SLIDER

WELCOME!

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

NEWSLETTER

London First-timer: Expectation vs Reality

London at Night
Hari pertama saya dan Mas Gepeng tiba di London dikejutkan oleh fakta bahwa kota ini tidak sebersih yang kami kira. Tiba di pintu keluar Victoria Station, kami melihat sampah dimana-mana: pinggir jalan, tengah jalan, pinggiran gedung, halte, dan di sekitar tempat sampah. Kami pun sempat berpapasan dengan seorang gadis yang melempar pelastik sampah dari dalam toko dan hampir mengenai kami. Is this London? Is London really has fallen? Untungnya tidak. London tetaplah London, salah satu dari sekian banyak bintang terang di Eropa. Saya rasa dia setara dengan Paris, atau Jakarta, atau Kathmandu, atau ibu kota negara lain yang meski terkesan menawan dia tetap memiliki kelemahan. Saya banyak menemukan hal seru di London. Tidak begitu bersih? Itu baru satu. Apa lagi selanjutnya?

Selamat datang di London!
Expectation: Red telephone box I'm coming! Pasti bisa ketemu boks telepon ikonik ini dan mau foto bareng dan mau coba telepon.
Reality: Gemes banget memang boks telepon ini. Tapi ternyata mayoritas boks sudah tidak digunakan sebagai tempat telepon. Bahkan ada yang tidak terawat dan jorok sampai-sampai kalau pegang kayaknya bakalan kena tetanus.
Siapa yang tidak tau salah satu ikon London ini? Saya pun gembira ketika melihatnya secara langsung untuk pertama kali. Sayangnya boks pertama yang saya temui itu sudah bukan lagi boks telepon umum, melainkan 'lemari' penuh coretan vandalisme, sampah rokok, pecahan botol, sampah-sampah, pokoknya mengerikan. Yang dekat Big Ben pun tak semua layak foto. Ada dua yang lumayan, sisanya? Mending jangan coba-coba sentuh apalagi buka pintunya daripada menyesal. Kabarnya ada beberapa boks telepon merah yang 'disulap' menjadi media tanaman. Ide bagus! Ada juga yang jadi kafe, toko topi, perpustakaan, tempat kerja kecil, dan lain-lain. Sejak pertama kemunculannya di tahun 1921, boks telepon merah ini sudah bertransformasi berkali-kali dan kini sedang proses desain ulang dengan bentuk jauh lebih modern dan (sayangnya) berwarna hitam.

Pemandangan di depan balkon kamar kami dan rasanya seperti jadi orang lokal.
Expectation: Harga hostel Rp1,5juta per malam, hanya tempat tidur, tak perlu bagus-bagus yang penting WiFi, jalan kaki agak jauh ke stasiun tak apalah.
Reality: Double-bed kamar baru, harga Rp800ribuan per malam, dapur bagus, WiFi canggih, dan dekat stasiun! I love you Airbnb! ✨
Salah satu komponen paling mengkhawatirkan ketika mau ke London adalah akomodasi. Beruntung ada dua teman baik saya yang siap membantu mencari akomodasi murah, namanya HostelWorld dan Airbnb. Dua situs itu memang luar biasa. Ada yang lain sih, tapi untuk ke London saya dibantu oleh mereka. Menginap di dorm mungkin pilihan terakhir yang ada di list-mu, tapi jangan samakan dorm di London dengan di Kamboja lho. Well, at least meski bentuknya sama, cuaca dan tidak berdebunya London membuatnya terasa jauh lebih baik. Airbnb juga alternatif luar biasa. Harga yang ditawarkan bersaing dan tidak jarang lokasinya sangat strategis. Jangan khawatir untuk hal ini, budget penginapan sungguh bisa diakali. Kamu bisa mendapatkan harga yang sama dengan hostel yang kamu pesan di Bali atau Yogyakarta.

Apartemen saya di London berada di kawasan Shadwell Garden, 10 menit saja dari Stasiun Shadwell. Beruntungnya, rumah baru saja di renovasi sehingga semua masih dalam kondisi prima. Kasur nyaman, penghangat ruangan hidup, kamar mandi bersih, dapur bagus (gratis bikin teh sesuka hati), hanya saja dia di lantai 4, jadi lumayan bikin keringatan.

