SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

Ketemu Kue Lapis di Tengah Laut dan Geng Ikan Belitung

Ribuan tahun silam, bongkahan besar batu granit yang berapa puluhan kilometer berada di bawah permukaan bumi mengalami proses tektonik yang mengakibatkan batu besar itu (batolit) terangkat ke permukaan. Proses ini pun gak hanya bikin mereka terekspos ke udara, tapi juga mematahkan dan meretakkan mereka menjadi pieces berbagai ukuran (deformasi) karena setelah keluar, terjadi proses pelapukan. Kejadian ini terus berulang bertahun-tahun. Jadi apa yang kita lihat sekarang di bebarapa pantai fenomenal di Bangka Belitung, yaitu batu-batu besar –wilayah geosite, adalah pecahan tubuh besar batu granit yang bersemayam di bawah sana.

Begitulah jawaban yang saya dapat setelah melakukan sedikit riset hasil penasaran pas natal lalu saya dan Mas Gepeng main ke Bangka Belitung, gimana bisa ada batu besar ditengah-tengah laut? Masa iya ini pecahan meteor? Kok bisa sisa banyak pecahannya? Lagian batu meteor kan biasanya hitam gosong, berpori besar, dan kasar (setidaknya begitu kalo lihat di film X-Men Origins: Wolverine). Ternyata ini pecahan raksasa granit. Itu juga alasan kalo melihat bongkahan batu lebih dekat, akan terlihat bagian-bagian mengkilap.

Batu kue lapis besar-besar itu adalah hal yang paling menarik yang saya temukan ketika main ke Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Belitung. Batuan ini membuat birunya laut dan langit jadi makin indah. Pantai Tanjung Kelayang merupakan salah satu pantai terkenal di Belitung, bersama dengan Pantai Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, Pulau Memperak, dan sebagainya. Terletak 37 km dari Tanjung Pandan dan dapat ditempuh dengan motor dan mobil (berhubung angkutan umum di Belitung sudah pensiun entah kemana). Pantai dengan pasir gak putih-putih amat ini semakin naik daun setelah beberapa kali menjadi lokasi perhelatan Sail Wakatobi.

Konon, salah satu hal lain yang bikin semenanjung berpasir putih ini terkenal juga karena ada bentukan batuan yang kalo dilihat mirip kepala burung. Itu juga yang membuat tempat ini bernama Tanjung Kelayang (sesuai salah satu jenis burung endemik sini). Meskipun begitu, saya dan Mas Gepeng gak tau letaknya sebelah mana jadi kami gak nemu itu kepala Batu Garuda hahaha.
 
Air bening jadi bisa lihat ikan kecil-kecil berenang berkerumun. Kalo adanya di deket permukaan gini berarti school fish kelas elementary lah ya haha. Sebenarnya ada yang lumayan gede juga tapi sembunyi dibebatuan. Setiap jalan-jalan, Mas Gepeng selalu bawa celana dan kacamata renang. Snorkeling sederhana begini aja bisa bikin seneng. Mungkin sebenarnya akan lebih breathtaking kalo nyelam dan melihat kehidupan bawah laut. Mungkin ya, karena selama ini lihat fotonya memang luar biasa indah. Tapi untuk saya pribadi, yang begini aja udah cukup. Liat orang nyelam aja udah berasa kecekek apalagi nyelam sendiri. Makanya saya gak lanjut nyebrang juga ke Pulau Lengkuas atau island hopping yang banyak dilakukan orang kalo ke Bangka Belitung.

Alat snorkeling a la Mas Gepeng: kacamata renang, telanjang dada (always), hp dibungkus waterproof case, andalan banget mau ke pantai di Lombok, Lampung, begini terus setelannya. Ada yang lucu pas lagi snorkeling. Jadi kan Mas Gepeng udah siapin kamera hp terbungkus rapih bebas bahaya rembes air. Berenang kan tuh Mas Gepeng videoin schooling fish sekalian kejar-kejaran. Pas udah selesai, kamera diberikan ke saya untuk disimpankan. Pas saya lihat, lho kok video dan fotonya muka Mas Gepeng semua! Lah! Jadi dari tadi dia pake kamera depan? HAHAHA.

