SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

NEWSLETTER

14 January 2018

7 Alasan Mengeluarkan Rp325ribu untuk Island Hopping di El Nido Tidak Sia-Sia

Siapa disini yang melakukan traveling sebagai investasi angkat tangan? Well, jika saham atau Reksa Dana menjadi instrumen investasi keuangan, traveling merupakan investasi yang tepat untuk kesehatan jiwa raga. Iya uang bisa bikin sehat juga—siapa yang tidak senang punya banyak uang yekan?—tapi seperti tag-line Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yaitu hati yang senang adalah obat, tentu traveling jadi bermanfaat karena membuat kita bahagia.

Nah akhir tahun lalu tepatnya saat liburan natal, saya mengeluarkan uang sebesar Rp325.200 untuk melakukan island hopping Tour A di El Nido. Dan uang itu ternyata menjadi investasi yang tepat untuk kesehatan jiwa raga saya. Kenapa? Berikut adalah alasannya.

1. Bisa Menikmati Suasana Tenang dan Sepi di Papaya Island
Halo Papaya Island!
Pemberhentian pertama Tour A hari itu adalah Papaya Island. Pulau tidak berpenghuni ini tidak jelas juga kenapa dinamai papaya padahal sejauh mata memandang, hanya pohon kelapa yang mendominasi. Mungkin di pepohonan belakang ada banyak pohon pepaya. Pulau ini jaraknya tak sampai 10 menit dari Corong-Corong, jadi kalau ditinggal kapal masih bisa lah ya berenang pulang haha. Dari jauh sudah terlihat garis pantai panjang dan pasir putih mencolok. Rasanya ini pulau yang tepat untuk menghabiskan hari dengan tiduran di hammock, baca buku, seruput es kelapa, lalu ketiduran.

Papaya Island punya spot santai-santai, juga bagi yang ingin coba snorkeling atau free diving, ada spot-nya juga. Airnya biru bening dan hitam-hitam di pasir itu bukan sampah, melainkan tanaman dan rumput laut yang terdampar.
Ciri khas pulau di El Nido adalah tebing krast monokrom. Tebing ini merupakan jenis batuan karst karena mengalami pelarutan sehingga permukaannya menjadi artistik begitu—atau bahasa kerennya exokarst.
Sepi dan bersih kan?

2. Bisa Quality Time sambil Main Kayak
Main kayak!
Memang aktivitas ini mengharuskan saya mengeluarkan uang tambahan sebesar PHP300 atau Rp81ribu untuk sewa kayak berkapasitas 2 - 3 orang, tapi percayalah, ini sangat worth it. Jika kita main ke laguna sambil berenang, mengambil foto jadi PR yang menyusahkan apalagi jika menggunakan kamera mirrorless yang dicover Dicapac seperti yang saya lakukan. Jadi mengambil foto dari atas kayak sangat memudahkan. Nah alasan lain adalah ini jadi aktivitas seru buat kamu yang traveling sama kekasih atau teman-teman. Main kayak sambil menikmati laguna? Bloody cool...
 
Tukang dayung saya siang itu ganteng sekali :p
Pakai kayak, foto jadi lebih atraktif tidak sih? Ada kuning-kuning di tengah birunya laguna. Photogenic!

3. Manjakan Diri dengan Pemandangan Small Lagoon
Siap-siap masuk gerbang small lagoon
Selamat datang di pintu kecil rahasia. Lihat gerbang diantara dua bukit batu? Itu adalah gerbang masuk ke small lagoon, bisa dijangkau dengan perahu kayak atau berenang saja. Dan small lagoon adalah tempat paling saya suka di Tour A ini. Small lagoon memang tidak terlalu besar, tapi dia punya banyak 'pojokan' yang bisa untuk santai-santai bebas tanpa banyak orang lalu lalang. Jika kalian melihat keramaian turis di foto ini, memang saat itu sedang padat sekali. Maklum, dua hari island hopping tour 'diliburkan' karena cuaca, jadi lah sekalinya bisa tour, yang ikutan pun banyak.

Small lagoon bagian tengah. Karena ramai, main kayak pun sesekali bisa tabrakan.
Beruntung sekali langit sedang cerah-cerahnya. Air toska yang bening, tebing karst dengan hijau pohon tumbuh liar, lalu kayak kuning dimana-mana, pemandangan yang sungguh menyenangkan. Semua sudut di small lagoon benar-benar layak nikmat.

Bagus banget disini sumpah!
Happy plus degdegan takut kayaknya kebalik hahaha!

4. Merasakan Makan Siang di Tengah Laut
Makan siang mewah!
"No photo, no eat", kata pemandu tour kami siang itu. Semua awak kapal adalah pria, tapi bisa-bisanya mereka menyajikan makanan dengan penampilan rapih dan penuh estetika. Harusnya kami makan siang di Simizu Island, namun hujan deras sekali, masa iya makan sambil hujan-hujanan? Meski di kapal kena hujan juga, setidaknya udang dan buah tidak jadi berkuah. Secara kualitas masakan sih sebenarnya biasa saja, tapi makan di tengah laut yang cantik membuatnya jadi spesial. Dari seluruh sajian, yang paling enak adalah nanasnya. Rasanya luar biasa manis dan luar biasa segar!

5. Menjadi Bagian dari Orang yang Mengetahui Secret Lagoon

Foto-foto yang saya dapatkan di secret lagoon bukan lah yang terbaik, hujan deras sekali dan birunya air berubah jadi coklat karena arusnya berantakan. Tapi secret lagoon ini juga sangat cantik! Dan sejak namanya adalah secret, menjadi bagian dari segelintir orang yang mengetahui rahasia ini rasanya luar biasa. Kapal kami parkir sekitar 20 meter dari pintu secret lagoon (itu lubang segitiga yang ada di gambar), dan kami harus berenang sedikit, lalu melewati gerbang sambil duduk, dan sampai lah di kolam kecil rahasia.

Saya bukan orang yang suka berenang di laut, tapi pemandangan secret lagoon adalah pengecualian!
Karena lagunanya kecil—lebih kecil daripada small lagoon, kita harus bergantian dengan yang lain. Keluar masuknya pun juga bergantian, daripada kejepit kan. Buat yang tidak bisa berenang jangan takut jangan khawatir, kolamnya dangkal dan tidak ada ombak besar. Aman! Tapi tetap harus pakai pelampung ya, jaga-jaga kalau ada badai datang tiba-tiba lalu airnya meninggi lalu pintu rahasia sudah tertutup air, mau tidak mau kita harus mengapung terus dan berenang sampai atas tebing. Itu Mas Gepeng jangan ditiru ya!

Ini masih di laut, bukan di sungai haha.

6. Berenang Sebebas-Bebasnya di Big Lagoon
Big lagoon!
Jika tadi ada yang small, ini versi besarnya dan jadi laguna terakhir yang dikunjungi. Namanya big lagoon. Kalau saya bilang sih ini super big karena benar-benar besar dan luaaaas banget. Sama seperti yang kecil, untuk menikmati laguna besar ini bisa dengan kayak atau berenang. Jarak dari 'gerbang' ke kolam utama lumayan jauh, sekitar 200 meter. Hanya saja saat itu, kapten kapal kami—yang eksotis dan menawan—malah menjalankan kapal melewati gerbang, bagian awal laguna yang cetek, sampai ke kolam utama. Hanya kapal kami yang melakukan itu. Entah ini ilegal atau tidak, tapi melihat wajah (rupawan) kapten yang penuh keyakinan, saya pun yakin ini tidak apa-apa.

Banyak yang main kayak, hanya karena lagunanya luas sekali, jadi tidak terlihat padat. Rasanya main kayak disini akan lebih melelahkan tidak sih?
Di destinasi terakhir ini, saya berenang dan membuat beberapa video Mas Gepeng menyelam bebas. Sebenarnya kami bawa kacamata renang untuk free-diving, entah kenapa malah ditinggal di hostel hahaha untung Mas Gepeng punya mata seperti lumba-lumba, jadi tahan banting di air asin. Bagi yang suka selam-selam lucu, di big lagoon ini bisa jadi spot idola. Saya yang dari permukaan merekam Mas Gepeng menyelam saja bukan main senangnya. Pasalnya saya bisa lihat dia seperti melihat ikan pari berenang melintasi kaki! Bahkan kaki panik saya juga ikut terlihat jelas sampai kuku-kukunya! Seru!

Akhirnya saya bisa melepas cover Dicapac untuk mendapatkan foto jernih! Foto diambil oleh tour guide. Terima kasih!

