SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

Banjarmasin: Sate Rusa, Bekantan, dan Batal Mengejar Sunset di Bukit Lintang



Saya kira tempat yang akan saya kunjungi selama dua tahun berturut-turut hanya lah Malaysia. Namun ternyata selain negara tetangga yang sempat melakukan hal konyol tentang negara kita itu, ada satu tempat yang daya magisnya menarik saya dan Mas Gepeng untuk kembali dikunjungi. Banjarmasin, I'm back! Berbeda dengan tahun lalu, kali ini kami jalan-jalan dalam nuansa Idul Adha dan eksplorasi bersama keluarga dan teman-teman baik saya. Kedua kalinya eksplorasi Banjarmasin, apa saja yang saya nikmati?

BUKIT-BUKIT DI PELAIHARI

Tau kah kamu ternyata di Banjarbaru ada banyak bukit? Ada yang namanya Bukit Teletabbies, Bukit Lintang, Bukit Rimpi, dan lain-lain. Saya main ke bukit dua kali, yang pertama bersama keluarga saya, lalu hari berikutnya dengan teman baik saya. Ada dua kegiatan main ke bukit, satu persamaannya yaitu kami sama-sama tidak tau kami berada di bukit apa hahaha. Terima kasih Google Map, kamu telah membawa kami ke tempat antah berantah. Apa saja yang bisa dilakukan saat berada di tempat yang kita tidak tau sama sekali? Tentu saja, bersenang-senang.

Perjalanan kami tempuh dengan mobil. Jalan menuju bukit dikeliling oleh kebun sawit dimana kalau ada kebun sawit, disitu ada jalan dengan kontur naik turun hasil pijakan truk-truk besar. Beberapa kali mobil Avanza kakak ipar saya kena bentur dibagian bawah mobil, meski tidak parah, tapi tetap saja bikin ngilu. Lebih sedih lagi karena besoknya kami ke bukit naik Nissan March. Bukan hanya bentur, tapi mobil tersangkut beberapa kali. Kasihan. Padahal baru di servis.

Setelah tau bahwa kami kesasar dan Google Map tidak tau harus berbuat apa, kami menuju bukit kecil yang landai dan cukup tinggi. Diatas sini suasananya sejuk sekali. Angin kencang, dingin, pemandangan ciamik, cerah, terang, bebas pokoknya. Ada beberapa sisa sampah, hal itu jadi bukti sudah ada yang pernah nongkrong disini sebelumnya dan punya kelakuan buruk.

Lumayan ada yang fotoin saya dan Mas Gepeng foto post-wedding.
Mau foto jingkrak-jingkrakan pun tak masalah. Tempat ini luas dan tak ada yang lihat. Terima kasih Bima fotonya.
Pemandangan sawit yang berjajar rapih.
Sebenarnya dari atas sini bisa lihat bukit yang beneran bukit, bahkan jalan menuju ke bukit itu kelihatan jelas sekali. Hanya saja kalau ada dibawah, berasa ada ditengah-tengah labirin. Bikin bingung semua. Kami menikmati sore disini saja, memandangi shaf demi shaf sawit yang sudah tua dan bukit yang (mungkin) seharusnya kami datangi. Berpikir untuk kemping? Saya juga. Tapi sepertinya dengan angin yang kencang sekali diatas sini, bakalan bikin tenda goyang-goyang liar dan gak bisa tidur nyenyak karena kedinginan.

Bukit dan biru langit. Sejuk sekali disini.
Entah apa motivasinya kucek-kucek tahi sapi.
Di hari kedua, kami menikmati sore dengan jalan-jalan di padang rumput. Meskipun lagi-lagi tidak mencapai bukit, tapi kami punya sore yang menyenangkan. Mas Gepeng juga sepertinya senang karena bisa ketemu eek sapi yang banyak hahaha. Eh tapi beneran banyak lho! Mereka seperti buang air masal. Awalnya kami jalan menanjak menuju kandang sapi. Sayangnya saat itu tak ada satu pun sapi disana, mereka sedang jalan-jalan turun bukit. Sebenarnya banyak sekali hal yang bisa dinikmati meskipun bukan di bukit. Seperti quote-nya para host MTMA, keseruan itu kita yang ciptakan. Jadi dimana saja bisa seru. Main di padang rumput seru, dibawah bukit juga seru. Sebaiknya pulang jangan terlalu malam karena tidak ada lampu disekitaran bukit dan kebun sawit, jadi demi menghindari hal-hal yang menyedihkan sebaiknya pulang selagi terang.


