SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Lebaran di Pokhara dengan Perut Begah dan Hati Senang

Hai gengs! Bulan lalu kita lebaran lho, inget kan? Nah buat kami, lebaran tahun ini sangat spesial karena kami habiskan di Pokhara! Di Nepal! Wooo hooo... Am I dreaming or whaaat! Lebaran selama 25 tahun dihabiskan di Pulau Jawa, sekarang saya bisa rasakan sensasi baru dengan merayakannya di negara lain. Kami memang sengaja pilih waktu pas libur lebaran karena hanya ini lah libur paling panjang dalam kalender muda-mudi kantoran dan setelah dapet konfirmasi "gak papa pergi aja" dari keluarga kami masing-masing, tidak sabaaaar mau lebaran di tempat yang jauh banget dari zona nyaman kami!

Pagi di Pokhara, dalam perjalanan menuju masjid. Apakah kalian lihat pegunungan Himalaya mengintip di balik awan?
Masjid untuk Shalat Id di Pokhara
Solat Id dimulai pukul 09.30 pagi, sehingga kami memiliki waktu yang cukup untuk santai dan sarapan. Setelah siap, kami naik taksi ke masjid di Chiple Dunga dengan tarif NPR300. Masjid di Nepal bentuknya tidak berkubah seperti biasa kita lihat, dan tidak ada tulisan nama masjid besar-besar.

Beberapa hari sebelumnya kami bertemu seorang muslim yang punya toko di Lake Side (Phewa Lake). Ia mengatakan bahwa ada dua masjid terdekat untuk solat salah satunya masjid yang kami datangi ini, di daerah Chiple Dunga. Bentuknya mirip ruko, tingkat 3 dan lumayan adem karena pakai kipas angin dan solatnya juga pagi-pagi.

Orang-orang berdatangan untuk shalat
Suasana di depan Masjid. Ada pengumpul zakat dan reporter. Mengingat muslim di Nepal lumayan banyak, jadi perayaan ini memang perlu diberitakan di TV nasional
Selamat lebaran dari Nepal!
Mayoritas yang datang ke masjid adalah pria karena orang Nepal tidak terbiasa dengan perempuan solat di masjid. Kebetulan saat itu saya juga lagi haid jadi tidak tahu juga kondisi di dalam seperti apa. Nepali muslim yang solat Id kebanyakan pada pakai gamis putih dan sorban, ada juga yang pakai baju biasa tapi tidak sampai 'sebiasa' kami yang hanya kaosan dan celana panjang kargo hahaha. Disana kami janji temu dengan Pak Syafi, pemilik toko di Lake Side. Dia sedang bersilaturahmi dengan sesama muslim lain dan sementara kami menunggu, kami mencoba mengamati sekitar.

Selesai shalat orang-orang tidak langsung pulang. Mereka berbincang dan saling halal bi halal. Sekalian nampang di TV juga haha
Eh, ada iklan wkwk. Traktor lewat diantara jamaah yang sedang berkerumun.
Si kakak membantu adik memakai sepatu. Pemandangan yang menghangatkan hati yah
Agama islam adalah minoritas di Nepal, tidak heran di acara perayaan seperti ini tidak terjadi hal yang spesial seperti biasa kita alami di Indonesia. Kalian tahu, setelah solat Id, ada mobil (lebih deket dengan traktor sih) penyedot tinja yang berusaha lewat di tengah kerumunan orang. Traktor ini berisik luar biasa dan tidak berhenti membunyikan klakson. Orang-orang yang naik motor dan mobil pun berlaku sama. Mereka memaksa lewat di tengah kerumunan tanpa rasa sungkan menekan klakson dalam-dalam. Tak lama seorang bapak marah-marah ke supir traktor dan satpam, dia protes ke satpam yang mempersilahkan traktor lewat sini padahal lagi ada solat Id. Banyak pengemis yang 'ngetem' disini pun juga kena marah karena sudah ada penyalur zakat sendiri.

Mendokumentasikan aktivitas hari raya. Namanya juga netizen.
Masuk TV dulu bro
Pengemis nyentrik.
Pelapak kerupuk jualan setelah shalat Id.
Nice hair, bro! 
Ah, ada pria tampan arah jam 11! Wah kok gawat sekali tampannya~
Dan pria tampan lucu kesayangan saya bersama Pak Syafi
Mereka menyediakan makanan untuk Nepali muslim setelah solat. Ada puri bhaji sebagai menu utama, lalu kurma sebagai camilan. Mereka juga menyajikan syamala hangat yang ENAKNYA PARAH BANGET! Harus capslock karena emang UUUUENAK BANGET! Minuman susu hangat dikasih kacang-kacangan dan rumput laut.

