Lebaran di Pokhara dengan Perut Penuh Nasi

15 August 2016
Hai gengs! Bulan lalu kita lebaran lho, inget kan? Nah buat kami, lebaran tahun ini sangat spesial karena kami habiskan di Pokhara! Di Nepal! Wooo hooo... Am I dreaming or whaaat! Lebaran selama 25 tahun dihabiskan di Pulau Jawa, sekarang saya bisa rasakan sensasi baru dengan merayakannya di negara lain. Kami memang sengaja pilih waktu pas libur lebaran karena hanya ini lah libur paling panjang dalam kalendar muda-mudi kantoran dan setelah dapet konfirmasi "gak papa pergi aja" dari keluarga kami masing-masing, gak sabaaaar mau lebaran di tempat yang jauh banget dari zona nyaman kami!

Solat Id dimulai pukul 09.30 pagi, jadi kami masih punya waktu buat santai dan sarapan. Setelah siap, kami naik taksi ke masjid di Chiple Dunga dengan tarif NPR300. Masjid di Nepal bentuknya gak berkubah seperti biasa kita lihat, gak ada tulisan nama masjid besar-besar. Beberapa hari sebelumnya kami ketemu seorang muslim yang punya toko di Lake Side (Phewa Lake). Dia bilang ada dua masjid terdekat untuk solat salah satunya masjid yang kami datangi ini, di daerah Chiple Dunga. Bentuknya mirip ruko, tingkat 3, dan lumayan adem karena pake kipas angin dan solatnya juga pagi-pagi.

Mayoritas yang dateng masjid adalah pria karena orang Nepal gak terbiasa dengan perempuan solat di masjid. Kebetulan saat itu saya juga lagi haid jadi gak ngerti juga kondisi di dalam kayak apa. Nepali muslim yang solat Id kebanyakan pada pake gamis putih dan sorban, ada juga yang pake baju biasa tapi gak sampe se"biasa" kami yang hanya kaosan dan celana panjang kargo hahaha. Disana kami ketemu sama Pak Syafi, pemilik toko di Lake Side. Dia sedang bersilaturahmi dengan sesama muslim lain dan sementara kami menunggu, kami mencoba mengamati sekitar.

Agama islam adalah minoritas di Nepal, gak heran di acara perayaan seperti ini gak terjadi hal yang spesial seperti biasa kita alami di Indonesia. Kalian tau, setelah solat Id, ada mobil (lebih deket dengan traktor sih) penyedot tinja yang berusaha lewat di tengah kerumunan orang. Traktor ini berisik luar biasa dan gak berhenti klakson. Orang-orang yang naik motor dan mobil pun berlaku sama. Mereka memaksa lewat di tengah kerumunan dan gak sungkan pencet klakson dalam-dalam. Gak lama seorang bapak marah-marah ke supir traktor dan satpam, dia protes ke satpam yang mempersilahkan traktor lewat sini padahal lagi ada solat Id. Banyak pengemis yang 'ngetem' disini pun juga kena marah karena sudah ada penyalur zakat sendiri.

Ribut-ribut gitu tetep orang-orang banyak yang mendokumentasikan momen lebaran ini. Ada yang dari stasiun tv, yang foto-foto pake hp juga banyak.

Pengemis nyentrik.

Dan aktivitas lain di sekitar masjid. Ada anak-anak yang nunggu Bapaknya solat dan penggelar jajanan.

Mereka menyediakan makanan untuk Nepali muslim setelah solat. Ada puri bhaji sebagai menu utama, lalu kurma sebagai camilan. Mereka juga menyajikan syamala hangat yang ENAKNYA PARAH BANGET! Harus capslock karena emang UUUUENAK BANGET! Minuman susu hangat dikasih kacang-kacangan dan rumput laut.

SYAMALA ENAK! ENNNNNAK!

