Menikmati Edinburgh dengan Sebaik-baiknya

11 July 2017
Perjalanan eksplorasi United Kingdom saya mulai dari bagian atas yaitu Skotlandia. Menurut penasihat perjalanan UK saya, @miraafianti, mending rute mulai dari atas lalu terus turun ke bawah untuk memudahkan akomodasi dan cakep gitu alurnya. Jadi sesampainya saya dan Mas Gepeng di Heathrow International Airport, kami lanjut naik bus ke Edinburgh. Untuk menuju Edinburgh dari London sebenarnya bisa naik pesawat atau kereta dan jangka waktunya bisa lebih singkat. Tapi berhubung pesawat saya landing-nya sore dan kalo naik kereta pun sampainya tengah malam, jadi saya pilih naik bus aja yang ujungnya saya sampai pagi dan langsung bisa melancong yaaay. Saat pagi, Edinburgh bersama bangunan khas abad pertengahan terlihat berbinar-binar seperti bayi yang baru selesai mandi. Segar! Saya akan ceritakan apa aja yang kami temui  dan nikmati disana, tentu saja bersama foto-foto kece :p

Edinburgh (yang kalo orang sana menyebutnya Edinbwah, haha) resmi menjadi ibukota Skotlandia sejak 1437 dan terdaftar menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995. Ratusan tahun lalu, tepatnya tahun 1707, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Skotlandia resmi bersatu melalui pengesahan Undang-Undang Penyatuan (Act of Union) dan meleburkan diri menjadi Kerajaan Britania Raya dengan London sebagai ibukota pemerintahanya. Penyatuan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan masing-masing kerajaan yang dapat dipenuhi jika keduanya bergabung menjadi satu. Sebagai kota pertama di UK yang saya jelajahi, Edinburgh menjadi pembuka yang manis. Benar saja, jejak bersejarah mulai dari pengaruh Kekaisaran Romawi, abad pertengahan (medieval) yang menggaungkan nama Andrew Moray dan William Wallace (eh, kita main ke monumennya lho!), Perang Dunia I, hingga Undang-Undang Skotlandia yang menjadi titik terang dalam dukungan peningkatan ekonomi secara mandiri, rasanya terasa sekali karena nuansa kota ini sangat klasik nan maju. Klasik banget sampai-sampai foto pakai sepatu hits Nike gak bakalan matching.
Salah satu jejak sejarah dan sebenarnya nyaris hilang adalah Kapel St. Anthony yang dibangun pada abad pertengahan silam. Meski sekarang kelihatan (sisa bangunannya) ada diatas bukit, kapel abad 15 itu hancur akibat letusan gunung api hebat. Bukit itu namanya Arthur's Seat dan merupakan puncak tertinggi dari sisa reruntuhan gunung api yang meletus ratusan juta tahun yang lalu. Nama Arthur diambil dari nama Raja Arthur, sosok legenda pahlawan yang memimpin pasukan Britania dalam menghadapi 12 pertempuran! Canggih ya bro! Konon di atas bukit ini dulu kastil Camelot punya King Arthur's berdiri dengan megahnya. Meski ceritanya memiliki banyak versi, tapi sosok Raja Arthur menjadi penyemangat bangsa Britania tentang kebaikan, kegigihan, dan kesetiakawanan. Etapi gosipnya sih nama Arthur's Seat itu kepeleset dari spelling Ard-na-Said yang artinya 'Height of Arrows'. Yasutralahya...


Kami berjalan dari Royal Mile menuju Holyrood Palace. Aktivitas jalan kaki di Edinburgh itu menyenangkan karena selain udara sejuk dan pemandangan kota yang sophisticated, orang-orang sini ramah banget. Beberapa kali kami mencegat orang untuk ditanyai jalan menuju Arthur's Seat, mereka dengan sangat ramah menjelaskan arahnya, bahkan dengan gaya khas orang Inggris yang membuka topi saat berbicara dengan orang lain. Saya jadi ingat beruang Paddington.

