Image Slider

Sehari di Inggris Selatan, antara Langit Kelabu, Tebing Putih, dan Hamparan Hijau Tak Berbatas

19 September 2017
Seven Sisters Country Side
Dalam bukunya berjudul The Geography of Bliss, Eric Weiner menaruh kata-kata Paul Thereoux sebagai pembuka. “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku”, kalimat yang mendorong saya untuk membaca halaman selanjutnya dan sejujurnya belum selesai sampai sekarang. Perjalanan saya ke Inggris Selatan bukanlah sebuah ide baru, lebih merupakan pengaruh dari perjalanan teman saya dan ketika melihat fotonya, saya tidak mengucapkan banyak kata, hanya membulatkan tekad bahwa suatu hari saya akan melihatnya dengan mata saya sendiri. Dan perjalanan ini ternyata didukung oleh seluruh semesta.


Cuaca di London sedang cerah berawan seperti biasanya. Pukul setengah 7 pagi bus kami dari Liverpool tiba di Victoria Coach Station. Segera kami menuju penitipan tas karena pukul 8 kami harus naik bus ke Brighton. Penitipan di Victoria lumayan mahal, harganya £12.50 per tas untuk satu hari dan sepertinya yang paling mahal di Inggris. Selagi menunggu antrian, kami bertemu dengan seorang pejalan solo asal Argentina. Entah siapa namanya, tapi dia sedang sarapan muesli instan lahap sekali. Kami berbincang sedikit, tapi karena cara bicaranya membingungkan, jadi saya lebih sering tersenyum saja. Mas Gepeng melihat di tas carrier biru bule Argentina ini ada banyak muesli yang sudah dia bagi-bagi per sekali makan. Katanya memang orang sana suka sekali makan muesli. Sebenarnya itu ide bagus buat pejalan murah meriah seperti kami ini, tapi sayang sekali saya tidak bisa menikmati muesli dan melihat bule Argentina makan saja saya sudah merasa kenyang.

Bus menuju Brighton berangkat dan sampai tepat waktu. Kami berjalan menuju Brighton Pier, sebuah dermaga yang lumayan terkenal dan sering jadi lokasi perhelatan event atau festival lokal. Saat itu pun ada kegiatan shooting Pride of Britain. Menghindari kerumunan, saya dan Mas Gepeng berjalan menuju halte bus terdekat karena tujuan utama perjalanan ini bukan lagi untuk menikmati fish and chips di pinggir pantai atau jelajah kota Brighton, melainkan ingin bertegur sapa dengan hamparan hijau super luas dan pantai tenang nan lembut dipinggir tebing putih. Semua itu secara lengkap menjadi satu di tempat bernama Seven Sisters Country Park.

Saya celingak celinguk mencari loket penjual tiket, tapi nihil. Mulai kebingungan, saya beranikan diri bertanya pada sepasang bapak-ibu dimana bisa mendapatkan tiket menuju Seven Sisters. Kebetulan pasangan itu adalah pendatang juga dan menjelaskan mereka membeli tiket di petugas bus hop-on-hop-off yang sedang ngetem dipinggir jalan dermaga. Beruntungnya, petugas tiket sangat amat ramah sehingga bisa memaklumi pertanyaan kami yang serba insecure. Dia menjelaskan bahwa tempat yang kami tuju benar-benar indah dan cuaca sedang bagus. Kabar baiknya lagi adalah tiket perjalanan kami hari itu tipe Family NetworkSaver, dimana kami bayar sekali saja untuk perjalanan bebas naik turun bolak balik antara Brighton - Eastbourne selama satu hari penuh! Woo hoo!


Menuju Seven Sisters dengan Bus No. 12
Ada beberapa bus menuju Seven Sisters, tapi ada satu yang paling spesial yaitu bus nomor 13. Kenapa spesial? Karena hanya bus ini yang punya rute melewati beachy head, titik paling pas untuk melihat mercusuar dari tebing kapur. Sayangnya bus ini lumayan langka, jadi kami menumpangi nomor 12 menuju Seaford karena tidak ingin membuang waktu menunggu. Sesuai nasihat teman saya, setelah menunjukkan tiket terusan ke supir, saya langsung bergegas ke lantai dua. Pasalnya dengan berada di lantai dua bus, saya akan melihat pemandangan jauh lebih jelas karena kacanya besar. Dasar belum beruntung, saya hanya mendapat tempat di kursi urutan kedua dari depan duduk dengan seorang pria Inggris tua yang ramah. Tapi untungnya saya tetap berkesempatan menikmati perjalanan dari Brighton menuju Saltdean, Peacehaven, Denton Corner, sampai Seaford, dan pemandangannya luar biasa indah lho! Jalanan sesekali menurun sesekali menanjak, pemandangan laut tenang berwarna biru muda di sisi timur meminta untuk dikagumi. Tata kota yang rapih dengan bangunan khas Inggris, paduan warna dinding putih, ornamen kayu, bata-bata tua, lingkungan bersih, sempurna sekali rasanya jika bisa tinggal disni. Belum sampai tujuan, saya sudah hampir menangis kegirangan.

Nah di bus ini ada juga sih yang bikin kesal. Di depan saya duduk orang Inggris yang berbincang macam-macam, satu anak muda satunya lagi sudah nenek, mereka keluarga. Yang bikin kesal adalah seberangnya yaitu dua turis Korea muda duduk diam-diaman. Saya mengamati mereka bertanya-tanya, "Mereka lihat pemandangan gak sih? Kok diam-diam aja. Apakah bosan? Diajak tukar tempat duduk mau gak ya?", gumam saya menebak-nebak. Niat saya urungkan karena dari kursi ini pun saya masih bisa menikmati barang setengah frame. Bersyukur lah ya. Yang bikin akhirnya saya kesal adalah dua turis Korea itu ternyata ketiduran! πŸ˜‘

Pemandangan selama perjalanan adalah kota cantik ini.

Di tengah perjalanan, nenek yang duduk di depan saya memanggil si turis Korea. "Hey, you're a tourist right?", tanyanya sambil menunjuk-nunjuk. Turis Korea itu mengangguk. Lalu si nenek berkata dia akan menunjukkan sebuah titik batas antara barat dan timur (saya kira si nenek mau bilang "woy pemandangan bagus jangan tidur woy!", ternyata saya keliru). Titik itu ditandai dengan sebuah tugu dengan bola diatasnya. Saya yang ikut antusias pun mengangguk paham dan nenek pun tersenyum. Nenek menginstruksi ketika dia berteriak 'there!' maka kami harus menengok ke kanan dengan cepat. Saya pun pemanasan leher, takut kalau-kalau kaget lalu keseleo. Saat bus semakin dekat dengan tugu itu, kami sudah siap-siap menoleh ke kanan dan ta-daaaa, itu dia tugunya! Terlihat jelas meski sepintas! Itu dia titik yang bukan barat atau pun timur. Terima kasih, Nek.

Nenek lain yang baik hatinya adalah yang kami temui di bus kedua saat bus pertama tau-tau harus 'istirahat' dan mengoper kami ke bus lain. Kami bertemu dengan seorang nenek yang hendak pergi menonton kompetisi Wimbledon 2017 sendirian. Beliau memberi tau bahwa jika ingin melihat pemandangan Seven Sisters yang paling bagus adalah kami turun di Cuckmere Inn (sebenarnya nenek menyarankan ke beachy head, hanya saja ia tau kami tidak beruntung hari itu). Ketika bus sudah mendekati lokasi yang dimaksud, nenek menekan tombol berhenti untuk kami. Saya pun berdiri, berterima kasih, lalu pamit, "have a good day, ma'am!".