Selesai solat, kami diajak Pak Syafi ke toko kue karena dia mau beli kue buat kerabat-kerabatnya saat halal bi halal nanti. Tokonya masih di daerah Chiple Dunga, jalan kaki ke pusat kota hanya 10 menit. Nama tokonya Marwadi Sewa Bhojanalaya. Satu hal yang masih saya ingat tentang toko kue ini adalah wanginyaaaa hmmmm lembuuut banget. Lupaka itu toko roti di mol yang wanginya gak sampe rumah, kue kecil-kecil disini wanginya awet banget. Eau de cake mungkin namanya hahaha. Sayang gak sempet coba karena kami pikir Pak Syafi bakalan beliin kami juga hahahaha.

Kue gemes wangi kebaikan.

Lalu lanjut diajak makan siang di rumah Pak Syafi. Kami naik taksi membuntuti Pak Syafi dan anaknya yang naik motor. Rumah Pak Syafi deket lake side, jalan kaki sekitar 20 menit dari hotel kami. Oh iya lupa cerita, kami pindah hotel ke yang lebih murah karena, yaaa, karena lebih murah hahaha. Namanya Future Way Guest House.

Balik lagi ke rumah Pak Syafi, disini dia tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya. Berhubung lagi mati lampu, rumahnya jadi agak sumuk ehehe. Tapi seru banget bisa ngobrol sama anak-anaknya yang cakep dan gemesin. Istrinya juga ramah banget. Kami disuguhkan syamala (lagi) dan jus mangga. Karena tadi habis sarapan puri bhaji, kami gak habiskan suguhannya, takut kenyang dan gak bisa makan siang, Ternyata eh ternyata, Pak Syafi sekeluarga nungguin kami ngabisin si makanan pembuka itu dulu dong baru bisa makan siang. Ya ampuuun, maaf maaf.

Bu Syafi menyajikan banyak makanan. Ada daging mutton dimasak gulai, milkcheese bumbu balado, opor ayam, dan buah mangga. Banyak hal yang menarik ketika kami makan bersama. Meja makan dibuat lesehan, kami berdua diberi bantal untuk alas duduk. Bu Syafi memberi taplak tambahan dimejanya dan semua orang duduk mengelilingi meja. Yang paling kelihatan dari mereka adalah, mereka makan nasi banyak sekali. Banyak! Seperti porsi nasi di warung padang, bahkan anak-anak mereka pun makan dengan porsi sebegitu banyaknya! Mereka duduk sambil mengangkat kaki kanan, melipatnya didepan dada, tangan kanan memeluknya dan mengambil makanan. Mereka makan pake tangan dengan kaki terangkat a la makan di warteg, dan makannya lahap banget.

Mereka gak peduli dengan meja berantakan yang kotor karena ceceran nasi dan kuah yang tumpah. Mereka makan seperti itu adalah makanan terakhir yang mereka makan. Mereka juga gak terbiasa makan dengan sayur bening berkuah, makanya mereka mencampur mangga sebagai lauk pauk. Dan kalian harus tau juga rasanya enak lho!

Kami sangat menikmati makan siang hari itu, meski perut udah begah banget kepenuhan nasi yang ditambahkan Bu Syafi (dia akan sangat senang kalo kami nambah nasi, by the way). Jujur, semua masakan Bu Syafi sangat sangat enak. Saya bisa meyakinkan kalian semua sepanjang hari kalo masakannya sangat enak. Jadi gak masalah kan kalo gak ada foto? Hahahaha.

Gadis-gadisnya Pak Syafi. Cantik-cantik yaw.

Saya harus bilang kalo lebaran pertama kami memang luar biasa. Nepal! Pokhara! Ya ampuun. Dan oh saya belom cerita soal makanan-makanan itu kan, makanan dewa, makanan surga! Time to drooling again. See you in the next post.
2 comments on "Lebaran di Pokhara dengan Perut Penuh Nasi"
  1. Wiih... Lebaran nya istimewa... Ke Nepal berapa lama mbak? Treking juga kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin 11 hari (udah sama perjalanan). Gak pake trekking karena uangnya gak cukup hahaha jadi kami explore kotanya banget. Suatu hari mau balik lagi mau trekking :D

      Delete

I'd love to hear from you!