SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Hal Apa yang Tidak Ada di Tokyo tapi Ada di Kamakura?

Di mata orang Tokyo, Kamakura adalah kota sebelah yang seru untuk dieksplor dan cucok jadi lokasi darmawisata. Banyak anak sekolah berakhir pekan di sini untuk memenuhi tugas atau sekedar piknik bersama teman, seperti Yamada Miiko dan Shimura Mari—dari komik Hai Miiko!—biasa lakukan.

Di sini saya akan berbagi semua yang saya tahu tentang Kamakura kepada umat-umat pembaca sekalian. Ceritanya akan lumayan panjang (seperti biasa), jadi mending ambil minum deh, sirup Tjampolay pisang susu atau teh tarik Aek Cheong juga boleh. Dan seperti judul tulisan ini, saya akan beritahu hal-hal yang tidak ada di Tokyo tapi ada di Kamakura. Biar seru, saya akan sampaikan tersirat, kamu temukan sendiri ya. Semangat kakaak~

Apa itu Kamakura?
Kamakura adalah sebuah kota seluas 39,60 km² di Perfektur Kanagawa. Lokasinya di pesisir pantai dan cucok banget untuk menikmati summer. Orang-orang bilang kota ini adalah 'tempat kabur'nya mereka yang jenuh di Tokyo dan butuh tempat yang lebih tenang, lebih sepi, dan lebih tidur-pinggir-jalan-able (he?). Sebenarnya alasan saya ke Kamakura bukan karena bosan dengan Tokyo, tapi karena memang mau kesana saja, toh uangnya hanya cukup untuk pergi ke sana ketimbang ke Kyoto wkwk—pssst, Kamakura pun dikenal sebagai Little Kyoto. Mayan khan~

Bagaimana cara pergi ke Kamakura dari Tokyo?
Untuk pergi ke Kamakura, akomodasi paling mudah adalah naik kereta dengan waktu tempuh sekitar 1 jam (lebih 10 menit kalau berangkatnya dari Asakusa). Dari Stasiun Asakusa, naik jalur Asakusa Line (via Subway atau Toei Line) menuju Stasiun Shimbashi. Lalu pindah ke Stasiun JR, naik kereta jalur Yokosuka Line menuju Kamakura. Bingung? Selama ada City Mapper dan Google Map, hidup tenang di perjalanan wkwk. Mau naik bus juga bisa tapi jelas lebih lama meski waktu keberangkatannya on time, jadi mending naik kereta saja ya.

Jugijagijugijagijuk...

Kapan waktu terbaik untuk pergi ke Kamakura?
Sepertinya tidak ada waktu khusus ya, kapan saja akan selalu tampak cakep. Tapi karena punya pantai, banyak yang rekomendasi Kamakura dikunjungi saat musim panas. Dan saya beruntung bisa menikmati kota ini dalam keadaan cerah banjir sinar matahari.

Bagaimana cara menikmati Kamakura?
Jika kamu punya waktu sehari di Kamakura, saya sarankan sewa sepeda saja. Lokasi persewaan ada di dekat Stasiun Kamakura, dari pintu keluar langsung jalan ke kanan. Kenapa naik sepeda? Jelas karena JALAN KAKI KAN CAPEK YHA wkwk.

Alasan kedua adalah dinas pariwisata Kamakura sudah punya rekomendasi rute-rute wisata lengkap dengan jarak tempuhnya (baik dengan jalan kaki/bersepeda atau pun naik bus/kereta), jadi enak sekali tinggal ikuti urutannya. Peta rute ini tersedia gratis di stasiun, silahkan ambil. Kalau bingung, langsung tanya sama petugas informasi saja, mereka lumayan bagus Bahasa Inggrisnya.

Sewa pedah~

Namun berhubung uang kami pas-pasan, jadi kami akan eksplor Kamakura dengan jalan kaki. Rute yang kami ambil adalah campuran dari model route nomor 1 dan 3 dari rute yang direkomendasikan. Urutannya begini: Stasiun Kamakura, Komachi-dori, Tsurugaoka Hachimangu Shrine, Egara Tenjin Shrine, jalanan depan Tsurugaoka torii gate, pantai, Gosho Jinja Shrine, Hongaku-ji Temple, dan kembali lagi ke Stasiun Kamakura.

🔖 Sewa sepeda 1 jam paling murah ¥600, bisa lebih mahal tergantung sepedanya. Bayarnya bisa pakai Suica Card, sepeda tidak boleh dibawa pulang ya.

