SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

266 Km Motoran Keliling Lombok

Masih tentang Lombok, kali ini kami keliling Pulau Lombok seriusan jauh banget. Gak pernah kebayang kalo kami bakalan tour de Lombok naik motor apa lagi sampe ratusan kilometer karena, ya ampun ngapain juga gitu. Tapi tempat-tempat indah di sini memanggil kami, mereka minta didatengin #justinindyo hahaha. Jadi perjalanan dimulai dari Mataram, tempat kami menginap dan destinasi pertama kami + Awang adalah Pantai Pink.


Pantai Blue

Sebelum bisa sampai ke Pantai Pink, kami kesasar dulu ke pantai tetangga (tabok Google Map). Jalanan menuju kesana sebetulnya gak kacau-kacau banget, tapi gak semulus jalan aspal juga. Nah yang busuk itu jalan turun ke Pantai Blue. Batuan besar-besar, turunan curam, lobang, aduuh untung ini motor sewaan hahaha. Dari jauh udah kelihatan pantai ini biruuuu banget. Pekat dan santai tanpa ombak. Nanya ke mas-mas yang lagi santai disana, ternyata masih sebelah bukit kalo mau ke Pantai Pink (dan saya bingung juga, lha di tempat sepi begini mas-mbaknya pada tinggal disini? Jangankan warung, kehidupan aja gak kerasa).

Pantainya berpasir krem di pinggir tapi hitam pas udah di air, jadi agak samar kelihatan gelap. Gradasi airnya gak terlalu banyak, makanya saya sebut aja namanya Pantai Blue (atau kalian ada yang tau ini pantai apa?).

Ketemu Patrick keseret ombak. Inget pas film SpongeBob Squarepants the Movie pertama, Patrick sama Spongebob dikeringin manusia terus jadi keriput. Gak mau bintang laut ini hilang masa depan, kami pun mengembalikan dia berenang di air. Eh lha emangnya dia masih hidup? Gak tau juga sih, tapi pas diterbalikin, ada sedikit pergerakan seperti sedang bernafas. Jadi mungkin dia masih hidup. Sampai jumpa lagi kapan-kapan Patrick, salam buat SpongeBob ya.


Pantai Pink

Supir yang jemput kami di bandara kemarin bilang kalo ke Pantai Pink paling bagus jam 10 pagi. Nah pas banget kami nyampe sana jam segitu dan PASIRNYA PINK BETULAN! Waaah bagus yaaa. Saya sengaja pake baju dan jilbab pink (selain karena saya selalu suka traveling pake jilbab pink), biar bisa match sama pantainya. Ternyata jadi ciamik haha. Tips kalo mau kesini, beneran pastikan kamu datang di waktu yang tepat, urusan tepat waktu belakangan. Karena sebelum dan setelah jam 10 (sekitar 5 menit setelahnya) pasirnya gak begitu kelihatan pink lagi. Katanya sih sore juga bisa lihat, tapi saya gak tau deh jam berapa.

Pantai Pink terletak di Lombok Timur. Kalo dilihat di peta, dia terletak di tanjung paling ujung di kanan bawah pulau. Perjalanan dari penginapan ke Pantai Pink kami tempuh 2 jam ke arah Tanjung Ringgit (plus mampir di Pantai Blue) naik motor. Kira-kira 75km jauhnya. Yang saya suka dari pantai disini bisa kelihatan siluet Gunung Rinjani. Laut dan gunung memang sempurna.

Bawa pulang sedikit pasir disini buat dijual dikasih ke keponakan saya. Mau titip untuk dikembaliin kalo dia nanti main kesini.

Sebenarnya pasir di pantai ini warnanya krem biasa, tapi karena ada serpihan pecahan spons, hewan porifera yang banyak ditemukan disini yang bercampur sama pasir jadi kelihatan agak jingga dan kalo kena cahaya matahari jadi pink. Lucu ya. Banyak yang menyebutkan kalo nama lain Pantai Pink adalah Pantai Tangsi, tapi kalo saya lihat di Google Map, Pantai Tangsi dan Pantai Pink adalah dua tempat yang berbeda. Oh ada cerita nih, kenapa nama pantai ini namanya Tangsi (arti: barak). Dahulu kala, saat Jepang menjajah Indonesia, salah satu jalur masuk dan basecamp tentara Jepang ada di pantai ini karena tempatnya yang tersembunyi.

Pantainya cenderung sepi dan ombaknya kecil, jadi kalo berenang enak berendam-rendam santai. Disini gak banyak warung, paling penjual bakso tusuk motoran. Lingkungan sekitar dijaga banget kebersihan dan keasliannya karena selain pantainya juga masih kece, daerah ini satu komplek sama Hutan Lindung Sekaroh. Jadi mending bawa minum dan makan sendiri kalo memang mau piknik disini. Jaga kebersihannya ya, supaya pantainya bisa cantik terus sepanjang waktu.

Awang, temen saya, masih single dan available. Staff di perusahaan BUMN ternama, kuat, ganteng, dan yaaa lucu lah ya kadang-kadang. Tinggalkan komen kalo mau kenalan haha.


Sembalun

Dari ujung bawah, perjalanan lanjut ke Sembalun. Agak jiper liat jalurnya karena beneran kami menuju bagian puncak pulau Lombok hahaha. Tapi karena Awang mau ajak naik Bukit Pergasingan melihat keindahan panorama hijau di daerah Sembalun, hati (dan pantat) ini siap menempuh 81km lagi!

