SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Japan First-Timer: Expectation vs Reality

Suatu siang yang cerah di stasiun Tokyo sentral, cuaca hati saya yang tadinya cerah juga tahu-tahu bercampur awan kelabu. Pasalnya saya kebingungan, bagaimana caranya saya bisa tembus gate karcis kereta ini padahal kartu sudah di tap bolak-balik di beberapa gate. "No, this ticket only for subway. You are in JR Station. Okay, we'll buy tickets for you both, come here!", ajak seorang lokal membawa kami ke mesin tiket dan setelah beberapa tut tut tut tut, tiket ketengan menuju Kinshicho sudah di tangan.

Meski ada banyak artikel yang traveler sejagad raya sudah tulis, nyatanya saya dan Mas Gepeng tetap kesasar mendapat banyak kejutan di Jepang. Quote yang bilang bahwa "better to see something once than to hear about it a thousand times" itu sungguh benar adanya gengs. Dan ini saya rangkum hal-hal yang saya temui as Japan first-timer.

Expectation: Public transportation di Jepang amit-amit nyusahinnya!
Reality: IYA EMANG! Itu juga kenapa saya memutuskan untuk stay di Tokyo saja karena bingung banget membuat itinerary. Tapi in reality, tidak se-amit-amit itu kok. Lumayan mudah. Lumayan.
Hari pertama kami tiba di Jepang, kami tidak paham sama sekali cara pakai kartu subway. Meski sudah baca banyak artikel tentang kereta dan tiket-tiketnya, nyatanya tidak banyak membantu haha.

Kami beberapa kali dibantu oleh orang sini mulai dari tiket apa yang pas, di mana stasiunnya, bagaimana menggunakannya, lalu gimana membaca jalurnya. Kalau tidak berani tanya, pakai metode trial and error juga bisa kok. Kalau mau mudah, gunakan aplikasi Google Map atau City Mapper. Kamu mau tidak mau memang harus online terus karena Google Map tidak bisa menyimpan offline map Jepang.

Tokyo Subway Pass, pilihan tepat buat yang mau keliling Tokyo. Bisa keluar masuk stasiun sesuka hati selama masih di jalur subway. Cara pakainya DIMASUKKAN ke slot karcis ya bukan ditap wkwk. Hanya kartu Suica, Pasmo, dan IC yang bisa pakai metode tap-tap.

Expectation: Makanannya mahal-mahal, bakalan makan onigiri pagi, siang, dan malam deh ini.
Reality: Yes benar! Makanan di restoran lumayan mahal untuk kelas backpacker kismin. Yah meski level kismin juga relatif sih wkwk.
Informasi bahwa Jepang adalah salah satu negara termahal untuk dikunjungi memang sungguh bukan isapan jempol kucing belaka. Mahal benar semua semuanya termasuk makanan. Rata-rata sekali makan itu sekitar ¥500 - ¥1000 untuk ramen, udon, atau tempura, dan sekitar ¥800 - ¥1500++ untuk sushi bowl. Mau dikata ada lunch set atau dinner set, tetap mahal sih.

Nah bagi yang cari makanan under ¥500 memang harus giat mencari. ADA, tapi tidak dimana-mana. Beberapa situs punya list makanan murah misalnya Tokyo Cheapo, TripAdvisor, JW WebMagazine, atau ya review di Google Map. Kamu bisa jadikan itu semua referensi berharga. Nanti akan saya tuliskan yang list versi saya dan gimana tips dan trik makan hemat di Tokyo ya.

Tempura murah di kedai ramen stasiun. Jika memakannya saat sarapan, tempura masih crunchy. Timing itu berharga bagi pencari makanan muree~

Expectation: Jepang akan berisik sekali dengan hingar bingar lampu dan padatnya orang berbincang-bincang. Siap siap pusing.

Reality: KEEP SILENT IS THE BEST. Dan yang berisik hanya di beberapa lokasi touristy saja kok.
Orang Jepang berisiknya hanya di bar dan pinggir bar, itu juga tidak berisik annoying seperti kalau geng alay nongkrong di pinggir trotoar sambil mimik Coca Cola.