Baca juga dong: Percayalah, Warga Sipil (Pas-Pasan) pun Bisa Keliling Dunia dengan Asas Hemat Pangkal Kaya

Ada apa saja sih di Kamakura?
Stasiun Kamakura
Surprisingly, stasiunnya bagus! Desain bangunannya klasik, berbeda dengan stasiun di Tokyo yang sudah bentuk gedung semua. Secara umum cara kerjanya sama dengan stasiun di Tokyo, menggunakan mesin tap/tiket dan ada beberapa restoran kecil dan stand jualan.

Stasiun Kamakura cakep

Komachi-dori Street
Dari stasiun, tempat yang paling dekat untuk dikunjungi adalah Komachi-dori. Ini adalah sebuah gang perbelanjaan khusus pejalan kaki yang setiap tahunnya, sebanyak 18 juta turis mendatangi untuk belanja, jajan, dan nongkrong hitz. Jika kamu pernah main ke Nakamise-dori di Sensoji Temple Asakusa, atau Takeshita-dori di Harajuku, nah Komachi-dori beda dengan dua itu. Di sini sinar matahari masih terasa sampai kaki, kamera masih bisa menangkap gambar dengan santai, dan tersedia banyak tester untuk dicicip. Asyique~

Jajan apa di Komachi-dori?

Banyak banget yang gemas-gemas seperti ini. Aneka kain dijual entah untuk handuk, sapu tangan, kain bungkus kotak bekal, taplak meja, slayer, apapun itu pokoknya gambar dan motifnya lucu-lucu sekali. Nah yang diatas ini adalah kumpulan kain yang dibentuk seperti buku. Bisa dibiarkan jadi begitu saja atau kamu ambil kainnya untuk elap ingus (tapi masa tega sih).
Ini kalau kainnya satuan. Bentuknya persegi, fungsinya mending buat lucu-lucuan saja sih wkwk
Yang juga banyak dijajakan di Komachi-dori, dompet-dompet lucu aneka motif dan gambar. Ada versi tasnya juga dari tote bag sampai tas ransel. Kawaii ceu~
Ada hubungan yang misterius antara Kamakura dengan sosis. Entah kenapa makanan ini kok tenar sekali, padahal ya hanya sosis saja gitu, tidak ada yang spesial. Aroma enaknya membuat semua stall yang jual sosis ramai antrean.
Saya agak lupa namanya jajanan ini apa, tapi dia adalah kenyal-kenyal yang berlapis remahan kacang tumbuk. Penjualnya kakek tua yang lucu dan bawel, yang mengatakan dirinya handsome ketika saya minta izin untuk memotretnya. Sehat terus ya Pak! Jajanannya enyak~
Ada banyak sekali tester di sini, terharu bisa nyemil gratis sampai kenyang! Ini adalah kacang aneka rasa dari yang wasabi, kare, manis, dan sebagainya. Cocok buat oleh-oleh.
Sate cumi dan sate ikan, dua-duanya sangat menggoda! Lihat itu cuminya montok sekaliii~~~
Sate ikan yang murah dan besar dan enak sekali. Rasa dan eksturnya mirip otak-otak namun lebih lembut, seperti putih telur ceplok. Minta dihangatkan agak lama karena ketika benar-benar hangat di semua bagian, rasanya lebih enak!
Aneka tester kacang berbumbu yang bebas ambil. Rasanya unik-unik sekali. Itu yang ungu rasa plum, kuning rasa kari, pink rasa stroberi, dan karena label namanya bahasa Jepang, jadi bisa main tebak-tebakan rasa.
Apa ini? Mochi? Bukan bukan, tapi dia sabun yang seperti mochi. Sabun muka lembut dan super kenyal. Jangan lupa coba cuci tangan di sini, sabunnya enak sekali (mau coba cuci muka tapi tak bawa bedak kak~)
Pajangan toko kok ya minta dicubit banget sih! Kalau lihat Totoro, saya jadi ingat @miraafianti~
Ini adalah ikan teri khas Kamakura, namanya ikan whitebait atau orang Jepang menyebutnya ikan shirasu. Meski mirip, ikan shirasu tidak asin. Rasanya lebih ke gurih tapi light sekali. Dan kalau kamu ke Kamakura please please, cobain yang ini. Kentang rebus diberi butter, sedikit taburan garam dan lada hitam, lalu sebuncah ikan shirasu, dimakan saat hangat. Surgawi~~

Tsurugaoka Hachimangu Shrine
Hachimangu Shrine letaknya dekat dengan ujung jalan Komachi-dori. Untuk menuju ke sana cukup jalan kaki tidak sampai 5 menit. Masuknya bisa dari torii gate utama lewat jalan Danzakura, atau seperti saya yang melipir jalanan mobil lalu masuk dari pintu samping yang kecil.

