihat di foto, keju ini bertekstur kasar dan biasanya dicetak dalam bentuk drum-drum kecil. Jika tidak salah ingat, keju ini rasanya sedikit manis meski masih ada sedikit pahit dan asin khas rasa keju. Tapi memang tidak terlalu kuat, seperti pada keju cheddar (lagipula kedua keju berasal dari negara yang berbeda, jelas punya identitas rasa yang berbeda pula). Keju parmigiano-reggiano ini diproses secara organik, dimana sapi yang menghasilkan susu hanya mengkonsumsi rumput dan jerami lokal, tidak sama sekali makan makanan olahan atau fermentasi. Makannya juga harus ditempat keju diproduksi. Nah untuk keterangan 24 months itu menunjukkan berapa lama proses pematangan yang dilalui. Jika proses pematangan butuh waktu 14 bulan, namanya keju segar (fresco). Jika 18 - 24 bulan, namanya keju tua (vecchio). Jika lama banget 2 - 3 tahun, namanya keju matang (stravecchio). Lebih lama lagi yaitu sampai 4 tahun, namanya keju sangat tua (stravecchione). Lama proses pematangan juga berlaku untuk jenis keju lainnya.

6.
Mayfield Cheese, Borough Market, London
Banyak keju yang memenangkan penghargaan, dan saya bisa bayangkan betapa indah hidup juri-juri yang menilai. Mayfield adalah salah satu jenis keju yang memenangkan penghargaan gold medal. Fancy! Bodohnya saya agak lupa rasanya bagaimana, tapi lebih ingat dengan fakta bawa ketika saya melihat keju-keju di toko ini, saya seketika berkata lantang "Waaah kejunya menang penghargaan!". Ekspresi takjub itu keluar dengan sendirinya karena saya memang selalu penasaran bagaimana rasa keju yang mendapatkan penghargaan emas. Saat belum tau dimana letak potongan keju tester, pria yang berpenampilan rapih dan senada ini menyodorkan satu talenan berisi keju Mayfield tepat didepan saya lalu tersenyum tipis seolah berkata "Cobalah". Saya mencoba.

Lalu saya melihat sesuatu didadanya, pin hitam bertuliskan 'Fuck Hate'. Saya lalu memandang pria itu, mencoba menipunya dengan ekspresi menikmati keju padahal saya penasaran dengan pin kecilnya. Saya kesulitan menemukan info terkait pin itu di internet, tapi jika melihat hal-hal lain yang (mungkin) terkait, 'Fuck Hate' merujuk pada gerakan yang berbeda dengan norma umum, sebuah aspirasi, sebuah keterbukaan setelah lama dipendam. Entah apa. 

7.
Taste Croatia, Borough Market, London
Salah satu hal yang menarik tentang Borough Market adalah kita tidak hanya menemukan makanan a la Inggris, tapi juga negara-negara lain, salah satunya di Taste Croatia. Tempat ini dikelola oleh sepasang suami istri dan menyediakan produk olahan makanan seperti selai, keju, olive oils, truffle oils, cokelat, irisan daging, olahan buah ara, berbagai jenis cuka, wine khas Kroasia, dan macam-macam lainnya. Negara yang dikeliling laut super cantik ini memang terkenal dengan masakannya yang sangat tasty apalagi jika berkaitan dengan hidangan laut. Mereka suka sekali makan kerang dan memasak gurita secara utuh tanpa dipotong-potong. Serunya lagi, setiap lokasi seperti Istria, Dalmatia, Dubrovnik, Lika, Zagorje, Podravina, dan Slavonija punya cara dan tradisi masak yang berbeda-beda. Menarik!

8.
Aneka minyak makan, Borough Market, London
Konsumsi olahan minyak makan di Inggris meningkat dari tahun ke tahun. Tidak heran di Borough Market pun tersedia banyak penjaja minyak makan baik yang diolah di Inggris ataupun di tempat lain. Pengalaman baru yang saya alami disini terkait minyak-minyakan adalah mencoba makan roti yang dicelup ke Black Truffle Oil. Meski namanya black, minyak ini tetap berwarna kuning agak hijau, persis dengan warna olive oil. Minyak truffle sendiri berbahan dasar dari jamur truffle dan minyak lain seperti minyak canola atau grapeseed. Bagaimana rasanya minyak dari jamur paling eksklusif di dunia ini? Cih, tidak enak tentu saja haha. Saya tidak suka minum/makan langsung olive oil, pun dengan truffle oil. Rasanya seolah menghisap lidah saya sampai gatal. Jika ingin mencoba, saya sarankan untuk mencelup sedikit saja, kecuali jika kamu memang suka minum/makan minyak mentah.

