SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

Mendaki Hura-Hura di Gunung Papandayan

Butuh waktu dua hari bagi saya memilih foto-foto mana yang akan saya sertakan disini, itu masih perlu saya filter lagi. Belom kalo ada yang perlu masuk proses editing. Dan memilih mana yang paling kece dari SERIBUAN foto untuk dimasukan kesini itu gila PR besar banget haha. Setiap saat kami selalu foto, foto, foto, foto, entah yang sendirian atau rame-rame karena Gunung Papandayan ini luar biasa indah banget sis! Saya dan sepuluh teman lainnya udah gak kuat lagi kalo gak foto! Makanya tulisan ini bakalan jadi pameran foto karena jumlah fotonya banyak banget (dan bagus bagus hehehe). Siap-siap ya!

Weekend beberapa minggu lalu saya bersama teman-teman kuliah (plus temen kantor juga) pergi hiking ke Gunung Papandayan. Ini adalah semacam me time yang sering juga saya dan Mas Gepeng lakukan untuk membuat kehidupan kami masing-masing lebih seimbang antara keluarga dan teman-teman. Kalo saya ke gunung, Mas Gepeng me time-nya pergi lihat PON di Sungai Cicatih, Sukabumi, sama temannya juga.


Kami bersebelas berangkat dari Jakarta hari Jumat malam dan sampe di basecamp Papandayan (Camp David) jam 3 dini hari. Jalanan macet banget, ditambah hujan jadi jalan lumayan bikin para supir kelelahan. Pendakian dimulai jam 8.30 WIB setelah kami bagi-bagi perkap, briefing, berdoa, pemanasan, dan shout out (itu lho aktivitas tangan orang-orang menyatu di tengah terus pas hitungan ketiga pada teriak, tapi namanya emang bener shout out apa tos ya?). Dari dua jalur pendakian yang tersedia, kami pilih jalur Cisurupan yang (katanya) medannya lebih mudah dibanding jalur Pengalengan. Jalurnya sebenarnya enak, udah terbuka dan tertata untuk pendaki. Pun gak licin meski kami naiknya paska hujan. Tapi yang namanya mendaki tetaplah mendaki. Mau bentuknya udah kayak tangga, kalo judulnya melawan grativasi tetep ya bikin sendi senut-senut


Baru jalan sebentar, pemandangannya udah bikin takjub. INDAH BANGET! Gunung Papandayan yang notabene adalah gunung vulkanik aktif, bikin permukaannya kering berbatu namun karena tetanggaan sama perbukitan hijau (atau gunung juga ya ini?), jadi lanskapnya ciamik banget!


I feel like I'm hike the Swiss Alps. Eh tapi kata Mas Gepeng ini kayak bukit di Nepal karena gak ada saljunya coooy hahaha.


Teman-teman saya ini dulunya kebanyakan pecinta alam. Anak organisasi mapala fakultas gitu. Ada yang basicnya hobi naik gunung, ada juga yang arung jeram -termasuk saya. Jadi saya yakin naik gunung ini bakal aman nyaman even cuman Papandayan yang gak 'heboh' kayak Merbabu atau Semeru. Aman karena ada yang bisa disalahin kalo kesasar, nyaman karena bawaan berat dibawa sama laki semua cihuuy.


Gunung Papandayan berada 2.622 meter di atas permukaan laut. Meskipun gak tinggi-tinggi amat, Papandayan tetep dingin banget, apalagi kemarin kami naik setelah hujan deras. Celupin kaki ke genangan airnya coba.


This mystical scenery is my favorite! Gas belerang yang masih aktif disemburkan ini memang baunya gak karuan, tapi coba lihat, dia bikin pemandangan gunung jadi lebih atraktif. Gunung Papandayan memiliki 14 kawah yang aktif menyemburkan gas belerang. Dan melihat sejarahnya, gunung ini sudah beberapa kali meletus dan lumayan dahsyat juga letusannya.