Saya pernah suatu hari lagi jalan di trotoar lalu ketawa ngakak mendengar jokes retjeh khas Mas Gepeng. Lalu ibu-ibu yang jaraknya sekitar 10 meter di depan langsung nengok. Belakangan saya sadar, memang tidak ada yang ketawa ngakak seperti itu di sini kecuali saat kongkow di bar sambil minum bir dan camilin yakitori. Itu juga ketawanya masih halus sih menurut saya wkwk.

Di kereta pun ada himbauan untuk silent hp dan sebisa mungkin hindari bicara di telepon saat kereta penuh. Orang-orang yang mengobrol pun tidak pakai heboh gitu. Menarique.

Expectation: Jepang negara maju, tidak bakalan ada pengemis.
Reality: Tidak ada pengemis, tapi masih ada gembel, mana kebanyakan adalah kakek-nenek. Cediakutu :(
Sebagai negara penjajah, bisa dikatakan tidak ada budaya meminta-minta di Jepang. Meski presentase tingkat kemiskinan semakin meningkat paska bubble economy beberapa tahun silam, tapi memang tidak ada tuh yang jadi pengemis. Adanya jadi gembel.

Sebenarnya ya kalau diamati, orang Jepang itu sangat produktif. Mereka tetap bekerja meski sudah sepuh, ya kerjaan yang ringan-ringan sih seperti menyeberangkan anak sekolah, jaga kawasan stasiun yang sedang renovasi (sampai suka ketiduran segala wkwk), jualan lotre, penjaga pintu toko, penjaga pintu kuil, penjaga meskin tiket, bahkan ada yang mengabdikan diri jadi volunteer guide.

Bagi yang tidak produktif (entah karena malas atau gimana) dan miskin, ada tuh yang jadi gembel tidur di depan toko yang sudah tutup beralaskan tikar dan kardus sebagai 'dindingnya'. Sedih sekali. Padahal meski summer, hujan masih suka turun dan angin lumayan kencang. Apa tidak rematik itu pada eyang-eyangnya :'(

Baca juga dong: 20 Fakta Tentang Manila yang Belum Pernah Diceritakan oleh Siapapun!

Mas Gepeng foto sama para volunteer guide. Mereka berinisiatif tinggi sekali. Saat kami lagi bingung membaca Google Map (yang linglung wkwk), mereka langsung datangi dan bertanya "Hendak kemana kau, cuk?"~

Expectation: Bakalan dengar lagu aitakata aitakata everywhere.
Reality: Tidak dengan sama sekali bro n sis!
Bahkan ketika saya lagi di Akihabara, mereka setelnya lagu-lagu anime, tidak teriakan centil para remaja AKB48! Alhamdulillah~

Expectation: Nanti mau makan di warung lokal ah, kalau bisa nongkrong di bar lihat orang-orang lokal berinteraksi sambil minum sake, kan ada sake non alkohol.
Reality: TIDAK ADA WOY SAKE NON ALKOHOL menurut nganaaaa dan mau nongkrong gimana lha bar itu menunya kalau tidak sake ya sate babi wkwk
Memory Lane (Omoide Yokocho) di Shinjuku adalah salah satu target operasi saya dan Mas Gepeng untuk bisa coba kongkow a la orang kantoran Jepang.

Jadi ini adalah sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh orang saja. Didalamnya ada banyak warung nongkrong yang kecil-kecil, paling banyak 10 orang lah dalam satu tempat. Jadi memang terasa ramai. Dan seperti tipikal tempat makan di Jepang pada umumnya, kedai dibuat temaram dengan lampu kuning yang seadanya. Membuat tempat ini terasa hangat dan intim.

Meski akhirnya tahu bahwa tidak ada sake yang non alkohol, kami awalnya mau tetap coba nongkrong saja sambil makan yakitori. Tapi karena yakitori yang disediakan pun campuran sama daging babi, jadinya ya hanya lewat (dan foto-foto) saja. Oh iya, tidak semua tempat memperbolehkan untuk difoto, jadi pastikan kamu lihat-lihat dulu ya.

Sate ayam, cumi, dan babi bersahabat dalam satu wadah. Aromanya tiada tara enaknyaaa~~
Tua dan muda nongkrong sambil ngobrol di Memory Lane. Semua tampak hangat.

