SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

Shree Gha dan Swayambhunath!

Tempat terakhir yang kami eksplor sebelum pulang adalah Thamel, sebuah distrik wisata bagian dari Kathmandu yang jadi tempat kami hinggap pertama dan terakhir selama di Nepal. Kami memilih Thamel karena lokasinya deket kemana-mana, tempat nginep juga banyak yang murah, merupakan lokasi touristy, dan banyak rumah makan halal tersedia disini. Di Thamel pun kami melihat banyak gambaran kehidupan sehari-hari Nepali. Menyenangkan!

Pas pertama kali datang, kami kan menginap di Khangsar Guest House di Thamel. Pagi harinya kami duduk di atap hotel santai-santai menyesap kopi. Saat itu kami melihat ada seorang ibu yang membunyikan lonceng dari atap rumahnya, yang ternyata itu untuk memanggil burung-burung merpati. Kleneng kleneng kleneng. Ketika kerumunan berbulu itu datang, si ibu memberikan makanan. Terus terdengar lagi suara lonceng dari rumah lain lalu burung-burung itu berpindah. Seru banget. Selain memberi makan burung, atap rumah juga jadi tempat Nepali berdoa.

Nah tulisan ini menceritakan hal-hal yang kami lakukan selama di Thamel, Kathmandu, yang bikin saya benar-benar-benar-benar merasa lagi di Nepal. Mari kita mulai dari, emm, tempat tersembunyi yang berikut ini dulu.


Shree Gha Gumba (डुगन-जाञ्चु गोम्पा)

Shree Gha: Shanti Ghat Bajradhatu Mahachaitya kami 'temukan' ketika lagi jalan kaki keliling Thamel. Gak sengaja dan ngerasa happy banget karena kuilnya cakep coooy! Saya agak lupa arahnya dari mana jalan kemana, tapi dia ada di jalan Chandraman Maskey (tanya orang sana aja deh hahaa). Adalah sebuah biara Buddha yang tersembunyi di jalan terpencil, yang isinya gak cuma ada biara Drubgon Jangchup Choeling tapi juga tempat ibadah, temple, dan stupa-stupa.

Kawasan ini selain jadi tempat ibadah, juga merupakan bagian dari kehidupan harian Nepali mulai dari anak-anak sekolah, orang berjualan (di warung, bukan lesehan ya), juga ratusan burung merpati yang syukur gak ada satu pun berhasil meninggalkan jejak entah di bagian mana pun tubuh kami (ngeri lho!).

Entah sejak kapan, kalo liat kumpulan merpati itu rasanya 'luar negri' banget, Apalagi kalo pake lari kejar-kejaran sama burung.

Hampir di setiap stupa besar di Nepal pasti dikelilingi stupa-stupa kecil seperti ini (atau memang modelnya begitu ya). Desainnya sangat atraktif, dan mereka gak takut pake warna-warna seperti merah dan kuning.

This is the main attractive to the eye of Shree Gha, namanya Kathesimbu Stupa. Beneran. Saya pas masuk kesini, liat stupa ini, ya ampun, langsung teriak "ini lhooo ya ampun akhirnya ada yang bikin keliatan gue lagi di Nepal! Bukan Magelang atau Purworejo!" hahahaha. Ini sungguh sungguh stupa Nepal! Sangat colorful, dengan Mata Kebajikan Sang Buddha diatasnya, prayer flag, lumutnya astaga artistik banget! Stupa ini bener-bener keren!

Tapi terlepas saya memang baru nemu stupa khas Nepal, tapi bangunan ini asli sangat apik! Duduk aja di pinggir biara terus memandangi stupa berlatar langit biru cerah, aduh tentram hati ini. Eh, atau jangan-jangan saya kena hipnotis mata Buddha yang ada di puncak itu? Hayoloooh.

Apik banget. APIK. CAKEP!

Avalokiteshvara Statue. Apa? Avaloliatliat?


Swayambhunath (स्वयम्भूनाथ स्तुप)

Adalah sebuah kompleks peribatan tertua di pinggir barat Kathmandu. Nama lainnya adalah Monkey Temple, dan merupakan salah satu alasan utama saya bersemangat pergi kesini dengan jalan kaki dari Thamel, berhenti sebentar di sekitar Jembatan Sobhavagbati untuk berteduh dari hujan, lalu lanjut jalan lagi menanjak, dan 'bertarung' dengan musuh alami Po si Kung Fu Panda. Ya, miliaran anak tangga curam, demi melihat monyet-monyet di salah satu tempat yang sangat atraktif di Kathmandu.

Sebelum naik, kami jalan-jalan disekitar kawasan Swayambhunath untuk lihat 'pagar' stupa yang dikelilingi oleh ukiran dewa dewi, doa-doa, juga prayer wheels. Baru liat ini aja udah seneng. Semarak banget kawasannya.

Semarak. Bener-bener atraktif. Oke saya memang sangat suka kata 'atraktif' karena itu adalah salah satu dari jutaan kata bagus yang tepat untuk menggambarkan kuil-kuil di Nepal.

Prayer wheels-nya banyak. Ada yang masih warna tembaga ada juga yang di cat warna warni.

