SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

March 11, 2019

Perbatasan Kamboja - Thailand: Pengalaman Melintasi Negara dari Kota Kumuh menuju Senja Keemasan

After a very long journey with red-old-uncomfortable economy bus, Mas Gepeng and I arrived safe and sound right in front of Khao-san Road, menghirup udara beraroma manis kelapa dan gula yang berlebihan. Menempuh jalan darat dari Kamboja, kami punya sepuluh jam yang isinya tak jauh dari tidur-bangun-kentut-tidur-bangun-kentut. Dan ini adalah pengalaman melintasi negara via darat dengan cara gembel pertama saya! Congratulation to me!

Ide ini tidak seburuk bayangan saya. Bus ini masih memiliki AC prima untuk meneduhkan keringat-keringat yang hendak marah. Itu cukup menghibur kami yang hanya membawa KFC, roti tawar murah, dan air mineral seliter setengah sebagai bekal seharian. Kursi tegaknya juga yah, lumayan, masih bisa membantu kami tidur dan melewatkan kabar baik bahwa hampir tidak ada macet dari kendaraan besar atau kecelakaan di bahu jalan.

Beli 3 ayam KFC untuk bekal. Targetnya untuk makan siang, tapi malah habis di dua jam pertama keberangkatan wkwk.

Yang paling menarik dari perjalanan ini tentu saja pengalaman di perbatasan. Saya pernah mengalami ketika pergi ke Singapur via Malaysia, hanya saja kondisinya sangat jauh lebih baik dengan mobil travel nyaman dan kondisi dua negara sama-sama memiliki fasilitas imigrasi dan perbatasan yang apik (halo pendapatan per kapita!).

Baca juga dong: Touchdown Singapore!

Bagaimana dengan dua negara yang meski bertetangga dan memiliki banyak kesamaan, tapi tidak akur ini? Let's see.

Poi Pet dan segala kesuramannya
Krong Poi Pet adalah kota di Kamboja yang berbatasan dengan Aranyaprathet, kota di Thailand. Selain nama yang aneh, kedua tempat ini punya karakteristik yang sama: gersang, panas, dan bau. Kotanya sama-sama dinamis, tapi ya namanya di perbatasan, aksesnya jauh dari pusat kota jadi memang tidak modern amat.

Jika dibandingkan, Poi Pet tampak lebih kumal ketimbang Aranyaprathet. Nuansanya coklat kekuningan dengan debu merah bertaburan karena tanah yang kering. Asal kamu tahu, Poi Pet itu sarang judi di Kamboja lho. Dan ternyata aktivitas yang dilegalkan ini jadi salah satu 'primadona penghasil devisa' di Kamboja. Well, yang satu —Angkor Wat— adalah tempat ibadah ke Tuhan, yang satu tempat melupakan Tuhan. Yin dan yang, wkwk.

Tapi, saya ingatkan lagi ya, kota ini berdebu dan kumuh. Jangan bayangkan Las Vegas atau Macau. Kota ini lebih tampak seperti kota buangan yang tidak punya ide lain untuk menghibur diri selain dengan judi. Saya beberapa kali tertangkap melamun bertanya-tanya bagaimana kehidupan di sini, apa cita-cita para anak yang sekolah di sini, apa yang mereka makan untuk sarapan, dan apakah mereka merasa terancam sepanjang waktu.

Pasar di pinggir trotoar.

Tingkat kejahatan di Poi Pet termasuk tinggi. Orang-orang bisa merampok bahkan membunuh sesukanya. Bukan kah kota judi selalu punya imej seperti itu? Dengan para preman menghajar kaum proletar yang mabuk, atau seorang yang butuh uang lalu membunuh dengan brutal demi merampas tas hitam penuh uang, yah atau paling 'biasa', saling bertukar narkoba. Tapi karena kota ini jelek, jadi lupakan semua adegan serba cool yang ada di sinema. Judi, di tempat buruk. Mana senangnya?


