Image Slider

Lele & Lolo: PR Paling Berisik sebelum Terbang ke Hong Kong

21 March 2017
Sudah tersisa beberapa hari saja sebelum kami terbang ke Hong Kong untuk eksplor negara eksotis itu, tapi PR kami sungguh feels like never ending. Kemiwan Kenobi, kucing kami, akhirnya melahirkan bayi-bayi kucing kemarin siang. Hal itu jadi PR besar buat kami karena tadinya udah pilih tempat penitipan, mulai harus cari lagi lebih rinci karena menginapkan kucing dengan anak-anaknya yang baru lahir itu penuh risiko dan saya sangat khawatir. Naaaah ternyata PR kami nambah lagi nih. Ada dua anak kucing (yang sepertinya) yatim piatu kini juga harus kami perhatikan. Rabu minggu lalu sore pas pulang kantor naik Gojek, 200 meter sebelum sampai rumah saya mendengar rengekan kucing sahut-sahutan. "Pak berhenti dulu bentar, Pak!", seru saya sambil menepuk pundak Pak Gojek terburu-buru. Saya langsung turun dan meraba-raba pinggiran selokan. Dan, oh astaga Tuhaaaan saya menemukan mereka pegangan ditanaman yang tumbuh di pinggir selokan dan hampir seluruh badannya tenggelam! Saya mengangkat satu persatu lalu minta pelastik Pak Gojek untuk membawa mereka.

Sesampainya di rumah, saya rebus air dan mempersiapkan peralatan mandi. "Mereka harus bersih dulu", pikir saya. Kasihan sekali mereka gemetaran, kelaparan, dan ketakutan. Umurnya mungkin masih 2 minggu. Jalannya masih sempoyongan. Matanya belum bisa fokus. Tubuhnya berisi, jadi saya yakin masih ada indukannya meski keesokan pagi pas Mas Gepeng mencari gak menemukan induk kucing sama sekali. Saya kemudian memandikan mereka, dikeringkan, lalu disuapi susu.

Dan kalo boleh saya recap, itulah 2 PR besar kami selain pekerjaan yang memang udah jadi rutinitas. Tapi bagaimana pun repotnya, saya menikmati sekali hidup bersama kucing-kucing ini. Mereka membuat suasanya rumah yang hidup, jadi lebih hidup (dan lebih berantakan haha).

Ada cerita lain soal Lele & Lolo. Akhir pekan lalu saya melihat induk-induk kucing lagi arisan, ada satu yang 'menjanda' gak punya anak. Saya coba taruh Lele & Lolo dekat si induk itu dan dia gak marah. "Oke, coba ah siapa tau memang ini ibunya", saya meyakinkan dalam hati sambil berlalu jalan ke rumah. Tapi hati saya gak tenang, saya khawatir sekali takut kalo memang bukan, lalu Lele & Lolo yang duduk diatas pagar kalo jatuh bagaimana? Belum sampai satu jam, saya kembali melihat Lele & Lolo dan ternyata indukan pergi dan dua kucing berisik itu sudah hilang! Saya gemetaran menangis. Tambah gemetaran lagi pas lihat Lele duduk disela-sela rumput sendirian kedinginan. Saya merasa jadi manusia paling hina di dunia bisa melakukan hal sekejam ini. Lele saya bawa pulang, saya beri susu, dan saya nangis semalaman karena Lolo hilang.

Mungkin memang semesta berkonspirasi dengan seluruh anggota timnya untuk menyatukan kembali saya dengan Lolo karena sebelum berangkat kantor, saya mencari Lolo dan langsung ketemu. Saya langsung memeluknya, menciumi hidungnya yang basah, dan berkali-kali minta maaf udah jadi teman yang kurang ajar. I simply love these kitties, they're rainbow. And this post gonna be floaded with their photos. I hope you don't mind :D
Sejak kemarin, mereka sudah mulai bisa makan. Masih kasih makanan basah sih tapi udah bikin saya lebih tenang ninggalin mereka di pet shop. Gak kebayang bakalan susahnya si empunya pet shop kalo harus nyusuin Lele & Lolo tiap satu jam, dan kalo telat mereka akan bikin siapa pun emosi karena berisiknyaaaaa minta ampun! Besok pas ke Hong Kong saya akan titip mereka ke pet shop dekat rumah. Tokonya bersih dan pemiliknya ramah sama kucing-kucing. Semoga Lele & Lolo gak nyusahin ya.

