Blue-Turquoise Honeymoon di Bumi Gora

14 September 2016
Meskipun setiap liburan adalah bulan madu buat kami, tapi Lombok punya cerita sendiri. Setahun lalu, kami sebenernya berencana menikah di bulan Mei 2015 pas ulang tahun saya. Dengan bermodal rencana itu, kami beli tiket bulan madu Jakarta-Lombok-Jakarta untuk seminggu via travel fair. Murah banget lho tiketnya! Taaaaapi, karena urusan kedinasan yang ternyata gak bisa saya nakalin, jadi kami nikahnya bulan Agustus dan dengan sedih tiket honeymoon murah meriah itu terpaksa hangus. Sekaraaang kami punya kesempatan untuk pergi ke Lombok dan ini adalah our super blue-turquoise honeymoon ever!

Kami sewa motor di Hotel Internasional, Jalan Gelatik, Mataram dengan tarif IDR70.000 per hari. Jalanan Lombok sangat menyenangkan! Lebar, aspalnya cakep, dan gak macet. Memang pengendara katro yang suka nerabas lampu merah masih tetep ada, tapi yaudahlahyaaa yang penting gak bikin kami kesusahan hahaha. Maaan kami lagi honeymoon, jangan berani-berani gangguin! Paling suka di jalan rayanya, lebaaar sekali dan sejuk. Anginnya kenceng jadi siang-siang pun berasa adem. Lombok sebenarnya punya transportasi lokal semacam angkot-bemo gitu dan cidomo (delman) sebagai sub transportasi umum terkecil. Tapi lebih enak kalo sewa kendaraan seperti mobil atau motor. Mau pergi kemana pun santai karena papan informasi jalan di Lombok sangat jelas dan beberapa aplikasi penunjuk jalan seperti Waze atau Google Map udah sangat familiar dengan pulau yang masih masuk wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat ini.

Pantai Kuta

Pantai Kuta Lombok jadi destinasi pertama kami. Jaraknya sekitar 1,5 jam dari Mataram (72 km). Setelah membayar ongkos parkir, saya langsung lari happy karena birunya laut bikin sumringaaaah! Pantai Kuta gradasi airnya ciamik, bening, dan alhamdulillah bersih. Pengunjungnya banyak, mulai dari anak-anak study tour, bule, turis lokal, turus interlokal, dan semakin siang semakin rame.

Mas Gepeng berenang disini dan dia suka pantainya. Saya paling suka karena gak banyak sampah alias kinclong! Dan saya menemukan fenomena yang disampaikan Trinity di buku The Naked Traveler 7 tentang bule ke Indonesia berasa jadi artis karena bule-bule berbikini itu pada diajak salaman dan foto bareng sama orang lokal. Mungkin mereka pikir bule ini Selena Gomez.

Pasirnya Pantai Kuta ini lucu ya. Besar-besar kayak merica. Katanya banyak orang Lombok yang sengaja ngebotolin pasir-pasir ini dan dijual ke wisatawan. Asli katro banget sih ini hahahaha. Tapi asik memang pasirnya, bulet bulet. Kalo dipake jalan kakinya njelungup.

Seperti biasa tempat wisata, banyak pedagang jualan. Disini banyak yang jual gelang-gelang benang dan batu, kelapa muda, buah, juga kain tenun (gak tau sih ini tenunnya pake apa tapi jualnya murah banget, IDR100.000 dapet 4!). Penjaja disini sama aja kayak tempat wisata lain, maksa suruh beli sampe diintilin terus gak pergi-pergi. Nah yang malesnya itu adalah mereka pake nada sedih-hidup-segan-mati-tak-mau banget! Aduh, bikin gak semangat beli jadinya!

Akhirnya karena gak beli, kami ngobrol-ngobrol sama mereka. Ternyata jauh lebih asyik dong kalo ngobrol hahaha. Mereka sebenernya happy kok, gak sedih-hidup-segan-mati-tak-mau amat. Bisa cerita macem-macem mulai dari suka duka jualan, kehidupan, dan anak-anak kecil ini pada suka main surfing. Bahkan katanya suka menang kejuaraan lokal -katanya sih hahahaha.

Blue and (being) glued. 

Kalo jalan menelusur garis pantai lagi, bakalan ketemu gazebonya Hotel Novotel. Banyak tamu hotel bejemur santai, dan kami yang menelusup masuk lewat 'jalan belakang' (tapi terus tetep disamperin kang parkir suruh bayar) jadi berasa tamu hotel karena bisa bebas main disekitarnya. Mungkin sebenernya bisa sok ikutan tidur-tiduran di gazebo karena gak ada pelayan hotel yang lalu lalang.

Pantai Putri Nyalu

Perjalanan serba biru ini kami lanjutkan dengan menelusur lagi ke timur, lalu ketemu Pantai Putri Nyalu. Diantara bulan Februari dan Maret, disini biasanya diadakan upacara Bau Nyale yang udah jadi tradisi turun temurun Suku Sasak dan jadi acara nasional Lombok. Konon dulu ada putri cantik nan bijaksana bernama Mandalika. Doi jadi primadona gitu di zamannya, banyak yang naksir termasuk pangeran-pangeran muda dari berbagai negara yang secara bergantian melamar. Entah karena baik hati atau semua pangerannya ganteng, Putri Mandalika menerima seluruh lamaran para pangeran. Gajah makan kawat, wah gawat kan ya, si putri harus memilih nih beneran mau menikah sama yang mana karena semua pangeran gak mau kalo si putri poliandri. Lalu di suatu hari Putri Mandalika semedi, berharap menemukan cara untuk mengatasi ini semua.

