SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Pasar Tsukiji Cintaqu 🖤

Sepertinya saya kena sebuah hukum, apa ya namanya, ketika dulu benar-benar dihindari, sekarang malah dicari-cari. Saat kecil saya paling malas ke pasar. Becek dan bau amis adalah dua alasan yang tidak bisa ditolerir (biasa anak kota belagu gitu wkwk). Tapi sekarang setiap saya bepergian, saya selalu cari pasar. Alasannya bukan hanya untuk melihat aktivitas lokal, tapi juga untuk berhemat karena biasanya makanan di pasar itu murah. Nah di Tokyo ada sebuah pasar yang terkenal di seluruh alam semesta. Kamu pun (kalau kamu anak hits) harusnya sudah pernah dengar. Namanya Pasar Ikan Tsukiji.

Eh, Pasar Sunggigi?
BUKAN WOY! TSU-KI-JI. Pasar Tsukiji itu adalah pusat grosir yang menjajakan hasil laut dan pertanian berlimpah dan merupakan pasar tertua di Jepang—semoga tujuh belas tahun lagi bisa ke sana merayakan satu abad Pasar Tsukiji yha. Lokasinya saat ini masih di Chuo, namun per Oktober 2018 akan direlokasi ke Toyosu yang jaraknya 3,9 km dari lokasi yang sekarang. Aktivitas yang paling terkenal di sini adalah pelelangan ikan. Jadi hasil tangkapan ikan dari seluruh dunia dikumpulkan lalu dilelang. Hanya ikan-ikan terbaik yang akan dihargai mahal. Yang biasa saja yaa laku juga sih wkwk.

Apakah mudah untuk pergi ke Pasar Tsukiji?
SEMUDAH ITU bepquuu. Kalau dari Jakarta ya naik pesawat dulu ke Tokyo. Kalau dari Tokyo, tinggal naik kereta entah JR line atau subway bisa semua. Stasiunnya pun dekat dengan pasar, jadi tidak jalan terlalu jauh. Dan karena ini adalah destinasi populer, Google Map atau City Mapper akan membantumu dengan sekali kedipan.

Baca juga dong: London Foto-Esai, Interaksi antara Manusia dan Makanan di Borough Market

Apakah Pasar Tsukiji sebersih itu?
SEBERSIH ITU bepquuu. Meski namanya pasar ikan, saya tidak menemukan aroma aneh-aneh, hanya anyir segar khas ikan baru ditangkap dan itu juga samar-samar. Mungkin ini pengaruh cuaca dingin ya, seperti saat saya ke Pantai Kamakura atau ke Brighton Beach tapi tidak mencium bau amis.

Selama mengelilingi pasar, saya jarang menemukan sampah berserakan. Kalau pun ada paling ya tusukan sate, gelas kertas bekas makan rumput laut, atau tusukan telur. Itu juga pasti yang buang orang bodoh. Lha kok bisa bodoh? Karena hampir di setiap toko menyediakan tempat sampah lho bep, termasuk di tempat makan umum. Payah yha~~

Nah yang keren lagi, di sini tidak ada tikus! Meskipun itu di gang sempit yang gelap dan banyak tumpukan barang, tidak ada tuh tikus atau kecoa. Lalat saja tidak ada. Padahal saat itu Tokyo sedang sering hujan, tetap saja tidak membuat pasar jadi jorok dan becek.

Bersih yha. Ini bagian dalam bangunan pasar, masih di outer market Pasar Tsukiji. Meski kelihatan mengkilap, lantainya tidak licin yha don't worry.
Ini restoran di dalam gang tersembunyi Pasar Tsukiji. Tetap rapih, bersih, dan sejuk. Percayalah, tidak ada tikus disini.
Bagian pasar yang pinggir jalan, bersih dan tidak licin meski hujan. Seperti yang kamu lihat, di depan toko ada tempat sampah besar yang kalau penuh akan segera diganti oleh pemilik toko.  