Lolo kalo kenyang minum susu ya, dia bisa langsung tidur saat itu juga! Mukanyaaaaa katro banget hahahha. Saat Lolo hilang, foto ini yang saya pandangi sambil nangis mewek sesenggukan. Dengan ekornya yang kuntet dan kelakuan seperti ini, Lolo bakalan ngangenin banget pasti.

Berbeda dengan Lolo, Lele lebih cute yang beneran imut-imut gitu, gak imut-imut konyol seperti Lolo hahaha. Badan Lele lebih besar, kalo mengeong gak seberisik Lolo, dan lebih reaktif kalo dipanggil. Much smarter, but kindda slow. Tapi paling gemesin mukanya. Lele sangat penyayang, dia bisa menenangkan Lolo yang suka resek mengeong gak jelas.

Butuh waktu sehari untuk mereka bisa lancar ngedot. Kalo hari kerja, saya usahakan minumin mereka susu sebanyak mungkin lalu ninggalin makanan basah. Meskipun begitu, namanya masih bayik, setiap pulang kantor saya akan nyusuin mereka lagi setiap 30 menit sekali. Dan gegara pernah 'kehilangan' saya sebentar, mereka jadi tambah manja. Apa apa pokoknya harus ada saya. Kalo hilang dikit misalnya ke kamar mandi gitu, udah nyari-nyari heboh. Dasar kucing manja minji.

Semoga mereka baik-baik aja di pet shop selama saya pergi nanti. Gak masalah deh kutuan, itu bisa diserit. Yang penting sehat, makanan tersedia, dan mereka selalu bersama-sama. Their siblingship was truly a beautiful thing. Saling peluk, saling cari kalo ada yang hilang, saling rebutan susu, saling cakaran kalo lagi main, saling nemenin, saling sayang, saling melengkapi, dan saya merasa hangat sekaligus sebal kalo lagi deket-deket mereka hahaha. Grow big my kitties, grow and grow, until you're brave enough to face and explore the world.

Surat dari Septon Manggrat di Mukamat, Sorong Selatan, Papua Barat

15 March 2017
Akhir Agustus tahun lalu cuaca sedang hangat sesekali hujan di Nepal. Anak-anak sekolah dengan riang, naik bus, diantar oleh orang tuanya. Di hari yang sama, saya mengirimkan surat untuk adik-adik di Sorong Selatan, Papua Barat, melalui sebuah gerakan Kawan Cerita - Penggerak Masyarakat Sorong Selatan. Siang tadi, setelah perut ini puas dimanjakan lezatnya nasi mandy khas Timur Tengah dengan potongan daging kambing lembut dan super lezat, saya menerima e-mail dari panitia Kawan Cerita berisi surat balasan! Wow senang sekali senang senang senang! Pengirimnya seorang anak laki-laki kelas 6 SD, namanya Septon. Foto diatas adalah asli surat balasan dari Septon, dan berikut isi surat yang sudah dirapihkan oleh panitia. Terima kasih Septon, semoga cita-citamu tercapai dan salam untuk keluargamu ya!