Holyrood Palace sendiri adalah sebuah istana yang istilahnya rumahnya Ratu Inggris di Edinburgh. Saat itu bendera kuning berkibar, menandakan Ratu sedang ada disana. Mungkin itu penyebab gerbang istana ditutup untuk umum. Kalo pas lagi ada event Holyrood Week, baru deh open house. Setelah berjalan mengikuti dinding istana, selanjutnya akan bertemu Holyrood Park berupa lapangan supeer luas. Kalo ada acara, di lapangan ini banyak berjejer food truck dan stand makanan. Saat sepi, isinya orang jalan-jalan dengan anjingnya atau sekedar lewat. Kami duduk gegoleran disana memandangi Arthur's Seat sambil mengistirahatkan kaki. Ternyata penerbangan 13 jam tambah naik bus 8 jam lumayan bikin kangen selonjoran.

Kami mendaki bukit kecil bagian timur Arthur's Seat yang terlihat gak butuh banyak effort. Kalo suka tantangan, bisa mendaki ke bagian yang lebih tinggi lagi and you'll marked yourself arrive at the highest peak of Arthur's seat. Sungguh dari jauh terlihat heroik banget lho! Katanya dari atas sana bisa melihat pemandangan kota 360°. Tapi jangan takut jangan khawatir, menikmati bukit kecil juga menyenangkan karena bertemu banyak orang yang bawa anjing-anjing berbagai ras kok. Ini salah satu warm welcome dari Skotlandia, anjing begitu beragam, lucu-lucu, dan semua terawat dengan baik. Gemesh!

Anjing wire fox terrier ceria lari kesana kemari. Menurut si pemilik, gak banyak orang yang punya anjing serupa dengan Snowy, si anjing Tintin. Cukup jarang memang, tapi setiap anjing apapun rasnya akan senang kalo ketemu anjing lain. Mereka akan sok akrab lalu lari-larian bersama. Termasuk anjing ini yang secara karakteristik selalu antusias dan taktis. Pas anjing ini ketemu siapa pun yang baru, dia akan menghampiri lalu lari keliling-keliling. Gemes banget! Saking pecicilannya, saya gak bisa peluk even mau elus kepalanya aja susah. Selain ketemu pasukan berbulu, dari bukit sini juga kelihatan Calton Hill nun jauh disana. Tempat favorit untuk melihat matahari terbit di Edinburgh ini juga jadi spot favorit untuk jalan-jalan karena ada 3 monumen diatas sana yaitu Dugald Stewart Monument, Nelson Monument, dan National Monument of Scotland.

Kalo jalan diteruskan ke timur akan bertemu St. Margaret’s Loch. Danau kecil buatan ini dibuat atas dasar rencana Prince Albert, orang yang dipercaya Ratu untuk mengurusi seluruh aktivitas kebutuhan rumah tangga, kantor, dan perkebunan di Royal Palace. Tempat ini menjadi tempat favorit bebek-bebek santai, termasuk mereka yang mencari tenang dan teduh untuk sekedar menikmati hari. Kursi kayu disediakan disepanjang bibir danau, tapi kalo mau duduk hati-hati, suka ada eek bebek yang masih basah. Yang agak bingung kalo disini tiba-tiba hujan karena tempat berteduhnya jauh!

Beruntung memang selama di Edinburgh, cuaca sangat menyenangkan. Langit kadang biru kadang kelabu, tapi cerahnya gak pernah padam. Disini kami berkesempatan untuk solat Id di Edinburgh Central Mosque. Sehari sebelumnya kami udah cek waktu pelaksanaan solat Id di website resminya. Ternyata ada 3 waktu: pukul 05.30, 07.00, dan 09.30. Lha kok 3 kali? Menurut penuturan beberapa orang Indonesia yang saya temui disini, hal itu dimaksudkan untuk memfasilitasi para muslim untuk solat. Kalo liat tempat solatnya sih memang gak begitu besar, apalagi bagian wanita yang hanya ada 2 shaff dalam ruangan panjang seperti lorong. Kami ambil sesi pertama dan saat itu lah kami berkesimpulan, menikmati Edinburgh pagi hari seperti mukjizat! Indah banget ya ampun! Langit biru bersih dan sinar matahari mengintip dari sela bangunan-bangunan bertekstur itu. Indah! Sumpah! Coba deh!

Kalo mengingat lebaran kami tahun lalu di Nepal, masjid disana bentuknya lebih mirip ruko dan suasana sangat gak kondusif. Berbeda dengan di Edinburgh, masjid yang didesain oleh Dr. Basil Al Bayati ini berada didalam lingkungan yang bersih, kondusif, dan masjidnya bagus. Bukan yang megah begitu sih, tapi masjid dibangun selama 6 tahun ini terawat dan secara umum desainnya cukup unik. Di daerah sekitar masjid pun banyak rumah makan halal yang menyediakan berbagai hidangan. Di bagian belakang ada halaman parkir luas dan jejeran flat. Nyaman sekali pagi-pagi jalan disekitar sini.

