SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Berdoa Seperti Orang Korea: Upacara Ilegal, Hanbok Gratis, dan Karma-Karma

Siang yang cerah di Korea, langit biru seperti laut, dan sinar matahari tidak ada yang menghalangi barang satu butir awan. Seketika saya ingat Mas Gepeng bilang, "Panas di Korea seperti Jakarta lho nanti", saya pastikan itu dusta karena PANASAN DI SINI YHA! Salah satu adegan pada serial Reply 1994 di mana orang-orang memilih tidur di luar rumah sepanjang malam karena panas yang tidak manusiawi, itu saya amini benar.

Lets forget about how hot the weather was, karena saya lebih penasaran dengan apa saja yang bisa ditemui di Korea. Pukul 16.00 saya keluar hostel dan berjalan kaki menuju Hongik University dengan bantuan CityMapper yang terkoneksi WiFi Passpod sebagai penunjuk arah. Pinggir jalan sudah tampak ramai oleh muda-mudi, entah yang merangkul pacarnya atau tote-bag putih kesayangannya. Saya mengamati sekitar, mengitari gang berisi toko pakaian dan asesoris, lalu jalan lagi. Kawasan ini meski ramai orang, tapi suasananya tetap tenang.

Sore itu harusnya menjadi sore yang sesuai ekspektasi. Sederhana saja, saya hanya ingin makan dan duduk-duduk di taman. Tapi ternyata, saya dapat lebih dari itu. Dari berjalan di daerah Hongdae, tahu-tahu saya ada di sebuah rumah di kawasan Gwangmyeong. Apa yang saya lakukan di sini?

Ikut Upacara Ilegal sambil Memaknai Han 

Korea Selatan mengalami lebih dari 400 perang pada masa lampau. Bahkan dulu, Korea Selatan mengalami kekurangan pasukan jika dibandingkan dengan Korea Utara yang punya jauh lebih banyak pasukan dan perlengkapan militer yang lebih besar. Setelah di-php oleh Amerika paska proklamasi, mereka akhirnya bisa benar menjadi negara merdeka pada 15 Agustus 1948 —namanya Republik Korea Selatan. Kondisi ini membuat warga Korea Selatan sangat menghargai perjuangan mereka dan memaknai kesedihan saat masa perang itu pada setiap nilai kehidupan. Nilai ini diwakili oleh 'han'.

'Han' adalah tekad orang Korea Selatan. Tekad ini terbentuk akibat rasa kesal, dendam, dan duka terhadap ketidakadilan dan sejarah kelam masa lampau. Karena kondisi negara juga sempat goyah karena krisis ekonomi, jadilah 'han' terus dipegang teguh sampai sekarang. Supaya mereka tetap ingat itu dan tetap mengobarkan semangat fighting fighting, 'han' diterapkan dimana-mana. Sebut saja hanbok, hangul, hanok, hanguk eumak, hansik, hanji. Selain itu, rakyat Korea Selatan juga menuangkan emosi pada seni dan muncul lah K-Pop, K-Drama, dan K-ecantikan wkwk.

Sejarah pendek ini bukan saya dapat dari Wikipedia atau contek buku sejarah di Gramedia, melainkan cerita dari Minji, seorang mahasiswi bertubuh mungil, bermata cokelat, pipi merona, dan mengajak saya ikut acara tradisional kelompok belajarnya. Minji bercerita banyaaak sekali tentang orang Korea dan sedikit banyak, kita memiliki nilai hidup yang mirip-mirip lho. Saya pun ikut upacara doa bersama para traveler lain dari berbagai negara dan mengenakan hanbok. Later I know this kind of activity was illegal, karena konon ada undang-undang yang melarang orang Korea mengajak orang asing untuk ikut upacara/aktivitas keagamaan. Meski begitu, saya bersyukur bisa mengiyakan ajakan Minji meski dia adalah orang asing dan mungkin saja saya diculik dan dijual sel telurnya (coba nonton film Midnight Runner, yang main oppa Seo-joon dan oppa Ha-neul wkwk), tapi saya mendapat experience seru.