Untuk Kakak Justin Larissa.
Kami sudah libur. Hampir setiap hari kami main bola.
Suatu hari selesai mandi bola, saya pulang mandi, kemudian makan nasi dengan ikan mujair.
Kami juga naik perahu dan menyeberangi Sungai Kais untuk pergi ke kampung pemekaran yang namanya Binsau.
Setelah sampai, kami menyelam di sungai dan menangkap banyak ikan, udang.
Kami juga berburu menggunakan panah dan senapan, dan ditemani anjing.
Saat sekolah, setiap istirahat kami main roda (permainan lokal yang menggelindingkan ban bekas menggunakan tongkat kayu).
Kadang-kadang kami pergi ke sungai untuk menyalakan api unggun dan memasak di sana.
Di sungai banyak udang dan ikan.
Saya dengan kakak mencari burung.
Burung mambruk ada banyak sekali.
Setelah itu, kami pulang dan memberikan burung kepada ibu untuk dimasak dan kami makan bersama.
Nama saya Septon Manggrat. Saya kelas VI

Sabtu Pagi di Tengah Bulan Maret yang Hangat (+ Survive a Succulent)

11 March 2017
Lamaaaaa banget gak ada tulisan lately. Plus blog ini lagi gak produktif seperti biasanya karena saya sedang disibukkan oleh kantor dan segala multi-tasking lainnya. Bahkan sebulan ini saya masak dirumah bisa dihitung jari. Istri macam apa! Hahaha. Dan selagi Mas Gepeng menyetrika segunung pakaian, saya, sebelum dismenore tiba lalu merengut seharian, ingin bercerita bagaimana pagi kami hari ini. Saya bangun pukul 06.30, segar sekali dan rasanya ingin cepat-cepat mandi matahari karena dua minggu belakangan pekerjaan saya sangat sangat gila. Mas Gepeng sengaja gak bangunin supaya saya bangun dengan sendirinya dan begitulah. Pukul 07.30 saya udah mandi matahari dan main dengan kaktus. Seperti yang kalian lihat di Instastories, saya memindahkan kaktus-kaktus ke pot kecil. Dua buah akan saya bawa ke kantor untuk pajangan di meja makan (pantry), dua lainnya saya pajang di rumah.

Ingat sukulen ini? Dia adalah oleh-oleh yang saya bawa dari acara Kiehls bulan April tahun lalu. Dia sudah tumbuh setinggi ini! WOW! Lambat ya hahaha. Tapi dia di luar ekspektasi sih sebenarnya. Pas masih di dalam rumah kaca, dia hampir mati. Saya gak tau apakah saya menyiram terlalu banyak atau dia memang gak bisa tinggal di dalam situ. Akhirnya saya pindahkan ke pot terbuka dan membiarkannya di luar. Daritadi saya bahas kaktus dan sukulen seperti dua hal yang berbeda, tapi memangnya mereka berbeda? Iya. Sukulen merupakan nama family tumbuhan seperti kaktus. Bedanya kalo sukulen memiliki karakter menyerap dan menyimpan air di batang utamanya dan psychically memiliki kelopak mirip daun. Sedangkan kaktus itu ya badan sama duri aja. Jadi semua kaktus adalah sukulen, dan gak semua sukulen adalah kaktus.

Jadi kalo ditaruh di luar, sukulen dan kaktus akan bahagia? Yes benar! Rasanya mereka sangat suka hidup bebas. Tapi ingat, kepanasan juga gak baik ya. Paling cocok taruh ditempat terang tapi gak kena cahaya matahari langsung. Kasihan. Siramnya seminggu sekali, kalo penyemprotan dua minggu sekali. Bahkan kayaknya udah dua bulan saya membiarkan mereka hidup lewat cipratan air hujan. Sukulen diatas ini sungguh favorit saya! Dua bulan setelah saya bawa pulang, dia sekarat. Sekitar 70% tubuhnya udah busuk. Setelah dipindah ke pot kecil dan hidup bebas, lihat sekarang, dia bisa saya 'belah' pindah ke pot lain. Yayness!

Seperti ocehan saya di Instastories, kaktus ini berawal dari satu buah kaktus pemberian teman saya pas SMP, itu udah 13 tahun lalu. Sekarang di rumah orang tua saya udah tumbuh dua pot panjang PENUH SESAK sampe mirip rambut kribo! Yang di rumah saya ada dua pot penuh dan satu berisi setengah. Akhirnya saya pindahkan beberapa kaktus ke pot kecil-kecil supaya lebih lega. Loh, pindahinnya pakai apa? Pakai tangan kosong, hahaha. Hebat ya! Itu karena kalo pake jepitan saya berasa gak tega aja, masa tanaman sendiri pakai jepit, kesannya jijik. Lagi pula kalo pegangnya yakin gak ragu-ragu, durinya gak terlalu berasa kok. Kalo pun ketusuk, bisa diambil soalnya kelihatan.

