Image Slider

Highland Scotland: Simply Best Destinations full of Surprises!

23 July 2017
Awal tahun 2016 lalu, portal Independent memaparkan hasil survey ONS (Office for National Statistics) yang menyatakan bahwa orang paling bahagia di United Kingdom berada di Highland, Skotlandia. Hasilnya luar biasa, lebih dari 43% orang yang tinggal di Highlands menyatakan kebahagiaan berada di level tertinggi! Saya mengangguk yakin. Pasalnya 3 hari eksplor Skotlandia itu beneran berkesan. Bikin happy! Lucunya lagi sebenarnya tempat-tempat yang saya datangi dengan tur itu mayoritas masuk kategori simply best destinations yang turned out jadi pengalaman yang menakjubkan untuk saya dan Mas Gepeng. Apa aja ituuu?

Glencoe
Secara gak resmi, Skotlandia ini dibagi 2: Highlands dan Lowlands. Glencoe berada diantara perbatasan keduanya, berdekatan dengan Gunung Ben Nevis yang tingginya lebih dari 4000 kaki. Siang itu suhu 7°, paling rendah selama kami di UK. Beruntung anginnya gak begitu kencang, jadi semriwing hanya karena suhunya memang dingin, gak pake di tampar-tampar angin berair. Kami turun dari bus daily tour berbayar yang kami ikuti hari itu, lalu mata kami terhipnotis. "Wah aku akhirnya nemu gambar untuk bikin kartu lebaran kita!", teriak saya spontan. Serius, Glencoe bagus banget! Bagus! Banget!

Secara geografis, Glencoe adalah lembah yang terbentuk karena peristiwa geologis gunung api ratusan juta tahun lalu. Uniknya, proses itu membuat Glencoe memiliki deretan perbukitan yang kalo hujan, air akan mengalir mengisi lembahan sungai berkelok yang membuat pemandangan jadi ciamik. Katanya kawasan Glencoe juga menjadi tempat shooting film Skyfall-nya James Bond, tapi karena saya lupa juga filmnya gimana, jadi ya gak cari tau haha.

Dalam perjalanan naik bus, saya melihat jalur kereta West Highland Railway yang disebut-sebut sebagai jalur kereta paling Indah di Britania dan bersaing indahnya dengan El ChePe di Meksiko atau Semmering Railway di Austria. Saat itu lagi gak ada kereta The Jacobite, The Famous Steam Train, yang mengantar penumpang dari Fort William ke Mallaig, tapi saya ingat betul adegan Hogwarts Express berangkat dari King's Cross Station lalu melewati daerah Glenfinnan viaduct dengan suara roda kereta yang khas dan Harry Potter memandang keluar jendela melihat pemandangan yang luar biasa cantik, lalu datang Ron Wesley sambil malu-malu.


Spean Bridge Woolen Mill, Fort William
Selepas main ke Glencoe, bus kami transit ke sebuah kafe di daerah Spean Bridge, Fort William untuk makan siang dan istirahat. Kalo baca ulasan di TripAdvisor, paling malesin tempat ini pas peak hour (emangnya ada peak hour yang gak malesin?) sekitar jam 2an gitu. Saat kami kesana memang sedang ramai karena banyak bus tur yang mengagendakan kesini. Tapi beruntung kami gak kesulitan cari tempat duduk dan pesanan pun datang dengan cepat. Kami makan baked potato dengan butter yang ditabur cheddar cheese segambreng! SUMPAH kejunya enak banget!


Ternyata keju cheddar di Skotlandia sama yang biasa saya makan (sebut aja namanya keju Kraft, haha) rasanya beda lho. Yang di Skotlandia lebih umm, gimana ya, ada rasa pahit khas keju dengan gurih milky yang pekat, kebayang gak? Pokoknya ENAK! Bahagia banget kami dapet kentang segitu besar dengan taburan cheddar yang gak main-main banyaknya. Makan sepiring berdua pun tetap terasa nikmat. Kalo kami perhatikan orang-orang disekitar sini makan, piring mereka gak pernah bersih cling gitu, pasti ada sisa entah roti entah salad entah kejunya. Apa seharusnya kami dapat diskon karena makanan kami habis gak bersisa?

Geng pesepeda transit makan siang. Mayoritas dari mereka sudah agak tua, hanya dua yang mungkin masih 30an. Turun dari sepeda, parkir, mereka tampak segar sekali karena menuruni bukit dengan rintik hujan dan udara sejuk. Sebenarnya pingin ngobrol sama mereka, hanya saja saat mereka masih mengantri makanan, tur kami sudah harus lanjut lagi deh.

Disini juga ada toko Highland Soap yang menjual sabun handmade dan skincare. Saat saya mampir masuk, wangi lemon grass langsung tercium. Sebagai pecinta aroma terapi, saya langsung bahagia seketika. Bahkan saya sampai terdiam beberapa saat saking menikmati aroma khas sereh yang biasa saya nikmati kala tidur. Toko ini punya banyak varian sampo, sabun, lotion, krim, lip balm, lilin juga cairan aroma terapi. Varian aroma dan ekstraknya juga banyak, ada  apple blossom, hebridean seaweed, highland honey, highland lavender, juniper berry, scottish honeysuckle, dan lain-lain. Semua varian beraroma sedap, organik, alami, dan herbal therapy khas Highlands.

Gemes yaaa sama tokonya! Perasaan suka cita ini persis seperti yang saya alami pas ke toko Lush di Hong Kong. Produk-produk alami wangi begini memang bikin birahi. Toko ini adalah usaha keluarga yang proses produksinya berada di Lochaber, salah satu tempat dengan pemandangan super indah di Highland Barat. Paling senengnya lagi, mereka gak uji coba produk di hewan alias cruelty free. Saya paling hormat dengan produk seperti ini. Kalian harus coba body lotion-nya yah!


