Today I'm Going to Shoot Someone

25 September 2015


Kalau saya ingin membenci tanggal 25, maka tanggal gajian sebulan yang lalu lah yang paling menusuk hati saya berdarah-darah. Yang akan saya angkat disini adalah salah satu moment di kantor yang sangat membekas bahkan rasanya seperti luka bakar besar di wajah yang saya jaga setengah mati mulai dari pake lima macam serum di pagi hari dan menutup dengan dua serum paling mahal di malam hari.

Setahun sudah saya mencari nafkah di perusahaan besar ini. Jika ditanya dimana saya bekerja, tidak sulit menemukan intonasi bangga saat saya lantang percaya diri menjawabnya. Alasannya bukan karena banyak orang lain yang tidak seberuntung saya bisa diterima disini, atau karena perusahaan ini menghasilkan laba puluhan triliun dan beberapa kali mencatatkan namanya di sejumlah penghargaan. Alasan utama saya bangga dengan perusahaan ini adalah karena dia mampu membuat saya berhasil memenuhi tantangan yang disodorkan bertubi-tubi dan saya melaluinya, saya memenuhinya. Imagine that was one of my highest point in life because I can survive through the weirdest thing I've learn ever -and the company achievements complete my pride.

Saya senang disini, bekerja menjadi staf di bagian learning and development merupakan hal yang membuat saya semangat sehari-hari. Dan setahun kemudian ini adalah saat yang baik untuk dilakukan asesmen. Catatan pencapaian saya tidak buruk, bukan best performance juga karena saya baru punya sasaran kinerja utuh baru tahun ini. Singkat cerita,  saya sudah waktunya dilakukan asesmen untuk melihat sejauh apa pemahaman saya dengan apa yang saya kerjakan sehari-hari.

Di dalam ruangan ada dua atasan saya, yang pertama atasan langsung, yang kedua atasannya atasan langsung saya. So the one and half hour passed by like a tank running on muddy roads. I'm failed. I'm failed almost everything. Saya tidak menguasai ketentuan yang mengatur seluruh aktivitas saya. Yang saya kuasai adalah apa yang saya lakukan, apa yang saya pahami melalui learning by doing. Yang bisa saya ceritakan hanya segelintir dari apa yang saya kira sudah benar karena tidak ada yang kacau dari apa yang saya kerjakan. Tapi di momen asesmen ini, saya di tampar pake pukulan kasur kapuk dua juta miliar kali.

Atasan langsung saya sangat baik. Dia terus membimbing saya untuk menjawab dan memahami apa yang mereka maksud. But I was the men who embarrassing, mempermalukan dia yang setiap hari selalu membantu saya memperbaiki pekerjaan dan memperbaiki diri. I didn't care about how stupid I look, my tongue stiffed, my mind frozen, tapi saya sangat peduli dengan orang yang sangat baik tapi saya malah menjadi si gagal yang merusak semuanya. Damn! Shoot me now!

Pulang ke rumah, saya cuma ingin menangis. Saya tidak perlu daging sapi setengah matang dengan saus jamur, atau es krim, atau apapun. Saya hanya ingin menangis sendirian saja. Di kamar. Sampai capek.

And yes I did crying as hard as when I was hurt. Menangis sampai lelah. Sampai kering dan mata terasa panas tidak terhidrasi. Saya hanya menangis terus menangis sesenggukan. Beberapa kali memanggil Mama dan menangis lagi. Saat itu yang saya tau, saya hanya bisa menangis. Tidak ada yang lain selain menangis.

Kemudian sesuatu muncul begitu saja. Saya tidak tau apa yang dilakukan gugusan neuron berkapasitas rata-rata di kepala sampai mampu memunculkan rencana perbaikan diri yang tertata rapih (atau mungkin ini sebenernya kejadian ilmiah yang biasa dialami oleh banyak orang, but I still surprised). Saya tau apa yang harus saya lakukan. Saya tau apa yang harus saya kejar. Saya tau path untuk memperbaiki ini. Saya lalu keluar kamar dan bertemu suami yang membuatkan secangkir teh hangat. Oooh thanks God I have a loving husband.

Kita ngobrol. Apa yang saya alami hari ini. Apa yang membuat saya sangat sedih. Apa yang akan membuat saya lebih baik. Apa yang bisa saya ambil dari hari ini. Dan apa yang akan saya lakukan untuk memperbaiki ini.

Sekarang sudah sebulan sejak kejadian itu, I do feel a lot better. Knowledge I've missed and time wasted without reading the manual, saya ingin menebusnya. Saya mulai hati-hati sekali sekarang. Saya tidak bisa seenaknya seperti dulu dulu itu. Saya tidak ingin apa yang sudah saya korbankan untuk berada disini, apa yang sudah saya tempuh untuk sampai sini, hangus berabu hanya karena saya tidak belajar dengan baik.

Dan hari ini, tanggal 25 September, atasan langsung saya mengucap salam perpisahannya untuk resign mengejar mimpinya yang lain. You're really a good Dad here, you know, Sir. I owe you my never give up. Semoga apa yang sudah Anda tanam disini, tumbuh menjadi pohon sejuk yang berbuah lebat. What you have been done here to guide us, to complete our target, to push our limit, is totally the best of you can give. Thank you. Thank you.

Look at the fingers above saved legally from Keri Smith web site. Banyak hal ditulisnya disitu. Banyak hal menarik. Di tangan seorang perempuan (khususnya), banyak sekali hal yang ingin dia lakukan. Bekerja, main di taman, olahraga, membaca buku, mandi dengan olive oil soap, pijit, melihat laut, bermain di tengah ladang ilalang, makan pasta, belajar merajut, mencoba membuat opor ayam. Saya suka hal-hal kecil lain yang bisa saya raih di luar kantor atau di sela pekerjaan. But my official job is here, a banker. Saya tidak boleh mengkhianati kontrak yang saya tandatangani dengan sadar. And you know, working life is more beautiful if you're on fire everyday (and the little things it also adds to your day). Saya sangat berharap tulisan ini bisa bermanfaat untuk saya suatu hari nanti, sebagai pengingat bahwa saya bukan orang cemen.

So today I'm going to shoot someone: me.
Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!