9.
Blackwood Cheese Company, Borough Market, London
Blackwood Cheese Company adalah perusahaan penghasil keju yang beroperasi di Inggris sejak empat tahun lalu. Semua produknya handmade dengan susu yang murni diperoleh langsung dari sapi yang juga minum susu sapi (akhirnya pertanyaan misteri tentang apakah sapi juga minum susu terjawab disini). Olahan keju BCC sedikit berbeda dengan keju yang banyak saya temui di Borough Market. Seperti yang kalian lihat, kejunya lembek seperti mentega dan dikemas bersama oil dalam sebuah toples kaca berkapasitas 250gr. Keju lembek ini adalah hasil marinasi dari keju lembut Persian Fetta bersama extra virgin olive oils, bawang putih, thyme, daun salam, dan lada.

10.
Burger, Borough Market, London
Akhirnya bertemu yang familiar. Meski tidak juga sih. Banyak penjaja burger di Borough Market dan uniknya, isian burger lumayan macam-macam lho. Jika kedua burger bersaudara diatas sudah awam ditelinga, berbeda dengan toko burger lain yang menyediakan DAGING BUAYA sebagai isiannya! Oh tentu harus saya caps-lock karena, daging buaya! BUAYA! Gimana mereka menangkapnya? Bagaimana bisa? Padahal secara hukum alam, yang bisa menaklukan buaya hanya kudanil dan itu juga harus yang alpha-male. Sungguh sensasional. Selain buaya, toko ini juga menyediakan daging kalkun (ini sih, standar ya), daging kangguru (hiks, jahat!), daging bison, zebra, impala, kudu, dan lain-lain. Saking kagetnya saya sampai tidak foto tokonya sama sekali, bahkan meski diperbolehkan mencicip burger buaya pesanan remaja bule pun saya tidak berani. Berniat mencoba? Cari saja The Exotic Meat Company.

11.
Cornish crab
Apa yang ada dibenakmu ketika melihat foto capit kepiting diatas? Hmm? Ketika melihatnya untuk pertama kali, saya merasa capit kepiting ini kenapa ginuk-ginuk ya? Apa ini efek warnanya yang menggelap dibagian lengkungan luar? Dan tau kah kamu, kepiting ginuk ini termasuk kepiting terbaik yang ada di Inggris lho. Selama ratusan tahun, nelayan dari berbagai penjuru sudah memanen kepiting yang hidup sekitaran pesisir Cornish -makanya namanya Cornish crab. Sampai sekarang kepiting ini selalu jadi favorit. Menurut penuturan mereka yang sudah pernah mencoba, daging kepiting Cornish berwarna putih dan teksturnya sungguh lembut luar biasa. Ada resep lama yang lumayan bisa ditiru: daging kepiting dimasak omelette, dengan butter sedikit saja, lalu atasnya dituangi English Mustard. What a pleasure!

12.
Turnips, Borough Market, London
Satu yang saya suka dengan Borough Market adalah buah yang mereka punya segar-segar semua. Mungkin karena London dingin, jadi buah tetap segar meski lama di luar ruangan. Ini saya mencoba jus yang dijajakan oleh juice stall milik Turnips, sebuah toko sayur dan buah-buahan. Tebak ini jus apa. Mangga? Salah. Nanas campur mangga? Salah. Persik? Hmm, lumayan. Ah tapi saya yakin sulit ditebak karena fusion buah ini pun baru untuk saya. Coba dengar: peach, nectarine, orange, dan ginger. Rasanya? Wuuuuw segaar! Jus ini segar dan sesungguhnya unik juga karena pertama kalinya saya merasakan buah nectarine, saudara dekatnya buah peach (persik) dengan campuran jahe. Serunya lagi jus ini tidak banyak disaring, jadi masih ada sedikit serat-serat buah yang membuat jus terasa makin sehat meski agak geli di tenggorokan. Ternyata tidak begitu masalah minum jus dingin di cuaca dingin.