Video ini baru saya upload disini tanggal 30 Januari 2017 karena saya baru ingat video ini ada! Hahahaha. Hadeeeuuhh ngekek bener....

Haaaaai perahuuu! Begitu lah bentukan perahu yang island hopping. Lebih murah kalo isinya banyak karena sharing cost-nya juga jadi banyak. Kisaran harga sewa perahu begini sekali jalan PP sekitar Rp250.000 - Rp500.000 tergantung musim.

Dari semua pantai yang saya kunjungi selama tahun 2016, yang paling kece adalah Pantai Tanjung Kelayang ini nih. Seperti biasa, saya menikmati pantai gak dengan berenang atau nyelam atau mancing. Hanya duduk, memandang langit dan luasnya lautan, ketiup angin, gak berisik orang heboh, ooh indahnya hidup. Kalo jalan ke arah pantai, saran saya kalian berhenti di jalan yang paling ujung lalu masuk dari sana (belok kanan). Selain gak ada tarif parkir, tempat ini lebih sepi ketimbang yang pintu masuk official-nya. Disana parkiran penuh sama mobil dan bus. Penjual warna warni juga banyak. Jadi bakalan sumpek kalo mainnya disana dan mungkin ada biaya retribusi. UH-OH! BARU SADAR! Itu pulau di sebelah kanan itu ternyata adalah pulau Batu Garuda! Wuaaaah iya ya! Ya ampun baru sadar bener pas nulis ini dan di preview hahaha. Geblek.

Dan di pantai ini kami punya foto berdua yang SUPER KECE! Hahaha. Kami pake timer 10 detikan dan beberapa kali pose loncat-loncat. Dari sekian usaha, yang berhasil cuman 2 biji hahaha tapi seneng banget! Suasananya sepi, langit cerah sekali dan batu kue lapis juga bagus. Matur sembah nuwun Gusti... Bahagia sekali :)

Selain Tanjung Kelayang, saya juga main ke geosite pecahan batu granit lain yaitu Pantai Tanjung Limau. Pantai ini gak terkenal sebagai tempat wisata, jalan masuknya aja gang gitu. Namun saya lebih nyaman main kesini ketimbang Pantai Tanjung Tinggi. Melihat dari pinggir jalan, Tanjung Tinggi masya alloh penuhnya! Penjaja baju, makanan, minuman, dan aneka jualan lainnya beradu sama penuhnya parkiran, orang-orang datang dalam grup besar, astaga, bakalan jadi pepes tahu kalo main kesitu. Akhirnya motor kami gas lurus lalu ketemu palang bobrok sebuah gang bertuliskan Pantai Tanjung Limau.

Pantai ini jauh lebih sepi ketimbang dua pantai sebelumnya. Hanya orang lokal yang duduk santai dan mereka yang siap melaut. Pas sampai disana, beberapa pelaut baru sampai dari perjuangannya mencari kepiting. Para bu nelayan dan penjual ikan yang udah hapal jam pergi dan pulang para nelayan menunggu dengan membawa wadah sendiri untuk beli langsung kepiting segar untuk dikonsumsi sendiri, jualan di warung makan, atau jual di pasar.

Kepiting baik, kematianmu gak pernah sia-sia, nak! Kamu selalu lezat dimasak dengan bumbu apapun! Masuk surga yah! I love you <3

Pecahan batu granit disini lebih kecil-kecil, mungkin aktivitas abrasinya lebih intens dibanding Tanjung Kelayang. Sebarannya sama luas namun memang ukuran mirip-mirip batu kali. Ombak hari itu lagi gak terlalu tinggi meski musim hujan, tapi para nelayan memprediksi besoknya baru akan tinggi (bener aja karena besoknya memang hujan turun lebih deras dan air jadi sedikit ganas, para nelayan ini cenayang juga hahaha).

