SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

What Traveling Has Taught Me for 28 Years

Akhir Mei lalu, saya officially sudah hidup 28 tahun di dunia, usia tanggung untuk mengikuti tagar #30anuntuk20an atau menipu satpam kampus bahwa saya bukan alumni melainkan mahasiswa akhir. Selama 28 tahun, setiap tahun saya melakukan perjalanan. Dari usia masih 0 menikmati roadtrip dari rumah sakit ke rumah yang jaraknya tidak sampai 5 km, lalu darmawisata, simulasi naik haji, mudik, kunjungan ke museum, kemping, ekspedisi, KKN, sampai akhirnya bisa melihat negara lain.

Semakin bertambahnya usia, semakin jauh jarak perjalanan yang saya tempuh, semakin banyak pelajaran dan insight yang diberikan oleh perjalanan untuk saya. Ternyata ya gengs.....

Kamu tidak perlu menjadi kaya raya dulu untuk melakukan perjalanan (ke luar negeri) 

Saya (cukup terlambat, if I could say) melakukan debut perjalanan ke luar negeri tahun 2016 silam (karena Rhenald Kasali pun menghimbau untuk kita traveling selagi benar-benar muda), dan percayalah, uang saya saat itu benar-benar seadanya! Sampai sekarang tetap seadanya sih wkwk. Dengan segala kepas-pasan finansial, saya alhamdulillah bisa pergi minimal ke 2 negara luar dalam setahun. Tidur di stasiun atau bus tak masalah~ 

Also as Damon and Jo said, it doesn't cost much to feel rich. Kenapa? Dunia itu jauh lebih luas daripada buku pintar, buku RPUL, dan blog ini geys. There's no such things like perfect literature, you have to experience by yourself. 

Dan ternyata—fakta yang benar-benar membuat saya kaget—adalah tiket pesawat saiki banyak banget yang murceee bepqueee! Saat kecil saya pikir pergi ke luar negeri akan membuat saya kere tak bertulang. Tapi banyaknya promo tiket pesawat, lalu hostel budget, AirBnB, dan capsule hotel yang semakin menjamur, makin banyak makanan supermarket yang siap makan dan murah apalagi pas happy hour, juga kemudahan booking in advance dari berbagai aplikasi yang biasanya bisa lebih murah. Wah kalau begini sudah tidak ada alasan lagi untuk siapapun bisa berteriak now everyone can travel!


Dan apa yang mereka tulis di blog/buku hanya seupil kecil dari seluruh proses perjalanan
Saya adalah seorang pembaca. Jika ada hal menarik pada buku, blog, koran, bungkus gorengan, alas sajadah solat Id, caption, pasti saya baca. Tapi saya pernah tertipu dan tidak ingin kalian juga mengalami hal yang sama.

Suatu hari saya membaca cerita seseorang tentang Nepal. Merasa tidak puas, saya kumpulkan banyak literatur tentang negara ini beserta cerita-cerita Himalaya dan sapi-sapi. Semua saya baca setiap malam. Saat itu saya merasa sangat berwawasan dan siap 'mengkonfirmasi' apa yang sudah saya tahu. Syombong banget lah bosqu~

Namun saat saya menginjakkan kaki dan berjalan mengitari Kathmandu dan Pokhara, wah, saya tertipu. Nepal is waaaay mooore than what I've read before. Semua yang saya baca itu ternyata tidak cukup! Bahkan mereka tidak menulis orang Nepal tidak tahu bagaimana bentuk kepiting! Wakwaww.

Termasuk untuk perjalanan ke Jepang minggu depan, meski sudah buanyak sekali bacaan tentang Tokyo seperti punya AnakJajan, Kadek Arini, Febrian, Migrationology, Mira Afianti, dan sebagainya, saya percaya, saya akan menemukan dan merasakan banyak hal lain disana. Karena saya penganut setia faham bahwa perjalanan itu bersifat pribadi dan perjalanan kita tidak akan sama dengan orang lain.

