SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

ABOUT JUSTIN

NEWSLETTER

#FlashbackFriday: A Journey that Heal

Empat tahun silam tepatnya lebaran Idul Adha tahun 2013, saya dan Pujo melakukan perjalanan ke titik paling utara Indonesia. Saat itu kami berdua (dari sepuluh orang) yang sedang menetap sementara di Medan, gak pulang kampung karena ingin berhemat plus sama-sama jomblo jadi gak ada yang menanti dikencani di kampung halaman. Kami secara impulsif memutuskan pergi ke Aceh dan Sabang persis tiga hari sebelum keberangkatan. Semua serba tiba-tiba dan serba nekat. Berbekal uang seadanya, kami pergi. Entah ada misi apa pada diri Pujo, tapi saya secara pribadi memiliki sesuatu yang ingin saya cari, jauh didalam diri saya sendiri.

Perjalanan ke Aceh kami tempuh dengan bus antar provinsi. Harganya Rp170ribu per orang dan kami dapat tempat duduk paling belakang. Perjalanan sepanjang malam terasa baik-baik saja, tentu karena kami naik bus bagus, bukan travel khas Sumatra yang sepertinya kalo ngegas sambil kesetanan. Sesampainya di Banda Aceh, kami numpang cuci muka sikat gigi di warung makan lontong sayur di depan Terminal Bothoeh. Saat pagi saya kira sekitaran terminal akan ramai, ternyata sungguh sepi. Becak pun hanya ada beberapa. Jadi saat kami mau menawar untuk diantar ke Pelabuhan Ulee Lhue, kami gak bisa mengeluarkan negotiation skill yang kuat karena memang abang becaknya sedikit sekali.

Selagi menempuh perjalanan ke pelabuhan untuk naik ferry menyeberang menuju Sabang, saya menghubungi teman kampus yang (katanya) orang Aceh. Mas Fawaz namanya. Saya bertanya apakah dia sedang di Aceh atau tidak, kan siapa tau kami bisa menumpang tidur. "Lho aku ini orang sini (Jogja), Tin, hahaha", oh ya ampun. Kok saya bodoh banget selama ini? Hahaha. Tapi akhirnya saya dikenali dengan temannya teman Mas Fawaz, orang asli Aceh dan sesama Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) yang nantinya akan membantu saya dan Pujo selama di Aceh. Seketika ada lega di hati saya, menyadari bahwa jika kamu berteman dengan baik, kamu akan mendapat teman yang baik. Alam semesta sungguh bijaksana.

Setelah membeli tiket kapal di pelabuhan, kami mengisi waktu keberangkan dengan berkeliling sekitar untuk lihat-lihat. Kami ke Museum Tsunami Aceh, melihat PLTD Apung, dan jajan Pop Ice. "Aceh ini ajaib sekali", pikir saya. Tsunami saat itu benar-benar dahsyat, buas menyapu bangunan dan orang-orang, bahkan sampai ada kapal di atap rumah kan itu ajaib ya. Dan mereka semua bangkit. Perlahan tapi pasti.

Pertengahan tahun 2013 adalah tahun yang gelap buat saya. Biasa, alasan konyol bernama patah hati. Saya sedang patah hati hebat, sedang kesulitan mempelajari dunia perbankan (baca: saya sedang ikut proses pendidikan MDP sebuah bank), dan berada jauh dari rumah dalam kondisi mental begitu seperti neraka saja rasanya. Kondisi ini membuat orang tua saya khawatir, tapi saya lebih khawatir karena hidup saya terasa gak ada artinya. Tapi alasan seperti itu gak ada bandingannya dengan kena Tsunami. Alasan saya adalah alasan anak teri. Tsunami itu hiu raksasa.

Lalu Pujo tau tau mengingatkan bahwa jam keberangkatan kapal menuju Sabang sudah dekat. Kami menuju pelabuhan dan naik kapal besar. Di kapal saya bertemu dengan kru Trans TV yang sedang melakukan riset lokasi untuk shooting Survivor Let's Get Lost. Mereka hanya bertiga tapi barang bawaannya banyak, udah kayak mau pergi sebulan. Kami berbincang sedikit-sedikit, karena hanya satu orang yang ramah, sisanya membuat grup sendiri. Selepas ngobrol saya pun duduk menikmati sore. Langit sedang cantik-cantiknya berpadu dengan air laut yang tenang dan udara yang sejuk. Saya memadang jauh ke pelabuhan, jauh sekali. Lama-lama pelabuhan menjadi kecil. Lalu hilang. Semua yang terjadi di Aceh, di Medan, di Jogja, di Jakarta, di Bekasi, semua tertinggal disana. Jauh disana sampai saya sendiri lupa apa saja.

Baru kali ini saya merasa here and now yang hakiki. Merasa ada disini, tanpa berpikir apa yang terjadi kemarin dan hari hari sebelumnya. Tanpa peduli apa yang akan saya hadapi besok dan masa depan. Bahkan saya lupa dengan lagu Belle & Sebastian apa yang terakhir saya dengar.