7. Menikmati Hamparan Air Bening
Air bening dimana-mana
Jika island hopping di El Nido, yakinlah bahwa kita akan bertemu dengan laut dan pantai yang bersih. El Nido ini hebat. Tidak di kota atau pun laut semuanya bersih. Pun sisa makan siang juga disimpan dalam ember sampah untuk kemudian dibawa lagi ke kota. Keren ya! Sebenarnya biaya tur ini ada sebagian yang disumbangkan untuk pengelolaan lingkungan hidup, sekitar PHP200 per orang, jadi selain ikut meramaikan dunia pariwisata, kita juga berkontribusi terhadap keberlangsungan kehidupan laut El Nido.


Jadi jika kamu hanya punya kesempatan untuk traveling sekali saja dalam setahun, saya sarankan untuk pergi ke El Nido. Datanglah di waktu yang tepat saat matahari sedang senang-senangnya bertugas. Selain karena traveling dapat mengurangi depresiif you have the condition, datang melihat pemandangan air bening dan tebing karst dengan pepohonan merayap adalah hal yang menyenangkan. Biaya dan tenaga yang kamu keluarkan disini akan berbuah manis. Saya tidak akan bohong, suatu saat saya akan datang lagi kesini dengan waktu yang lebih lama, mungkin tambah ke Cebu atau tempat cantik lainnya.


- - - - - - - -

Posting-an ini mengandung affiliate link. Gunakanlah link tersebut untuk mendapat potongan harga sehingga saya dan kamu bisa selalu Travel and Enjoy Everything cause whenever, you smile, I smile~~
2 comments

7 January 2018

Lupakan Island Hopping, 36 Jam Menikmati El Nido via Daratan

Dinamai berdasarkan sejarah bahwa dulu penjualan sarang burung kutilang sebagai bahan utama the gourmet nido soup sangat tinggi, El Nido—yang artinya sarang dalam bahasa Spanyol, merupakan kawasan (atau mereka menyebutnya municipality) kelas satu di Pulau Palawan. Bagaimana tidak kelas satu, El Nido 'dianugerahi' berbagai award yang sangat fancy seperti The Best Beach and Island Destination in the Philippines oleh CNN Travel, ranking 10 dari Top 25 Beaches in the World oleh TripAdvisor, juga jadi ranking 1 dalam The World's top 10 Islands versi Travel+Leisure. Rasanya menempuh perjalanan sejauh 2.452mil untuk kesini harusnya tidak sia-sia bukan? Seberapa menarik El Nido? Mari kita lihat.

Jum'at
09 AM : MENUJU EL NIDO DENGAN JALUR KAMPUNG
Perjalanan dari Jakarta ke Manila kami tempuh dengan Cebu Pacific—sahabatnya Lion Air karena sama-sama hobi telat, lalu lanjut terbang ke Puerto Princesa dengan AirAsia lewat bandara domestik. Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) surprisingly sangat bagus. Yang paling membuat senang adalah adanya air minum panas gratis untuk para penumpang! Keren! Akhirnya keinginan terpendam saya tentang bandara akhirnya terwujud hehehe. Lumayan bisa seduh Milo hangat. Bandara ini bersih, rapih, terawat, mengingatkan saya akan HKIA namun kurang nuansa abu-abu saja sih. 

Nah bandara domestik ini malah lucu, dia benar-benar mirip terminal bus–analogi paling dekat adalah boarding room Bandara Halim atau Bandara Adisutjipto. Tempat duduk berkumpul di tengah dan ramai sekali. Orang-orang pun banyak yang sembarangan mulai dari sembarangan buang sampah, sembarangan bongkar muatan disebar ke kursi-kursi, sembarangan duduk, sembarangan dandan (banyak bancita-bancita lho disini hahaha), dan sebagainya. Dan disini saya semakin sadar bahwa rupa wajah orang Indonesia dan Filipina lumayan mirip lho. Jadi tidak jarang orang-orang mengajak saya bicara dengan bahasa tagalog.

Bandara Domestiknya Ninoy Aquino
Yang sedih dari perjalanan ini adalah saya, Mas Gepeng, dan Mbak Firda, menempuhnya dalam keadaan perut kosong. Sekali-kali isi fuel bekal rambut nenek dan kripik ubi, selanjutnya hanya angin belaka. Apalagi setelah dari Puerto Princesa, kami masih menempuh perjalanan darat dengan van-sharing sejauh 6 jam. Sebenarnya ada penerbangan langsung Manila - El Nido, namun budget hanya cukup untuk menggunakan rute kampung itu.

07 PM : MALAM MENCARI MAKAN
Setelah menempuh 6 jam perjalanan memabukkan dan check in hostel, kami mencoba menyelamatkan diri dari kelaparan. Kami bertiga naik tricycle (semacam bentor) menuju pusat kota, ongkosnya PHP50 untuk sekali jalan. Satu tricycle muat untuk 4 orang, kalau mau sensasional lagi sebenarnya bisa berenam tapi jangan lah, malu. Kami makan kebab isi ayam dan falafel, per porsi harganya PHP200 - PHP230 dengan kekenyangan maksimal karena porsinya besar sekali dan rasanya enak. Pilihannya disini sebenarnya ada banyak, mulai dari masakan Italia, makanan lokal, seafood yang fresh-grilled, gelato, crepe, olahan babi, dan sebagainya. Namun seperti biasa, turis kere selalu cari yang murah dan porsi besar.

Kebab isi falafel, besar sekali dan enak. Harganya PHP200. Kalau saya tidak salah ingat, makanan ini halal karena ada pengakuannya apa gitu.
Seafood bakar. Aromanya sedap! Aneka seafood ini kita bisa pilih sendiri dan nantinya ditimbang oleh penjual. Pilihannya banyak dan kelihatan segar-segar.

Sabtu
09 AM : TIDAK JADI ISLAND HOPPING
Menurut tabel cuaca, Desember adalah salah satu bulan terbaik untuk berkunjung ke El Nido selain Januari hingga Mei. Curah hujan rendah dan suhu summer-nya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, sekitar 28°C. Tapi seperti kata seseorang, "every island has its own magic". El Nido ternyata sedang basah-basahnya. Hujan besar setiap malam. Langit gloomy. Jalanan becek. Dan island hopping tour yang jadi paket andalan wisata disini bisa saja di cancel berjamaah karena cuaca tidak mendukung. Seperti yang kami alami juga, tour kami di cancel.

Kabar buruk itu tidak hanya membuat kami bingung hendak menghabiskan waktu kemana, tapi juga beberapa tamu asing yang sudah bangun pagi-pagi, bertelanjang dada, minum bergelas-gelas kopi, mengatasi hangover, dan mengobrol bebas dengan kami. Mereka menantikan jalan-jalan antar pulau dan laguna, tapi apa mau dikata, hari itu mereka (dan kami) harus mencari ide lain. "Yeah we don't know what to do, the weather is sucks", kata seorang bule Brazil yang mengisi pagi kami dengan berbincang tentang kehidupan di Brazil (tentu saja), Macau, Jakarta, Bahasa Mandarin, Lombok, Bali, juga tentang kopi Aceh—btw, cerita kopi dan marijuana memang selalu menarik.

Setelah pagi tadi main ke pasar, sarapan bubur kue-beras (maaf, saya lupa sekali namanya apa), dan cemil telur asin yang tidak terlalu asin, kami mencoba menyusun rencana seadanya. "Ke Pantai Corong-Corong saja lah, dekat situ kok", kata Mas Gepeng. Ide selanjutnya adalah kami akan menghabiskan hari di pusat kota, mungkin makan seafood sambil melihat pemandangan laut atau yah, apa saja lah.

Bubur mutiara, kuahnya terbuat dari santan dan tepung beras, termasuk adonan bulat itu juga. Selain itu, didalamnya ada campuran biji mutiara. Rasanya seperti makan bubur sumsum hanya saja lebih butek dan rasanya tepung beras sekali. Harga PHP15.
Telur asin disini diberi warna ungu. Rasanya tidak terlalu masir seperti telur asin Brebes, tapi enak juga. Harga PHP15.
Suasana pasar. Harga buah disini tidak mahal dan umumnya masih segar-segar. Tidak ada penggunaan plastik lagi di pasar, digantikan dengan kantung kertas. Yang pakai plastik hanya yang jual bubur.

Kami menyeberang jalan menuju Pantai Corong-Corong. Lokasinya dekat sekali karena hostel kami yang berada di Taytay National Highway berdiri sejajar dengan pantai. Memang tidak memberikan takjub, tapi daripada tidak ke pantai sama sekali ini lebih baik. Pantai Corong-Corong, atau julukannya The El Nido Mahogany, sangat cocok menjadi pemandangan muka ketika bangun pagi, makan siang, dan jalan-jalan sore. Airnya tenang, tidak banyak batuan karang dan pantainya luas. Kegiatan paling seru disini bisa naik pohon kelapa atau main kejar-kejaran kepiting yuyu. Bahagia itu sederhana gengs, kadang-kadang tapi.

