SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Solo-Traveling First-Timer: Expectation vs Reality

Another Expectation vs Reality series, tapi kali ini bukan mengangkat tempat melainkan pengalaman saya melakukan debut solo traveling ke Korea Selatan. Kalau mau baca seri sebelumnya, silahkan klik di sini dan di sini, biar update wkwk.

Ketika saya pergi, teman-teman di jagad maya banyak yang DM memuji betapa saya berani dan hebat mau melakukan solo traveling ke luar negeri. Saya hanya balas 'Hehehe keren yha' saja padahal asal you tempe yah, saya mah huhuhu mulu selama ngalor ngidul sendiri, dari yang nyasar sampai lelah karena beberapa kali salah platform stasiun. Tapi ada juga lho momen huhuhu berubah jadi khukhukhu.

Bagaimana debut pertama saya ke luar negeri sendiri? Apaqa sesuai ekspektasi diriqu? Baca terus deh, biar ente tahu rasanya.


Expectation: I'm going solo, tak ada siapa pun yang ikut dan tak ada siapa pun yang menunggu di sana. Kalau saya hilang bagaimana ya? Eummm. Atut~
Reality: Tida ada massssyalah. Saya bisa kontak semua orang anytime anywhere. Nyasar pun saya bisa tahu jalan kebenarannya.
Thanks to Passpod, berkat dirimu, saya tetap terhubung dengan keluarga dan sobat-sobat di tanah air, baik yang di jagad maya ataupun jagad miyi —bahkan dengan pihak yang saya harap tidak menghubungi saya sama sekali, seperti kantor dan tawaran kartu kredit wkwk.

Saya juga bisa akses semua online navigation tanpa kendala apapun. Buat saya, hal yang paling menakutkan saat solo traveling —nomor 2 setelah diculik lalu dikarungin dan dibuang ke laut wkwk, adalah kesasar. Makanya Passpod WiFi ini berguna banget! Savior! Jadi dimanapun destinasi tujuan baik yang sudah direncanakan atau belum, saya bisa tahu jalannya. Saya jadi tampak pintar.

Bisa tetap baca komen retjeh netijen di Instagram dan Twitter semua berkat Passpod —itu tuh yang di atas tas saya.


Expectation: Di Korea, saya mau melakukan hal yang santai-santai saja lah seperti duduk di kafe, baca buku, menulis, dan tidur siang.
Reality: Melakukan hal di luar zona nyaman saat kamu berada di zona tidak nyaman itu rasanya KEWL banget bosqu!
Do something out of your comfort zone, kata motivator. Comfort zone sendiri ternyata ada levelnya gengs. Dulu jalan ke luar negeri adalah challenge. Sudah terbiasa dan pergi selalu berdua, kini naik lagi levelnya yaitu traveling solo. Berada di luar negeri sendirian untuk pertama kalinya sungguh di luar zona nyaman. Tapi bisa kah melakukan hal yang lebih dari itu?

Saya mendatangi sebuah tempat bernama Alpaca World. Lokasinya berada di luar Seoul tepatnya di Gangwon, yang artinya saya tidak bisa lagi pakai CityMapper sebagai petunjuk jalan kebenaran. Dan tantangan benteng Takeshi tidak berhenti sampai di situ.

Setelah naik subway, saya harus naik bus kecil yang sehari hanya ada 3 unit di jam tertentu dan halte tertentu. Kalau saya telat atau salah tunggu halte, ya tidak jadi bisa pergi. Back up plan? Tak adeuu kisanak wkwk. Mau naik taksi ya ndak mungkin, kan qismin.

Gimana rasanya bisa berhasil menempuh 3 jam lebih perjalanan sampai di Alpaca World tanpa nyasar? Wuah HEROIK SEKALE. Kewl! Apalagi saya bisa main sepuasnya dengan para alpaca selama 4 jam, lalu pulang lagi ke Seoul tanpa ada kendala berarti. Ini namanya no effort has been in vain and I got my pot of gold.