Putri Mandalika alhamdulillah mendapat wangsit. Dia lalu mengundang semua pangeran beserta warganya untuk berkumpul di Pantai Seger. Semua orang penasaran, siapa pangeran yang akan dipilih oleh Sang Putri. Di batu besar Putri Mandalika berdiri, mengenakan kain sutra indah (yang pasti mahal harganya) yang membuat dia terlihat sangat sangat cantik. Setelah memandangi seantero manusia yang berkumpul, Sang Putri berkata, "Wahai warga Kerajaan Tonjang Beru, aku telah memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Diriku telah ditakdirkan untuk menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal kemunculan nyale di permukaan laut". Semua kaget. Tapi Sang Putri gak peduli dan dia langsung terjun ke laut lalu hilang ditelan gelombang. Langit seketika menggelegar, petir menyambar, dan angin pun berhembus kencang. Semua orang panik dan muncul keributan. Tapi gak lama-lama, langit kemudian menjadi tenang. Putri Mandalika telah lenyap. Lalu mulai muncul lah hewan kecil mirip cacing dengan corak warna cantik keluar dari dasar laut. Hewan itu disebut nyale, dan semua orang percaya nyale itu adalah jelmaan Putri Mandalika.

Bukit Mandalika. Abaikan noda gelap di celana saya karena itu bekas kebasahan celana Mas Gepeng pas kami naik motor (eh, kalian gak berpikiran mesum kan?).

Saya gak berusaha nyari nyale sih kemarin, jadi gak tau ada beneran apa gak hahaha. Pantai Putri Nyale jauh lebih sepi dari Pantai Kuta. Dan jauh lebih bersih. Sebenernya pingin cuci muka disini, siapa tau kan jadi cantik jelita kayak Putri Mandalika, tapi gak jadi gegara takut kalo jadinya malah mirip muka cacing. 

Pantai Seger

Ditelusur lagi dari Pantai Putri Nyale ke arah timur, ada jembatan kayu dan tebingan. Ada bangunan yang mirip masjid yang belum selesai dibangun. Mungkin ini semacam perbatasan darat untuk ke pantai selanjutnya yaitu Pantai Seger, tempat putri cantik berubah jadi cacing laut.

"Sayang, perutnya tahan dulu mau aku foto."

Ada bukit kecil yang bisa diturunin (karena bangunan mesjid lumayan lebih tinggi). Kami duduk duduk disini memandangi laut yang luasnya gak berbatas. Birunya langit beradu lembut dengan laut dan itu menentramkan. Ombaknya pun gak terlalu besar karena sudah masuk bulan September, jadi gak heboh suara lautnya. Disini ada beberapa sampah namun gak terlalu banyak. Kasihan. Dan sayang banget juga disini belum disediakan tempat sampah.

Sebenernya bukan foto proper untuk di terbitkan tapi saya suka gak tahan untuk gak mempostingnya disini hahahaha.

Cuaca di Lombok benar-benar menyenangkan. Bulan September adalah musim kemarau untuk Lombok, sehingga bisa jalan-jalan santai gak takut kehujanan. Bersyukur juga karena sebenarnya ini adalah high season untuk liburan tapi pantainya gak crowded. Mungkin karena ombaknya udah habis jadi yang biasanya rame peselancar, sekarang jadi sepi. 

Kami lalu turun dari tebing dan menemukan kolong cukup luas. Kolong yang berada dibawah batu besar cukup buat dua orang, adem, sepi. Kami pun berdua tidur siang disitu sebentar, lumayan mengembalikan tenaga buat nanti lanjut perjalanan. 

From where we slept. Pemandangan minimalis biru dari langit dan hitam dari tebing terus semilir angin. I have the best nap ever! Tidurnya tidur siang biasa apa tidur a la suami istri yaaa gak usah diceritain lha ya. Terima kasih kepada cuaca tropis Indonesia yang kalo bikin angin aduhai sejuknya.

Kalo diterusin semakin ke Timur, nanti bakalan ketemu Pantai Selong Belanak, Tanjung Aan, dan apa lagi ya saya lupa. Tapi perut kami lebih memilih untuk segera balik ke kota untuk diisi Sate Rembiga. Hari yang biru banget ya, dari pagi sampe sore biru semua pemandangannya. Buat temen-temen yang berencana berkunjung ke Lombok di minggu ini, jangan lupa mampir ke Pantai Senggigi ya karena dari tanggal 16 - 19 nanti akan ada festival tahunannya Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. 
2 comments on "Blue-Turquoise Honeymoon di Bumi Gora"
  1. Baru tau kalau di Lombok pun ada Pantai Kuta. Tapi sepertinya lebih sepi dan bersih ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, Mbak April dan ini jauh lebih friendly dan bersih ketimbang yang di Bali. Kalo pun lagi rame, bisa melipir ke timur sedikit terus ketemu deh pantai-pantai lain yang cantik juga

      Delete

I'd love to hear from you!