Dari sekian banyak cerita soal Manila, saya masih punya rahasia yaitu kita bisa tidur di Fort Santiago wkwk

Perjalanan itu lebih dari sekedar been there-done that-got the photos
Tidak bisa dipungkiri, para travel-influencer memiliki peran yang lumayan signifikan terhadap keinginan seseorang mengunjungi suatu tempat. Coba buka Instagram Her Journeys, masa iya setelah lihat foto berlatar belakang alam New Zealand tidak membuatmu segera buka Skyscanner lalu cari tiket?

Tapi jangan lupa, tempat punya cerita uniknya masing-masing, makanya jadilah seperti Instagram iwashere_id, yang memiliki cerita spesial pada sebuah tempat.

Saat melakukan perjalanan, kamu akan menemukan tempat baru, sudut pandang baru, pengalaman baru, nilai-nilai baru, budaya baru, rasa baru, warna baru, cerita baru, latar belakang baru, pola pengelolaan baru, dan bagaimana cara mendapatkan itu semua? Datang dan alami sendiri. Cara mudah adalah datangi rumah makan lokal, atau toko lokal, atau nimbrung pas warga lokal lagi ngumpul, atau sok-sokan sapa pas di kereta. Selain mudah, murah juga kan?

Perjalanan lebih seru jika ada eksplorasi. Perjalanan akan lebih ada maknanya ketika kamu observasi, berbaur, berbincang, bertanya, bercerita, dan mendapat sesuatu. Janganlah jadi si udique yang menggebu-gebu mengajak pergi ke Johor, Malaysia hanya karena dia tahu, beli sepatu Nike disana lebih murah ketimbang di negara kita.

Remember this: traveling comes with its adventure, not selfies.


Sebuah perjalanan bisa mendewasakan bisa juga tidak
Dengan melakukan perjalanan, kemanapun baik dalam negeri maupun luar, kamu akan bertemu banyak hal yang bisa jauh berbeda dengan apa yang kamu yakini. Seperti para dosen Psikologi selalu bilang, manusia adalah makhluk yang dinamis. Berada bersama 10 orang dalam ruang rapat saja pola pikirnya sudah beda, apalagi ini satu dunia dengan milyaran orang.

Lalu apakah kita akan menyudutkan nilai-nilai baru itu sebagai nilai yang salah karena bertentangan dengan nilai kita, gaes-gaesku? No. Kita menghargainya. Kita merayakannya.

Bahkan dengan menemukan budaya atau nilai-nilai baru, kita akan memanjangkan sumbu untuk mengenal lebih jauh latar belakang serta apa alasan dibalik hal-hal tersebut. Kita tidak akan menjadi si udique yang suka memandang sebelah mata.

Karena itu juga, perjalanan akan membentukmu jadi pribadi yang bertoleransi. Kamu akan menikmati perbedaan pendapat, perbedaan sudut pandang, perbedaan nilai, perbedaan kepercayaan, dan dengan segala wawasan itu, kamu akan semakin menghargai perbedaan. Dan oh, lakukan backpacking. Karena seseorang pernah berkata, "orang yang paling  open-minded di dunia ini adalah para backpackers".

Tapi geys, ternyata tidak selamanya bisa terjadi seperti itu lho. Saya bertemu banyak sekali contoh manusia yang suka melakukan perjalanan tapi (menurut saya) tidak dewasa. Ada yang powerful (in bad way), ada yang sombong, ada yang suka merendahkan orang lain, ada yang menganggap orang yang tidak jalan-jalan itu bodoh, wah mengerikan. Saya sampai bingung, apa yang didapat saat mereka melakukan perjalanan? Lelah? Ah lelaahhh~

Melihat tempat ibadah agama lain adalah salah satu hal yang saya sukai. Apalagi biasanya pada baik-baik sama tamu yang kelihatan benar beda agamanya. Eh ini kuilnya cakep ya wkwk

Perjalanan ternyata bisa mengubah hidupmu dan orang (atau makhluk hidup) lain
Jika ada traveling-purpose-hierarchy, fase ini adalah stage diatas traveling untuk memperkaya wawasan. Sebuah tulisan indah dari Kadek Arini bisa kamu baca untuk lebih memahami stage ini karena saya sendiri belum tahu benar, apa yang bisa saya lakukan untuk bisa touch hidup orang lain (or in my deepest concern yaitu satwa liar) melalui traveling. Pun dalam hirarki ini rasa-rasanya ada banyak tipe, dari yang kita berbagi, atau membantu perubahan suatu kondisi dalam lingkungan yang lebih luas—like Gita Savitri has been doing with Muslim Travelers di Net.