Tidak pernah sebahagia itu melihat sign bus stop


Expectation: Biar tidak bingung cari aktivitas, buka jastip saja lah. Biar sibuk shopping-shopping like a crazy rich Javanese.
Reality: You'll feel lonely but trust me, buka jastip BUKAN cara yang bijak untuk mengisi waktu.
Awalnya saya berpikir ketika saya belanja jastip, saya akan 'terbebas' dari blocking. Saya akan punya aktivitas dan tidak akan bingung mau melakukan apa hari itu. Tapi ternyata saya salah.

CAPEK BANGET BRO BELANJA JASTIP DAN DIBAWA SENDIRI 😫 Hassshhh! Kalau berdua sama Mas Gepeng mungkin sedikit lebih nyaman ya karena ada yang bawain. Lha ini, saya bawa sendiri, cari sendiri, kalau capek ya pijit sendiri, kepanasan juga kelojotan sendiri.

I'm here talking about solo traveling in days, not months or years yang tidak mungkin banget buka jastip. Mendapatkan penghasilan tambahan pas traveling memang menggiurkan, apalagi bagi jemaah traveler qismin seperti saya dan situ juga, yang butuh uang tambahan untuk sekedar makan layak di restoran ber-AC atau jajan lobster bakar seharga lima kali porsi makan padang.

Tapi saat solo traveling, percayalah, jastip's wont give you a quality time. Kamu tidak akan merasa baik-baik saja saat membawa satu tas belanjaan sendirian, dan terus mencari barang, dan lupa menikmati perjalananmu yg syangatlah berhargaaa~~

Tempat macam ini yang membuatku pusing, lelah, dan senang sekaligus. 


Expectation: Inap di mix dorm saja biar ada teman laki-laki dan perempuan biar lebih beragam.
Reality: Memang paling benar inap di mix dorm.
Selama jadi traveler qismin, saya tidak pernah inap di dorm yang khusus perempuan. Selain karena selalu pergi sama Mas Gepeng, mix dorm biasanya lebih murah. Untuk solo traveling kali ini pun saya pilih mix dorm dan saya merasa beruntung. Cek post Instagram saya ini untuk tahu alasannya wkwk.




Dear alpaca, let me tell you how grateful I am milih nginep di dorm mix di Hongdae. Kenapa? KARENA DORM YG ISINYA CEWEK SEMUA ITU DARI KEMAREN BERISIK BANGET YAAA WOOOOYYY! Kezel aqutu~~ πŸ‘ Kita kenalan dulu sama Hongdae ya. Orang bilang kalo mau nginep di tempat yang hits anak muda, di sini tempatnya. Kan aku anak muda yaaaa jadi pilih Hongdae 🀭 Awalnya aku pikir Hongdae ya isinya mahasiswa yang, yaa mahasiswa gitu. Kreatif, unik, banyak ide, dan banyak event seru. Lha ini ternyata maxutnya adalah anak muda, bebas, g4ul, clubbing, drinking beer, buang sampah sembarangan, duh gak cuchmey lah! πŸ‘ Karena aku punya masa muda yg berbeza dengan mahasiswa sini, aku merasa syalah tempat wkwk 😌 πŸ‘ Well, if you traveler, nginep di Hongdae karena memang kamu hobi party party ajep ajep, go ahead sono gih pulang pagi juga seraahh. Tapi kalo lau nginep di tempat yg umum kek di dormitory, yg gak semua itu kek lau, plis kagak usah bawa itu party ke hostel πŸ˜’ πŸ‘ Mbak-mbak entah dari mana asalnya, dua orang berambut ombre, pake jaring nelayan di seluruh badan, celana se-selangkangan, meap tebal, kerjaannya drtd ngobrol kenceng-kenceng, ngomong kasar shatshitbatchbitch, minum-minum, dan kalo malem suka ketawa-ketawa kek kesurupan! Mereka ini mau party kok ya pemanasannya begini amat πŸ˜’ πŸ‘ Menginap di dorm memang harus siap deal sama yg beginian. Kita bisa pilih hostel, tapi gak bisa pilih temen sekamar. Apalagi solo begini. πŸ‘ Karena cewek suka berizik, aku selalu pilih dorm yg mix. Dan kali ini aku bersyukur sekale yha gak sekamar sama mbak-mbak kumpret ituuuu 😀 πŸ‘ Begitu lah ceritaku, alpaca. Aku bersyukur gak sekamar sama mereka. Tapi tmn sekamarku yg sekarang bauq. Gimana dong πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘
A post shared by Justin Larissa ☁ (@justinlarissa) on