Kamar Airbnb kami di London yang sebenarnya terlihat lebih sophisticated ketimbang kamar kami di rumah.
Dapur bersama apartemen. Cakep kan?
Expectation: Bawa tisu basah glove untuk mandi. Satu pak cukup.
Reality: Butuh tisu basah satu pak besar khusus untuk seka bokong! Astaga! Tidak ada selang semprot untuk cebok di semua toilet di London! Eeew!
Mengejutkan. Sekaligus mengerikan. Toilet di London entah di apartemen, di kafe, rumah makan, stasiun, rumah penduduk, semua tidak pakai selang. Tak heran tempat sampah disana selalu penuh dan berantakan dengan tisu. Bagi Mas Gepeng yang rutin buang air pagi dan malam ini musibah. Saya meski tidak sesering Mas Gepeng pun tidak siap mental kalau kami harus cacingan selama jalan-jalan di London. Saya pernah melihat toko souvenir di Skotlandia yang memiliki vending machine, didalamnya menjual jajanan dan barang-barang. Yang mengejutkan adalah mereka menjual tisu basah seukuran travel kit khusus untuk cebok. Lah? Tau untuk cebok itu butuh sesuatu yang higienis tapi kenapa tidak disediakan gratis dimana-mana? Kenapa tidak terpikirkan untuk menggunakan selang semprot? Kalau takut toilet jadi becek, tinggal kasih keset sintetis. Lagipula toilet-toilet di Inggris meski pakai tisu pun tetap bisa becek juga.

Saya harap ada orang Inggris yang membaca tulisan ini dan mulai mengkaji bahwa cebok dengan tisu kering atau basah itu tidak cukup higienis (dan jumlah tisu kering/basah yang habis terbuang untuk sekali cebok BAB itu lumayan banyak lho!).


Expectation: Banyak sekali moda transportasi umum di London. Siap-siap bingung.
Reality: Memang ada banyak: tube (underground), train, taksi, Uber, becak, dan bus. Tapi memilih moda transportasi di London bisa dibuat mudah kok.
Mungkin kamu akan membutuhkan tenaga ekstra untuk membuat itinerary tempat mana saja yang ingin dikunjungi di London. Buatlah seefisien mungkin karena kemana kamu akan jalan-jalan menentukan moda transportasi apa yang akan kamu gunakan. Kamu bisa baca tulisan teman saya @MiraAfianti yang telah melakukan amal jariyah luar biasa karena membantu menyusun itinerary agar efisien dan menemani saya jalan keliling London. Menurut Mira, ada baiknya kita konsisten memilih moda transportasi. Jika ingin naik tube, naik tube terus. Begitu juga dengan bus. Berhubung saya hanya punya 2 hari, di London saya mencoba dua moda transportasi: bus dan tube. Naik bus untuk menuju tujuan yang lebih dekat ke halte ketimbang ke stasiun. Sedangkan naik tube untuk ke lokasi yang lebih jauh. Kalau naik bus dan tube kita bisa memanfaatkan fitur daily cap yaitu jika sehari sudah menghabiskan sekian pound, maka seharian akan gratis (untuk di zona 1 dan 2 saja tapi).

Suasana stasiun. Ini masih siang, jadi tidak terlalu ramai.
Expectation: Naik tube pertama kali pasti menyenangkan! Meski yakin akan beberapa kali salah turun karena peta jalurnya terlihat rumit.
Reality: Yeah benar menyenangkan! Seru sekali naik tube pindah-pindah jalur dan bertemu macam-macam orang. Ternyata membaca peta jalur tube mudah lho! Selama tidak ketiduran dan tidak bengong, saya yakin pasti turun di stasiun yang tepat!
Hari pertama kami di London cukup impresif.  Sepulang dari Inggris selatan, kami tiba di Victoria Station, London sekitar pukul 9 malam. Penginapan kami berada persis di sebelah Shadwell Station di zona 2 sehingga moda tercepat menuju kesana adalah naik tube. Setelah beli Oyster Card, dari Victoria yang berada di jalur kuning zona 1 menuju Shadwell di jalur oranye-dua-garis zona 2, saya naik tube yang menuju Tower Hill, turun disitu lalu pindah ke jalur hijau dengan pemberhentian terakhir di Upminster. Selanjutnya sekali lagi, saya harus berpindah jalur yang menjadi irisan antara jalur hijau dan jalur oranye-dua-garis tujuan saya. Lalu saya turun di Whitechapel dan pindah ke jalur oranye-dua-garis dan turun di Shadwell. Terdengar melelahkan? Tidak kok. Yang melelahkan hanya karena kami membawa dua carrier besar dan beberapa stasiun sangat tidak-ramah-pemalas alias banyak tangga. Untuk mekanisme tube dan masa transisi tidak ada yang menyusahkan. Peralihan antar jalur dan tidak terprediksinya jarak antar stasiun membuat kami benar-benar awas. Berusaha tidak tidur meski mengantuk kelelahan. Yang menjadi kejutan adalah ternyata tidak sulit membaca peta jalur tube selama mata kita jeli dan tau dimana lokasi tujuan.