Perjalanan lancar sekali, jalanannya masih bagus dan udaranya sejuk banget. Desa Sembalun memang berada 1100mdpl, dan jadi desa paling tinggi (juga tertua) di Lombok. Nama Sembalun merupakan gabungan dari kata Sembah dan Ulun (bahasa Jawa kuno), yang secara umum memiliki arti orang Sembalun wajib untuk menyembah kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta, bahwa setiap masyarakat Sembalun juga wajib untuk selalu taat kepada adat leluhur dan pemimpinnya. Eh tau gak, penduduk pertama Desa Sembalun itu menganut animisme lho, atau bahasa mereka wetu telu. Dan semua penduduk Sembalun sekarang konon merupakan turunan dari tujuh pasang kepala keluarga yang kembali setelah sekian lama mengungsi paska Gunung Rinjani meletus pada abad ke-14 silam.

Kami mampir ke Taman Wisata Pusuk Sembalun untuk lihat pemandangan bukit-bukit Sembalun. Tempat ini rame banget. Banyak orang dateng berbondong demi bisa foto sama bukit. Masuk akal, karena lanskap pemandangannya beneran membius sanubari. Indah! Banget! Kalo melihat Sembalun dari ketinggian, akan kelihatan petak sawah tersebar dimana-mana. Mata pencaharian penduduk disini mayoritas bertani, mulai dari kopi, kacang mete, stroberi, dan sayur mayur seperti wortel, seledri, bawang-bawangan, selada, juga kentang. Dua tahun lalu, melalui gerakan Kopi Pahlawan, Kopi Keliling ikut mendorong berkembanganya usaha di bidang pertanian kopi arabica warga Sembalun. Ceritanya menarik. Kamu bisa baca disini, disini, dan disini. Sangat inspiratif.

Kan cakep kan. Kami cuma sebentar disini karena mau cari Bukit Pergasingan. Meneruskan perjalanan (yang view-nya bagus-bagus entah dari depan dan samping), kami mencari Bukit Pergasingan. Kalo versi Google Map, Bukit Pergasingan itu arahnya ke taman wisata tadi sedangkan maksud Awang adalah bukit yang bisa didaki sejauh 600m dan dari atasnya bisa melihat pemandangan sawah petak. Tapi Google Map dan Waze gak nemu itu bukit. Mengingat kami juga masih punya sisa tempuh ratusan kilometer menuju Senggigi, jadinya pencarian berhenti dan perjalanan berlanjut. Kalian bisa kesini kalo mau baca soal Bukit Pergasingan.


Pantai Senggigi

Ini perjalanan paling jauh hari ini karena jarak tempuh kami dari Sembalun, mengitari jalan utama Labuhan Lombok, jalan raya Sambelia, teruuuus sampe ketemu jalan Obel-Obel, ketemu lagi jalan Bayan, teruuuuuusssssssss sampe Senggigi itu sampe 110km! Gila deh tepos bener jalanan jauh banget begini!

Tapi seperti banyak orang bilang, senja di Pantai Senggigi memang bagus. Matahari tepat tenggelam di garis lurus pandangan mata, dan kelihatan Gunung Agung tepat sebelahan sama matahari. Baguuuussssss. Kalo gak kuat lihat yang silau-silau, jangan lupa pake sunglasses ya. Karena cahaya matahari langsung meskipun sore-sore tetep beresiko terhadap kesehatan mata.

Banyak sekali yang suka sunset, Pantai Senggigi rame oleh orang lokal dan turis asing yang tiduran santai, ngobrol, sembari menikmati terpaan matahari sore. Kalo mau duduk santai gak pake kotor, tenang aja ada beberapa penjaja sewa tiker. Kalo mau jajan, ada kafe sekitar Senggigi yang kece-kece. Kalo mau main air yang gak biasa, ada persewaan kayak. Apapun bebas dilakukan kecuali buang sampah sembarangan dan berbuat asusila.

Mas Gepeng teteuuup berenang dimana pun kapan pun. Bahagia bener punya suami aktif begini hahaha. Mas Gepeng ini meskipun sakit, gak pernah kehilangan nafsu makan dan tetap bisa olahraga entah berenang atau pun lari. Salah satu misinya di liburan kali ini adalah get tan, very very tan. Biar macho katanya.

Senja pink di Senggigi. Indah banget oh Tuhan. Perlu diperhatikan kalo mau liat sunset di Senggigi, pastikan cuaca siang ke sorenya cerah. Soalnya kalo mendung atau berawan, sunsetnya gak keliatan karena tertutup awan kelabu.


Habis sunset, kami lanjut makan malem di sekitar Senggigi lalu pulang ke Mataram. Hari yang panjang. Ini namanya Tour de Lombok bersama #justinindyo beneran hahaha. Semua foto yang kami ambil di Lombok menggunakan dua kamera: Samsung NX3000 dan Sony Alpha 6000. Mungkin beberapa dari kalian yang peka banget sama warna bakal tau bedanya. Review singkat dari saya, kalo Samsung cocok banget buat foto tempat terbuka seperti pantai, sedangkan Sony kece menangkap gambar yang lebih bold seperti gunung (padahal setting bukaan, white balance, dan vivid colornya sama). Tapi saya suka semua hasil fotonya, apalagi Mas Gepeng banyak fotoin saya ahahaha. Have a nice Thursday night, sunshine!

3 comments

  1. Wah ada Mas Awang! Jadi bisa foto berdua sama Mas Gepeng yang bukan selfie ya Mba hihihi :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Lumayan lah yaa hasilnya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.