SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Makanan Maha Enak di Nepal (dan juga Halal-Food Guide)

Menjadi orang yang suka mencoba makanan baru,  berada si Nepal adalah anugerah. Ini bukan tentang mencoba makanan murah dan mau tidak mau saya harus menikmatinya dengan rasa syukur setinggi-tingginya. Tapi jujur, makanan di Nepal sungguh penuh kejutan. Tak ada satu kali pun saya harus makan obat maag atau teh manis untuk menetralisir rasa. Dan sebelum kalian menerima informasi berharga berikut ini, pahamilah beberapa hal.

Pertama, kalian akan menemukan kata-kata penuh penekanan yang akan banyak saya gunakan dalam menggambarkan kelezatan makanan disini, jadi bersiaplah. Kedua, hampir 99% makanan di Nepal enak sesuai kapasitas dan kualitas indera pengecap saya, jadi jika ada yang mau protes, simpan aja di kantong ya. Sudah siap? Kita mulai dari makanan di Pokhara dulu.

Tabasum's Food

Di Pokhara, kami bertemu dengan orang muslim yang baik hati, yaitu Pak Syafi—yang mentraktir kami makan setelah solat id, dan Pak Rasshool Beigh, yang dua kali mengajak kami makan malam. Tabasum, anak pertama Pak Rasshool berusia 23 tahun sedang menempuh pendidikan masternya di Cashmere, India. Kebetulan saat itu ia sedang libur semester sehingga bisa menjenguk ayahnya, sementara ibu dan adiknya tetap tinggal di India. Pak Rashool meminta Tabasum mengajak kami makan malam dirumahnya, bersama dengan laki-laki dari Marocco yang namanya saya lupa ehehehe.

Makanan pembukanya adalah kudapan buka puasa yaitu ferni dan buah-buahan. Ferni adalah minuman padat yang dibuat dari campuran susu, gula, semolina (tepung suji), dan dried fruits seperti kismis dan almond. Rasanya enak! Dan mengenyangkan! Mirip kayak minum (atau makan?) sereal. Berhubung saya sudah intip dapurnya Tabasum dan melihat banyak masakan yang sudah disiapkan, firni saya habiskan dan tidak sentuh buahnya banyak-banyak. Takut kenyang duluan.

Setelah solat magrib (yang ternyata Tabasum terbiasa solat tanpa mukena), makanan-makanan ajaib ini siap disantaaap! Oh makanan ini adalah seluruh makanan yang kami cicip selama dua kali makan bersama Tabasum. Saya akan jelaskan satu per satu.

Saya menyebutnya ini sambal a la Nepal (atau India kali ya). Telur, tomat, cabai, dan bumbu-bumbu dicampur jadi satu jadilah kayak cocolan sambel. Percayalah, ini pedas naujubilah! Sebenarnya saya ketagihan karena enak banget, tapi pedasnya luar biasa, saya tidak kuat. Yang membuat sambal ini spesial adalah karena dia berbahan dasar telur, jadi seperti scrambel egg pedas, teksturnya lembut sekali.

Kita sebut saja ini semur ayam. Tidak tahu berapa lama Tabasum memasaknya tapi bumbu karinya benar-benar meresap sampai ke tulang-tulang ayam (saya tahu karena tulangnya saya kunyah juga haha). Selain ayam, semur ini berisi kentang dan bawang bombay. Karinya enak, sedap, tapi sedikit terlalu asin hehe.

Ini semacam sayur yang Tabasum sendiri tidak tahu juga nama daunnya apa haha. Sayur daun ditumis dengan bumbu kari yang lumayan manis, lalu dicampur ayam dan diungkep sampai harum. Daunnya sedap, seperti kangkung dan jika dimakan bersama ayam, rasanya seperti memakan ayam rempah basah dengan balutan rasa manis dan gurih.

Masakan ini memakai daun yang sama, bedanya kali ini dimasak sebagai sayur bersama kentang. Bumbunya lebih gurih dan pedas, dan ada tambahan sayur apa gitu saya lupa. Ini enak lho! Sebagai pecinta kentang saya sangat terharu bisa makan kentang seenak ini. Jika diperhatikan, sebenarnya bumbu dasar yang digunakan terlihat dan terasa sama, hanya saja beda di kadar kuantitasnya saja.

This one is my personal favorite and won my own award of the best food I've tried in Nepal. Pernah kah kamu membayangkan keju yang padat seperti tahu kukus, teksturnya lembut, dan dimasak bersama gulai pedas? Masakan ini spesial sekali. Enaknya tidak terduga. Jika pengecapmu hanya mengenal keju sebagai produk susu yang selalu diolah manis atau creamy atau crunchy khas baked pasta, maka saat mencoba masakan ini, kamu seolah menemukan harta karun.