Apakah Pasar Tsukiji seramai itu?
SERAMAI ITU bepquuu. You tahu tidak, dari 88 pasar grosir di seluruh Jepang, 54 diantaranya adalah pasar ikan dan Tsukiji merupakan yang paling terkenal dan paling sibuk. Gimana tidak sibuk, Pasar Tsukiji menangani 87% dari keseluruhan produk laut yang dihasilkan Tokyo Central Wholesale Market dan mengolah lebih dari 450 jenis hasil tangkapan laut dengan berat total 2000 ton per hari! Emejing~~

Selain para wholesaler, supplier, dan distributor, Pasar Tsukiji juga dipenuhi oleh para turis kelaparan yang hendak mencari jajan (entah untuk kebutuhan jasmani, rohani, dan feed Instagram). Termasuk diriqu.

Paling ribet ke Pasar Tsukiji saat hujan karena semua orang memakai payung termasuk saat berada di jalan yang sempit. Kalau payungnya nyangkut sama mas ganteng sih tidak papa yha~

Apakah Pasar Tsukiji seluas itu?
SELUAS ITU bepquuu. Pasar Tsukiji pada hakikatnya terbagi dua, yaitu bagian luar (outer market) dan bagian dalam (inner market). Bagian luar ini paling mudah diakses dan tidak membatasi jumlah pengunjung. Sedangkan yang dalam, tidak semua orang bisa masuk karena disitu terdapat aktivitas bisnis yang sebenar-benarnya. Kalau terlalu banyak orang apalagi turis, ndak ikannya pusing diajakin foto terus, nanti tidak laku dijual wkwk.

Secara keseluruhan, luas Pasar Tsukiji itu lebih dari 20 hektar, kamu hitung sendiri kalau jogging kira-kira butuh waktu berapa lama wkwk. Saya dan Mas Gepeng kemarin mencoba menelusuri dari kanan ke kiri, depan ke belakang, semua sisi persimpangan saya lewati demi mencari sesosok diskon makan chirashi—yang berakhir fana. Seru memang, tapi pasar memang sudah padat sekali. Stall dagangan sudah ngepas-ngepas dan nyelip-nyelip, memang membuat terasa sumpek. Untungnya udara segar dan masih bersih juga, jadi masih nyaman untuk dikelilingi.

Saran saya, sebaiknya kamu datang pagi sekitar jam 8 dan sediakan waktu agak banyak untuk bisa berkeliling sampai puas. Selain jajanan yang banyak sekali jenisnya itu, Pasar Tsukiji entah kenapa, buat saya, has its own charm gitu. Menyenangkan berada di sana. 

Apakah bagian luar Pasar Tsukiji memuaskan untuk dieksplor?
TENTU SAJA hohoho. Ini adalah salah satu tempat paling membahagiakan di Tokyo selain Sensō-ji Temple saat hari Sabtu dan kedai Taiyo no Tomato-men di Shibuya.

Baca juga dong: Taiyo no Tomato-men, Bagaimana Rasanya Makan Ramen dengan Kuah Tomat?

Saya suka tempat ini karena selain menyediakan aneka jajanan seru, aktivitas pasar pun menyenangkan untuk dilihat. Kita akan sering menemukan forklift mondar-mandir di jalan utama, lalu melihat wajah pasrah pengemudinya yang kesulitan lewat karena ramainya orang, kita bisa lihat juga aktivitas pemotongan tuna yang super besar itu (aktivitas ini lebih banyak ada di inner market), kita bisa cicip-cicip tester juga, kita bisa membuat orang bahagia dengan mengatakan 'oishi!' pada jajanan yang mereka jual, wah seru pokoknya!

Memang turis paling bisa main hanya di bagian luar, tapi tenang saza, ada bangunan juga sebagai pasar indoor di outer market Pasar Tsukiji. Kamu bisa juga jajan apapun di sini dan biasanya mereka menyediakan area makan di lantai paling atas atau roof top.