Fun fact: Mayortitas orang sini solatnya gak pake mukena. Persis seperti yang saya alami pas di Nepal, mereka solatnya ya pake baju biasa aja gitu. Malah orang sebelah saya gak pake kaus kaki (ini agak aneh sih, yang lain pake kaus kaki haha). Jadi ketahuan yang pake dan bawa-bawa mukena ya pasti orang Indonesia (atau Malaysia). Pas selesai solat, saya yang kelihatan canggung diajak salaman dan cipika cipiki sama orang sini. Mereka baik sekali. Bahkan ada yang kasih saya cokelat. Yang agak beda malah ketika saya ketemu orang Indonesia, mereka malah memandang saya seperti orang asing. Saat saya sapa, "Hai mbaak selamat Idul Fitri maaf lahir batin yaa", dia hanya membalas "Lho orang Indonesia toh". Lah? Emangnya saya kelihatan seperti orang mana? Uganda? Lalu pas saya mengajak salaman sekumpulan ibu-ibu Indonesia, wajahnya gak welcome sama sekali. Seolah berkata "Siapa nih orang sok akrab bener ih", begitu. Saya bingung. Ah sudahlah.

Kalo Edinburgh cerah, kita akan dengan mudah menemukan para pemain bagpipes! Salah satu lagu favorit saya di dunia ini adalah Haste to the Wedding. Lagu ini pertama kali dibawakan oleh kelompok musik folk Inggris, Fairport Convention pada albumnya The Bonny Bunch of Roses tahun 1977. Lagu ini dibawakan kembali oleh band negara tetangga, The Corrs, pada saat konser di Lansdowne Road setahun sebelum album In Blue mereka terbit. Belom pernah denger? Buka disini untuk versi Fairport Convention, dan disini untuk versi The Corrs. Saya jatuh cinta pada suka cita yang dipancarkan lagu ini. Hal itu juga yang saya rasakan ketika mendengar alunan khas bagpipes. Coba buka ini untuk merasakan real lagu Haste to the Wedding dengan bagpipes. Inggris pisan! Meski The Corrs gak membawa instrumen bagpipes dalam cover lagunya, tapi suka cita khas Irish sungguh kental! Makanya pas mendengarkan pemain bagpipes di selasar jalan menuju Edinburgh castle dan Royal Mile, saya serasa ada di tengah pesta! Rasanya ingin menari! Happy banget!

Tapi ada yang lucu. Ketika bagpipers ini memainkan alat musik yang aslinya berasal dari Mesir ini, wajah mereka serius banget. Even mencoba sedikit menari goyangin kaki sedikit, wajahnya tetap seperti lagi sembelit! Hahahaha. Lumayan menantang sih ya mesti isi bagpipe dengan angin terus supaya sulingnya bisa bunyi, tambah lagi harus konsen memainkan lubang suling untuk menghasilkan musik yang apik. Multitasking ya! Tapi kalo cari di Youtube sih udah banyak versi bagpipers metal dan ada yang bisa sekalian menari. Kalo dari Mas Gepeng, dia hanya heran pada satu hal: "mereka gak kedinginan apa pake rok begitu doang?". Iya juga sih. Bagpipers hanya mengenakan kain kilt motif tartan warna hijau atau merah yang dipakai melingkari pinggang -mirip pakai rok. Panjangnya hanya sebatas dengkul dan lebar sekitar sejengkal pada masing-masing sisi. Beneran gak kedinginan ya? Uniknya lagi setiap motif tartan memiliki makna masing-masing sesuai klan dan regionnya. Klan? Iya. Kalo kamu pergi ke toko souvenir, kamu akan menemukan fridge magnet atau kartu pos klan-klan yang ada di Skotlandia. Tapi gak usah cari klan Uchiha, gak ada disini.

