A LIFE FULL OF STARS

1 September 2015


Been a month playing a new role as a wife, I got some lemon-mojito-feeling. Mereka bilang jatuh cinta berjuta rasanya, dan menjadi seorang istri juga rasanya sangat berjuta-juta. I mean it. Hidup rasanya berjalan lambat namun kaget ketika bangun di akhir pekan. Banyak hal yang ingin saya lakukan, waktu terasa sedikit, tapi semua yang dijalani rasanya nikmat sekali seolah berjalan sangat perlahan. Mereka juga bilang, tahun-tahun pertama pengantin baru memang terasa sangat indah. Belum ada marah, belum ada tekanan berat, belum muncul kesulitan-kesulitan, belum ini itu. Semua sedang berjalan dengan sangat menyenangkan. And I pretty sure it wasn't a myth. 

Tapi saya sadar, hidup akan semakin menegangkan di depan sana. Ups and downs are waiting. Saya dan Mas Gepeng akan bertemu tantangan-tantangan baru setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya akan tunggu tanpa terburu-buru, sambil menikmati kehidupan pengantin baru, kehidupan yang seru setiap harinya. Saya ingin berbagi hidup sebagai newly-wed sebulan ini, supaya jadi pengingat juga untuk di kemduian waktu bahwa saya pernah mengalami ini. Through this postI'm sharing with you my life in August as a wife. If you're interested, feel free to read more!

Someone in your bed
To be honest, in the past a year I was slept with my mom everyday, kecuali ketika Bapak pulang dari dinasnya di luar kota. Meskipun terbiasa tidur berdua, bukan berarti saya menjadi biasa saja ketika sekarang ada sosok lelaki terbaring pulas saat saya bangun tidur. Sampai sekarang saya masih suka terkejut, masih suka bingung, lho kok ada orang di kamar? Tapi untungnya ga lama-lama juga bingungnya karena langsung saya peluk.

Satu hal lagi yang masih membuat saya bertanya-tanya adalah, sekarang tidur saya ga lasak lagi! Sebelumnya ketika tidur sendiri, saya tidak pernah tidur dalam satu macam posisi. Saya akan berputar hampir ke seluruh arah mata angin, atau kadang saya tertidur dengan kaki tertekuk ke dada. Pernah juga saya tidur tanpa bantal guling karena semuanya saya tendang jatuh hahahah. Tapi sebulan ini, gaya tidur saya sangat sangat konsisten. Saya tidak lasak kesana kesini, tidak ada tendang menendang, pokoknya tidur kayak putri raja. Anggun. Berkah menikah? Entah. Tapi setidaknya ini perubahan positif. 

What to cook vs what to eat? 
Yang saya sadari saat ini adalah ternyata ada kesenangan yang berbeda ketika memasak untuk suami sendiri -even basically I love to cook. Makanya pas dapet hadiah pernikahan perkakas dapur dari beberapa teman, saya seneng banget girang loncat loncat. Semangat masak masih berkobar meskipun saya baru punya single stove, sendok garpu seadanya, satu buah wajan dan satu buah panci. You know what, waktu memasak selalu terasa therapeutic untuk saya. It feels like you have your own territory at home and you are the boss. It feels like you're the best chef in the world because your husband will eat up whatever you are cooking. Nice, huh? Tapi yang namanya tukang masak kelas anak ayam, ga mungkin masakannya langsung kece juga sih. Mushroom saute pertama saya kacau banget, hahahaha. Jamurnya over-cooked, bumbu kurang tajam, rasanya nyaris hambar, warnanya item jelek, kacau lah. 

Even cooking time is always be one of my favorite, it give me such a dilemma sometimes. Saya sekarang memasak bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga buat suami. Apa yang saya masak harus mendukung kesehatan dan kebutuhan kami berdua dan itu cukup menantang ternyata. Saya batasi penggunaan minyak untuk menggoreng (masih belom bisa makan makanan yang ga ada unsur gorengnya hahahaha), kadang di ganti minyak zaitun kalo lagi pingin. Saya harus memasukan unsur sayuran pada setiap lauk yang di masak dan/atau ada sayur sebagai pelengkap hidangan. Jumlah nasi kami batasi, cemilan hanya sesekali, dan setiap hari bekal minuman infused water. Komposisi makanan harian atau mingguan harus dipikirin banget antara karbohidrat, protein, serat, dan lain-lain. Belajar pelan pelan, hal baik yang ditanam perlahan akan tumbuh menjadi hal baik yang lebih besar ya kan?

Tugas Rumah Tugas Kita 
Slogan kerumahtanggaan yang dulu saya kira akan jadi hal yang sangat mustahil untuk terjadi. Saya tau Mas Gepeng terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga -selain karena dia rajin bantuin ibunya di rumah, kostan Mas Gepeng dulu termasuk bersih juga, tapi saya tetap sangsi dengan pekerjaan rumah yang akan banyak kita lakukan secara mandiri. Saya sudah membayangkan encok yang akan muncul ketika saya memasak, setelahnya cuci piring, lalu rendem cucian, di sambi nyapu ngepel, lalu bilas cucian, jemur, beresin tempat tidur, huaaaaaahh encooookkk!

Tapi (nah ini ada tapinya haha), ternyata ga begitu juga kok. Mas Gepeng sangat helpful. Ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, dia pasti enggan sendiri kalo nganggur atau santai-santai. Contohnya pas saya lagi masak, Mas Gepeng pasti ngerjain sesuatu kaya nyapu, beresin kamar, atau sikat kamar mandi. Dia juga selalu cuci piring (khususnya saat wastafel kami mulai rusak). Jadi tugas rumah tidak ada yang terasa berat, karena jadi tugas kita. Asyik ya. 

Me Time 
Salah satu hal yang secara otomatis berkurang setelah menikah adalah me time alias waktu berkualitas bersama diri kita sendiri. Saat pacaran, saya masih bisa memiliki me time untuk sekedar merenungkan beberapa hal sendiri, mengisi waktu senggang dengan menggambar, menulis, membaca majalah, membaca buku, merencanakan sesuatu, atau sekedar jalan-jalan naik mobil entah kemana.

Sebulan menjalani hidup berumah tangga, me time hampir bisa dibilang belum ada kesempatan karena masih euphoria menikmati waktu setiap hari sama suami. Toh kami ga hanya membicarakan hal sehari-hari, tapi juga berita terkini, gagasan, dan beberapa hal yang sering terbuang menjadi teka-teki tak terjawab. Tapi beberapa waktu lalu saat beres-beres rumah, saya merasa kasihan dan bersalah melihat majalah serta buku-buku saya teronggok terlupakan. Mencuri waktu membaca ketika buang air tidak menunjukan betapa saya sangat butuh dan sayang sama mereka. Akhirnya saya bicarakan keluhan ini ke suami dan meminta sedikit waktu untuk saya menikmati membaca atau sekedar blog walking memenuhi hasrat mencari informasi. Let's see what happen next. 


Itu beberapa hal yang sejauh ini terasa sangat dinamis di kehidupan baru saya. Memasak, mengurus rumah, menikmati hobi, dan bekerja kantoran. Seems I need more than 24 hours to get all things done. Saya sedang menyiapkan pesta kejutan kecil untuk suami karena seminggu ini dia sedang mengerjakan proyek besar dan sangat sibuk, wish me luck!

P.S.: Kalian boleh menghina alis saya pada foto diatas, its embarrassing really hahahahaha.
Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!