Kalau ada petunjuk seperti ini di pasar indoor, berarti ada tempat makan buat kamu menghabiskan semua jajanan yang sudah kamu beli.
Salah satu kedai buah di dalam pasar indoor. Rapih dan warna warni.
Pasar ikan indoor cerminan betapa orang Jepang sangat cinta kebersihan dan kerapihan. Bahkan sama kamar tidurmu mungkin toko ikan ini lebih bersih wkwk.

Apakah jajanan di Pasar Tsukiji enak?
SEENAQ ITU bepquuu. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, jajanan di Jepang itu lumayan bikin manyun harganya. Tapi semuanya worth every single yen! Meski namanya pasar ikan, tetap ada penjaja makanan selain seafood seperti telur dadar, rumput laut, kue-kue gemas, cinderamata, es krim, dan lain-lain. Yang saya tidak sangka adalah diantara jalan pasar outdoor, ada small alley nyelip-nyelip yang isinya berbagai restoran kecil. It was like hidden gems where you can find any sashimi restaurant cheaper than in the main-street.

Jajan apa di Tsukiji? Nih beberapa yang bisa kamu coba. Siap-siap, fotonya banyaq dan bagus bagus ehehe~

Kerang adalah jajanan populer di Pasar Tsukiji. Banyak banget jajanan berbahan dasar kerang entah dia dimasak sendiri atau dicampur dengan jenis seafood lainnya. Kalau yg ini kerang dibakar saja dengan tambahan sedikit saus gurih. Harganya bervariasi sekitar ¥200 - ¥300.
Ikan wader khas Jepang, lumayan buat camilan selagi jalan keliling pasar. Saya tidak coba ini, hanya lihat saja. Tapi sepertinya menarique.
Sate ikan dibalut jagung adalah salah satu jajanan favorit di Pasar Tsukiji. Daging ikan cincang dibentuk bola padat lalu ditempeli jagung manis lalu dibakar, tasty sekali.
Saat kamu lihat nadi-nadi halus, serta organ yang tampak oily dan kenyal, apakah kemudian kamu menelan ludah? Karena saya iya banget! Ini adalah hotategai alias grilled scallop alias kerang bakar dengan bumbu kecap gurih.
Pendamping favorit untuk makan yakitori, atau makan hati wkwk. Tidak begitu banyak yang jual tapi ada lah beberapa. Maaf daqu tidak coba ini, takut kembung.
Sate ikan bakar, rasanya ya seperti ikan bakar wkwk. Dari sekian banyak sate yang saya coba, saya tidak terlalu suka yang ikan karena harusnya saya makan ini pakai nasi hangat, cocol sambal kecap, pakai tempe garit dan lalapan.
Grilled eel alias belut bakar yang lembut sekali. Sebelum dibakar, daging belut dilumuri saus bumbu berwarna cokelat yang membuat rasa dagingnya manis gurih, sepersi saus takoyaki gitu. Yang menjual sate-sate seafood ada banyak sekali, harganya juga tidak jauh berbeda antara ¥100-¥150 per tusuk.
Ini belut bakar versi besar, yang bisa kamu beli untuk dimakan bersama nasi hangat atau dibuat topping nigiri sushi.
Looks tempting? Ini kerang bakar yang atasnya dikasih melted cheese dan uni (sea urchin). Jadi tekstur kerang yang kenyal dikunyah bareng lembutnya uni dan keju, lalu ada rasa gurih saus, wah meleleeeh~~~
Tamagoyaki, atau telur dadar versi Jepang. Kalau saya pernah lihat proses pembuatannya di Instagram, telur ini dicampur susu sehingga teksturnya sangat lembut seperti sponge. Gambar diatas adalah dadar digoreng dadakan hangat hangat. Enak sekali. Yang berbeda dari dadar biasanya adalah tamagoyaki ini agak manis, seperti kue telur jadinya. Harganya ¥100 aza.
