Citarum Arithmetic

25 August 2011
Suatu hari saya teringat kejadian dulu ketika saya masih SMA dan hampir tiap hari rutin main sama kucing kesayangan saya, O’o namanya. Ketika sore, kami akan main –awalnya- kejar-kejaran yang akhirnya jadi run championship. Kami berdua selalu sehat di sore hari jadi perlombaan ini akan terus berlangsung selama kami bisa bertemu di sore hari. O’o mengikuti saya kemana pun, termasuk sampe kamar mandi (dia nunggu di depan pintu tapi). Nah pas saya naik tangga sambil berlari kecil, O’o mengikuti juga dengan berlari kecil. Terlintas pikiran pingin saya kerjain ni kucing nakal, akhirnya saya turun tangga dengan kecepatan tinggi, super tinggi. O’o pun ga mau kalah! Dia berlari cepet, secepet motor metik di jalanan flat, cepeeeet banget. Tapi saya masih juara karena kadang dia berhenti tiba-tiba seolah teringat pada sesuatu yang terlupakan lalu kembali berlari. Tanpa pikir lagi saya mulai lari-lari ke belakang, ke depan, masuk kamar mama, naik kasur turun kasur, ke halaman, masuk lagi, lalu tiba-tiba berhenti di depan tv. Begitupun O’o. Dia mengejar saya tapi larinya kali ini lebih cepet. Pake ngepot-ngepot segala malah. Meskipun sempet kepeleset di halaman depan tapi tetep dia bisa ngejar. Saya ngos-ngosan dan istirahat sebentar. Si kucing ganteng itu hanya duduk biasa di samping saya seolah menunggu dan berkata “ayo lari lagi doong!”. Saya memberikan ikan pindang satu biji tanpa nasi sebagai hadiah kala itu, sebagai tanda terima kasih juga karena berkat dia saya bisa membakar kalori.

Saya pun tersenyum di tengah ngantuk mengenang kisah luar biasa itu. Kucing rumahan yang hanya bisa pergi maksimal 5 meter dari rumah dan ketika saya menetap di Yogyakarta untuk kuliah, dia ga punya temen dan akhirnya di rumah kerjaannya cuma makan, mandi, tidur. Tapi bukan O’o yang pingin saya ceritain disini, melainkan rasa kompetisi yang ternyata seekor kucing peliharaan pun punya itu.

”Oh begini toh rasanya lomba.”

Bulan Juli lalu saya mengikuti lomba arung jeram bertajuk “Citarum Open 2010” di Cianjur, Jawa Barat, dengan tim putri dari Mendut Rafting, sebuah tim yang baru buat saya. Kami mendaftar untuk kelas putri dengan pesaing lainnya dari Mapala UI, Madawirna, Kapinis, sama apa lagi gitu saya lupa. Untuk kelas yang cowok-cowok terbagi jadi beberapa kelas, saya ga hapal. Pesertanya ada 45 tim dan mayoritas berasal dari Jawa Barat, sebut aja ada Kapinis, Indonesia Power, Up Stream, Mahacita UPI, UKM PA Gerhana, dan lain sebagainya. Ada juga tim TNI/Polri yang ikut, kaya Delta SAT II Pelopor, Brimob Jabar, sama Walet. Tapi tim yang paling banyak terdaftar adalah tim pelajar/mahasiswa, ada sekitar 23 tim yang daftar ke kelas itu. Walaupun di bagi di kelas-kelas ordo seperti itu, perlombaan ga dibagi per kelas. Jadi semua sesuai nomer urut. Maka dari itu persaingan putri lawan putra pun ga bisa di hindari.

Perlombaan pertama sprint. Tim yang masuk rangking 16 besar catatan waktu tercepat berhak ikut lomba head to head, sisanya berhak menjadi penonton. Sayang sekali tim saya mendapat urutan ke 19, jadinya cuman jadi observer di pinggir sungai. Tapi yang bikin sebel, tim putri berhasil masuk ke rangking 17 yang bikin mereka secara otomatis –tanpa perlu bertanding- memenangkan juara satu lomba head to head kelas putri. Sayang sekali untuk kelas putri yang jumlah pesertanya memang sedikit, yang dicari hanya juara satu. Arus liar menduduki posisi pertama untuk kategori lomba ini.


Not so big Citarum at 8 around

Setiap malam akan ada briefing dari panitia untuk lomba di esok harinya. Dan besok adalah lomba down river race. Manajer kami, Mas Dhangku, mem-briefing kami malam itu dan saya menjadi gugup luar biasa, luar biasa gugup, gugup biasa luar, ah terserah kau menyebutnya apa!
Gugup.

Ah gimana ngegambarinnya ya.