Shrine adalah kuil Shinto yang memiliki ciri khas torii gate (pintu gerbang kuil) yang biasanya berwarna merah dan jadi objek foto paling hits masa kini. Shinto sendiri merupakan agama asli Jepang yang memuja dewa-dewa. Gengs plis jangan diplesetin jadi lagu Wiro Sableng y, taq sopan! Nah sebenarnya ada cerita menarik dan disclaimer, ini benar hanya ingin cerita ya, tidak ada maksud apa-apa.

Jadi pas saya Solat Id, saya bertemu dengan orang Jepang yang jadi mualaf. Namanya Ayumi (dan orang yang namanya Ayumi di Jepang ini seperti nama Annisa di Indonesia, buanyak! Susah betul cari akun Ig-nya wkwk). Ayumi jadi mualaf baru setahun dan sebelumnya dia memeluk agama Shinto. Saya pun bertanya, "Shinto itu agama yang bagaimana ya, Yum?". Saya bertanya begitu karena saya baru kali ini tahu ada agama Shinto. Lalu Ayumi pun menjawab, "Umm, saya sebetulnya kurang tahu. Saya agak bingung. Shinto dan Buddha itu mirip jadi saya juga kurang yakin dengan agama itu". Sejujurnya saya jadi penasaran mau bertanya lebih lanjut, tapi daripada Ayumi jadi tambah bingung padahal dia sedang menghafal bacaan Shalat Id, niat saya urungkan. Ndak dosa wkwk.

Kembali ke Hachimangu Shrine, kuil ini luas sekali. Banyak anak sekolah yang darmawisata ke sini dengan PR mencatat apa saja yang ada di kuil serta bicara dengan orang asing. Bagi yang ingin berdoa, ada caranya lho ya jangan asal gelar sajadah.

Kuil utama Hachimangu. Dibelakangnya ada bangunan museum dengan koleksi barang-barang festival seperti keranda dan gerobak kayu. Masuk museumnya bayar tapi.
Tangga turun/naik kuil utama Hachimangu, di bawah itu ada Maiden Dancing Stage, area pendopo yang biasa digunakan untuk pertunjukan.
Anak sekolah sedang berlatih bicara dengan orang asing. Awalnya saya tidak paham kalau mereka ada PR seperti ini, saat ada anak perempuan menyapa konnichiwa saya malah menyapa balik lalu lanjut jalan. Batal deh tanda tangan di buku tugas anak-anak~
Gentong-gentong sake bekas yang dikumpulkan dalam rak besar di sisi barat Maiden Dancing Stage. Mungkin ini sake suci wkwk.

Egara Tenjin Shrine
Kuil Shinto berikutnya adalah Egara Tenjin yang juga bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Hachimangu. Lokasinya sedikit mblusuk, tapi masih di tempat yang mudah dijangkau. Saya suka kuil ini karena masih sepi, adem, dan menyediakan tempat duduk buat yang hampir semaput naik tangga ke pintu masuk (seperti saya).

Egara Tenjin ini sebenarnya merupakan 'cabang' kuil tenjin yang tersebar dimana-mana. Kalau kamu follow saya di Instagram, saya pernah share secuil cerita tentang kuil tenjin.

FUNFACT: Selama di Kamakura, aku dan oyong @wafirun jalan kaki sebanyak 25000 langkah dengan jarak tempuh hampir 17 km! Awalnya mau sewa sepeda, tapi hitungannya masih lumayan mahal untuk kami wkwk 🧟 Jadi kami keliling jalan kaki di bawah terik matahari dan angin yang sejuq 🌱🌱 . Salah satu tempat yang menarik adalah Egara Tenjin Shrine, sebuah kuil Shinto yang ditemukan tahun 1104. Kenapa menarik? Karena kuil ini dibangun sebagai bentuk penenangan terhadap Tenjin, arwah jahat yang marah dan menimbulkan banyak bencana 👺💥💥 .Tapi kesini-kesini malah orang berdoa supaya kepintaran Tenjin semasa hidup 'menular'. Makanya banyak yang ke sini berdoa untuk kelulusan tes atau ujian 🤓 Menarique~ Nantikan cerita lengkapnya di justinlarissa.com yha uhuy 🦓🦓 #justinindyo_japan #justinindyo_kamakura #takenwithlumix #dbsxidbcpr #livemoresociety #dbstravelchallenge @idbcpr @dbsbankid
A post shared by Justin Larissa ☁ (@justinlarissa) on