Expectation: Ketika solo traveling, itinerary harus dibuat sedemikian detail agar siap sedia back up plan dan bisa lebih secure juga perjalanannya.
Reality: Saya ndak buat itinerary dan saya aman meski sering bingung arah wkwk.
Selain tidak sempat buat, saya rasa melakukan perjalanan sendiri dan 'diatur' itu tidak menarique. Saya ingin spontan saja cari di sana ada apa, lalu datangi. Dan semua hal jadi di luar ekspektasi. Yaa karena memang biasanya tidak buat itinerary rinci —kecuali perjalanan ke UK— jadi sudah biasa.

Kekurangannya adalah saya jadi tidak mempersiapkan 'how to get there' dengan matang. Untungnya saya punya unlimited WiFi portable dengan jaringan 4G, jadi hal ini bisa segera diatasi, khukhukhu.

Tapi kalau urusan buat ndak buat itinerary, balik lagi sama gaya perjalanan masing-masing sih yaw. Suka suka wkwk.

Baca juga dong: #justinindyo_UK 10 Days 9 Cities Itinerary Revealed

Expectation: Ingat pesan mama sejak kecil, jangan mau diajak pergi sama orang asing!
Reality: Saya ikut pergi dengan orang asing and I had a memorable moment with them!
Hari pertama di Seoul, saya bertemu dua orang mahasiswa yang tergabung dalam komunitas penyuka sejarah, namanya Minju dan Minji (sepertinya ini bukan nama sebenarnya karena mereka pun bukan anak kembar wkwk). Saat Minji bilang mereka punya rutinitas tradisional dan bertanya apakah saya bisa ikut, saya langsung berkata "I'm in! I have no plan for today heheh, let's go!"

Meskipun selama acara saya tidak boleh foto-foto dan ada potensi dimaling karena meninggalkan tas di ruang ganti, saya mendapatkan hal-hal keren. Saya pakai hanbok GRATIS, saya diceritakan sejarah panjang Korea Selatan dan betapa mereka menghargai 'han' sebagai pengingat perjuangan, saya ikut upacara doa, saya sekeluarga didoakan, saya bertemu pendengar yang baik, dan diajak makan berbagai buah khas salah satunya plum kuning.

P.S.: Acara ini ternyata ilegal wkwk. Untung diriqu tidak dihipnotis.

Kalau ini orang asing yang menjadi teman. Mereka roommate saya selama di Korea. Yang pria namanya Donald dari Hong Kong, dan yang perempuan Anne dari Prancis.
Baca juga dong: 5 Hal yang Kamu Dapatkan Ketika Menginap di Dormitory


Expectation: Kalau kesepian, saya mau jalan-jalan saja menelusuri trotar dan cari kucing buat diajak main.
Reality: Ketika kamu solo traveling, animal is the truest company if you need somebody to talk to.
As Savage Garden said in Animal Song, "Animals and children tell the truth, they never lie". Ketika solo traveling dan merasa kesepian, even ikan dalam aquarium di restoran pun bisa kamu jadikan teman.

Pas di Korea saya main sama kucing liar. Memang tidak banyak, tapi sekalinya ada, mereka menggemaskan sekali dengan wajah cuek nan innocent, lalu memainkan barang receh mulai dari rumput, daun kering, sampai kupu-kupu kecil. Badannya pun gemuk-gemuk. Kucing liar di Korea tidak menyedihkan nasibnya dibandingkan kucing di negara kita ihik ihik. Bersama kucing-kucing yang suka jual mahal ini, saya merasa ditemani wkwk.