Doune Castle
Siapa disini yang suka nonton Game of Thrones? Saya pernah coba nonton selama 15 menit, lalu ganti nonton maraton The Hobbit. Saya gak suka film itu. Atau ada yang pernah nonton film lawas Monty Python and the Holy Grail? Doune Castle di Stirling ini menjadi tempat shooting kedua film tersebut. Dengan membayar tiket masuk sekitar £5, kamu bisa menikmati labirin-labirin magis didalam kastil yang dibangun pada abad ke-13 lalu, bahkan bisa sok main perang-perangan dengan membeli pedang pelastik.

Keberadaan kastil ini sangat strategis karena dekat dengan Stirling Castle, dilalui sungai disisi timur dan barat, juga berada di Skotlandia pusat. Untuk rincian bangunannya bisa cek disini, karena kemarin pengalaman yang membekas bagi saya bukan tentang kastilnya melainkan tentang Cassie, anjing ras campuran yang menghampiri saya secara, mungkin sengaja.

Hai hai. Sini sini.

Siang itu matahari sedang manja, cahayanya tenang berikan kau perlindungan. Apa sih. Pokoknya siang itu saya dan Mas Gepeng piknik makan kacang di rerumputan sekitar Kastil Doune. Gak lama ada anjing jalan ke arah kami, seolah kawan lama karena wajahnya senang bener. Kami bertemu si ibu pemilik anjing. Dia ramah luar biasa. Gak pakai basa basi, ibu Meg (sebut saja begitu) mengobrol dengan kami seolah sebelumnya udah pernah kenal. Kami pun cerita kalo punya anjing pom, yang sebenarnya punya kakak ipar kami tapi kan gak papa, biar bisa ngobrol sesama dog person. 

Meg mengatakan Cassie adalah anjing yang bersahabat dan penuh semangat. Meg pun mengajak Cassie main lempar kayu, gak lupa dia melibatkan kami para peserta tur. Cassie itu yaaa lucu banget! Lucu yang beneran ngelawak gitu karena saat dia menangkap kayu dan menggigitnya, dia membawa si kayu berkeliling. Awalnya pura-pura mau kasih ke yang lempar, eh taunya belok terus lari keliling-keliling. Dasar tukang pamer! Gigit nih!


Loch Katrine
OH ada yang mau saya ceritakan. Jadi saat ikut tur, kami bertemu orang Indonesia juga. Dia teridentifikasi orang kita karena Mas Gepeng lihat dia pakai celana jins Lea, haha. Ada yang gak menarik dari orang ini, tapi menarik untuk diceritakan. Jadi Mas H ini sebelum ke Skotlandia, dia pergi main ke Islandia. Mendengar itu, kami excited dan jadi mau dengar cerita tentang negara yang selama 5 tahun berturut-turut mendapatkan predikat negara paling aman di dunia ini. Tapi boro-boro dapet cerita, jawabannya dia tuh ya malesin banget.

Misal nih kan kami nanya, "Wah Mas, disana makannya apa Mas?", si masnya menjawab, "Yah makan seadanya". Terus kami masih lanjut nanya nih karena penasaran, "Hoo disana yang khas makanannya apa Mas?". Tau jawabannya apa? "Yaa makanan biasa gitu gitu lah". IH! Kan sebal ya! Mas Gepeng sih masih sabar dan mau ngobrol sama Mas H, kalo saya mah udeh ya bye! Setelah beberapa kali ngobrol, Mas H ini tau-tau jadi selalu ngintilin saya Mas dan Gepeng terus. Jadi pas turun dari bus, dia (seolah) nungguin kami terus jalan bareng. Saya lama-lama risih. Terus saya ngajakin Mas Gepeng untuk sembunyi dan menghindar kalo ada si Mas H.

Pas mau jalan ke kafe dekat danau, saya tarik Mas Gepeng untuk sembunyi. "Bentar, lihat itu disana ada si Mas-nya! Tunggu dulu sini sembunyi", bisik saya ke Mas Gepeng sambil cekikikan. Terus kami sembunyi. Pas Mas H mendekat, kami geser, dia mendekat lagi, kami geser lagi, terus begitu sampai akhirnya gak papasan sama si Mas H hahaha. Sometimes doing silly things is fascinating. Dan di kafe kami main sama si pug gemes ini. Sekali lagi, kami ngobrol sama orang lokal dan dia sangat sangat ramah. Bahkan saya dikasih snek untuk coba kasih makan si pug. Senang sekali!

Jadi cerita tentang danaunya apa? Seperti yang terlihat, danau ini tenang dan menyenangkan. Orang Skotland menyebut danau ini The Victorian Playground karena sejak dulu sekali, danau ini udah jadi tempat wisata favorit apalagi tercatat bahwa kapal uap Sir Walter Scott itu pertama kali berlayar di danau ini. Pas kami disana, kapal uap yang sudah satu abad mengajak orang keliling menikmati pemandangan Loch Katrine ini sedang bersiap berlayar. Banyak opa oma yang naik perahu, mungkin mereka sedang arisan atau reuni atau memang kegiatan ini sangat ramah lansia. Selain naik kapal uap, menikmati Loch Katrine bisa dengan jalan kaki atau naik sepeda (bisa sewa on the spot).


Loch Ness
Menurut Wikipedia, ada lebih dari 30.000 danau di Skotlandia! Buanyak ya! Nah salah satu yang terkenal adalah Loch Ness. Pada episode 102 komik Doraemon, Nobita dan Dorami berhasil menemukan Nessie, monster legendaris yang konon bersemayam di dasar Loch Ness. Dorami memancing si monster untuk berenang dari Skotlandia ke danau belakang sekolah which is di Jepang melalui lorong yang menghubungkan kedua danau tersebut. Hanya 3 orang yang melihat si monster: Nobita, Dorami, dan Giant (selamat ya!). Serunya di komik itu ada penjelasan tentang penelitian Nessie yang dipresentasikan oleh Nobita. Jadi edukatif juga untuk yang baca.

