MORNING SWING

25 September 2012
Saat melihat kantin kampus sepi dengan ibu-ibu kantin yang masih menyapu, menata piring, merapikan meja kasir, saya baru sadar kalau saya tiba di kampus terlalu pagi (untuk seorang yang sudah tidak terlalu sibuk dengan urusan kuliah, itu benar-benar terlalu pagi). Saya menyapa ibu-ibu kantin yang sibuk itu lalu memesan seporsi lotek tanpa bawang goreng dan mengambil tahu bakso. Saya mulai menyapa keheningan di sekeliling, dan mengaku bahwa keheingan seperti ini cukup saya rindukan. Keheningan yang menyegarkan, tanpa suara gosip dan teriakan memanggil atau merespon bercandaan a la mahasiswa muda.

Lotek saya datang. Lagi-lagi saya berterima kasih pada keheningan, karena saya bisa memesan lotek dan hanya-butuh-dua-balasan-bbm lotek itu sudah datang. Bayangkan kalo saya datang dua jam lebih lama? Saya butuh buku untuk mengisi waktu, bukan hanya sebuah blackberry. Sick! Setelah menyantap beberapa sendok, saya mulai mendengar suara hiruk pikuk. Mata saya yang tadinya hanya tertuju pada lotek dan kerupuknya yang renyah, mulai menerawang sekitar. Kenapa ini kok rame? Siapa mereka?

Oh. Okey. Mereka mahasiswa post-graduate alias S2. Karena teman seangkatan saya ada diantara mereka, saya akhirnya membuyarkan tebakan saya kalo mereka adalah staf kantor. Esdua. Mereka adalah orang-orang rajin belajar yang sekarang terlihat seperti orang-orang kantoran. Kemeja kerja, celana bahan licin, sepatu ber-heels, make up, rambut klimis super rapih, parfum mahal, ya begitu lah. Mereka rapih sekali, tidak seperti mahasiswa (umm, mereka masih disebut mahasiswa kan?). Saya mengamati satu persatu. Ada seorang pria diantara banyak wanita. Wajahnya biasa aja, meskipun dari samping terlihat cakep, tapi dari depan, emmmm. Rambutnya rapih banget belah pinggir dengan helai per helai terlihat jelas, entah dia pake minyak macam apa. Dia memakai kemeja putih bergaris-garis hitam vertikal, celana bahan hitam sleek, dan ikat pinggang hitam, extra-matching! Sepatu yang dipakai warnanya juga hitam, berbahan kulit, bentuknya kaya sepatu aladin versi jaman sekarang. Yang bikin semua itu sia-sia adalah ketika dia mencoba menahan perut buncitnya tapi tidak berhasil. Jadilah saya melihat perutnya kaya sesek nafas gitu, kyaaaaaa!

Lalu ada seorang ibu (bukan karena dia tua, tapi dia bawa anaknya yang berumur 3 tahun). Cantik, muda, dan pemilihan warna bajunya bagus. Kerudung modal hijaber warna pink pastel, baju kalong motif kembang-kembang warna jingga, dan celana basic warna nude. Dandanannya pun bagus, very girly dan ga berlebihan. Tapi sayangnya, bronze wedges yang dia pake kebesaran jadinya jalannya nglepek nglepek. Berikutnya seorang perempuan berbadan berisi, oke, besar. Make-up tebal kaya mau kondangan, kerudung segi empat yang lebar berwarna pink, bulu mata palsu, dan terusan baby doll pink. Ini yang bikin saya ketawa. Lengan ibu ini besar tapi bajunya sempit banget! Sumpah kasian! Jadi bentuk tangannya ga beraturan gara-gara kesempitan. Aduh tanteeeeee, besok cari bahan kaos aja ya bajunya.

