SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Bagaimana Menikmati Sehari di Phnom Penh seperti Orang Lokal?

Pagi itu saya bangun sebelum ayam berkokok. Kasur sekeras bata, rasa gatal dari selimut, bantal kasar, dan keroncong perut kopong membangunkan saya seolah berkata "Bangun kau, upik abu! Cuci piring sana!"

Kami menginap di sebuah hostel murah di kawasan Khan Duon Penh. Lokasinya lumayan strategis untuk memenuhi hasrat eksplor kearifan lokal meski nuansa kamarnya benar-benar seperti barak. Rasanya seperti sedang ikut kesamaptaan. Tapi berada di kawasan yang dekat dengan pasar lokal, sekolah, aneka restoran, convenience store, pangkalan tuktuk, dan Sungai Mekong lumayan membuat saya ingat bersyukur.

Phnom Penh adalah peninggalan Perancis di Kamboja yang dibangun abad 14 silam. Di masa mudanya, kota ini pernah punya alias "Mutiara Asia" karena keindahannya sangat mempesona mulai dari arsitektur, sejarah, juga kebudayaannya. Menjelajahi Phnom Penh tidaklah cukup satu hari, atau bahkan satu tahun. Tapi melalui tulisan ini, saya ingin mengajak sobat-sobatqu menikmati hari yang santai di Phnom Penh, mencoba berbaur dengan kebiasaan dan kehidupan lokal, tanpa mengurangi aktivitas keturis-turisan yaitu foto-foto wkwk.


Sarapan makanan khas Khmer

Sebagai wilayah yang sama-sama dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya, tak heran ada beberapa hidangan Kamboja yang mirip-mirip antara rasa, bahan, dan bentuk dengan hidangan di negara Asia Tenggara lainnya. Ambisi Sriwijaya memperkuat perniagaannya pada masa itu membuat rempah-rempah di kawasan selat malaka dan selat sunda saling bertukar tempat (coba cek sinetron berjudul "Rempah yang Tertukar" untuk lebih jelasnya). Meski begitu, perbedaan kondisi tanah, air, dan selera masyarakat membuat rempah-rempah itu memiliki ciri khasnya masing-masing, termasuk di Kamboja."

Orang Khmer suka sarapan ini," tunjuk mbak pramusaji dengan bahasa Melayu mencoba melarutkan raut penasaran kami. Restoran khas Khmer yang kami datangi untuk sarapan adalah Halal Restaurant (lokasi di sini). Berada di antara pub dan bar yang saat malam ramai oleh pramuria, restoran yang menyediakan makanan khas Khmer dan Melayu ini tetap bertahan dari godaan syaitan yang terkutuc. Mashaa Allah.

Tak lama, bobor seafood dan mee soup hadir di meja yang sebelumnya sudah disediakan bumbu pendamping, juga lalapan dengan cocolan saus tauco.

Bobor seafood
Mee soup daging sapi

Dari dua masakan yang berbeda ini, ada kesamaan mendasar yaitu rasa asam yang khas nan segar. Jika kita menyeruput perlahan kuah keduanya ssslrrruuuupppp, terasa betul ada sentuhan hangat, aroma rumput basah, dan asam lembut berbalut kaldu. Itu karena kroeung, satu dari sekian banyak bumbu andalan Kamboja berupa ulegan serai, lengkuas, kencur, bawang putih, bawang merah, ketumbar, juga jeruk purut. Semua bumbu berkombinasi apik dan memberikan sensasi segar di masakan.

Bumbu paling dominan saya rasakan juga adalah serai, yang jadi salah satu signature spice masakan Khmer. Tahu kan rasanya serai? Memang kita tidak terbiasa memakannya langsung, tapi serai membuat sebuah masakan jauh dari kesan biasa saja. Ada sitrus-sitrusnya gicu. Bahkan baru kali ini saya makan daun serai bulat-bulat saking enaknya. Daunnya yha, bukan batangnya. Ternyata takdir serai tidak hanya digeprek, tapi juga dicincang dan dimakan.

Satu lagi yang begitu kencang di lidah saya adalah rasa ke-ikan-ikanan. Selain karena saya makan bobor seafood, tapi makan bobor-nya sendiri tanpa cumi dan udang saja sudah begitu 'ikan'. Mungkin si koki menggunakan prahok, yaitu pasta ikan fermentasi. Penyedap ini lah yang membuat kita menyesap rasa masam yang sedikit asin ketika mencicipi makanan khas Khmer.

