SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Pengalaman Menstruasi di Berbagai Negara (Nomor 5 Paling Durjana)

Sebagai pasukan setia PPTM (Para Pencari Tiket Murah), (beruntung) saya memiliki sedikit saja pertimbangan saat merencanakan traveling yaitu waktunya bisa sekalian libur tanggal merah, juga harga yang nyaman di kantong pekerja kaum proletariat. Sisanya bebas, termasuk ketika pergi papasan dengan waktunya 'si merah' datang. Memang kadang bisa sial juga ketika sudah booked hostel cuchmey buat ena-ena, eeh malah mens. Tapi itu juga yang jadi seru. Gimana pengalaman saya mens di beberapa negara? Apaqa bisa nyaman? Silahkan lanjut baca.

1. Indonesia
Pengalaman mens paling menyedihkan yang pernah saya alami di Indonesia adalah saat naik Gunung Merbabu. Bagaimana tidak, cuaca sedang hujan, angin tentu menjadi lebih dingin yang membuat dismenore saya makin menjadi-jadi.

Saya membawa pembalut memang untuk jaga-jaga. Tapi kondisinya adalah saat itu sedang diklat mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), yang tidurnya tidak pakai tenda melainkan bivouac. If you don't know what is that, bayangkan saja jas hujan kelelawar diikat sedemikian rupa dengan rafia dan batang pohon, dibentuk rumah-rumahan. Alas tidur hanya matras dan another jas hujan. Boro-boro mau bersih-bersih, mau tidur saja susahnya bukan main. Nestapa oh sungguh nestapa~

2. Malaysia
Saya sempat mencicipi bulan puasa di Malaysia dalam kondisi mens. Jadi ya kasihan Mas Gepeng puasa, saya makan KFC wkwk. Mens di Malaysia tak jauh beda dengan negara kita. Kondisi toilet baik di mall maupun non-mall juga tidak jauh berbeda. Termasuk urusan pembalut.

Ada beberapa merk yang sama tapi beda varian. Misalnya Laurier. Saya mencoba ukuran semi-night yang kalau tidak salah sekitar 25 cm. Ketebalannya pas dan daya serapnya oke. Pembersihannya juga mudah karena bahan dasarnya kapas, bukan gel. Yang membedakan adalah packaging dan ukir-ukiran di permukaan pembalutnya. Jujur saya bukan pengguna Laurier karena dulu selalu punya pengalaman buruk. Tapi Laurier di Malaysia lumayan, daripada lumanyun.

3. Inggris
Salah satu pengalaman mens paling tidak enak adalah di Inggris. Pertama, tahu kan bahwa di sini toiletnya tak pakai shower cebok atau yang semburan air dari bawah? Jangankan pas mens, yang buang air biasa saja sudah tak enak.

Kedua, kamar mandi umumnya jorok. Umum ini yang di dalam kafe lho ya, bukan yang portable (karena tidak ada juga wkwk). Selain bechyek, penggunaan tisu berlebihan membuat orang jadi seenaknya buang sampah di sekitar kakus. Ketiga, kualitas pembalutnya not okay apalagi untuk menampung kebocoran tiada tanding di hari pertama dan kedua.

Kemudian Mira, teman saya, menyarankan untuk pakai tampon, pembalut bentuk sosis yang cara pakainya langsung dimasukan ke dalam vagina. Saya coba, dan karena khawatir, saya back up juga pakai pembalut biasa—imagine dragons ya di bawah situ terasa penuh banget wkwk. Dan apa yang terjadi? Tamponnya tetap bocor, saya harus rajin ganti setiap 4 jam, di toilet-toilet durjana. Sempat tembus tidak? SEMPAT banget apalagi pas itu saya pakai celana jins. Akhirnya saya cuci dan jemur di penghangat ruangan. Keringnya kapan? KAGAK KERING ya monmaap~