Malam mulai datang, kapal kami menepi di Pelabuhan Baluhan dan segera bertemu dengan abang becak yang kami hire on the spot untuk diantar ke kota. Penginapan kami di Sabang adalah penginapan paling buruk yang pernah saya tempati seumur hidup. Jauh lebih buruk ketimbang tidur di kolong jembatan dengan tenda atau kebun pinggir sungai. Tau kenapa? Karena di penginapan ini tikus bebas lalu lalang ke dalam dan keluar kamar! Mau nangis rasanya! Semua barang saya taruh diatas kasur, bahkan saya gak berani mematikan lampu takut tikusnya merayap tembok lalu menggerayangi tubuh saya hiii! Tapi bagaimanapun, saya tertidur dengan lelap.

Esoknya kami sewa motor untuk mengelilingi Sabang. Dari kota menuju titik nol kilometer Indonesia, lalu ke Pulau Rubiah, Pantai Iboih, Pantai Sumur Tiga, dan berakhir di Pantai Pasir Hitam untuk makan rujak. Perjalanan semua berjalan baik, jalanan bagus, orang-orang ramah, dan kami selamat sampai tujuan. Selama di Sabang hp saya flight mode karena gak ada sinyal, tapi itu sepertinya jadi hal yang paling membantu saya menikmati hari-hari di Sabang. Saya merasa bebas, tanpa beban sama sekali. Gak perlu menghubungi siapa, gak perlu dihubungi siapa, gak perlu tau updatean apa-apa, gak perlu update apaan juga, gak perlu pusing mau habis baterai, pokoknya bebas sebebas-bebasnya. Ketika merasa bebas dan menguasai diri sendiri seutuhnya tentang apapun yang saya mau dan manapun yang saya tuju, saya benar-benar merasa bodoh pernah membawa hidup saya ke titik yang shitty banget itu.

Saya tau apa yang salah selama ini, yaitu saya membiarkan diri saya terbawa oleh sesuatu yang salah padahal saya lah yang punya kuasa penuh atas diri saya sendiri. Saya punya kuasa penuh akan kemana dan menjadi apa diri saya. Saya punya kuasa penuh atas diri saya sendiri, atas kebahagiaan saya sendiri.

Sepulang dari Sabang, kami kembali ke Aceh. Saya kontak Bang Taufik, temannya teman Mas Fawaz yang secara gak langsung dia tau kalo kami butuh bantuan. Keuangan saya dan Pujo menipis (karena memang sudah sangat tipis dari awal) dan kami bingung akan kemana di Aceh. Kami dijemput, diajak ngopi, dan diberikan tumpangan menginap. Apalagi yang semesta berikan kali ini? Saat saya merasa mencintai diri saya dengan hebat, saya juga dipertemukan teman yang bahkan baru saya kenal beberapa jam saja yang baiknya bukan main. Kami diajak jalan-jalan ke makam pahlawan, minum kopi, desa wisata, diajak main ke rumah-rumah khas Aceh, mencicipi makan Sie Reboh hasil masakan orang Aceh asli, dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Kebaikan yang luar biasa. Bahkan salah satu teman yang bersedia rumahnya saya tumpangi bukanlah orang yang hidup dalam kemewahan, dan dia mentraktir saya sarapan.

Lalu kami mampir solat dzuhur di Masjid Raya Baiturrahman. Berterima kasih sejadinya bahwa saya akhirnya tau apa yang saya cari, saya tau. Namanya keberanian. Kemandirian. Kekuatan. Kemenangan. Saya berhasil melawan hal-hal buruk dihati ini. Saya berhasil bertahan hidup disini, gak sendirian sih, tapi tetap rasanya heroik sekali. Terima kasih Tuhan. Dan masjid ini sepertinya punya daya magis, dia membuat sejuk hati dan kepala yang kepansan karena Aceh memang terik sekali siang itu hahaha.

Bagaimana dengan Pujo? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan dia di perjalanan ini? Gak tau. Yang pasti harapan teman-teman kalo kami akan jadian itu menjadi harapan kosong. Pesan moral dari cerita ini adalah bukan hanya waktu yang bisa menyembuhkanmu, tapi perjalanan juga. Lakukan perjalanan, kemanapun, dekat atau jauh, naik perahu atau naik sepeda, lakukan bersama dirimu sendiri, bawa dirimu terlarut dalam perjalananmu, bawa dirimu menikmati semua dinamika batin dan pemandangan yang memanjakan. Jadikan satu. Rasakan bahwa semesta terlalu indah untuk dirusak oleh buruk yang setitik.

Sejak saat itu, saya bertekad melakukan perjalanan. Bukan untuk mencetak sejarah, tapi untuk menikmati hidup sebaik-baiknya.

3 comments

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.