Ops. Multi Day Progo Atas Kandangan - Tempuran: Pengarungan tanpa Pengaman Suara

26 April 2011

Siapa yang ga tau Kali Progo, angkat tangan! Oke. Kali Progo adalah sungai yang mengaliri Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang juga jadi batasnya Kabupaten Kulonprogo dengan Kabupaten Sleman dan Bantul. Sungai ini bersumber dari lereng Gunung Sumbing, jadi kalau gunung ini gelap maka tandanya Kali Progo akan banjir. Selama tiga hari tim air Palapsi akan berpetualang ke Kali Progo bagian atas (selanjutnya saya sebut Progo Atas) dengan start dari Kandangan sampe finish Tempuran.

Operasional multi day pertama kami di TC Java Adevnture ini menempatkan Yoga dan Desti sebagai pasangan pendayung depan, Anis dan Dyah di tengah, Reza dan Fahri di belakang, terakhir ada saya sebagai kapten. Lalu bagaimana operasional yang bertepatan dengan hari Paskah ini berjalan? Cekidots.

Jumat, 22 April 2011 – Sabda Pemulung Hujan
Pukul setengah tiga siang kami berangkat dari Terminal Jombor, Jogja, naik bus ke Pal Batang, Magelang. Keadaan bus sumpek tapi ga sampe sesak dan kami terpisah menjadi dua kubu, depan dan belakang. Dari Pal Batang kami naik mobil kol sewaan seharga Rp 82.000 terhitung dari Pal Batang sampe start Kandangan. Berbekal Oreo Blueberry dan keceriaan seadanya, kami menempuh dua setengah jam perjalanan yang –oh no, membosankan.

Mobil kol dan tempat kami kemping (Jembatan Tempuran, Temanggung)

Sampai di Kandangan, hujan sudah berjatuhan setitik demi setitik demi setitik setitik lagi, terus bertitik-titik. Selagi orientasi medan buat bangun tenda, kami mengintip sungainya. Wow! Oh no oh my! Banjir! Warnanya coklat banget kaya susu Milo! Reversal yang kebentuk kaya lahar dinginnya Merapi. Aduh ya ampun. Tapi mau panik ga jadi karena harus segera sibuk bangun tenda, dan saya yang saat ini lagi pegang pos konsumsi mulai masak nasi. Entah kenapa memasak nasi membuat saya menjadi lebih tenang setelah ngeliat sungai yang akan kami arungi besok kok banjir banget. Baiklah, terima kasih nasi.

Dua buah tenda flysheet udah berdiri, saya menguasai yang warna ungu untuk jadi dapur, dan yang merah buat taroh barang. Menu yang saya rancang malam ini adalah sayur kangkung bening sama nugget ayam goreng sumbangan dari Nana –makasi Na, kamu keren banget sumpah! Warga sekitar Kandangan baik-baik banget. Kami diajak ngobrol, ditanya macem-macem –meskipun lagi bangun tenda tetep dijawab dong, hehe. Kemudian Reza yang mengutuk pasak yang kami bawa akhirnya bisa lega karena seorang bapak datang tanpa dijemput meminjami kami pasak besar yang kokoh super. Keadaan tanah di tempat kami kemping agak keras, jadi memang butuh pasak yang besar.

Hujan masih terus berintik-rintik. Suara sungai masih berisik. Kami mulai makan malam. Selesai makan dapur diberesin dan mulai briefing. Desti si PO menjelaskan plan B ngarung ke Elo atas sampe Elo kalo-kalo besok pagi sungainya masih banjir, dan menjelaskan estimasi biaya kalo plan B itu dipake.