Jika ingin yang lebih otentik, coba makan amok fish. Makanan nasional Kamboja ini rasanya khas, tidak ada dimanapun. Santan, ikan, daun jeruk, serai, gula palem, cabai, kunyit, dan prahok (pasta ikan). Kuahnya kental dan kaya rasa. Seperti kari tapi lebih segar dan lembut.

Selain faktor Sriwijaya, fakta bahwa Kamboja menjadi negara yang paling dipengaruhi oleh Cina dibandingkan negara ASEAN lainnya juga mempengaruhi nuansa hidangan yang kecina-cinaan seperti bobor dan mie tadi, lalu ada juga kuyteav (kwetiau), bai cha (nasi goreng), bai sach chrolak (nasi babi), ban hoaw (bihun kuah ikan), dan sebagainya.

Meskipun begitu, Crazy Rich Asian tidak bisa shooting di sini lho yha karena Kamboja adalah negara termiskin jika dibandingkan dengan 9 negara tetangga lainnya. Silahkan bagi yang mau buat film tandingan, Crazy Poor Asian misalnya wkwk.


Jalan-jalan keliling kota naik motor

Di penghujung pekan, Phnom Penh bergerak pelan. Orang-orang sibuk berbelanja di pasar, memasak, beribadah, tidur siang, dan berwisata. Cuaca panas khas negara tropis memang tidak menampikkan bersantai adalah kemewahan yang hakiki. Untuk menikmati kota, ada beberapa moda transportasi yang bisa dipilih seperti naik tuktuk, tricycle, becak, motor, taksi, atau bus umum.

Sekarang di Kamboja ada PassApp, sebuah aplikasi untuk pesan taksi/tricycle/tuktuk secara online. Untuk akses internet, saran saya mending beli sim-card lokal ya karena jarang ada portable WiFi yang bisa Kamboja dan WiFi umum di sini tak ubahnya hidung anda, kembang kempis. Harganya murah kok, sekitar $6 untuk seminggu (khusus traveler) dan sudah 4G.

Ini tricycle, atau biasa kita sebut bajaj. Tricycle di Kamboja beda dengan di Filipina atau Thailand ya. Kalau berdua, naik tricycle paling murah. Kalau bertiga atau berempat, lebih pas naik tuktuk. Kalau bersembilan atau bersepuluh, sewa truk saja.

Kami memilih menikmati hari dengan menyewa motor. Beruntung SIM Indonesia bisa dipakai di sini dan saya yakin, dengan sudah terasahnya skill bermotor di Jakarta maka berkendara di Kamboja bukanlah perkara besar. Kamboja adalah penganut stir kiri dan berjalan di sisi kanan. Bagusnya di jalan utama itu ada sisi khusus untuk motor dan mobil, jadi lebih nyaman. Namun jalanan seperti itu tidak ada di semua tempat jadi memang akan lebih sering melihat jalanan ruwet dengan aneka perkara.


Kabar buruk buat para turis ketika pas melanggar lalu lintas, polisi di Kamboja (terkenal) korup dan anti-cincay-cincay-club. Kena tilang di Kamboja mungkin akan jadi hari paling sial dalam hidupmu, berhati-hatilah. Kabar baiknya, mereka jarang patroli HAHA. Meski kita mungkin akan melihat mereka berkendara tanpa helm atau sambil main hp, tapi sebagai tamu ya sudah lah ya, ngalah wae. Selama kamu mematuhi lalu lintas, kamu mau sewa motor gede terus keliling pakai kacamata hitam dan jaket kulit oblong  nyanyi 'numpak er ek king, numpak er ek king, trreng teng teng teng teng, trrrreng teng teng teng teng!!!', bebaaassh!

Jika hendak pergi ke beberapa tempat, sebaiknya pilih yang berdekatan jadi bisa sekali parkir saja. Model parkir di Kamboja mirip dengan negara kita. Mampir ATM bayar parkir, mampir convenience store bayar parkir, mampir pasar bayar parkir, jadi dari pada bayar KHR1000 berkali-kali, mending parkir di kawasan parkir khusus lalu jalan kaki ke beberapa destinasi. Kecuali di tempat tujuanmu tidak ada abang parkir, mungkin bisa gratis. Tapi kita sama-sama tahu, abang parkir itu suka muncul dari ruang hampa di udara, ehe ehe.