Kita beralih dari bumbu yang menyala ke bumbu yang lebih soft. Saya sebut ini opor a la Nepal—pas kan ya nuansa lebarannya. Bahan utamanya daging domba (mutton) yang lembut, dengan kuah opor yang tidak terbuat dari santan seperti biasa kita menyajikannya di Indonesia, melainkan yogurt. Rasanya unik sekali. Asam gurih yogurt mixed bumbu masala yang ringan, lalu direbus hingga aroma khasnya menyeruak tajam membuat kita lupa bahwa daging domba seharusnya berbau anyir.

Kembali dengan bumbu merah, kali ini yang lebih kental namun tidak begitu pedas. Bola-bola daging (saya lupa ini daging sapi atau domba) dimasak bumbu balado yang persis seperti bumbu buat milkcheese tadi. Kepadatan dagingnya pas sekali dan tanpa dikuahi pun rasanya sudah nikmat karena bumbu masala juga dicampurkan pada cincangan daging. This is also a masterpiece. Rasanya ingin bungkus wkwk.

Naaah ini satu-satunya yang saya tidak suka (1% itu tetap ada kan? Haha). Ini adalah teh dari Kashmir, India. Tehnya berwarna pink dan rasanya asin. Iya betulan. Asin! Unik sekali ya. Benar kah orang Kashmir minum ini untuk menghangatkan diri? Apakah mereka tidak tahu ada yang namanya jahe merah? Tabasum bilang rasanya seperti sup, buat saya ini seperti, emm, benda asing.



Berikutnya adalah tempat makan langganan kami di Pokhara, yang letaknya tidak jauh juga dari penginapan, sekitar 10 menit jalan kaki. Namanya Pokhara Halal Food Land. Semula kami kira ini semacam food court karena namanya "land", tapi ternyata satu buah tempat makan, dalam suatu kompleks yang isinya penjual macam-macam. Kesamaannya adalah mereka semua di komplek ini muslim.

Jika saya tadi bilang bahwa milkcheese memenangkan penghargaan nomor satu, maka di posisi dua adalah buff momo. Selama di Pokhara, saya sepertinya sudah pesan buff momo halal disini sekitar 5 kali dan gila ya lezatnya ajaib banget. Kerennya lagi adalah setiap momo dibuat by request, jadi tentu masih sangat hangat dan ngebul-ngebul dan itulah saat momo jadi setingkat dewa enaknya. Atau ini memang cemilan yang disajikan di surga?

Harganya per porsi NPR150 kalau di steam, dan NPR180 kalau di goreng. Saya pribadi paling suka yang di steam, sempet cobain yang di goreng pas di Kathmandu tapi tidak begitu nikmat. Oh jangan lupakan sausnya. Saus cocolan asam, gurih, sedikit pedas, dan ada sentuhan rasa yang unik seperti jeruk, lezat sekali.

Nama makanan ini choewmein, mie dengan tekstur mirip spaghetti dan ditumis bisa pakai ayam (NPR250), daging sapi (NPR200), daging domba (NPR350), telur (NPR225), dan juga sayur-mayur (NPR190). Porsinya besar sekali, rasanya pun sangat menyenangkan dinikmati khususnya saat cuaca dingin di Pokhara. Bumbunya pas, manis gurih khas masala, dan mengenyangkan.

Kalau ini bukan makanan yang kami pesan, tapi hampir semua tempat makan di Nepal menyediakan mouth freshner ini—biasanya di meja kasir. Isinya ada gula batu, souff, dan sesuatu yang mirip batang pohon. Kunci kesegaran sebenarnya ada pada souff yang rasanya seperti mint tapi lebih herbal dan spicy. Untuk mengimbangi rasanya yang strong, tambahkan gula batu. Ini gratis kok tenang saja, minta bungkus juga dikasih.

Sekarang kita lanjutkan ke Kathmandu.



Salah satu tempat makan halal yang bisa saya rekomendasikan ketika kalian stay di Thamel adalah Al Madina. Tempatnya tidak sengaja ditemukan saat pulang dari Kathmandu Durbar Square jadi saya tidak bisa kasih penjelasan detail arahnya dimana. Kami makan disini dua kali dan rasanya selalu enak, jadi sudah teruji kualitasnya ya hahaha. Tempat ini sederhana, mirip warung makan bakso. Tapi meskipun begitu, mereka juga punya 'ruang premium' yang letaknya di belakang warung utama yang lebih cakep.

Daging sapi disini digiling, dibumbui, dibentuk gulungan seperti ini, lalu dimasak. Apa yang membuat dia spesial? Minyak daging yang secara alami keluar saat dipanggang! Jika saya bisa rangkum tentang daging ini, pertama ya, dagingnya empuk dan bertekstur. Kedua, bumbunya pas sedap dan sangat legit. Ketiga, harganya murah. Keempat, porsinya banyak. Serius makan daging ini 4 gulung saja sudah kenyang.