Saya menggunakan bus yang berangkat dari Siem Reap, bersama dengan 20 orang lainnya. Ini bukan tour bus, hanya bus umum biasa yang dipesan lebih dulu saja. Kamu bisa booking bus ini di mana saja, hostel tempatmu menginap atau travel agent (lebih murah yang mana? Baca tulisan ini dulu dong). Karena ini Poi Pet, banyak yang menyarankan setidaknya kamu jangan sendiri deh, apalagi buat female solo-traveler #sekedarmengingatkan.

Ini bus merah kedua yang dinaiki setelah imigrasi Thailand. Jika bus ini tampak kinclong, bus yang pertama berwarna sama tapi lebih buluk.

Jurus anti-palak-palak-club
Kantor perbatasan di Poi Pet berupa bangunan kotak satu lantai yang sudah usang, berwarna kuning coklat dengan noda di mana-mana, kipas angin kecil, ventilasi seadanya, dan petugas di balik jendela kaca buram berwajah mencurigakan.

Saya selalu degdegan dengan wajah ini. Wajah yang memberikan tatapan serius sepersekian detik, lalu menunduk sok mengecek paspor atau menggerakkan tangan, dan menatap lagi agak intimidatif tapi ragu-ragu, dan ketika jempolnya mengusap hidung, aaa ini dia, tepu-tepu!

"Do you have three dollars?" "Sorry?" "Three dollars" "No, I don't bring dollars" "Or three hundred baht" "All the money is in my husband, I don't have any, I'm sorry" "...."

Pemerintah Kamboja menggratiskan biaya bagi siapapun yang mau keluar dari negaranya, jadi yang minta uang ini jelas ilegal. Beberapa turis lain pun ternyata juga dimintai dan kebanyakan sudah sadar kalau ini scam, jadi mereka mengaku tidak bawa atau tidak perlu kasih uang. Apakah kalau tidak kasih uang, tidak dikasih cap di paspor? Dikasih dong, tenang saja. Tapi jangan lupa dicek wkwk.

Setelah dari situ, saya berjalan menuju gerbang imigrasi Thailand. Memang dari awal turun di halte terakhir sebelum kantor perbatasan, lalu ke kantor imigrasi dan menuju bus lagi, kita akan jalan kaki terus. Ini bukan dalam rangka gerakan 10.000 langkah tapi memang begitu aturannya. Ada berbagai scam di sini, hati-hati ya bro n sis qu.

Padahal setelah kantor perbatasan ada pasar, Apa jadinya kalau semua turis kena scam dipalak di perbatasan? Mau jajan di pasar tidak jadi dong. Tidak koordinasi nih wkwk.

Welcome to Thailand! But first, antre dulu bok!
Kantor imigrasi Thailand tidak begitu jauh, kurang dari sepuluh menit jalan kaki. Kalau lari bisa setengahnya kali ya. Bangunannya lebih manusiawi meski bukan yang bagus-bagus banget. Nuansanya putih abu-abu, bersih, dan ada standing AC di beberapa titik. Sudah senang? Jangan dulu, adinda. Karena antreannya ya itu seperti usus besarmu itu. Puwanjang pwol!

Kami beruntung pas masuk sudah ada di baris ke 6, tapi tak sampai setengah jam, tahu-tahu sudah mengular sampai keluar pintu. Agak durjana. Eh bukan, durjana banget! Jika kamu membawa tas carrier/koper besar atau banyak, ada beberapa trik yang bisa dicoba supaya tidak bikin icemochy saat antre:
  • Jika kamu pergi bersama pacar atau teman-teman, titip saja ke teman mu dan dia akan stay jaga di satu titik. Dia akan menyusul sambil oper barang ketika kita sudah di shaf terakhir. Tidak akan ada yang memprotes cara ini kok. Kalau pun ada, minta saja yang protes bawain tas kita wkwk.
  • Jika kamu sendiri, taruh saja di bawah garis batas antrean. Setelah kamu jalan sampai lewat satu shaf dan bertemu kembali dengan tas, pindahkan ke garis depan. Begitu seterusnya
Petugas di kantor imigrasi tampaknya tak ada yang resek, hanya memang tidak cekatan dan wajahnya penuh kecurigaan. Tidak ada yang tersenyum, tidak ada juga yang tampan. Mungkin memang begitu default-nya. Saya hanya ditanya apakah pergi sendiri atau dengan orang lain, selebihnya hanya kesunyian diantara kita. Setelah mendapatkan stamp, saya menuju pintu keluar dan joged-joged happy akhirnyaaa sampai jugaaa di Thailand!