Expectation: Stasiun dan tube di London pasti kinclong! London gitu lho!
Reality: Tidak juga, haha. Sejujurnya stasiun beserta kereta bawah tanah di Hong Kong lebih menakjubkan.
Secara umum kereta tube terawat baik, hanya saja ada yang menggunakan AC ada yang tidak. Saya sempat merasakan tube yang membuat berkeringat. Pemandangan pun tak selamanya indah dan tidak selamanya berada dibawah tanah. Kadang kita bisa lihat kawasan kumuh, kadang tidak lihat apa-apa, kadang bisa lihat kota yang cantik, dan kadang bisa juga lihat kawasan padang rumput pendek yang berantakan. Kalau stasiun sih karena adanya dibawah stasiun besar dan lebih ramai, jadi kelihatan tidak terawat. Hawanya pun agak suram. Perjalanan naik tube akan membuat kita tau bahwa London dibawah sana lumayan berantakan mulai dari kabel-kabel besar, pipa, dan beberapa kawasan fakir.

Foto yang saya ambil saat berada di kursi depan lantai 2 bus double decker.
Expectation: Naik the iconic double decker pasti mahal. Foto atau colek-colek saja tak apa deh.
Reality: Double decker adalah kendaraan umum, ada dimana-mana, harganya beragam tergantung rute dan tenang saja, ada fitur daily cap. Lagipula naik bus ini ternyata mudah karena ada CityMapper!
Kemunculan bus double decker ini dulu terinspirasi dari moda transportasi di Paris. Kreasi pertama dimulai tahun 1892 dengan kuda sebagai mesin utamanya. Baru pada tahun 1899 mulai pakai mesin mekanik. Jatuh bangun penggunaan bus sebagai moda transportasi mulai dari untuk perang, mengirim pasokan makanan, melindungi masyarakat dari serangan musuh, hingga dijadikan rumah sakit darurat, akhirnya mengalami masa transformasi besar pada tahun 1946. Bus mulai dijadikan moda transportasi favorit. Ingat Routemaster? Desain bus double decker pertama yang ikonik sekali. Bentuknya seperti dua kotak pensil ditumpuk dan punya 'jidat' kotak. Namun karena dirasa kurang efisien, desain bus pun diotak-atik sampai bentuknya smooth seperti yang kita nikmati sekarang.

Selama naik bus (dan tube juga sih) saya menggantungkan nasib ke Mira yang punya handphone dengan internet jadi selalu punya guide untuk bus mana yang akan kami naiki. Guide hebat ini bernama CityMapper. Saya pun ketika pergi tanpa Mira, baik naik bus atau tube sangat mengandalkan aplikasi ini. Tinggal buat rute dari lokasi ke tujuan, nanti muncul nomor bus/jalur kereta yang dibutuhkan dan berapa tarif yang diperlukan, lalu save offline. Jika kehidupanmu di London mengandalkan WiFi maka siapkan rute perjalananmu dan simpan semuanya di CityMapper. Dengan semua kemudahan itu, kami tak ada momen 'terpaksa' naik the iconic black cab atau pesan Uber. Nah kalau naik double decker coba deh naik ke lantai 2 lalu duduk di barisan depan. Seru banget! Pandanganmu akan luas sekali, jadi bisa melihat banyak hal. Apakah kamu lihat ada badak gantung pada foto diatas?


Makanan saya di Restoran Chopsticks, satu porsi mix starters £6 dimakan berdua karena porsinya besaaar.
Expectation: Disana makanan hambar dan porsinya banyak. Bisa masak nasi juga di apartemen, apa perlu bawa Magic Jar ya?
Reality: Makanan di London memang hambar, beruntung bawa BonCabe. Dan porsinya sungguh besar-besar! Karena banyak yang murah, tak perlu lah menanak nasi sendiri. Dan percayalah, meski banyak yang hambar, yang luar biasa enak juga banyak!
Seseorang pernah berkata,"Traveling ke London itu mahal!". Tentu saja mahal. Mata uang poundsterling itu memang sinting jika dibandingkan dengan rupiah. Pengalinya terlalu banyak. Dan banyak orang yang buang jauh mimpinya ke London karena alasan ini. Manusiawi, memang. Siapa rela makan sandwich seharga Rp25ribu yang hanya mampu menafkahi satu dari seribu ekor cacing di ususmu? Tapi percayalah, mengeksplorasi London saat umurmu produktif adalah hal yang hebat. Dari awal keberangkatan kami sudah menerima peringatan bahwa lidah Asia akan sedikit tidak cocok dengan makanan Inggris yang cenderung hambar. Makanan di Inggris dan Skotlandia basically harganya tak jauh beda. Harga satu porsi makanan standar kira-kira sekitar £5 - £10 dan percayalah porsinya banyak. Mahal, memang. Tapi ini bisa diakali. Selama kamu bisa menemukan Lidl, Tesco, Sainsburry, atau Marks&Spencer, maka kamu selamat karena memasak sendiri akan jauh lebih murah ketimbang jajan, prinsip yang sama seperti negara kita bukan?