Di balik itu semua, sebenarnya yang bikin nyesek bukan karena penampilan mereka yang super-sleek itu, tapi rasa gengsi saya yang kelewat gede kaya bukit. Saya masih S1! Masih skripsi! Bahkan belom mulai try out! Padahal temen saya sekelas ada yang udah jadi kaya mereka! Dan sebelnya lagi, geng S2 itu terlihat sungguh eksklusif, sombong, dan, mmmmm, mempesona. Mereka terlihat 'pintar' dan 'akademisi' sekali. Mereka terlihat 'keren'! Gimana nggak? Mereka terus-terusan belajar di dalam kelas, mengerjakan tugas makalah ini itu, riset ini itu, dengan dasar teori, jurnal, diskusi hal-hal teoritik, mendengarkan dosen, membeli buku kuliah, padahal mereka udah melakukannya pas di S1 kemarin dan mereka melakukannya lagi!? Standing applause, my friend. 

Karena perasaan gerah itu, lotek pun rasanya juga jadi memuakan, akhrinya saya kabur dari kantin dan nonton film.

Meskipun saya nonton film, tapi pikiran saya kemana-mana -gara-gara geng S2 itu. Saya memikirkan kembali apa yang akan saya lakukan nanti selepas saya lulus. Saya ingin jadi apa nanti? Psikolog? Wanita karir? Wirausaha? Pengajar? Guru ngaji? Koki? Dosen? Itu sebenarnya pertanyaan yang terus menghantui saya sejak masuk kuliah. Dan bukan pula pertanyaan yang mudah untuk di jawab.

Masuk kuliah psikologi itu usulan dari orang tua, melihat dari potensi dan kemampuan yang saya miliki. Kemudian orang tua juga yang mendorong saya untuk ambil S2 nanti, karena mereka pingin saya jadi dosen. Lalu? Beneran gitu saya mau jadi dosen? Belajar terus? Bikin penelitian atau eksperimen? Mengkaji ini itu? Atau, emangnya saya keliatan orang yang betah lama-lama di dalam kelas, menganalisis jurnal dan memperdalam teori?

Pernah terlintas dalam pikiran kalo saya juga mau jadi anggota Wanadri, ikut arung jeramnya, berprestasi bersama tim putri mereka. Saya juga berpikir untuk ikut Indonesia Mengajar, atau jadi aktivis Indonesia Berkebun. Lain waktu saya berpikir mau jalan-jalan keluar negri, ngegelandang suka-suka. Dan yang paling baru, saya mau jadi petani dan membuka usaha. Pada dasarnya saya suka sekali berkebun, meskipun tidak pernah ada tanaman yang berhasil tumbuh dengan sempurna di tangan saya. Tapi saya udah membayangkan akan memiliki kebun tomat, terong, kentang, lidah buaya, mentimun, semangka, sawi, bayam, wortel, dan macam-macam lainnya. Saya akan berkebun bersama beberapa orang kemudian menjual hasil kebun yang sehat kemana-mana, atau punya pasar buah sendiri. Saya juga mau beternak bebek, yang nanti dagingnya di masak dengan sambal ijo atau saus keju, telornya di bikin telor asin atau telor bebek biasa. Aaaaah menyenangkan ya Tuhaaaaannn. Kemudian saya akan memasak, MEMASAK, dengan bahan-bahan yang saya petik dari kebun sendiri untuk keluarga saya kelak. Aduh, yang namanya impian itu ya, ssssssssssshhh.

Yah, saya makin ga tau lagi mau jadi apa kan. Harusnya si kerja atau berkarir di bidang psikologi, atau berwirausaha yang psikologis banget gitu. Tapi tapi tapi kan. Baiklah, hati saya belum mantap. Dan mungkin, untuk memantapkan hati saya untuk jalan apa yang akan saya pilih besok, saya harus lulus dulu. Kerjain skripsi! Ambil data, olah data, analisis, pokoknya jadi sarjana dulu.

Pukul 10.10
Kampus mulai ramai dengan mahasiswa yang baru kelar kelas. Dan saya keluar berbaur untuk mengembalikan pikiran saya ke arah yang lebih ringan dan lebih mudah: bersenang-senang!
Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!