SATE RUSA, BANJARMASIN

Depot Sate Kijang sebelumnya out of radar saya sama sekali. Sampai @_lulabi, orang Cimahi yang hapal betul dengan Banjarmasin mengajak saya dan Mas Gepeng untuk cicip sate yang harganya Rp6500 per tusuk ini (mahal benar ya). Meskipun namanya begitu, daging yang mereka sediakan itu daging rusa, saat kami pesan pun mereka menyebutnya sate rusa. Daging-daging ini secara periodik diantar dari Kalimantan Tengah karena di sisi selatan sini jarang ada ada rusa.

Menurut Mas Gepeng, daging kijang taste like chicken. Tapi buat saya daging ini punya rasa dan tekstur yang sama sekali berbeda baik dengan ayam, kambing, atau sapi. Daging kijang punya tekstur serat yang lebih tebal dari ayam tapi lebih tipis dari sapi. Empuk dagingnya berbeda, tidak terlalu lembut, sedikit lebih kenyal dari ayam, tapi lebih mudah dikunyah ketimbang daging sapi. Kalau makan satenya, daging rusa akan dibumbui pasta kacang yang manis serta campuran minyak sayur. Rasanya enak! Daging rusanya pun gurih lembut dan aromanya sedap sekali! Saya kira aromanya akan seperti anyir-anyir gitu karena kebayangnya rusa ya ditombak lalu dimasak dengan api unggun. Tapi ternyata aromanya sedap lho, biasa saja tidak amis atau anyir. Aroma daging bakar enak.

Selain sate, saya juga pesan daging rusa goreng. Bahagia banget lihat dagingnya tebal banget, seperti mau makan steak! Potongan besar daging rusa dimasak bersama bumbu kecap hingga bagian luar daging menjadi garing. Dimasaknya agak lama, mungkin ingin bumbunya meresap sampai dalam. Makan daging rusa goreng membuat saya lebih tau rasanya daging rusa. Enak banget! Empuk! Luar biasa lah. Teksturnya lebih terasa dan sungguh lembut sekali. Saya kira dengan warnanya yang hitam pekat akan bikin daging ini berasa seperti dendeng manis, ternyata tidak kok. Rasanya dagingnya yang khas dengan bumbu manis ini pas banget. Pastikan kamu coba ya kalau ke Banjarmasin.


MENCARI BEKANTAN, JEMBATAN BARITO

Lagi-lagi ini adalah ide menarik @_lulabi. Mungkin karena dia seorang jurnalis jadi punya banyak referensi mengenai hal-hal seru di Kalimantan, seperti kali ini dia ajak saya dan Mas Gepeng untuk mencari monyet bekantan yang hidup di Pulau Bakut, dari pinggir Jembatan Barito. Buat saya yang hanya pernah lihat patung bekantan dan berbagai bentuk kartunnya di Dunia Fantasi, tentu kegiatan ini bikin saya semangat!

Pulau Bakut adalah habitat asli bekantan, monyet khas Kalimantan, yang terletak persis dibawah Jembatan Barito. Nama Bakut diambil dari nama ikan yang dulu banyak hidup di sungai Barito, entah sekarang masih ada atau tidak. Sedangkan bekantan sendiri adalah hewan yang dilindungi, jadi kalau kamu mau melihat kehidupan asli bekantan, pastikan kamu tidak berlaku jahat ya misalnya si monyet ditimpuk batu atau buang sampah sembarangan atau kalau pas dia mendekat kamu tarik buntutnya yang panjang atau pencet hidungnya yang besar. Jangan.

Jembatan Barito terlihat dramatis dengan awan seperti ini.
Pulau Bakut bisa diakses naik kapal kecil, tapi kami memilih untuk mencari bekantan dengan menyisiri trotoar Jembatan Barito. Sebelum mobil menepi di ujung jembatan, kami sempat melihat beberapa bekantan lompat kesana kemari diatas pohon. Namun pas kami hampiri, anak-anak bekantan itu sudah tidak ada. Tapi kami bertemu satu yang besar sedang duduk santai di dahan pohon. "Wah hidungnya beneran besar!", teriak saya. Kami pun menyusuri dari ujung ke tengah lalu menyeberang lalu menyusuri lagi dan tidak ketemu satu pun bekantan. Mungkin karena cuaca mendung, jadi bekantannya sudah pulang ke rumah untuk menyiapkan mie instan.