Kepiting yuyu. Gimana cara ajak dia main? Tinggal tunggu dia masuk ke pasir, lalu disiram air sampai pasirnya luntur. Begitu terus sampai bosan.
Sumpah sebenarnya ini saya sedang ketakutan.

Selain Corong-Corong, kami juga datang ke Pantai Nacpan. Pantai ini ditawari oleh seorang supir tricycle yang sebenarnya kami hired untuk antar ke pusat kota. Tapi si abang menawarkan sebuah paket perjalanan wisata murah meriah ke pantai dan air terjun. Cerdik sekali melihat kesempatan turis bingung tidak bisa island hopping, lalu ditawari paket wisata dan memaparkan indahnya dengan foto-foto di handphone-nya.

"One thousand peso to only Nacpan Beach, okay?", saya memastikan tour dadakan yang kami ambil, tanpa mengunjungi air terjun Nagkalit-Kalit meski searah. Harga segitu untuk 3 orang dan antar jemput memang lumayan, karena jika mengikuti van sharing tour, harganya bisa 600 peso per orang. Kalau mau mampir ke air terjun harganya tambah 200 peso, dan sebenarnya ada 2 air terjun yang direkomendasikan tapi karena malas jadi lah kami hanya pergi main ke pantai.

11 AM : OFF ROAD MENUJU NACPAN BEACH
Akhirnya dengan naik bentor, kami bertiga menempuh perjalanan panjang menuju Pantai Nacpan. Jangan kaget jangan khawatir. Meski jalanan tidak selamanya mulus, para pengendara bentor sudah sangat terlatih dan insting keseimbangannya sangat mumpuni.

Kalau kamu tidak mau pakai bentor melainkan bawa motor sendiri sebenarnya bisa-bisa saja. Banyak tempat penyewaan motor di El Nido, motornya scooter-matic kok, bukan RX king seperti yang biasa dipakai abang bentor. Tapi papan petunjuk arah ke Pantai Nacpan minim sekali, jadi pastikan kamu sudah punya SIM Internasional atau download peta offline ya.

Pantai Nacpan tidak jauh beda dengan Corong-Corong. Garis pantai panjang dan cocok untuk bersantai riang. Bedanya ombak disini lebih besar sedikit dan tidak ada kapal parkir sehingga banyak turis yang berenang, berjemur, main bodyboard, juga leha-leha ciuman di tengah ombak. Ada beberapa warung makan dan gazebo untuk bersantai santap siang. Makanan yang disajikan adalah aneka seafood seperti ikan, udang, kepiting, dan cumi. Kalau lihat tampilannya sih biasa saja, apalagi warna nasinya butek-butek gitu, tidak selera. Tapi banyak kok yang makan dan piringnya bersih banget, artinya mungkin rasanya lumayan.

Pantai ini benar-benar  untuk menghabiskan waktu. Fakta menakjubkan yang saya temui adalah bahwa harga mie gelas instan disini sama dengan yang ada di satu-satunya convenient store Bandara Puerto Princesa. Saya sempat kira toko itu culas dengan menaikkan harga, tak tahunya memang harganya segitu. Pun harga kelapa muda antar warung juga sama, termasuk yang berjualan di pasar. Mental waspada-dengan-keculasan-orang-di-daerah-wisata yang selama ini terbangun dengan baik seolah menampar dirinya sendiri. Orang-orang di Palawan tidak culas.

Dan siang itu di Nacpan Beach adalah moment saya tidak lagi menjadi haram-food-virgin karena mie instan yang saya makan ternyata mengandung babi. Wakwaw!

Di dalam tricycle. Siap siap off road!
Pantai Nacpan saat mendung. Pulau-pulaunya lucu ya, seperti anak kura-kura.
Mie haram. Ampuni hamba ya Allah.
Bisa lari-larian di Pantai Nacpan. Eh tangan kiri saya kok aneh?

16 PM : JAJAN SORE SAAT GERIMIS
Mempertimbangkan adanya kemungkinan tour island hoping kami batal lagi, saya langsung menuju ke Terminal Bus El Nido untuk negosiasi akomodasi. Jadi jika besok tour kami batal, kami akan kembali ke Puerto Princesa naik van sharing yang keberangkatan terakhirnya adalah pukul 18 PM. Namun jika tour kami jadi jalan, maka kami akan naik bus (entah Cherry atau Roro Bus) sekitar pukul 21 PM. Beruntungnya petugas tiket bisa sangat fleksibel. Dia pun akan mangkal seharian di terminal, sehingga kami tidak khawatir akan uang muka PHP300 yang telah dibayarkan dan dia pun berjanji akan mencarikan van kalau kami tidak jadi naik bus.

Setelah cukup lega dengan kepastian akomodasi pulang esok hari, kami ke pasar mencari cemilan. Sore itu gerimis ringan membasahi El Nido, perut lapar sekali setelah hanya diisi mie instan haram. Saat sore, ada banyak jajanan di sekitar pasar. Harganya pun murah-murah. Apakah saya mengalami kesulitan berkomunikasi? Tidak, selama orang yang mengajak saya bicara bahasa tagalog tersadar bahwa saya kebingungan dan sesungguhnya orang Filipina even dia tukang jeepney atau tukang jualan kulit ayam goreng masih lumayan bisa Bahasa Inggris barang menyebutkan harga jualannya, jadi tenang saja, seberapa rendah pun hasil TOEFL mu, bisa kok berkomunikasi disini.

Native fish ball, yang lebih terasa seperti donat goreng. Tidak ada rasa ikan sama sekali. Lagipula apa maksudnya native? Memangnya guru bahasa Inggris.
Fish ball yang sebenar-benarnya. Terasa ikannya dan lebih crunchy. Suka banget enak! Minta lah yang masih hangat ya dan siram saus biar lebih tasty. Fish ball ini sudah seperti cilok di kita, jajanan favorit semua orang dan yang jual juga banyak.
Favorit! Telur ayam rebus dibelah dua lalu dibalut adonan tepung berbumbu dan digoreng. Simply delicious.

19 PM : PIZZA!
Malam itu cuaca masih tidak menunjukkan cerianya. Gloomy konsistenseolah memang ingin ikut berpartisipasi pada pemanasan global. Kami menghibur diri dengan makan pizza di Trattoria Altrov'é, sebuah restoran Italia yang lumayan ramai dan mungkin satu-satunya dengan waiting list. Seberapa lama waktu kita menunggu adalah tergantung tamu yang tahu diri di dalam sana.

Bangunan restoran kokoh ditopang oleh kayu-kayu bercat gelap. Ruang makan utama ada di lantai 2, lantai bawah adalah dapur dan bar kecil yang sepertinya hanya bisa diakses dari pintu kedua. Saat tiba kesempatan kami masuk, kami harus melepaskan alas kaki dan menyimpannya di rak. Hal ini sama persis dengan hostel, yaitu kami menaruh alas kaki di luar.

Menurut pemaparan di buku menu, barefoot atau telanjang kaki adalah tradisi orang Filipina untung menghindari kuman dan kotoran ikut terbawa masuk ke dalam rumah. Menarik dan efisien juga ya, kita jadi tidak perlu repot menyapu kotoran

Ambience tempat ini enak sekali. Temaram hangat dan tempatnya tidak terlalu besar. Jadi sangat intim, wajah pun terlihat makin cantik karena seperti terpapar sunlight. "Kalau besok masih tidak bisa tour, kemana lagi ya kita?", tanya saya bingung memecah hening, pun balasan yang saya terima juga hanya wajah yang bingung. Tidak bisa main ke laguna di El Nido memang menyebalkan. Tapi pizza datang mencerahkan hati dan tampak terlalu lemah sehingga harus segera dihabiskan.

Pizza Con Tonno (PHP350). Isinya cacahan ikan tuna, keju mozzarella, bawang bombay, jagung manis, dengan tomato sauce as base.
Happy kid!
Pusat kota sangat ramai dengan turis asing. Mereka jalan kaki keliling antar bar dan toko pakaian. Disini pun saya masih menemukan fakta bahwa harga barang jualan antar toko pun sama. Misalnya dry-bag, yang jual di ruko, di warung, atau di pinggir jalan, harganya sama semua. Kok bisa ya kompak sekali begini? Kalau mau beli sebenarnya barang tidak bisa ditawar, tapi kemarin kita coba-coba tawar yang jual di pinggir jalan, bisa sih turun PHP50 meski setelah beli jadi tidak tega juga. Namun yang sama lagi adalah mereka semua ramah dan tidak nakal. Maksud saya, benar-benar sopan dan tidak resek. Menyenangkan berjalan berkeliling di sekitar sini.

Suasana kota saat malam.