Kira-kira ini kecelakaan yang bisa terjadi pas lagi pindah-pindah tanaman. Yang kesandung jatuh ke lantai, kesandung jatuh terus kaktusnya masuk selokan. Seru ya. Gardening is never ending homework but I love doing these everyday. Kinda therapeutic after hard days. Oh kemarin saya dengar cerita teman kantor yang baru beli dan menata rumah. Halamannya masih bayi banget, hanya tanah dan mungkin cacing-cacing yang berpesta didalamnya. Dia menggunakan jasa tukang rumput keliling untuk menghiasi halamannya, plus beli beberapa tanaman. Tau gak, dia habis 3juta! Buset! Mahal amat! "Perasaan semua tanaman di halaman rumah gue gratisan semua, hahaha", begitu saya menyauti curhatannya, yang sama sekali gak bikin dia dapat pembelaan.

Selagi saya membiarkan bayi-bayi saya berjemur di hangatnya Maret, saya membuat sarapan sederhana yang hanya butuh 10 menit aja: roti gandum isi telur, sosis, dan edamame orak arik. Kalo dibagi waktu jadi begini:
2 menit: beli roti di abang-abang lewat
1 menit: 'ngademin' sosis sama edamame
1 menit: cacah sosis jadi kecil-kecil
2 menit: tumis sosis pakai mentega sambil kupas edamame dan langsung tumis bareng
1 menit: bumbui tumisan dengan garam, lada, ketumbar, dan wijen, lalu sisihkan
2 menit: orak-arik telur lalu campur isian sosis dan edamame, masak bareng. Saya tambahin 1 sdt minyak ikan
1 menit: platting deh!

Makannya tinggal oles mayones basic atau yang rasa keju atau saus tomat bebas, lalu isi roti dengan orak-arik enak tadi. WOW ini enak banget loh! Benar-benar tipe sarapan favorit saya: gampil! Hahaha. Saya bawa makanannya ke halaman dan kami duduk sarapan disana. Ditemani Kemiwan Kenobi, kucing kesayangan kami yang udah mirip semangka jalan karena lagi hamil besar, dan tanaman-tanaman yang sudah rapih bersih. Pagi ini saya ditunjukkan lagi betapa hidup ini indah. Terima kasih, Tuhan. Semoga besok pagi kita semua bangun dalam keadaan penuh syukur ya.

Interview #2: Akhirnya, Angin Segar untuk para Pemandu Wisata Gunung

4 March 2017
Akhirnya, Angin Segar untuk para Pemandu Wisata Gunung
Apa yang membuatmu suka naik gunung? Pemandangan yang maha indah? Menaklukan kelemahan diri sendiri? Suka dingin? Atau menikmati proses khidmat mendaki lalu turun gunung seperti yang selalu saya incar? Mendaki gunung sudah jadi aktivitas trendi banget belakangan ini. Sekedar melihat foto gunung yang ciamik di soc-med, langsung berangan untuk bisa berdiri langsung disana. Jarody Hestu Nugroho adalah salah satu yang  beruntung bisa 'berkantor' diatas gunung.

Wawancara: Justin Larissa & Mas Gepeng
Teks: Justin Larissa
Foto: Semua milik Jarody Hestu Nugroho

"MBAH! KOK PAKEK SARUUNG?", teriak saya spontan saat bertemu Mbah Jarod di lantai teratas Pasar Santa. "Ini namanya saruna, sarung celana hahaha, istriku yang 'mbeliin katanya enak ya tak pake aja", jawabnya sambil tertawa pelan. Mbah yang dulu pas kuliah rambutnya panjang sepinggang lurus mirip hantu, sekarang potongannya pendek khas laki-laki pada umumnya. Saya rasa itu lebih baik, karena bentuk wajah lonjong agak kurang pas kalo rambutnya gondrong. Sambil basa basi, kami jalan menuju tempat makan clay-pot yang buka di hari libur Pilkada Jakarta. Jam-jam selanjutnya kami banyak berbincang tentang karir mountain guide Mbah Jarod secara khusus dan di Indonesia secara umum.