Syamala enak sekali!

Selesai solat, kami diajak Pak Syafi ke toko kue karena dia mau beli kue untuk kerabat-kerabatnya saat halal bi halal nanti. Tokonya masih di daerah Chiple Dunga, jalan kaki ke pusat kota hanya 10 menit. Nama tokonya Marwadi Sewa Bhojanalaya. Satu hal yang masih saya ingat tentang toko kue ini adalah wanginyaaaa hmmmm lembuuut banget. Lupakan itu toko roti di mall yang wanginya tidak bertahan sampai rumah, kue kecil-kecil disini wanginya awet banget. Eau de cake mungkin namanya hahaha. Sayang tidak sempat coba karena kami pikir Pak Syafi bakalan beliin kami juga hahahaha.

Kue gemes wangi kebaikan.

Lalu lanjut diajak makan siang di rumah Pak Syafi. Kami naik taksi membuntuti Pak Syafi dan anaknya yang naik motor. Rumah Pak Syafi deket lake side, jalan kaki sekitar 20 menit dari hotel kami. Oh iya lupa cerita, kami pindah hotel ke yang lebih murah karena, yaaa, karena lebih murah hahaha. Namanya Future Way Guest House.

Balik lagi ke rumah Pak Syafi, disini dia tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya. Berhubung sedang mati lampu, rumahnya jadi agak sumuk ehehe. Tapi seru banget bisa ngobrol sama anak-anaknya yang cakep dan gemesin. Istrinya juga ramah banget.

Ada cerita memalukan disini wkwk. Jadi saat itu kami disuguhkan syamala (lagi) dan jus mangga. Karena tadi habis sarapan puri bhaji, kami tidak habiskan suguhannya, takut kenyang dan tidak bisa makan siang. Pak Syafi sekeluarga menemani kami makan dan kami saling melempar bahan obrolan. Saya pun sebenarnya bingung, Pak Syafi menunggu apa kok tidak segera menuju meja makan saja? Ternyata eh ternyata, Pak Syafi sekeluarga menunggu kami menghabiskan si makanan pembuka itu dulu dong baru bisa makan siang. Ya ampuuun, maaf maaf. Pantas saja saya mendengar Pak Syafi berdecak saat saya mencoba membuka pembicaraan.m yang mungkin menurut beliau, saya bertele-tele.

Bu Syafi menyajikan banyak makanan. Ada daging mutton dimasak gulai, milkcheese bumbu balado, opor ayam, dan buah mangga. Banyak hal yang menarik ketika kami makan bersama. Meja makan dibuat lesehan, kami berdua diberi bantal untuk alas duduk. Bu Syafi memberi taplak tambahan dimejanya dan semua orang duduk mengelilingi meja. Yang paling kelihatan dari mereka adalah, mereka makan nasi banyak sekali. Banyak! Seperti porsi nasi di warung padang, bahkan anak-anak mereka pun makan dengan porsi sebegitu banyaknya! Mereka duduk sambil mengangkat kaki kanan, melipatnya didepan dada, tangan kanan melingkari dan mengambil makanan. Mereka makan menggunakan tangan dengan kaki terangkat a la makan di warteg, dan makannya lahap sekali.

Mereka tidak peduli dengan meja berantakan yang kotor karena ceceran nasi dan kuah yang tumpah. Mereka makan seperti itu adalah makanan terakhir yang mereka makan. Mereka juga tidak terbiasa makan dengan sayur bening berkuah, makanya mereka mencampur mangga sebagai lauk pauk. Dan kalian harus tahu juga rasanya enak lho!

Kami sangat menikmati makan siang hari itu, meski perut sudah begah banget kepenuhan nasi yang ditambahkan Bu Syafi (dia akan sangat senang kalau kami nambah nasi, by the way). Jujur, semua masakan Bu Syafi sangat sangat enak. Saya bisa meyakinkan kalian semua sepanjang hari kalau masakannya sangat enak. Jadi tidak masalah kan kalau tidak ada foto? Hahahaha.

Gadis-gadisnya Pak Syafi. Cantik-cantik yaw.

Saya harus bilang kalau lebaran pertama kami sebagai suami istri memang luar biasa. Nepal! Pokhara! Ya ampuun. Dan oh saya belum cerita soal makanan-makanan itu kan, makanan dewa, makanan surga! Time to drooling again. See you in the next post.

2 comments

  1. Wiih... Lebaran nya istimewa... Ke Nepal berapa lama mbak? Treking juga kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin 11 hari (udah sama perjalanan). Gak pake trekking karena uangnya gak cukup hahaha jadi kami explore kotanya banget. Suatu hari mau balik lagi mau trekking :D

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.