Minji mengatakan bahwa upacara doa ini merupakan aktivitas tahunan yang dilakukan setiap Peringatan Hari Kemerdekaan. Esensinya adalah bersyukur akan nikmat hari ini, menghargai masa lalu, and cheers for the future. Kita juga mendoakan keluarga kita supaya tetap sehat dan terhindar dari kemalangan. Saya tidak tahu benar apa kepercayaan orang Korea, karena saat itu juga tidak tampak patung Buddha atau patung dewa lainnya.

Dalam ruangan doa ada sebuah meja yang berisikan berbagai makanan mulai dari buah sampai crackers. Ada pula lilin yang panjang dan yang berbentuk mangkuk. Saya tidak ingat persis bentuk dan detail isi meja —begini nih kalau inyong tidak dikasih foto wkwk— tapi saat itu saya hanya mengenakan hanbok, menghadap meja, berjarak 3 langkah dari orang sebelah, dan melakukan gerakan-gerakan yang sudah diajarkan Minji. Di depan meja ada satu set cangkir dengan teko yang terbuat dari alumunium. Ada pula beberapa botol sake dan gelas kecil. Yang menarik adalah tempat bakar dupa yang berbentuk mangkuk, di mana sudah terisi debu hasil bakaran dan nantinya kertas doa saya yang telah ditulis oleh Minji dalam bahasa hangul akan dibakar dan abunya akan menyatu bersama udara. Orang Korea percaya, debu-debu doa ini akan menjadi perantara terkabulnya doa kita.

Contoh meja doa.

Hanbok Kue Lapis

Pada acara doa ini, saya berkesempatan mengenakan hanbok, pakaian tradisional Korea yang seperti tudung saji itu, secara gratis meski sayangnya tetap tidak boleh foto —KZL uga. Penggunaan baju dimulai dari celana dulu namanya sokbaji. Bahannya ringan dari kain katun tipis dan mungkin kalau saya punya di rumah, akan saya jadikan celana tidur. Setelah itu pakai dalaman berbentuk dress panjang, lengan buntung, dan bawahan lebar. Namanya sokchima. Jangan lupa meski kamu pakai celana dan dress dalaman, kamu tetap harus pakai underwear yha.

Selanjutnya saya pakai si tudung saji alias rok chima berwarna pink yang dipakainya persis di atas dada dengan tali diikat memutar. Ini adalah super hight waist skirt yang sangat modest karena menutupi bentuk badan, bentuk dada, dan tentu saja bentuk pantat. Buat yang tepos atau dada rata, kalian tidak perlu minder. Semua tidak akan tampak dan sebaliknya, kita akan terlihat anggun dan 'berisi'. Seksi sekali rasanya. Setelah pakai chima, saya pakai jeogori berwarna biru toska terang, yaitu atasan crop tee yang panjangnya tidak sampai tulang rusuk. Menggunakan crop tee seperti ini membuat kita tampak seimbang, baik yang bungkuk maupun busung. Finishing saya memakai beoseon, kaus kaki tebal berwarna putih yang hangat dan licin. Baik-baik ndak kepeleset wkwk.

Dengan jilbab pink, jeogori biru, dan chima pink, saya merasa seperti kue puding lapis wkwk. And of course I feel pretty. Saya tidak berhenti bercermin, mengagumi penampilan saya dengan pakaian adat yang anggun dan GRATIS yha tentu saja. Saya benar-benar suka dengan hanbok. "Why the ancestor made a dress like this? Mereka tidak kepanasan kah? Dan kenapa roknya besar sekali?", tanya saya ke Minji. Dia pun bilang, baju ini malah sangat sejuk dan cocok dikenakan di berbagai musim. Kalau musim dingin, mereka menambahkan long coat. Kalau musim panas, mereka menambahkan kipas angin listrik di balik rok mereka. Bohong ding.

"Basically Korean people love to cover the body. Berpakaian tertutup menandakan kesopanan, yah meski sekarang sudah banyak yang seksi seksi", begitu kira-kira penjelasan tambahan dari Minji.

Bagaimana Cara Orang Korea Berdoa

Jika kamu pernah ingat adegan Geum Jan-di dan Yoon Ji-hoo di serial Boys Over Flowers berdoa bersama di Gyeongbokgung, nah ternyata berdoanya ya memang begitu. Ada gerakan tangan menengadah ke atas, lalu lebar ke samping, lalu sejajar dada dengan telapak tangan terbuka ke atas, lalu duduk, membungkuk, tangan naik ke atas sedikit, lalu berdiri, dan tangan berhenti di depan perut dengan badan sedikit dibungkukkan —posisi memberi hormat, seperti yang biasa dilakukan oleh Kim Ji-a saat bertemu chairman Lee Youn-joon di serial What's Wrong with Secretary Kim.

