Pria yang Baik

15 October 2015

Bisa simpan rahasia?

Hampir setiap malam, ketika suami saya sudah terlelap dalam mimpinya yang kadang tidak terstruktur, saya sering sekali terpaku memandangnya. Melihat gurat matanya yang tertutup, alis tebalnya, hidungnya yang besar seperti Ronald McDonald, pori-pori yang menguapkan hangat dari keningnya, bibirnya yang tidak seksi sama sekali, oh langit, dia ini manusia apa sih?

Saya kadang masih bertanya, apa yang membuatnya bisa mengisi hidup saya saat ini? Apa yang dia cari?

Tidak banyak hubungan yang saya jalin dulu ketika masih lajang. Sebagian besar hanya bertahan dalam hitungan bulan, bahkan cenderung tidak berstatus sama sekali. Jika ingin menjadi perkasa, saya bisa menyalahkan mereka yang tidak bisa menjadi kekasih yang semestinya. Namun jika ingin menjadi si terpuruk, saya bisa menyalahkan diri saya yang tidak menjadi penyayang yang baik. Saya pilih keduanya, sampai akhirnya saya merasa mungkin saya tidak cocok untuk hal seperti ini.

Saya percaya Tuhan punya sesuatu yang ingin Dia tunjukkan pada saya dengan caraNya yang mustahil untuk di terka. Doa saja yang banyak, Tuhan pasti dengar, begitu saja keyakinan tersirat sembari banyak mencoba menguliti kesalahan yang pernah saya buat.

Sampai ketika ada seseorang yang tidak asing, menunjukan sebuah wadah buatannya, memberikan kesempatan pikir saya ingin berada didalamnya atau membiarkan wadah itu untuk kembali pada tuannya. Saya kecut, tidak percaya ini akan berhasil. Namun apa yang Tuhan tunjukkan? Sebuah jalan.

Pria ini bukan yang si genius dengan kecerdasan tingkat dewa. Bukan si jago matematika atau ilmu filsafat. Tubuhnya tidak masuk nominasi majalah kebugaran pria. Rambutnya tidak berhias kilap licin. Pun dia bukan turunan konglomerat yang bawa mobil mewah keluaran masa kini. Pria ini biasa saja, tampaknya. Bukan yang akan menarik perhatian wanita ketika dia berjalan melangkahkan kaki di sebuah kafe.

Dia pria yang baik. Tidak bermaksud menerjemahkan dia menjadi sesuatu yang sangat general, tapi dia benar-benar adalah pria yang baik.

Ketika banyak pria mencoba memahami saya, dia mengajak saya mengenal arti saling. Ketika banyak pria memperlakukan saya tidak pantas, dia menghormati saya setinggi-tingginya wanita. Ketika banyak pria kehabisan akal untuk menghadapi egoisnya saya, dia yang menunjukan bahwa manusia ini tidak sedangkal itu. Ketika banyak pria yang menyerah, dia tidak pernah sekali pun.

Ketika mereka hanya berusaha sebentar, dia tidak pernah berhenti.

Ideal? Bukan. Dia pria baik. Dia tidak akan membiarkan saya memiliki perilaku yang buruk, apalagi merugikan saya sebagai pribadi. Dia tidak akan membiarkan saya melakukan kesalahan berkali, apalagi yang menyakiti orang yang ingin saya jaga. Dia mengembangkan saya, disaat semua orang menganggap saya tidak berkembang. Apa yang bisa lebih sempurna dari ini?

Mengingat setahun lalu saat masih sama-sama merangkai hubungan, saya tidak paham kenapa yakin sekali dengan pria ini. Segalanya yang mudah terasa menggembirakan, yang sulit membantu kami tumbuh bersama. Tidak ada satu pun yang tidak setuju, tidak ada satu pun yang ragu. Baru tau, ini mungkin yang disebut semesta mendukung, dan baru kali ini rasanya sangat ajaib.




Di tengah lelapnya yang khusyuk, saya sangat mensyukuri adanya dia di sebelah saya saat ini. Mensyukuri hidup yang saya pilih. Mensyukuri ada seorang pekerja keras lelap dalam peluk seorang wanita yang dia perjuangkan. Mensyukuri sakit dan sehat yang silih berganti hinggap. Mensyukuri nyenyak kasur di rumah sewa kecil. Mensyukuri butir nasi dan sesap sayur mayur sederhana hasil coba. Ya, mensyukuri segalanya yang terjadi antara kami. Mensyukuri segalanya yang telah kami lepas dan kami miliki. Mensyukuri.

Semoga akan segera dapat ijin Tuhan, untuk merawat kloning pria baik ini dan membawanya ke kehidupan yang dipandang sangat indah oleh kedua orang tuanya.
6 comments on "Pria yang Baik"

I'd love to hear from you!