Sesantai di Sudut Utara Lembah Pokhara

2 August 2016
Nepal post-holiday condition buat kami rasanya gak habis-habis. Selain excitement karena udah bisa eksplor ke Negara impian, capeknya belom ilang-ilang juga lho. Sepulang dari Nepal, kami lanjut bodybosu malam harinya (baru sadar itu adalah ide gila pas udah selesai nge-bosu), langsung ketemu kerjaan yang gila banget hectic-nya, lalu weekend depannya ke Jogja naik bus (yang foto liburannya bisa di cek di Instagram saya). Sampe hari ini, kami berdua udah teler sama radang, pusing, meriang, dan batuk-batuk. Tapi hal-hal baik banyak terjadi sama kami, seperti yah baru saja menikmati anniversary pernikahan kami yang pertama, makan siang lamian bebek panggan di Golden Century – Pejaten Village (dan kalian benar-benar harus coba, it was addictive!), arisan keluarga, banyak sekali acara makan-makan gratis, nge-gym seminggu 4 kali dan ketemu kawan lama yang masih menghidupi mimpinya, marathon nonton The Expendables, memanggang sosis sapi dengan taburan keju yang sangat banyak, banyak yang bikin seneng lah pokoknya. Anywaaaayyy, sekarang kesenangan itu juga akan saya bagi disini, ke kalian semua.

Saya akan lanjutkan cerita perjalanan kami ke Nepal beberapa waktu lalu, dan sampailah cerita ini ke salah satu kota yang saya sukai, yang perjalanannya kami tempuh dengan bus lokal setelah selesai arung jeram di Sungai Trishuli. Nama kota ini Pokhara. Terletak di bagian selatan Nepal, luasnya 55km2, Pokhara dikenal sebagai kota turis. Ibaratnya kayak Ubud di Bali gitu lah. Ketika sampai di Pokhara, satu hal yang sangat terasa berbeda ketimbang pas kami di Kathmandu, kota ini jauh lebih rapih dan manusiawi. Bangunan tertata dengan baik, kafe dan restoran juga bagus-bagus bangunannya.

Ucapan selamat datang dari Pokhara yang gak akan pernah saya lupakan seumur hidup adalah pas kami sampai di Grand Holiday Hotel, dari jendela kamar, kami bisa melihat jelas puncak Machhapuchhre! Paraaah indah banget banget! Dari jauh begini aja udah bahagia banget liatnyaaaa!

Saya mungkin bisa sedikit paham kenapa banyak banget orang yang jatuh cinta dengan gunung bersalju, karena dengan ngeliat aja, hati terasa berdebar-debar. This is insanely beautiful! My eyes glued! Gunungnya cantik banget huaaaa mamaaaaa. .

Machhapuchhre atau juga terkenal dengan Fish’s Tail adalah gunung dengan kegagahan melangit 6.993 mdpl. Konon belum pernah ada orang yang bisa mencapai puncak gunung yang keindahannya bersaing sama Matterhorn ini karena penduduk setempat menjadikan Machhapuchhre sebagai tempat suci Dewa Shiwa sehingga sakral untuk dipanjat. Kami pun naik ke atap hotel untuk kembali menyaksikan indahnya pegunungan Himalaya dari 25km jauhnya. Sepertinya saya bisa duduk seharian disini, berulang kali mengoleskan sunblock, hanya untuk melihat gunung-gunung ini. Asli ini menakjubkan! Foto gak bisa merepresentasikan betapa bener-bener indah gunung bersalju. Serius aslinya beneran amazing!

Grand Holiday Hotel (USD15/malam) adalah hotel termahal yang kami tempati selama di Nepal, karena hotel kami lainnya hanya USD6. Bedanya, kamar hotel ini kasih sarapan, bathtub, AC, kipas angin, dan kasurnya ekstra single bed. Kalo urusan lainnya macam air panas sama WiFi sih sama aja. Enaknya lagi, dari hotel ke Phewa Lake hanya perlu 3 menit jalan kaki! Cihuuuy. Memang ada harga ada rupa hahaha.

Apakah saya udah pernah bilang kalo hampir semua penginapan di Nepal memiliki solar panel? Pemerintah Nepal membatasi penggunaan listrik, sehingga ada beberapa jam dalam sehari seluruh listrik akan mati kecuali yang punya genset. Nah solar panel ini digunakan untuk cadangan listrik kalo-kalo sudah masuk jam produktif di hotel tapi listrik belum nyala.

Saya juga harus kasih tau kalo Grand Holiday punya menu sarapan yang enak-enak banget. Mulai dari western breakfast macam omelet, sosis, roti tawar, juga Indian dan Tibetan breakfast.

Karena masih puasa, sarapannya kami simpen di kamar hotel dan ditaruh diatas cangkir masala tea yang piringnya dikasih air supaya gak disemutin. Jadi asupan buka puasa sudah aman heheheh.

Indian Breakfast komponennya ada puri, roti gembul yang dipanggang didalam tong, terus cocolannya bhaji, kari kentang yang berbumbu banget. Makanan ini paraaaahh enak banget! Apalagi kalo dimakan pas masih hangat, kelepek kelepek parah deh! Enak banget! Saya sempet ngerasain pas masih hangat karena ada hari kami gak puasa hahaha.