21 PM : BASKET DAN BALON TIUP
Saat hendak pulang kembali ke hostel, kami menepi pada sebuah lapangan olahraga yang jadi tempat perhelatan lomba basket antar RT. Tahu kah kamu bahwa orang Filipina sangat obsessed dengan olahraga basket? Kalau kamu jeli, diberbagai sudut kota banyak sekali ada ring basket, dari yang sudah lapuk sampai yang masih baru. Nyatanya olahraga ini memang sudah mengakar disini sejak 1898, saat penjajah Amerika memperkenalkan basket sebagai aktivitas ekstrakulikuler sekolah. Akhirnya olahraga ini digemari dan sejak kemenangan Filipina pada FIBA World Championship tahun 1960, olahraga ini terus berkembang dan jadi kebanggaan nasional.

Tapi malam itu yang menarik bukan hanya tentang bola basket, melainkan betapa senangnya para Filipino memecahkan balon. Jadi setelah pertandingan basket selesai, ada balon-balon yang diterbangkan untuk menghujani para pemenang. Saat balon mulai dilepas, penonton (mayoritas laki-laki) berlari ke tengah lapangan, mendekati balon, lalu berlomba memecahkannya. Semua melakukannya dan tertawa bersama. Meriah sekali.

Diambil lalu dipecahkan. Pesta sederhana.

Lelah dan kenyang menikmati satu setengah hari di El Nido tanpa island hopping, menyenangkan juga ya. Kami bermalam di dormitory Amos Hostel yang dipesan melalui situs booking.com. Mengapa pilih dorm? Karena saat itu saya pergi bertiga dengan suami dan teman perempuan, tidak bijak rasanya ketika dia harus tidur sendiri sedangkan saya berdua sama Mas Gepeng. Di situs booking.com untungnya banyak sekali pilihan penginapan dormitory murah, salah satunya yang kami tempati ini harganya hanya PHP3003 per malam untuk 3 orang, atau artinya Rp90ribuan per orang per malam. Murah banget! Fasilitas dorm-nya pun menyenangkan, ada tirai, stop kontak persis di sebelah bantal, kasur bersih, AC dingin, kamar mandi juga bersih, sangat affordable.

Suasana di dorm.

23 PM : THUNDER, FEEL THE THUNDER!
Hujan deras mengguyur El Nido. Langit bergemuruh dan suara benturan air hujan dan atap seng membuat saya tidak bisa tidur. Bukan karena keberisikan, tapi karena semakin patah semangatnya untuk bisa island hopping di hari terakhir kami di El Nido besok. Saya pasrah saja. Setidaknya saya berada di tempat yang orang-orangnya suka bersenang-senang, jujur, religius, friendly, dan layak eksplor.



- - - - - - - -

Posting-an ini mengandung affiliate link. Gunakanlah link tersebut untuk mendapat potongan harga sehingga saya dan kamu bisa selalu Travel and Enjoy Everything cause whenever, you smile, I smile..
6 comments

18 December 2017

Analisis Sembarangan tentang Hal-Hal Membingungkan di Bandara (Part 2)

"Bandara adalah teman baik saya, dia menjadi saksi betapa bersemangat saya untuk pergi dan menemukan hal-hal baru, kemudian menyambut hangat saya yang kembali dan membawa banyak cerita", begitu lah kira-kira gambaran bagaimana saya menghargai bandara. Ada yang bisa terjemahkan ke bahasa Inggris tidak? Mau saya buat quote, nyambung atau tidak dengan fotonya ya bebas. Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, dan sesungguhnya lebih panjang. Jadi siapkan dirimu ya, beli bakso dulu boleh kak.

11. Kenapa orang kita suka banget bawa kardus banyak-banyak?
Baru banget pas pulang dari Yogyakarta beberapa waktu lalu saya mendapati segerombolan orang yang pulang dari acara hura-hura kantor, membawa puluhan kardus ikutan antri counter check-in! Apakah mereka tidak tahu ada teknologi bernama trolley? Dan apakah mereka tahu bahwa bepergian dengan kardus cokelat itu so last year?

Saya rasa gerakan tetap menggunakan kardus ini erat kaitannya dengan menjaga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kardus adalah ciri khas, identitas, tanda lahir, yang tidak boleh kita lenyapkan. Jika kita bepergian keluar negeri dan melihat ada orang yang bawa-bawa kardus, bisa dipastikan dia orang Indonesia. Kita jadi bisa bertegur sapa kan? Saat di Nepal saya dicuekin orang Indonesia yang saya sapa. Di Hongkong juga begitu. Saya yakin hal itu tidak akan terjadi kalau dia melihat saya membawa kardus yang dilakban banyak-banyak lalu diikat rafia.

12. Kenapa pas mau masuk security gate, orang baru lepas gesper, jam tangan, dan sebagainya padahal ada antrean?
Menurutmu kenapa? Apakah sosialisasi peraturan ini tidak berjalan mulus? Padahal setiap mau masuk gate, petugas biasanya sudah teriak-teriak mengumumkan bahwa ikat pinggang, handphone, jam tangan, kunci rumah, semua diletakan di wadah. Kenapa masih ada yang rusuh sekali baru membongkar semuanya saat sudah didepan muka gate mengakibatkan orang-orang yang antri dibelakangnya menunggu dengan pandangan 'hellaaaaaw kemana ajaaa dari tadiii myeeeeh' dan keluar angin kencang dari hidung. Biasanya kondisi ini diperparah dengan keribetan mengatur banyaknya tas bawaan ketika hendak melepaskan asesoris itu. Seperti kata Efenerr, orang kita tidak praktis.

Coba kita telaah kenapa orang kita tidak praktis dan efisien? Pertama, mungkin karena semakin banyak barang bawaan semakin cool. Jadi kelihatan mau traveling banget gitu. Pernah bertemu seseorang yang memakai headset besar terkoneksi ke handphone, lalu tangannya sibuk scroll Instagram, satu tangannya memegang gelas kopi dan sebuah tote bag menggantung di sudut siku, nah waspadai orang seperti ini, jangan coba-coba antre dibelakangnya saat masuk security gate, ndak bikin kesal.

Kedua, saya rasa pemahaman kita tentang betapa pentingnya proses pemeriksaan ini masih belum optimal. Jika tidak, maka kita harusnya sudah bersiap dengan menaruh barang-barang ke dalam baki dengan sigap. Kebanyakan dari kita masih menganggap pemerikasaan ini berlebihan dan mengganggu kenyamanan. Padahal ini benar-benar untuk keamanan kita sendiri lho! Seriyes. Jadi sebelum masuk ke security gate, kita jadi tidak persiapan misalnya menaruh semua perintilan barang ke dalam tas supaya memudahkan saat mengantre.

13. Dan kenapa sulit sekali untuk bertahan antre ketika menunggu orang-orang melepas segala asesoris itu ke baki di security gate?
Baiklah, saya mengaku dosa bahwa saya pernah dua kali menyerobot antrean orang di depan yang lamaaaa banget lepas segala barang ke dalam baki. Saya biasanya hanya melepas satu tas dengan Hp, jam tangan, dan kunci rumah sudah didalamnya. Jadi ketika orang depan saya kelamaan, saya pun menyerobot untuk masuk gate duluan. Salah? Tentu. Tapi ketika petugas bandara juga mempersilahkan bahkan menghimbau untuk saya mendahului? Hehe.

Hal ini sebenarnya kembali pada konteks kesabaran dan kesadaran bahwa kita tidak akan ditinggal pesawat kok meski mengantre. Kecuali kalau memang sudah final call atau kebelet poop atau tidak bisa berdiri lama-lama karena masalah tertentu, bisa saja mendahului antrean. Tapi tetap tidak tertib adalah hal yang menyebalkan. Sebisa mungkin ketika memang harus banget mendahului, permisi dulu sama orang yang di depan dengan ramah, jangan ditepok lalu bilang "Bro duluan ya, lama banget sih lu kayak siput!". Jangan ya. Kita harus baik sama orang.

14. Kenapa pas mau security check, kita harus selalu lepas ikat pinggang?
Sesuai Peraturan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Tahun 2010 tentang tata cara keamanan penumpang, kita harus melakukan pemeriksaan sebelum melakukan check in dan melakukan boarding. Apakah dua-duanya harus melepas ikat pinggang? Ternyata tidak. Pemeriksaan pertama hanya melepaskan topi dan jaket. Barulah saat mau masuk boarding room, semua benda logam harus dilepas. Saya hampir tidak pernah buka ikat pinggang, tapi pernah harus buka sepatu boots karena sol bawahnya mengandung lempengan besi. Merepotkan. Bagaimana nasib mereka-mereka yang pakai celana kebesaran? Apalagi saat melewati gate dan tanggannya harus direntangkan, siapa yang akan mengamankan celananya? Siapa yang akan mengamankan harga dirinya? Hiks.