Cerita yang menarik ya. Dan tahu kah dirimu, selain terkenal dengan kisah arwah yang jenius tapi pemarah itu, tenjin shrine di Jepang juga terkenal dengan pohon dan bunga plum yang cuantik banget kalau sedang mekar. Kenapa setiap tenjin shrine ada pohon plum? Karena semasa hidupnya, si arwah jenius tapi pemarah itu menyukai bunga plum. Dimanjakan sekali ya arwah ini wkwk. Saya belum pernah masuk ke dalam kuilnya, tapi saya penasaran, apakah ada foto si tenjin semasa hidupnya? Apakah dia tampan?

Framing cakep di main hall. Begitulah shrine, warnanya kontras!
Gerbang masuk Egara Tenjin menggunakan torii kecil.

Jika kamu banyak keliling shrine dan temple dengan jalan kaki, kamu akan menemukan beberapa titik jalan yang macet khususnya sekitaran lokasi wisata. Macetnya lumayan panjang, tapi tidak sampai pada emosi karena tidak ada juga yang klakson gitu. Agak kaget karena baru di Kamakura, saya mencium bau asap kendaraan. Untung eike pakai sunblock.

Pantai Kamakura
Jika pantai di Scarborough dikeliling burung seagull dengan suara merdunya, pantai di Kamakura malah burung gagak. Jadi ya santai di pantai sambil dengar suara ombak bercampur suara kaaakk kaaakkk kaaakkk. Hmm. Yawes yang penting makananmu dijaga ya, burung gagaknya suka maling cemilan wkwk.

Baca juga dong: Mari Bicara tentang Fish and Chips di Scarborough, North Yorkshire

Pantai Kamakura letaknya di selatan. Lumayan jauh dari pusat kota apalagi kalau jalan kaki, lumayan sih membuat dengkul ini gemetar. Tapi jalanannya tidak jahat. Dia landai dan rapih, khas trotoar Jepang yang ramah pejalan. Menariknya lagi, saat sudah dekat dengan pantai, kita tidak akan mencium aroma laut atau merasakan asin-asin di udara. Hawanya biasa saja. Hebatnya lagi, DI SANA KULITNYA TIDAK JADI LENGKET bepqueee. Terharu~~

Calon-calon kafe hits on the making
Pantai Kamakura saat sore. Mau lihat sunset tapi malah lihat gagak mengendap mau maling Pringles.
Seperti yang kalian lihat, pantainya memang tidak fotogenik. Airnya keruh karena pasirnya hitam. Langit saat itu juga agak mendung, jadi hanya pikiran yang positif yang bisa membuat suasana hati menjadi tenang dan tentram. Saya tidak sabar mengunjungi Kamakura lagi beberapa tahun mendatang untuk menyaksikan pantai ini akan ramai dengan kafe lucu dan turis yang bersantai sambil sesekali surfing karena saat saya ke sana, proses pembangunan terlihat lumayan masif.

Baca juga dong: 266 Km Motoran Keliling Lombok

Gosho Jinja Shrine
Saat hendak meninggalkan pantai, di lampu merah kami disapa oleh orang lokal dan memberikan info ada sebuah kuil yang sepi pengunjung tapi bagus sekali. Berbekal lupa-nama-kuilnya-tapi-jalan-ke-arah-sana-300-meter-terus-masuk-gang, kami jalan penuh harap.

Saat kira-kira sudah menempuh jarak yang diperkirakan, kami buka Google Map. Kuil terdekat adalah Gosho Jinja Shrine, dimana jinja juga berarti shrine, dan kenapa harus ada dua kata dengan arti sama pada satu tempat?

Satu kata untuk kuil ini: SPOOKY~~

Gimana tidak sepi pengunjung lha kuilnya seram sekali. Bangunan utamanya sudah lawas sekali, usang, dan warnanya pudar. Area sekitarnya juga bukan yang dirawat gitu.