Nessie yang digambarkan berleher panjang ini konon adalah makhluk purbakala yang 'terjebak' di danau sejak puluhan ribu tahun lalu. Jadi dahulu kala, Skotlandia diselimuti oleh glasier-glasier raksasa. Pas glasier itu mencair, aliran air memenuhi daratan dan mengikis wilayah bebatuan. Saat itulah para makhluk purbakala berenang keliling Skotlandia sampai akhirnya air surut, muncul daratan-daratan dan terbentuk lah danau. Hal itu yang menyebabkan makhluk purbakala yang lagi berenang jadi berada di dalam danau. Nessie konon adalah salah satu yang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi air dan bertahan hidup. Tapi ya pas juga sih Nessie tinggal disini, karena Loch Ness ini adalah danau paling dalam di Eropa! Jadi dia lumayan bisa guling-guling.

Lalu bagaimana cara menemukan Nessie? Pertama, berdoa yang khusyuk. Kedua, ikutan naik perahu tur keliling danau, siapa tau kan pas Nessie lagi cari angin. Ketiga, berenang ke dalam danau yang sebenarnya ini gak direkomendasikan sih karena dasar danau ini diapisi tanah berwarna hitam dan partikel-partikelnya memenuhi seluruh air danau, jadi kalo berenang ya gak lihat apa-apa. Keempat, punya kapal eksplorasi Dorami. Kelima, ah sudahlah, gak usah, duduk aja pinggir danau menikmati pemandangan. Toh sejak tahun 1934 sudah banyak cara dilakukan guna menemukan Nessie dan yah, mungkin Nessie itu pemalu jadi gak muncul-muncul (kecuali di komik Doraemon).


Meski keberadaannya masih entah dimana, legenda monster misterius ini telah membantu pertumbuhan wisata dan perekonomian warga sekitar. Orang-orang berdatangan, entah untuk naik perahu mencari Nessie atau sekedar nongkrong di kafe atau beli oleh-oleh khas Loch Ness atau menginap di hotel untuk liburan. Eh ngeh gak ada 3 ekor kura-kura di halaman rumah foto diatas? Rumah ini berada di dermaga parkir kapal wisata Loch Ness dan mereka memelihara Charlie, Henry, dan Fred, kura-kura jenis Mediterranean Spur-Thighed (dan mereka semua cewek lho!). Pertengahan tahun seperti ini adalah saat mereka sedang aktif-aktifnya, mumpung summer. Kalo udah memasuki Oktober, mereka akan hibernasi dan sama yang punya akan dimasukkan ke kulkas khusus yang menjaga suhu agar gak drop. Kalo mereka kena suhu ekstrim pas winter, akan berpengaruh pada kesehatannya karena trio kura-kura ini umurnya udah 100 tahun!


Aberfoyle
Tau kah kamu, ada lebih dari 6 juta ekor domba yang tersebar di 14.000 lebih peternakan di seluruh Skotlandia? Memang jika dibandingkan dengan populasi domba di negara kita masih kalah banyak (fyi, ada 18 juta ekor domba lho di Indonesia!), tapi kalo jalan-jalan keliling Skotlandia dan melewati bukit atau padang rumput, bakalan ketemu banyak domba hidup bebas berkeliaran lagi merumput atau gegoleran santai. Pemandangan yang sangat saya suka!

Siang itu kami ke The Scottish Wool Centre (TSWC) di Desa Aberfoyle, Perthshire, Stirling, untuk mampir makan dan main dengan domba-domba. Desa ini berada di Stirling dan banyak sekali tempat wisata di sekitar sini seperti National Wallace Museum, Queen Elizabeth Forest Park, Loch Lomond, Trossachs National Park, Loch Katrine yang tadi, Loch Lubnaig, dan Loch Ard. Secara umum desa ini cantik, bersih, dan khas Skotlandia. Sedikit kendaraan, orang lalu lalang santai keluar masuk toko.

TSWC ini tempat sempurna untuk bersantai. Ada anjing, bebek, domba, serta pemandangan dan sungai kecil yang membuat acara makan siang atau minum teh menjadi sangat syahdu. Malah katanya suka ada pertunjukan anjing gembala oleh para peternak. Kami main-main dengan domba dari pagar pembatas, bulunya ternyata beneran lembut lho! Enak sekali di pegang! Kalo baunya sih tetep ya bau khas domba. Tapi beneran deh, enak banget gusel-gusel bulu dombanya! Saya jadi ingat dengan Dolly the Sheep, mamalia pertama yang merupakan hasil kloning dari somatic cell dewasa. Dolly adalah domba lokal Skotlandia yang berhasil bertahan hidup selama 6 tahun dengan riwayat kloning. Berbeda nasib dengan domba yang berkeliaran bebas di padang rumput, Dolly selama hidupnya tinggal di Roslin Institute di Edinburgh. Untungnya Dolly dipertemukan dengan domba gunung Welsh yang tampan dan mereka punya anak-anak domba yang lucu. Jadi Dolly gak kesepian.

 Kucing pertama yang kami temui di Britania! Halo pus pus...