Bagaimana perjalanan ini bisa mengubah hidup kita adalah dengan memaknai setiap inci perjalanan itu. Bukan bentar-bentar foto upload foto upload, tapi menikmati dan memaknai hal-hal yang kita lakukan dan dapatkan saat berada di suatu tempat. Saya benar-benar menyukai cara ini.

Sebagai pejalan kaki yang lambat (literally pelan jalannya wkwk), saya suka sekali jalan perlahan melihat sekitar, lalu duduk mengamati orang-orang, bagaimana mereka memperlakukan makanannya, bagaimana mereka menyapa orang lain, bagaimana mereka melayani kucing liar, dan secara tidak langsung, apa yang saya lihat dan alami mempengaruhi saya sebagai pribadi yang penuh lika-liku.


Perjalanan akan membantumu menemukan tujuan hidup
Saya sangat mengamini pernyataan ini, karena melalui perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, saya mulai mengetahui apa tujuan hidup saya dan apa yang saya inginkan. Prosesnya tidak sebentar. Bahkan sampai sekarang insight-insight itu masih berbentuk puzzle yang untuk menyatukannya, perlu usaha dan doa yang sungguh-sungguh.

Pernahkah saat kamu sedang duduk di sebuah warung pinggiran kota di benua seberang, kamu kemudian berbincang dengan dirimu sendiri dalam hati, bertanya 'Sebenarnya, apa yang ingin aku lakukan?", "Kenapa aku disini?", "Kenapa aku minum teh susu pakai telur?", "Kenapa rasanya kok aku kesepian?", "Kenapa aku selalu marah?", "Kenapa ayam KFC di Inggris lebih enak?", dan kenapa-kenapa lainnya.

Proses diskusi dengan diri sendiri ini lho seringkali menjadi penerang akan hal-hal yang membuatmu bingung.

Dan perjalanan akan membantumu berdiskusi lebih intim dengan dirimu sendiri. Oh how I really wanted to do solo traveling.


Perjalanan membuatmu lebih kuat dan berani ambil risiko
Melakukan perjalanan dengan cara backpacking menjadikan saya jadi lebih kuat dalam menghadapi situasi sulit. Bagaimana tidak, saya pernah terdampar tidak punya uang di Aceh, bermalam di kolong jembatan di Magelang, tidur di lantai kereta ekonomi Prameks saat lagi ramai-ramainya, numpang tidur di kantor polisi di Bali, numpang tidur di Piccadilly Station Manchester, wah pokoknya yang begitu-begitu sudah biasa banget lah.

Jadinya saat menghadapi situasi sulit, saya jadi lebih tenang atau masa bodoh wkwk. Basically saya adalah anak manja yang mewekannya mujarab lah untuk minta apapun. Tapi lewat perjalanan, saya lumayan tidak manja lagi karena sudah terbiasa dengan kehidupan tidak nyaman. You don't really attain anything in your comfort zone.

Mas Gepeng tetap happy meski malamnya tidur di stasiun dan tidak benar-benar tidur karena waspada kalau ada drunken master yang tahu-tahu ajak ribut

Banyak orang 'gila' di luar sana dan saya suka mereka!
Iya banyak! Pernahkah kamu bertemu dengan orang yang meninggalkan kehidupan normalnya demi hidup nomaden mencicipi hostel-hostel di seluruh dunia? Pernahkah kamu bertemu sepasang suami istri yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi volunteer di berbagai negara? Pernahkah kamu sama pacarmu berpikir untuk sepedahan dari Belanda ke Jakarta demi amal? Pernahkah kamu sendirian keliling dunia naik kereta? Sinting kan ya sob!

Orang-orang 'gila', orang-orang extraordinary, orang-orang yang sepertinya tidak peduli pada kehidupan Lambe Turah, Anya Nur Geraldine, atau kue-kue artis dan memiliki cara hidup yang keren sekali.