Expectation: Di Memory Lane nanti bakalan kotor banget kali ya. Bau pesing dan banyak orang mabuk. Jadi yah mungkin saya akan melihat hal-hal yang keren.
Reality: Wah bersih banget bro sis. Tidak ada bau pesing, bahkan aroma yakitori yang sedap mengudara di setiap pelosok alley.
Memory Lane, atau ada juga yang menyebutnya Piss Alley sudah bukan lagi tempat para preman mabuk-mabukan. Jadi sudah tidak ada lagi yang jijik-jijik seperti bau pesing atau sisa muntahan. Fungsinya sudah beralih menjadi tempat nongkrong yang lebih bersahaja meski tetap minum sake/bir.

Bahkan dengan karisma lokalnya, Memory Lane mampu menarik para turis untuk mencoba drink like a local or just hanging out casually. 

Apakah ini terlihat seperti tempat yang pesing?

Expectation: Mau ngobrol sebanyak-banyaknya sama orang lokal, khususnya pas lagi makan dimanapun.
Reality: Boro-boro ngobrol, nyapa konnichiwa saja kok impossible.
Orang Jepang mungkin adalah orang paling sibuk. Mereka terlihat selalu buru-buru entah di stasiun maupun di tempat makan. Makanya ada beberapa stand restaurant yang jadi alternatif untuk yang butuh makan cepat. Pun makanan selalu cepat saji karena litteraly mereka bergerak sangat cepat. Kalau sudah begini, saya mau sapa atau sekedar tanya cuaca saja takut disembur wkwk.

Nah yang akhirnya saya tahu juga adalah orang Jepang tidak banyak mengobrol saat makan. Di beberapa restoran malah menuntut untuk keep silent the handphone. Pernah kami ditegur karena buka InstaStory terus ada suaranya pas makan di Sushi Go Round. Orang Jepang lebih suka makan cepat dalam kondisi tenang, sepertinya begicu. Seperti salah satu kearifan lokal sini yaitu fast means going slowly without interruption.

Kalau mau ngobrol, mending pas malam-malam nongkrong di bar saja. Meski biasanya mereka sama teman-temannya atau lagi melepas penat sambil mabuk, setidaknya mereka tidak buru-buru. Saya jadi penasaran, kenapa orang Jepang tidak banyak yang buncit padahal mereka makan cepat sekali? Dan kenapa saya jarang lihat yang keselak?

Fokus makan ceu~

Expectation: Suhu saat summer di Jepang mirip dengan Hong Kong. Oke, pakai jaket yang biasa saja. Bye my Uniqlo~
Reality: NO! Meski summer, Jepang masih suka hujan dan anginnya dingin buanget! Bahkan saya lebih merasa kedinginan disini ketimbang di Skotlandia! Brrrr brrr...
Benar-benar sedih rasanya ketika saya pakai jaket (yang biasa dipakai untuk menghalau angin malam Jakarta) tidak ada hangat-hangatnya sama sekali di Jepang. Anginnya parah sih, dingin banget! Baru kali ini juga saya bepergian lalu kena flu dan tidak sembuh-sembuh.

Tapi yang bikin sebal adalah ketika saya merasa sangat amat kedinginan, orang sini ya biasa saja dong. Masih ada yang pakai celana pendek, kutangan, kaosan, pokoknya sedikit yang pakai jaket. Apa-apaan mereka! Membuat daku terlihat konyol pakai jaket dan masih kedinginan wkwk.

Baca juga dong: Highland Scotland, Simply Best Destionation Full of Surprises!

Expectation: Kalau tidur nanti dikasih penghangat kali ya biar ndak masuk angin.
Reality: Penghangat gundulmu, ini kan summer.
Yah, tidak ada yang menyediakan penghangat di musim seperti ini. Tapi ada yang menarik. Saat menginap di dormitory, kami diberikan bed sheet untuk dipasang sendiri. Ada dua buah sprei kain dan sebuah selimut. Cara pakainya begini: sprei kain pertama dipasang, lalu kita tidur, lalu selimuti diri dengan sprei kain kedua, baru pakai selimut. Hangat deh seperti dipeluk kekasyih~~

Paling enak kalau menginap di ryokan. Selimut yang dikasih wow tebal sekali bepque, seperti lapisan martabak istimewa.