Saya juga main dengan alpaca sampai lesehan bareng, selfie, dan ndusel-ndusel sepanjang hari. Mereka seolah mengerti saya butuh teman dan 'bahan tertawaan' wkwk. Rasanya hangat hati ini~

Bersama cintaqu yang membuat senang dan gembira~
Teman kecil yang menemani saya menulis di Seoul Forest. Kayaknya dia habis berantem wkwk


Expectation: "Yang paling sedih kalau pergi sendiri adalah gak ada yang fotoin lo sih", kata teman saya. Nanti minta tolong orang saja lah. Hasilnya bagaimana ya qu bisa apa~
Reality: Bisa saja dong foto yang sesuai preferensi kita, dan ternyata foto sendiri dengan remote tidak sedih-sedih amat.
Di Bukchon, saya membantu dua orang sahabat yang mengenakan hanbok mendapatkan foto berdua dengan latar belakang hanok village yang eksotis. Gantinya mereka juga balik fotoin saya.

Awalnya memang tidak puas ya dengan frame yang mereka ambil, tapi kalau kita baik-baik kasih tahu seperti apa foto yang kita mau, mereka mau bantu lho. Percayalah, kebaikan akan dibalas kebaikan juga.

Foto diambilkan oleh si mbak Jepang, dengan sebelumnya saya mengambil foto mereka dengan angle yang sama. Lumayan kan yehehehe

Dan ogut kasih tahu juga nih, foto pakai timer/remote baik pakai tripod atau taruh di bidang datar mana gitu, seru juga. Entah kenapa rasanya seru, mungkin karena....apa ya? Kenapa seru sendiri itu seru? Lagi foto lalu ada orang lain lewat lalu awkward, itu seru. Pencet tombol beberapa kali tapi tidak jepret padahal sudah gaya-gaya sampai dilihatin kakek-kakek, itu seru. Kenapa yha~

Eit, tapatuh~~


Expectation: Ah pas di Korea, saya mau pura-pura jadi cewek muda nan single nan mempesona wkwk.
Reality: Yesss ketika kamu solo traveling, kamu bisa bermain peran apapun suka-suka setiap hari.
Sezuzurnya saya tidak pura-pura memainkan peran apapun karena belum buat skenario bohong yang apik, tapi ini seru untuk di coba!

Hal ini kepikiran saat Yurina, teman sekamar dari Jepang menyangka saya masih seumuran dia dan kaget banget ketika tahu saya sudah meniqa. Kamu pernah pura-pura jadi orang lain pas traveling sendiri? Saya kemarin tidak memperkenalkan diri sebagai anak sekolah, tapi saya menampakkan penampilan yang berbeza. Pake lipstik merah. Baju kuning lengan pendek. Lepas jilbab. Wkwk. Durjana.

πŸ’‘ Sekilas info: Ketika kamu di Korea, usiamu menjadi 9 bulan lebih tua karena dihitungnya sejak didalam kandungan.


Expectation: Orang-orang bilang pergi ke Korea setelah dari Jepang itu salah. Urutannya terbalik karena Korea itu less attractive than Japan.
Reality: KAGAK YA WOY.
Please stop melakukan ini, please. These two countries are different! Tidak ada Park Seo Joon di Jepang dan tidak ada Tsukiji Market di Korea. Masing-masing negara punya ciri khas dan pesonanya sendiri.

Banyak sekali yang selalu membandingkan dan mengatakan bahwa Korea tidak lebih baik dari Jepang. Why harus dibandingkan why? Seperti kamu dibandingkan sama mantan kan tidak enak karena berbeza. Ciuman aza sudah beda rasanya yekan?

