Old Lady

28 November 2014
Since I was very young, I never enjoy have a (long) chit chat with my grandmas. No, not because they're annoying or fussy, not because they're old-fangled, not because they're can't talk like the way we are. But, you know, grandma was just very kind, they're super tender, charitable, and every time I saw them, it feels like I wanna get pampered for real and hug them for eternity. Karena itu, saya kadang jadi serba takut kalo ketemu nenek. Takut ngerepotin karena nenek selalu memenuhi apa yang cucunya mau, terus takut pas lagi ngobrol bersemangat, tangan saya melayang-layang malah kena muka nenek. Atau pas lagi heboh banget cerita abis main di sekolah, nenek kaget liat saya bergaya a la a la Tarzan (bahkan nenek sampe elus elus dada). Jadi untuk mengakali itu, saya biasanya bercerita mengenai hal-hal yang sedang kami lakukan bareng, maksudnya biar sambil beraktivitas jadi saya ga akan bawel banyak cerita. Saya seneng banget ngangon ayam sama nenek, masak lepet, kupas bawang, nemenin ke pasar, ngambilin air di sumur, ngasih makan burung merpati, beliin bakso, dikasih uang sangu, dijajanin kue cubit, I enjoyed all the nicest things we did, when they're still as a human (and now they're being my angels).

Tapi bukan ibu tua itu yang jadi inspirasi tulisan ini, melainkan IBU IBU NYEBELIN DI KANTOR! (Harus banget di caps-lock karena lagi emosi hahahahaha). Tenang, ini bukan tulisan yang berdosa karena mengajak kalian untuk (menikmati) ghibah, kok. Tapi melalui pengalaman dengan ibu-ibu nyebelin ini, saya ingin menulis sesuatu untuk diri saya kelak ketika ada di fase seperti mereka.

------------------------------------------------------


Diriku yang sudah ibu-ibu,

Pake skin care apa sekarang? Saat nulis ini, saya pake Ultima II yang Hydra Botanic, semoga itu menjadi investasi yang baik dan kamu menikmati hasilnya dengan bangga. Oh, pinsil alis masih di bawa terus kaaaan?

Jadi, apa yang sedang kamu lakukan? Masih kerja atau sedang menunggu nasi tanak sambil baca majalah? Apapun itu, saya yang berusia 24 ini mencoba mengingatkan (demi kebahagiaan kita berdua), untuk terus menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Itu pesan nenek dan kakek, dan pesan semua ustad yang pernah kita temui. Saya baru saja bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sangat menyebalkan, yang merusak pagi gembira saya hari ini (dan pagi pagi yang lalu lalu lalu) -yah jadi ghibah. Pokoknya gini, ingatlah, bahwa ketika kita tua, ketika usia sudah kepala 3 dan kepala berikutnya, ketika kamu merasa sudah banyak ilmu dan pengalaman yang kamu punya, ketika kamu merasa bahwa menasehati dan memarahi anak muda (apalagi di depan umum) adalah hal yang keren, maka saya sarankan kamu untuk duduk.

Duduk lah di halaman, tanpa sendal, dengan baju yang longgar, basahi tenggorokan mu dengan seteguk kecil teh manis hangat, lalu pandangilah langit. Rasakan tekstur kasar tanah dan lembutnya sentuhan rumput yang baru tumbuh, nikmati angin yang masuk lewat rongga longgar bajumu, lihat lah langit yang luas menguasai jarak pandangmu, dan tersenyum lah, karena Tuhan juga sedang melihatmu. Melalui langit, Ia mengingatkanmu bahwa kamu tetap manusia-Nya yang rapuh, yang masih haus ilmu, yang masih harus berjuang, yang masih harus menghargai orang lain. Melalui tanah, Ia mengingatkanmu bahwa masih di bumi-Nya kita hidup, masih ada langkah yang harus kita tentukan arahnya, masih ada hidup yang harus kita beri nafas.

Intinya sih, keep calm and be happy with others. Remember for never never ever stop learning and reading (and swimming). Baca buku, dengarkan cerita baru dari para youngster, have a nice babble with your friends, watch TV and state with your husband about politics, economics, movies, new comer singer, football, and many things that interests you both. 

Karena kita hanya sendiri ketika mati, maka hiduplah dengan damai dan bersenang-senanglah!



Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!