Setelah main domba, kami makan siang di Lomond Restaurant. Menu yang disajikan lumayan mirip sama yang di Spean Bridge, hanya yang membedakan ada menu domba-dombaan namanya Scotch Pie dan Haggis. Awalnya mau coba haggis, makanan khas sini, tapi kok masih geli kalo tau itu dibungkus dilambung domba haha. Scotch Pie pun sebenarnya olahan daging domba juga, tapi bentuknya semur dan disajikan bersama kacang polong dan chips (kentang goreng). Ternyata rasanya ya persis semur! Hahaha. Persis banget lah sama semur yang biasa kita makan di Indonesia. Yang salut adalah daging dombanya lembut banget. Rasanya enak. Saya suka. Tapi Mas Gepeng gak suka dan basically dia memang bukan penikmat wedus. Makanan ini kami pesan satu buat berdua karena sebelum makan kami udah ngemil sandwich.

Kilmahog
Entah apakah saya ini aneh atau sebenarnya ada orang yang sama dengan saya hanya belum ketemu aja, tapi saya punya cita-cita untuk ketemu sapi (atau banteng) yang gondrong-gondrong. Di Nepal kemarin saya baru ketemu patung Yak, tapi di Skotlandia kemarin saya ketemu sapi gondrong alias SI BOS TAURUUUUSS huwaaaaa! Bahagia banget hiks hiks terharu... Eh tunggu, ini sapi gondrong apa sapi emo? 😝

Pada dasarnya hewan ternak Highlands itu udah famous gegara tampilannya yang unik, salah satunya si hairy cow cintaku ini. Jika membaca sejarahnya, dahulu kala sapi seperti ini ada dua tipe lalu lama kelamaan jadi satu tipe aja. Kayak apa ya tipe satunya dulu? Apa rambutnya sleek ya? Nah sapi gondrong emo yang saya temui kemarin rambutnya messy dan agak kasar dan agak bau haha. Gak papa yang penting lucu. Selama di Skotlandia saya ketemu sapi ada dua warna: hitam, kuning, dan ginger-red. Tapi ada juga lho yang warnanya putih! Wih! Sapi emo blonde! Keren ya. Kalo kamu perhatikan dengan seksama, rambut sapi gondrong itu terdiri dari dua lapisan. Yang paling luar dan agak berminyak fungsinya untuk melindungi diri dari air hujan, sementara lapisan paling dalam untuk menghangatkan tubuh ketika musim dingin. Gak kebayang kalo ada sapi beginian di negara tropis, gak hanya lepek, dia pasti udah ngamuk-ngamuk macam kang ojek yang diklakson kang ojek lainnya jam 12 siang.

Sapi gondrong bisa hidup sampai 20 tahun, lebih lama dari jenis sapi lainnya. Kalo saya bandingkan sapi gondrong dengan sapi biasa di Skotlandia, sapi gondrong kalah besar. Hal ini dikarenakan sapi biasa butuh lemak lebih untuk menghangatkan tubuh jadi makannya juga jadi lebih banyak. Selisih beratnya bisa 38%, tapi katanya tingkat kolesterolnya lebih rendah -padahal sama-sama makan rumput ya, saya gak paham deh kalo yang ini.

Bos taurus adalah celebirty! Semua orang berlomba untuk berfoto. Kalo si bos gak dikandangin, saya yakin dia udah lurus rapih rambutnya karena pada pingin nyisirin.

Ini sapi yang saya temui pas di perjalanan. Saya kurang tau kastil apa yang ada diatas tebingan itu tapi melihat segerombolan bos-bos taurus ini rasanya pingin lari-lari terus jambakin rambutnya terus tarik-tarik tanduknya! Gemes parah! Apalagi pas mereka mendongak untuk melihat-lihat ke depan atau mencari umpan buah yang diberikan para turis, astagaaa pisapi, rambut mu lho di jepit kek! OH kalian harus lihat pas mereka lagi garuk-garuk badannya di pagar! *pengsan*

Aaaaah saya cinta Skotlandia! Entah bagaimana mereka melakukannya, entah apa yang orang Britania rasakan tentang negaranya, tapi saya, orang asing norak yang liat sapi aja girangnya bukan main, merasa perjalanan 3 hari di Skotlandia adalah perjalanan dengan keajaiban (even with a tour). Destinasi-destinasi sederhana yang penuh kejutan! Pokoknya happy dengan segalanya! Semoga kalian menikmati jurnal yang panjang pisan ini yah 😆


Catatan plus-plus:
  • Untuk keliling Highland saya mengikuti daily tour yang berangkat dari Edinburgh. Ada dua tur yang saya ikuti: Scottish Tours (bayar) dan Hairy Coo (gratis). Tapi selain dua itu, masih ada beberapa lagi dengan paket tur yang beragam. Googling aja. Jangan lupa bandingkan harganya ya, karena selisihnya lumayan banget.
  • Khusus untuk tur Hairy Coo, saya ada kasih tips ke si guide karena menurut saya dia memang menyenangkan. Kasihnya sih bebas, semampunya aja. Saya kemarin kasih £5 + RM5 haha.
  • Penyelenggara tur gak menyediakan payung, jadi usahakan bawa payung kecil ya karena cuaca Skotlandia itu labil.