Baju tradisionalnya saja beda. Yang sana tampak seperti kue lepet, yang sini seperti tudung saji.
Baca juga dong: Japan First-Timer, Expectation vs Reality


Expectation: Saat solo traveling, kamu akan dipandang aneh apalagi saat makan sendiri.
Reality: Tidak sempat yha mikirin pandangan atau omongan orang. Sibuk tiup-tiup makanan —makanan Korea panasnya awet bok!— sama pilih foto buat upload di feed hahaha.
(Lama deh tidak nulis 'hahaha')

Yaa begitu lah. Saya sendiri tidak ingat apaqa sempat memikirkan pandangan orang lain atau tidak, entah saat makan sendiri atau ketahuan foto pakai remote wkwk. Mungkin karena saya percaya, tidak ada yang aneh dengan kamu solo traveling, makan sendiri, atau tidur siang sendiri di bawah pohon.

You you yang lagi jalan sendiri tidak perlu pusing pikirin apa yang orang pikir karena mending pikirin nanti malam mau makan apa, ada uang kembalian buat beli chicken skewer atau tidak, setelah ini mau masuk TonyMoly atau Innisfree, atau bertanya kepada orang lokal, apakah suami mereka berkedip saat menonton sekretaris Kim Mi So.

Ketika berhadapan dengan mie dingin seember begini, kamu hanya akan peduli dengan cara mengatur nafas dan ritme kunyahan demi bisa menghabiskan, dan bertahan dengan kimchi sebagai satu-satunya lauk. Savage!


Expectation: "Kayaknya kalau pergi sendiri, kamu bakalan lebih ngirit deh dan tidak bakalan belanja banyak", begitu ekspektasi Mas Gepeng
Reality: I bought 8 lipsticks, 3 eye-brow pencils, 3 dozens of face-mask, and a super-expensive serum, all for myself.


Hahahaha. Monmaap.




- - -

Pengalaman debut solo traveling saya disupport oleh WiFi Passpod cintaqu yang sangat compact, mudah digunakan, dan sinyalnya pancen oye —apalagi pakai sendiri yekan, bisa on Instagram teruz πŸ’¨

12 comments

  1. Mihihihi ini pertama kali jalan sendiri. Ada plus minusnya yah. Tp plusnya kok banyak hahahaha kamu jd lebih aware, lebih banyak teman kenalan dan lebih detil ngeliat banyak hal.
    Untung ada passpod yang nunjang kamu yah

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makaci yaaa kesempatannya Oyoongkuu~~ Kalo ketagihan gimana? Wkwk

      Delete
  2. (((Yang sana tampak seperti kue lepet, yang sini seperti tudung saji)))
    Ngakaque baca iniii hahaha

    ReplyDelete
  3. Wow, jadi makin excited mau solo traveling ke Korea beberapa hari lagi. Thanks buat sharing-nya, jadi makin pede, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good luck and have fun! Semoga inget pulang ke Indonesia yah wkwk

      Delete
  4. ngakak deh bacanya...
    saya suka solo traveling karena bisa klewer-klewer seenaknya. tapi kadang BT juga sih kalo nemu temen sekamar yang rese.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Sweet Corn :* Iya ternyata enak yah solo traveling, no pusing no gak enak-enak no mikirin orang wkwk. Nagih bener!

      Delete
  5. Pas baca domain blognya salah fokus kirain AlvinLarissa yang nikah muda itu, wqwqwq.
    Salut banget mba baca pengalamannya. Emang wanita itu setrong yaa dan selalu ada jalan keluarnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. *brb cek siapa itu AlvinLarissa* wkwk. Setelah melakukan solo traveling ke luar negeri sendiri ini aku berasa lebih strong, ternyata bisa juga setangguh itu. Bisa lah buat jd model iklan jamu gendong~

      Delete
  6. Solo travellingku terjauh adalah jakarta-surabaya, baca tulisan ini aku jadi pingin krukupan ember :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho jangaaan Mba Yoanna. Mending embernya dijadiin celengan buat nabung solo-traveling lagi ke Aceh, Palembang, Manado, atau ke luar negeri kayak Jepang, Malaysia, Thailand, duh ngebayanginnya aja udah excited! Aku juga lagi nabung tp gak pake ember, pakenya toples bekas srundeng wkwk

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.