Situasi jalan di sekitar pasar yang kadang searah kadang dua arah wkwk.
Jalan sepanjang Sungai Mekong, suasananya lebih yahud~

Rute motoran di Phnom Penh paling mudah adalah mengikuti Sungai Mekong. Kamu tinggal mengikuti jalan besar lalu mampir ke beberapa tempat menarik mulai dari hawker food stalls, bangunan-bangunan atraktif, atau lihat berbagai landmark kota yang ada di mana-mana seperti Independence Monument, Silver Pagoda, Royal Palace, Wat Phnom, dan lain-lain.

Mengunjungi landmark Phnom Penh

Siang itu kami mampir ke Wat Ounalom di Sisowath Quay, sebuah vihara yang keberadaannya cukup penting di Kamboja. Wat ini juga memiliki sejarah yang kelam dengan pasukan Khmer Merah di masa itu. Tapi yang lalu biarlah menjadi kenangan, karena Wat Ounalom kini menjadi bangunan yang sangat atraktif! Arsitektur khas Kamboja, aksen warna merah dan emas yang menimbulkan kesan glamor, juga kondisi bangunan yang sangat terawat membuat Wat Ounalom simply attract attentions. Ada beberapa bangunan di sana seperti perpustakaan, ruang kelas, pusat meditasi, aula, kuil, dan stupa-stupa.

Patung yang menyambut di Wat Ounalom. Hemm sepertinya ada sesuatu yang aneh di foto ini hemm~
Bangunan paling depan di Wat Ounalom. Saya kurang tahu apakah rumah ini bisa dimasuki, tapi duduk-duduk di tangga tidak masalah.
Bangunan yang dikeliling oleh stupa kuburan. Sepertinya ini semacam rumah duka. Ibu kuncen yang berwajah masam itu tidak bisa bahasa Inggris, jadi saya hanya menebak-nebak-buah-manggis~
Ada banyak kucing di Wat Ounalom, salah satunya yang hitam ini. Sebenarnya saya agak degdeg karena ada stupa kuburan. Tapi dengan adanya banyak kucing di sini, itu berarti tidak ada arwah gentayangan #optimis

Tak jauh dari Wat Ounalom, kami jalan menuju Royal Palace. Saat berjalan ke sana, ada banyak abang tuktuk yang mengatakan bahwa istana sedang tutup dan menawarkan city tour. Ini adalah modus scam yang sudah basi banget sebenarnya, tapi tak ada kata basi dalam mencari rezeki, bukan? Kami memilih untuk tidak mempercayai abang tuktuk dan menikmati siang yang santai di halaman Royal Palace. Eits, kami tidak masuk istana bukan karena sedang tutup ya melainkan karena bayarnya mahal memang tidak ingin masuk.

Kami duduk santai di halaman depan Royal Palace. Melihat burung perkutut mandi, makan, lihat orang-orang tidur siang, jualan, pacaran, lalu saya ikutan mengantuk. Berada di bawah pohon saat siang hari memang magis. Tahu-tahu hidup seolah ringan rasanya, tidak ada beban, tidak ada hutang. Rasanya tujuan bangun tidur hanyalah untuk tidur siang dan minum es sirup.

Berlari centil mengejar burung kutut di halaman Royal Palace.
Masih berlari centil mengejar burung kutut, kali ini di halaman bagian depan.

Selain dua tempat tadi, banyak yang rekomendasi untuk melihat sisa kejahatan Khmer Merah di Tuol Sleng Genocide Museum atau Choeung Ek Genocial Center. Jujur saya sendiri tidak tertarik ya karena, OMG tengkorak ditaruh lemari gitu! Mana masih ada kasur sisa penyiksaan wadaw sungguh tak berani lihat! Alternatif lain bisa ke Museum Nasional atau Silver Pagoda yang cocok buat percantik feed Instagram. Namanya juga #demikonten~

Minum es kopi, jajan-jajan, dan makan cumi bakar

Panas khas negara tropis membuat kami tidak betah berlama-lama di jalan. Kulit kering, tenggorokan tak kalah kering. Setelah menunaikan shalat zuhur di Masjid Al-Sekral, kami menjuju pasar serbaneka Toul Tum Poung yang punya kedai kopi yang (sepertinya) legendaris. Banyak testimoni dan foto dipajang di kedai. Tulisan 'The Best Iced Coffee in Phnom Penh' terpampang di mana-mana. Sang pemilik sekaligus pembuat kopi pun selalu menyambut hangat para tamu seolah berkata, "Kepanasan lu ye, sini sini minum es kopi gue..."