Saat jalan balik ke mobil, saya malah melihat para bekantan lagi main di pinggir sungai. Ada banyak, ada empat! Senang bangeeeet! Mereka ada yang mandi, ada yang nongkrong, ada juga yang cari makan (mungkin cari sayur buat campuran mie instan). Seru sekali lho! Kelihatan tidak itu yang coklat coklat? Kalau mau melihat lebih dekat, kamu bisa naik kapal kelotok yang melayani wisata ke Pulau Bakut. Kamu bisa menemukannya d tepian-tepian sungai, dermaga pasar terapung, dan di sekitar Jembatan Barito.


MAKAN RAMEN AKASHI, BANJARBARU

Beberapa makanan khas Banjarmasin sudah pernah saya coba dan semuanya favorit (bisa baca ditulisan saya terdahulu disini). Yang saya coba kali ini bukan makanan khas, tapi salah satu yang terbaru di Banjarbaru. Namanya Ramen Akashi. Kedai makan ini milik orang asli Jepang yang bernama Takeichiroh Seiki. Sebelumnya, ia menjadi manajer restauran Jepang di Surabaya dan kini membuka restauran milik sendiri di Banjarmasin. Sebenarnya agak bingung alasan kenapa ia menyasar pasar Kalimantan untuk menjual ramen, karena menurut saya makanan ramen terlalu 'jauh' rasanya dibandingkan dengan makanan asli Banjarmasin yang sangat full-spices. Tapi siapa sangka, keberanian itu malah jadi nilai tambah karena memang ramen ini rasanya enak dan dengan adanya dua cabang baru di Banjarbaru, berarti peminat ramen ini lumayan tinggi.

Sang pemilik sendiri sebelumnya sudah bekerja di berbagai restoran ramen di beberapa negara, namun untuk resep ramennya sendiri, dia menciptakan olahan khusus dengan menyesuaikan beberapa bahan yang biasanya ada di ramen Jepang dengan bahan yang ada di Indonesia. Ada dua menu yang kami cicip di Ramen Akashi: Kazuki Ramen dan Pepper Cheese Ramen. Kedua menu disediakan dengan pilihan porsi small dan full, jadi lumayan bagi yang tidak terlalu lapar bisa pesan menu kecil.

Ramen Akashi menu pepper-cheese ramen.
Foto diatas adalah pepper-cheese ramen porsi full. Satu mangkuk berisi mie ramen, telur ayam setengah potong, jamur kuping, chicken karage, daun bawang, keju singles, dan kuah sup berwarna putih. Kuah sup secara umum rasanya gurih dan creamy seperti susu, mungkin karena mirin yang biasanya ada di ramen Jepang diganti dengan madu jadi agak manis. Sebenarnya ada taburan pepper tapi kurang berasa, jadi saya tambahkan cabai bubuk biar lebih mak-deng gitu pedesnya haha. Tapi saya suka ramen ini. Bedanya sama ramen kuah putih yang biasa ditemui di Jakarta adalah kalau yang ini lebih light dan gurihnya familiar gitu, kalau yang biasa di Jakarta rasanya miso banget, jadi berbeda.

Tapi kalau urusan kuah, menu Kazuki Ramen punya kuah yang jauh lebih lezat dari yang pepper-cheese. Tidak tau ada tambahan campuran apa, tapi rasanya bener-bener lebih sedap, seperti lebih banyak campuran kaldu ayamnya. Enak! Warnanya juga agak lebih butek, jadi mungkin memang ada campuran bumbu tambahan. Dari satu mangkuk ini yang paling saya suka malah chicken karage-nya. Enak, ayamnya tebal, kulitnya sedap (mirip nugget pokpok), kena kuah-kuah ramen jadi lebih enak lagi.


Foto oleh @_lulabi. Terima kasih, kece sekali.
Meskipun sempat merasakan hampir 12 jam mati lampu dan sudah kelojotan banget saking kepanasannya, tapi saya selalu suka main ke Banjarmasin. Selalu ada cerita baru dan petualangan yang menyenangkan. Dan apakah setelah baca tulisan ini kamu jadi pingin main ke Banjarmasin? Mau cicip kulinernya atau mendaki bukit? Apapun itu jangan lupa bawa payung dan kipas baterai ya.

4 comments

  1. Semua yang dibahas di sini belum pernah dicoba. Padahal aku tinggal di banjarmasin. Ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah hahaha. Cobain gih, nanti kalo ada yang baru kabarin yah :D

      Delete
  2. Apa rasanya ya sate rusa, aku belum pernah nyobain... Ternyata banjarmasin cantik ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak lho! Apalagi kalo digoreng kecap gitu dan dagingnya tebal, duh! Iya cantik sekali. Pinggir sungai atau atas bukit, sama cantiknya :)

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.