Kalau yang ini tamagoyaki dingin. Teksturnya sama lembut namun dia ada campuran rumput lautnya (variannya banyak). Harganya pun variatif sesuai ukuran dan topping tambahannya. Kalau ini ¥320, paling murah wkwk. Saya pribadi lebih suka yang hangat, tapi Mas Gepeng lebih suka yang dingin. Kita berdua berbeda tapi saling cinta~
Nah ini oji (paman) yang bikin telur dadarnya. Bagaimana caranya dia membuat dadar dengan sumpit sebesar itu?
Makanan menarik ini adalah potongan daging kepiting dengan taburan salmon caviar. Penyajiannya lucu ya pakai bagian dalam cangkang kepiting. Rasanya bagaimana? Coba tebak~
Rumput laut dengan kuah sup miso, ini tester gratis bisa coba berkali-kali—saya kemarin makan 3 kali saking sukanya wkwk. Rumput lautnya dibuat kering kecil-kecil lalu disiram kuah sup miso, enak sekali. Kalau mau beli rumput lautnya, satu pak besar harganya ¥600, tidak dijual dengan kuah. Jadi ya bikin sendiri ya, pakai kuah bayam juga bisa wkwk.
Oh this is sexy. Giant oyster tidak akan mengecewakanmu! Itu besarnya semana kira-kira? SETELAPAK TANGAN bro! Gede banget. Lihat tiramnya pun gemuk begitu. Harga per porsi ¥1000, lumayan pricey tapi kapan lagi makan tiram segede dosa gini hahaha.
Another sexy gal, ini blow-torched seafood yang menggoda iman dan kantong. Dalam satu piring kerang, ada potongan daging kepiting, daging kerang, sea urchin, dan jika kamu datang di musim yang tepat, kemungkinan mereka akan menaruh juga sperma ikan cod yang konon rasanya creamy seperti keju. Tapi sekarang ini sepertinya bukan musim masturbasi untuk ikan cod, jadi digantikan dengan bahan lainnya.
Tentu saja makan sushi di Pasar Tsukiji hukumnya wajib—atau jadi sunnah bagi umat kismin wkwk. Ada banyak varian sushi yang bisa kamu coba mulai dari gunkan, nigiri, norimaki, juga chirashi.
Zuzur, saya agak sedih makan ini. Tapi enaq. Dan karena ini Pasar Tsukiji, saya rasa mereka para nelayan melakukan hal dengan penuh tanggung jawab. Ini daging ikan hiu atau paus saya lupa. Masih mentah lalu dicampur saus tiram yang gurih, enak sekali. Maaf ya ikan :'(
Jika tadi ada giant oyster, ini Jaiko-nya. Versi lebih kecil tapi gemuknya sama. Kalau kamu belum pernah mencoba, saya sarankan once in a life-time makan deh tiram mentah. Ajaib banget rasanya. Terlalu berharga untuk dilewatkan~
Tebak, makanan apaqa ini? Hemm, saya pun awalnya tidak tahu karena dijual dengan bahasa Jepang, tidak ada terjemahannya. Ternyata ini isi keong. Kok besar? Karena keongnya besar-besar sekali. Teksturnya kenyal seperti daging gurita, namun saat dikunyah lebih mirip kayak ampela wkwk. Enak, asin gurih gitu. Murah pula hanya ¥300 dapat segitu.

Lalu bagaimana makan sashimi di restoran dalam gang kecil? Saya akan ceritakan ditulisan terpisah ya, ini sudah banyak banget fotonya. Ndak saya diamuk umat pembaca karena membuat lemot internetnya wkwk.

Apakah harus datang ke Pasar Tsukiji kalau main ke Tokyo?
HARUS DONG bepquuu. Apalagi bagi yang mencari jajanan lokal, mencari pengalaman seru keliling pasar ikan yang bersih, mau lihat pelelangan ikan, mau lihat ikan tuna segede bayi beruang, mau makan sashimi super segar, dan mau menikmati Tokyo bersama salah satu atraksi terbaiknya.

