SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

Pahit Manis Perjalanan Timah dan Kaolin di Belitung

Saat pesawat mulai terbang rendah tanda sudah akan segera mendarat ke Pulau Belitung, dari atas udara saya melihat banyak sekali danau kecil berwarna hijau biru ditengah rimbunan pohon dan semak belukar. Gak mungkin kolam lele kan? Atau tanahnya longsor lalu terisi air hujan? Danau? Danau kok banyak banget? Apa Belitung bukan hanya 1001 kopi tapi juga 1001 danau? Kita tanya, galileo.

Ada dua negara penghasil timah terbesar di dunia: Cina dan Indonesia. Bedanya kalo Cina menghasilkan tambang lebih banyak untuk digunakan sendiri, sedangkan Indonesia berperan memenuhi kebutuhan timah dunia. Jika melihat target pencapaian produksi timah Distamben (Dinas Pertambangan dan Energi) Provinsi Bangka Belitung tahun ini adalah 70ribu ton sedangkan produksi riil timah Indonesia (menurut British Geological Survey) berkisar antara 70,2ribu sampai 88,4ribu ton, berarti Bangka Belitung menyumbang sebagian besar produksi timah nasional. Hasil itu juga yang menempatkan Indonesia sebagai pemasuk 80% persen kebutuhan timah seluruh dunia. Canggih?

Timah yang menjadi kekayaan sumber daya mineral Bangka Belitung sebenarnya dibawa oleh batu granit. Beberapa jenis granit mengandung mineral biji timah yang dikenal dengan nama mineral kasiterit. Proses alam yang membuat batu granit itu melapuk, ada yang jadi batuan seperti di Pantai Tanjung Kelayang, ada juga yang terurai jadi tanah berpasir. Nah aliran air membawa pasir-pasir (calon sumber kekayaan) ini ke sungai dan mengendap bersama pasir kuarsa (pasir sungai). Jadilah penambang tinggal gali-gali lalu memisahkan mana pasir kuarsa mana mineral timah. Taaaaaapi abis gali-gali itu, penambang meninggalkan begitu aja tanpa melakukan revegetasi. Kenapa begitu? Pertama, peralatan tambang dulu masih sederhana. Bahkan pas masa krismon (krisis moneter, bukan Krisdayanti montok #90an), penambangan timah terjadi cukup liar. Gak ada aturan, bebas gali sana gali sini, kalo udah beres tinggal aja. Cara penggalian pun serampangan. Kedua, menurut saya, masyarakat kita ini masih lalai kalo urusan bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan ke alam. Maunya ambil manfaat sebanyak-banyaknya, udah beres, ditinggal. Hiks. Cedih.

Pelapukan batu granit ternyata gak hanya ‘membawa’ batuan besar dipantai dan bijih timah, tapi juga kaolin. Apa tuh? Kaolin (mineral aluminosilikat) adalah sejenis tanah liat yang biasa dipakai sebagai bahan pembuatan pelastik, karet, kosmetik, farmasi, pasta gigi, kertas, dsb. Nama bekennya adalah China clay. Bangka Belitung ternyata juga merupakan salah satu penghasil dan memiliki cadangan kaolin terbesar skala nasional. Peninggalannya boleh cakep: air biru toska bersanding dengan tanah kaolin yang kata mereka sangat Instagram-able. Tapi sebenarnya, agak merinding juga berada disini.

Penggalian besar-besaran kaolin ini meninggalkan jejak miris. Kalo menelusuri sepanjang jalan murai, kita bakalan melihat beberapa daerah yang ‘rusak’ karena penggalian dan aktivitas penambangan yang gak ditata dengan baik. Kata ‘danau’ sendiri sebenarnya adalah bentuk penghalusan aja untuk menyebutkan area galian bekas tambang yang telah ditinggalkan begitu saja. Kasihan. Hiks lagi.

'Manis'nya dari aktivitas tambang timah dan kaolin di Belitung adalah lapangan pekerjaan ada banyak. Efeknya selain perekonomian yang tumbuh, masyarakat Belitung punya pekerjaan yang halal dan mereka juga yang bikin kedai kopi disini jadi primadona. Dulu, para penambang selalu ngopi sebelum bekerja untuk mencari informasi dan mengobrol dengan penambang lainnya. Andrea Hirata bilang, penambang ini awalnya disangka males-malesan karena kok pagi-pagi ngopi bukannya kerja!? Tapi ternyata ada interaksi penting disetiap seruput kopi dan hangatnya kebersamaan.

'Manis'nya lagi, tempat ini memang beneran photogenic sis! Uhuuuuyyyy....

Warna toskanya bikin ceria and we did really have a good time here! Kami banyak mengobrol tentang jalan-jalan yang biasa, danau-danau buatan itu, dan hal-hal sederhana lainnya. Sebenarnya kami banyak momen mati-gaya di Belitung. Biasanya memang kami gak bikin itinerary buat perjalanan tapi kali ini benar-benar deh. Mati gaya! Tapi yang menarik adalah, entah sejak kapan, mati gaya kami bisa jadi memorable moments yang nantinya akan bikin kami ketawa geli berdua, bertanya-tanya, kenapa kemarin di Belitung bisa mati gaya ya?

SESUNGGUHNYA saya masih sangat sangat penasaran gimana rasa airnya. Kalo baca-baca referensi, air disini digunakan untuk mandi orang-orang juga. Tapi air biru terang didalam cekungan danau kaolin, terendam, kena hujan, kena panas matahari, kok bikin kolam itu berasa alien banget! Mistis! Serem! Jadi pas Mas Gepeng juga pingin sentuh pun jadi ikut-ikutan takut hahaha. Jangan-jangan kalo nyemplung, tangannya melepuh sampai ke tulang-tulang huwaaa!

Banyak wisatawan berkunjung kesini saat siang, termasuk saya (makanya semua fotonya over exposure tanpa awan haha). Gak disebut tempat wisata juga tapi orang-orang pada tau kok kalo kita tanya "danau biru dimana ya?". Disini gak ada orang jualan, tempat duduk, atau kedai kopi. Sungguh ini benar-benar bukan tempat main. Tapi memang indah sekali ya warna toskanya. Malahan di detik.com pernah memuat artikel yang bilang danau kaolin mirip Islandia! Lah?

Iya juga sih hahah! Kalo dibuat monokrom begini ya mirip foto di antara salju. Tapi agaknya lebih mirip berada ditengah-tengah gundukan tepung terigu. Anyway friends have great Thursday night. Jakarta cerah dan saya belum lelah dan akhirnya memutuskan (di menit ini) akan tetap berangkat nge-gym. Dan setelah preview tulisan beberapa kali, alias beberapa menit berikutnya saya hanya duduk dibalik kubikel. Gak jadi nge-gym.

Semoga dunia berputar ke arah yang benar dan ke arah yang baik. Dadah!

No comments

Post a Comment

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.