Jadi begini gengs, konon pernah ada kejadian seseorang membawa pisau di ikat pinggangnya, hal itu memicu ketentuan bahwa ikat pinggang dan benda dengan komponen logam lainnya harus di x-ray. Siapa sih yang bawa pisau ke pesawat? Mau kupas mangga? Bisa kan makan mangganya sebelum pergi ke bandara? Gara-gara orang yang bawa pisau ini, teman saya pernah kerepotan menjaga celananya supaya tidak kedodoran saat security check, jalannya jadi harus ngangkang gitu. Kan malu ya. Bahkan suami saya jadi harus selalu memamerkan perut tambunnya saat memasang kembali ikat pinggangnya, kurang bubar apa harga dirinya?

15. Kenapa juga deodorant spray harus disita?
Saat di bandara Malaysia tahun 2016 silam, deodorant spray Mas Gepeng kena sita petugas bandara. Kejadian ini tidak pernah saya lupakan karena barang yang isinya masih lumayan banyak itu adalah Marks&Spencer yang membelinya saja butuh tarikan nafas panjang sepuluh kali dan bolak balik toko tiga kali. Kenapa harus disita? Apakah Mas Gepeng tidak boleh punya ketiak wangi saat sampai di Jakarta nanti?

Maskapai KLM secara tertulis di website memaparkan bahwa mereka tidak mengizinkan penumpang membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin, sebagai bentuk patuh terhadap peraturan ICAO (International Civil Aviation Organization). Peraturan tersebut diikuti saran bahwa barang-barang cairan harus dimasukan jadi satu ke dalam pelastik, persis seperti yang juga dilakukan oleh petugas Bandara Heathrow. Lalu deodoran semprot ini? Ternyata ICAO juga mengatur bahwa benda-benda mengandung aerosol memang tidak boleh masuk pesawat karena kalau kena tekanan tinggi atau terpicu api, bisa meledak. Wow mejik!

Pertanyaan selanjutnya, kenapa harus 100 ml ya? Bahkan sabun cuci muka saya yang secara ukuran lebih dari 100 ml tapi secara isi hanya 20 ml itu tetap tidak bisa masuk kabin. Asal usulnya begini gengs. Tahun 2006 silam, ada teroris yang mencoba membuat bom cair di sebuah bandara di Inggris untuk meledakkan pesawat. Kejadian ini akhirnya dikenang dengan nama 2006 Transatlantic Aircraft Plot. Hal itu membuat pemerintah Inggris trauma sehingga membuat peraturan bahwa 'liquids in containers larger than 100 ml generally can’t go through security even if the container is only part full' dan peraturan ini telah diadaptasi oleh banyak negara.

Tidak ada penjelasan ilmiah tentang takaran ini tapi mungkin, menurut saya, 100 ml adalah batas aman jumlah cairan tidak bisa digunakan untuk membuat bom. Tapi jika ada 3 botol masing-masing berukuran 30 ml, bagaimana? Saya rasa ini juga tentang wadahnya. Jika wadahnya lebih dari 100 ml, nanti bisa jadi wadah bom. Atau karena 100 angka yang bagus? Seperti Family 100, atau nilai 100. I don't know. Tapi jika bom dibuat dalam botol sebesar 30 ml ledakannya mungkin hanya seperti kentut kuda saja.

Eh tahu tidak, Garuda Airlines melarang penumpangnya untuk membawa bahan yang mengandung merkuri ke dalam pesawat lho! Hati-hati ya gengs, kalau masih suka pakai kosmetik mengandung merkuri, nanti kamu yang tidak boleh masuk kabin.

Sudah tidak pernah bawa deodoran kalau traveling, kecuali jika memang sudah berencana menaruh tas di bagasi.

16. Lalu kemana perginya benda-benda tajam yang disita oleh petugas security gate?
Lihat tidak didalam bilik petugas security gate ada kotak kaca isinya gunting, cutter, alat cukur, juga pisau lipat. Benda-benda tajam itu adalah hasil sitaan petugas yang paling kasat mata dan membuat saya bertanya-tanya, setelah ini mereka akan dikemanakan? Seperti deodoran Mas Gepeng, akan kemana dia setelah disita? Diberikan ke petugas yang bau badan atau dipakai sendiri? Kemana? Menurut pemaparan sebuah kanal berita bernama Tribunnews, barang-barang ini nantinya akan dimusnahkan.

Benarkah? Kenapa dimusnahkan? Kenapa tidak disumbangkan saja ke sekolah-sekolah yang hobi membuat tugas prakarya sehingga anak-anak tidak perlu membawa gunting dari rumah? Kenapa tidak dijual ke tukang jahit? Atau di garage sale? Memang ini semua barang-barang berbahaya sih, tapi daripada sia-sia harus dihancurkan? Saya sih mending dijadikan uang lalu hasil uangnya buat amal ke masjid atau traktir pemulung sepaket nasi padang. Tapi saya rasa kenapa dihancurkan adalah karena ini kan jadi barang yang tidak diperoleh secara 'halal', barang ini tidak diberikan pemiliknya dengan sukarela dan tidak ada surat serah terima kuasa kepemilikan. Jadi ketika mau dipergunakan untuk hal baik maupun tidak, maka jadinya tidak berkah. Mending dihancurkan saja, menghindari dosa.

17. Kenapa tidak ada ruang untuk calon penumpang yang terburu-buru bisa berlari di eskalator?
Pernah ke Singapur? Hongkong? Pernah naik eskalatornya? Apa bedanya dengan eskalator punya kita selain adanya informasi bahwa pegangan eskalator dibersihkan secara berkala? Yap, peraturan berdiri di satu baris. Dengan kita yang berdiri di satu sisi semua, orang yang terburu-buru jadi punya ruang untuk turun atau naik lebih mudah. Ini dalam kondisi aman sentosa ya, bukan ada maling, itu lain cerita.

Nah kalau di mal-mal tidak apa deh, lagian apa pula yang dikejar di mal. Tapi di bandara, setelah perjalanan melintasi kemacetan kronis Jakarta lalu sudah final call, apalagi yang bisa dilakukan selain lari-larian mengejar pesawat? Bayangkan ketika sudah se-urgent itu lalu ada kita berdiri seenaknya kanan kiri di eskalator, mau lari kejar pesawat susahnya setengah mati. Jangan sok sehat suruh naik tangga, kita yang tidak buru-buru kenapa tidak naik tangga saja?

Di Stasiun Tanah Abang sudah diberlakukan peraturan naik eskalator di satu sisi dan seperti yang sudah kita pahami, susahnya bukan main untuk membuat hal ini diimplementasikan. Kenapa? Saya rasa perilaku ini berkaitan dengan terbiasanya kita menggunakan eskalator di mal, apalagi mal yang eskalatornya segaris lurus ke atas. Kita terbiasa santai, mengobrol, sampai foto-foto di eskalator. Buat yang buru-buru? Naik lift saja bisa keles. Tapi kita lupa, lift itu untuk pengunjung prioritas seperti kakek-nenek, bayi dengan stroler, orang berkebutuhan khusus, atau pengguna kursi roda. Kebiasaan santai naik eskalator ini sebaiknya jangan dibawa-bawa ke stasiun atau bandara. Kasihan orang yang buru-buru.

18. Kenapa tidak ada lobby khusus untuk pelancong yang menginap di bandara?
Maksud saya seperti yang ada di KLIA (Kuala Lumpur International Airport), satu-satunya bandara yang pernah saya inapi haha. Disana saya selalu tidur di lobi dengan sofa baik yang single seater maupun double tapi nyaman, ada TV, dekat kamar mandi, mushala, tap water, dan lobi tidur tersebut ada beberapa tidak hanya satu. Di kursi-kursi dekat boarding room pun bebas tidur karena kursinya tidak bersekat.

Kenapa di negara kita tidak ada? Apakah ada tapi saya tidak tahu? Bisa kasih tahu? Jika memang tidak ada, mungkin karena lagi-lagi ini bandara, bukan terminal yang orang bebas gelar kardus atau sleeping bag lalu tidur saja. Banyak orang elit keluar masuk bandara, tidak cucmey kalau ada banyak orang tidur disana sini. Coba kamu lihat di Bandara Kualanamu, ada banyak orang piknik gegoleran tiap sore, itu kan tidak sedap dipandang. Piknik ya di taman, masa di bandara. Sebenarnya saat long weekend Maulid Nabi kemarin saya punya rencana untuk pergi mencoba kereta bandara dan tidur menginap di Terminal 3 Ultimate just for fun mau tahu gimana rasanya menginap di bandara sendiri. Sayangnya niat itu harus ditunda, nantikan ya. Ini misi penting.