Equator Indonesia (adventure provider di Yogyakarta, kantor kedua Mbah Jarod selain di gunung) menyelenggarakan pelatihan untuk pemandu gunung akhir tahun lalu. "Ini untuk regenerasi", kata Mbah. Nantinya para pemandu baru ini akan mengikuti sertifikasi pengakuan kompetensi oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) bekerjasama dengan BNSP dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). BNSP sendiri menaungi sekitar 150 LSP dari perhotelan, tukang las, sekuriti, KFC, perbankan, juga wisata. "Kalo wisata nama LSP-nya tu Pramindo (Pramuwisata Indonesia). Kompetensinya merujuk ke SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) ada semua tuh dari Pemandu Wisata Gunung, Gua, Arung Jeram ada semua", terang si Mbah.

Profesi pemandu gunung sebelum 2016 bisa dikatakan belum legal. Profesi ini dilakukan murni dari pengalaman dan di Indonesia belum ada asosiasi atau ketentuan yang menstandarisasi sertifikasi profesi ini. Kalo di Amerika ada The American Mountain Guides Association (AMGA) yang menyelenggarakan pelatihan, sertifikasi, dan akreditasi untuk profesi pemandu bekerja sama dengan The International Federation of Mountain Guides Association (IFMGA) dan The International Mountaineering and Climbing Federation (UIAA). Ada lagi Association of Canadian Mountain Guides, British Mountain Guide, Mountain Guide School, dan lain sebagainya. Jadi, selamat datang APGI!

Gunung Sumbing
Tahun lalu, APGI telah menyelenggarakan sertifikasi pemandu gunung di 4 kota besar yaitu Jakarta, Manado, Yogyakarta, dan Malang dengan jumlah peserta lulus sekitar 150 orang. "Lumayan, tahun ini mau lebih banyak lagi. Proyeknya APGI mau mensertifikasi seluruh pemandu gunung di Indonesia", Mbah menjelaskan. Mbah Jarod sendiri bisa dibilang 'orang lama' di gunung (makanya dipanggil Mbah, hahaha). Tergabung dalam mapala Satu Bumi, Mbah mastering pendakian gunung sampai melakukan berbagai ekspedisi besar dan segarang gabung di APGI. Secara de facto, Mbah jadi guide sejak tahun 2006 bekerja sama dengan tour agent. Dari semula menjadi guide wisata freelance, perlahan tapi pasti Mbah Jarod membangun karirnya sendiri. Kuliahnya berantakan, tapi tidak dengan karirnya. "Dulu masih jadi guide backpacker, jadi gaji seadanya aja. Pernah bawa 10 orang, dibayar cuma Rp150ribu!", Mbah menceritakan awal derita menjadi pemandu. Saya sendiri dulu pernah nge-guide perahu arung jeram, sekali trip dibayar Rp50ribu. Buat pijit aja kurang, hahaha. Apalagi yang naik turun gunung.

Menurut saya, sertifikasi pemandu gunung ini adalah program revolusioner. Tidak ada lagi pemandu abal-abal yang tidak profesional karena meski punya banyak pengalaman, sertifikasi pemandu gunung mengases apakah si pemandu sudah memenuhi standarnya baik dari segi lapangan, manajerial, dan hospitality. Jadi buat yang ratusan kali naik gunung tapi kerjaannya cuman selfie, ninggalin sampah, coret-coret batu, ninggalin peserta, tidak menyediakan makanan, tidak bawa P3K, tidak ramah, tidak profesional, dan tidak memenuhi SKKNI: BHAY!