Selamat Datang di Seven Sisters!
Ini dia, Cuckmere Inn. Pintu masuk menuju jalan panjang menyusuri padang rumput dan bukit-bukit luas berada di depan penginapan cantik ini. "Selamat datang di Seven Sisters", sambut saya seolah menjadi tour guide. Seven Sisters adalah sebuah kawasan hijau di sisi selatan Inggris yang berbatasan langsung dengan laut. Nama 'Seven Sisters' sendiri terinspirasi tujuh puncak teping kapur yang terbentuk dari hasil benturan antara sungai dan lembah. Puncak tertinggi bernama Haven Brow, mungkin dia adalah kakak tertua. Saudara lainnya bernama Short Brow, Rough Brow, Brass Point, Flagstaff Point, Baily's Brow, dan Went Hill Brow.

Kami pun berjalan menuju laut, tujuan paling mudah karena sebenarnya saya juga bingung berada disisi Seven Sisters bagian mana. Dataran ini tuh luas banget! Kami susuri padang rumput mengikuti jalur yang sudah tersedia. Setelah beberapa lama, bertemulah kami dengan Sungai Cuckmere, pertanda kami sudah di jalur yang benar. Sungai Cuckmere dangkal, tenang, tapi hati-hati kalau mau berpijak disisi sungai, tanah lembeknya bisa membuat kakimu terjebak. Mungkin saja sepatumu bisa ketinggalan disana. "Mberrkkk", tau tau Mas Gepeng bertegur sapa dengan domba-domba yang ada di sisi kanan kami. "Emmbeeerrkkk", lalu terdengar sahutan dari jauh. Lho! Astaga! Suami saya bisa bahasa domba! Bahkan domba British! Beberapa kali mereka sahut-sahutan seolah saling tanya kabar dan saya hanya bisa tertawa. Saya kira bakat suami saya hanyalah cuci piring tanpa pamrih, ternyata ada yang lain.

Selain domba (dan jumlahnya banyak sekali, bukitnya jadi seperti berketombe), kami juga bertemu sapi-sapi. Berbeda dengan hairy cow di Skotlandia, sapi disini berambut pendek dan bertubuh kekar besar. Mereka merumput dengan khidmat, dipanggil tak ada menyahut satu pun. Dasar sapi. Kami pun terus menyusuri sungai sampai akhirnya sedikit menjauhi namun mulai terlihat dari jauh tebing kapur beraroma segar. "Wah udah mau sampai!", saya berkata riang sambil mempercepat langkah. Ini dia! Laut di Seven Sisters!

Wajah saya seketika merona, memandangi laut berwarna putih kebiruan yang tenang tanpa bau amis ataupun lengket udara asin. Laut! Aaahh! Saya dan Mas Gepeng pun berjalan melewati kerikil-kerikil kecil menuju lebih dekat. Berbeda dengan pantai pada umunya, disini pantai tidak berpasir melainkan batu-batu kecil berwarna putih bertekstur doff. Agak sedikit sulit jalannya, tapi seru sekali. Kadang kaki terpeleset, terjelungup, terseok, seru banget! Karena pemandangan ini sangat cantik dan kaki kami lelah, jadi kami duduk dan makan bekal berupa kentang  yang ditabur BonCabe.

Kembali menelusuri pantai, bertemulah saya dengan ujung muara Sungai Cuckmere. Banyak orang bermain disitu. Jika menyeberangi sungai, kita akan bertemu dengan tebing kapur yang tinggi sekali. Seharusnya saya bisa kesana, tapi membuka boots dan kaus kaki tebal yang panjangnya sebetis terasa merepotkan. Jadi kami kembali saja menyusuri sungai untuk pulang. Niat yang diurungkan dengan alasan konyol itu menghantui saya sepanjang jalan balik ke Cuckmere Inn. Rasanya ingin sekali kesana, ingin melihat tebing kapur entah dari bawah atau dari atas, lalu melihat pantainya, lalu menikmati anginnya. Sampai setengah perjalanan balik, saya merengek ke Mas Gepeng untuk kita menyeberang ke sisi satunya agar bisa naik ke tebing. Matanya menyeripit dan mulutnya manyun, persis seperti wajah Squidward Tentacles. Meskipun begitu, permintaan saya dikabulkan. Yay! Saya tau dia suami yang sayang istri, minta hal paling nyebelin pun dilakoninya. Kami menyeberang lewat sisi sungai yang dangkal lalu jalan kembali kali ini ke arah tebing.

Perjalanan masih berhias hamparan hijau kekuningan, langit kelabu mendung-mendung tak pasti, dan angin dingin yang gagal tembus jaket hangat kami. Sesampainya di titik mendaki, Mas Gepeng lebih memilih untuk merebahkan tubuh di hamparan rumput dan mempersilahkan saya lanjut menuju puncak tebing. "Nanti sepatuku rusak", katanya. Memang jalan-jalan pakai boots yang bagus jauh lebih nyaman ketimbang sepatu casual bermerek. Saya pun lanjut mendaki.


Mendaki Tebing Kapur
Mendaki bukan keahlian saya. Hal-hal yang melawan gravitasi seperti mendaki, manjat, lompat-lompat, itu sungguh bukan keahlian saya. Biasanya saya menyalahkan ukuran betis dan paha yang sudah seperti gulingan daging kebab ini, karena teman-teman pendaki dan pemanjat saya kebanyakan berkaki ramping. Tapi kali ini saya percayakan mimpi saya pada kedua pasang pekerja keras yang sudah dimodali dengan boots nyaman dan jins ringan ini. Saya menggantungkan harapan untuk sekedar memenuhi hasrat melihat apa yang sudah saya impikan. Dan tau kah kamu, mendaki, entah di gunung atau di bukit, somehow menjadi momen yang tepat untuk meditasi

Saya pun menikmati langkah demi langkah. Menoleh kesana kemari untuk merekam semua pesona cantik yang Inggris Selatan bisa suguhkan. Lalu saya berhenti sebentar, memandang langit, mengelus dengkul yang semakin ngilu tak karuan. Kemudian saya lanjut mendaki. Dibelakang saya melihat dua orang wanita membawa carrier dan mendaki menggunakan tongkat. Sepertinya mereka sedang latihan mountaineering, karena ada seorang pria paruh baya memanggil dan mendorong mereka untuk terus berjalan. Saya memotret, lalu berbalik lanjut mendaki. Dengkul semakin ngilu, rasanya akan copot jika saya teruskan berjalan. Tak apa, sekali seumur hidup. Setelah ini tidur panjang pakai Counterpain.

Semakin dekat ke puncak, saya semakin menunduk. Seolah ancang-ancang bersiap takjub, tapi menenangkan diri agar tak lompat kesana kemari. Lalu saat saya meluruskan pandang, laut tenang luas membentang menyatu dengan langit. Laut tak berbatas, berwarna biru muda. Ada sisi yang berwarna toska, mungkin para anemon hidup berdampingan disana. Ini bagus sekali. Diatas rata-rata!

Tempat saya dan Mas Gepeng duduk makan kentang ada di ujung sana. Jauh, sekitar seratus juta jengkal, mungkin lebih. Dataran hijau ternyata ada yang kotak, ada juga yang miring-miring. Ada beberapa genangan air membentuk danau. Sapi-sapi yang tadi terlihat garang tampak menyatu dengan tanah. Dan di kiri saya ada tebing kapur berbaris. Berwarna putih terang dengan corak-corak gelap. Saya tak bisa perkirakan jaraknya dengan dasar tebing, yang pasti berada beberapa langkah saja di ujung sudah gemetar. Ya ampun, saya tidak bisa berkata apa apa lagi. Ini bagus bangeeeet. Saya berjalan berkeliling, beberapa kali mengambil nafas panjang saking terkesimanya. Puluhan foto saya ambil meski dari sudut yang sama dan tidak ada satu pun yang sama indahnya dengan apa yang saya lihat.