Edinburgh seru ya! Salah satu atraktif bersejarah yang juga icon kota kedua terbesar di Skotlandia ini adalah kastilnya. Catat ya, kastil ini guede buanget! Dan tiket masuknya mahal, haha. Saya gak berkunjung masuk ke kastil simply karena harganya mahal, kalo gak salah £16 per orang. Tapi kalo kamu punya uang dan penasaran sama isinya seperti apa, masuk deh. Dilihat dari jauh aja udah magis, didalamnya pasti lebih magis lagi. Edinburgh Castle selain punya koleksi benda bersejarah, mereka juga punya program edukasi dan event wisata seru yang gak sering-sering diadain. Misalnya The Red Clydesider yang hanya ada di bulan Desember, adalah event yang menceritakan sejarah Davie Kirkwood yang dipenjara di kastil ini paska Perang Dunia I. Buat anak sekolahan malah asyik lagi karena ada free education visit mempelajari banyak hal tentang sejarah Skotlandia. Gratisan ini juga berlaku untuk kamu yang lagi kuliah di Edinburgh, jadi kesempatan ini jangan disia-siakan ya!

Gambar Edinburgh Castle diatas saya ambil ketika sedang berjalan menyusuri Princes Street. Sepuluh menit setelah gambar itu diambil, sampailah saya di Dean's Village. Sebenarnya kalo dari Royal Mile (daerah kami menginap) jaraknya lumayan jauh, 30 menitan jalan kaki jadi PP sekitar 1 jam. Lumayan bikin betis kebas. Dean's Village ibaratnya desa wisata di Edinburgh. Bangunan-bangunan khas medieval dengan taman kecil, ditengahnya ada sungai mengalir santai, yang menurut beberapa orang yang menginap AirBnB disini, terasa di surga. Selain rumah, disini juga ada taman untuk duduk santai, dan kalo diteruskan berjalan akan menemui Scottish National Gallery of Modern Art.


Suasana tenang dan gemericik air mengalir adalah jodoh.

Tambah jodoh lagi sama pekarangan sederhana begini. Saya keliling Dean's Castle sendirian, Mas Gepeng duduk di taman karena dia capek. Pas lihat pekarangan ini, saya lihat kanan kiri dan setelah memastikan gak ada orang, saya numpang duduk sebentar. Asyik sih, hanya sayang pemandangannya hanya tembok berdaun hahaha.

Kembali dari Dean's Village, saya istirahat duduk di pelataran tangga National Museum of Scottland. Sebenarnya ingin sekali berkunjung masuk karena didalam sini, banyak harta karun yang akan memperluas wawasan kita tentang Skotlandia (malah katanya ada rangka T-Rex setinggi 12 meter!). Tapi karena saya dua hari ikut day tour yang berangkat pagi pulang kesorean, jadi setiap kesini ya udah tutup. Kota tua Edinburgh punya banyak tempat yang bisa dikunjungi, ada Museum of Childhood, National Museum of Flight, Scottish National Gallery, The Writers' Museum, Museum of Childhood, Museum of Edinburgh, Trinity House Maritime Museum, Anatomical Museum, dan macam lainnya. Banyak yang gratisan juga lho!

"Wah, rumahnya Usher!", begitu pikir saya dalam hati sambil menerka-nerka, mana foto Usher-nya? Ternyata ini bukan rumahnya si artis Yeah itu, melainkan tempat pertunjukan seni. Tempat ini rajin menyelenggarakan event, mulai dari piano recital, Christmas concert, teater, gig, banyak deh. Bahkan September nanti bakal ada Miranda Sings, si YouTuber kocak itu. Seru kali ya lihat ekspresi Miranda secara live.

Pernah dengar kisah Bobby si Edinburgh Best Friend? Anjing Skye Terrier ini menunggui makam pemiliknya, Auld Jock, yang telah meninggal selama 14 tahun! Kisah Bobby dibukukan dan sudah terkenal di seluruh dunia. Penulisnya, Eleanor Atkinson mengkisahkan kalo Jock adalah seorang gembala tua yang baik hati dan sejak kecil hidupnya sangat menyedihkan. Sepanjang hidup, Bobby yang bulunya kusut itu menemani Jock kemana pun sampai akhirnya Jock meninggal dunia dan dikuburkan di Greyfriars. Bobby sebenarnya dilarang untuk masuk ke pekuburan, tapi dia gak pernah menyerah dan berusaha dengan segala cara sampai akhirnya dia diperbolehkan tidur di atas makam Jock. Cedih. Hiks.