19. Kenapa rate money changer di bandara mahal sekali?
Ini sompret sih. Selain kenyataan semua yang berbayar di bandara itu memang tidak manusiawi mahalnya (bagi kalangan pepes teri seperti saya), tapi money changer? Dua kali lipat rate normal? Mau naik haji lima kali setahun kah para pebisnis ini? Sekali-sekalinya beli itu pas mau ke Hong Kong karena kebetulan di beberapa money changer langganan lagi tidak tersedia HKD selama berminggu-minggu. Tahu tidak, saya rugi Rp500ribu! Itu selisih yang banjingan banget sih memang, jatah makan dua minggu habis begitu saja.

Akhirnya dari pengalaman berharga ini, saya lebih memilih ambil uang via ATM saja ketika memang tidak bawa uang asing dari Indonesia. Dari berbagai website yang memaparkan tips menukar uang untuk traveling, memang mayoritas menyarankan untuk tidak tukar di bandara karena rate-nya tinggi. Saya maklum harga sewa lounge di bandara itu mahal, tapi tolong maklumi saya (dan yang lain juga) yang punya mimpi keliling dunia meski punya uang pas-pasan dan masih belum ada yang sponsori jalan-jalan gratis. Jangan dijahatin begitu dong. Kita tidak sama, kita kerjasama. Bisa?

20. Kenapa tidak ada air panas gratis di bandara?
Bukan untuk mandi, tapi untuk membuat kopi atau susu Milo. Sebagai orang yang selalu mengambil penerbangan malam, saya rasa ini penting. Saya gampang kedinginan, gampang masuk angin, kalau bisa minum Tolak Angin sekaligus teh tawar hangat kan saya jadi lebih senang. Sayangnya air ini belum disediakan di semua bandara (kalau tidak salah ingat di Terminal 3 Ultimate ada ya).

Kenapa belum semua menyediakan? Karena begini, seperti pernyataan saya sebelumnya bahwa bandara kita masih terlihat seperti terminal dan tidak ada air panas gratis di terminal. Sehingga ini harusnya jadi peluang bisnis untuk para penjaja. Bedanya kalau di terminal sungguhan, penjaja air panas ada banyak, segmennya masih mikro dan biasanya lengkap menyediakan banyak pilihan minuman saset untuk diseduh.

Kalau di bandara, potensi ini masih dikuasai oleh segmen ritel (agak menengah juga sih seperti kedai kopi masa kini). Jumlahnya sedikit dan pilihan minuman seduhnya tidak banyak (yang murah). Jadi ini lebih ke pemerataan business mapping. Yang mikro sudah ada lapangannya sendiri, yang ritel menengah juga. Mungkin juga ini ada hubungannya dengan kohesivitas boarding room. Di terminal B Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta ada dispenser yang hot and cold. Tapi dia diletakkan jauh dari colokan sehingga air yang disajikan pun air adem semua. Bayangkan kalau air panasnya menyala, bisa pada  langsung gelar tikar, seduh kopi hitam, main kartu truf, pesan gorengan, merokok, saling gojek kere, dan seketika boarding room jadi angkringan KR.

Semoga segera bisa air panas ya!

21. Kenapa loading bagasi bisa lama banget padahal kan eike sudah ngantuk berat mau pulang!?
Setelah termehek-mehek perjalanan 12 jam dari Inggris ke Jakarta, saya masih harus termehek-mehek menunggui dua tas carrier besar yang entah kenapa harus masuk ke bagasi, padahal ketika berangkat bisa masuk kabin. Saya sudah teler sekali saat itu. Segera mau pulang dan makan mie instan sambil kipasan dan nonton drama korea. Berapa lama menunggu bagasi? Selama Rangga tidak pulang untuk menemui Cinta. Bohong deng. Tapi serius lama banget dan tidak ada apapun sebagai hiburan.

Hasil yang Kakak Google bisa berikan ketika saya ketik 'kenapa loading bagasi bandara lama banget' adalah memang proses bagasi diturunkan dari lambung pesawat, lalu ke break down area, sampai ke conveyor belt itu lama sekali. Dirut PT. Angkasa Pura II tahun 2016 pun tidak memaparkan bagaimana nantinya proses ini dapat dipercepat, hanya membahas seberapa lama seseorang turun dari pesawat sampai ke tautan bagasi. Misterius sekali. Mungkin harus benchmark ke Hongkong supaya dapat insight, disana penanganan bandaranya cepat dan rapih sekali lho.

Saya jadi ingat video klip United Breaks Guitars yang tercipta atas protes terhadap penanganan bagasi yang buruk. Bukan mau bilang bahwa kakak-kakak petugas bagasi itu melakukan hal yang buruk, saya rasa mereka hanya sedang membuat video klip tandingan saja. Tahu kan betapa sulit membuat video klip itu? Setengah mati. Makanya mumpung ada bagasi ramai-ramai dari luar negeri, kakak-kakak petugas membuat video klip dulu, jadi loading ke conveyor-nya memang lama. Lumayan kan siapa tau jadi yucuber. 

Kondisi gerobak pengangkut bagasi sedang istirahat.

22. Kenapa di boarding room ada kursi yang terkena AC langsung padahal orang kita jelas paling gampang masuk angin?
Ah saya tahu kalian beranggapan pertanyaan ini tidak penting, tapi misteri tetaplah misteri. Ini saya temui di beberapa bandara yang kualitas ACnya lumayan bagus seperti di Terminal 2 Bandara Soetta. Ada kursi duduk yang sebelahan persis dengan standing AC, duduk disitu sudah jelas kalau tidak masuk angin ya keringat bundet. Saya amati pun kursi itu tidak laku penduduk. Kenapa harus ada kursi dengan AC kuat seperti itu? Ini mungkin untuk memfasilitasi bule luar yang hendak pergi kembali ke negara asal.

Misalnya bule Eropa. Selama di Indonesia, khususnya di Jakarta, mereka kelojotan kepanasan dari pagi sampai malam. Tambah lagi emosi jiwa saat kena macet, polusi berlebih, serta orang-orang yang melanggar aturan (well, di Eropa juga pasti ada sih). Saat mereka hendak kembali, kita tidak mau dong mereka pulang dengan hati yang marah? Jadi kursi itu disediakan untuk menentramkan hati bule dan memberikan efek di Jakarta juga ada yang dingin lho.

23. Kenapa pramugari dan kapten maskapai penerbangan selalu terlihat sophisticated, apalagi saat mereka berjalan melewati antrean para calon penumpang menuju boarding room?
Dari kecil saya selalu merasa pramugari dan pilot pesawat itu seperti selebritis. Sangat eksklusif, keren, dan mempesona. Tetangga saya ada yang pilot kelas kakapnya Garuda, badannya tinggi besar dengan wajah ramah apalagi jika bertemu anak-anak kecil. Dan setiap melewati rumahnya dan bertemu si Om Jo lagi siram tanaman, saya pun tetap melihatnya eksklusif. Keren gitu.

Hal ini terbawa sampai sekarang, meski sudah tambah tatapan sebal melihat pramugari yang lewat sambil cekikikan bisik-bisik sih. Kenapa ya? Apa karena dulu naik pesawat adalah hal yang prestisius ya (because now everyone can fly yaaa jarene) jadi masih merasa orang yang terlibat atau bekerja di pesawat itu keren sekali. Tapi yang bikin sebal itu kalau mereka lewat dan tidak menyapa ramah sama sekali. Apalagi ketika mereka melewati antrean para penumpang yang mau masuk ke boarding room, cih seperti presiden saja. Sudah tidak antre, pakai rok belah-belah tinggi (sirik, haha), tidak menyapa penumpang, terus ngobrol cekikikan lagi. Sebal. Dulu saat pertama kalinya saya naik pesawat sekitaran tahun 1998, pramugarinya ramah-ramah, pilotnya pun ramah. Saya bisa salaman, dan mungkin bisa juga diajak selfie kalau saat itu sudah ada teknologinya. Sekarang? Meh.

24. Kenapa masih ada saja yang tertipu dengan fasilitas wrapping bag?
Dan kenapa pula saya menyebutnya 'tertipu'? Karena sesungguhnya saya masih belum menemukan asas manfaat menggunakan fasilitas wrapping bag, hahaha. Dulu pernah saat penerbangan Palembang - Jakarta tahun 2010 mencoba fasilitas itu dengan membungkus tas duffle bag besar saya. Kirain gratis, ternyata saya harus bayar dan saat itu uang saya benar-benar seharga satu porsi paket hemat KFC, maklum anak kuliahan pulang dari kegiatan KKN banyak menghabiskan uang untuk jajan dan pacaran. Sedihnya adalah tidak ada manfaat yang berarti dengan adanya pembungkusan tidak enak dipandang itu. Malah membuat saya juga tampak tidak enak dipandang. Sejak itu saya tidak pernah mau menggunakan fasilitas wrapping bag.