"Because as a mountain you can't grow, but as human, I can"
- Edmund Hillary

Profesi pemandu gunung di Indonesia memang belum mendunia dan belum diakui kompetensinya secara internasional. Makanya APGI memiliki misi untuk memerdekakan para pemandu gunung lokal agar bisa berkarya di negeri sendiri dengan melakukan pelatihan, sertifikasi, dan sosialisasi. Misalnya pernah ada pendaki dari Perancis, mau naik Gunung Cartenz bawa guide sendiri karena belum percaya sama guide Indonesia. Seharusnya kan gak begitu ya! Makanya sertifikasi ini juga menjadi pendorong agar para guide memperbaiki kompetensinya, misal kemampuan bicara bahasa asing ditingkatkan, pelayanannya lebih bagus, manajerial juga lebih advance sehingga kita bisa jadi benteng bagi tenaga kerja asing. Harapan saya sih nantinya bakal ada ketentuan yang mengatur kalo mau naik gunung di Indonesia, guide/arranger-nya harus orang kita juga. Tentu saja pemandu harus certified baik secara nasional dan internasional. "Sama kalo kita ke Elbrus atau Kilimanjaro, kan harus pake guide orang sana", kata Mbah Jarod sambil menyesap jus sirsak yang mulai berkeringat.

Gunung Raung
Puncak Semeru, Tamu dari Malaysia
Saya kemudian teringat akan banyaknya open trip mendaki gunung lalu lalang di Instagram. Open trip murah dengan embel-embel 'pemandu profesional' hampir selalu ada. Saya sendiri tidak paham bagaimana itu 'pemandu profesional' dan seperti apa trip pendakian massal itu. "Open trip Instagram itu murah-murah banget, misal seorang Rp1juta itu murah. Peserta yang ikut ada 15 orang eh guidenya cuma 1 orang itu kan sebenarnya gak bisa", terang si Mbah. Meski Mbah juga punya open trip, tapi pangsa pasarnya menengah ke atas. Jadi kalo kamu ikutan open trip-nya Equator Indonesia, kamu akan bahagia karena guide yang masakin kamu dan melayani secara eksekutif. Porter pun personal khusus untuk kamu. Kembali lagi, ada harga ada rupa. Tapi sebenarnya meski mau bikin open trip murah meriah, pemandu tidak boleh asal-asalan dan harus mengutamakan safety procedure. Saya pernah mau ikut pendakian massal Gunung Rinjani sebuah tour agent di Instagram. Iklannya kece secara disain dan informasi. Tapi salah seorang blogger mereview buruk pendakian massal yang dia ikuti bersama provider itu. Konon guide tidak profesional, tidak sesuai pesanan, dan tidak menepati janjinya. Niat ikut jadi bubar deh. "Standarnya itu 1:1, misal tamu 15, guidenya 3, porter pribadi 7 orang, porter kelompok bawa 12 orang. Nyaman itu," Mbah Jarod menjabarkan servis minimal bintang 3 miliknya. Memang nyaman kedengarannya, ya (dan rame bener hahaha). Tidak heran kalo tamu-tamu Mbah dari Jerman, Perancis, Malaysia, Singapur, semua puas dengan pelayanan lussuoso a la Equator Indonesia.

"Meski beda-beda provider, fondasi pemandu gunung itu sama, yaitu pelayanan"
- Mbah Jarod

Gunung Raung
Secara umum, aktivitas pemandu gunung itu dibagi dua sesi: jalan dan istirahat. Mbah Jarod menjelaskan, "Biasanya turis asing itu kalo jalan ya jalan terus, gak pake istirahat. Dan kalo istirahat ya maunya istirahat total, langsung tidur. Jadi pas misal ada tetangga sebelah yang rame tuh dia protes dan guide harus bisa negosiasi sama tetangganya". Sesuai modul pelatihan mountain guide, bahwa kualitas tidur lebih penting daripada kuantitas tidur. Ini juga yang perlu diperhatikan oleh pemandu gunung yaitu karakteristik kliennya dan harus cekatan dengan segala kondisi. Karena pada dasarnya, aktivitas ini melibatkan 3 unsur yaitu provider, pemandu, dan klien dengan basic competencies skill, knowledge, dan attitude. Yeah, ini benar-benar pekerjaan serius.

