ibu kucing

22 September 2010
Seperti biasa, siang hari di bumi menjadi saat yang mungkin menyebalkan untuk kita. Panas, gerah, keringat, malas, apalah berbagai keluhan yang kau menyebutnya. Begitu juga untuk ibu kucing muda yang sedang bermalas-malasan dengan kedua anaknya yang berusia sekitar dua bulan. Saya pun ikut bermalasan bareng mereka. Yaa agak jaga jarak juga soalnya mereka banyak kutunya. Ketika hendak membereskan piring di meja makan, saya melihat piring berisi usus goreng renyah yang saya makan saat sarapan dan sekarang tersisa berbagai rempahannya. Saat tangan saya berubah fungsi jadi penyerok rempahan tersebut, saya teringat si keluarga kecil itu sedang bercengkrama di atas kursi kecil. Jadilah saya mempersembahkan rempahan usus enak itu lengkap dengan piringnya di hadapan mereka. Sang ibu duduk sebentar di samping piring, lalu kedua anak kembarnya menyantap rempahan begitu nikmatnya. Sang ibu tiba-tiba pergi ke dekat pintu dan duduk santai. Kenapa? Padahal tadi pagi pas saya kasih dia suka banget.

Setelah menyantap beberapa menit, kedua anak kucing yang warna bulunya sangat berantakan itu duduk santai, bahkan mereka langsung tidur. Tapi ususnya masih ada sisa. Saya men-delivery rempahan usus itu ke hadapan si ibu. Dia mengintip ke dalam dan si kembar udah tertidur santai. Kemudia dia diam sejenak lalu menyantap sisa rempahannya tadi sampai bersih sih sih. Oh saya mengerti. Dia mengalah dan membiarkan anak-anaknya makan duluan sampai mereka puas, kemudian ia memakan sisanya. Sebagai tanda takjub, saya memberi pelayanan massage untuk si ibu dan kedua anak kembar belangnya. Ini lah bukti sederhana yang narator bilang di acara Discovery Chanel, insting mengalah sang induk kepada anaknya terjadi begitu saja.

Apakah juga ada surga di telapak kaki ibu kucing?

Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!