Jangan salahkan kelabunya langit. Tetap dari atas sini bagus sekali. Sungguh. Apa-apaan ini!?

Foto ini memang bukan yang terbaik karena langit kelabu membuat cahaya tampak muram. Tapi sungguh, secara langsung, tempat ini indah luar biasa!

Saya berjalan ke ujung tebing, mengintip sedikit. Mengerikan sih, tapi indah sekali. Seperti perosotan kapas. Jatuh pun sepertinya akan terpental.

Karena Mas Gepeng menunggu dibawah dan saya juga harus bergegas setelah korupsi beberapa puluh menit dari itinerary, saya duduk sebentar, lalu turun. Dari jauh saya melihat Mas Gepeng berjalan menyusul. Mencoba berlari tapi dengkul sudah mencapai batasnya. Saya berjalan secepat yang saya bisa. Sampai dia semakin dekat, saya semakin ingin berjalan lebih cepat lagi. Saya lalu bisa berlari sedikit dan memeluknya. "Bagus bangeeeet huwaaaa.... Hu huuu... Hwaaaaannnggg....", saya bicara sambil menangis tersedu-sedu. Menangis bahagia tanpa cela. Terus begitu. Sesekali peper ingus, tapi tetap bahagia.



Perjalanan Pulang (Bonus Main ke Eastbourne)
Kereta kami menuju London akan berangkat pukul 7.30 malam dan perjalanan masih ada setengah lagi ke Eastbourne. Kami turun bukit perlahan sambil bergandengan tangan dan tersenyum. Benar-benar hari yang luar biasa. Benar-benar mukjizat. Dibawah kami bertemu dengan anjing buldog inglΓ©s (eh benar ini bukan ya rasnya?) yang lagi main di rerumputan sama temannya. Anjing rumahan yang malas, kulitnya sudah berat sampai-sampai kulit matanya turun. Tampak bodoh! Lalu kami naik bus menuju Eastbourne.

Terlihat bodoh tapi lucu. Gimana dong?


Meski di Seven Sisters tadi langit kelabu, di Eastbourne langit sedang cerah-cerahnya. Biru berawan, sinar matahari 'bocor' dimana-mana, sore yang indah untuk menutup perjalanan kami di Inggris Selatan. Kami kemudian pergi ke post office yang nyempil di belakang toko stationary untuk mengirim beberapa kartu pos titipan teman-teman dan makan ayam piri-piri. Rencana awalnya adalah kami akan main kayak di Eastbourne Pier, hanya saja bus berhenti tepat didepan stasiun dan entah bagaimana caranya menuju pantai, lagi pula kami sudah sangat 'lemas' dengan apa yang kami alami tadi, jadi menikmati sore dengan perlahan adalah pilihan bijak.


Eastbourne tidak begitu ramai, ada sisi jalan yang sedang diperbaiki dan banyak seagull dimana-mana, tipikal khas kota pinggir laut. Kudapan yang kami coba di Fresh & Grilled Piri-Piri Chicken pun lezatnya tak tanggung-tanggung. Jujur, ayam piri-piri disini jauh lebih lezat ketimbang si hijau yang sudah terkenal diseluruh dunia itu. Asamnya lebih segar dan lebih strong, membuat cecap mulut saya berpesta pora. Mereka bilang ayam ini dimarinate semalaman, entah bagaimana caranya tapi bumbunya bisa masuk sampai tulang. Chicken wrap yang dimakan Mas Gepeng pun sama sedapnya. Ukurannya pas, saus yang dipesan dengan kode 'tidak terlalu pedas' berhasil membuat suami saya kedap keding keenakan. Pelayanannya tidak usah ditanya, dari koki sampai waitressnya semua ramah. Sungguh hari penuh kejutan dan kebahagiaan.

Setelah menikmati indahnya Skotlandia, Scarborough, York, Manchester, Liverpool, dan Brighton - Eastbourne, setelah ini saya tidak minta muluk-muluk, apapun yang ada di London akan saya terima dengan suka cita. Saya sudah diberi sebegitu banyaknya hal indah. Bersyukur sekali. Saat kereta datang, saya sudah siap berjalan lebih jauh lagi kedepan meninggalkan segala keajaiban yang terjadi disini. Tentu saja akan selalu saya ingat dan menulisnya disini. Kereta kami datang tepat waktu seperti biasa. Saat saya sudah masuk ke gerbong, tiba-tiba pintunya sudah tertutup. Saya pencet tombol berkali-kali tapi pintunya tidak mau terbuka juga padahal waktu keberangkatan masih 15 menit lagi. Tiket kereta Mas Gepeng lalu saya selipkan dipintu untuk dia bawa ke petugas stasiun. Sepuluh menit kemudian pintu terbuka, ternyata memang petugas kereta sedang iseng. Terlalu sekali bercandanya huh.



Bonus foto di Seven Sisters yang saya edit pakai aplikasi Mix. Ternyata kalau disini berawan terang, cantiknya makin luar biasa ya! Meski kalo foto ini ya agak katro juga sih editannya hehe.


Until next time, South England.

#FlashbackFriday: A Journey that Heal

15 September 2017
Empat tahun silam tepatnya lebaran Idul Adha tahun 2013, saya dan Pujo melakukan perjalanan ke titik paling utara Indonesia. Saat itu kami berdua (dari sepuluh orang) yang sedang menetap sementara di Medan, gak pulang kampung karena ingin berhemat plus sama-sama jomblo jadi gak ada yang menanti dikencani di kampung halaman. Kami secara impulsif memutuskan pergi ke Aceh dan Sabang persis tiga hari sebelum keberangkatan. Semua serba tiba-tiba dan serba nekat. Berbekal uang seadanya, kami pergi. Entah ada misi apa pada diri Pujo, tapi saya secara pribadi memiliki sesuatu yang ingin saya cari, jauh didalam diri saya sendiri.

Perjalanan ke Aceh kami tempuh dengan bus antar provinsi. Harganya Rp170ribu per orang dan kami dapat tempat duduk paling belakang. Perjalanan sepanjang malam terasa baik-baik saja, tentu karena kami naik bus bagus, bukan travel khas Sumatra yang sepertinya kalo ngegas sambil kesetanan. Sesampainya di Banda Aceh, kami numpang cuci muka sikat gigi di warung makan lontong sayur di depan Terminal Bothoeh. Saat pagi saya kira sekitaran terminal akan ramai, ternyata sungguh sepi. Becak pun hanya ada beberapa. Jadi saat kami mau menawar untuk diantar ke Pelabuhan Ulee Lhue, kami gak bisa mengeluarkan negotiation skill yang kuat karena memang abang becaknya sedikit sekali.

Selagi menempuh perjalanan ke pelabuhan untuk naik ferry menyeberang menuju Sabang, saya menghubungi teman kampus yang (katanya) orang Aceh. Mas Fawaz namanya. Saya bertanya apakah dia sedang di Aceh atau tidak, kan siapa tau kami bisa menumpang tidur. "Lho aku ini orang sini (Jogja), Tin, hahaha", oh ya ampun. Kok saya bodoh banget selama ini? Hahaha. Tapi akhirnya saya dikenali dengan temannya teman Mas Fawaz, orang asli Aceh dan sesama Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) yang nantinya akan membantu saya dan Pujo selama di Aceh. Seketika ada lega di hati saya, menyadari bahwa jika kamu berteman dengan baik, kamu akan mendapat teman yang baik. Alam semesta sungguh bijaksana.

Setelah membeli tiket kapal di pelabuhan, kami mengisi waktu keberangkan dengan berkeliling sekitar untuk lihat-lihat. Kami ke Museum Tsunami Aceh, melihat PLTD Apung, dan jajan Pop Ice. "Aceh ini ajaib sekali", pikir saya. Tsunami saat itu benar-benar dahsyat, buas menyapu bangunan dan orang-orang, bahkan sampai ada kapal di atap rumah kan itu ajaib ya. Dan mereka semua bangkit. Perlahan tapi pasti.