Aranyaprathet, si kota nanggung
Matahari masih bertengger di langit yang sama tapi kaki saya sudah berada di negara yang berbeda. Keluar dari kantor imigrasi menuju parkiran bus, saya melihat mall di seberang jalan. WOW. Lalu ada hotel bagus juga di seberangnya. Mobil bagus pun lalu lalang di sekitar situ, termasuk mobil hatchback modern. Kontras sekali dengan Poi Pet yang seperti gudang berdebu wkwk.

Kota ini sebenarnya kecil, tapi diberdayakan agar pertumbuhan ekonominya bagus dan maju. Ada pasar tradisional yang memperkenankan orang Kamboja berjualan, ada juga beberapa tempat wisata untuk dikunjungi. Lumayan lah daripada lumanyun. Tapi memang kecil sih, mungkin sehari di sini ya sudah keliling semuanya. Baru naik bus, lihat-lihat sebentar, tahu-tahu sudah pemandangan semak belukar. Nanggung sekali,

Minum cincau selebrasi mendapatkan stamp ke Thailand. Minum cincau di siang bolong memang menakjubkan rasanya~~
Senja yang menyambut kedatangan kami di Bangkok. Cantik banget!

Kenyataannya perjalanan paling panjang adalah setelah dari imigrasi Thailand menuju pusat kota Bangkok. Perjalanan menempuh enam jam lebih dengan sekali berhenti di tempat makan dan dua kali ke toilet umum. Saya hanya tidur sepanjang jalan, menahan lapar seperti anak kucing liar di pojokan pasar. Saya hanya ingin makan makanan enak, bukan makanan yang asal mampir di pinggiran. Sore hari saat terbangun dari mimpi yang tak khusyuk, saya melihat semburat oranye dan kuning keemasan di langit, membentuk lapisan cantik. Ah, inikah yang dinamakan langit pad thai?
2 comments

February 22, 2019

Angkor Night Market dan Sedikit Tentang Orang-Orang Kamboja

Mengeksplorasi Angkor Wat dari subuh hingga ashar membuat kami menghabiskan petang dengan tidur. Selain lelah, rasa lega karena hostel melayani pemesanan tiket bus dari Siem Reap, Kamboja menuju Bangkok, Thailand yang harganya jauh lebih murah ketimbang travel agent, membuat tidur kami dua kali lebih nyenyak.
6 comments

February 8, 2019

Ajak Ribut Monyet dan 9 Hal Bodoh Lain yang Sebaiknya Tidak Kamu Lakukan di Angkor

"APAH!? Tiga puluh tujuh dolar? Wah tengkyu deh, no no!", tegas saya pas Mas Gepeng bilang harga tiket masuk Angkor Wat yg terbaru. Berdua bayar sejuta lebih buat lihat candi itu menurut saya berlebihan. Namanya juga qismuin~ Tapi akhirnya saya melakukan hal yang benar, sebenar-benarnya fakta kawasan Angkor itu LUWAS BWANGET yaloooord! Perhitungan Mas Gepeng salah, bukan 8 kali lipatnya Borobudur, tapi 600 kalinya (in exact size)! Itu Angkor Wat-nya saja ya, belum total sama candi lain se-kawasan Angkor.