Tibetan Breakfast, pake roti Tibet yang dicocol ke madu atau butter atau selai. Rotinya padat, sedikit manis, dan porsinya gede banget. Sekali makan kenyangnya seharian deh. Saya suka Tibetan breakfast, tapi jauh lebih suka yang Indian. Kalo western breakfast-nya? Standar, enak-enak biasa lah. Selain menu-menut tadi, hotel ini juga menyajikan makanan lain seperti momo, bubur, muesli, papad, alu sadeko, beer, soup, vegetarian Nepali Thali (isinya kari sayur, nasi, salad, yoghurt, acar), vegetarian Indian Thali (sama kayak versi Nepali tapi tambah chapati), macam-macam kari, makanan itali, chowmien, dan sebagainya. 

Tapi apakah kalian pernah membayangkan rasanya sarapan di atap dengan udara sejuk dan pemandangan gunung-gunung megah dunia? This feeling is dreamy! Dan perasaan gembira ini mengantar kami untuk eksplorasi Pokhara, mulai dari yang hijau-hijau dulu.

Phewa Lake

Adalah salah satu dari tiga danau terkenal di Pokhara, dan merupakan danau kedua terbesar di Nepal. Airnya hijau, dikelilingi hutan hijau, jadi bener kalo kesini gak boleh pake baju hijau (sama kayak kalo pergi ke Pantai Parangtritis haha). Pemandangannya adeeeem banget. Airnya tenang, anginnya semilir, dibeberapa sisi ditumbuhi enceng gondok, santai suasananya, bersih, cocok buat jalan-jalan pagi dan sore.

Gak hanya dimanja dengan pemandangan danau, kalo kesini kita bisa lihat Tal Barahi Temple yang ada di tengah-tengah danau, kafe-kafe santai di sepanjang danau, kalo niat bisa lihat sunset, main kano, naik perahu kayu, dan kalo mata kita menerawang semakin luas, kita akan menemukan World Peace Pagoda diatas bukit. Jika kamu main kesini sekitar pukul 4 sore, langit sedang bersih, dan kamu gak punya hal-hal serius untuk didiskusikan, yakin lah kamu benar-benar akan merasa seperti terbang. Silence and fresh air are very good companions to enjoy your day.

Berpikir untuk menyelam? Siap-siap ya, danau ini kedalamannya hampir 24 meter!

Mbak-mbak jualan pecel a la Nepal.

Kalo menyusuri Danau Phewa teruuus sampe ke Lakeside 6, suasana lebih dinamis ketimbang di sisi yang deket Basundhara Park. Perahunya lebih banyak, bahkan ada sepeda air juga. Di sekitar danau juga lebih banyak tempat nongkrong asyik yang buat santai santai, pesta-pesta, juga ada persewaan kano dan toko-toko outdoor. Lebih rame dengan banyak orang jualan buah, jalan-jalan, karena disini juga disedikan lintasan jalan yang bisa juga jadi jogging track. 

Seneng banget sama danau ini! Sore-sore duduk, ngeliatin orang-orang di sekitar dari yang alay setengah sampe alay kebangetan, dari yang seru hahahihi sampe yang merenung dipinggiran, dari yang naik sepeda air sendirian sampe gak tau akhirnya nyemplung dimana.

Danau Phewa pemandangannya indah banget bikin damai hati. Kalo kamu mau naik perahu, 1 jam dengan driver harganya NPR500, kalo mau dayung sendiri harganya NPR450. Bisa juga kalo mau seharian naik perahu bayarnya NPR1000, setengah hari NPR700. Servis lainnya ada yang cuma nyebrang searah NPR1.200 dan kalo bolak balik lebih murah yaitu NPR800. 

Banyak penjual buah lalu lalang, dan beberapa warung jus buah. Kami beli jus mangga, lumayan murah (tapi lupa harganya berapa), mangganya super manis, air dan esnya sedikit! Poin plus buat yang seneng jajan jus berkualitas hahaha.

Kalo udah ketemu sama penjual jus dan bagian danau yang rame banget, itu juga artinya udah deket juga sama Hallan Chowk, semacam Malioboro yang juga jadi tempat tujuan wisata. Banyak banget tempat hits disini buat para traveler. Kafe, toko-toko outdoor yang beragam, toko souvenir khas Nepal, dan banyak juga penginapan murah.

Burung gagak gak selamanya pertanda buruk. They're everywhere.

Gak pernah khawatir sama anjng-anjing di Nepal, mereka semua ini sangat jinak, gak pernah mencla-mencle minta dielus atau dikasih makan. Semacam ayam lah kalo disini yah, gak hobi ngintilin orang.

Jalan-jalan disini jauh lebih manusiawi daripada Thamel. Trotoarnya tertib, gak ada orang grasa-grusu, dan kotanya rapih banget jadi liatnya enak. Kalo kesini, kalian harus mampir ke toko souvenir yang jual kain-kain Nepal dan India. Mereka punya banyak yang asli dari Cashmere, dari India, dan lembutnyaaaa luar biasa! 

Saya suka sekali Danau Phewa. Semoga bisa ketemu lagi danau cantik kayak gini ya, mungkin di Eropa atau di belahan Afrika mana gitu.
5 comments on "Sesantai di Sudut Utara Lembah Pokhara"
  1. Mba Utin seru banget jalan-jalannya!
    Ngiler pengen nyobain Indian breakfastnya, kayaknya enak banget, di Jogja ada ga yaa hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jogja ada tempat makan India gak ya? Mungkin kalo ada, dia juga jualan bhaji sama naan (roti). Kabarin ya kalo ada :D

      Delete

I'd love to hear from you!