"Blue days, all of them gone. Nothin' but blue skies from now on. Blue skies smilin' at me. Nothin' but blue skies do I see. Never saw the sun shinin' so bright, never saw things goin' so right. Noticing the days hurrying by. When you're in love, my how they fly"
- Ella Fitzgerald, Blue Skies.

Halo gantengnya akuh :* Saya selalu selalu suka deh Mas Gepeng pake baju merah ini. Tiga tahun lalu, kalo gak salah awal Mei, dengan memakai baju ini Mas Gepeng menghadap langsung Bapak saya untuk nembung anaknya mau dihalalkan. Ihik ihik.

Berasa punya sendiri gak sih? Sepi bener disini. Untungnya kami gak menemukan bunyi aahhh-uuhhh-ooohhh diantara semak dan pohon. Aktivitas warga di pantai kebanyakan selesai saat sore hari (gak tau ya kalo ada yang lembur). Mereka melaut mulai dari pagi, mencari ikan dan jenis panganan seafood lainnya. Gak heran di Belitung banyak pasar ikan dan biasanya saat sore menjadi lebih rame karena ikan baru banget diantar. Salah satunya di Pasar Baro.
 
Di Pasar Baro, ikan-ikan ini semua segar hasil melaut nelayan yang muara parkirnya di Pelabuhan Pasar Baro. Kapal nelayan banyak sekali, ada yang udah lapuk, ada juga yang masih baru (atau diperbaharui). Setiap kapal punya kotak penyimpanan ikan, paling seru yang warnanya kuning. Kapal-kapal ini juga punya ‘dapur’ buat masak, mungkin masak ikan goreng sama sambal terus lalapan (oh Tuhan apa rasanya makan ikan goreng hasil barusan mancing dengan sambal dan lalapan, lalu makannya ditengah laut? Like a dream, I guess –as long as I'm not an fisherman).

Kebanyakan perahu bernuansa biru, mungkin biar matching sama birunya langit dan laut. Benda-benda 'ajaib' banyak ditemui disini, seperti kap lampu dari galon bekas, pajangan dari burung kering (hiks, semoga ini memang burung yang mati karena kepanasan), kompor masak dari kaleng minyak, macem-macem deh pokoknya. 

Eh ada yang jual nih. Siapa mau? Lumayan baru di cat.

Para bu nelayan menunggu suami pulang membawa berkah. Yang seneng itu ngeliat ibu-ibu dandan cakep, baju rapih, wangi, seger, jadi suami yang lelah setelah seharian mencari ikan akan senang sekali karena disambut wanita cantik kesayangannya. Ciee.

Katanya ini sedikit! Katanya biasanya bisa lebih banyak dari ini. Ikannya masih pada natalan kali ya, Pak. Pelajaran yang saya petik dari ikan ini adalah ketika ikan ini baru saja mati, mulutnya masih mingkem. Tapi pas udah di masak, baru deh mulutnya nganga semua.

Hasil laut berlimpah ini menjadikan Belitung sebagai salah satu eksportir hasil laut yang cukup aktif. Beberapa ikan yang mudah ditemui disini adalah tenggiri, bellanak, sembilang, bedukang, uset, dan lain-lain. Untuk meningkatkan potensinya, Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berupaya untuk mengembangkan budidaya perikanan, pengembangan pengolahan dan pemasaran, juga pengawasan sumber daya laut. Meski jumlah dan nilai produksi hasil pengolahan hasil laut dari 7 kabupaten secara year on year masih fluktuatif (data tahun 2011 – 2014), tapi program pemerintah untuk mendukung pemasaran melalui penggalakkan kelompok UMKM harus selalu didukung. Maju terus nelayan Indonesia! BRI siap dukung!