Satu lagi pesan Mbah untuk jadi guide yang profesional yaitu MEMENUHI apa yang sudah dijanjikan. Misalnya hotelnya bintang sekian, maka hotel harus sesuai. Waktu istirahat jam sekian, ya harus jam segitu juga istirahatnya. Apalagi kalo urusan jalan, misal tamunya jalannya cepat, guide harus menyesuaikan. Pokoknya apa yang sudah ditulis dalam paket, itulah yang harus dipenuhi. Kalo tamu ada permintaan aneh-aneh seperti minta minum darah kobra tapi dalam perjanjian tidak menyebutkan itu, tamu dipersilahkan mencari sendiri. Profesional itu wajib hukumnya untuk dijaga. Siapa pun tamunya dan dimanapun gunungnya, profesionalisme nomor satu.

Gunung Sumbing, sama tamu dari InggrisJadi, jika saya boleh meminjam kalimat pembuka saya di tulisan ini dan saya kembangkan sedikit, saya ingin bertanya kepada para mountain guide diluar sana. Kenapa kamu naik gunung sebagai pemandu? Kenapa harus kamu yang menjadi pemandu? Dan kenapa mereka, para tamu dari seluruh belahan dunia harus percaya dengan kamu sebagai pemandu? Seperti kata Deepak Chopra, in order to trust your body as a guide, the first step is to begin to understand it. Pintu sudah diketuk dan terbuka lebar. Wadah untuk berkembang sudah tersedia. Angin segar berhembus untuk para pemandu. Selamat berkembang dan avignam jagat samagram, semoga selamatlah alam semesta.

My Best Tarvel Itinerary Advice for You My Friend

23 February 2017
Justin di Aceh
Sebelum menulis post ini, ada selusin lebih tab dari website berbeda di Google Home saya. Most of them are travel blog yang menyajikan informasi gak cuma soal tempat tapi juga how to get there. Saya lagi menjelajah informasi tentang menyusun itinerary yang mumpuni untuk perjalanan saya bulan depan ke Hong Kong. Setelah setengah jam membaca, bukannya dapat insight, saya malah pusing! Gile ya, ini advice macem-macem banget begini kok malah bikin bingung hahaha (as they said too much information will kill you, maybe it's true). Jadilah saya kembali ke itinerary versi saya sendiri, yang gak kebanyakan langkah-langkah, yang lebih simpel dan krusial, dan sesungguhnya udah berhasil membuat perjalanan saya selama ini sangat menggairahkan! Gimana emangnya itinerarynya? Nih saya bocorin, 5 poin santai!

1. Don't into details
My husband and I were too lazy thinking too much and more likely to be surprise with everything we found. Its decisive that new things will more enjoyable than something we already knew, ya gak sih? Jadi kalo bikin itinerary, kami selalu ambil besarannya aja misalnya pas ke Nepal, kami cuman bikin tanggal sekian sampe sekian di Thamel, terus pindah tempat ke Pokhara sampe kapan bebas, terus balik lagi Thamel. Di dua tempat itu mau ngapain aja bebas. Kami gak banyak research soal landmarks disana, hanya kulit-kulit aja seperti ada Swayambunath, taksi bisa ditawar, jalan kaki juga oke, naik bus ke Pokhara, makanan halal ada kok tinggal cari (makanannya apa terserah), ada Kathmandu Durbar Square, udah gitu-gitu doang. Dan kenyataannya disana kami banyak eksplor dan surprise dengan berbagai hal. Hotel pertama selalu saya pesan duluan sebelum berangkat, sisanya on the spot bisa pake aplikasi booking hotel. The trip doesn’t need to be marvelous but all I need is something more important, the freedom itself. Jadi, riset seperlunya aja ya.

