Rest and Be Thankful

3 May 2017

Long weekend hari buruh kemarin seharusnya saya dan Mas Gepeng main ke Medan. Saya mau ajak Mas Gepeng menikmati segala kuliner surga yang pernah saya cicip pas tinggal disana tahun 2013 silam. Tapi ada yang terjadi. Tiga hari sebelum keberangkatan, saya cancel perjalanan itu. Seumur-umur baru kali ini cancel perjalanan, biasanya paling banter cancel karena beli tiket dobel (HAHA) atau salah beli tiket (HAHA lagi). Hari itu saya merenung, mencoba bicara dengan diri saya sendiri. Kadang saya terlalu ambisius untuk gerilya merencanakan lancong bahkan setahun ke depan sampai lupa untuk bertanya sama diri sendiri, "cuy, lo lagi butuh apa sih?".

Saya coret-coret di kertas tentang apa saja yang saya butuhkan, mulai dari visa Inggris, episode terbaru The Flash (gilsss penasaran banget sama siapa yang jadi Savitar!), tanaman monstera, kaus kaki bersih, uang dua miliar rupiah, clarisonic face brushes, pijit, bayam, boots baru, dan macam-macam sampai saya terdiam beberapa saat lalu menulis satu kata: istirahat.

Seminggu lalu saya business trip ke Solo lalu extend tiga hari ke Jogja. Ada gosip saya akan melakukan business trip lanjutan ke Makassar dan Medan selama seminggu non stop di awal Mei, dan besoknya lanjut main ke Penang, Malaysia. Nyiksa kan dengernya! Saya tau pasti happy banget bagi yang suka jalan apalagi gratisan, saya juga merasa begitu pada awalnya. Tapi yang tubuh saya saat ini butuhkan bukan trip gratis atau melancong bepergian dua minggu penuh. Dia hanya butuh istirahat di rumah, dikasurnya sendiri, dikamarnya sendiri. Dia hanya butuh bangun dan melihat matahari pagi tersembul dari balik semak markisa yang tumbuh liar di pagar rumahnya. Dia hanya butuh duduk santai di sofa lalu anak-anak kucing itu pada memanjati celananya. Saya hanya butuh rumah, dan suami saya.

Tiga hari libur, dan saya merasa perfectly content. Saya bangun di kasur, lalu duduk di halaman, memandangi tanaman, memandangi kucing-kucing mandi matahari, mandiin mereka juga, masak sarapan, nyapu ngepel, bersihin jendela, sikat-sikat kaktus, baca buku, beres-beres dapur, beli tanaman (akhirnya punya monstera!), dipijitin Mas Gepeng, ketemu sahabat-sahabat, gendong bayik, tidur jam 9 malam, apalagi yang lebih sempurna dari ini coba?

Traveling itu memang kebutuhan, tapi itu bukan satu-satunya. Life is a balance, between rest and move along. Sekarang saya udah fully charged banget, siap melancong kemana pun dan bekerja lebih giat. Semoga semua yang punya mimpi untuk keliling dunia selalu ingat untuk istirahat di tempat yang menurutnya paling nyaman.
Post Comment
Post a Comment

I'd love to hear from you!