Memasuki acara bebas, masing-masing orang udah punya agenda. Ada yang solat, ada yang ke rumah penduduk untuk building rapport, ada yang di tenda aja ngobrol-ngobrol, ada juga yang main sama makhluk gaib. Desti dan Fahri berkunjung ke rumah warga yang paling deket sama tempat kemping kami, dia lah keluarga yang baik hati meminjamkan kami pasak. Nah setelah mereka balik ke tenda, tangan mereka menenteng satu nampan berisi gelas beling, satu teko berisi teh hangat, satu buah termos isi air panas, dan beberapa talas rebus. Ibu itu sangat senang melihat kami, para anak muda yang bersemangat, kemping di dekat rumahnya dan membawa suasana baru. Dia menawarkan banyak sekali bantuan, bahkan untuk menginap di rumahnya pun kami bisa –jika kami mau membuat mereka semakin kesempitan.

Sabtu, 23 April 2011 – Bintang Jatuh dan Malaikat Pengganggu
Desti membangunkan kami jam setengah lima pagi. Karena saya ga satu tenda sama dia, saya masih heran sampe sekarang kenapa dia bisa bangun sepagi itu. Kemudian saya bagi tugas masak: Anis masak tempe goreng tepung serbaguna, saya masak soto daging sapi rawon, dan Desti yang masak nasi. Yang lain bantu ngupas sama ngiris bawang, dan doa.

Sarapan super kami jadi tepat pukul setengah tujuh, saat sinar matahari begitu kerennya menyinari dari balik dedaunan yang tidak rapat, dan menimpa wajah kami yang kumel. Kemudian datang sosok jelek dengan motor, oh ternyata Aksan. Tepat sekali dia datang saat daging soto masih sisa satu dan saya memberikannya sebagai hadiah. Aksan datang bawa beras –saya memintanya karena kami salah takar beras dan akhirnya berasnya kurang, arem-arem, pisang goreng, sama risoles. Saya menyimpannya untuk snek pengarungan aja. Lalu pas saya balik dari rumah keluarga pemulung yang baik hati itu dari meminta air, saya melihat sebuah mobil sedan Honda klasik yang ternyata punya bapaknya Kiki. Dia dan bapaknya datang berkunjung dan menawarkan diri untuk mengunjungi kami di finish dengan (janji) sate ayam. Luar biasa sekali bukan? Sebelum membayangkan sate ayam, kami menikmati talas rebus super hangat dan enak pemberian ibu pemulung –sorry dorry I forgot the name. Pagi yang hebat.

Soto daging sapi rawon dan kokinya yang seksi


Aksan dan Kiki --ini bukan foto pre-wedding, tapi pre-pacaran. Hahaha.

Pemanasan, sip. Pake flip-line, sip. Briefing, sip. SO, sip. Lanjut portaging ke start point. Tas carrier kami iket di thwart belakang, sisanya di tengah. Cleaning dilakukan Desti, kemudian kami foto bersama. Setelah pamit sama warga sekitar, sama Kiki dan Aksan juga, pengarungan Progo Atas via Kandangan kami di mulai.

Stretching bermandikan sinar matahari pagi. Wohooo!

Kiri ke kanan: Yoga, Annis, Desti, Dyah, Fahri, Justin, Reza

Sungai Progo Atas memang punya view yang bagus, nah yang versi Kandangan ini punya pemandangan yang ga kalah bagus sama sungai-sungai di Bali. Sungai ga terlalu lebar, hanya sekitar dua perahu karet berjajar vertikal. Pemandangan tebing tinggi dan tanaman-tanaman yang menghiasinya, sawah, pohon kelapa, pohon bambu, wah seger banget pokoknya.

Arus yang cepat ga memungkinkan kami pemanasan up stream, jadilah langsung turun. Masuk jeram pertama, semua masih semangat. Seger banget emang yang namanya turun sungai pagi-pagi.

Karakteristik jeram Progo Atas Kandangan tu manuverable, banyak gradien dan bentukan yang unik. Ada jeram yang jalurnya di kiri, yang mengharuskan semua awak pendayung di kiri menunduk, malah mesti merunduk sampe bawah soalnya ada bentukan tebing yang kaya payung. Terus ada jeram yang jalurnya di kanan, masuknya mesti potong jauh. Sebenernya bisa lewat tengah, tapi yang kanan standing wave-nya asik banget. Yang paling saya suka adalah jeram Belok –I named it. Jadi jalurnya ada di kiri mentok, saya kira abis itu lurus eeh taunya langsung belok nikung tajem banget. Soalnya jeram yang ini agak lebar, tapi saya tidak tertipu. Hahaha. Karena permainan manuver kami masih belum bagus, masih banyak jeram yang ga kami lalui dengan cantik.

