Jadi, Bagaimana Yogyakarta? #3

23 November 2015
Wuaaaah sampai juga di bagian terakhir cerita Yogyakarta saya, sebelumnya saya cerita tentang masjid juga tentang makanan. Sekarang saya mau cerita tentang keluarga yang officially menjadi keluarga saya beneran sejak Agustus lalu. Saya ingin perkenalkan keluarga baru saya, mereka adalah ibu mertua (yang selanjutnya akan saya panggil Ibu) dan adik ipar yang akan saya sebut Dajeng -nama panggilan. Kakak ipar saya tinggal di Banjarmasin bersama keluarganya, sedangkan Bapak sudah menetap lama di akhirat. Yogyakarta kini tidak pernah lepas dari mereka. Selain karena pasti menginap disana, bertemu keluarga selalu terasa menenangkan seperti tempat yang selalu terbuka dan menerima mu dimana pun. Saya menghargai sekali perasaan seperti itu.

- Part 3 -

Ibu dan Dajeng

Ibu seorang dosen di perguruan tinggi swasta di Jogja, baru memiliki smartphone, bergabung di beberapa grup chat berisi orang-orang lawas, bentuk badan hourglass, alis biru, mata sangat sayu, suaranya kecil, dan memiliki kemampuan menciptakan bahasa bahasa a la Ibu. Memasuki usia senja, Ibu tidak mengurangi aktivitas dan pesona ke-pkk-an. Ibu masih naik motor kemana-mana, aktif di berbagai aktivitas, dan terlibat dalam kegiatan internal keluarga. Ibu masih bisa menikmati stand up comedy, meski kadang Ibu gagal dalam mempraktekan ulang kelucuannya.

Dajeng, bisa dilihat dia ini replikanya Dewi Persik. Badannya sintal, 'atas bawah' besar, matanya sayu intimidatif, kulitya eksotis, rahangnya jelas, rambutnya tidak alami, yang membedakan ada 2, bibir dan prinsip hidupnya. Dajeng bekerja di kantor notaris sebagai dirinya sendiri. Latar belakang hukum terasa berjodoh sekali dengan kepribadiannya yang prinsipil dan tegas. Mengingat orang di pengadilan suka menggunakan rambut palsu putih, saya rasa kesukaan Dajeng mengutak-atik rambutnya sudah nurture dari dalam dirinya. Statusnya masih single and available. Satu hal yang saya suka dari Dajeng adalah, dia langganan Cosmopolitan. Jadi saya bisa numpang baca gratis tanpa perlu beli.

Ibu dan Dajeng kini tinggal berdua saja di rumah. Di bangun berpuluh-puluh tahun silam, rumah keluarga ini menjadi saksi bisu dinamika keluarga Herumarwoto. Rumah ini masih dalam bentuknya yang asli, dengan furnitur yang setia dan aroma khas keluarga yang hangat membuat rumah ini terasa nyaman ditinggali -termasuk oleh beberapa laba-laba, semut, dan tikus yang suka mondar mandir.



Bagian belakang rumah dijadikan kontrakan sederhana. Saya tidak banyak berinteraksi dengan mereka, hanya sesekali mengamati aktivitas dari lantai atas.


Tetangga-tetangga di sekitar rumah Ibu semua ramah. Saya yang belum dikenal pun mendapat kebaikan dan kehangatan khas masyarakat Jogja. Menyenangkan sekali.



Rumah Eyang

Memiliki keluarga inti yang baru, berarti saya pun mendapatkan segenap keluarga besar yang besaaaar sekali. Saya sempatkan akhir pekan lalu untuk berkunjung ke rumah eyang, dimana disana tinggal 2 kepala keluarga yang merupakan Pakde dan Bude Mas Gepeng. Saya suka rumah eyang karena nuansanya jawa banget. Bentuknya, hiasan, furnitur, ditambah ada joglo yang biasa buat acara gamelan atau tari-tarian. Some photos!



Hari itu entah kenapa seorang Bude mau menjelaskan tentang sejarah keluarga. Beliau menjelaskan eyangnya eyang eyang eyang eyang, dari satu foto ke foto yang lain, menjelaskan garis keturunan dari yang paling atas sampai ke Mas Gepeng. Jika bisa saya rangkum, eyangnya Mas Gepeng adalah Sri Sultan HB VII, garis kesananya saya ga paham lagi deh hahaha.




Bude yang tadi menjelaskan silsilah keluarga itu juga seorang pembatik lho! Bu Danas namanya, dan dia merupakan salah satu pembatik kepercayaan keraton. Berbekal pengetahuan yang kaya akan batik dan budaya, Bu Danas selalu membatik dengan tema dan cerita. Ini semua Bu Danas tulis sendiri didapur batik miliknya yang sederhana. Satu buah kain butuh waktu 3 - 4 bulan pengerjaan dan harganya berkisar antara Rp 2,5 - 3 juta per kain. Pernah lho Bu Danas jual harganya Rp 2,5 juta per helai, di bilang terlalu murah dan deal di harga Rp 10 juta untuk 3 buah kain. Keren!


Begitulah cerita singkat keluarga baru saya. Sebuah keluarga penikmat makanan dan haus akan kebersamaann. Keluarga Mas Gepeng seru banget, rame, lucu, ramah, bersyukur bener rasanya bisa menjadi bagian dari mereka. Baiklah, apakah kalian menikmati cerita Jogja saya? Bagian mana yang paling kalian suka?
3 comments on "Jadi, Bagaimana Yogyakarta? #3"
  1. Rumah eyang ny seru bangeet, vintage.. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, rasanya mau bawa pulang semuanya :p

      Delete
  2. Batik e wapiiikk!

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!