13.
Tea2You, Borough Market
Mariana, satu dari 2 orang yang ada di toko Tea2You di Borough Market menyapa saya dengan ramah saat mata saya sibuk mengobservasi toko teh ramai pengunjung ini. Lalu hanya dengan kode "what is this?" ditambah jari menunjuk pada tester teh, seketika Mariana langsung menjelaskan singkat dan menyajikan satu gelas kecil teh untuk saya. Saat itu saya cicip darjeeling tea 1st flush yang disuguhkan plain tanpa gula. Rasanya segar sekali. Belum pernah saya coba teh darjeeling yang asli dari daunnya, bukan dari celupan kantung teh Dilmah.

Teh ini sangat light dan tidak pahit, rasanya pun lembut luar biasa, pantas saja banyak yang menyebutkan teh ini adalah The Champagne of Teas. Per 40gr darjeeling tea 1st flush dibanderol seharga £5.99, satu pound lebih mahal dari yang 2nd flush. Selain darjeeling, teh favorit dari Tea2You ada chai (Indian Masala yang saya pernah coba di Nepal dan rasanya seperti teh surga!), earl grey, dan english breakfast. Teh lain yang mereka punya (dan saya yakin kalian juga baru pertama kali mendengarnya) ada teh assam, darjeeling bai mudan, green kahwa chai, holi basil, hibiscus, lady grey, dan lain-lain.

14.
Tea2You, Borough Market
Mungkin kita sering mendengar pembagian jenis teh dari tipenya (black, green, dan white tea) atau berdasarkan tempat teh itu tumbuh (teh China, teh India, teh Indonesia juga -tak kalah enak lho!). Tapi untuk kali ini saya baru tau soal first dan second flush khususnya pada teh darjeeling. Best practice-nya begini, proses pemetikan daun teh darjeeling ada 4 tipe: 1st flush berarti memetik dua daun teh dan tunas yang paling baru banget tumbuh di awal musim semi sekitar bulan Januari sampai April; 2nd flush adalah memetik daun yang tumbuh setelah bulan April sampai Mei atau Juni dan daunnya lebih matang dengan warna sedikit keunguan; monsoon flush memetik daun teh pada bulan Juni sampai Oktober dengan warna daun lebih gelap dan rasa yang lebih pekat, jenis teh ini banyak digunakan sebagai bahan teh botolan; terakhir ada autumnal flush, yaitu pemetikan sebelum masuk musim dingin dengan rasa teh yang lebih rich namum lembut. Kalau melihat contoh pada foto diatas, semakin mundur proses pemetikan maka warna teh akan semakin pekat. Hanya saja saya belum pernah lihat warna di hasil pemetikan proses monsoon dan autumnal. Pasti seru kalau bisa coba semuanya, gratis.

15.
The Turkish Deli, Borough Market, London
Jajanan ringan ini rekomendasi teman saya untuk di coba. Baklava adalah jenis jajanan khas Turki yang terbuat dari roti pastri lapis dengan isian kacang dan disiram madu atau sirup. Potongannya kecil-kecil persegi, lapisan pastrinya agak tebal, jadi bukan yang sekali gigit bisa hancur bubar seperti kertas begitu. Mungkin karena pada proses pembuatannya adonan pastri dibuat tipis dan berlapis. Roti baklava yang saya coba menggunakan kacang pistachio sebagai isian (kamu juga bisa menikmati kacang hazelnut, almond, dan walnut disini). Rasanya sudah bisa ditebak, manis dan gurih. Teman saya bilang roti ini bisa lebih enak lagi ketika lumer di mulut, sayangnya saat itu baklava sedang tidak pada performa terbaiknya. Tapi tetap saya suka dan jajanan ini  mengenyangkan. Kalau ingin mencoba, cari saja The Turkish Deli.