Pertengahan tahun 2013 adalah tahun yang gelap buat saya. Biasa, alasan konyol bernama patah hati. Saya sedang patah hati hebat, sedang kesulitan mempelajari dunia perbankan (baca: saya sedang ikut proses pendidikan MDP sebuah bank), dan berada jauh dari rumah dalam kondisi mental begitu seperti neraka saja rasanya. Kondisi ini membuat orang tua saya khawatir, tapi saya lebih khawatir karena hidup saya terasa gak ada artinya. Tapi alasan seperti itu gak ada bandingannya dengan kena Tsunami. Alasan saya adalah alasan anak teri. Tsunami itu hiu raksasa.

Lalu Pujo tau tau mengingatkan bahwa jam keberangkatan kapal menuju Sabang sudah dekat. Kami menuju pelabuhan dan naik kapal besar. Di kapal saya bertemu dengan kru Trans TV yang sedang melakukan riset lokasi untuk shooting Survivor Let's Get Lost. Mereka hanya bertiga tapi barang bawaannya banyak, udah kayak mau pergi sebulan. Kami berbincang sedikit-sedikit, karena hanya satu orang yang ramah, sisanya membuat grup sendiri. Selepas ngobrol saya pun duduk menikmati sore. Langit sedang cantik-cantiknya berpadu dengan air laut yang tenang dan udara yang sejuk. Saya memadang jauh ke pelabuhan, jauh sekali. Lama-lama pelabuhan menjadi kecil. Lalu hilang. Semua yang terjadi di Aceh, di Medan, di Jogja, di Jakarta, di Bekasi, semua tertinggal disana. Jauh disana sampai saya sendiri lupa apa saja.

Baru kali ini saya merasa here and now yang hakiki. Merasa ada disini, tanpa berpikir apa yang terjadi kemarin dan hari hari sebelumnya. Tanpa peduli apa yang akan saya hadapi besok dan masa depan. Bahkan saya lupa dengan lagu Belle & Sebastian apa yang terakhir saya dengar.

Malam mulai datang, kapal kami menepi di Pelabuhan Baluhan dan segera bertemu dengan abang becak yang kami hire on the spot untuk diantar ke kota. Penginapan kami di Sabang adalah penginapan paling buruk yang pernah saya tempati seumur hidup. Jauh lebih buruk ketimbang tidur di kolong jembatan dengan tenda atau kebun pinggir sungai. Tau kenapa? Karena di penginapan ini tikus bebas lalu lalang ke dalam dan keluar kamar! Mau nangis rasanya! Semua barang saya taruh diatas kasur, bahkan saya gak berani mematikan lampu takut tikusnya merayap tembok lalu menggerayangi tubuh saya hiii! Tapi bagaimanapun, saya tertidur dengan lelap.

Esoknya kami sewa motor untuk mengelilingi Sabang. Dari kota menuju titik nol kilometer Indonesia, lalu ke Pulau Rubiah, Pantai Iboih, Pantai Sumur Tiga, dan berakhir di Pantai Pasir Hitam untuk makan rujak. Perjalanan semua berjalan baik, jalanan bagus, orang-orang ramah, dan kami selamat sampai tujuan. Selama di Sabang hp saya flight mode karena gak ada sinyal, tapi itu sepertinya jadi hal yang paling membantu saya menikmati hari-hari di Sabang. Saya merasa bebas, tanpa beban sama sekali. Gak perlu menghubungi siapa, gak perlu dihubungi siapa, gak perlu tau updatean apa-apa, gak perlu update apaan juga, gak perlu pusing mau habis baterai, pokoknya bebas sebebas-bebasnya. Ketika merasa bebas dan menguasai diri sendiri seutuhnya tentang apapun yang saya mau dan manapun yang saya tuju, saya benar-benar merasa bodoh pernah membawa hidup saya ke titik yang shitty banget itu.

Saya tau apa yang salah selama ini, yaitu saya membiarkan diri saya terbawa oleh sesuatu yang salah padahal saya lah yang punya kuasa penuh atas diri saya sendiri. Saya punya kuasa penuh akan kemana dan menjadi apa diri saya. Saya punya kuasa penuh atas diri saya sendiri, atas kebahagiaan saya sendiri.

Sepulang dari Sabang, kami kembali ke Aceh. Saya kontak Bang Taufik, temannya teman Mas Fawaz yang secara gak langsung dia tau kalo kami butuh bantuan. Keuangan saya dan Pujo menipis (karena memang sudah sangat tipis dari awal) dan kami bingung akan kemana di Aceh. Kami dijemput, diajak ngopi, dan diberikan tumpangan menginap. Apalagi yang semesta berikan kali ini? Saat saya merasa mencintai diri saya dengan hebat, saya juga dipertemukan teman yang bahkan baru saya kenal beberapa jam saja yang baiknya bukan main. Kami diajak jalan-jalan ke makam pahlawan, minum kopi, desa wisata, diajak main ke rumah-rumah khas Aceh, mencicipi makan Sie Reboh hasil masakan orang Aceh asli, dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Kebaikan yang luar biasa. Bahkan salah satu teman yang bersedia rumahnya saya tumpangi bukanlah orang yang hidup dalam kemewahan, dan dia mentraktir saya sarapan.

Lalu kami mampir solat dzuhur di Masjid Raya Baiturrahman. Berterima kasih sejadinya bahwa saya akhirnya tau apa yang saya cari, saya tau. Namanya keberanian. Kemandirian. Kekuatan. Kemenangan. Saya berhasil melawan hal-hal buruk dihati ini. Saya berhasil bertahan hidup disini, gak sendirian sih, tapi tetap rasanya heroik sekali. Terima kasih Tuhan. Dan masjid ini sepertinya punya daya magis, dia membuat sejuk hati dan kepala yang kepansan karena Aceh memang terik sekali siang itu hahaha.

Bagaimana dengan Pujo? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan dia di perjalanan ini? Gak tau. Yang pasti harapan teman-teman kalo kami akan jadian itu menjadi harapan kosong. Pesan moral dari cerita ini adalah bukan hanya waktu yang bisa menyembuhkanmu, tapi perjalanan juga. Lakukan perjalanan, kemanapun, dekat atau jauh, naik perahu atau naik sepeda, lakukan bersama dirimu sendiri, bawa dirimu terlarut dalam perjalananmu, bawa dirimu menikmati semua dinamika batin dan pemandangan yang memanjakan. Jadikan satu. Rasakan bahwa semesta terlalu indah untuk dirusak oleh buruk yang setitik.

Sejak saat itu, saya bertekad melakukan perjalanan. Bukan untuk mencetak sejarah, tapi untuk menikmati hidup sebaik-baiknya.

Banjarmasin: Sate Rusa, Bekantan, dan Batal Mengejar Sunset di Bukit Lintang

11 September 2017
Saya kira tempat yang akan saya kunjungi selama dua tahun berturut-turut hanya lah Malaysia. Namun ternyata selain negara tetangga yang sempat melakukan hal konyol tentang negara kita itu, ada satu tempat yang daya magisnya menarik saya dan Mas Gepeng untuk kembali dikunjungi. Banjarmasin, I'm back! Berbeda dengan tahun lalu, kali ini kami jalan-jalan dalam nuansa Idul Adha dan eksplorasi bersama keluarga dan teman-teman baik saya. Kedua kalinya eksplorasi Banjarmasin, apa aja yang saya nikmati?

