from tiger spoon to pizza birthday, full time friend :)

29 August 2010
Siang hari itu rasanya terik luar biasa, seperti kebanyakan siang-siang yang lain. Yang bikin jemuran cepet kering, orang-orang memesan minuman dengan es batu, dan yang bikin saya jadi bau asem dari jam 10. Pagi itu kuliah kosong soalnya ga ada dosen, saya yang udah nyampe kampus akhirnya pergi di anter Mas Heral ke Satu Bumi, organisasi pecinta alam fakultas teknik UGM. Di tengah perjalanan Mas Heral menceritakan cerita percintaannya sama Mba Dewi yang lagi di ujung ketombe. Wah sedih banget dengernya. Mereka udah pacaran 5 taun! Kalah itu si Dewi Sandra. Kalo kata Jendral Tian Feng, "beginilah pengorbanan cinta, deritanya tiada akhir". Memang rumit ya percintaan itu. Sampe di Satub saya langsung berurusan sama Mas Solomon. Beliau ngebantuin ngegambarin buat buletin Palapsi. Saya tadinya mau gambar sendiri, belakangan saya suntuk, intensi gambar pun rasanya nyaris punah.


Painted by: Solomon, Coloured bAlign Centery: Justin, Teach by: Matsu. How?

Lalu saya diajarin nge-tone gambarnya biar ada gradasi. Ternyata mudah. Saya cuma ga bisa gambar yang handmade-nya aja, hehehe. Matsu juga ngajarin. Big thanks! Saya memberikan sendok garpu macan sebagai tanda ucapan terima kasih buat Mas Solomon, dia juga pernah bantuin saya betulin laptop, dia baik sekali ya.

Sendok macan :D

Setelah itu saya lanjut makan siang sama Che di Bonbin, sebuah kantin food court gitu. This is Ramadhan, by the way, but I'm not in puasa mode. Nah di Bonbin ini saya liat fenomena lucu. Cerita ini saya beri judul "Everything's here (Indonesia) is spicy, but you more spicy, do you?", ah kepanjangan, "Kamu Pedas". Ya. Judul yang bagus.

Di depan meja tempat saya dan Che duduk menyantap makan siang sederhana nan murah gembira, ada sepasang bule cantik dan ganteng (banget). Sebut aja namanya Sri dan Iwan. Lalu kemudian muncul seorang baru ketika mereka berdua lagi asik mengobrol. Perempuan berbadan semok, yang kemudian kita beri dia nama Mawar. Seorang berkacamata yang ramah dan berkulit putih pucat. Dia tidak suka pedas, merasa aneh dengan timun, dan memakan ayam goreng siang hari itu. Mawar menyapa pasangan itu dan mereka menyapa kembali dengan hangat. Mereka terlibat berbagai percakapan salah duanya soal cabe dan kuliah di pagi hari. Sependengeran saya si kayanya begitu. Mawar sesekali mengajak ngobrol Sri dan Iwan, namun tidak sebaliknya. Yah mereka mungkin sedang lapar jadi malas ngobrol. sri lebih sering ngobrol sama Iwan (yaiyalaaaah, ganteng gitu).


The man with bottle. Aww!

Kemudian dateng seorang lelaki yang agak berisi, mukanya lucu, mancung sangat, tinggi, ya mirip yang main di serial Friends, lupa tapi namanya. Dia menyapa Mawar kemudian duduk didepannya. Mereka berbincang tapi seperti ada dua kubu dalam satu meja, kubu barat Sri dan Iwan, kubu timur Mawar sama Budi. Lalu saya kemudian melihat seorang bule berambut ngembang coklat dan berbadan kurus, dia lagi nyari-nyari tempat duduk. Akhirnya dia duduk sendiri di meja sekitar satu setengah meter di belakang geng bule timur barat dengan arah menghadap ke kami, jadi pasti dia bisa melihat there's another bule-s here, eating yet talking each other, but nobody say hi or something to her. Dia, sebut aja namanya Ijuk, terlihat sedikit kagok dan wajahnya menunjukan kalo dia pingiiiin banget bergabung dengan geng bule, tapi yaa canggung kali ya. Ijuk akhirnya makan sendiri. (Sayang sekali saya ga berhasil meng-candid si Ijuk. Jauh banget uy)

Setelah Ijuk makan beberapa sendok, ada dua orang bule lagi datang dan kebingungan mencari tempat duduk. Guri dan Rita memantau tempat di sekitr Bonbin, melihat kesana kemari termasuk ke arah Ijuk, Mawar, Sri, Iwan, dan Budi. Mereka sempat mendekat ke arah meja Ijuk, namun akhirnya dia memilih untuk duduk di meja geng bule di depan saya yang padahal udah keisi 4 orang. Mereka lebih suka sempit-sempitan ternyata. Padahal tempat duduk Ijuk Cuma diisi 3 orang dengan maksimal penduduk 6 orang. Oh ada apa ini?

Setiap aksi para bule yang saya amati dilaporkan secara langsung ke Che. Wah ini ada yang aneh. Kenapa mereka yang sesama bule, pendatang dari negri-negri yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa gaulnya, sama-sama kuliah di UGM, lalu makan di tempat yang sama, tidak mau saling menyapa? Saya ga tau gimana rasanya karena saya belum pernah menjadi pelajar yang belajar di luar negri. Hanya saja, apa mereka tidak mau saling mengenal sesama kaum pendatang? Hmm. Lalu beberapa menit kemudian datang teman si Sri dan Iwan, wajahnya mirip kaya Edward Cullen si vampire pucat, ini versi KW 5, sebut saja namanya Anto. Dia duduk dan berbincang bisik-bisik dengan Sri dan Iwan, tanpa kenalan dengan Mawar, Guri, Rita, ataupun Budi. Saya kira mereka baru kenal saat itu. Aneh memang. Saya juga aneh pake foto mereka segala, hahaha. Saya berhasil foto mereka diam-diam dengan handphone, sayang juga kalo muka ganteng Iwan ga didokumentasikan. Begitu kali ya cara orang bule berteman, saya mau observasi lagi ah besok-besok buat cari tau lagi.

The boy sit next the handsome one, he is Cullen KW 5

Okey.

To do list berikutnya: beli kado. Hari ini sahabat saya ulang tahun ke-20. Saya patungan sama Putri beli sebuah mug bergambar kucing lengkap dengan sendok kucing. Di bungkus dengan kertas kado kucing dan tanpa kartu ucapan. Setelah itu kami berpisah dan kotak kucing itu di bawa Putri, kami akan ketemu lagi di Pizza Hut pukul 6 sore sekalian buka puasa untuk merayakan ulang tahun Dina.

Birthday girl: the orange beauty. Bunch kiss, mwahh!

Saya latihan mendayung sore itu. Memberi tau teman-teman mahasiswa baru beberapa hal yang saya tau mengenai arung jeram. Saya juga latihan skipper karena di acara fun rafting besok Sabtu saya jadi skipper, saya masih takut untuk bawa sendiri tanpa ada temen lama di perahu. Entah. Saya masih suka panik berlebihan. Selesai latihan kami buka puasa bareng lalu briefing sampe jam setengah 8. Alhasil saya telat banget dateng ke acara Dina. Untungnya saya ditungguin jadi pas saya dateng makanan pun juga baru dateng. Hehehe. Makan pizza dan berbagai pasta pas selesai latihan wuoh rasanya heaven on earth banget. Woooow.

Pulang ke kos jam 9 dan saya langsung mandi. Badan segar, wangi, dan akhirnya saya tidur pas jam setengah 10 malam. Tidur yang begitu cepat dan menenangkan. Selamat malam semesta.

Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!