Salah satu jeram, ga tau namanya jeram apa, sebut saja Melati.

Misalnya jeram-abis-jeram-payung-yang-tadi-harus-merunduk. Setelah jeram itu ada jeram yang jalurnya di tengah, entrance-nya gate pillow-pillow, nah di tengah perjalanan kami malah kena pin ball effect karena depan perahu yang nyenggol pillow, terus perahu manuver ga cepet di bales, belok lagi, kepental lagi, gajah-makan-cincau-wah-kacau lah. Sungai ini panjangnya kira-kira 24 kilometer, dan DAM adalah salah satu yang saya amat sangat suka ngarung di Progo Atas Kandangan ini.

Sebuah DAM setinggi 3 meter dengan kemiringan 35 derajat, yang sebelumnya pernah saya turunin sama tim putri FAJY di pengarungan dua bulan yang lalu. Setelah scouting, kami bersiap menuruni DAM keren itu. Saya ambil jalur paling kiri karena saat itu airnya paling tebel di sebelah kiri, laluuuuuu... Tuing! Saya yang sebelumnya melakukan dayung counter pas di turunan saya kepental ke depan sampe terbang ke arah tengah dengan tangan dan kaki terbuka lebar seperti bintang. Dayungnya! Mana dayungnya! Ah ya Tuhan untung dia ga kenapa-kenapa. Ternyata dia terlepas pas saya menjelma jadi bintang jatuh tadi. Sayang sekali Reza ga mengabadikan momen absurb itu karena sequence mode-nya lambat akibat super fine mode yang juga ke-setting.

DAM!

Lanjut pengarungan berikutnya, jeram-jeram masih asik. Ada jeram sialan –disini saya kepeleset gara-gara drop miring menyebalkan, terus jeram oke punya –saya lupa yang mana, tapi sepertinya setiap jeram di Progo Atas Kandangan oke punya semua, terus ada juga jeram hening. Well, hampir di semua jeram kami mengaktifkan mode semi-silent. Suara berisik dan keceriaan bukan dateng dari pendayung depan atau pun pendayung tengah, melainkan dari belakang. Reza dan Fahri jadi motor keberisikan di operasional ini. Meskipun kadang mereka suka resek kaya tiba-tiba teriak “potong kiri!”, padahal saya udah ngarahin perahu ambil jalur kanan, eeh terus si Yoga malah tarik kiri dan perahunya jadi belok kiri, mereka juga jadi malaikat buat saya. Bayangkan apa jadinya perahu yang hening kaya kuburan, dan ga ada yang nemenin saya teriak-teriak? Mungkin setelah pengarungan saya akan dateng ke psikolog untuk diperiksa kesehatan mentalnya.

Justin dan dua pengganggu kesayangannya :p

Kadang si duo-rusuh itu emang nyebelin, di jeram teriak-teriak doang tapi ga dayung. Terus suka ganggu konsentrasi saya pas di jeram dengan obrolan-obrolan aneh yang tiba-tiba muncul d tengah jeram, yang bikin saya akhirnya salah ngatur perahu. Tapi sekali lagi, kalo ga ada mereka perahu yang saya kapteni ini bakalan bener-bener jadi kapal hantu.