Nah ini dia. Naik tangga. Matek kon! Tapi karena dari bawah udah keliatan itu si stupa besar, saya jadi terpacu. Memang 365 anak tangga disini curam, bentuknya gak mbak-berbetis-besar-friendly tapi sekali lagi, mata Buddha menghipnotis saya untuk terus naik. Sepanjang tangga banyak orang jualan, mulai dari jualan rajutan, kalung, gelang, asesoris, kaos, minum, dan lain-lain. Saran saya sih gak usah banyak minum karena toiletnya menjijikan. Kecuali kalian gak masalah dengan bau pesing menyengat bercampur bau, entahlah, sepertinya beracun hahaha.

Stupa-stupa kecil everywhere.

Sampailah kami di Stupa Utama Swayambhunath! Sampai! Oh Tuhan! Sampaaaai! Ini sama heroiknya seperti saat kami trekking gila di Pokhara untuk melihat World Peace Pagoda sehari sebelum lebaran! Heroik banget! Apalagi kami berhasil melewati pos pembayaran tiket yang berada disisi barat tangga, dengan sok memasang wajah "kami udah beli tiket kok" hahaha. Rejeki anak pantang menyerah.

Semua yang ada di atas sini sangat atraktif (kata ini lagi, gimana dong?). Kubah putih stupa utama mewakili rahim penciptaan dengan pelangkap phallik di menara persegi. Di setiap sisi dinding terdapat sepasang mata Buddha, yang diantaranya alisnya ada mata ketiga Buddha, yang konon dapat mengeluarkan sinar kosmik yang dapat mengurangi penderitaan masyarakat selama Buddha berkeliling untuk berdakwah. Sedangkan untuk hidung Buddha yang tergambar melingkar, hal itu serupa dengan tulisan Nepal untuk angka 1, dengan filosofi simbol persatuan melalui ajaran Buddha.

Di atas kubah tadi, ada tiga belas undakan menara yang menunjukan tahapan perjalanan yang harus ditempuh makhluk hidup untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi. Eh tau gak, Raja Ashoka pernah main kesini lho dulu pas abad ke-3! Tau Ashoka kan? Ituuu Ketua Kekaisaran Gupta yang serialnya ada di ANTV, yang Ashoka muda-nya diperankan oleh adek ganteng berotot bernama Siddharth Nigam. Kalo gak tau, coba tanya mamamu.

Harati Devi Temple, adalah bangunan yang didedikasikan untuk dewi Hindu penyakit cacar, juga dewi pembela perempuan dan anak-anak. Bagi siapa saja yang mencari berkat, akan melemparkan beras, kelopak bunga, bubuk berwarna, dan air suci diatas gambar Harati atau mangkuk kuningan besar. Setelah itu, dia akan menerima tika dari imam penduduk. Nanti monyet, anjing liar, dan burung merpati pada berebut makanan itu semua.

Percaya gak, anjing disini kalah galak sama monyet hahaha. Beware of the monkey. Eh tapi monyetnya gak suka iseng kok. Itu karena makanan untuk mereka selalu tersedia, jadi gak perlu nakalin manusia untuk dapat makan.

Dua candi berbentuk seperti roket yang terdapat di setiap sisi stupa dikenal sebagai Pratappur dan Anantapur (mungkin mereka kembar). Konon dua candi ini merupakan pemberian Raja Pratap Malla sebagai usaha mendapatkan kemenangan atas Tibet di abad 17  lalu (dan doi menang!). Kebanyakan orang kesini juga mengincar pemandangan kota yang dilihat dari ketinggian. Orang-orang berebut foto dengan lanskap kota padahal hari itu sedang mendung.

Foto favorit!


Selain dua stupa maha atraktif itu, masih banyak hal yang kami temukan di hari terakhir kami di Nepal salah satunya Garden of Dreams. Seorang teman yang pernah naik pegunungan Himalaya mengatakan kalo kami ke Nepal, kami harus mengunjungi Garden of Dreams. Pas mau masuk, saya kaget ngeliat harga tiketnya. Agak lupa berapa tapi akhirnya bikin kami males juga masuk. Isinya taman, yaaa taman. Ada juga kafe untuk anak-gaul-menengah-atas Nepal. Saya duduk aja di pinggir ngeliatin siapa aja yang masuk dan keluar Garden of Dreams.

Yaay tulisan tentang tempat-tempat di Nepal akhirnya mencapai garis finish! Buat yang ketinggalan, saya udah cerita banyak mulai dari sampe ke Tribhuvan International Airport, main-main di Kathmandu, oh ke Kathmandu Durbar Square juga, arung jeram di Sungai Trishuli, santai-santai di Pokhara, lebaran juga di Pokhara, tempat-tempat wisata yang kami kunjungi selama di Pokhara, juga nanti akan saya berikan sebuah laporan tentang semua makanan yang kami makan mulai dari Thamel sampe Pokhara. Jika ada informasi tambahan yang ingin kalian tanya tapi belum saya ceritakan disini, silahkan tinggalkan komentar atau kirim e-mail. Saya akan sangat senang jika bisa membantu :)

No comments

Post a Comment

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.