SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

YOLO? Really?

Gambar dari sini
Hari Minggu kemarin, saya mendapati salah satu grup WhatsApp sedang berbagi berita soal mahasiswa yang meninggal setelah terpeleset ke kawah dari Puncak Garuda Gunung Merapi. Salah satu teman pun mengirim sebuah capture screen tulisan orang lain (baca: dia pernah melakukan hal serupa, dia selfie terus caption-nya panjang banget) yang menyebutkan kalau aktivitas ini sangat precious untuk dilakukan dengan alasan Y.O.L.O. Cuy, serius?
--

Saya bukan penggiat mendaki gunung, tapi saya bukan tidak pernah merasa hampir mati karena beraktivitas di alam. Lima tahun silam saya pernah arung jeram di Kali Progo section bawah which as known as the biggest river in Central Java that time. Sebelum erupsi Gunung Merapi di akhir 2010, Kali Progo adalah sungai paling sangar yang pernah saya arungi.

Akhir pekan siang itu kami bertujuh di perahu karet dan satu orang di perahu kayak mengarungi Kali Progo. Kondisi saat itu air normal tinggi, cuaca panas terik, dan tidak ada pengarung lain selain kami. Skill orang dalam perahu karet paling tinggi grade 3+ dan paling rendah grade 2+. Semua persiapan mulai dari latihan, jogging, briefing kegiatan, dan persiapan lain yang menunjang pengarungan di akhir pekan sudah kami lakukan dengan maksimal. Percaya diri dan yakin dengan teman satu tim jadi pelengkap kita berani arung jeram di sungai yang pernah menewaskan dua senior kami puluhan tahun silam.

Tapi pengarungan tidak semulus yang kami harapkan. Kami mengambil jalur yang salah dan mengakibatkan perahu kami masuk dan terjebak di hole besar tengah-tengah sungai. Lima orang "tumpah", dua orang tersisa di atas perahu. Yang buruknya lagi adalah kami ada di tengah jeram paling panjang di sungai itu and it was really such an nightmare rapid I've ever tried: Jeram Fear. Saya dan beberapa teman lain hanyut dan harus self rescue di jeram sepanjang 300an meter. I told you that I felt I'm gonna end my life here, my last breath is in the water, deep down in the river. Saya beberapa kali terjebak dalam pusaran air yang bentuknya seperti pusaran mesin cuci. Saya tidak bisa meraih permukaan. Saya tidak bisa bernafas sama sekali. Tiba-tiba saya melihat bayangan Mama, wajahnya tanpa kacamata, memakai daster, memandang pasrah. Mengerikan. I closed my eyes, I can't pray, I can't cry. Lalu, dalam sepersekian detik yang tidak berasa, ada arus di bawah kaki yang mengayunkan tubuh saya dan seketika saya melihat cahaya. Saya mencapai permukaan dan meraup udara sebanyak-banyaknya, entah ada apa di depan, kanan, kiri, belakang, pokoknya saya bernafas dulu. Beruntung dayung, pelampung, helm, peluit, kacamata, semua masih lengkap melekat menjaga hingga saya bisa aman tanpa celaka tambahan.

Saya luar biasa bersyukur saat akhirnya bisa mencapai daratan. Saya menangis sejadinya dan kemudian di peluk oleh teman yang lain. And after that, I promised I will practice better.

--

Tuhan memberikan kejadian seperti itu saya yakin bukan iseng. Dia sedang menyentil kami yang suka sombong, kami yang suka meremehkan, kami yang sok jagoan. Saya bersyukur itu masih sentil, bukan marah. Berpetualang di alam jelas mengandung risiko, tapi jangan jadi orang tolol yang memakan risiko itu bulat-bulat. Organisasi saya selalu mengedepankan Safety Operational Procedure, selalu mengutamakan proses yang baik, selalu harus ada back up plan, semua hal itu ga lain untuk keselamatan kita semua, untuk petualangan yang aman dan nyaman.

This is not about Y.O.L.O, please it is really not. You can say you only life once, but you know you only die once too right? Menggunakan equipment yang aman, bermain dengan tim yang kamu yakin mereka mampu dan percayai, mengasah skill dan knowledge, semua dilakukan untuk menjaga dirimu agar bisa berpetualang lagi di kemudian hari kan? Kalo kamu lihat teman-teman lain melakukan hal serupa namun hanya dengan bermodal nekat dan 'yakin bakalan beruntung', satu hal yang perlu kamu lakukan adalah gaplok kepalanya! Gaplok! Gaplok yang kenceng sampai sadar kalo itu high risk dan berbahaya. Tell them, please don't be silly, love your life, because we love you.

I love rafting, I love mountain climbing, I love the smells of adventure, I love the way we have fun with responsibility. My heart is broken when I heard someone dead because of their slovenliness, and now my heart is broken. Deep condolence to the dearest Eri Yunanto, may you rest in peace.



much love,


No comments

Post a Comment

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.