Masuk jam satu, kami sampe di jembatan rusak dan jembatan baru, itu adalah titik finish. Pengarungan yang sangat panjang dan jeram yang begitu manuverable, membuat kami kelelahan dan air mineral kami hanya tersisa setengah liter. Melihat waktu yang masih sangat siang, 5 orang dari kami ingin melanjutkan pengarungan sampe ke jembatan Plikon, dan dua sisanya ingin pengarungan berhenti di sini, di Payaman, Kalisari. Akhirnya pengarungan berlanjut dan terlihat di depan ternyata ada DAM. Perahu minggir untuk scouting, dan keputusan melanjutkan pengarungan batal karena Desti melihat DAM di depan ga visible untuk di lewati dan kondisi awan yang mulai mengabu.
“Mba, menurutmu mending berenti aja apa terus?”.
“Lha, mau mu gimana?”,
“Mau ujan tu. Aku bingung”,
“Masa PO-nya bingung. Kalo berenti disini juga ga papa. Kalo kamu capek banget ya ga usah dipaksain. Mau ujan juga entar banjir gimana hii serem”,
“Iya. Gak papa kan ya, Mba?”,
“Iya gak papa. Sana ngomong sama Mas Reja”.

Keputusan pengarungan di stop dan dilanjutkan besok diamini oleh semua orang. Fahri scouting buat tempat kemping, yang perempuan beresin barang-barang yang di perahu. Pertama-tama semua barang-barang kecil kaya matras, daypack, dry bag, dayung, dan tetek bengek selain perahun di bawa ke sebuah lapangan tersembunyi di pinggir kiri jalan. Kemudian perahu di portaging. Hujan udah mulai turun, bukan hanya setitik, kali ini hujan langsung turun banyak. Butirannya kecil tapi jumlahnya milyar pangkat sejuta. Kami semua basah kuyup karena tenda belum sempat didirikan. Setelah agak terang, flysheet dikeluarkan dan biouvac didirikan. Lalu pasak yang kurus-kurus itu ternyata kurang yahud untuk mengganjal si flysheet sehingga dibutuhkan pasak alam. Dua flysheet itu didirikan menjadi satu jajar diantara jalur kubangan air yang udah terbentuk. Kodok-kodok bernyanyi, jangkrik-jangkrik meloncat girang ke atas flysheet, dan gerak pelan santai entah pasti atau nggak dari proses kami membangun tempat kemping –oke, beberapa dari kami, sejujurnya, kekekeke.

Pukul 3 sore hujan sudah reda, kembali sinar matahari menjadi sumber energi yang luar biasa, dan saya mulai mempersiapkan konsumsi. Menu makan sore ini adalah oseng jamur dan tahu kornet gelinding. Yang bikin tahu kornet gelinding si Dyah, Annis masak nasi, saya masak sayur oseng jamur, dan yang lain bantu potong-potong, iris-iris, dan (masih) doa. Untuk masak tahu kornet gelinding, 8 potong tahu putih dihaluskan dan dicampur kornet beserta beberapa bumbu –yang katanya bumbu yang akan membuat kamu bodoh, penyedap. Kemudian semua dihancurkan menjadi satu kesatuan yang abstrak kemudian dibentuk bulat-bulat dengan sendok. Gulung-gulung dalam kocokan sebutir telur, lalu goreng sampe warna kecoklatan. Saya di puji karena si gelinding ini rasanya enak sekali kaya takoyaki.

Selanjutnya sayur oseng jamur. Saya pake jamur tiram dengan irisan besar, dan bumbu dapur lain kaya bawang bombay, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah, gula, dan garam. Semua bawang dan cabe di tumis, lalu masukin jamur, terus tambahin air. Masak sampe mateng, lalu dibumbuin pake garem sama gula. Saya menambahkan sisa adonan tahu kornet tadi dan, lagi, saya di puji karena sayur ini memang enak sekali. Sisa tahu kornetnya banyak banget, ada kali setengah nesting. Itu buat bekal snek pengarungan besok, dimasakanya besok pagi aja.

