SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

266 Km Motoran Keliling Lombok

Pernahkah kamu melakukan roadtrip dengan motor, bepergian dari satu tempat ke tempat lain, diantara jalanan yang luas dan sepi, dengan bekal air minum seadanya, jaket tipis, dan helm pinjaman yang bau, menempuh jarak 266 kilometer! APA? 266 KILOMETER? NAIK MOTOR? Ngana sudah gila rupanya! Ah tidak. Saya dan Mas Gepeng memang seperti itu wkwk. Jadi kami mengeliling Lombok ratusan kilometer dengan motor bebek sewaan dari pantai lalu naik ke bukit, lalu turun ke pantai lagi, dan serunya lagi ada teman kami, Awang, yang ikut menemani. Kemana saja kah? Silahkan cekidot!


Pantai Blue

Sebelum bisa sampai ke Pantai Pink, kami kesasar dulu ke pantai tetangga (tabok Google Map). Jalanan menuju kesana sebetulnya tidak terlalu kacau, tapi tidak semulus jalan aspal juga. Nah yang busuk itu jalan turun ke Pantai Blue. Batuan besar-besar, turunan curam, lubang besar kecil, wah untung ini motor sewaan hahaha. Dari jauh sudah kelihatan pantai ini biruuuu sekali. Pekat dan santai tanpa ombak. Kami pun bertanya ke mas-mas yang ada disana tentang Pantai Pink, dan ternyata masih sebelah bukit sana lagi. "Oooooh", ucap kami berbarengan.

Pepohonan dijalanan menunju pantai
Saya dan Awang di Pantai Blue. Wah benar-benar biru semua!
Letak Pantai Pink ada di sebelah sana itu lho!
Pantainya berpasir krem di pinggir tapi hitam pas udah di air, jadi agak samar kelihatan gelap. Gradasi airnya tidak terlalu banyak, makanya saya sebut aja namanya Pantai Blue (atau kalian ada yang tau ini pantai apa?). Pantai ini sebenarnya menarik sekali untuk tipe orang yang menikmati pantai dengan bersantai, duduk piknik sambil berenang, tidur siang, lalu makan tiram bakar. Tapi karena Pantai Pink lebih tersohor jadinya pantai ini kurang terjamah. Tapi jujur ini adalah pantai 'tipe saya banget'.

My happy behavior at Blue Beach!
Ada bintang laut terdampar!
Kami tidak melihat sampah di sekitar pantai, itu poin bagus dari pantai yang sepi. Tapi kami lihat bintang laut berwarna pink terdampar. Kasihan sekali. Permukaan kulitnya kasar dan keras. Kalau melihat tubuhnya yang sudah kering, berarti dia sudah cukup lama 'berjemur' di pinggir pantai. Saat kami mencoba membalik tubuhnya, ada sedikit gerakan dong. Wah bahagia sekali dia masih hidup.


Pantai Pink

Supir yang menjemput kami di bandara kemarin bilang kalau ke Pantai Pink paling bagus jam 10 pagi. Nah pas banget kami nyampe sana jam segitu dan PASIRNYA PINK BETULAN! Waaah bagus yaaa. Saya sengaja pakai baju dan jilbab pink (selain karena saya selalu suka traveling pakai jilbab pink), biar bisa match sama pantainya. Ternyata jadi ciamik haha. Tips kalau mau kesini, pastikan kamu datang di waktu yang tepat, urusan tepat waktu belakangan. Karena sebelum dan setelah jam 10 (sekitar 5 menit setelahnya) pasirnya tidak begitu kelihatan pink lagi. Katanya bisa juga dinikmati saat sore, hanya saya kurang tahu jam berapa.

Laut biru sebiru-birunya biru
Nelayan yang habis menangkap ikan.
Pantai Pink terletak di Lombok Timur. Kalau melihat di peta, pantai ini terletak di tanjung paling ujung di kanan bawah pulau. Memang lumayan jauh dari kota, tapi sangat worth to visit every sweat. Pantainya cantik dan bersih. Perjalanan dari penginapan ke Pantai Pink kami tempuh 2 jam ke arah Tanjung Ringgit (dengan mampir ke Pantai Blue) naik motor. Kira-kira 75km jauhnya. Yang saya suka lagi dari pantai ini adalah saya bisa lihat siluet Gunung Rinjani di depan sana. Laut dan gunung dalam satu pandang memang sempurna ya.