Saya jadi diam. Muka tegang kaya mau terjun payung, padahal saya belum pernah terjun payung. Kaya ujian? Saya tenang pas ujian. Kaya pas saya kehilangan dompet, nah, itu! Kaya pas kehilangn dompet (tapi akhirnya ketemu).
Saya meng-SMS dua orang teman, menyatakan bahwa saya sedang gundah setengah mati. Lalu Mas Anta menelepon. Memberikan kata-kata terbaiknya. Memberikan support yang luar biasa. Ah saya sampe nangis pas ngadu kalo saya gugup! Selesai Mas Anta nelpon, saya masih gugup. Malam itu saya juga SMS-an sama Bebek, dia seorang yang sangat ahli dalam memberi semangat soal beginian. Masih. Masih gugup! Gimana niiiiihh!?

Besok DRR. Dan pasti kita akan adu cepat sama tim putra yang lain. Kalo ga bisa nyalip gimana? Kalo kepepet gimana? Kalo ditabrak gimana? Kalo nyemplung gimana? Kalo mau pipis gimana? AAA! Semua yang jelek-jelek keluar malam itu. Kami akan melawan lelaki-lelaki bertubuh kekar dan tenaga yang kaya kuli.
“Ma, telpon Utin dong sekarang.”

Setelah semenit ngirim SMS, Mama nelpon. Saya bercerita semua yang saya rasakan. Lalu Mama mengeluarkan lelucon anehnya yang ga mutu, namun membuat saya lebih baik saat itu. Banyolan khas si pantat besar itu emang ga ada duanya. Lalu mama nyuruh solat, berdoa, ngobrol sama yang lain, dan tidur. Akhirnya saya memilih alternatif terakhir: tidur. Mama mengirim SMS yang isinya doa supaya diberi ketenangan. Saya membacanya sebelum tidur. Membacakannya juga untuk teman-teman saya yang udah terlelap duluan.

Justify to right: Cancut, Evie, Greya, Lelly, Justin, Lukvi, Ariel.

Pagi cerah sekali. Cerah. Langitnya biru, awannya putih, sungai Citarum masih bau dan arusnya stabil. SMS Bebek pagi itu menjadi penyemangat tambahan. Sedih juga ternyata temen-temen yang biasa ngarung sama saya –tim Palapsi- ga ada yang SMS ngasih semangat, ngasih dukungan, atau pun sekedar nanya kabar. Mereka sibuk kali ya. Yaudahlah. Saya scouting sama yang lain. Berdoa bersama. Berpelukan. Saling menepuk pundak dan meyakinkan satu sama lain kalo kita bisa. Pasti bisa!
Setiap kloter DRR ada 4 tim, dan tim putri saya akan balapan sama 3 tim putra dari Arkadia, Bahari, sama Krakatau (kalo ga salah inget ya). Tegang! Sangat! Terharu banget banyak juga penonton yang mendukung kami saat itu. Apa lagi tim putra Mendut Rafting sama FAJY. Mereka luar biasa. Sumpah!

Aba-aba di mulai.



“Dayung di atas air. Bersiap semuanya. Tiga. Dua. Satu. GO!”



Saya yang ber-partner sama Ariel di depan berusaha mengarahkan perahu supaya ga ndempet-ndempet yang lain, lalu Greya sama Lukvi di tengah menyuplai tenaga dan semangat, dan Evie sama Lelly sebagai skipper mengkapteni kami. Menempati posisi ke dua setelah Arkadia dan meninggalkan dua tim lain di belakang. Ini adalah saat yang sangat dramatis –menurut saya. Kami mendayung sekuat tenaga tanpa henti. Entah dateng darimana tenaga sebanyak itu, rasanya hanya semangat satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan. Di jeram masih enak banget dayungnya, tapi karakter sungai Citarum ternyata menyebalkan juga. Jeram cuma ada sekitar 4 kilo, tapi flat-nyaaaaaaa ada kali 6 kilo dan bener-bener datar, tanpa riak tanpa arus. Ampun ampun!

Dua kali kami berhasil nyalip Arkadia, tapi tetep abis itu disalip lagi. Semua awak perahu jadi bawel, cerewet, kecuali Greya. Dia terlihat kelelahan teramat sangat. Ini yang dramatis. Secapek apapun kami, menyemangati temen sendiri ga boleh berenti.

“Kalahin Mapala UI. Masa mau kalah lagi!?”

“Ah ini Arkadia cemeeeen! Kita wanita kuat!”

“Makanya jangan udad udud wae!”

“Ayoooo conelllooooooo!”

“Justin, are you oke?”

“Greyaaaa, ayo paksaaa.”
“Iki flat-e sialan tenan, cah!
“Ayooo dayung sampe begoooo!”
 
Dan sebagainya. Saya merasa terharu dan bersemangat secara bersamaan. Tim ini luar biasa. Hal lain yang paling menarik dari perlombaan selain kompetisi adalah kerjasama tim. Saya ga tau kalo ternyata tim in begitu hebat. Menjadi urutan kedua terus sampe finish memberi kepuasan berarti buat kami. Luar biasa. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, buat kami, dan buat saya. Bersalaman dengan tim yang lain dan mereka mengakui kami. Wow. Saya capek. Saya lapaaaaaar!