Versi daging ayam, rasanya lebih light dan tekstur daging lebih tipis.
Versi daging domba/mutton. Tidak terlalu bold seperti daging sapu, tapi gurihnya sedikit berbeda dan teksturnya sedikit lebih kering


Nan (roti). Cara memasak naan adalah dengan menaruh lempengan adonan pada tong panggangan, biarkan sampai sedikit mengembang. Rasanya smoky dan padat. Kali ini saya coba yang rasa butter.
Makan daging menggunakan nan (roti). Selain butter, nan juga ada yang bawang putih, keema, dan plain. Jika ingin menambah sedikit asupan karbo dengan gurih protein yang rich, paduan ini sangat pas.

Makan daging gulung tadi juga tambah asyik dengan dicocol ke cocolan hijau ini. Saos minty segar dengan cacahan dedaunan menciptakan rasa gurih yang segar, seperti acar namun tidak terlalu asam. 


Selain daging gulung, Al Madina punya menu lain tak kalah enaknya. Chicken seekh kabab alias ayam ungkep panggang bumbu merah yang sangat kering namun dagingnya tasty tiada dua. Rasa ayamnya tuh seperti seafood, seperti makan kepiting. Harganya lumayan mahal kalau tidak salah NPR250—mahal yaa buat kami haha. Kalau lagi ke Thamel, pastikan kamu coba ayam ini ya. You can thank me later.



Satu-satunya tempat makan yang agak berkelas yang kami sambangi saat di Kathmandu. Tempatnya bagus, benar restoran lah bukan warung makan bakso hahaha. Kami makan disini tiga kali dan tiga kali itu juga kami jatuh cinta pada sajian-sajian mereka yang luar biasa.

Favorit saya adalah kebab ayam yang dipanggang, dengan bumbu super legit, spicy, dan harum, tambah aroma paprika dan bawang, dan cocolan hijau minty. Fyi kata teman saya yang tinggal di Dubai, saus yang biasanya dicocol kebab itu adalah yogurt yang diblend sama daun rempah corriander. Saya dua kali pesan ini dan masih aja tidak bisa percaya kok kebab beginian tidak ada cabangnya ada di Indonesia.

Kebab lapis telur dadar. Kombinasi menarikn
Dagingnya tetap lembut dan bumbu masalanya sangat khas
Kari ayam
Kari ayam dinikmati dengan nan. Bumbu kari tidak pedas namun sangat berbumbu sesuai takarannya.
Tahu goreng, yang sejujurnya ini agak failed sih hahaha. Saya coba pesen yang nama makanannya agak aneh tapi harganya murah. Ternyata tahu goreng yang rasanya hambar hahahaha. Tapi dengan saus minty, semua terselamatkan.
Nasi goreng yang sudah saya take away dua kali karena rasanya enak!. Nasinya banyak, sayurnya banyak, dagingnya juga banyak, rasanya gurih dan dasar bumbu masala, nasi goreng ini benar-benae berada di level yang berbeda. Oh coba juga nasi gorengnya disiram saus minty deh!


Yaaaay itu dia semua makanan yang menyenangkan perjalanan kami di Nepal. Bagaimana? Sudah tahu banyak tentang makanan-makanan yang eksotis khas Nepal? Kalau ada yang pernah cicip, share ceritanya yah, karena beneran deh, buat saya hampir semuanya AMAZING!

8 comments

  1. Enak enak bangeet kayaknyaaa.. Baca ny pas lg laper lg, makin aja ngiler.. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak banget Mbak Ichaaaa :D Makanan di Nepal gak ada yang mengecewakan

      Delete
  2. Yummi banget nih bim.. Apalagi kalo dapat suvenirnya wkwkwk.. :p

    ReplyDelete
  3. Setuju soal enak dan murahnya, kami sekeluarga baru dari Nepal awal tahun ini. Sayang kami tidak menikmati sebanyak yang Mbak ceritakan. Tapi overall saya puas dengan pengalaman selama di Nepal, khususnya menikmati Himalaya dari Sarangkot + penerbangan 1 jam dengan Buddha Air mengelilingi Himalaya dari atas. Thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget keliling melihat Himalaya! Pasti indah banget ya ngebayanginnya aja saya berkaca-kaca :') Saya bakalan balik kesana lagi untuk main ke Himalaya

      Delete
  4. Iya Mbak, alhamdulillah. Kami naik 18 seater plane baling2. Masing2 duduk di samping jendela, setiap orang dapat kesempatan masuk cockpit dan terima penjelasan dr pilot ttg nama2 puncak Himalaya. Sungguh terasa, betapa kecilnya kita. Saat mendarat, kami masing2 mendapat sertifikat telah terbang di atas Himalaya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. What a magical experience! Seru yaa! Saya langsung googling foto-foto puncak Himalaya, terharu lihatnya apalagi Mas Arie sekeluarga melihat langsung :)

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.