I wish I could meet these people everytime I travel or on daily basis. Or we live together, like, hidup di van lalu saling mampir dan kumpul. Seperti Seneca bilang, 'I was not born for one corner, the whole world is my native land'.


Perjalanan akan lebih bernilai jika diceritakan kembali
Melalui media apapun, entah artikel, foto, video, tulisan tangan, rekaman suara, cerita perjalanan, harus didokumentasikan dan dibagikan karena itu adalah harta karun yang bagus. Perjalananmu adalah legacy yang tidak boleh dirahasiakan.

Travel is not reward for working, its education for living. Jadi membagi pengetahuan kepada dunia adalah hal yang juga akan membuatmu kaya—banyak duit kalau jadi travel blogger kondang atau terbitin buku, banyak pahala kalau bisa bermanfaat untuk orang lain.

Seperti yang ditulis Kadek, there are three level of happiness; happiness with what you do, happiness when shared with other people, and happiness when knowing that what you do is beneficial for other people.


And a bonus traveling has taught me that
Makanan di seluruh dunia adalah bagian dari keajaiban
Apakah kamu follow Migrationology atau The Food Ranger di sosial media? Belum? SANA BURU FOLLOW! I am their loyal follower sepanjang masadan saya sangat sangat suka mencicipi makanan di seluruh dunia. Makanan adalah keajaiban! Saat tinggal di Pagaralam dan Medan, saya menyadari bahwa saya benar-benar bisa menikmati berbagai makanan dan menganggapnya enak meski rasanya aneh wkwk. Sejak saat itu, kemana pun saya pergi, saya pasti cari makanan lokal. Selain biasanya murah, saat jajan saya akan bertemu dengan orang lokal dan melihat proses sosial yang terjadi. Seru!

Seperti kata Mark Wiens, "I believe when you travel, there’s no better way to connect with people than through food". Dan makan makanan lokal itu memberikan kebahagiaan tersendiri lho. Sejak 'terbuka' dengan makanan-makanan baru, saya menemukan bahwa I can simply feels happy because of food. Tak heran di blog ini pun ada segmen khusus untuk makanan.

Sehabis jajan terbitlah percakapan




Terakhir,

Perjalanan itu ternyata membahagiakan. I don't know how but I'm happy, and that's all I know.

8 comments

  1. Yeahhhh tulisan insighfull lagih. Progresif banget. Abis ini kita mesti nyari atau experiencing sesuatu yang baru yak

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyesss babyyyy. Seperti jalan 20ribu langkah lebih kemarin yah di Tokyo wkwk

      Delete
  2. Ayam KFC di Inggris ga enak tin! #salahfokus
    Enakan di Indo, tapi paling enak lagi di Iceland. Menurut hipotesa temen2ku sih karena di Iceland banyak garam2 aneh gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pas makan di Edinburgh kok enak ya Mir,asin gurih dan kulitnya kinyis-kinyis wkwk. Yg Jepang enak juga, mirip rasanya kayak di Indo

      Delete
  3. Haduh mbaa bagus banget tulisannya. Ku penasaran sama budgetnya. Kapan2 share budgeting ala backpacker dong mbaa. Jadi pengen backpackeran ini 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makaci Mba Dinii. Iya nanti aku buat tulisannya yaa 🤗🤗

      Delete
  4. So touching mba.. umur kita samaan tapi aku baru ke Singapore doang hahaha. Ini lagi rencana Bangkok sama Malaysia sih semoga sebelum akhir tahun bisa kesana dan tahun depan bisa ke Eropa. Aamiin. ��

    Jadi aku punya kebiasaan kalo liburan nggak pernah update apapun di socmed cuma demi tenang dan lebih bisa memaknai tempat yang aku datangi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa, kita kan gak lagi balapan sama umur wkwk. Yg penting pikiran udah terbuka bahwa dunia itu LUAS BUANGET. Gimana pun caranya, semoga Mba Laras selalu menikmati perjalanannya dan mengambil maknanya yah 😊 oh sekalian di share, aku nanti baca.

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.