Namaste, Nepal!

14 July 2016
Suatu hari seorang pria keturunan Cina campur Jawa duduk memangku anak laki-laki kesayangannya, sambil menggegam sebuah buku cerita. Dengan antusias lembutnya, dia bercerita tentang Keukenhof, sebuah taman cantik di Belanda, dan Nepal, sebuah negara yang dikelilingi puncak-puncak gunung tertinggi di dunia. Anak laki-laki kecil itu merekam segala cerita dari Bapaknya, ia bertekad untuk pergi melihat dunia. Ia ingin mengunjungi Nepal. Hingga sampai saat ia menikah dengan wanita cantik jelita pilihannya, mimpi itu memiliki armada tambahan untuk diwujudkan.

Sejak memenuhi impian suami menjadi kebahagiaan saya, perjalanan ke Nepal juga memberikan antusias tersendiri karena hampir semua orang yang tau kami mau pergi ke Nepal, pada bertanya-tanya jijik, "ngapppppain lo ke Nepal?", "ada apaan disana buset...", "coy, orang-orang pada pergi tuh ke Paris, Bali, Korea, lah lo kok ke Nepal!?", "kamu kok aneh aneh banget perginya, tapi yaudahlah ini cutinya saya kasih". Hal hal itu malah bikin saya penasaran, ada apaan sih di Nepal?

Kami berangkat habis subuh dari Jakarta, transit di Malaysia, lalu lanjut ke Nepal. Tribhuvan International Airport (TIA) Kathmandu dapat diakses dari seluruh dunia dengan penerbangan internasional langsung dari Delhi, Dubai, Abu Dhabi, Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Bahrain, Dhaka, Osaka, Chengdu, Guangzhou, Islamabad, Karachi, dan Hong Kong. Bakalan ada sedikit airport jetlag, apalagi setelah transit lama di Kuala Lumpur karena TIA ini, emm, agak katro ahahaha. Bandaranya sederhana, gak pake AC, berdebu, perabotannya udah usang, bahkan tempat ambil bagasi hanya difasilitasi kipas angin yang gak ada gunanya, tapi tetep ada WiFi (yang cuma kenceng kalo deket routernya) dan air minum galonan gratis kok. 

Nilai plusnya adalah ngurusin visa disini gampang. Setelah keluar dari pintu kedatangan, udah ada stand formulir yang harus diisi oleh orang non Nepal. Ada dua form yang diisi, form permohonan visa dan form kedatangan. Tapi ternyata ada mesin registrasi visa yang udah paperless lho. Kita tinggal tap lembar identitas paspor, muncul datanya, lalu isi data tambahan sesuai permintaan dan ambil foto. Jadi sebenarnya masih perlu gak sih isi formulir? Itu saya gak tanyakan karena saya sendiri masih ngumpulin formulir itu beserta pas photo 3x4 meskipun udah isi biodata juga di mesin visa. Orang imigrasinya juga tetep minta kok. Nah tapi di Mas Gepeng, dia gak ngumpulin formulir sama pas fotonya dan petugas imigrasi gak masalah. Jadi yang mana yang bener gak tau deh hehe. Setelah apply visa, lanjut ke bagian pembayaran. Harga visa untuk 15 hari USD25 per orang. Bayarnya pake USD, minta kembaliannya bisa USD atau minta NPR (Nepali Rupees).

Setelah tuker uang di money changer bandara, kami keluar cari taksi. Paling murah naik taksi itu dari luar bandara, bisa yang masih ada di dalam area parkir atau di luar wilayah bandara sekalian (jalan kaki sekitar 10 menit). Kami naik taksi dari bandara ke Thamel habis NPR500, dan untuk dua malam kedepan kami nginep di Khangsar Guest House yang udah kami booked via Agoda dengan harga USD6.

Jadi, ada apa aja di Nepal? Ngapain aja di Nepal? Gimana di Nepal? Gak sabar banget untuk ceritain semuanya disini! See you in the next Nepal posts!
1 comment on "Namaste, Nepal!"
  1. Waaah. Nepal, destinasi impianku. Can't wait to read more about it.
    Keep me updated! xD

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!