makan di luar biar semriwiiings

Setelah garden dinner, kami evaluasi. Kalo saya rangkum per individu, evaluasinya adalah: Yoga kalo ambil jalur eksrtrim, padahal perahu udah ke kiri dan jalur kiri udah enak tinggal masuk sama dia malah tiba-tiba ambil kanan, komunikasi sama Destinya juga kurang, pemantapan jalur di pendayung depan mesti harus dibenahi lagi. Desti, komunikasinya jelek, main manuver-nya belum cepet, endurance-nya juga kurang dan ngaruh ke dayungannya, biasanya bagus kok sekarang malah jelek. Annis, wah ga ada suaranya, merasa tegang akhirnya ngaruh ke performanya, dayung standar masih belum ke bentuk, penyampaian komunikasi dari depan ke belakang atau sebaliknya ga ada. Dyah ga jauh beda sama Annis, tapi dia ga terlalu diem, masih ada suaranya tapi dayung standarnya juga belum ada kemajuan. Saya, di jeram-jeram besar atau dengan hole besar suka kepeleset –kuda-kudanya harus lebih mantep lagi, bales manuver-nya lebih gesit lagi, pemilihan jalur udah oke tapi kalo yang depan milih jalurnya salah kapten seharusnya langsung ambil alih jalur dengan on-sight yang juga lebih jauh ke depan. Evaluasi tim ini secara umum adalah: power dan komunikasi. Kalo dua itu ga kebentuk, mau berkembang lebih jauh lagi juga susah.

Dari awal bikin tenda sampe masak selesai, saya ga berhenti mengingatkan untuk mengabari Kiki kalo kita ada di Payaman. Yes saya sungguh menginginkan sate ayam! Sungguh! Evaluasi besar buat konsumsi adalah ga bawa makanan cadangan. Jadi jadwal masak malam ini yang cuma sekali udah dipake di sore tadi, dan malamnya saya yakin, kami pasti lapar. Jam 8 malam, sebungkus pelastik sate ayam datang! Oh Tuhan Kau sungguh luar biasa! Kiki mengantarkan 8 bungkus sate ayam lengkap dengan lontongnya, jadi masing-masing orang dapet satu porsi –isinya 10 tusuk sate dan satu bungkus lontong sepanjang buah terong. Kelebihan satu bungkus kami makan rame-rame. Rasa satenya sih biasa aja, tapi suasana makan bareng dalam satu tenda, saling berhadapan, berdekatan, penuh canda tawa, membuat sate itu terasa enak sekali. Tidur dalam kondisi kenyang adalah salah satu berkah yang wajib kita syukuri.

Minggu, 24 April 2011 – Hiatus
Kondisi air masih coklat tapi ga sampe kaya susu Milo. Lumayan gede, tapi masih aman diarungi. Kembali Desti membangunkan pukul 4.30, saat dimana kodok yang berkokok juga baru bangun. Pembagian tugas masak pagi ini: Desti masak nasi, Annis dan Yoga bikin tahu kornet gelinding terus di goreng sama Dyah, saya yang masak lauknya yaitu sarden tuna. Hanya satu kaleng besar dan satu kaleng kecil sarden, dimasak bersama tumisan bawang bombay, bawang putih, bawang merah, dan ikan tuna kalengan. Tambahkan garam sedikit dan rasanya, hmmm yummy! Semoga protein banyak ini bisa bikin kita tambah pinter khususnya pas lagi baca jeram.

Ada keluarga dengan anak kembar datang berkunjung.

Masak sarapan :)

Setelah sarapan jadi dan flysheet sebelah di buka buat tempat sarapan, kami makan bersama. Bekal buat snek udah selesai saya bikin, ada nasi, telur dadar, dan tahu kornet gelinding sebanyak 30 butir. Kemudian kami packing, dengan beberapa kerjaan tambahan. Yoga yang betulin lem-leman perahu yang lepas, saya packing konsumsi dan perkapnya, Annis ngelus-ngelus kakinya dengan minyak ajaib –ayo Annis cepet, jangan lama-lama ngobatin kakinya, Desti yang langsung siapin carrier dan packing baju-baju dibantu sama Dyah. Ritme dayung kami di perahu lambat, begitu juga kalo lagi kemping. Hahah! Setelah semua beres, perahu di portaging sama saya, Yoga, Desti, dan Annis ke pinggir sungai, sekitar sekilo dari DAM yang kemarin ga jadi kita lewatin. Lalu barang-barang yang kecil datang. Agak susah karena jalannya turunan terjal dengan media tanah lumayan licin dan batu-batu sebesar kepalan tangan. Saat semua barang udah turun, tas mulai di iket di perahu, lanjut sama barang-barang yang lain.