BUKIT-BUKIT DI PELAIHARI

Tau kah kamu ternyata di Banjarbaru ada banyak bukit? Ada yang namanya Bukit Teletabbies, Bukit Lintang, Bukit Rimpi, dan lain-lain. Saya main ke bukit dua kali, yang pertama bersama keluarga saya, lalu hari berikutnya dengan teman baik saya. Ada dua kegiatan main ke bukit, satu persamaannya yaitu kami sama-sama gak tau kami ada di bukit apa hahaha. Terima kasih Google Map, kamu telah membawa kami ke tempat antah berantah. Apa saja yang bisa dilakukan saat berada di tempat yang kita gak tau sama sekali? Tentu saja, bersenang-senang.

Perjalanan kami tempuh dengan mobil. Jalan menuju bukit dikeliling oleh kebun sawit dimana kalo ada kebun sawit, disitu ada jalan dengan kontur naik turun hasil pijakan truk-truk besar. Beberapa kali mobil Avanza kakak ipar saya kena bentur dibagian bawah mobil, meski gak parah, tapi tetap saja bikin ngilu. Lebih sedih lagi karena besoknya kami ke bukit naik Nissan March. Bukan hanya bentur, tapi mobil tersangkut beberapa kali. Kasihan. Padahal baru di servis.

Setelah tau bahwa kami kesasar dan Google Map gak tau harus berbuat apa, kami menuju bukit kecil yang landai dan cukup tinggi. Diatas sini suasananya sejuk sekali. Angin kencang, dingin, pemandangan ciamik, cerah, terang, bebas pokoknya. Ada beberapa sisa sampah, hal itu jadi bukti kalo sudah ada yang pernah nongkrong disini sebelumnya dan punya kelakuan busuk.

Lumayan ada yang fotoin saya dan Mas Gepeng foto post-wedding wkwkwk.

Sebenarnya dari atas sini bisa lihat bukit yang beneran bukit, bahkan jalan menuju ke bukit itu kelihatan jelas sekali. Hanya saja kalo ada dibawah, berasa ada ditengah-tengah labirin. Bikin bingung semua. Kami menikmati sore disini saja, memandangi shaf demi shaf sawit yang sudah tua dan bukit yang (mungkin) seharusnya kami datangi. Berpikir untuk kemping? Saya juga. Tapi sepertinya dengan angin yang kencang sekali diatas sini, bakalan bikin tenda goyang-goyang liar dan gak bisa tidur nyenyak karena kedinginan.

Di hari kedua, kami menikmati sore dengan jalan-jalan di padang rumput. Meskipun lagi-lagi gak menuju bukit, tapi kami punya sore yang menyenangkan. Mas Gepeng juga sepertinya senang karena bisa ketemu eek sapi yang banyak hahaha. Eh tapi beneran banyak lho! Mereka seperti buang air masal. Awalnya kami jalan menanjak menuju kandang sapi. Sayangnya saat itu gak ada satu pun sapi disana, mereka sedang jalan-jalan turun bukit. Sebenarnya banyak sekali hal yang bisa dinikmati meskipun bukan di bukit. Seperti quote-nya para host MTMA, keseruan itu kita yang ciptakan. Jadi dimana aja bisa seru. Main di padang rumput seru, dibawah bukit juga seru. Sebaiknya pulang jangan terlalu malam karena gak ada lampu disekitaran bukit dan kebun sawit, jadi demi menghindari hal-hal yang menyedihkan mending pulang selagi terang.


SATE RUSA, BANJARMASIN

Depot Sate Kijang sebelumnya out of radar saya sama sekali. Sampai @_lulabi, orang Cimahi yang hapal betul dengan Banjarmasin mengajak saya dan Mas Gepeng untuk cicip sate yang harganya Rp6500 per tusuk ini (mahal bener ya). Meskipun namanya begitu, daging yang mereka sediakan itu daging rusa, saat kami pesan pun mereka menyebutnya sate rusa. Daging-daging ini secara periodik diantar dari Kalimantan Tengah karena di sisi selatan sini jarang ada ada rusa.

Menurut Mas Gepeng, daging kijang taste like chicken. Tapi buat saya daging ini punya rasa dan tekstur yang sama sekali berbeda baik dengan ayam, kambing, atau sapi. Daging kijang punya tekstur serat yang lebih tebal dari ayam tapi lebih tipis dari sapi. Empuk dagingnya berbeda, gak terlalu lembut, sedikit lebih kenyal dari ayam, tapi lebih mudah dikunyah ketimbang daging sapi. Kalo makan satenya, daging rusa akan dibumbui pasta kacang yang manis serta campuran minyak sayur. Rasanya enak! Daging rusanya pun gurih lembut dan aromanya sedap sekali! Saya kira aromanya akan seperti anyir-anyir gitu karena kebayangnya rusa ya ditombak lalu dimasak dengan api unggun. Tapi ternyata aromanya sedap lho, biasa aja gak amis atau anyir. Aroma daging bakar enak.

Selain sate, saya juga pesan daging rusa goreng. Bahagia banget lihat dagingnya tebal banget, seperi mau makan steak! Potongan besar daging rusa dimasak bersama bumbu kecap hingga bagian luar daging menjadi garing. Dimasaknya agak lama, mungkin ingin bumbunya meresap sampai dalam. Makan daging rusa goreng membuat saya lebih tau rasanya daging rusa. Enak banget! Empuk! Luar biasa lah. Teksturnya lebih terasa dan sungguh lembut sekali. Saya kira dengan warnanya yang hitam pekat akan bikin daging ini berasa seperti dendeng manis, ternyata gak kok. Rasanya dagingnya yang khas dengan bumbu manis ini pas banget. Pastikan kamu coba ya kalo ke Banjarmasin.


MENCARI BEKANTAN, JEMBATAN BARITO

Lagi-lagi ini adalah ide menarik @_lulabi. Mungkin karena dia seorang jurnalis jadi punya banyak referensi mengenai hal-hal seru di Kalimantan, seperti kali ini dia ajak saya dan Mas Gepeng untuk mencari monyet bekantan yang hidup di Pulau Bakut, dari pinggir Jembatan Barito. Buat saya hanya pernah lihat patung bekantan dan berbagai bentuk kartunnya di Dunia Fantasi, tentu kegiatan ini bikin saya semangat!

Pulau Bakut adalah habitat asli bekantan, monyet khas Kalimantan, yang terletak persis dibawah Jembatan Barito. Nama Bakut diambil dari nama ikan yang dulu banyak hidup di sungai Barito, entah sekarang masih ada atau gak. Sedangkan bekantan sendiri adalah hewan yang dilindungi, jadi kalo kamu mau melihat kehidupan asli bekantan, pastikan kamu gak berlaku jahat ya misalnya si monyet ditimpuk batu atau buang sampah sembarangan atau kalo pas dia mendekat kamu tarik buntutnya yang panjang atau pencet hidungnya yang besar. Jangan.

Pulau Bakut bisa diakses naik kapal kecil, tapi kami memilih untuk mencari bekantan dengan menyisiri trotoar Jembatan Barito. Sebelum mobil menepi di ujung jembatan, kami sempat melihat beberapa bekantan lompat kesana kemari diatas pohon. Namun pas kami hampiri, anak-anak bekantan itu sudah gak ada. Tapi ketemu satu yang besar sedang duduk santai di dahan pohon. "Wah hidungnya beneran besar!", teriak saya. Kami pun menyusuri dari ujung ke tengah lalu menyeberang lalu menyusuri lagi dan gak ketemu satu pun bekantan. Mungkin karena cuaca mendung, jadi bekantannya sudah pulang ke rumah untuk menyiapkan mie instan.

Pas mau jalan balik ke mobil, saya malah melihat para bekantan lagi main di pinggir sungai. Ada banyak, ada empat! Senang bangeeeet! Mereka ada yang mandi, ada yang nongkrong, ada juga yang cari makan (mungkin cari sayur buat campuran mie instan). Seru sekali lho! Kelihatan gak itu yang coklat coklat? Kalo mau melihat lebih dekat, kamu bisa naik kapal kelotok yang melayani wisata ke Pulau Bakut. Kamu bisa menemukannya d tepian-tepian sungai, dermaga pasar terapung, dan di sekitar Jembatan Barito.