Untuk mendukung penghematan ini, pastikan kamu sewa hostel atau Airbnb yang menyediakan dapur, jadi mau masak total (mulai dari nasi, lauk, dan sayur) atau menghangatkan (bisa beli pasta atau sandwich murah), semua bisa dilakukan. Saya banyak beli makanan siap saji yang tinggal dihangatkan, biasanya beli yang sudah diskon jadi makin murah. Minum tak perlu muluk-muluk mengharapkan mojito atau soda, cukup tap water saja. Mau hemat kan?

Minuman mewah nomor 2 setelah cokelat panas. Setidaknya untuk yang berbayar. Oh jangan lupa kalau kita belanja di supermarket dan menggunakan pelastik dari sana, kita bayar 5 pence.
Jangan lupa banyak cicipan gratis di Borough Market. Kebanyakan cicip-cicip itu menggunakan roti dan keju yang 5 kali makan saja sudah terasa kenyang.
Sup seafood tidak sedap.
Expectation: Kalau bingung makan apa di London, coba makanan cina saja. Rasanya bisa lebih familiar dan biasanya selalu enak.
Reality: TIDAK ENAK! Dan pelayanannya tidak ramah! Benar-benar deh, kirain sesama Asia bakalan saling baik-baik gitu.
Mungkin tidak adil jika saya mengatakan ini sedangkan di London saya hanya coba makan di restoran cina sekali saja. Tapi sedihnya, makanan ini jadi hidangan penutup di hari terakhir sebelum pulang. Rasanya hambar dan kaldunya tidak gurih. Apakah mereka menyesuaikan makanan dengan cita rasa London? Entahlah.


Expectation: Saya hanya akan beli magnet kulkas sebagai cinderamata, sisanya meh 😒. Primark adalah tempat yang bagus untuk beli pakaian jikalau masih butuh syal atau jaket.
Reality: Pakaian di Decathlon bagus plus banyak sekali potongan harga! Dan beberapa kali kami melewati Primark, mereka tidak seramai yang saya bayangkan.
Apakah belanja harus selalu di Primark? Ya, mungkin, jika kamu memerlukan baju atau jaket atau celana. Selain makanan, ongkos transportasi, baju olahraga Decathlon, dan magnet kulkas, saya tidak mengeluarkan uang lagi. Saya bawa jaket hangat dari Indonesia hasil pemberian teman, pun sepatu, tas, dan kebutuhan pokok lainnya. Pada dasarnya saya memang bukan tipe orang yang banyak belanja barang saat traveling. Kalau kamu ingin belanja hemat, memang Primark tempatnya. Alternatif lain mungkin flea market atau sale musiman atau charity shop. Jadi advis yang bisa saya berikan hanya membeli magnet kulkas –lagipula ini ide Mira haha. Kemarin saya beli magnet di Queensway, dan kalau masih mau yang lebih murah bisa cari juga di Camden Lock Market. Kabar baiknya lagi, kamu masih bisa minta diskon tambahan meski mereka sudah memberikan harga diskon. Siapa yang tidak suka dobel diskon?


Westminster Abbey dinikmati dari luar. Atraktif. Dan gratis (kalau hanya di luar saja).
Expectation: Banyak tourist spot gratis dan bisa dinikmati lama-lama.
Reality: Ya benar, banyak! Kita hanya perlu uang untuk menuju kesana, sisanya, silahkan berkeliling.
Semua tempat yang kami kunjungi bebas biaya dan tidak ada penjual jajan yang membuat lapar seketika. Saat itu kami tidak berkunjung ke museum, tapi main ke Big Ben, foto di boks telepon merah, Westminster Abbey, Tower Bridge, Sungai Thames, Hyde Park, nonton musisi jalanan (mereka bagus-bagus banget nyanyinya!), lihat pameran tugas akhir di Bartlett School of Architecture, cicip makanan gratis di Borough Market, main ke kawasan muslim sekitar Shadwell, foto dengan pria yang seolah-olah detektif di The Sherlock Holmes Museum, tempat kongkow, lihat-lihat kampus, dan acara senang-senang gratis lainnya. London is full of simple attractions. Semua bisa dinikmati dengan mudah tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Lokasi piknik dimana-mana

Piknik di Hyde Park atau taman-taman lain di London adalah hal yang menarik dan menyenangkan dan gratis.
Terowongan artistik
Sumpah saya kira mereka akan memasang wajah fierce a la Sherlock Holmes.