“Aaaaaaaahhh!”

Teriak apa lagi nih? Wah. Ternyata kami kalah lagi sama Mapala UI. Beda tujuh detik berarti juga ternyata. Ah sial sial. Batal deh dapet mandi air panas. Udah dayung kalah mahal, baju kalah ngejreng, ini juga kalah! Grrrrrr.
Malam itu pun saya kembali gugup. Gimana nggak, saya besok jadi skipper sama Ariel dalam lomba slalom. Saya belom banyak pengalaman sebagai skipper, saya panikan, ah aduh. Bebek nelpon untuk ngasih tips en trik slalom. Tetep aja saya jadi pusing ujung-ujungnya. Keceriaan tim saya pun jadi obat termanjur malam itu. Setelah briefing saya langsung tidur. Dan anehnya, saya mimpi lagi slalom! Aaaah apa ini apa ini! Mamaaaaah!

Lagi-lagi pagi begitu cerah. Memulai hari dengan jogging dan jalan-jalan sama yang lain bikin kepanikan saya musnah. Saya mulai optimis. Lalu kami scouting mem-plot jalur dan menggambarnya di jurnal saya. Berbincang ini itu, menanyakan pendapat orang-orang, memelototi jalur rancangan, memperhitungkan air yang saat itu lagi pelan, semuanya masuk dalam otak. Yap. Ariel semangat, Evie semangat, Lelly semangat, Lukvi semangat, Cancut juga (dia menggantikan Greya). Dengan begitu Justin juga harus semangat. Kami pun mulai.



Before facing the gates, start-nya slalom.

Oh no! Airnya naik, arusnya jadi lebih cepet. Krrrrr. Saya jadi puyeng. Ini Citarum minta di ketekin apa ya. Banyak gate yang gagal, berhasil cuma 2 apa ya. Ada dua gate yang gagal gara-gara kepala saya di luar. Bodoh super ini mah. Perhitungan di awal gagal semua. Namun semestinya kita semua tau kalo arung jeram memang penuh ketidakpastian. Ini lah buktinya.

Yang ini dramatis juga nih.

Saya sempat disalahkan. Beberapa nangis. Saya memang merasa bersalah, ini pengarungan yang sangat buruk. Tapi kalo pun sedih saya ga mau nangis. Untuk apa? Nangis ga akan mengubah hasilnya. Dan saya meyakini paham kalo arung jeram itu full main tim, bukan sendiri-sendiri. Maka inilah hasil kita, bukan hasil saya atau Ariel. Beruntung saya punya tim yang kuat, meskipun ada juga yang lemah dan menangisi penuh emosi. Kekalahan yang bodoh memang, tapi ini jelas memberi banyak pelajaran mengenai slalom, mengenai bagaimana memprediksikan segala sesuatunya dengan matang, dan mengatur emosi. Beberapa dari kami pun akhirnya kembali ke bangku penonton menyaksikan yang lain. Terima kasih teman-teman. Kita hebat. For sure. Ayo besok pas latihan slalom lebih serius lagi, lebih berusaha lagi, lebih rajin lagi, practice absolutely makes perfect.

Karena kepepet waktu kami pulang setelah lomba slalom itu selesai. Saya hanya sempet pamitan ke beberapa orang, namun ga semua yang saya kenal. Oh luar biasa saya kenalan sama banyak orang hebat. Saya jadi tau sungai-sungai baru dan membangun link yang baru. Lalu merasakan dinamika yang sungguh berbeda dengan yang biasa saya dapatkan. Kalo saya rangkum, mereka (tim putra putri Mendut Rafting dan FAJY) adala orang-orang yang full-time-supporter , kinda weird, but totally full-time-comedian. Saya mengagumi mereka. Kagum! Mem-videokan kami pas mau turun DRR, menepuk pundak meyakinkan kami sudah berusaha sekuat tenaga ketika tertunduk kecewa setelah slalom, selalu mem-portaging perahu kami, semangat yang tiada henti tercurah padahal mereka juga sedang berkompetisi, mereka juga bersaing sama kami. Kenapa mereka bisa kaya gitu?

Pulang ke Yogyakarta dengan kereta ekonomi. Lalu mendengar kabar dari manajer Dhangku via SMS kalo tim putri saya dapet juara umum II kategori putri. Lah? Bukannya yang dicari juara satu aja? Mungkin karena kita paling keliatan bersaing kali ya. Hahaha. Juara satunya tim Mapala UI. Selamat. Lain kali kami bales. Hehehe. Seneng juga dapet juara. Ini kejuaran arung jeram pertama yang saya ikuti, dan akan selalu membekas di hati. Tim putri dapet penghargaan per-tim dan per-orang, juga dapet uang tunai 500.000 rupiah. Sekarang kami lagi nabung seminggu 20.000 buat bekal pergi liburan bareng ke Cicatih awal Oktober mendatang :)

Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!