Menikmati Edinburgh dengan Sebaik-baiknya

11 July 2017
Perjalanan eksplorasi United Kingdom saya mulai dari bagian atas yaitu Skotlandia. Menurut penasihat perjalanan UK saya, @miraafianti, mending rute mulai dari atas lalu terus turun ke bawah untuk memudahkan akomodasi dan cakep gitu alurnya. Jadi sesampainya saya dan Mas Gepeng di Heathrow International Airport, kami lanjut naik bus ke Edinburgh. Untuk menuju Edinburgh dari London sebenarnya bisa naik pesawat atau kereta dan jangka waktunya bisa lebih singkat. Tapi berhubung pesawat saya landing-nya sore dan kalo naik kereta pun sampainya tengah malam, jadi saya pilih naik bus aja yang ujungnya saya sampai pagi dan langsung bisa melancong yaaay. Saat pagi, Edinburgh bersama bangunan khas abad pertengahan terlihat berbinar-binar seperti bayi yang baru selesai mandi. Segar! Saya akan ceritakan apa aja yang kami temui  dan nikmati disana, tentu saja bersama foto-foto kece :p

Edinburgh (yang kalo orang sana menyebutnya Edinbwah, haha) resmi menjadi ibukota Skotlandia sejak 1437 dan terdaftar menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995. Ratusan tahun lalu, tepatnya tahun 1707, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Skotlandia resmi bersatu melalui pengesahan Undang-Undang Penyatuan (Act of Union) dan meleburkan diri menjadi Kerajaan Britania Raya dengan London sebagai ibukota pemerintahanya. Penyatuan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan masing-masing kerajaan yang dapat dipenuhi jika keduanya bergabung menjadi satu. Sebagai kota pertama di UK yang saya jelajahi, Edinburgh menjadi pembuka yang manis. Benar saja, jejak bersejarah mulai dari pengaruh Kekaisaran Romawi, abad pertengahan (medieval) yang menggaungkan nama Andrew Moray dan William Wallace (eh, kita main ke monumennya lho!), Perang Dunia I, hingga Undang-Undang Skotlandia yang menjadi titik terang dalam dukungan peningkatan ekonomi secara mandiri, rasanya terasa sekali karena nuansa kota ini sangat klasik nan maju. Klasik banget sampai-sampai foto pakai sepatu hits Nike gak bakalan matching.
Salah satu jejak sejarah dan sebenarnya nyaris hilang adalah Kapel St. Anthony yang dibangun pada abad pertengahan silam. Meski sekarang kelihatan (sisa bangunannya) ada diatas bukit, kapel abad 15 itu hancur akibat letusan gunung api hebat. Bukit itu namanya Arthur's Seat dan merupakan puncak tertinggi dari sisa reruntuhan gunung api yang meletus ratusan juta tahun yang lalu. Nama Arthur diambil dari nama Raja Arthur, sosok legenda pahlawan yang memimpin pasukan Britania dalam menghadapi 12 pertempuran! Canggih ya bro! Konon di atas bukit ini dulu kastil Camelot punya King Arthur's berdiri dengan megahnya. Meski ceritanya memiliki banyak versi, tapi sosok Raja Arthur menjadi penyemangat bangsa Britania tentang kebaikan, kegigihan, dan kesetiakawanan. Etapi gosipnya sih nama Arthur's Seat itu kepeleset dari spelling Ard-na-Said yang artinya 'Height of Arrows'. Yasutralahya...


Kami berjalan dari Royal Mile menuju Holyrood Palace. Aktivitas jalan kaki di Edinburgh itu menyenangkan karena selain udara sejuk dan pemandangan kota yang sophisticated, orang-orang sini ramah banget. Beberapa kali kami mencegat orang untuk ditanyai jalan menuju Arthur's Seat, mereka dengan sangat ramah menjelaskan arahnya, bahkan dengan gaya khas orang Inggris yang membuka topi saat berbicara dengan orang lain. Saya jadi ingat beruang Paddington.

Holyrood Palace sendiri adalah sebuah istana yang istilahnya rumahnya Ratu Inggris di Edinburgh. Saat itu bendera kuning berkibar, menandakan Ratu sedang ada disana. Mungkin itu penyebab gerbang istana ditutup untuk umum. Kalo pas lagi ada event Holyrood Week, baru deh open house. Setelah berjalan mengikuti dinding istana, selanjutnya akan bertemu Holyrood Park berupa lapangan supeer luas. Kalo ada acara, di lapangan ini banyak berjejer food truck dan stand makanan. Saat sepi, isinya orang jalan-jalan dengan anjingnya atau sekedar lewat. Kami duduk gegoleran disana memandangi Arthur's Seat sambil mengistirahatkan kaki. Ternyata penerbangan 13 jam tambah naik bus 8 jam lumayan bikin kangen selonjoran.

Kami mendaki bukit kecil bagian timur Arthur's Seat yang terlihat gak butuh banyak effort. Kalo suka tantangan, bisa mendaki ke bagian yang lebih tinggi lagi and you'll marked yourself arrive at the highest peak of Arthur's seat. Sungguh dari jauh terlihat heroik banget lho! Katanya dari atas sana bisa melihat pemandangan kota 360°. Tapi jangan takut jangan khawatir, menikmati bukit kecil juga menyenangkan karena bertemu banyak orang yang bawa anjing-anjing berbagai ras kok. Ini salah satu warm welcome dari Skotlandia, anjing begitu beragam, lucu-lucu, dan semua terawat dengan baik. Gemesh!

Anjing wire fox terrier ceria lari kesana kemari. Menurut si pemilik, gak banyak orang yang punya anjing serupa dengan Snowy, si anjing Tintin. Cukup jarang memang, tapi setiap anjing apapun rasnya akan senang kalo ketemu anjing lain. Mereka akan sok akrab lalu lari-larian bersama. Termasuk anjing ini yang secara karakteristik selalu antusias dan taktis. Pas anjing ini ketemu siapa pun yang baru, dia akan menghampiri lalu lari keliling-keliling. Gemes banget! Saking pecicilannya, saya gak bisa peluk even mau elus kepalanya aja susah. Selain ketemu pasukan berbulu, dari bukit sini juga kelihatan Calton Hill nun jauh disana. Tempat favorit untuk melihat matahari terbit di Edinburgh ini juga jadi spot favorit untuk jalan-jalan karena ada 3 monumen diatas sana yaitu Dugald Stewart Monument, Nelson Monument, dan National Monument of Scotland.