Sebenarnya apa sih faedah fasilitas berbayar ini? Semakin kesini semakin banyak saja yang menyediakan jasa itu, biasanya ada dua di counter. Kalau teman saya bilang "Biar gak kotor dong tas gue", kenapa tidak pakai luggage cover? Motifnya pun bagus-bagus, bisa pakai foto wajah sendiri juga. "Biar gak lecet lah, itu petugas bandara suka seenaknya sama tas orang", alasan teman saya lainnya. "Kayaknya bisa untuk mengamankan kardus oleh-oleh deh, Tin. Kon ngerti gak, kalau gak dibungkus nanti kue oleh-oleh pas sampai rumah wes ancur!", begitu perkiraan teman Bonek saya. Bisa juga kali ya, tapi dibungkus pun tidak menjamin bahwa petugas bandara tidak akan melempar barang bawaan kita bukan? Ditempeli stiker fragile saja masih membuat khawatir.

Paling masuk akal memang urusan keamanan. Bayangkan menerima paket yang dibungkus selotip lapis tiga seluruh badan! Males banget bukan membukanya? Prinsip yang sama juga untuk wrapping bag. Ada oknum mau maling isi koper gitu misalnya, melihat lapisan pelastik sebanyak itu rasanya sudah malas saja. Kalau ketemu oknum yang rajin sih ya wassalam, tapi hal ini patut dicoba. Dan saran saya sih tidak perlu lah bawa harta karun di dalam koper bagasi. Simpan saja di SDB (Safe Deposit Box).

- - -

Bandara oh bandara, banyak ya misterinya. Bahkan sebenarnya ketika menulis pun keluar lagi tuh pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sepertinya kalau saya tulis, maka waktu yang kalian habiskan bisa sama lamanya dengan nonton serial How I Met Your Mother. Kalau kamu, ada tidak misteri di bandara yang suka bikin bingung?
5 comments

15 December 2017

Analisis Sembarangan tentang Hal-Hal Membingungkan di Bandara (Part 1)

"Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination", begitu kata Anya pada buku novel Critical Eleven. Tapi buat saya, bandara adalah tempat penuh misteri. Bandara tempat bertemunya mata dengan hal-hal mengherankan tentang fenomena sosial atau struktur bandara itu sendiri. Berikut adalah beberapa keheranan yang sering saya temui selama mampir ke bandara dan mencoba menganalisisnya semendalam yang saya bisa.

1. Kenapa orang suka menaruh tas/barang bawaan di kursi sendiri?
Fenomena ini memang sudah common sekali ya di Indonesia. Tapi percayalah, di Inggris pun saya menemukan hal yang serupa. Saat di dalam bus dari Liverpool menuju London, saya masuk paling belakangan. Saya pun menyisiri jajaran kursi dari depan ke belakang untuk menemukan tempat duduk. Tahu tidak, hampir seluruh penumpang duduk sendiri dan kursi sebelahnya ditaruh tas/barang. Hal ini menyebalkan sekali lho.

Jika kondisi ini terjadi di boarding room, kira-kira alasan kenapa tas itu 'duduk' di kursi adalah karena di beberapa bandara, letak kursi yang satu dengan lainnya sangat dekat. Antar dengkul hanya berjarak sekitar 20 cm jika duduk normal berhadapan. Dengan barang bawaan seukuran kabin entah koper atau duffle bag atau daypack, jika ditaruh di bawah akan menghalangi laju atau pergerakan orang lain. Jangan harap ada yang mau pangku barang bawaan sendiri, lagi menunggu harus santai dong. Jadi jalan yang ditempuh adalah dengan menaruhnya di kursi.

Alasan lainnya adalah mungkin orang kita ini malas jika harus ada orang tidak dikenal yang duduk bersebelahan. Alasannya macam-macam, bisa malas diajak ngobrol, malas ditanyai, malas kena bau badan, malas mencium bau kaki, malas mendengar orang menelepon keras-keras, malas mendengar atau diajak orang bergosip, malas melihat orang jelek, dan malas-malas yang lain. Jadi sebelum itu terjadi, sudah membuat 'benteng' duluan dengan menaruh barang di kursi sebelah.

2. Kenapa orang suka menyorak saat ada info penerbangan delayed?
Beberapa waktu lalu melalui InstaStory, saya melihat Raisa memposting bahwa dirinya kena delay 4 kali dengan tag lokasi di terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta (bahkan pesawat sekelas Garuda pun bisa delay lho gengs!). Untuk pengguna maskapai komersial seperti ini, delay adalah hal yang lumrah dan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk Raisa.

Saya termasuk orang yang meyakini bahwa delay pesawat adalah hal yang, ya sudah lah, mau gimana lagi. Namanya juga risiko operasional (bisa juga jadi risiko finansial bagi yang sedang bisnis sih). Tapi yang saya bingung, ketika pengumuman delay disampaikan pada pengeras suara, para penumpang (biasanya) langsung menyorak "huuuuu" atau "wuuuuu" atau "haaaaaahh" atau "hahelaaaahhh" dibarengi dengan tepukan tangan ke paha dan tulang punggung yang tahu-tahu lemas. Buat apa? Memangnya si pilot bisa dengar lalu dia kebut biar cepat sampai? Atau memangnya dengan sorakan lalu pihak maskapai bakalan samperin lalu kasih voucher menginap satu-satu supaya tidak marah?

Saya rasa hal sorak-menyorak ini pada hakikatnya hanya ingin mengaspirasikan kekecewaan semata dan semakin ramai semakin seru. Wajar memang. Kalau kita kecewa dengan pengendara motor di jalan yang ugal-ugalan, kita bukan hanya bersorak tapi pakai misuh segala. Jadi ya tidak ada alasan khusus, hanya ingin mengaspirasikan kekesalan supaya tidak jadi jerawat.

3. Kenapa WiFi bandara di Indonesia itu selalu hidup segan mati tak mau?
WiFi bandara paling mendingan itu ya Terminal 3 Ultimate, sisanya myeh. Padahal ini penting lho. Masa baru sampai Yogyakarta tidak bisa InstaStory atau pesan ojek online hanya karena WiFI tidak mumpuni? Bayangkan turis yang datang dari India atau Jerman, sebelum mereka beli Sim Card lokal, pasti mengandalkan WiFi dulu (seperti yang selalu saya lakukan ketika di luar negeri).

Menurut saya kenapa WiFi kita masih katro begini adalah karena router-nya disembunyikan oleh orang tidak bertanggung jawab yang mau Youtube-an sampai keriput. Ketika di Nepal, negara yang tidak semodern kita, saya sempat bete karena WiFi tidak ada sinyal sama sekali padahal mau buka e-mail. Ternyata di boarding room sebesar itu, router hanya ada di satu tempat dan tinggi sekali. Jadi lah saya duduk persis di bawah router. Nah di bandara kita, sepertinya router disembunyikan atau berada di lokasi yang susah dicari sehingga sinyalnya pun kesasar. But don't rich people difficult lah, negara kita memang mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak berekspektasi tinggi dengan fasilitas mumpuni. Dan saya memang tidak pernah lagi mengais-ngais WiFi di bandara Indonesia, makan ati!

4. Kenapa suasana boarding room seringkali terasa seperti terminal?
Beberapa bandara yang ada di kota-kota besar Indonesia, baik yang berstatus bandara internasional atau tidak, kadang masih terasa seperti berada di terminal. Bukan karena ada tukang onde-onde atau tongtol yang keliling jualan, melainkan suasana ramai dan berantakan seolah kita bukan menunggu pesawat tapi bus antar kota Sinar Dempo. Ini pesawat lho gengs, harga tiketnya saja bisa 5 kali lipat dibandingkan harga bus. Dibuat ekslusif sedikit tidak masalah bukan?

Hal ini menurut saya tidak keren karena kurang fancy gitu kalau mau update status di sosial media. Kenapa ya? Apa mungkin memang kita senang dengan bangunan-bangunan konvensional dan ketika mau renovasi pun malas. Mending pindah dan bangun baru, tidak sih? Seperti bandara Kualanamu, atau calon bandara baru Jogja. Mungkin ada faktor kebutuhan lahan yang lebih besar, tapi ya memang lebih mudah membangun yang baru daripada memperbaiki atau memaksimalkan yang sudah ada. Kantor saya yang bangunannya sudah berdiri sejak 1985 pun begitu. Bolak balik lift diperbaiki tapi tetap saja mengandung horor. Gosipnya kantor mau dipindah saja karena gedung ini terlalu bobrok untuk diperbaiki. Sedih.

Begini nih bandara cucok meyong. Seperti berada di markas The Avengers.

5. Kenapa kebanyakan restoran lokal di bandara itu harganya mahal tapi rasanya biasa saja?
Tentu saja, uang operasional sudah habis digunakan untuk bayar pajak sewa tempat sehingga untuk belanja garam, bawang putih, atau kaldu ayam asli pun sudah tidak tersisa banyak. Memang berapa sih harga sewa lounge untuk jualan makanan di bandara? Meski disini tidak dipaparkan secara transaparan, saya taksir harganya lebih mahal ketimbang kontrak rumah di Jakarta Selatan. Jadi tidak bisa dipungkiri, micin jadi andalan utama dan micin berkualitas rendah sepertinya banyak digunakan disini.