16.
Richard Haward Oyster, Borough Market, London
Saya pernah share pengalaman pertama makan tiram mentah di Instagram. Sampai sekarang pun saya masih ingat persis rasanya. Ukuran daging tiram ini sebesar jempol orang dewasa dikali dua, warnanya putih dengan gradasi hitam dan abu-abu dipinggirnya, seperti motif abstark hanya agak mengkilap. Karena masih segar, daging tiram masih berair jadi saya seruput dulu airnya. Rasanya asin dan amis, tentu saja. Dua kali saya menyeruput, ada butir batu pecahan tempurung tiram, ini jelas tidak bisa dimakan. Lalu sambil memejamkan mata, saya seruput daging tiramnya dan langsung merosot masuk ke mulut. Dagingnya lembut dan benar-benar segar. Enak sekali. Lebih enak daripada makan raw sushi. Sungguhan! Harganya £1 untuk tiram kecil. Buat saya makan satu saja tidak cukup. Minimal lima atau enam lah hehe.

17.
Strawberry
Centre for the Study of the Senses University of London pernah melakukan penelitian tentang korelasi antara emosi, rasa, dan bau. Berdasarkan hasil penelitian ini, 77% orang Inggris mengatakan bahwa aroma buah stroberi segar mengingatkan mereka akan kenangan-kenangan di musim panas, dan 64% lain mengaku teringat pada sinar matahari. Jika saya menjadi subjek penelitian itu, yang akan saya katakan tentang aroma stroberi adalah anak nakal yang baru mandi. 'Nakal' karena rasanya kecut, 'baru mandi' karena memang wanginya segar. Tapi stroberi di Indonesia beda dengan di Inggris. Stroberi merah merekah ini 'baik', karena rasanya super manis. Manis yang murni manis, tidak ada asamnya sama sekali. Ajaib. Teksturnya pun lebih lembut, tidak ada 'gesekan plastik' seperti stroberi kecut yang biasa kita konsumsi di Indonesia. Tak heran satu kata yang orang-orang Inggris bisa sebutkan ketika mendeskripsikan stroberi adalah 'joy'.



(Ini adalah foto penutupan, hehe) Oke teman-teman, turnya sudah selasai yaaay. Apakah kalian lega karena turnya sudah selesai? Atau malah sedih? Sebenarnya masih ada beberapa foto, lumayan banyak jika saya boleh jujur. Tapi saya yakin sebanyak dan sepanjang apapun cerita saya tentang tempat ini tak akan cukup menggambarkan betapa Borough Market sangat sangat menarik. Kita bisa menikmati banyak hal, mengobrol apa saja, bertanya, tertawa, sok malu-malu pun boleh karena orang Inggris itu ramah. Dan pasar adalah tempat terbaik untuk berinteraksi dengan orang lokal. Jika saya kembali ke London sudah pasti akan mampir ke tempat ini lagi. Bagaimana dengan kamu? Mau kesini?

2 comments

22 September 2017

5 Hal yang Kamu Dapatkan ketika Menginap di Dormitory

5 Hal yang Kamu Dapatkan Ketika Menginap di Dormitory
"Heh, kon nginep ning dorm ngko gak iso nggawe anak no*, Tin?”, guyonan teman saya yang asli Surabaya berbisik geli saat tau saya akan menginap dalam ruangan berisi 24 orang di Edinburgh. Memang, saya dan teman saya itu selalu ‘memanfaatkan’ waktu jalan-jalan sekalian bulan madu, kali saja anak kami memang mau ‘dibuatnya’ di Inggris atau New York. Tapi menantang diri sendiri untuk menginap di dorm dengan mengorbankan kesempatan itu ternyata tidak buruk juga. Berikut adalah 5 manfaat yang saya (dan mungkin juga kamu) dapatkan ketika menginap di dormitory.

1. Harga Terjangkau
Selalu, alasan nomor satu dalam trik mengakali akomodasi adalah tentang murahnya harga. Menginap di dorm berisi banyak orang harganya akan jauh lebih murah ketimbang yang kamarnya private. Apalagi kalau isinya bisa 24 sampai 36 orang. Memang jadinya seperti barak dan ramai, tapi sekali lagi, murah mengalahkan segalanya. Apabila pergi jalan-jalan ke negara serba mahal seperti UK, memilih dorm sebagai tempat menginap adalah pilihan bijak.