Saya melihat masa depan perekonomian yang cerah di Belitung (ciee sok pengamat ekonomi gitu). Setuju kalo semua titik wisata disini perlu dukungan infrastruktur dan penataan yang lebih serius. Tapi bekal untuk kesana kayaknya udah ada semua. Laut super indah? Gak diragukan. Ikan? Banyak. Kepiting juga cakep-cakep. Jalanan Belitung? Beuhh, aspal mulus! Ditambah bumbu kunyit dan lada yang export-able dan dijadikan bumbu masakan yang khas, saya rasa jika pemerintah dan warga Belitung serius melakukan peningkatan kualitas wisata daerah, bertahun-tahun kemudian Belitung akan lebih terkenal bukan lagi hanya karena buku dan film.

Tips-tops:
  • Penerbangan Jakarta – Tanjung Pandan udah banyak. Saya beli tiket ini bulan Juni dan dapet harga lumayan murah dengan pesawat Citilink dan Garuda Indonesia. Meski Bangka Belitung lagi musim hujan tapi long weekend bikin banyak orang datang kesini. Jadi beli lah tiket jauh-jauh bulan. Lumayan banget harganya! Cihuy!
  • Sempat kesal kesumat sama beberapa referensi yang gak mencantumkan dimana mereka sewa motor murah, jadi catatan harga sewa motor disini GAK ADA yang Rp45.000 ya! Serius ini! Tanya Mas Gepeng yang udah tanya kesana kemari! Kami sewa motor di 2 tempat. Pertama Hotel Harlika Jaya (sekaligus jadi tempat kami menginap) harganya Rp85.000 sehari. Kedua, di Belitung Travel (0812 7170 416) harganya Rp70.000 sehari, bisa dianter dan jemput –kalo anter jemput di bandara kena biaya tambahan Rp30.000 karena lumayan jauh dari kota. Ini salah satu trik hemat untuk balik dari kota ke bandara yang kalo naik taksi-taksian harganya bisa Rp40.000 per orang. Ingat, gak ada angkot di Belitung.
  • Bagi yang mau nyebrang ke Pantai Lengkuas, ini ada nomor telepon mas-mas kapal yang bisa anterin kamu dengan harga nego sekitar Rp300.000 – Rp500.000 tergantung musim. Mas Yayan 0852 6709 2161.

10 comments

  1. Satu kapal maksimal berapa orang kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku gak tanya maksimal berapa, tapi kemarin liat ada yang isinya 12 orang

      Delete
  2. Saya orang Bangka Mba', mampir juga ke Bangka, banyak pantai cantik juga di sana. :)
    Belitung emang pulau dengan pantai yang indah dan cantik banget.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Julia, saya juga masih penasaran sama Pulau Bangka. Semoga ada rejeki bisa main kesana yah

      Delete
  3. Ga pernah bosen ke belitung... 2 thn lalu outing kantorku kesana mba :D.. kita seruuuu bgt bisa island hopping dan yg paling aku suka kulienrnya pasti... sumpah seafoodnya enak2 bgt dan seger yaaa... aku mah mau kalo disuruh balik lagi ke sana :D.. dan iya tuh, aspal di sana mulus tanpa bolong2 kyk jakarta -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiiiw seru ya island hopping. Penasaran sebenarnya 2 tahun lalu sama sekarang pantainya ada kemajuan gak sih? Maksudnya di sektor pengelolaannya, dulu lebih clean gak? Anw semoga bisa balik lagi kesana ya Mbak Fanny :)

      Delete
  4. Awww Justin ,sebagai penggemar pantai aku envy bangetttt. Bagus banget ๐Ÿ˜๐Ÿ˜, btw salam kenal ya ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini Mbak Sari pulang sebentar ke Indonesia terus main ke Belitung hehehe. Salam kenal juga Mbak :)

      Delete
  5. Pasar ikannya mbaak...bikin beli semua, goreng kering makan pake nasi panas cocol sambel terasi..waaah nikmatnya tak terkira...

    Suka banget liat photo2nya...alam Belitung cakep banget :)

    Salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Dewi lagi kangen lalapan sama sambel terasi kayaknya ya hahaha. Salam kenal juga Mbak, doain aku segera main ke Nuuk yah :D

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.