Bawa pulang sedikit pasir di sini untuk dijual dikasih ke keponakan saya. Mau titip untuk dikembaliin kalau dia nanti main kesini.

Pink!
Saat pagi seperti ini, selain pasir pink, suasana sepi pantai benar-benar idola
Sebenarnya pasir di pantai ini warnanya krem biasa, tapi karena ada serpihan pecahan spons, hewan porifera yang banyak ditemukan disini yang bercampur sama pasir jadi kelihatan agak jingga dan kalau kena cahaya matahari jadi pink. Lucu ya. Banyak yang menyebutkan kalau nama lain Pantai Pink adalah Pantai Tangsi, tapi kalau saya lihat di Google Map, Pantai Tangsi dan Pantai Pink adalah dua tempat yang berbeda. Oh ada cerita nih, kenapa nama pantai ini namanya Tangsi (arti: barak). Dahulu kala, saat Jepang menjajah Indonesia, salah satu jalur masuk dan basecamp tentara Jepang ada di pantai ini karena tempatnya yang tersembunyi.

Cerah ceria!
Pantainya cenderung sepi dan ombaknya kecil, jadi kalau berenang enak berendam-rendam santai. Disini tidak banyak warung, hanya penjual bakso tusuk motoran saja (dan bakso tusuknya enak hehe). Lingkungan sekitar dijaga sekali kebersihan dan keasliannya karena selain pantainya juga masih kece, daerah ini satu komplek sama Hutan Lindung Sekaroh. Karena memang tidak dibuat komersil menjadi obyek wisata, sebaiknya bawa minum dan makan sendiri ya kalau memang ingin piknik disini. Jaga kebersihan, supaya pantainya bisa cantik terus sepanjang waktu.

Ada ayunan di bawah pohon yang enak untuk menikmati pemandangan
Awang, temen saya, masih single dan available. Staff di perusahaan BUMN ternama, kuat, ganteng, dan yaaa lucu lah ya kadang-kadang. Tinggalkan komen kalo mau kenalan haha.



Sembalun

Dari ujung bawah, perjalanan lanjut ke Sembalun. Agak jiper liat jalurnya karena beneran kami menuju bagian puncak pulau Lombok hahaha. Tapi karena Awang mau ajak naik Bukit Pergasingan melihat keindahan panorama hijau di daerah Sembalun, hati (dan pantat) ini siap menempuh 81km lagi! perjalanan ini dimudahkan oleh Google Maps yang sudah punya jalur lengkap di Lombok.

Perjalanan lancar sekali, jalanannya masih bagus dan udaranya sejuk banget. Desa Sembalun memang berada 1100mdpl, dan jadi desa paling tinggi (juga tertua) di Lombok. Nama Sembalun merupakan gabungan dari kata Sembah dan Ulun (bahasa Jawa kuno), yang secara umum memiliki arti orang Sembalun wajib untuk menyembah kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta, bahwa setiap masyarakat Sembalun juga wajib untuk selalu taat kepada adat leluhur dan pemimpinnya. Eh tahu tidak, penduduk pertama Desa Sembalun itu menganut animisme lho, atau bahasa mereka wetu telu. Dan semua penduduk Sembalun sekarang konon merupakan turunan dari tujuh pasang kepala keluarga yang kembali setelah sekian lama mengungsi paska Gunung Rinjani meletus pada abad ke-14 silam.

Langit Lombok jika sedang cerah memang luar biasa dramatis

Jalanan sepi dan pemandangan langit yang indah.
Pemandangan dari Pusuk Sembalun.
Kami mampir ke Taman Wisata Pusuk Sembalun untuk lihat pemandangan bukit-bukit Sembalun. Tempat ini ramai sekali. Banyak orang datang berbondong demi bisa foto sama bukit, atau sekedar nongkrong sambil merokok. Masuk akal, karena lanskap pemandangannya beneran membius sanubari. Indah! Banget! Jika melihat Sembalun dari ketinggian, akan kelihatan petak sawah tersebar dimana-mana. Mata pencaharian penduduk disini mayoritas bertani, mulai dari kopi, kacang mete, stroberi, dan sayur mayur seperti wortel, seledri, bawang-bawangan, selada, juga kentang. Dua tahun lalu, melalui gerakan Kopi Pahlawan, Kopi Keliling ikut mendorong berkembanganya usaha di bidang pertanian kopi arabica warga Sembalun. Ceritanya menarik. Kamu bisa baca disini, disini, dan disini. Sangat inspiratif.