Dan beneran deh, kamu sebaiknya melihat langsung itu ikan-ikan tuna besar, terus dipotong-potong dengan pedang samurai. Wah tidak terlupakan! Keren!

Ikannya setengah saja sudah sebesar ini, bagaimana aslinya coba?
TUUUH gede banget! Saat ikannya sudah berhasil terbelah, penonton serentak berkata "Uwoooh" padahal tidak saling kenal tapi kompak. Ikan lah yang menyakutan kita. Melihat ikan tuna dipotong secara live memang menggembirakan!

Apa tips terbaik untuk teman-teman yang mau ke Pasar Tsukiji?
Saya bisa berikan tips yang paling berguna dan paling simpel. Ada dua saja tipsnya, yaitu eksplor sampai ke gang-gang kecilnya dan siapkan banyak uang sekitar ¥4000 lah ya cukup buat sendiri wkwk—ini demi bisa jajan semua yang menarique lho bep. Oh satu lagi, please buanglah sampah pada tempatnya, even kalau tempat kamu beli makan menyediakan tempat sampah sendiri, buang disitu saja—waktu itu sempat ditegur pas kita buang tusukan tamagoyaki di tempat sampah sebelah, disuruh buang di tempat sampah mereka.

Tertarik mengunjungi dan mengenyangkan diri di Pasar Tsukiji? Ajak daqu yha uhuy~~

14 comments

  1. foto2nya kok ajib ajib banget siiiiihhhh, jadi pengen ganti kamera deh ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk, Joni memang cintaqu~~ kalo mau cobain aja nih Mir si Joni sama lensanya. aku pinjem ricohmu

      Delete
  2. So far tulisan paling aku suka di cerita jepang

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. so far aku suka semua tulisanku wkwk. duh pengen mam sushi nih oyong~~

      Delete
  3. Mbaaa aku tuh udh bikin budget di itin, pas ke tsukiji nanti siapin dana ¥5000 hanya utk ngemil2 di sana. Tp setelah baca ini, rasa2nya busget segitu kurang huahahahah.. Blm lg sashiminyaaa kaaaann. Omg, aku bakal kalaaaap -_-. Kalo oyster mentah, nth napa aku ga suka :p. Tapi sashimi salmon doyan. Itu ikan hiu/paus, aiiihhh rasa2 ga kemakan hahahah. Sebagai orang batak sebenernya ikan hiu itu kita olah menjadi gulai, dan rasanya enaaaak banget. Apalagi di sibolga kampungku, hiu mah banyak dijual. Dagingnya kalo udh dimasak enak bgt. Cm ga kebayang kalo mentah. Krn aku prnh cium baunya amiiis :p. Aku kuatir muntah kalo mentah wkwkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ¥5000 buat sendiri mah cukup Mba Fanny, tapi kalo sampe makan chirashi yang paket dahsyat memang kurang wkwk namanya juga ikan~~ Kemarin ikan pausnya gak amis, apalagi udah ada bumbunya, enak, tapi aku sungguh gak tega makannya hiks

      Delete
  4. Duh asik banget pasarnya, ditambah tone fotonya. Cakeep mbaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asik banget Mas Ojiiii. Aku paling seneng main ke sini selama di Tokyo, makanannya enak-enak semua :D

      Delete
  5. Wkwkwk saya ngakak pas bagian payung. Saya termasuk yang gak suka pakai payung. Jadi kayaknya bakal bahagia, ya kalau lagi hujan. Jadi berasa banyak yang mayungin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Mira, aman kalo ke sini banyak yg mayungin. Hati-hati kecolok aja wkwk

      Delete
  6. Demi apa aku ngiler banget ngeliatin foto-fotonya ya ampuunn :D Mana tone-nya cakep banget lagi. It's really great to be here. Nice to know you, anyway.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaaaiii its also nice to have you here Mba Sintia. Duh didatangi mba penulis wkwk degdegan. Jepang sesungguhnya udah fotojenik, nuansanya hangat jadi di foto pun jadi cakep 😆😆

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.