Pukul 9 kami berdoa bersama, berteriak “Never give up!”, dan pengarungan Progo Atas via Payaman sampe finish Progo Adventure di mulai.

Jeram antara Payaman sampe Plikon sangat membosankan. Sungainya lebar banget dan batu kecil jarang-jarang berjejer berantakan membentuk jeram. Arusnya cepat tapi dayungnya lambat, jadi ya kayanya perahunya maju murni karena main stream. Kan salah satu teknik manuver emang ngikutin main stream, hihihi. Perkiraan awal kami pengarungan ini akan memakan waktu 3 jam, tapi ternyata dalam waktu satu setengah jam kami udah sampe di jembatan Plikon. Lanjut pengarungan kami masuk jeram-setelah-jembatan-Plikon. Untuk Progo Atas via Plikon ini sungainya lebih lebar dikit dan jeramnya ga begitu kompleks kaya di Kandangan, tapi tetep manuverable. Terus jeramnya kebanyakan pas belokan jadinya main stream selalu ada di pojok-pojok. Di tengah perjalanan kami istirahat di pinggir pantai 500 meter dari jeram Little Budhil. Makanan ditaruh di atas daun pisang, dan kami duduk mengelilinginya untuk makan bersama.

Pukul 12.00 kami lanjut pengarungan. Setelah 300 meter kami berhenti untuk scouting jeram Little Budhil. Jeram ini lumayan gede tapi asik. Kami akan masuk lewat gate pillow di sebelah kanan strainer, lalu masuk lurus karena di kiri batu ada drop besar banget. Abis itu lurus ambil kanannya batu gourdam tapi jangan ferrying kanan. Patokannya batu besar item itu kita pepet kanannya, jangan sampe kesasar kaya minggu lalu (ops!).

Yak scouting selesai. Yang lain berbincang-bincang lagi soal jeram dan jalurnya, saya ijin buang air. Apa? Buang air? He? Iya. Perut saya udah perih banget dan kalo masih saya tahan, entahlah apa yang akan terjadi sama saya di jeram Little Budhil nanti. Maafkan aku sungai, aku melanggar sumpahku untuk ga buang air di sungai, tapi ini udah gawat banget. Setelah tanya-tanya sama Fahri gimana posisi buang air yang bagus kalo di sungai, saya beraksi. Saya mentertawakan diri saya sendiri, ah tidak ini benar-benar konyol. Saya tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan waktu kemping untuk numpang buang air di rumah penduduk. Maafkan aku sungai, huaaaa.

Aaaaaaaaah!

Balik ke perahu, Reja ga ikut ngarung buat ambil foto kita.
“Wah, Tin, adrenalinku naik nih. Jadi terpacu”, kata Fahri. Dia baru pertama kali ngarung Progo Atas jadi merasa sangat bersemangat.
“Keren kan? Aku yo deg-degan eh. Itu airnya gede begitu hii”, jawab saya.
“Yang penting power-nya keluar, sama dijagain sudutnya biar lurus-lurus aja”.
“Siap!”
Semua udah siap? Oke yuk turun. Entrance lancar, masuk ke sebelah kiri batu besar pertama ada hole gede banget, masuknya agak ferrying kanan karena emang mau potong kanan setelahnya. Lalu perahu di luruskan maju ada hole besar lagi. Saya deg-degan banget pas ini soalnya power-nya kecil banget bikin perahunya agak standing dan saya ada di bawah! Gyaaaa! Lanjut kami bisa ambil kanannya batu gourdam, tapi abis itu agak kebawa kanan dikit. Masih bisa potong kiri lanjut maju. Di finish ada standing wave gede banget di sikat lurus terus langsung belok kanan mau parkir dan jemput Reza.