Petak-petak sawah
Bagus sekali!
Kan cakep kan. Kami hanya sebentar disini karena destinasi selanjutnya adalah Bukit Pergasingan. Meneruskan perjalanan (yang view-nya bagus-bagus entah dari depan dan samping), kami mencari Bukit Pergasingan. Kalau dari versi Google Map, Bukit Pergasingan itu arahnya ke taman wisata tadi sedangkan maksud Awang adalah bukit yang bisa didaki sejauh 600m dan dari atasnya bisa melihat pemandangan sawah petak. Tapi Google Map dan Waze tidak bisa menemukan titik terdekat bukit itu. Beberapa kali memutar pun tidak ada pencerahan. Ya sudah, belum jodohnya. Ini mungkin pertanda untuk kami harus balik lagi ke Lombok. Bagi yang penasaran, kalian bisa kesini untuk informasi soal Bukit Pergasingan.


Pantai Senggigi

Ini perjalanan paling jauh hari ini karena jarak tempuh kami dari Sembalun, mengitari jalan utama Labuhan Lombok, jalan raya Sambelia, teruuuus sampe ketemu jalan Obel-Obel, ketemu lagi jalan Bayan, teruuuuuusssssssss sampe Senggigi itu sampe 110km!

Tapi seperti banyak orang bilang, senja di Pantai Senggigi memang bagus. Matahari tepat tenggelam di garis lurus pandangan mata, dan kelihatan Gunung Agung tepat sebelahan sama matahari. Baguuuussssss. Kalau tidak kuat lihat yang silau-silau, jangan lupa pake sunglasses ya. Karena cahaya matahari langsung meskipun sore-sore tetep beresiko terhadap kesehatan mata.

Apa yang lebih menarik dar foto siluet dari sunset yang fenomenal seperti ini?
Banyaknya jejak di pasir menandakan banyaknya orang yang lewat sekitaran pantai. Benar-benar ramai lho. Untungnya pantai cukup luas untuk dinikmati banyak orang.
Suasana di sebelah barat Pantai Senggigi
"Mah... Mah selfie mah, gelap gak papa Mah", begitu hmmm.
Banyak sekali yang suka sunset, Pantai Senggigi ramai baik dengan orang lokal maupun turis asing yang tiduran santai, ngobrol, sembari menikmati terpaan matahari sore. Kalau mau duduk santai tidak pakai kotor, tenang saja ada beberapa penjaja sewa tiker. Kalau mau jajan, ada kafe sekitar Senggigi yang kece-kece. Kalau mau main air yang tak biasa, ada persewaan kayak. Apapun bebas dilakukan kecuali buang sampah sembarangan dan berbuat asusila. Oke deh.

Mas Gepeng teteuuup berenang dimana pun kapan pun. Bahagia bener punya suami aktif begini hahaha. Mas Gepeng ini meskipun sakit, tidak pernah kehilangan nafsu makan dan tetap bisa olahraga entah berenang atau pun lari. Salah satu misinya di liburan kali ini adalah get tan, very very tan. Biar macho katanya.



Habis sunset, kami lanjut makan malam di sekitar Senggigi lalu pulang ke Mataram. Hari yang panjang. Ini namanya Tour de Lombok bersama #justinindyo beneran hahaha. Semua foto yang kami ambil di Lombok menggunakan dua kamera: Samsung NX3000 dan Sony Alpha 6000. Mungkin beberapa dari kalian yang peka dengan warna akan tahu bedanya. Review singkat dari saya, kalau Samsung cocok banget buat foto tempat terbuka seperti pantai, sedangkan Sony kece menangkap gambar yang lebih bold seperti gunung (padahal setting bukaan, white balance, dan vivid colornya sama). Tapi saya suka semua hasil fotonya, apalagi Mas Gepeng banyak fotoin saya ahahaha. Have a nice Thursday night, sunshine!

8 comments

  1. Wah ada Mas Awang! Jadi bisa foto berdua sama Mas Gepeng yang bukan selfie ya Mba hihihi :3

    ReplyDelete
  2. wah. bagus banget pantainya. andai saja semua pantai di indonesia seperti itu. pasti indonesia akan dikenal sampai mancanegara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Indonesia punya banyak sekali pantai dan laut cakep! Selain di Lombok ada juga di Bali (tentu saja, mereka kan tetangga), lalu di Manado, Sabang, Belitung, wah banyaak~

      Delete
  3. Pantai Pink kereen pantainya sangat bersih,,mantaaap.

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.