Expecatiton: POKOKNYA AKUTU MAU JAJAN-JAJAN DI JEPANG (harus capslock karena ini adalah keyakinan yang sungguh-sungguh saya targetkan sepenuh hati jiwa raga)
Reality: Hmm, jajanan Jepang memang selalu menggoda, bepque. Tapi....
Harganya mahal-mahal.

Bisa kah kamu terima bahwa harga satu sate kepiting lebih mahal ketimbang semangkuk gyudon? BISA KAH KAMU TERIMA BAHWA HARGA SATU BUAH ESKRIM LEBIH MAHAL KETIMBANG SEMANGKUK RAMEN DENGAN SEBUAH TEMPURA IKAN??????? Emosyi deh. Bawaanya jadi pingin ngemis.

Jajanan mewah di Tsukiji Market. Satunya ¥1000! *pengsan*
Jajanan centil yang hanya sanggup qu foto saza~
Baca juga dong: The Bali Food-Mile from Ubud, Canggu, dan Jimbaran

Expectation: Toilet di Jepang ajaib-ajaib azeekkk mau cobain semua fiturnya aaah~
Reality: Tidak seajaib itu sih sesungguhnya. Paling suka ketika dudukannya hangat. Nyaman sekali cintah~
Memang semuanya pakai tombol, tapi ya tidak seaneh yang saya khawatirkan. Lega sih, tapi agak sebal karena maunya yang canggih gila gitu kan yang bisa jadi robot atau bisa menyangga pas ketiduran. Sejauh ini yang saya temukan hanya fitur cebok bokong, cebok daerah kewanitaan, penyamar bunyi, water pressure, dan tingkat kehangatan air. Apa memang sebenarnya itu sudah fitur tercanggihnya ya? Tidak ada yang bisa jadi robot nih?

Expectation: Anak kecil di Jepang lucu-lucu. Lihat saja di kartun Chibi Maruko-chan, atau komik Hai Miiko!, atau Yotsuba, yah pokoknya yang ada anak-anaknya.
Reality: Iya dong gumash-gumash semua! Tak sanggup pingin gigit rasanya! Apalagi atribut yang mereka pakai sya persis seperti yang kita lihat di tv atau komik.
Dan sepertinya Jepang terbiasa memperlakukan anak kecil sangat di-anak-kecil-kan sekali. Kalau kamu melihat Yamada Miiko dan Shimura Mari pakai topi piknik saat jalan-jalan, yes in real life anak sekolah memang memakainya dan lucu sekali. Atau ketika mereka piknik lalu bawa bekal dan botol minum. Atau saat mereka foto memang selalu bergaya peace. Atau saat mereka ke sekolah saat hujan lalu pakai sepatu boots dan jas hujan/payung lucu. Ah sangat menggemaskan~

Kalau lihat yang kinyis-kinyis gini bawaanya mau difoto kan ya, nah tapi tidak semua orang suka anaknya difoto. Jadi jangan lupa izin dulu ya, kalau sudah boleh mau foto 100 kali juga bisa wkwk.

Anak sekolah lucu ini habis jatuh setelah lari-lari mengejar ibunya. Saya tidak izin foto anak ini lha spontan betul lagi pegang kamera lalu ada kejadian lucu wkwk. Gemes tidak sihhh
Foto anak cakep ini saya ambil di taman dekat Sungai Sumida. Sudah izin dulu sama ibunya buat foto, izin mau bawa pulang ndak boleh~

Expecation: Banyak vending machine, kalau ketemu yang lucu mau foto ah~
Reality: BANYAK BANGET WOY eh ya ampun. Mungkin jika di Indonesia ada banyak ATM BRI, di Jepang banyak vending machine. Tiap tikungan ada kayaknya.
Wah benar-benar, saya tidak sangka kalau se-dimana-mana itu. Di hostel ada, depan hostel ada, di stasiun ada, di pintu masuk stasiun juga ada, di ujung stasiun ada, di pasar ada, tiap tikungan pasar ada, wah ampun! Tapi memang paling banyak vending machine minuman sih. Ada juga vending machine jajanan ringan sih tapi tidak banyak.