Kalo jalan diteruskan ke timur akan bertemu St. Margaret’s Loch. Danau kecil buatan ini dibuat atas dasar rencana Prince Albert, orang yang dipercaya Ratu untuk mengurusi seluruh aktivitas kebutuhan rumah tangga, kantor, dan perkebunan di Royal Palace. Tempat ini menjadi tempat favorit bebek-bebek santai, termasuk mereka yang mencari tenang dan teduh untuk sekedar menikmati hari. Kursi kayu disediakan disepanjang bibir danau, tapi kalo mau duduk hati-hati, suka ada eek bebek yang masih basah. Yang agak bingung kalo disini tiba-tiba hujan karena tempat berteduhnya jauh!

Beruntung memang selama di Edinburgh, cuaca sangat menyenangkan. Langit kadang biru kadang kelabu, tapi cerahnya gak pernah padam. Disini kami berkesempatan untuk solat Id di Edinburgh Central Mosque. Sehari sebelumnya kami udah cek waktu pelaksanaan solat Id di website resminya. Ternyata ada 3 waktu: pukul 05.30, 07.00, dan 09.30. Lha kok 3 kali? Menurut penuturan beberapa orang Indonesia yang saya temui disini, hal itu dimaksudkan untuk memfasilitasi para muslim untuk solat. Kalo liat tempat solatnya sih memang gak begitu besar, apalagi bagian wanita yang hanya ada 2 shaff dalam ruangan panjang seperti lorong. Kami ambil sesi pertama dan saat itu lah kami berkesimpulan, menikmati Edinburgh pagi hari seperti mukjizat! Indah banget ya ampun! Langit biru bersih dan sinar matahari mengintip dari sela bangunan-bangunan bertekstur itu. Indah! Sumpah! Coba deh!

Kalo mengingat lebaran kami tahun lalu di Nepal, masjid disana bentuknya lebih mirip ruko dan suasana sangat gak kondusif. Berbeda dengan di Edinburgh, masjid yang didesain oleh Dr. Basil Al Bayati ini berada didalam lingkungan yang bersih, kondusif, dan masjidnya bagus. Bukan yang megah begitu sih, tapi masjid dibangun selama 6 tahun ini terawat dan secara umum desainnya cukup unik. Di daerah sekitar masjid pun banyak rumah makan halal yang menyediakan berbagai hidangan. Di bagian belakang ada halaman parkir luas dan jejeran flat. Nyaman sekali pagi-pagi jalan disekitar sini.

Fun fact: Mayortitas orang sini solatnya gak pake mukena. Persis seperti yang saya alami pas di Nepal, mereka solatnya ya pake baju biasa aja gitu. Malah orang sebelah saya gak pake kaus kaki (ini agak aneh sih, yang lain pake kaus kaki haha). Jadi ketahuan yang pake dan bawa-bawa mukena ya pasti orang Indonesia (atau Malaysia). Pas selesai solat, saya yang kelihatan canggung diajak salaman dan cipika cipiki sama orang sini. Mereka baik sekali. Bahkan ada yang kasih saya cokelat. Yang agak beda malah ketika saya ketemu orang Indonesia, mereka malah memandang saya seperti orang asing. Saat saya sapa, "Hai mbaak selamat Idul Fitri maaf lahir batin yaa", dia hanya membalas "Lho orang Indonesia toh". Lah? Emangnya saya kelihatan seperti orang mana? Uganda? Lalu pas saya mengajak salaman sekumpulan ibu-ibu Indonesia, wajahnya gak welcome sama sekali. Seolah berkata "Siapa nih orang sok akrab bener ih", begitu. Saya bingung. Ah sudahlah.

Kalo Edinburgh cerah, kita akan dengan mudah menemukan para pemain bagpipes! Salah satu lagu favorit saya di dunia ini adalah Haste to the Wedding. Lagu ini pertama kali dibawakan oleh kelompok musik folk Inggris, Fairport Convention pada albumnya The Bonny Bunch of Roses tahun 1977. Lagu ini dibawakan kembali oleh band negara tetangga, The Corrs, pada saat konser di Lansdowne Road setahun sebelum album In Blue mereka terbit. Belom pernah denger? Buka disini untuk versi Fairport Convention, dan disini untuk versi The Corrs. Saya jatuh cinta pada suka cita yang dipancarkan lagu ini. Hal itu juga yang saya rasakan ketika mendengar alunan khas bagpipes. Coba buka ini untuk merasakan real lagu Haste to the Wedding dengan bagpipes. Inggris pisan! Meski The Corrs gak membawa instrumen bagpipes dalam cover lagunya, tapi suka cita khas Irish sungguh kental! Makanya pas mendengarkan pemain bagpipes di selasar jalan menuju Edinburgh castle dan Royal Mile, saya serasa ada di tengah pesta! Rasanya ingin menari! Happy banget!

Tapi ada yang lucu. Ketika bagpipers ini memainkan alat musik yang aslinya berasal dari Mesir ini, wajah mereka serius banget. Even mencoba sedikit menari goyangin kaki sedikit, wajahnya tetap seperti lagi sembelit! Hahahaha. Lumayan menantang sih ya mesti isi bagpipe dengan angin terus supaya sulingnya bisa bunyi, tambah lagi harus konsen memainkan lubang suling untuk menghasilkan musik yang apik. Multitasking ya! Tapi kalo cari di Youtube sih udah banyak versi bagpipers metal dan ada yang bisa sekalian menari. Kalo dari Mas Gepeng, dia hanya heran pada satu hal: "mereka gak kedinginan apa pake rok begitu doang?". Iya juga sih. Bagpipers hanya mengenakan kain kilt motif tartan warna hijau atau merah yang dipakai melingkari pinggang -mirip pakai rok. Panjangnya hanya sebatas dengkul dan lebar sekitar sejengkal pada masing-masing sisi. Beneran gak kedinginan ya? Uniknya lagi setiap motif tartan memiliki makna masing-masing sesuai klan dan regionnya. Klan? Iya. Kalo kamu pergi ke toko souvenir, kamu akan menemukan fridge magnet atau kartu pos klan-klan yang ada di Skotlandia. Tapi gak usah cari klan Uchiha, gak ada disini.