WOH! DAHSYAT!

Foto kami pas lagi lewat jeram ini akan saya kirim ke bagian publikasi dan dokumentasi Java Adventure, semoga bisa menang dan operasional besok bisa gratis.



Tapi kok pada diem-diem aja ini orang-orang? Pas di jeram saya cuman denger suaranya Fahri, saya kira yang lain pada jatuh soalnya ga ada suaranya. Ternyata masih di perahu.
Lanjut pengarungan. Ke jeram pabrik jembatan. Bukan pabrik pembuat jembatan, tapi ada pabrik di sebelah jembatan. Masuk agak manuver dari gate sempit ke arah kanan terus langsung belok kiri. Masuk main stream tapi agak ferrying kanan buat cicil potong. Lanjut ke jeram Rock n’ Roll, salah satu yang plaing besar di Progo Atas. Kami berhenti untuk scouting do sebelah kiri, sekiatar 10 meter dari mulut jeram. Ah saya benci scouting disini, bau! Kalian tau, di atas tebingan tempat kita scouting adalah limbah tinja yang udah membusuk. Di pinggir jalan tempat scouting juga ada limbah serupa. Huek baunya! Udah kepilih jalurnya saya langsung cepet-cepet balik. Kami masuk lewat tongue besar dan mengalir mengikuti standing wave yang keren-keren di sepanjang aliran arus utama.
“Ehh lho kok ada batu?”
Saya berkata datar. Kami lost satu scouting-an soal batu di ujung jeram. Lumayan gede tapi dari scouting tu keliatannya kaya standing wave biasa. Langsung tancap belok kirinya dan perahu kesenggol deh. Hiks. Lanjut lagi pengarungan ke jeram gigi, terus jeram pillow loncat—saya pernah ke pental loncat tinggi gara-gara Desti tiba-tiba tarik kanan padahal kita udah kirinya persis pillow bulet sempurna dan saya meloncat dan mendarat sambil duduk (bodoh super -__________-“), dan jeram-jeram lainnya. Ga jauh berbeda sama kemarin, pengarungan hari ini komunikasinya buruk. Perahu ini ga terlihat excited mengarungi jeram-jeram yang riuh cantik. Ah sayang banget padahal bantingan operasional ini mahal banget, kalo ga di isi seneng-seneng rugi rasanya.

Sampe di finish tepat pukul 1 siang, lalu saya, Yoga, dan Desti portaging perahu ke atas. Yang lainnya bawa barang-barang yang banyak itu. Sampe di gubukan Progo Adventure, perahu di lipat dan peralatan pengarungan di packing. Kegiatan packing di tutup dengan melihat Yoga, Desti, Reza, dan Dyah push up buat bayar alat-alat yang lalai mereka jaga.

Menuju ke pinggir jalan, kami memberhentikan bus umum yang menuju ke terminal Magelang. Sampe di terminal kami pindah bus yang mengarah ke Jombor. Sekitar pukul setengah empat kami sampe di Jogja dan langsung pulang ke kampus. Semua alat di cuci bersih dan dijemur. West point terluka di bagian floor-nya. Sekat penghubung floor kiri depan dengan tabungnya lepas, jadi besok sampe waktu yang ga bisa ditentukan dia akan nginep di boogie untuk diperbaiki. Cepat sembuh WP, maaf ya aku jadi kapten yang menyakitimu kemarin dan hari ini.

Oke teman-teman, itu lah cerita operasional multi day kami. Masih ada agenda post-operasional yaitu evaluasi di hari Senin dan storing alat. Semoga kami belajar banyak dari simulasi I TC Java Adventure ini. NGU!
2 comments on "Ops. Multi Day Progo Atas Kandangan - Tempuran: Pengarungan tanpa Pengaman Suara"

I'd love to hear from you!