4. Jepang
Negara asal Doreamon ini terkenal dengan kualitas barang-barangnya yang oke punya, termasuk pembalut. Meski saya beli yang paling murah, kualitasnya bagus lho! Pembalutnya lebar, kering, menyerap banyak, juga nyaman dipakai. Toilet umum yang ada di pertokoan dan mall pun bersih dan berfungsi dengan baik, sehingga mau bebersih juga nyaman sekali. Paling enak ketika menemukan kakus dengan dudukan hangat, bisa bantu merilekskan dismenore. Nyaman sekali aah seperti surga~

Toilet di Jepang selalu sedia sanitary-bin dan toiletnya selalu ready tisu—mereka tidak akan membiarkannya habis! Lucunya, mereka menginstruksikan tisu untuk dibuang di toilet, bukan di tempat sampah dikarenakan tisunya bisa larut dalam air. Pokoknya mens di Jepang nyaman sekali seperti rumah sendiri. Saya malah jadi ketagihan main ke toiletnya dan rajin bebersih pembalut wkwk.

5. Korea Selatan
Nah ini sama dengan pas di London, durjana sekali memang kalau mens di negara yang tidak pakai shower cebok. Bisa menghabiskan banyak tisu entah basah atau kering. Paling nelangsa kalau bebersih sekalian poop, duh tak tahu lagi jijay bajaynya dobel dobel!

Meski penuh dengan perjuangan, untungnya pembalut di Korea Selatan kualitasnya bagus. Permukaannya lebar, daya serap tinggi, dan kering (meski tidak sekering pembalut Jepang). Yang paling saya suka adalah permukaannya lembut, meski ketebalan pembalutnya lumayan gengges—mungkin kalau yang agak mahal bisa lebih tipis kali ya, ogut kan beli yang buy 1 get 1. Bagaimana dengan toilet umumnya? Terlepas dari tidak adanya shower cebok, toilet di Korea dijaga betul kebersihannya meski sering saya temui cewek-cewek yang senang bersolek itu suka jorok juga (FYI, toilet sering kali penuh bukan karena pada beser melainkan banyak yang touch up).

Ada cerita konyol saat saya mens di Korea. Jadi pas itu saya habis pulang dari jalan-jalan melihat hanok. Saya naik kereta dan kebetulan itu adalah hari kedua saya menstruasi. Kondisi di bawah sana sudah terasa seperti aliran deras sungai yang siap-siap meluap. Saya pun duduk dan tidak banyak gerak. Lalu ketika kereta sudah sampai di stasiun tujuan, saya berdiri dan menuju pintu keluar. Entah kenapa saat itu saya ingin menengok kursi yang saya tinggalkan, penasaran apakah saya tembus atau tidak.

Dan ternyata saya tembus dong! DUH SOMPRET! Oma-oma yang hendak duduk pun menunjuk noda durjana itu. Saya kebingungan tapi posisi saya sudah di pintu keluar kereta. Dan akhirnya saya pergi tidak bertanggung jawab. Saya menyesal sampai sekarang. Kenapa tidak balik saja lalu saya bersihkan ya? Kenapa? Whyyyy? Padahal saya bawa tisu basah dan ketinggalan satu stasiun kan sebenarnya tidak masalah. Maafkan saya oma, maafkan saya Korea. Tolong saya jangan diblacklist 😣

6. Nepal
Saya sebal sekali bisa-bisanya mens saat di Nepal. Bukan karena tidak ada shower cebok atau toilet umumnya nggilani, tapi karena mensnya pas banget ketika saya inap di hostel bagus yang pakai bath-tub dan pemandangannya langsung Puncak Macchapucchre.  Gagal deh adek mau mandi mesra sama abang~

Pembalut Nepal kualitasnya lumayan bagus, meski memang jarang sekali ada yang tipis dan kebanyakan toko jual yang ukuran standar sekitar 20 cm. Potongan motif permukaannya pun biasa, tidak ada love-love seperti pembalut Korea atau garis-garis pinggir tidak berguna seperti pembalut Inggris. Pembalut paling simpel tapi daya serap oke adalah milik Nepal.

Pengalaman berbeza juga adalah toilet umum di Nepal tidak menyediakan sanitary bin khusus dan secara Nepal sudah less-plastic, jadi saya bingung mau bungkus sampah pembalut bagaimana. Jadi lah saya pakai wadah bekas bungkus ciki atau kacang untuk simpan pembalut bekas lalu buang di tempat sampah.