Sandwich? Ada apa dengan sandwich? Kalo kamu ikutin saya di Instagram (gak ikutin? Follow dulu boleh kakak wkwk), saya sharing sedikit tentang cara berhemat di UK. Salah satu yang sangat saya apresiasi adalah sandwich disini yang bisa hanya £1! WOW! Canggih ya! Kami lumayan banyak berhemat untuk makanan karena memang uang kami banyak dipakai untuk akomodasi selama di UK. Jadi bagi teman-teman yang ingin sekali ke UK tapi rupiahnya terbatas, bisa coba cara kami yang rutin jajan sandwich. Ada beberapa makanan murah lain sih yang bisa jadi pengganti. Nanti saya ceritakan di post terpisah ya.

Banyak orang bersepeda di Edinburgh. Banyak sekali. Ada UberEats juga yang delivery-nya pake sepeda (dan mereka tetap beraksi meski hujan). Selama di Edinburgh, baik pagi, siang, sore, malam, saya banyak melihat orang bersepeda dan jogging. Itu pun gak hanya anak muda, tapi juga bapak-bapak ibu-ibu juga banyak yang lari dan bersepeda.
Ketika sore dan melihat ada gerombolan orang berkumpul seperti ini di pusat kota, bisa dipastikan itu adalah orang-orang yang mengikuti ghost tour. Di Edinburgh ini banyak sekali bertebaran ghost tour. Agak bingung juga sih ghost tour tapi mulainya pas masih terang, apanya yang seram? Tapi mau gimana lagi, summer di Edinburgh memaksa matahari bekerja lebih lama sampai jam 10 malam. Yang menarik dari tour ini adalah, beberapa kali saya menemukan yang heboh adalah si pemandunya. Entah dengan kostum a la penyihir, entah menjelaskan cerita hantu dengan suara lantang dan teriak-teriak, entah yang dengan gaya mengendap bicara berbisik-bisik, pokoknya yang ikutan tour ya hanya tertawa seadanya haha. Tapi mau gimana juga saya tetap gak berani sih ikutan beginian. Ghost tour ini ada yang gratis ada yang bayar, pilih-pilih aja, ada banyak banget.

Adam Hodge, kontributor Reader's Digest Asia menulis pada edisi bulan Juni kemarin bahwa Edinburgh adalah UNESCO's first City of Literature karena memiliki banyak penulis entah yang filsuf atau literatur atau sajak. Salah satu yang mendunia adalah J. K. Rowling dengan karya maha fenomenalnya: Harry Potter. Meski saya bukan potter-head dan gak ada agenda kegiatan yang berbau-bau sihir, mengunjungi The Elephant House secara gak sengaja ternyata seru juga. Kenapa? Karena saya suka banget plat gajah yang menggantung disitu!


Di sebuah kafe kecil di pertigaan jalan menuju Edinburgh Castle, ada orang yang memberikan uang Rp10.000 kepada waitres untuk dipajang (atau entah apa maksudnya, tapi dipajang). Sepertinya orang sebelumnya juga melakukan hal yang sama seperti kami: mengobrol dan cerita banyak hal tentang Indonesia. Saya kemudian cerita bahwa uang itu sudah mengalami pembaharuan dalam hal desain. Beruntung kami pas membawanya, jadi sekalian kami kasihkan untuk dipajang. Gak lupa kami juga menjelaskan bahwa dengan uang ini, kami udah bisa jajan makanan sedangkan jika dikonversi ke GBP, ya kami bahkan gak bisa beli sandwich haha.

Apa lo liat liat? Bapak lo jago silat? Dasar anjing kicil onyong. Gigit juga nih!

OH SAYA KETEMU EDU THE POM DARI EDINBURGH! Ya ampuuun anjing pom ini lucu banget! Sebenarnya pengamen yang ada disini unik-unik banget. Ada bagpipers, ada yang bawa anjing terus didandanin begini, ada yang pake biola dan bawa anjing juga (jarang sih yang bawa kucing seperti di film A Street Cat Named Bob), ada yang pake baju penyihir (ini gak ngamen sih), dan macam-macam lainnya. Paling banyak atraksi jalanan muncul sore hari, jadi jalan kaki keliling Edinburgh sore-sore akan jadi pengalaman yang seru.

Jadi, apa yang paling menarik selama di Edinburgh? SEMUANYA! I simply love this city! Yang paling bikin saya jatuh cinta adalah semua sudut kota sangat cantik dan terawat, pun semua orangnya ramah. Saya juga suka bagpipers! Dengan jalan kaki kesana kemari, kami bisa menikmati Edinburgh dari berbagai sisi. Bisa mengagumi, bertanya-tanya, menebak-nebak, dan senyum-senyum sepanjang hari. Cantik banget lho! Serius deh! Rasanya benar-benar menikmati Edinburgh dengan sebaik-baiknya. Tapi selain di pusat kota, kami juga eksplor Highland lho. Sampai jumpa di post berikutnya ya.