MAKAN RAMEN AKASHI, BANJARBARU

Beberapa makanan khas Banjarmasin sudah pernah saya coba dan semuanya favorit (bisa baca ditulisan saya terdahulu disini). Yang saya coba kali ini bukan makanan khas, tapi salah satu yang terbaru di Banjarbaru. Namanya Ramen Akashi. Kedai makan ini milik orang asli Jepang yang bernama Takeichiroh Seiki. Sebelumnya, ia menjadi manajer restauran Jepang di Surabaya dan kini membuka restauran milik sendiri di Banjarmasin. Sebenarnya agak bingung alasan kenapa ia menyasar pasar Kalimantan untuk menjual ramen, karena menurut saya makanan ramen terlalu 'jauh' rasanya dibandingkan dengan makanan asli Banjarmasin yang sangat full-spices. Tapi siapa sangka, keberanian itu malah jadi nilai tambah karena memang ramen ini rasanya enak dan dengan adanya dua cabang baru di Banjarbaru, berarti peminat ramen ini lumayan tinggi.

Sang pemilik sendiri sebelumnya sudah bekerja di berbagai restoran ramen di beberapa negara, namun untuk resep ramennya sendiri, dia menciptakan olahan khusus dengan menyesuaikan beberapa bahan yang biasanya ada di ramen Jepang dengan bahan yang ada di Indonesia. Ada dua menu yang kami cicip di Ramen Akashi: Kazuki Ramen dan Pepper Cheese Ramen. Kedua menu disediakan dengan pilihan porsi small dan full, jadi lumayan kalo yang gak terlalu lapar bisa pesan menu kecil.

Foto diatas adalah pepper-cheese ramen porsi full. Satu mangkuk berisi mie ramen, telur ayam setengah potong, jamur kuping, chicken karage, daun bawang, keju singles, dan kuah sup berwarna putih. Kuah sup secara umum rasanya gurih dan creamy seperti susu, mungkin karena mirin yang biasanya ada di ramen Jepang diganti dengan madu jadi agak manis. Sebenarnya ada taburan pepper tapi kurang berasa, jadi saya tambahin cabe bubuk biar lebih mak-deng gitu pedesnya haha. Tapi saya suka ramen ini. Bedanya sama ramen kuah putih yang biasa ditemui di Jakarta adalah kalo yang ini lebih light dan gurihnya familiar gitu, kalo yang biasa di Jakarta rasanya miso banget, jadi berbeda.

Tapi kalo urusan kuah, menu Kazuki Ramen punya kuah yang jauh lebih lezat dari yang pepper-cheese. Gak tau ada tambahan campuran apa, tapi rasanya bener-bener lebih sedap, seperti lebih banyak campuran kaldu ayamnya. Enak! Warnanya juga agak lebih butek, jadi mungkin memang ada campuran bumbu tambahan. Dari satu mangkuk ini yang paling saya suka malah chicken karage-nya. Enak, ayamnya tebal, kulitnya sedap (mirip nugget pokpok), kena kuah-kuah ramen jadi lebih enak lagi.


Meskipun sempat merasakan hampir 12 jam mati lampu dan udah kelojotan banget saking kepanasannya, tapi saya selalu suka main ke Banjarmasin. Selalu ada cerita baru dan petualangan yang menyenangkan. Dan apakah setelah baca tulisan ini kamu jadi pingin main ke Banjarmasin? Mau cicip kulinernya ada mendaki bukit? Apapun itu jangan lupa bawa payung dan kipas baterai ya, kalo-kalo mati lampu lagi hahaha.

15 Minutes Skincare Routine for Travelers

5 September 2017
Setelah setahun menikmati hari-hari traveling sama Mas Gepeng, ada satu hal yang saya pelajari soal skincare. Selain fakta bahwa skincare yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca lokasi kita traveling, saya juga mendapatkan fakta bahwa semakin sederhana skincare routine maka akan semakin menyenangkan juga kegiatan jalan-jalan eksplorasi sana sini karena -tentu saja- gak ribet! Kalo jalan-jalannya agak luxury mungkin beda ya karena ada agenda foto #ootd. Tapi saya gak pernah liburan mewah atau setidaknya bintang 3 gitu, semua serba bintang-bintang di langit alias backpacker dan waktunya sebentar. Jadi semakin maksimal waktu yang saya habiskan untuk eksplorasi semakin baik. Nah salah satu yang saya efisiensikan (azek gak bahasanya haha) adalah pas pakai skincare. Kali ini saya akan share skincare routine super singkat yang biasa saya lakukan pas traveling, 15 menit aja langsung kinclong! Bahkan foto pose paus terkapar aja tetep kinclong! Cekidot πŸ’›

Face cleanser (3 menit udah sama keringin)
Lakukan ini sekalian mandi. Poin penting saat mencuci muka ada dua: gerakan memutar ke arah atas dan pijat merata. Setelah itu bilas hingga bersih dengan air mengalir (kalo airnya setetes-setetes yaaa waktunya dipanjangin sendiri ya).
Produk favorit: Kiehl's Ultra Facial Wash, Hada Labo Gokyujun Face Wash, dan The Saem Natural Condition Cleansing Foam Seaweed & Mud (FAVE!)

Toner (1 menit)
Saya sudah menemukan sebuah ramuan mujarab yang bisa jadi penyegar sekaligus serum, dia adalah cuka apel. Jadi cukup tuang cuka apel di kapas lalu tap tap setengah mengusap ke seluruh wajah. Sejak menggunakan cuka apel, saya biasa skip serum/essence karena kulit wajah sudah sangat moist dan sejuk-sejuk gitu, jadi hanya pakai ini aja lalu lanjut pelembab.
Produk favorit: Bragg Apple Cider Vinegar with The Mother

Pelembab (2 menit)
Kalo traveling, saya selalu pakai pelembab yang tingkat kekentalannya tinggi karena akan bertahan lebih lama meski dalam cuaca panas atau dingin. Alternatif lainnya adalah pakai yang gel based (tapi saya selalu suka yang cream sih haha). Usapkan sewajarnya di wajah, tap tap agar menyerap sempurna.
Produk favorit: Kiehls Ultra Facial Cream, Cetaphil Daily Facial Moisturizer SPF 15, dan The Body Shop Oils of Life Intensely Revitalizing Cream, The Face Shop ginseng Heaven Grade Ginseng Regenerating Cream (FAVE!)

Eye cream (1 menit)
Kenapa saat traveling tetap butuh krim mata? Pertama, kulit keriput itu gak nunggu kita tua lalu berhenti traveling, kulit kita sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan sejak usia 20an jadi pemakaian krim mata harus rutin meski lagi menikmati pegunungan atau keliling kota tua. Kedua, pas traveling kita itu banyak aktivitasnya dan tubuh jadi lelah. Nah mata kita juga lelah lho. Manjakan dia dengan memberikan nutrisi yang baik supaya tetap sehat dan segar.
Produk favorit: Laneige Water Bank Eye Gel (FAVE!) dan Innisfree Eco Science Eye Cream

Sunblock/Sunscreen (2 menit)
Sebelum pakai sunblock/sunscreen, usap usap kedua telapak tangan dan tempelkan ke seluruh wajah. Ini berfungsi untuk memastikan pelembab sudah merata keseluruh wajah dan siap di layer dengan sunblock. Saya terbiasa menggunakan yang SPF50 biar tahan lama. Lagipula, SPF tinggi akan memblokir lebih banyak UVB dan perlindungan lebih baik dari risiko kerusakan kulit jangka panjang.
Produk favorit: The Body Shop Skin Defence SPF50 PA++++ (FAVE!), Kiehl's Ultra Light Daily UV Defense SPF50 PA++++

Bedakan (2 menit)
Nah sesi ini yang membedakan gaya traveling saya dengan yang luxury, saya gak pernah pakai foundation, BB cream, storbing eskrim apapun itu dan hanya pakai bedak. Saya selalu pakai bedak tabur, jadi tinggal tuang ke tangan lalu tap tap tebarin ke seluruh wajah atau kadang pakai kuas besar juga kalo inget bawa. Cara ini pun saya pakai juga sehari-hari, bedak jatuhnya lebih ringan dan natural.
Produk favorit: Ultima II Delicate Translucent Face Powder with Moisturizer in Golden Beige (FAVE!)