Edinburgh seru ya! Salah satu atraktif bersejarah yang juga icon kota kedua terbesar di Skotlandia ini adalah kastilnya. Catat ya, kastil ini guede buanget! Dan tiket masuknya mahal, haha. Saya gak berkunjung masuk ke kastil simply karena harganya mahal, kalo gak salah £16 per orang. Tapi kalo kamu punya uang dan penasaran sama isinya seperti apa, masuk deh. Dilihat dari jauh aja udah magis, didalamnya pasti lebih magis lagi. Edinburgh Castle selain punya koleksi benda bersejarah, mereka juga punya program edukasi dan event wisata seru yang gak sering-sering diadain. Misalnya The Red Clydesider yang hanya ada di bulan Desember, adalah event yang menceritakan sejarah Davie Kirkwood yang dipenjara di kastil ini paska Perang Dunia I. Buat anak sekolahan malah asyik lagi karena ada free education visit mempelajari banyak hal tentang sejarah Skotlandia. Gratisan ini juga berlaku untuk kamu yang lagi kuliah di Edinburgh, jadi kesempatan ini jangan disia-siakan ya!

Gambar Edinburgh Castle diatas saya ambil ketika sedang berjalan menyusuri Princes Street. Sepuluh menit setelah gambar itu diambil, sampailah saya di Dean's Village. Sebenarnya kalo dari Royal Mile (daerah kami menginap) jaraknya lumayan jauh, 30 menitan jalan kaki jadi PP sekitar 1 jam. Lumayan bikin betis kebas. Dean's Village ibaratnya desa wisata di Edinburgh. Bangunan-bangunan khas medieval dengan taman kecil, ditengahnya ada sungai mengalir santai, yang menurut beberapa orang yang menginap AirBnB disini, terasa di surga. Selain rumah, disini juga ada taman untuk duduk santai, dan kalo diteruskan berjalan akan menemui Scottish National Gallery of Modern Art.


Suasana tenang dan gemericik air mengalir adalah jodoh.

Tambah jodoh lagi sama pekarangan sederhana begini. Saya keliling Dean's Castle sendirian, Mas Gepeng duduk di taman karena dia capek. Pas lihat pekarangan ini, saya lihat kanan kiri dan setelah memastikan gak ada orang, saya numpang duduk sebentar. Asyik sih, hanya sayang pemandangannya hanya tembok berdaun hahaha.

Kembali dari Dean's Village, saya istirahat duduk di pelataran tangga National Museum of Scottland. Sebenarnya ingin sekali berkunjung masuk karena didalam sini, banyak harta karun yang akan memperluas wawasan kita tentang Skotlandia (malah katanya ada rangka T-Rex setinggi 12 meter!). Tapi karena saya dua hari ikut day tour yang berangkat pagi pulang kesorean, jadi setiap kesini ya udah tutup. Kota tua Edinburgh punya banyak tempat yang bisa dikunjungi, ada Museum of Childhood, National Museum of Flight, Scottish National Gallery, The Writers' Museum, Museum of Childhood, Museum of Edinburgh, Trinity House Maritime Museum, Anatomical Museum, dan macam lainnya. Banyak yang gratisan juga lho!

"Wah, rumahnya Usher!", begitu pikir saya dalam hati sambil menerka-nerka, mana foto Usher-nya? Ternyata ini bukan rumahnya si artis Yeah itu, melainkan tempat pertunjukan seni. Tempat ini rajin menyelenggarakan event, mulai dari piano recital, Christmas concert, teater, gig, banyak deh. Bahkan September nanti bakal ada Miranda Sings, si YouTuber kocak itu. Seru kali ya lihat ekspresi Miranda secara live.

Pernah dengar kisah Bobby si Edinburgh Best Friend? Anjing Skye Terrier ini menunggui makam pemiliknya, Auld Jock, yang telah meninggal selama 14 tahun! Kisah Bobby dibukukan dan sudah terkenal di seluruh dunia. Penulisnya, Eleanor Atkinson mengkisahkan kalo Jock adalah seorang gembala tua yang baik hati dan sejak kecil hidupnya sangat menyedihkan. Sepanjang hidup, Bobby yang bulunya kusut itu menemani Jock kemana pun sampai akhirnya Jock meninggal dunia dan dikuburkan di Greyfriars. Bobby sebenarnya dilarang untuk masuk ke pekuburan, tapi dia gak pernah menyerah dan berusaha dengan segala cara sampai akhirnya dia diperbolehkan tidur di atas makam Jock. Cedih. Hiks.

Sandwich? Ada apa dengan sandwich? Kalo kamu ikutin saya di Instagram (gak ikutin? Follow dulu boleh kakak wkwk), saya sharing sedikit tentang cara berhemat di UK. Salah satu yang sangat saya apresiasi adalah sandwich disini yang bisa hanya £1! WOW! Canggih ya! Kami lumayan banyak berhemat untuk makanan karena memang uang kami banyak dipakai untuk akomodasi selama di UK. Jadi bagi teman-teman yang ingin sekali ke UK tapi rupiahnya terbatas, bisa coba cara kami yang rutin jajan sandwich. Ada beberapa makanan murah lain sih yang bisa jadi pengganti. Nanti saya ceritakan di post terpisah ya.