Jadi dengan luas yang mungkin butuh sejuta reinkarnasi untuk mengukurnya dengan mistar plastik tukang foto kopi, lalu cuaca Kamboja yang tak jauh beda dengan Jakarta tanpa hujan dua tahun, lalu debu, turis, tuktuk, hutan, dan segala hal yang ada di Angkor, saya ingin menyampaikan nasihat terbaik agar siapa pun yang hendak ke sana tidak melakukan hal bodoh, demi kemaslahatan umat di Angkor.



6 comments

January 19, 2019

Bagaimana Menikmati Sehari di Phnom Penh seperti Orang Lokal?

Pagi itu saya bangun sebelum ayam berkokok. Kasur sekeras bata, rasa gatal dari selimut, bantal kasar, dan keroncong perut kopong membangunkan saya seolah berkata "Bangun kau, upik abu! Cuci piring sana!"
15 comments

November 25, 2018

Sehari di Glodok: Mengenal Etnis Tionghoa dan Aneka Kudapan Tak Lekang Zaman

"Kerusuhan di Indonesia itu ternyata bukan hanya pas tahun 1998, tapi ada juga dulu di sini (baca: Glodok)", kata Suci, teman Linkers saya yang hari itu jadi guru sejarah berjalan acara #jalanbareng #ErrinaxSuci mengajak kami berenam belas mengenal lebih dekat tentang Jakarta khususnya etnis Tionghoa. Pernyataan itu muncul setelah ia menerangkan bahwa ada pembantaian etnis Tionghoa dulu di pertengahan abad 17 karena permasalahan ekonomi yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pendatang. Pernyataan itu membuat saya bergidik, meski di satu sisi saya penasaran karena saat ini, orang Tionghoa memiliki 'posisi khusus' di gunjingan para masyarakat lokal yang merasa lahan rezekinya diambil.

6 comments

November 18, 2018

★ GIVEAWAY Oleh-Oleh dari Korea Selatan! ★

Hai bepque, apa kabar? Ya ya mungkin kalian sebal, apa-apaan ini kenapa ada lagi foto dengan alpaca? Haha yes I still have lots of selfies with these furry-fairies but right now, saya bukan mau cerita tentang alpaca melainkan bagi-bagi oleh-oleh buat para pembaca setia justinlarissa.com, siapa yang mau angkat tangaann!

Saya punya 5 set hadiah untuk 5 orang beruntung, yang masing-masing terdiri dari 3 buah sheetmask dan beberapa sample yang saya dapat saat belanja di Korea. Jadi ini semua asli dari Korea yha, lumayan ada bau-bau oppa Seo-joon. Ini dia hadiahnya:

Masing-masing paket isinya tidak sama, yang pasti ada 2 sheetmask dari Etude dan 1 dari The Faceshop, lalu ada parfum, fondesyen, pelembab, sunscreen, eyecream, body lotion, dan lain-lain.
Syaratnya mudah saja seperti syarat giveaway pada umumnya wkwk:
  1. Follow Instagram saya @justinlarissa
  2. Tinggalkan pesan di kolom komentar pada tulisan yang paling kalian sukai di blog ini. Satu orang bisa meninggalkan komen di banyak tulisan, tapi kesempatan dapat hadiahnya satu aza ya.
  3. Di pesan itu, sertakan alasan kalian menyukai tulisan itu, lalu tulis nama lengkap, akun Instagram, blog/website pribadi, dan alamat e-mail.
  4. Submit komentar terakhir diterima pada tanggal 1 Desember 2018 jam 24.00 WIB. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 8 Desember 2018 di post ini. Mayan khan skincare buat modal tahun baruan wkwk.
  5. Pssst, di 5 orang itu akan ada satu yang beruntung mendapatkan satu sampel Laneige Sleeping Mask 10ml! Woo hooo!
  6. Giveaway ini terbuka untuk siapa saja ya, laki-laki atau perempuan bebasshhh~
  7. Ongkos kirim hadiah subsidi dari saya dan ini untuk kawasan Indonesia saja oke, yang di Uzbekistan dan Colorado mohon maaf belum bisa ikutan.