Alisan (2 menit)
Mungkin gak sih bikin alis 2 menit? Jawabannya adalah mungkin. Yaaa mungkin bisa, mungkin juga gak hahaha. Alis gitu lho! Tapi kalo lagi traveling, saya alisan 'hanya' menebalkan aja yang sebenarnya gak butuh waktu lama. Ingat, yang penting alisnya 'ada' dan balance. Level paripurna cukup sampai 6 aja.
Produk favorit: The Body Shop Brow & Liner Kit No. 03 (Brown & Black)

Lipstick-an (2 menit)
Nah lipstick ini cukup tricky nih karena dari kebanyakan wanita yang saya tau, mereka punya dompet terpisah berisi lipstick dan isinya bisa 4 sampai 6 buah. Supaya dandannya praktis, saya selalu bawa lipstick yang teksturnya ringan dan warnanya wearable di segala kondisi. Warna-warna yang adaptif itu seperti earth tone atau nude pink-pink gitu. Bawa 2 aja cukup, gantian pakainya. Kalo udah gini, waktu dandan jadi lebih singkat karena gak bingung pilih pilih lipstick.
Produk favorit: Sariayu Duo Lip Color Inspirasi Krakatau No. 08 (FAVE!), Rollover Reaction Lip & Cheek Cream in Prudence, dan BLP Lipcoat in Persimmon Pie


Selesai deh! Simpel kan? Kalo mau lebih paripurna lagi misalnya pakai blush on atau pakai bulu mata atau pakai eyeliner (I only use eyeliner for formal occassion), bebas aja mau tambah waktu. Asal yang penting adalah bawa alat make-up sesimpel mungkin. Benar-benar simpel. Saya pernah bawa lipstick 4 karena suka semua warnanya, endingnya saya butuh 20 menit untuk memilih dan berakhir hanya menggunakan 1 lipstick selama traveling. Males kan! Buat yang suka gak sabar mau eksplor jalan-jalan seperti saya, skincare dan make up routine seperti ini adalah LAFFFBGTTTZ!

Sore di York: Ketemu Tupai Ganas, Perahu Merah, dan Gereja Menyeramkan

23 August 2017
Hanya meyediakan setengah hari di York gak membuat saya dan Mas Gepeng lantas bingung hendak eksplorasi kemana. Pasalnya, tempat-tempat menarik yang dekat dengan stasiun itu banyak banget dan bisa dijangkau dengan jalan kaki! Happy banget kan! Awalnya mau sewa sepeda di Cycle Heaven untuk berkeliling, tapi harganya kurang pas di kantong jadi kami jalan kaki saja. Supaya nyaman, dua tas carrier besar yang berat-beratin punggung kami titipkan sekalian minta peta (biasanya mereka menyediakan gratis, di stasiun juga ada sih). Jadi, main kemana aja kita selama di York?

Sekeluarnya dari kawasan stasiun, kami bertemu dengan Cholera Burial Ground, sebuah taman memorial yang didedikasikan bagi para korban musibah kolera yang mewabah di Inggris pada awal abad 18 silam. Perang melawan kolera masih berlanjut sampai hari ini. WHO dan tim masih terus berupaya untuk menekan peningkatan penularan kolera yang per Mei kemarin tercatat ada 2.301 kasus dugaan kolera. Semoga yang sakit cepat sembuh, dan semoga kondisi air serta lingkungan yang kita tinggali semakin bersih bebas dari penyakit yah.

Selanjutnya kami naik York's City Walls. Tembok panjang ini merupakan sisa dari tembok pertahanan York masa lampau. Panjangnya lebih dari 4 kilometer dan ada 4 gerbang yang bentuknya mirip benteng (gerbangnya keren-keren banget sumpah!). Saya sebenarnya tertarik untuk mengitari York melalui tembok ini, tapi saya lebih tertarik bertemu taman-taman dibawah (alias takut kalo kejauhan entar baliknya susah haha). Kalo kamu menelusuri city walls, kamu akan melihat beberapa sudut tembok kota dipugar menjadi jembatan yang melintasi Sungai Ouse. Hal ini juga merupakan salah satu usaha konservasi bangunan tua di York, jadi kita bisa menikmati peninggalan bersejarah dengan lebih sehari-hari gitu.
 
Berjalan kaki lanjut ke York City War Memorial Garden yang didesain oleh Sir Edwin Lutyens paska perang dunia pertama. Selain yang di York, sang desainer juga membuat satu monumen yang sama persis di Devon County War Memorial di Exeter, dan monumen lain The Cenotaph di London. Taman monumental ini di'jaga' oleh bebek-bebek, jadi hati-hatilah melangkah atau duduk di kursi karena eek bebek meranjau dimana-mana. Meskipun begitu, bebeknya baik kok gak suka kejar-kejar atau matuk-matuk.


Eh penasaran gak sih kenapa di Inggris ada banyak bebek? Di Loch Ness kemarin ketemu bebek, di Edinburgh juga ada, di taman-taman di London juga ada, dimana-mana ada bebek dan mereka ya lucu-lucu bersih gitu. Di Inggris bebek memang 'dihargai', bukan sebagai bahan masakan tapi sebagai makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Saking istimewanya, bebek punya jalur jalan sendiri lho. Namanya Duck Lanes. Jalur ini sudah aktif di kawasan Wales, London, Manchester, dan Birmingham. Gerakan yang diinisasi oleh Canal & River Trust ini bertujuan untuk berbagi space antar makhluk hidup agar bisa saling menghargai antar sesama pengguna jalan, jadi pas bebek ini lagi jalan-jalan di jalurnya, kita jangan ikutan jalan bareng entar gak muat hahaha.

York City Wall Memorial Garden berada di dekat Sungai Ouse. Jadi ketika jalan diteruskan, kita akan bertemu jembatan yang melintas di sungai yang panjangnya 21 kilometer ini. Nah siang itu, kami pas ketemu sama atlet York City Rowing Club lagi latihan. Sebenarnya YCRC punya program taster session, dimana kita bisa cobain main perahu rowing selama 2 jam. Tapi itu mesti daftar dulu sih. Di sekitar sungai disediakan tangga berundak yang kalo pas lagi acara perlombaan, orang-orang pada duduk nonton sambil ngemil. Beli cemilan pun gampang karena biasanya ada kafe di dekat jembatan. Sepanjang tahun, YCRC menyelenggarakan beberapa events sepeti Yorkshire Head (bulan Maret), Spring Regatta (bulan Mei), dan York Small Boats Head (bulan November).

Berbeda sama kebanyakan sungai di Indonesia, Sungai Ouse warnanya hitam. Entah dia mengandung partikel hitam seperti di Loch Ness, tapi sungainya benar-benar hitam seperti cincau. Saya juga gak lihat ada yang berenang disini. Tapi dia gak berbau, sehingga beberapa festival dan aktivitas pariwisata diselenggarakan juga disini. Selain lomba-lomba perahu rowing, ada juga York River Festival yang berisi lomba gak hanya rowing tapi juga ada canoe dan dragon boat. Kita juga bisa naik perahu buat jalan-jalan keliling York lewat sungai. Ini seru banget pasti karena pemandangan kota York sepanjang sungai itu CAKEP BANGET!