Tapi jujur, saya kasihan. Tak lama mereka akan kalah oleh restoran fast-food-chain dan supermarket yang menyediakan mie instan gelasan. Padahal kan enak jika di bandara bisa makan bakso atau mie ayam, tapi kalau rasanya sudah seperti air daun bawang jadi sedih juga.

6. Kenapa petugas counter check-in suka mengobrol dan bercanda saat melayani calon penumpang?
Pernah mengalami tidak, saat kita menyerahkan KTP dan kode booking, lalu petugas mengecek tapi kepalanya nengok ke sebelah dan melanjutkan gosip yang tertunda atau sekedar "Eh ceu, gue heran deh tadi si X ngapain ya nyamperin pacarnya di belakang? Bukannya mereka lagi berantem", terus petugas sebelahnya menanggapi "Iya yah ceu, kasihan gue lihatnya, tinggal baikan aja susah banget ya ceu", lalu mereka berdua cekikikan. Apaan sih?

Saya percaya bekerja di balik desk seperti itu memang membosankan dan bergosip atau mengobrol cekikikan bisa menambah ceria suasana kerja. Tapi saat sedang berhadapan dengan calon penumpang mbok ya service excellent gitu. Calon penumpang jangan dicuekin asyik sendiri, diajak bergosip bareng kan bisa atau dibisikin saja kalau tidak mau ketahuan.

Saya rasa kenapa mereka melakukan ini adalah karena ingin terlihat akrab antar sesama petugas dihadapan penumpang. Biar kelihat cool yeah we're gank, girl-gank or boy-gank gitu kali. Ingin menunjukkan bahwa meski bekerja menjadi petugas check-in kita masih bisa bersosialisasi dengan maksimal sehingga terciptalah suasana work-life balance. Sip, pesan tersampaikan.

7. Kenapa tidak ada fasilitas asyik untuk calon penumpang yang menunggu pesawat?
Lupakan kursi pijat reyot berbayar atau toko duty-free yang terlihat sophisticated tapi tidak menarik itu. Kita sudah mau tahun 2018, masa boarding room begitu-begitu saja? Tahun lalu ada calon penumpang yang meninju kaca counter suatu maskapai penerbangan yang delay-is-my-middle-name, bayangkan kalau saja di boarding room itu ada sofa bed, siapa pun yang kena delay 7 jam mesti tidak akan terlalu emosi karena bisa istirahat cukup. Jangan lupa dibuat peraturan bahwa kursi itu hanya boleh ditiduri, jika tidak tidur maka duduk di kursi biasa saja.

Selanjutnya vending machine berisi cemilan-cemilan micin. Hal ini akan membuat waktu menunggu tidak terlalu terasa karena mulut mengunyah kripik-kripik asin yang bikin bibir tebal atau cokelat batangan yang bisa meningkatkan hormon oksitosin sehingga calon penumpang yang tadinya kesal karena delay, jadi riang kembali. Fasilitas lain adalah majalah yang bebas dibaca oleh siapapun, atau koran jika tidak ingin yang terlalu mahal. Toko buku yang ada di bandara biasanya kan fancy-fancy tuh, kebanyakan buku tidak dibuka sehingga tidak bisa menumpang baca. Fasilitas-fasilitas kecil ini jarang sekali kepikiran ada bandara kita padahal aktivitas delay ini sering sekali terjadi.

8. Kenapa di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta ada tangga yang aneh dan tidak berfaedah?
Coba perhatikan, diantara gerbang keberangkatan dan kedatangan, ada sebuah tangga dua sisi yang diatasnya hanya ada ruang kosong dan tidak ada connector ke bangunan utama bandara. Malahan akses tangga sekarang sudah tidak ada karena dua buah toko roti beraroma kopi dan berwarna kuning mangkal dikedua sisinya. Satu-satunya manfaat dari bangunan tangga ini adalah karena ada toilet dan galeri ATM dibawahnya. Itu saja.

Menurut perkiraan saya, tangga ini dulu dibuat untuk memfasilitasi adek-adek yang mau duduk-duduk di bandara sambil nyender bahu atau gandengan tangan atau rangkul-rangkulan. Duduk di tangga yang bebas sekat dan luas kan bisa bebas melakukan apa saja bukan? Apalagi jika berada di tangga paling atas, terasa melihat dunia. Tapi apa daya, toko roti sudah menutup akses. Mereka terlalu sensitif dengan kemesraan semacam itu.

9. Kenapa sudah ada fasilitas web check-in dan bisa cetak boarding pass sendiri, tapi masih disuruh antri counter check-in?
Hal ini dialami oleh Mas Gepeng saat business trip beberapa waktu lalu. Saat melakukan web check-in kan sudah terima boarding pass yang bisa kita cetak sendiri mau pakai kertas 70 gram atau 100 gram bebas. Tapi pas mau boarding, tiket tidak diterima karena bukan hasil cetakan bandara. Lha? Lalu untuk apa dikirimkan boarding pass? Dan untuk apa ada web check-in yang harusnya memberikan kemudahan dan bebas antri counter?

Ini sungguh terlalu. Kalau mau absen penumpang ini ganteng atau jelek kan tidak perlu seperti ini caranya. Apalagi harus merusak kepercayaan diri yang sudah memiliki boarding pass tercetak dengan tinta mahal dan printer baru lalu ternyata harus balik lagi ke counter yang antriannya sudah seperti antri sembako itu. Bayangkan juga sedihnya almarhum pohon-pohon tidak berdosa yang sudah mendedikasikan kayunya untuk dijadikan kertas lalu dibuang sia-sia!? Wahai petugas bandara, yang kalian lakukan ke suami saya itu jahat!

Bersama kita self-print boarding pass.

Tapi saya mengapresiasi beberapa maskapai yang sudah berusaha menyediakan mesin self check-in yang juga bisa mencetak boarding pass di bandara sehingga jadi mukjizat bagi makhluk-makhluk pelupa namun malas antre seperti saya. Dan apresiasi juga kepada petugas bandara yang sudah menerima print-an boarding pass calon penumpang tanpa harus resek menyuruh cetak ulang di counter check-in. Mengutip quote favorit dari teman saya, mudahkan urusan orang lain maka urusanmu adalah urusan Tuhan. Setuju?

10. Kenapa antrian tidak pernah rapih dan berdesakan saat mau boarding ke pesawat?
Butuh waktu lama bagi saya menganalisis kenapa hal ini selalu saja terjadi. Kenapa saat ada satu antrian lalu harus tetap berebut buru-buru melewati pintu petugas? Memangnya siapa cepat dia dapat? Dapat apa? Tempat duduk? Itu kan sudah pasti. Bagasi kabin tepat diatas kursi? Memangnya situ yang punya pesawat? Kalau penuh kan kabinnya masih banyak. Bagasi juga mau ditaruh gajah juga bisa. Tenang saja.

Kadang jalur pengecekan tiket ada dua, tapi saat satu orang sedang menunggu tiket dicek, orang belakang sudah menyodorkan tiket bahkan antri sebelahan sama orang didepannya. Berbeda dengan naik KRL, kita sudah ada nomor kursi di pesawat, kita pasti duduk kok dan tidak akan tertinggal. Mungkin bagi orang kita, siapa yang bisa paling pertama duduk di pesawat adalah prestasi. Kapan lagi jadi orang yang bisa ngomong "Yeah gue duduk duluan yeah! Hebat kan!? Kalah lu huuu cemen!". Selain bisa begitu, prestasi lainnya adalah bisa duluan cup kabin paling dekat kursi untuk menyimpan barang-barang. Jadi makin aman dan nyaman mengawasi barang bawaan sendiri kan? Adalagi adalah prestasi bisa baca majalah duluan, sehingga bisa langsung update informasi kepada penumpang yang masuk belakangan. Bravo!

Eh gengs, kalau dipikir-pikir lagi ya, hal ini ternyata ada kaitannya juga dengan inkonsistensi petugas bandara dalam menerapkan aturan pemanggilan penumpang lho. Begini, pernah mengalami pemanggilan masuk pesawat diurutkan berdasarkan nomor kursi? Misal yang duluan naik adalah penumpang dengan nomor kursi 1 - 10 dulu, lalu jeda sebentar, lalu panggil yang berikutnya.

Seumur-umur saya diperlakukan seperti ini hanya pada saat naik pesawat ke Malaysia dengan KLM dan Inggris dengan MAS. Penerbangan lokal tidak pernah sama sekali. Kenapa ya? Apa petugas bandara suka dengan antrian? Ini misteri baru.

To be continue.
5 comments
© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.