SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

NUEL DAN SATRIA

Seharusnya ada kata yang bisa mendeskripsikan sebuah hubungan dimana orang-orang ini ada untuk saling melindungi dan mengembangkan satu sama lain, bukan memanjakan dengan sekedar tau dia sedang berduka atau suka, bukan sekedar ada saat ada yang butuh, tapi berjalan beriringan di depan, samping, dan belakang. Gabungan antara teman, partner, keluarga, organisatoris, ekspeditor, musuh, dan pembelot. Apa nama untuk hubungan macam ini?

* * *

Nuel, laki-laki gunung. Kalau ini adalah perusahaan, dia adalah bos. Tapi berhubung ini sebuah organisasi, maka dia adalah ketua. Perawakan Cina-Jakarta, ganteng (kalo ga botak dan pake topi dan tidak tertawa bosok habis ngece orang), antusias tinggi, logat ngomong a la preman tanah abang, dan salah satu pemberani yang saya kagumi. Suatu malam, dia men-jebret sebuah tantangan besar lewat chatting antar pulau. Sejak itu saya baru tau, dia pemberani yang gila.

Mendampinginya, Satria, laki-laki tebing. Berbeda dengan Nuel, dia ini ibarat pohon toge. Kurus, tinggi, tapi tidak rapuh. Hidungnya over-mancung, matanya kecil megantuk, dan meskipun gaya bicaranya khas mas-mas jawa pinggiran, gayanya -ampun dije, metal! Pertama masuk lingkungan kampus, liat manusia yang ngamanin dompetnya pake rantai besi dicantol ke celananya yang melorot sampe bawah pantat, dan style agungnya itu bertahan sampai bertahun-tahun ke depan ya cuma dia ini. Satria juga salah satu yang saya kagumi. Meski kalo bicara macam Jackie Chan mabok arak cina, tapi sebagai orang operasional dia cerdas.
Saya? Sebut saja perempuan air. Saya tidak mendaki seperti mereka. Saya mengalir. Jangan banyangkan saya menjadi seorang yang punya dua bodyguard yang akan membunuh tiap nyamuk yang berusaha nyupang atau membuka jalan untuk saya lewat di keramaian. Bersama mereka, saya merasa laki-laki. Tidak ada barrier macam-macam. Kami bertiga disini sedang menjalankan misi yang dipercayakan ke dan oleh Nuel.

Suatu malam, di tengah tahun organisasi kami, Nuel mengajak kami bertiga kumpul di tempat makan murah. Wajahnya songong seperti biasa, tapi kelihatan sekali berkerut kaya daun kuping gajah. Banyak hal berkelit kusut dikepalanya, ditambah saya dan Satria yang mulai jaga jarak dengan kegilaannya yang semakin aneh. Nuel bercerita menggebu tentang kebingungan, tentang petisi, tentang kami, tentang mereka. Sejujurnya, diantara kami bertiga mungkin saya lah yang paling, hmmm, ya, dungu. Saya kadang tidak begitu paham dengan antek-antek konsep, dengan filosofis, dengan hal-hal yang menurut saya ribet banget kalo dipikir. Singkat kata saya ga ngerti sama apa yang dipermasalahkan Nuel.

Satria disini juga bermasalah. Entah apa dia meminum terlalu banyak arak cina sehingga bukan cuma punya jurus mabuk super edan, tapi Satria kehilangan auranya. Kehilangan daya magisnya. Kalo Nuel terlalu banyak menggunakan magis, Satria kebalikannya. Saya yakin mereka akan saling bunuh ketika sedang sama-sama mabuk arak cina, disamping karena punya masalah rahasia, sebenarnya mereka ini ga akur. Dari pemikiran, pola menyusun strategi, sampe selera pemilihan topi. Tapi karena posisi kami bertiga sekarang kritis, maka toleransi adalah hal yang paling masuk akal sekarang. Lagipula kenapa juga harus ribut saat semua bisa diselesaikan tanpa kalang kabut?

Malam itu saya bicara seadanya. Selain saya percaya Nuel adalah pria super cerdas yang otaknya bisa dengan mudah mendorong impuls-impuls solusi bekerja, saya sendiri hanya peduli dengan misi yang dipercayakan Nuel sejak awal. Saya hanya peduli dengan itu. Tapi saya ingin dua munajat-munajat ini kembali menularkan daya magis mereka, dalam segitiga, atau dua mata. Makanya, saya malam itu hanya ingin mendorong mereka. Mendorong. Karena saya butuh kekuatan magis mereka. Bukan aura kosong macam keripik sagu.

Kemudian kami berjalan lagi beriringan berbulan-bulan. Daya magis mereka semakin lama semakin kuat. Sampai tahun organisasi kami berlalu, kami bertiga rasanya sudah sedemikian lelah. Sama-sama mencicip gagal, dan mencicip kebangkitan. Sama-sama berseteru dalam diam, sama-sama menularkan magis.

Pagi ini saya merindukan mereka berdua. Kami terpisah proses baru yang tidak kalah rumit. Kami sama-sama sedang menciptakan magis pribadi untuk melangkahkan kaki kami sendiri. Saya rindu Satria, saya rindu melihatnya joged gondes a la boyband Korea, melihatnya lari gemulai tapi kencang, melihatnya tidur dengan mata setengah terbuka, melihatnya melakukan hal konyol yang lucunya bikin berdesis "rrrrr". Tinggal Satria yang masih memegang status mahasiswa. Saya rasa apapun statusnya sekarang atau nanti, dia akan terus jadi seorang ksatria, yang berwajah penggiat arak cina.

Nuel. Dia si tuyul mesum. Tidak bisa jomblo lama-lama, katanya. Orang yang pintar sekali, kritis, berani, nekat, jenong, rambutnya tipis, dan apapun yang sedang terjadi dengannya, dia selalu terlihat menarik. Aura pemimpinnya begitu kuat, menakutkan. Saya rindu melihatnya joged geliatan kaya cacing, melihatnya marah sama anak buahnya yang susah diatur, melihatnya memakai topi dan carrier besar, melihatnya mendelik memandangi tulisan di laptopnya yang kecil. Tapi please, sekarang entahlah, dia sudah punya bentuk tubuh bak om om, entah masih menarik atau tidak. Selamat sudah berstatus pegawai.

Saya akan terus merindukan mereka, laki-laki gunung dan laki-laki tebing. Rasanya masa main kita terlalu sebentar untuk saya akhirnya bisa mengenal mereka lebih kompleks lagi. Setahun yang curam. Lumayan. Maaf ya guys kalo saya banyak merepotkan dan entah punya daya magis buat kalian apa enggak. Saya menikmati setahun berkembang bersama kalian kalian ini, dan mereka yang ikut kita rangkul erat.
Palapsi itu terlalu ajaib untuk tidak saya cintai.
Salam rindu,
Mbak Seksi.

No comments

Post a Comment

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.