SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

The Mahanagar Kathmandu

Banyak orang yang menganggap Nepal menarik itu karena dia dikelilingi oleh Pegunungan Himalaya, yang berisi puncak gunung-gunung tertinggi di dunia. Karena kami berdua bukan anak gunung, jelas yang dicari bukanlah hiking atau ambisi menghelat upacara sakral di salah satu puncaknya (even kalau pun mau yaa paling di puncak paling cetek lah yang naiknya juga mesti numpang yak-yak lucu). Dan yang kami akhirnya tahu, Nepal is so much more than a country that surrounded by beautiful mountains. Mari kita mulai dari Kathmandu. Ibu kota dari Negara yang bentuknya nyaris persegi ini merupakan kota terluas di Nepal. Letaknya di bagian tengah Nepal, dan dikatakan bahwa Kathmandu adalah satu-satunya kota yang punya status administrasi Mahanagar alias Kota Metropolitan. Ngeri ya. Beneran nih?


Becak-becak di Nepal, masih sangat old school dengan sepeda onthel dan keranda duduk serba seadanya
Kami banyak jalan kaki disini, meskipun banyak juga angkutan umum dari oplet, rickshaw (becak), taksi, sampai bus umum dan tarifnya juga lumayan terjangkau. Hanya saja lalu lintas di Kathmandu itu ruwet banget, jadi jalan kaki buat kami memang lebih nyaman. Buat yang pertama kali ke Kathmandu dan belum pernah sebelumnya tinggal di Medan, saran saya rajin-rajin istighfar saja kalau denger orang pada klakson panjaaaaang pada hal-hal yang kita anggap sepele. Orang sini biasa banget pake klakson pencet dalem-dalem pas naik mobil atau motor, padahal cuma di jalan kecil dan nyuruh ibu-ibu minggir dikit selangkah dua langkah. Ajaibnya lagi yang diklakson pun tidak ada tuh yang ngamuk atau marah-marah. Sabar ya~

Salah satu mural kampanye kebersihan di Kathmandu

Di Kathmandu ada sebuah daerah yang mirip-mirip lah kayak Sudirmannya sini, jalannya besar, kanan kiri pertokoan modern (toko ya, bukan gedung tinggi menjulang), hotel elit, dan bangunan perkantoran. Di jalan besar seperti ini, toko yang berjejer kebanyakan menjual pakaian, mulai dari barang-barang outdoor sampai pakaian modern buat mejeng.

Untuk menuju kesana, kami jalan kaki dari Thamel, dan kebetulan saat itu sedang hujan seharian. Sebelum berangkat kami sudah tahu kalau lagi musim hujan di Nepal, dan pas di bandara ketemu sama orang Singapur yang pernah tinggal di Nepal bilang kalau saat ini hujan sedang deras-derasnya, jadi harus banyak persiapan (hem, persiapan sabar kali ya). Jadi dari rumah kami sudah bawa jas hujan dan kami pakai seharian.

Suasana sebelum jumatan dimulai. Ramai sekali orang-orang berwudhu.
Hari pertama kami di Nepal, pas banget itu hari Jumat. Kami jalan ke arah Bag Bazaar untuk mengantar Mas Gepeng jumatan di Masjid Kashmiri Taqiya (atau ada juga yang sebut Masjid Jamek Kathmandu). Bentuk masjidnya lebih mirip ruko, ada bangunan utama masjid namun pas kami kesana sudah penuh banget jadi solat di bangunan belakang. Masjid di Bag Bazaar ada dua, dan dua-duanya puwwwwenuh banget pas jumatan. Orang-orang terus berdatangan dan mengisi segala ruang kosong untuk solat, entah di tempat parkir, di lorong, di bawah tangga, meskipun masih kena hujan juga mereka tetep solat. Dan meskipun hujan, masih banyak orang yang dateng pakai baju gamis putih!

Berwudhu ramai-ramai di kolam. Benar-benar perlu skill khusus pegang payung sambil wudhu dan menjaga keseimbangan supaya tidak terpeleset.
Tempat wudhu keran air. Memang kondisi air di Nepal tidak begitu bagus, sampai-sampai air wudhu warnanya seperti air sungai begitu.
Tempat wudhunya ada dua: kolam sama keran. Kolam ini dibuat wudhu tapi tidak boleh memasukkan kaki ke dalamnya. Kalau kata Mas Gepeng, air wudhunya asin! Mungkin itu air gabungan keringet orang-orang, hahaha. Kalo wudhu di keran lebih sedih lagi, airnya coklat banget kayak air sungai. Tapi tidak tau asin apa tidak.

Nunggu Mas Gepeng jumatan di rumah orang yang punya banyak tanaman.

Agama mayoritas di Nepal memang Hindu dan Budha, tapi Islam ternyata lumayan banyak juga disini. Pertama kali diperkenalkan pada abad ke V oleh para saudagar Arab yang datang ke Kathmandu untuk berdagang, saat itu lah Islam mulai berkembang. Muslim Kashmir (India) dipercaya sebagai muslim pertama yang stay di Nepal. Mereka berdagang karpet berbahan kulit binatang dan kain-kain yang terbuat dari bulu kambing Kashmir.

Berdoa di pohon
Untuk ritual berdoa agama lainnya, salah satu yang saya temui ada di pusat kota. Ada pohon tempat banyak orang berdoa. Saat itu saya melihat seorang pria muda, memegang tali dengan tangan kanan, lalu memutari pohon searah jarum jam sampai talinya habis. Setelah itu dia menghadap si bapak yang pake topi peci khas Nepal, lalu dikasih colekan merah di kening. Orang-orang yang habis berbelanja pun mampir untuk berdoa juga.

Toko buku di sekitaran Kathmandu. Terlihat menarik sekali, seperti di film-film.
Pintu-pintu eye-catching dan mata budha terlukis di tembok. Seolah memperingatkan para tamu umtuk tetap berperilaku baik karena Buddha mengawasi.
Suasana Kathmandu dengan burung-burung
Enak juga ternyata jalan kaki disini. Selain banyak temannya, melihat tiap detail kota pelan-pelan terasa lebih menyenangkan. Banyak hal aneh yang mungkin tidak terlihat jika naik taksi. Sebagai ibu kota negara, Kathmandu memiliki banyak objek wisata oke yang bisa dinikmati seperti Narayanhiti Palace Museum, Kathmandu Durbar Square, Swayambunath, Akash Bhairav, Thamel, Garden of Dreams, Pasupatinath Temple, Boudhanath, dan lain-lain. Beberapa yang kami kunjungi adalah yang dapat dijangkau dengan jalan kaki (dari Thamel) dan semua kami kunjungi saat Kathmandu cerah! So excited to share more stories to you. See you in the next post then! 

No comments

Post a Comment

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.