Mens pas traveling memang penuh cerita (kadang derita juga wkwk). Tidak selamanya tempat itu nyaman, tapi begitulah perjalanan, mengajarkan kita untuk adaptasi dan survive apapun kondisinya, juga membuat kita kreatif juga dalam menemukan solusi. Tulisan ini akan saya update ketika ada cerita baru di negara lain. Menunggu itu, saya ingin dengar cerita teman-teman semua ketika mens pas lagi traveling dong. Gimana? Ada yang seru?

7 comments

  1. duh, pengen ketawa tapi kok gimana ya, mbak...
    tapi emang nyebelin kalo pas banjir-banjirnya trus toilet gak ada aer. meski aku selalu bawa botol tapi nggak puas ngguyurnya. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini diriqu nelangsa tambah diketawain wkwkwk. Kalau mens bocor itu pakai botol sebiji gak cukup mba, butuh yang bisa semprot dan banyak. Apalagi yang pas gak bawa tisu basah, wah durjana~~

      Delete
  2. Mbaaa, pake tampon itu gimana siiih hahahaha, sampe skr ga berani pake tampon, krn mikirnya takut terlalu masuk dan ga bisa diambil lg wkwkwkwk...

    Aku jrg mens pas traveling krn memang udh itung2an sbnrnya kapan wkt haid. Tp pernah juga sih, cm itupun udh pas hari akhir, jd cuma flek. Eh btw di jepang, kalo buang pembalutnya perlu di bersihin dulu darahnya kah? Ato cukup digulung dan dimasukin ke bin khusus nya? Ini pas aku ke jepang january besok, kayaknya bakal haid sih. Khusus jepang aku rada parno kalp sampe salah membuang sampahnya hahahahaa...

    ReplyDelete
  3. assalamu'alaikum,

    mo ikutan giveaway yes,
    udah follow ig juga.

    nah, inilah salah satu tulisan yang paling aku suka di blog ini.
    soalnya gimana ya.... seru dan rada-ngenes gitu, bikin ngakak tapi kok berasa jahat, ngakak di atas penderitaan orang lain.
    tapi emang aku tuh orangnya butuh hiburan banget sih. hahaha

    nama: Dita
    IG: @jagungmanisjalanjalan
    blog: https://www.jagungmanisjalanjalan.com
    email: sambalsunti[at]gmail[dot]com

    ReplyDelete
  4. WC di Jepang itu emang toilet surgawi yang pernah aku coba seumur hidup hahaha. Segala macem semprotan buat cebok ada! Toiletnya juga di mana-mana bersih.

    Baru tahu kalo toilet di Inggris jorok (soalnya belum pernah ke sana juga hihi). Model-model WC-nya mirip dengan di Aussie, tapi kalo di Aussie toiletnya mostly bersih sih--bahkan yang di ujung pulau atau di gunung sekalipun. Plus selalu ada tisu.

    Pertanyaanku, kalo di Nepal masih ada dijual pembalut yang kayak di mari, trus nggak ada sanitary bin, biasanya pada buang pembalut bekas di mana? Hmmm. Thank you for sharing pengalaman uniknya Mbak :)

    ReplyDelete
  5. DIH KOK SAMA BANGET SIH! lol maaf capslock, aku selalu banget juga lohhh mens pas lagi travelling yang paling kesel sih pas di jepang karena mahal harga padsnya hahahha tapi yg paling nyakitin pas ke spore karena ujan dan itu lagi hari kedua pas di USJ. Sakit bangeeeeeeeeeeeettttttttt.

    ReplyDelete
  6. Ya ampun ini postingan traveler paling menarik dari yg selama ini aku baca. Kebutuhan utama perempuan yg selalu membuatku bertanya-tanya dalam hati, terutama yg naik gunung itu. Disana cebok dimana? Di sungai kah? Pembalut bekasnya dibuang kemana? Aku nggak nyangka juga ternyata Inggris & Korea itu jorok. Masih mending di Jawa dong ya, toilet2 pom bensin skrg bersih2. Bisa nunut di alfamart & indmaret juga.

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.