Gerakan-gerakan ini akan dilakukan sesuai aba-aba. Di dalam ruangan, ada seorang pria yang menjadi pemimpin upacara dan dia juga melafalkan doa dalam bahasa Korea. "It's okay if you don't remember all the steps, just see someone in front of you", pesan Minji ketika tahu saya kesulitan ingat gerakan tangan saat aba-aba han dan heum. Sebenarnya gerakannya tidak sulit, hanya saja dilakukannya cepat sekali. Jadi baru berdiri dan tangan di perut, lalu sudah duduk lagi dan merunduk. Lalu berdiri, lalu duduk merunduk lagi. Berdiri lagi. Duduk lagi. Geser ke kiri 5 langkah, lalu duduk lagi berdiri lagi. Begitu terus sampai Korea Selatan berdamai dengan Korea Utara wkwk.

Awalnya saya sempat kepeleset beberapa kali. Ini cepat sekali. Dalam satu sesi bisa ada 10 kali repetisi kayaknya. Geser sedikit, ulang lagi begitu. Saya yang memang tidak benar-benar berdoa pun jadinya hanya fokus mencontek gerakan orang di depan dan ribet sendiri. Tapi yang hebat adalah saya tidak pernah sampai menginjak rok chima lho. Mungkin karena ruang di dalam rok yang luas, jadi kalau duduk sila lalu berdiri lalu duduk lalu berdiri, tidak masalah. This dress absolutely anti selip.

Penutup acara doa adalah pembakaran kertas doa. Saya menyampaikan pada Minji soal cita-cita saya dan rencana hidup saya 5 tahun mendatang. "Aaah, you've planned this so well", kata Minji ketika saya jabarkan rencana saya setiap tahunnya. Minji adalah pendengar yang baik dan dia sangat ramah. Bahasa Inggrisnya lebih oke dari saya, tapi dia tidak tampak merendahkan. Saking senangnya, saya sampai mewek saat cerita, ambience-nya bagus. Meski acara ini ilegal, tapi memiliki seseorang yang bisa diajak bicara macam-macam saat kamu traveling sendiri adalah hal yang hebat.

Kertas-kertas doa berbahasa hangul itu dibakar dan debunya beterbangan di seluruh ruangan. Sebenarnya debunya agak gengges ya. Apalagi asapnya juga ikut muter-muter di dalam ruangan. Saya sudah mau batuk tapi ditahan karena si pemimpin upacara sedang komat kamit baca mantra. Akhirnya saya tahan nafas wkwk. Setelah acara doa selesai, saya duduk sama Minji dan mendengar penjelasannya tentang karma sambil makan buah.

Karma Tidak Hanya akan Kembali Kepadamu

Satu hal yang saya ingat betul dari sesi ini adalah karma atas apa yang kamu lakukan, tidak selamanya akan kembali kepadamu. Suamimu, istrimu, ayahmu, ibumu, kakakmu, adikmu, anakmu, cucumu, cicitmu, mereka semua yang berhubungan dekat bisa mengalami karma hasil perbuatanmu, entah itu karma baik ataupun karma buruk. Salah satu karma yang akan terjadi adalah kemudahanmu dalam menembus 'batas' langit untuk menuju alam baka.

Jadi dunia ini terdiri dari 3 lapis kehidupan: perut bumi, dunia yang kita tinggali saat ini, dan alam baka. Kita lahir dari perut bumi, lalu hidup di dunia kita sekarang. Kita melakukan berbagai hal yang baik dan buruk. Banyakan mana itu terserah situ wkwk. Setelah meninggal, 'jiwa' kita akan terbang menuju alam baka. Nah alam baka ini punya gerbang gengs dan untuk masuk ke sana, kita harus antre dulu. Kelancaran antrean 'jiwa' kita ternyata sangat dipengaruhi oleh do'a dan karma baik yang kita lakukan untuk keluarga kita. Kalau kita sayang keluarga, baik, suka menolong, jaga silaturahmi, dan saling menghormati, keluarga kita akan berbalik melakukan hal yang sama dan kebaikan itu akan mempermudah antrean kita menuju alam baka. Hemm, apaqa saya sudah terdengar seperti Roy Kiyoshi? —even I never heard him speak wkwk, hanya tahu wajahnya yang seperti pick gitar.