Nah vending machine minuman ini juga ada yang mahal ada yang murah. Biasanya ada yang semua ¥100, ada juga yang antara ¥130 - ¥300. Sampai masih ada yang dehidrasi, hmmm timpuk vending machine uga nih!

Jajan minuman air leci. Kalau mau cari yang hits macam air putih rasa kopi atau Coca Cola, ya rajin toleh-toleh vending machine saja.

Expectation: Jepang itu identik dengan kucing gendut lucu-lucu. Kalau ada kucing liar mau tak gigit kupingnya.
Reality: Dari 11 hari keliling Tokyo, saya hanya ketemu 4 ekor kucing liar dan semuanya benar-benar liar tidak mau didekati.
Kenapa ya? Kalau di komik-komik suka banyak kucing kok. Di taman, di jalan kecil, di pagar rumah, dan kucingnya baik-baik mau dielus. Lha di sini, baru dilihat saja sudah kabur. Padahal ya benar lucu-lucu, gendut, dan kinyis-kinyis.

Expectation: Mau ke Harajuku lihat mas dan mbak dengan pakaian heboh unik-unik.
Reality: Manaaaa tidak adaaaa~~~
Apakah saya salah tempat atau waktunya yang tidak pas, tapi sepanjang keluar dari stasiun sampai selesai berdesak-desakkan di Takeshita-dori, hanya nemu beberapa dan itu tidak begitu 'pasar malam'. Pada kemana ya? Mudik kah?

Sekali-sekalinya saja ke Takeshita-Dori. Kapok! Lautan manusia ini membuat diriqu pusing.

Expectation: Jepang terkenal dengan bagaimana mereka menghargai makanan, sehingga banyak tata krama makan yang sebaiknya dipenuhi agar tidak menyinggung orang lain. Saya pun jadi merasa takut dan was was saat mau masuk restoran.
Reality: Iya, tata krama itu benar adanya. Tapi jika tidak bisa kita penuhi karena lupa atau keburu lapar, mereka tidak akan protes atau memasang wajah masam kok.
Sebelum pergi, saya sudah tahu beberapa tata krama untuk makan di Jepang misalnya bayar taruh di baki, tidak kasih tip, tidak meluruskan sumpit secara vertikal, makan sushi sekali lahap, kuah diseruput langsung di mangkuk, siku tidak sandaran di atas meja, dan lain sebagainya. Tapi kadang kita para turis geblek ini suka lupa apalagi kalau sudah kelaparan haha. Meski begitu, orang Jepang pengertian kok. Asal makanan kita habis bersih dan ikut peraturan restoran, itu sudah lumayan kok.

Yang perlu diperhatikan adalah kebanyakan restoran memberlakukan sistem self-service. Jadi kamu akan tuang minum sendiri, tambah bumbu sendiri, ambil sumpit/sendok sendiri, lalu selesai makan, baki dan mangkok kita bawa kembali ke dapur. Jadi selain mencoba mengikuti tata krama makan, sebaiknya kamu observasi juga hal-hal yang perlu diperhatikan ya jangan benar-benar acuh tak acuh cuih.

Expectation: Siap-siap malu kalau masuk restoran lalu tanya harga makanan, kalau kemahalan nanti keluar lagi (backpacker-kismin-problem).
Reality: Menariknya adalah restoran di Jepang memaparkan menu dan harganya di pintu depan. Semua menu baik a la carte maupun paketan.
Buat saya ini keren sekali. Awalnya saya kira ini berkaitan dengan transparansi harga kepada para turis, tapi setelah melihat bahwa hampir semua kedai makan lokal juga melakukan hal yang sama, berarti ada tujuan lain. Apa itu?

Menurut analisis sembarangan saya, hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan waktu memesan. Saat peak-hour (sekitar jam 12 siang dan jam 7 malam) restoran memang hampir semuanya antre. Bahkan tempat makan biasa saja antreannya panjang. Nah supaya tidak wasting time saat sudah berada di dalam restoran, maka menu dan harga ditampilkan agar kita bisa memilih yang sesuai budget dan selera terlebih dahulu. Jadi pas di meja atau di kasir tuh sudah langsung tahu pesan apa, tidak masih mikir ini itu.

Baca juga dong: Taiyo no Tomato-men, Bagaimana Rasanya Makan Ramen dengan Kuah Tomat?