All the craters here was whimsically beautiful. Tapi gak usah deket-deket, baunya kacau banget! Dan bahaya juga kalo kebanyakan hirup udara mengandung belerang. Temen saya menyarankan untuk menggunakan masker bagi yang hidungnya sensitif sama bau. Kemarin sih gak ada yang pake, mungkin mau ngilangin jerawat.
Suka sekali foto ini! Seperti untuk poster film atau pameran alat-alat outdoor hahaha. Yaa meski pose saya lagi gak oke tapi tetep komposisinya cakep.


Hiking disini sebenarnya gak terlalu sulit, hanya saja saya memang gak banyak jam terbang mendaki di gunung jadi suka lebay gitu rasanya. Meski udah banyak trekking di Nepal, tapi kalo di gunung sensasinya beda. Buat yang gampang lapar, di beberapa pos pemberhentian ada warung jualan kok. Kamu bisa istirahat sambil makan mie instan atau gorengan. Harganya gak culas-culas amat juga karena naik Papandayan sebenarnya bisa dijangkau pake motor! Hahaha.
My favorite photo in this trip! Makasih Mas Tegar udah fotoin! Seger banget kuning-kuning dengan background hijau begini. Dan bagi yang rajin ikutin blog ini, pasti paham kalo setiap jalan-jalan saya selalu suka pake jilbab kuning hahaha.

Banyak tempat istirahat disini. Jalanan landai juga banyak jadi yakin lah kalo kamu pendaki pemula, kamu gak bakalan sedih. Because you'll rest with a view!
Salah satu (dari sekian super banyak) pemandangan yang saya SUKA! Gunung ini kayak ditempeli brokoli! Eh ini saya di Papandayan apa New Zealand sih?

Kami kemping di Pondok Saladah, tempat yang memang disediakan untuk kemping orang-orang. Gak heran disini banyak juga warung makan yang bukan cuma sedia mie instan, tapi segala minuman hangat sampe nasi goreng pun ada. Di sini juga ada mushola, kamar mandi untuk bersih-bersih, kamar mandi untuk buang air, juga banyak dataran landai untuk gelar tenda.


Tempat kemping kami berada di pinggiran, dekat dengan beberapa geng edelweiss dan pemandangan gunung yang cantik. Bawa 3 tenda untuk sebelas orang ternyata yaa agak mepet juga ya hahaha. Dan bodohnya matras yang dibawa gak cukup jadi ada tenda yang sedih tidurnya hanya beralas tenda dan sleeping bag.

Pemandangan kempingnya kayak gini bikin pingin kesini berdua aja sama suamik!

Ketemu ulat mirip lele pas lagi tidur-tiduran istirahat siang. Ketemu juga yang warna putih dan keliatan jadi mirip naga.
Such a place to have a best nap. Untung Deden gak kesurupan.

Perbekalan yang kami bawa. Ada kornet sapi, kornet kambing, mie instan, beras, sosis, naget ayam, sayur mayur, lengkap semua pake saos, kecap, gula, tepung bumbu, sambal, aaah ini kemping luxury. Senang! Meskipun sialnya kami cuman bawa satu kompor untuk masak sebanyak itu, tetep senang lah soalnya makanannya enak enak. Untung juga banyak warung jualan jadi kami bisa numpang masak disana.

Love this photo of Ghozi, Deden, dan Uji. Pemandangannya bagus.

Sebelum malam, kami main ke hutan mati. Tadinya mau ke Tegal Alun lihat kebun edelweiss tapi setelah ditelusur kok kami malah kesasar ya hahaha. Papan penunjuk arah ke Pondok Saladah dan lain-lain semua memang jelas, tapi khusus Tegal Alun aja ini gak jelas (atau kami yang memang salah dari awal). Jadi kami putuskan belok menuju hutan mati.

Kawasan yang dulu hijau ini mengering dan mati akibat letusan gunung beberapa ratus tahun lalu. Agak bingung kenapa hanya bagian ini aja yang mati, sedangnya dibeberapa tempat sekitar lain masih bisa tumbuh hijau.