Catatan plus plus:
  • Untuk menuju Victoria Bus Station, dari Heathrow International Airport bisa naik tube (underground train) menggunakan oyster card yang bisa dibeli di mesin oyster atau tourist information center. Kalo gak salah ongkosnya £3 sekali jalan. Di tube jangan sampe ketiduran ya karena harus pindah line (jurusan). Kalo pegang peta tube London semua mudah dimengerti kok. Asal gak ketiduran aja.
  • Untuk menuju Edinburgh, saya naik Megabus, salah satu low cost intercity coach travel di UK. Ongkos dari London ke Edinburgh £15 per orang. Itu ongkos bus paling murah saat saya book jika dibandingkan dengan PO bus lainnya. Bisa dapet tiket bus lebih murah kalo book in advance ketimbang beli on the spot. Ini link-nya.
  • Selama di Edinburgh saya jalan kaki. Tapi kalo gak mau jalan, bisa naik tram atau bus.
  • Sebaiknya download peta offline Google Map supaya mudah menemukan tempat-tempat diatas. 
  • Untuk akomodasi, di Edinburgh saya menginap di Edinburgh Backpackers Hostel dengan kamar dorm mix berisi 14 orang. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan Waverley Station, Royal Mile, dan tempat makan. Saya agak lupa berapa harganya per malam tapi lumayan murah ketimbang nginap di hotel.
  • Saya kesana saat summer, tapi cuaca di UK terkenal labil jadi selalu bawa payung kecil atau jaket waterproof ya 
  • Tulisan ini saya update tanggal 15 Juli 2017 karena ternyata ada beberapa foto yang lupa saya share hihi
12 comments on "Menikmati Edinburgh dengan Sebaik-baiknya"
  1. ini informatif banget! banyak cerita2 yg aku baru tau pas baca tulisan ini hahahhaa. kameranyaaa oks banget lah. beli apa yahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. makaci kimiiir :* haha beli yg lebih canggih lah, tapi yg samaan lensanya nanti aku penjem wkwk

      Delete
  2. Salam kenal mba,

    Gagal fokus gara2 fotonya cakep2. Berasa di dalam novel. Informatif banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mba Nur Rochma. Wah terima kasih, ini didukung Edinburgh yang memang fotojenik sekali apalagi saat cuaca cerah. Terima kasih semoga infonya bermanfaat yaaa

      Delete
  3. aku nggak bisa bayangin kalo aku sudah sampai sana mba, mungkin akan nangis menuju Negara impianku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Fika. Aku disana juga terharu banget, kotanya bagus apalagi kalo udah keliling Skotlandia, aku berasa mimpi :)))

      Delete
  4. Informasi yang menarik mbak Justin. Saya tinggal di Finlandia dan punya rencana untuk jalan-jalan juga ke UK. Artikel ini bisa dijadikan referensi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru sekali Mba Esther di Finlandia! Selamat jalan-jalan ke UK ya Mba, semoga informasinya bermanfaat :)

      Delete
  5. wah, kota yang cantik. berasa di negeri dongeng saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantik banget Mba Farida. Bangunan khas medieval yang terawat, plus orang-orang yang ramah bikin kota ini sangat enjoyable :)

      Delete
  6. Itu summer tp mba pake jaket ama syal yaa..masih dingin dong yaa. Suhunya brp mba?

    Aku planning ke inggris itu 2019. Soalnya sampe 2018 tempat2 yg mau didatangin udh fix :D. Tujuan utama sbnrnya liverpool sih, mau injakin kaki ke anfield stadium hahahaha.. Kita sekeluarga fansnya liverpool :D. Tp aku jg mw kliling tempat2 lain di sana.. Aku save dulu nih info2 di blog ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suhunya sekitar 12° kalo gak salah. Tapi buat saya masih dingin, dan sesungguhnya puncak summernya adalah pas heatwave beberapa minggu lalu. Wah Liverpool seru! Saya juga mampir kesana, tapi sayang sekali pas hujan seharian. Ditunggu ceritanya di Liverpool ya Mba Fanny :)

      Delete

I'd love to hear from you!