Expectation: Bagaimana jika mengalami lost in translation dan tidak ada orang lokal yang bisa bantu hiks. Apakah kita akan kebingungan sampai kurus kering bersedih jongkok dipojokan?
Reality: Meski memiliki keterbatasan bahasa, tapi orang Jepang punya willing to help yang patut diapresiasi setinggi-tingginya!
Ini sungguhan. Selain cerita bahwa kami banyak dibantu oleh orang Jepang saat berurusan dengan moda transportasinya yang membingungkan, beberapa kali pun kami terbantu oleh mereka yang benar-benar tidak bisa bahasa Inggris tapi SANGAT MAU MEMBANTU.

Misalnya petugas karcis, orang asing di stasiun, petugas kasir (yang kami minta bantuan cek mie instan apakah mengandung pork atau tidak), petugas toko (yang rekomendasi tempat beli gundam), kasir restoran, wah semua orang sangat baik dan sangat ramah! I love these people!

Expectation: Kata teman, saya harus jajan es krim matcha disana karena enaknya super.
Reality: WAH IYA DONG! Soooooo gooooodddd~~
Asli deh tidak bohong. Semua yang berbahan dasar green tea di Jepang memang tiada dua. Bahkan rasanya (menurut saya) masih orisinil, tidak ditambahi susu atau kayu manis atau apapun itu yang biasa kita rasakan di Indonesia. Jadi masih ada pahit-pait lucu gitu. Terima kasih kepada teman-teman yang memaksa untuk jajan yang matcha-matcha karena saya tidak menyesal!

Es krim matcha dengan roti manis.


Bagaimana? Sudah cukup banyak hal-hal yang mengejutkan di Jepang? Ini belum seberapa sih bep sebenarnya wkwk, masih buanyak pengalaman seru yang saya dan Mas Gepeng alami dan ada juga yang unexpected! Datang ke tempat baru untuk pertama kalinya memang seru ya!

Siapa di sini yang baru pertama kali ke Jepang? Bagaimana pengalamanmu? Masuk ke toko perbokepan tidak wkwk?

23 comments

  1. Feb tahun lalu aku jg pertamakali ke jepang. Dan langsung cintaaaaa matiiiik ama negara ini. 10 hari di sana aku puas ke 10 kota sampe hiroshima sana. Tp ga berarti nginepnya semalam2. Nginepnya mah ttp di 3 kota aja. Jadina ke kota2 lain kita pulang pergi. Thanks to JR pass dan shinkansen dengan kecepatan super jd kita bisa PP tiap ke kota2 jauh :p.

    Btw mba, kalo buatku stasiun di sana masih mndingan drpd seoul. Hadeuuuh kalo seoul pusing dah. Mana ada atas bawah sampe brp tingkat. Trus informasi ga banyak, dan orgnya ga ramah. Beda ama jepang yg memang ramah2 banget ke turis. Itulah kenapa aki bakal balik lg thun depan k jepang. Ttp pas winter :p, krn aku sakit kepala kalo udh kena panas hahaha. .

    Kalo soal makanan, krn tujuan utamaku ke jepang waktu itu hanya utk kuliner dan rollercoaster ekstremenya, jd memang aku udah prepare biaya2 utk cobain kobe beef, hida beef di takayama, sushi2 nya, dll. So far cuma kecewa ama sushi sih. Katanya enak banget, tp kok ya buatku yg suka banget ama sushi, malah biasa aja ngerasainnya. Dibanding Kiyadon, sushi tei, sushi hiro yg ada di jakarta, sushi2 di jepang sama aja kayak di tempat2 itu. Makanya aku kecewa. Tapi kalo beef nya, ya allah.. . Aku puaaaas hahahaha.. Rasanya memang merasuk sukma #lebay.

    Yg bikin kecewa juga, aku pikir yaa Skin care kayak SKII di sana itu bakalan murah. Aku mau borong dong, drpd beli di indo yg mahal. Ternyataaaa, samaaa ajaaaa harganya huahahahahah.. Sia2 mau borong. Dan memang harga barang2 kayak sepatu tiger pun sama aja, ga malah lbh murah di sana.