Kuil utama dan museum. Hanya ini foto yang bisa saya ambil. Lihat kuburan sudah jiper terus minta pulang.

Selain bangunan doa, ada bangunan museum tempat menyimpan keranda festival yang masih terjaga warna dan ornamennya. Lalu kalau lihat sekitar lagi, ada banyak artefak dan (sepertinya) kuburan batu. Guide lokal di Google Map bilang bahwa kuil ini termasuk langka karena dia punya ciri khas dan itu merupakan kombinasi dari berbagai kuil. Tapi mungkin saya tidak datang di waktu yang tepat karena langit sudah kelabu, atmosfir kuil ikut kelabu, warna kuil kelabu, sepi, dan pohon ginko di sekitar tidak membantu juga, jadi saya benar-benar merasa seram di sini. Pulang saja ndak kesurupan.

Hongaku-ji Temple
Akhirnya ketemu yaa contoh kuil Buddha di Kamakura. Jika lihat fotonya, kalian akhirnya paham apa bedanya antara shrine (milik Shinto) dan temple (milik Buddha) kan? Kuil ini saya temukan tidak sengaja saat jalan pulang dari Gosho Jinja dan seketika saya berkata, "Ooh ini kali yaaa yang dimaksud Bapak tadi hmmm".

Tapi sepertinya tidak juga karena Hongaku-ji ini memberlakukan tiket masuk, yang artinya dia menjadi salah satu tourist attraction di Kamakura.

Bersih dan rapih sekali. Karena berada di tengah pemukiman, banyak orang lalu lalang di Hongaku-ji untuk sekedar potong jalan.
Apa bedanya dengan shrine? Pertama jelas warna yang digunakan. Temple lebih dominan warna kayu dan apa adanya. Kedua, ada bel ukuran besar sebagai ornamen. Bisa berada di main hall atau bangunan terpisah.

Pembangunan Hongaku-ji temple awalnya adalah sebagai bentuk pemujaan Ebisu, dewa perdagangan dan kesejahteraan. Dulu namanya Ebisu-do. Namun oleh Gubernur Jendral Kamakura saat itu, Bapak Mochiuji Ashikaga, memberikan kuil ini kepada pendeta Nisshutsu. Pendeta pun akhirnya mentransformasi kuil Ebisu menjadi kuil Buddha aliran Nichiren.

Tapi sekarang ini, kuil juga jadi situs ziarah bagi para penderita penyakit mata lho. Kok bisa? Karena pendeta kedua setelah Nisshutsu itu punya sakit mata dan sembuh setelah berdoa dengan khusyu di kuil.


Jadi, sudah menemukan apa yang tidak ada di Tokyo tapi ada di Kamakura?
Khukhukhu, saya yakin umat-umat pembaca pada pintar semua. Jadi pasti tahu bahwa MACET adalah hal yang tidak ada di Tokyo tapi ada beberapa di Kamakura. Selain itu, PANTAI dan patung besar Buddha (yang tidak saya ceritakan wkwk) juga tidak bisa kita temukan di Tokyo.

I simply love Kamakura meski cari makanan murah lebih susah ketimbang di Tokyo. Maklum sih, Kamakura memang dikembangkan untuk jadi kota wisata apalagi buat pelancong yang stay di Tokyo tapi malas pergi jauh-jauh. Oh saya perlu kasih tahu, di Kamakura tidak ada masjid/mushola, jadi ya pintar-pintar cari tempat shalat ya buat teman-teman muslimqu~

8 comments

  1. gemesss sambil telen ludah liat foto-foto makanannya pas puasa. ajib banget sik lensanya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh anak rajin puasa syawal 😘😘 iya aku juga takjub wkwk

      Delete
  2. Jepang selalu unik, bersih, teratur ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyesss, Jepang seru banget! Rasanya mau balik lagi deh, eksplor perfektur lain

      Delete
  3. Replies
    1. Acara hunting bareng berikutnya mungkin bisa diselenggarakan di Bali atau Banyuwangi atau mana gitu, Datom wkwk

      Delete
  4. Kalau pengen berendam air panas alami di mana mbak justin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jepang ada namanya onsen, itu air panasnya alami tuuu. Ada banyak dimana-mana karena udah jadi kebiasaan orang Jepang berendam untuk bikin badan seger lagi

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.