Selain masalah alam baka, karma baik dan buruk akibat perbuatanmu juga akan berdampak pada kehidupan orang disekelilingmu. Misalnya anakmu hobi betul kena sial, atau istrimu sering sekali dapat hadiah doorprize acara senam jasmani antar RW, itu juga ada sebagian dari karma atas perbuatanmu. Intinya sih berbuat baik kepada sesama. What goes around comes back around, kalau kata Beyoncé. Sebuah pengingat yang baik. Thanks Minji!



Bukan hari yang biasa kamu temui sehari-hari bukan? I didn't expect any of these kinds of activities, kinda risky for my safety but all just happened like that and I didn't have any negative thoughts about this. Rasanya masih banyak kezutan lain yang akan Korea berikan kepada diriqu yang solo traveling untuk pertama kalinya ini. Sampai jumpa di jurnal perjalanan eik berikutnya dengan kejutan dari Korea.

P.S.: Since they actually did this undercover, I didn't able to take pictures of everything. So sorry no decent pictures in this part, pure article like a journalist hehe. And actually, they told me that I have to keep silent about this activity at least for 100 days ahead because if I share my pray, it would be disbanded. Tapi kan ogut share ceritanya ya, bukan doanya wkwk.

P.S.S.: Kalau ada yang tahu tentang aktivitas ini atau undang-undang yang berlaku di Korea, please let me know. 




⸻⸻

Pengalaman pergi bersama orang asing disupport oleh WiFi Passpod cintaqu yang membuat saya tenang karena bisa akses internet super lancar, kalau-kalau ada emergency. Such a savior!

7 comments

  1. Uuwuwuwuwu ni tulisan dalem bener. Berasa lg probing wawancara deh. Awesome pokoknya
    -Gepenk-
    Nama yang paling sering disebut di blog ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku kayak lagi nulis esai tugas kuliah deh~

      Delete
  2. Wow keren banget Mbak traveling sendirian keluar negeri, bikin ngiri, hihi
    Ternyata pakai hanbok banyak lapisannya ya Mbak kayak kue lapis ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Titim, aku malu dibilang keren padahal sempet mewek gegara kesasar gak nemu hotel wkwk. Solo traveling akan bikin kita setingkat lebih keren deh kayaknya. Iya hanbok ternyata dalamannya banyak, gak sangka juga. Mungkin biar gak berasa 'kosong' gitu ya karena roknya kan lebar sekali~

      Delete
  3. Justin, seriously kamu ikutan acara itu? Ini sebenarnya cara Korean cult members menggaet turis asing untuk ikut upacara "sesat" mereka. Beruntung kamu aman-aman aja, karena sampai ada yang dipalakin begitu tahu ini sesat, ilegal dan menolak ikut upacara. Saya juga di-approach sama members yang ngaku sebagai mahasiswa, sampai 2x lho, termasuk di Hongdae.

    ReplyDelete
    Replies
    1. WADAW! Sampe ada yang dipalak? Aku sebenarnya kemarin ya takut dimaling juga, apalagi tasku ditinggal di ruangan. Alhamdulillah yah diriqu aman, mungkin tampak kere jadi kasian kalau mau dijahatin. Terus kamu gak ikutan? Nolaknya gimana?

      Delete
  4. Wkwkwkkwkwk waduuuh lgs ngakak baca yg roy kiyoshi mirip pick gitar :p. Btw baru tahu kalo upacaranya ga bisa sembarangan ngajak org asing. Pas ke korea dulu aku ga prnh liat juga sih org2 yg sdg beribadah. Kyknya terlalu fokus ama wisata kuliner di sana hihihi...

    Btw kalo hanboknya aku setujuuu banget, itu sangat nyaman dan ga bikin yg make kayak org hamil. Walo baju gombrong gitu :p. Sampe bos ku pas ke korea lgs foto dan bilang, "kali ini aku ga perlu tahan napas" hahaha... :p

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.