    Trus kita sempet naik commuternya pas pagi hari kerja. Mikirnya ga bakalan rame, krn keretanya kan banyaak. Apeees, ruamenya sama kayak naik CL di jakarta jam kantor huahahahahahaha. .. Malah sampe ada nenek2 keguling pas keluar saking padatnya manusia. Untung lgs ditolong sih nenek2nya.

    Tapi biar begitu, walo nih negara mahal, ttp sih aku ga bakal bosan mau kesana. Makanya utk thn dpn seneng bgt pas dapat tiket murah kesana lagi. Udh planning mau coba rollercoaster yg kmrn ga sempet kita coa krn maintenance, ama beef matsuzaka kali ini. Katanya lbh enak drpd kobe beef :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. MBAAA kayaknya kalo kita ketemu ini cerita Jepang bisa jadi tulisan baru deh hahaha kok seru bangeeet! Itu rollercoaster ekstrim ada dimanaaaa? Aku kemarin makannya khas backpacker kismin sih, jadi murah wkwk. Terus aku degdegan bulan depan ke Korea padahal kereta di Jepang aja udah pusing aku kemarin zzzz

      Delete
  2. Aaaak gilaaak ceritanya seru banget aslik! Jadi pengen ke Jepang segera���� ditunggu cerita2 lainnya yaa...salam kenal ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun mau balik lagi kesana Mba, kalo punya duit wkwk. Salam kenal jugaaa makaci yaa udah mampir Mba Intan~~

      Delete
  3. makasih sharingnya, aku masih belum bisa makan makanan jepang lidahku gak terbiasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Tira gak bisa makan yang mana? Mie instan gelasan bisa gak? Yg di Jepang juga enak-enak itu wkwk. Onigiri juga murah, matang, dan enak. Duh gusti daku jadi lapar~~

      Delete
  4. Seru mbak tulisannya, aku ketawa2 sendiri bacanya :D

    ReplyDelete
  5. Salam kenal, seneng baca blognya hehe. Di Jepang favoritku kalau makan yoshinoya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mba Velysia 😊

      Eh aku juga suka lho! Ternyata benar lebih enak ketimbang yang di Indonesia ya~

      Delete
  6. Thanks artikelnya justin, really help
    Januari 2019 jdi pengalaman trip jepang dan winter pertama kali buat aku 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah seru banget winter di Jepang! Banyak tempat yang cuantik buanget pas ada salju, salah satunya Shirakawa-go! Have fun yaa Mba Timtamia 🤗

      Delete
  7. Kira2 kalau ngetrip le jepang lagi boleh donk ajakin temen2 biar ga bingyung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya aku ajak mas itok ya biar perjalananku menyenangkan karena dibayarin semua 😆😆

      Delete
  8. Kira2 kalau ngetrip le jepang lagi boleh donk ajakin temen2 biar ga bingyung

    ReplyDelete
  9. Fix, kalau ke Jepang harus bareng teman, atau ikut tour travel aja.
    Sungguh baca ini jadi takut ke Jepang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha lho kok takut? Aku malah pingin banget balik lagi, sendirian juga gak papa wkwk

      Delete
  10. Kemarin saya juga ada baca tulisan mbak haya aliya zaki tentang jepang. Seru banget kayaknya. Trus kagum juga sama jalan di jepang yang katanya bersih banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersih, Mba Antung. Dimana-mana bersih sekali. Tempat sampahnya juga dibagi sesuai jenis sampah dan bersih, gak berantakan. Keren! Tapi kadang masih nemu aja satu biji pelastik di semak-semak wkwk

      Delete
  11. Salam kenal, Mba. Perdana mampir ke blog ini dan isinya seru abis! Aku belum pernah ke Jepang tapi baca ini ikut berasa asik gitu. Ditulis rinci dan informatif banget :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaaaii Mba Molly! Selamat datang di justinlarissa.com 😆😆 wah alhamdulillah ya bisa bikin ikut berasa asik, semoga bisa ngerasain asiknya Jepang beneran ya!

      Delete
  12. Seru ya. Jepang adalah salah satu negara impian saya. Semoga terwujud dan bisa main di sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMIN! Semoga segera kesana dan ngerasain serunya eksplorasi Jepang yah! Aku tunggu ceritanyaaa~~~

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.