Financial Dating: Set!

8 June 2015
Bulan November lalu saya pernah bercerita mengenai financial dating yang saya dan Mas Gepeng lakukan, membahas bagaimana persiapan dan kehidupan keuangan kami kelak ketika berkeluarga. Ternyata rasanya membahas di bulan November dan sekarang sangat jauh berbeda. Sekarang lebih deg-degan, lebih terasa real, dan harus benar-benar matang diperhitungkan. Obrolan semacam ini memang sering ada di antara kami, isu-isu keuangan ga jarang kami bahas ketika sedang makan -insecure banget anak bawang mau hidup survive berdua hahah. Beruntung obrolan semacam ini ga bikin kami eneg dan merusak nafsu makan, karena entah kenapa, membahas rencana keuangan ini bikin pundak kami terasa lebih ringan setelahnya. Terlepas dari sudah dilakukan atau belum, tapi kematangan rencana membuat kami lebih percaya diri menghadapi kehidupan kami kelak.

Financial dating paling ngena’ adalah ketika kami sedang makan di Andakar Cilandak dan melihat sebuah keluarga duduk di depan kami. Keluarga itu memiliki 4 anak dan sepasang diantaranya kembar. Jarak usia anak-anak mereka pendek, yang paling besar mungkin kelas 3 SD dan yang paling kecil (kembar) berusia 3 tahun. Menurut pengamatan saya (kalo ga salah ya), yang bekerja adalah si ayah, sedangkan si ibu adalah ibu rumah tangga atau menjalani profesi lain yang dikerjakan di rumah. Melihat mereka, dan melihat diri kami yang sama-sama bekerja dan belum punya banyak uang rasanya perlu rencana yang lebih matang untuk persiapan hal-hal yang akan kami hadapi di masa depan. Kalo misalnya nanti saya punya anak sebanyak keluarga tadi, nah anak kembar saya sakit dan anak yang pertama mau masuk SD, sedangkan saya sedang mengurus perbaikan mesin cuci. Terus gimana tuh uangnya? Nah, meminimalisir ketidaksiapan kami akan hal-hal ga terduga itu lah yang bikin kami rajin ngobrolin masalah finansial.
Kalau mau tahu apa saja yang kami bahas dan putuskan belakangan ini, baca lebih lanjut, ya.
Sudah dapat tempat tinggal?
Sudah, sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Apartemen ini saya sewa dari seorang teman dan beruntungnya, apartemen ini sudah full furnished lengkap dengan AC dan kulkas. Memang apartemen ini mungil sekali, hanya ada dua ruang utama yaitu kamar tidur dan ruang keluarga (yang semuanya ngepas banget ukurannya). Tapi untuk kami berdua, ini sudah sangat cukup. Kami banyak keluar uang dalam mempersiapkan pernikahan, jadi dengan apartemen full furnished seperti ini dapat menghemat banyak uang kami karena tidak perlu membeli kasur, kulkas, AC, kursi, lemari pakaian, cermin, kursi, dan lemari dapur.

Terus belanja apa buat isi rumah?
Saya pernah hidup 4 tahun di Jogja dan 7 bulan di Medan. Hidup merantau di dua tempat itu menyisakan banyak perabotan anak kos yang masih saya simpan sampai sekarang (kalian harus tau kalo saya ini cinta sama barang-barang yang masih bisa dipake heheh). Lemari kecil, kotak-kotak penyimpanan, termos makanan, teko pemanas air, penggorengan, piring, sendok, gelas, semua ada. Mas Gepeng juga di Jakarta hidup ngekos dan barangnya lumayan masih usable. Jadi palingan beli sapu, tongkat pel, tempat sampah, pisau dapur, kompor, gas, keset, gitu-gitu deh. Lumayan hematnya.

Rencana keuangan seperti apa yang disiapkan?
Dua rekening payroll kami akan dibagi ke 3 kluster pengeluaran yaitu saving, survive, dan having fun. Kluster saving kebagian 37% yang isinya ada tabungan rencana, tabungan cash-ready, tabungan untuk anak sekolah, tabungan tambahan pensiun, premi asuransi jiwa, tabungan haji, tabungan akherat, dan investasi. Kluster survive dapet 53%, isinya hal-hal kebutuhan sehari-hari kaya sewa apartemen, servis mobil, servis motor, bayar listrik, parkir, makan, minum, baju, sepatu, dan lain-lain. Nah sisa uangnya masuk di kluster having fun yang isinya tabungan jalan-jalan dan jajan make up hahaha. Pengeluaran ini harus tertib kalo mau makan enak dan tetep bisa jalan-jalan. Selain disiplin, evaluasi juga perlu untuk lihat pos mana yang kebanyakan atau pos mana perlu subsisi silang.


Ga jadi pinjem uang di bank?
Alhamdulillah Mas Gepeng gajinya naik hihihi. Ga jadi pinjem uang di bank deh :')

Eh, ada investasi?
Ada dong. Orang ‘buta’ perekonomian seperti kami sangat sulit untuk memprediksi nilai tukar dan laju inflasi di beberapa tahun ke depan, yang kami tau adalah nilai uang akan semakin menurun dari tahun ke tahun. Saya sudah banyak cari informasi soal jenis investasi mulai dari reksadana, tabungan berencana, asuransi pendidikan, penanaman modal, tabungan valas, dan sebagainya. Meskipun saya sudah tau investasi mana yang pas untuk kami, tapi ilmu investasi saya masih sebesar lubang idungnya Upin Ipin. Saya perlu belajar banyak dulu sekalian melihat pos-pos keuangan kami nanti apakah sudah tepat atau belum.

Tabungannya banyak bener? Foya-foyanya kapan?
Well, I can say that we are crazy about saving. We love saving. Malah kalo bisa nambah, saya tambah deh. Kalo urusan foya-foya, saya dan Mas Gepeng adalah orang yang suka menghamburkan uang untuk makan. Nah pos makan harian kita tuh gede lho, itu tuh yang kita sebut foya-foya. Tambahan foya-foya buat saya adalah jajan make up dan skin care, dan itu lumayan posnya tiap bulan.

Optimis banget rencananya bakal sukses? Susah lho.
Emang susaaaah makanya direncanain. Hidup berumah tangga ini serius lho, hidup beneran pisah dari orang tua, mandiri, sendiri, memulai, membangun, wah pokoknya serius. Pokoknya optimis!

Begitulah progresnya. Penasaran besok kaya apa yaaa hidup jadi istri yang mengatur keuangan keluarga. Susah si emang, tapi kan sama suami jalaninnya, ga jalan sendiri. There's no need to worry, t
ogether we'll survive through the haste and hurry hahaha ahseeeekk. Gitu deh. Sekian update-nya. Kalo kamu punya saran atau share pengalaman mengatur uang keluarga, tulis aja di kolom komentar dan saya akan sangat senang membacanya. Have a good day!



a great wife-to-be,
Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!