2. Fulfill your Bucket-List
Tempat tujuan jalan-jalan kami adalah tempat yang memang jadi bucket-list, bukan karena promo atau ikutan orang-orang. Makanya selalu ada misi sendiri yang harus dipenuhi. Nepal? Saya mau lihat gunung salju, mimpinya adalah naik gunungnya tapi belom rejeki. Hong Kong? Mau banget makan dim sum asli sana apalagi yang pake daging angsa! Hahaha, saya suka banget dim sum sampe kalo ke kondangan cuma makan dim sum aja udah happy. Misi kecil ini lah pematik perjalanan. Jadi gak semata kosongan kesana, terus gak ada semangat accomplish a mission. Your journey should be more enjoyable if you explore new things, and complete a mission.

3. Local-Food Explored as Needed
Tiga hal yang selalu kami 'incar' saat traveling adalah society, food, and places. Kami suka makan makanan lokal selain karena tentu aja itu hal yang unik and it also an identity, bisa ketemu orang lokal apalagi yang masaknya adalah pengalaman yang sungguh sungguh indah! Catatan, jangan berambisi untuk mencicip semua makanan yang ada. Sekali lagi, make a mission. Ambisius saat traveling sangat gak menyenangkan (buat saya sih). Tentukan apa yang ingin banget kamu coba, dan sisanya serahkan kemana alam semesta membawamu. Seperti pas di Bangka Belitung, misi saya pokoknya makan Mie Belitung sama minum kopi. The rest is up, then I got surprises by plain fried rice and abang Jawa jualan bakso. I love surprise!

4. Meet your Family/Friends
Kalo di tempat tujuanmu ada orang yang kamu kenal, entah akrab atau ya kenal aja, sediakan satu hari untuk mengunjungi dan mengajaknya main. Syukur syukur kalo bisa ikutan traveling, lumayan kan ada guide atau kang foto. Saya selalu sediakan waktu untuk ini dan apapun skenario jalan-jalan mu, pertahankan silaturahmi. Kalo gak ada yaudah, lanjut nomor berikutnya haha. Kalo ada, hubungi dulu mengabarkan kita mau kesana dari tanggal segini sampe segini, mau kesini kesana kesini, dan minta masukan/rekomendasi. Saya selalu suka mendengar masukan dari orang lain khususnya yang menang kenal sama saya, jadi apa yang mereka sampaikan biasanya sudah ke-filter menyesuaikan dengan preferensi saya.

5. What to Book in Advance
Ini informasi yang perlu di research dulu dan pastikan memang sesuai sama misi-misimu. Misalnya nih kan pertengahan tahun saya mau ke London dan mimpi saya adalah ke Highland, liat hairy cow (kalo bisa sampe garuk-garuk dagunya), juga cicipin semua sample keju di Borough Market. Nah untuk liat sapi, saya perlu booking a day free tour di Skotlandia plus sama bus dari bandara ke Edinburgh. Tambah lagi karena persyaratan visa, saya udah mulai cari penginapan sementara untuk ditulis. Hal-hal itu harus dipersiapkan dan untuk pencarian informasi sebisa mungkin tanya satu dua orang aja gak usah banyak-banyak. Mumet entar. Plus offline map juga perlu dipersiapkan jauh-jauh hari karena saya bukan tipe orang yang beli sim card lokal (penghematan, biasyaa). Ingat, hanya yang memang akan memudahkan eksplorasi yang perlu di book, yang lain-lain mah santaaaai.

Udah dilist semua, udah dilakukan, tinggal packing terus cus deh. Dengan 5 langkah ini, saya udah siap ke Hong Kong, ke London, kemana-mana siap. Misalnya ada yang di London kelupaan dibook dari awal, terus gak bisa ini itu, ya cari aktivitas lain. Satu hal yang saya sadari, ternyata setiap orang punya cara merancang dan menikmati perjalanannya masing-masing. Punya saya bisa jadi masukan buat kamu tapi pastikan, perjalananmu juga ada sentuhan "kamu banget"nya ya! Semua tempat baru itu menarik, semua terasa sangat asyik untuk dijelajahi jadi bebaskan dirimu, fleksibel, ramah tamah, sopan, pokoknya nikmati sebebas-bebasnya hidupmu di tempat impianmu!