Expectation: Langit London terkenal gloomy. Tapi kan summer, pasti langitnya biru. Dan tidak terlalu dingin.
Reality: London selalu gloomy. Dan memang tidak terlalu dingin.
Ya begitulah. Seperti foto-foto yang ada di tulisan ini, semua gloomy, kelabu, suram. Seperti sedang ada di Gotham City –eh tau tidak, meski setting film Batman adalah New York, sebenarnya di Inggris ada desa yang bernama Gotham lho!
 
Masih di sekitar Westminster Abbey. Jalan kaki disekitaran ini seru lho. Dan gratis.
Tempat kongkow gratis, terawat, dan nyaman ditengah kota. WiFi gratis!
Wanita keren ini punya suara lembut agak serak-serak basah tapi strong. Membuat lagu Englishman in New York siang itu seolah lagu baru.

Mira dan Tower Bridge!

Expectation: Saya dan Mas Gepeng akan bersenang-senang di London bersama teman dan sepupu-sepupu kami.
Reality: Saya dan Mas Gepeng sangat amat bersenang-senang di London bersama semua orang disana!
Sampai jumpa lagi, London!

19 comments

  1. wah ada aku! btw, kalo bus yang di london itu disebutnya bus, tin. kalo coach itu yang antar kota. ribet ya hidup mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha! Oke aku revisi ya. Dan disana stasiun kareta sama bus sama-sama sebutnya station 😅

      Delete
  2. Hohoho.. Serunya. Banyak hal yang baru aku tahu ttg london. Terimakasih sudah berbagi :)

    ReplyDelete
  3. Harusnya mba bawa Indomie aja dari Indonesia, wakaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sengaja mau coba beli mie disana dan kedapetan rasanya yg gak ada di Indonesia 😆

      Delete
  4. waah serunya mbak perjalanan ke London, btw iyaaa jijay banget kalo harus cebok pake tissue aja ha ha ha.. ada satu mall di surabaya yang juga gitu, toilet kering, duhh jadi maless mau pip hi hi hi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emang gak enak. Paling pusing udah kalo mau BAB. Loh ada ya di Surabaya? Kayaknya ada juga di mall Jakarta tapi aku lupa. Motivasinya apa ya hahahaha

      Delete
    2. Salah satu tips keluar negri katanya bawa botol kecap baru yg ujung ny runcing itu loh justin, kayak yg biasa ada d restoran. Ntr pas k toilet d isi air bersih buat cebok2.. hehehe..

      Delete
  5. Wah ngeri juga ya, mbak kalau nggak ada keran semprotnya kalau ke wc. Secara kita kan biasa pakai air kalau cebok. Heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Pusing deh pokoknya. Mana di London juga jarang toilet umum, jadi makin pusing hahaha

      Delete
  6. Baca iniiii, aku lgs semangat lg bikin planning ke sana berdua suami :D. Omg, moga2 beneran bisa thn 2019 :D. Pgnnya sih 2018, apa daya rencana traveling thn dpn udh fix semua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin. Semoga bisa yaaa tahun 2019 dan semoga jalan-jalan taun depannya seru seru semua :D

      Delete
  7. Hehe saking banyaknya barang di Primark sampai saya jd bingung dan gak gitu suka belanja kesana mak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo begitu yaa. Tapi suka keliling-keliling Londonnya kan? :)

      Delete
  8. Bener banget yang rasa makanan hambar hahaha. Di sini di mana2 gitu sih, ga di London aja. Dan betuuul sebenernya banyak yang gratisan, favoritku ke museum sama parks krn selain cantik2, bisa puaas keliling2 dan yang paling penting gratis haha *medit*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banyak yang gratis! Suka deh hahaha. Jadi keluar uang buat naik bus sama tube aja, sama jajan makanan yang gak ada gratisannya. Terus kalo di tamannya bisa numpang tidur siang ahahahaha

      Delete
  9. di Australi juga hampir semuaaa toilet ga ada air/selangnya!! >.< paling beteekk. Paling cucok harus selalu ada botol aqua di tas. Botol yg semprot gt paling enak. hahahah! Semoga suatu hari aku bisa ke London! Amiin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan semoga suatu hari aku bisa ke Australi dalam keadaan toilet udah ada selang semprotnya hahahaha

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.