Banyak orang bersepeda di Edinburgh. Banyak sekali. Ada UberEats juga yang delivery-nya pake sepeda (dan mereka tetap beraksi meski hujan). Selama di Edinburgh, baik pagi, siang, sore, malam, saya banyak melihat orang bersepeda dan jogging. Itu pun gak hanya anak muda, tapi juga bapak-bapak ibu-ibu juga banyak yang lari dan bersepeda.
Ketika sore dan melihat ada gerombolan orang berkumpul seperti ini di pusat kota, bisa dipastikan itu adalah orang-orang yang mengikuti ghost tour. Di Edinburgh ini banyak sekali bertebaran ghost tour. Agak bingung juga sih ghost tour tapi mulainya pas masih terang, apanya yang seram? Tapi mau gimana lagi, summer di Edinburgh memaksa matahari bekerja lebih lama sampai jam 10 malam. Yang menarik dari tour ini adalah, beberapa kali saya menemukan yang heboh adalah si pemandunya. Entah dengan kostum a la penyihir, entah menjelaskan cerita hantu dengan suara lantang dan teriak-teriak, entah yang dengan gaya mengendap bicara berbisik-bisik, pokoknya yang ikutan tour ya hanya tertawa seadanya haha. Tapi mau gimana juga saya tetap gak berani sih ikutan beginian. Ghost tour ini ada yang gratis ada yang bayar, pilih-pilih aja, ada banyak banget.

Adam Hodge, kontributor Reader's Digest Asia menulis pada edisi bulan Juni kemarin bahwa Edinburgh adalah UNESCO's first City of Literature karena memiliki banyak penulis entah yang filsuf atau literatur atau sajak. Salah satu yang mendunia adalah J. K. Rowling dengan karya maha fenomenalnya: Harry Potter. Meski saya bukan potter-head dan gak ada agenda kegiatan yang berbau-bau sihir, mengunjungi The Elephant House secara gak sengaja ternyata seru juga. Kenapa? Karena saya suka banget plat gajah yang menggantung disitu!


Di sebuah kafe kecil di pertigaan jalan menuju Edinburgh Castle, ada orang yang memberikan uang Rp10.000 kepada waitres untuk dipajang (atau entah apa maksudnya, tapi dipajang). Sepertinya orang sebelumnya juga melakukan hal yang sama seperti kami: mengobrol dan cerita banyak hal tentang Indonesia. Saya kemudian cerita bahwa uang itu sudah mengalami pembaharuan dalam hal desain. Beruntung kami pas membawanya, jadi sekalian kami kasihkan untuk dipajang. Gak lupa kami juga menjelaskan bahwa dengan uang ini, kami udah bisa jajan makanan sedangkan jika dikonversi ke GBP, ya kami bahkan gak bisa beli sandwich haha.

Apa lo liat liat? Bapak lo jago silat? Dasar anjing kicil onyong. Gigit juga nih!

OH SAYA KETEMU EDU THE POM DARI EDINBURGH! Ya ampuuun anjing pom ini lucu banget! Sebenarnya pengamen yang ada disini unik-unik banget. Ada bagpipers, ada yang bawa anjing terus didandanin begini, ada yang pake biola dan bawa anjing juga (jarang sih yang bawa kucing seperti di film A Street Cat Named Bob), ada yang pake baju penyihir (ini gak ngamen sih), dan macam-macam lainnya. Paling banyak atraksi jalanan muncul sore hari, jadi jalan kaki keliling Edinburgh sore-sore akan jadi pengalaman yang seru.

Jadi, apa yang paling menarik selama di Edinburgh? SEMUANYA! I simply love this city! Yang paling bikin saya jatuh cinta adalah semua sudut kota sangat cantik dan terawat, pun semua orangnya ramah. Saya juga suka bagpipers! Dengan jalan kaki kesana kemari, kami bisa menikmati Edinburgh dari berbagai sisi. Bisa mengagumi, bertanya-tanya, menebak-nebak, dan senyum-senyum sepanjang hari. Cantik banget lho! Serius deh! Rasanya benar-benar menikmati Edinburgh dengan sebaik-baiknya. Tapi selain di pusat kota, kami juga eksplor Highland lho. Sampai jumpa di post berikutnya ya.

Catatan plus plus:
  • Untuk menuju Victoria Bus Station, dari Heathrow International Airport bisa naik tube (underground train) menggunakan oyster card yang bisa dibeli di mesin oyster atau tourist information center. Kalo gak salah ongkosnya £3 sekali jalan. Di tube jangan sampe ketiduran ya karena harus pindah line (jurusan). Kalo pegang peta tube London semua mudah dimengerti kok. Asal gak ketiduran aja.
  • Untuk menuju Edinburgh, saya naik Megabus, salah satu low cost intercity coach travel di UK. Ongkos dari London ke Edinburgh £15 per orang. Itu ongkos bus paling murah saat saya book jika dibandingkan dengan PO bus lainnya. Bisa dapet tiket bus lebih murah kalo book in advance ketimbang beli on the spot. Ini link-nya.
  • Selama di Edinburgh saya jalan kaki. Tapi kalo gak mau jalan, bisa naik tram atau bus.
  • Sebaiknya download peta offline Google Map supaya mudah menemukan tempat-tempat diatas. 
  • Untuk akomodasi, di Edinburgh saya menginap di Edinburgh Backpackers Hostel dengan kamar dorm mix berisi 14 orang. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan Waverley Station, Royal Mile, dan tempat makan. Saya agak lupa berapa harganya per malam tapi lumayan murah ketimbang nginap di hotel.
  • Saya kesana saat summer, tapi cuaca di UK terkenal labil jadi selalu bawa payung kecil atau jaket waterproof ya 
  • Tulisan ini saya update tanggal 15 Juli 2017 karena ternyata ada beberapa foto yang lupa saya share hihi