Hutan mati ini konon merupakan 'hasil perbuatan' letusan Gunung Papandayan tahun 2002 lalu, dimana terjadi 3 gelombang erupsi yang menyebabkan banjir bandang di Sungai Cibereum, pembentukan kawah-kawah baru, juga pemuntahan material vulkanik dari Kawah Nangklak (Directed Lateral Blast). Tapi itu belom seberapa. Gunung ini pernah meletus sedahsyat-dahsyatnya pada tahun 1772 silam, yang dengan ganasnya mengakibatkan 40 desa beserta hampir 3000 orang penduduknya terkubur!

Terbang ngguyu. Oh kalo ke hutan mati memang kadang-kadang kabut bisa turun terus pergi lagi. Jadi suasanya bisa gloomy terus balik ceria lagi. Tapi entah kenapa ya, meski suasanya sebenarnya mencekam, disini malah kami semua happy banget. Kami banyak foto-foto bahagia mulai dari sok foto hits atau yaa pokoknya segala foto lucu lah. Ketawa gak karuan sepanjang foto-foto, sampe bikin laper. I'm so happy to have friends like them all. One of the happiest moment this year.
Dan kalo kamu pergi bersebelas ke tempat yang sangat bagus lalu gak ada gangguan orang lewat, saatnya foto loncaaaat!

LAGI! Hahahaha. Aduuuhh latar belakangnya bagus bangeeeettt :')))))

Ada kolam yang airnya putih jadi kalo difoto dia terrefleksi biru dari langit. Beautifully photogenic.

Kami jalan sampe ke ujung bukit. Hati-hati langkahnya karena rawan longsor. Sebenarnya tujuan kebanyakan orang ke hutan mati (selain foto-foto) adalah untuk lihat matahari terbenam. Tapiiii hari itu mataharinya ketutup awan jadi kami cari pemandangan aja buat foto-foto lagi.

Pemandangan dari atas sini sumpahhh bagus banget! Magical! I really wish I could fly right now... Bisa banget duduk disini seharian atau tiduran di hammock, lalu baca buku, nyeruput Thai Tea, sambil sesekali mengintip pemandangan ini. Hidup ini indah ya. Pokoknya harus ajak Mas Gepeng kesini! Harus!

Akhir pekan yang gak karuan rasanya! Bahagia banget! Temen-temen kalo lagi patah hati atau lagi suntuk kerjaan atau lagi ada masalah atau lagi mau senang-senang atau lagi mau gembira bersama siapa aja, dateng deh kesini. Bawa minuman hangat. Bawa semangat. Dan jaga kebersihan yaa. Tempat ini cantik banget! Gak rela kalo kotor.

Malamnya saat kemping dan kami semua udah tidur. Ternyata tenda kami didatengin babi hutan lho! Dia lari-lari keliling Pondok Saladah dan menghampiri tenda kami lalu digigit lalu dia ambil mie goreng! Kenapa harus mie goreeeeng :'((((( Teman-teman hati-hati ya kalo kemping, mie gorengnya jangan ditaruh dibagian pinggir. Mending bawa tidur aja hahahaha. Sampai jumpa di kemping selanjutnya!

5 comments

  1. 2000 meter....Gak kebayang dinginnya gimana
    maklum,,,saya lebih sering main dipesisir, hingga kulit pun sehitam penduduk padang pasir :-D

    2000 meter lebih, apa gak berkurang tu kadar oksigen? selama mendaki ada merasa sesak gak?
    pengen juga sich,,,nyoba mendaki hingga ketinggian segitu,,,sedang nunggu masanya

    salam traveller dari Aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini adalah pendakian paling nyaman seumur hidup saya. Gak ada sesak, gak ada kekurangan oksigen, semuanya sangat menyenangkan. Kamu coba deh sekali-sekali ke tempat dingin, Takengon, Gunung Seulawah, Gunung Ulumasen, atau malah Gunung Leuseur sekalian :)))

      Delete
    2. Kalau Seulawah udah sering, sayangnya gak sedingin dulu lagi

      Delete
  2. liat foto2nya aku berasa naik gunung beneran, belum pernah lho aku naik gunung tapi liat orang naik gunung happy gini jadi pengen kesini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy banget Mbak Mariana :))) Gunungnya bagus, nyaman gak bikin susah pokoknya. Coba deh :)

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.