Would you like to explore York with these cute red boat? Satu perahu kecil muat 8 orang dewasa, kalo mau berduaan ya gak papa sih. Tuh lihat deh, bangunan klasik sepanjang sungai cakep banget!

Menyebrangi sungai lewat jembatan Lendal Bridge, kami lanjut mengunjungi York Museum Garden. Buat saya tempat ini adalah tempat terbaik untuk piknik! Semuanya baguuuuussss! Tanaman terawat, rapih, bebas sampah (semua taman di Britania memang bebas sampah), sejuk, adem, dan.......ada banyak SQUIRREL! Waaaaah! 😍

Bedanya apa squirrel sama chipmunk? Kalo squirrel/tupai gak ada garis dipunggungnya, kalo chipmunk ada garisnya dan ekor mereka gak megar seperti punya tupai. Dan paling gemes lagi adalah tupai disini kinyis-kinyis semua OMG OMG mau gigit! Kebetulan saat itu saya bawa kacang almon untuk cemilan kami kalo piknik. Pas tau-tau para tupai ini mendekat, kami cacah si kacang lalu kasih makan ke mereka. Ya ampuuun gemes pisaaaan! Saya juga memberikan cacahan kacang ke mbak bule dan anak-anak kecil yang berusaha memanggil tupai-tupai ini. Seneng deh bisa bikin orang seneng juga. Seandainya saya bawa kacang satu karung, saya bakalan jual ke pengunjung-pengunjung sini hahaha.


Tupai disini mayoritas ramah-ramah. Mereka memang malu-malu gitu kalo mau nyamperin kita, tapi pas tau kita sediain makanan pun mereka bisa tau-tau merayapi kaki atau punggungmu untuk mengambil makanan. Tapi yah, tapi nih, ada yang tetap harus diwaspadai. Disini juga ada tupai ganas! Dan tupai ganasnya gigit jari akuuuuu sampai berdarah netes-netes 😭😭😭 Jadi kalo kamu melihat ada tupai yang dia beneran takut sama kita, dia benar-benar waspada dan panik ketika kita panggil, dan ekornya botak-botak gak seperti ekor tupai bagus yang lainnya, percayalah, itu adalah tupai ganas! Saya gak melakukan apapun yang mengejutkan, hanya menyodorkan tangan berisi kacang seperti yang saya lakukan ke tupai lainnya. Tapi dia malah gigit jari akuuuuuh! *mewek*

Kalo tupainya cakep dan gak panikan, tandanya dia tupai baik. Nyenengin deh! Eh itu tuh yang lagi lari di belakang tuh si tupai ganas! Huh!

Selain tupai dan taman-taman super rapih, disini juga ada Yorkshire Museum. Di dalam museum ini ada koleksi-koleksi yang terbagi dalam 4 segmen: biologi, geologi, arkeologi, dan astronomi. Museum ini secara resmi beroperasi pada tahun 1830 setelah mengalami relokasi karena koleksinya semakin banyak. Tau gak, didalam sana ada rambut cepol orang Romawi lho! Koleksi yang hmmm gak biasanya haha. Sayangnya pas kami kesana (setelah susah payah menghentikan pendarahan di jari), museum sudah tutup jadi saya menikmati pemandangan disekitarnya saja.

Di sebelah museum, ada sisa reruntuhan benteng peninggalan Romawi bernama The Abbey of St Mary. Bentuknya seperti pagar dengan ukiran khas abad pertengahan dan benar-benar sisa penginggalan karena sudah gak berbentuk bangunan. Bangunan ini dulunya adalah gereja yang dibangun pada tahun 1055. Tapi melihat sisa bangunan, sebenarnya saya agak ngeri. Kayak melihat sesuatu yang habis di bom. Terlepas dari itu, kawasan ini sangat terawat lho. Saya rasa mereka benar-benar serius tentang menjaga bangunan bersejarah dan membuat siapapun yang menikmatinya merasa nyaman. Salut!

Keluar dari museum, saya lanjut jalan-jalan ke York Minster, salah satu highlights paling terkenal di York. Istilah 'minster' itu diberikan pada gereja-gereja yang dibangun pada masa Anglo-Saxon (apa itu?). Satu hal yang ada di kepala saya pas melihat gereja ini: berhantu. Entah lah. Tapi saya takut. Suasananya mistis banget haha. Mau masuk pun gak jadi (selain takut hantu, takut juga bayarnya, £16 bok per orang!). Tau gak, 30an tahun lalu tepatnya 9 Juli 1984, gereja ini kebakaran gara-gara disambat petir. Lebih dari 100 orang pemadam bekerja keras untuk memadamkan kobaran marah api demi menyelamatkan bangunan kebanggaan masyarakat York ini. Tapi yang menakjubkan adalah dinding depan yang ada jendela kaca bunga mawar itu gak rusak padahal kebakarannya persis ada dibelakangnya. Kaca-kaca disekitarnya rusak, tapi kaca di mawarnya gak lho! Mawar mana si? Itu lho ukiran bunga yang ada di atas tembok utama. Mungkin karena mawar ini simbol dari War of The Roses, jadi ada yang 'jagain' biar gak rusak.

Gimana gak serem coba! Ini pasti banyak hantunya hiii. Etapi kalo masuk gereja, kita bisa naik ke atapnya lho dan katanya pemandangan kota York bagus banget dilihat dari atas sana. Mengelilingi salah satu gereja katedral terbesar di Eropa utara ini juga bagus. Meski seram, tapi klasik banget dan saya belum pernah menyentuh bangunan klasik (dan seram) secara langsung. Ditelurusi ke bagian belakang komplek, kita akan ketemu Treasure's House di minster yard, Dean's Park, dan beberapa obyek wisata bersejarah lainnya. Intilin aja tur yang suka ada disana, lumayan kan gratisan.

Ketemu patung orang ungu, eeeh taunya bisa ngomong hahaha! Kaget ih!

Oh York, kamu menyenangkan! Beruntung sekali tempat-tempat cantik ini dekat dengan stasiun, jadi kami yang punya waktu sedikit ini tetap bisa menikmati York barang sebentar. Sungguh, kota York cantik sekali! Meskipun jari ini nyut-nyutan dan kaki ini gemetar kedinginan, saya menikmati sekali main sebentar ke kota viking ini. Seperti melewati mesin waktu! Perjalanan kami mulai dari stasiun dan kami akhiri juga dengan menikmati York Railway Station sambil menunggu kereta yang akan mengantarkan kami ke kota selanjutnya. Sampai jumpa!



Catatan plus plus:
  • Berbeda dengan di London, tempat penitipan tas di York berada diluar stasiun, tepatnya di Long Stay Car Park. Dari pintu keluar stasiun, jalan ke arah kanan (fyi, di UK gak pake istilah 'exit' melainkan 'way out' sebagai tanda pintu keluar). Dia berada dibawah jalan sebelah kanan, persis setelah tempat parkir mobil. Kalo kamu jalan nanti kelihatan ada papan namanya Left Luggage. Per item tarifnya £7 untuk 24 jam dan bayarnya hanya bisa cash. Menurut petugasnya sih left luggage di York ini paling murah dibandingkan yang lain tapi kalo dibandingkan dengan pelayanan yang saya terima, saya lebih puas dengan yang di Victoria, London karena lebih ramah meski harganya lebih mahal £5.
  • Belajar dari kasus saya yang digigit tupai, teman-teman kalo jalan-jalan jangan lupa bawa P3K yah! Setiap pergi, saya selalu bawa dompet P3K yang berisi obat luka, plester, perban dan perekatnya, juga obat darurat seperti obat diare, obat maag, obat pusing, paracetamol, dan obat masuk angin.