sekat diantara hujan

9 July 2011
Like a flower waiting to bloom
Like a light bulb in a dark room

I’m just sitting here waiting for you

To come home and turn me on
Hujan sudah reda sejam yang lalu, tapi selimut dingin yang dibawanya masih terasa sampai sekarang. Hujan, seperti juga manusia, akan meninggalkan jejak dimanapun mereka singgah. Jejak yang tidak selalu sama masa berlaku dan efeknya. Karena seperti manusia, hujan juga senantiasa dimaknai lain oleh setiap orang yang mereka singgahi. Begitu juga sore ini, meskipun sudah lewat sejam, aku masih merasakan hujan di kepalaku. Walaupun sudah lewat setahun, aku masih merasakan kehadirannya dalam hatiku. Dia yang selalu senang mengajakku berlari diantara riak, dia yang selalu senang menatapku dari balik rintik.

Ini adalah enam puluh menit yang panjang. Masih tergenang di kepalaku setiap tetes hujan yang menandai detik-detik kerinduan. Mata, hidung, telinga, pipi, kening, ujung pundak hingga telapak kaki telah bersepakat dengan otak untuk memunculkan kembali gambar tentang dia. Ya, kali ini hujan membawaku ke alam rindu. Rindu yang didekap sepi, bagai tungku tanpa api. Ini jauh lebih buruk dari demam di musim kemarau. Matahari yang membuka terang setelah hujan dan sisa dingin yang diberikan oleh hujan, mengetuk keinginan untuk membalik waktu. Bagaimana semua begitu indah kala itu. Hujan, lihat apa yang telah kau perbuat kepadaku.


Bau tanah kemudian mengantarku ke bulan-bulan lalu. Saat sinar matahari menemani hati kita yang marah. Menemani teriakan kekesalan dan semua resah. Apa kamu ingat, saat semua jemari mu memaki wajahku? Menakutkan. Jejakmu hilang hanya dengan sebuah gerak jemari. Aku berlalu, melihat langit dan matahari seolah enggan pergi agar hujan tidak mendinginkan tubuhku yang gemetar ketakutan. Baiklah, itu sudah berlalu. Seperti dingin selimut ini yang juga akan segera berakhir seiring matahari mulai memperlihatkan keperkasaannya. Bagaimana pun aku tidak akan pernah berhenti merindukanmu, kecuali saat Tuhan menghapus hujan dari agenda kerja-Nya.

***

Like the desert waiting for the rain
Like a school kid waiting for the spring

I’m just sitting here waiting for you

To come home and turn me on
Hujan lagi, dan kenangan itu lagi. Aku masih saja belum menemukan jalan pulang. Tidak, bukan ‘belum menemukan’ sebenarnya, tapi aku masih terlalu takut untuk meniti kembali jalan itu. Setahun adalah waktu yang relatif, terlalu singkat untuk sebuah pelarian, dan terlalu lama untuk sebuah penantian.

Entah apa kabarnya sekarang. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Entah apakah dia masih marah padaku, merindukanku, atau justru telah sama sekali melupakanku. Dia yang rambutnya selalu berkilau ketika kuajak berlari diantara riak, dia yang matanya selalu berbinar ketika kupandang dari balik rintik. Aku juga tidak tahu apa kabarnya kota kecil itu. Kota yang kutinggalkan setahun yang lalu, sepaket dengan dirinya.


Masih ada dalam surat-suratnya yang lusuh termakan waktu dan udara. Segala hal yang ia sukai dan apa yang selalu ia kagumi. Tentang wangi hujan, wangi tanah, dan tanganku yang besar. Apakah sekarang dia masih suka menanti hujan? Apakah dia menanti kembalinya aku menggenggam jemarinya yang kecil? Ah sepertinya kehidupannya sudah jauh lebih baik sekarang. Dia sekarang bisa menikmati hidupnya tanpa adanya emosi liar di siang hari. Membaca semua surat tanpa perlu khawatir ada yang ingin tahu. Kau sungguh bisa menikmati kopi pagimu mulai saat ini, tanpa perlu peduli dengan siapa yang terlambat bangun hari itu.


Seperti biasa. Langit selalu menjadi lebih cerah setelah hujan. Angin selalu menjadi lebih sejuk. Dan dia selalu merasa lebih nyaman, setidaknya aku bisa memastikan itu.


Dan lihatlah aku sekarang, duduk menantang langit dengan tumpukan buku dan secangkir kopi yang beranjak dingin. Menghitung waktu dan membayangkan apa yang akan terjadi besok sudah bukan menjadi hal yang menyenangkan. Mimpi dan harapan yang termakan usia berubah usang dan terlupakan. Batu pun akan terkikis dalam penantian. Aku kembali menerawang sisa hujan, di balkon, di atas lampu-lampu kota yang mencoba menenangkan manusia dalam balutan lelah, di atas atap-atap rumah yang melindungi para penghuninya dari ketakutan hari esok. Kemudian menghembuskan nafas panjang dan sedikit menitipkan rindu pada bulan yang mulai keluar dari perangainya. Untuk dia, paragraf yang yang pernah usai.

***
My Poor heart
It’s been so dark since you’ve been gone

After all, you’re the one who turns me off
You’re the only one who can turn me back on
Sudah sejam hujan berlalu. Sudah setahun sebuah kisah terpaksa diakhiri. Sejam, setahun, sebuah relativitas absolut. Namun bagi dua orang ini, yang sama-sama menunggu dan sama-sama melarikan diri, yang terpisah ribuan kilometer, setiap detik terasa begitu menyayat, begitu lama, begitu mahir membuat hati meradang. Ah, andai mereka berdua sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama masih menginginkan. Andai...


p.s. Didampingi lagu Turn Me On dari Norah Jones, saya, Kak Abi, dan Kak Dito menulis tulisan ini secara estafet di malam ke enam KKN Pagaralam Unit 168.
2 comments on "sekat diantara hujan"
  1. waduh,
    ceritanya kelewat sedih jus.
    pada curhat tersirat nih kayaknya.hehe.

    ReplyDelete
  2. ditulis dengan penuh penghayatan dan suka cita kok ul :)

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!