Dapur Edinburgh Backpacker Hostel
Fasilitas dapur umum di Edinburgh Backpacker Hostel. Ada banyak kulkas untuk banyaknya tamu yang menginap, dapur pun selalu bersih dan rapih.
2. Fasilitas Bersama
Biasanya orang yang menginap di dorm adalah mereka-mereka kaum backpacker yang berprinsip semakin murah semakin baik. Sehingga para pemilik penginapan akan menyediakan fasilitas umum untuk mengakomodir kebutuhan hemat para traveler seperti dapur umum, ruang bermain, ruang TV, fasilitas laundry, dan ruang makan. Fasilitas-fasilitas gratis ini disediakan untuk para tamu dan menjadi tanggung jawab tamu untuk menjaga kerapihan dan kebersihannya. Paling saya suka itu bagian dapur, karena disitu suka ada makanan yang disediakan untuk bersama entah dari pemilik hostel atau traveler yang sebelumnya. Tapi ada juga sih hostel yang tidak menyediakan fasilitas ini, jangan sedih ya.

3. Belajar Toleransi
Kita bisa memilih mau menginap di dorm yang mana, tapi kita tidak bisa memilih siapa yang ada didalamnya. Jadi kalau pas ketemu teman satu dorm yang baik, ramah, rajin, dan tau diri, bersyukurlah. Tapi jika ketemu yang jorok, tukang ngorok, bau kaki, seenaknya, berisik, bau badan, maka bertoleransilah. Buat saya ini adalah poin paling seru. Pas di Edinburgh, saya bertemu dengan dua remaja dari Irlandia Utara. Mereka adalah anak baik-baik yang pukul 9 malam sudah bersiap tidur dengan selimut dan gigi beraroma mint. Tapi mereka harus bersabar karena Mas Gepeng adalah orang yang tidurnya ngorok dan bau kakinya (haha). Apakah mereka protes? Sama sekali tidak –mungkin iya tapi dalam hati. Begitulah pejalan. Saling toleransi.

4. Teman Baru dari Berbagai Negara
Nah seperti yang saya tulis di poin sebelumnya, kami bertemu dengan adik-adik Irlandia Utara. Kami berbincang macam-macam dan saya menawarkan cokelat dan kacang almon. Saya yang baru pertama kali menginap di dorm sebenarnya sedikit canggung ketika mengobrol, tapi ternyata orang-orang ini sangat luwes dan santai meski saya yakin bahasa inggris saya cukup berantakan. Berbeda betul dibanding ketika kami menginap di private room. Alih-alih ngobrol, bertegur sapa saja sudah syukur. Waktu solo traveling beberapa tahun silam, Mas Gepeng malah berharap ketemu jodoh makanya memilih menginap di dorm mix. Siapa tau kan?

Cuci Piring di Dormitory Hostel
Ikut mematuhi peraturan misalnya mencuci kembali peralatan memasak yang kita pakai adalah bentuk toleransi juga.
Bunk Bed di Dormitory
Tidak banyak space dalam ruangan dengan bunk bed. Tas sebaiknya simpan di kolong kasur agar lebih rapih.
5. Packing Lebih Rapih dan Efisien
Ketika menginap di private room, saya dan Mas Gepeng cenderung mengeluarkan semua barang di tas untuk memudahkan ambil-ambil barang. Tapi pas mau pulang malah jadi hal paling merepotkan karena harus atur barang lagi dari awal. Jika menginap di dorm, kita akan terlatih untuk mengeluarkan barang seperlunya saja. Ingat, ada personal space antar bunk bed yang harus dihormati sehingga kita tidak bisa seenaknya taruh barang apalagi sampai bikin berantakan. Hal ini secara tidak langsung akan melatih kita menempatkan barang di tas, misalnya barang yang akan digunakan dalam waktu dekat ditaruh paling atas dan mudah dijangkau, jadi tidak perlu 'bongkar muatan'.


Begitulah kira-kira hal yang saya dapatkan ketika menginap di dorm mix berisi 24 orang dari berbagai belahan dunia. Satu yang pasti, jika ingin menginap di dorm entah di Eropa, Afrika, atau Asia, satu yang harus disiapkan adalah survival skill. Bertahanlah ketika cuaca panas dan dorm hanya menyediakan kipas angin seadanya, atau ada yang harus mabuk dulu sebelum tidur. Bertahanlah. Dan jangan lupa untuk bersenang-senang. Apakah kamu punya pengalaman menginap di dorm? 😉

*) "Heh, kamu menginap di dorm nanti tidak bisa 'bikin anak' dong, Tin?"
4 comments
© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.