Asyique ya giveaway-nya. Silahkan mulai dari sekarang tinggalkan komen semenarique mungkin di blog ini dan menangkan hadiahnyaaaah~~


★★ PENGUMUMAN PEMENAAAAANGG! ★★

Selamat buat: sis @fanny_dcatqueen master kuliner, @jagungmanisjalanjalan yang ulasannya suka cuchmey, @miraafianti cintaqu, dan @ruthvcp (yang sepertinya tidak bermaksud ikut giveaway, tapi saya mau kasih karena meninggalkan comment hehe). Nanti saya hubungi kalian semua yaaah.


Makasih buat 1.467.783.344 orang yang ikut giveaway ini, kapan-kapan iqut lagi yha. Semoga hadiahnya bisa lebih bombaztis!
6 comments

November 11, 2018

Pengalaman Menstruasi di Berbagai Negara (Nomor 5 Paling Durjana)

Sebagai pasukan setia PPTM (Para Pencari Tiket Murah), (beruntung) saya memiliki sedikit saja pertimbangan saat merencanakan traveling yaitu waktunya bisa sekalian libur tanggal merah, juga harga yang nyaman di kantong pekerja kaum proletariat. Sisanya bebas, termasuk ketika pergi papasan dengan waktunya 'si merah' datang. Memang kadang bisa sial juga ketika sudah booked hostel cuchmey buat ena-ena, eeh malah mens. Tapi itu juga yang jadi seru. Gimana pengalaman saya mens di beberapa negara? Apaqa bisa nyaman? Silahkan lanjut baca.
12 comments

November 3, 2018

Makan di mana Kalau ke Medan? (UPDATED)

Sejak pernah tinggal di Medan tahun 2013 silam, saya selalu senang jika bisa datang ke sini barang menghabiskan akhir pekan atau business trip. Medan, meski berisik tetap menarik. Medan, meski panas berdebu, kulinernya tetap membuat daqu menggebu-gebu.

Tulisan ini adalah remake dari tulisan sebelumnya dan saya membaginya ke dalam beberapa klasifikasi: aneka nasi & lauk pauk, aneka soto, sate padang, dan aneka mie. If you're looking for something sweet to eat in Medan, just skip this article because you won't find any. Tulisan ini saya dedikasikan kepada pecinta santan, daging/jeroan, dan rasa yang tidak pernah ada dimanapun khukhukhu.

12 comments

October 12, 2018

RPHLL (Rangkuman Pengetahuan Hanok Lumayan Lengkap)

Let's imagine something fun here. I was in a talk show held in Korean restaurant. So many people come, ada yang dari Jombang, Madagaskar, Labuan Bajo, dan dari Amerika Utara. Topik hari ini adalah tentang hanok, semua tamu bebas bertanya tentang hanok. Berhubung saya baru sekali pergi ke hanok, sendirian pula, jadi saya menjawab pertanyaan sebisa saya. Yang belum terjawab bisa doakan saya kembali lagi ke Korea untuk mengeksplorasi lebih dalam lagi tentang hanok, entah yang punya Korea Selatan maupun Korea Utara. Berikut beberapa pertanyaan yang berhasil didokumentasikan oleh tim justinlarissa.com pada saat talk show dirangkum dalam bentuk RPHLL. Cekidot!

13 comments

September 30, 2018

Berdoa Seperti Orang Korea: Upacara Ilegal, Hanbok Gratis, dan Karma-Karma

Siang yang cerah di Korea, langit biru seperti laut, dan sinar matahari tidak ada yang menghalangi barang satu butir awan. Seketika saya ingat Mas Gepeng bilang, "Panas di Korea seperti Jakarta lho nanti", saya pastikan itu dusta karena PANASAN DI SINI YHA! Salah satu adegan pada serial Reply 1994 di mana orang-orang memilih tidur di luar rumah sepanjang malam karena panas yang tidak manusiawi, itu saya amini benar.
7 comments
© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.