Jika sobat-sobatqu mau minum minuman dingin di Kamboja, yang perlu diwaspadai adalah esnya. Terlepas dari ini airnya bersih atau tidak, orang sini kalau membuat minuman satu gelas isinya 80% es batu, baru sisanya air. Kedurjanaan ini terjadi di mana-mana jadi bagi umat gigi ngilu, hati-hati ya.


Menemani ngaso, kami mengajak aneka jajanan pasar yaitu kue kelapa, vegetable spring roll, dan pisang bakar untuk ngaso bersama. Sebagai pecinta olahan pisang, bisa mencicipi pisang bakar Kamboja sungguh rezeki sekali. Pisang bakar seharga KHR1000 isi 4 ini sungguhan enak karena ketika menggigit bagian luar yang mengeras dan asin karena olesan mentega, bagian dalam pisang malah terasa lembut dan manis seperti madu. Rasanya saya bisa seharian makan pisang bakar Kamboja sampai dower keasinan.

Kedai es kopi dan food court di Pasar Toul Tum Pong.
Spring roll (lumpia) basah. Makanan ringan ke-cina-cina-an ini sering kita jumpai di negara Asia. Di makan dengan saus pedas asin enak sekali.
Kue kelapa yang ditambahi daun bawang. Lapisan luar dibuat kering, yang dalam agak basah. Gurih kelapa memang tak ada dua enaknya~
Pisang kepok bakar, asin dan gurih di luar, manis dan lembut di dalam. Lihat bentuknya, kurang seksi apah!

Perjalanan kami lanjutkan ke Central Market (Psar Thmei) di Calmette Street. Destinasi ini terinspirasi oleh Mark Weins author Migrationology, yang mengatakan makan cumi bakar di sini itu "a real treat squid". Apakah Mark berlebihan kali ini? Tydac. Cumi bakarnya sungguhan seenak itu bepquuuu! Yang membuatnya spesial adalah kuah yang dibalurkan di atas cumi. Campuran minyak dan kaldu dengan potongan daun sereh, batang seledri, bawang putih, dan bawang merah goreng menambahkan sensasi harum pada cumi bakar. Saus cocolannya juga unik, ada yang khas lada hitam dan asam pedas.

Meja seafood di Central Market.
Potongan cumi bakar dengan saus super super enak. A real treat squid is real magic! Monmaap ini potongan cumi yang biasa ya, kalau yang giant bisa lebih penuh lagi piringnya.

Menjelajahi pasar lokal di Phnom Penh semakin membuka mata kita bahwa kota ini, beserta orang-orangnya sungguh sangat apa adanya. Pertama kali sampai di Phnom Penh saya melihat banyak sekali sampah plastik entah dipinggir jalan atau yang menggantung di pohon atau pagar atau di mana saja selama bisa menggantung. Bodo amat mau di kawasan wisata atau tempat sakral, tetap sampah everywhere. Saya sendiri bingung kenapa tempat sampah umum jumlahnya sangat sangat sedikit padahal sudah jelas sekali, penggunaan plastik di Kamboja luar biasa masif.

Saya juga mendapati orang sini culas suka menaikkan harga dan memberikan informasi palsu demi mendapatkan keuntungan dari turis. Berada di pasar memperkuat pengalaman itu. Mau tahu buktinya? Duduk saja di warung jajanan, perhatikan jumlah uang yang kamu bayar dan makanan yang kamu dapat. Lalu bandingkan dengan orang lokal. Yo salahe dadi turis~~

Poin bagusnya adalah willing to help mereka bagus. Ketika saya ajak bicara dengan bahasa Inggris dan mereka tidak mengerti, mereka akan berusaha mencari orang yang mengerti untuk bisa menjawab pertanyaan saya. Terus orang lokal yang bisa bahasa Inggris biasanya prononsesyennya agak britishisasi alias tidak jelas wkwk.

Suasana pasar menjelang sore.
Contoh sampah seperti ini ada banyak, bisa di pohon, pagar, dan ini bukan dari hari yang sama lho wkwk.
Anak nongkrong kabel listrik~~
Anak nongkrong pinggir gedung~~

Sore di Sungai Mekong dan pasar malam

Ada dua cara menikmati sore di Sungai Mekong. Pertama, kita bisa naik kapal. Ada banyak sekali pilihan kapal mulai dari yang polos, terbuka, sampai yang ada naganya segala. Meski kapal-kapal ini biasanya berkapasitas besar, kamu mau naik berdua saja saat kapal sepi pun tak masyalah.

Kedua, duduk-duduk di tepi sungai. Pemerintah Kamboja membuat pinggiran sungai sangat walking friendly dengan trotoar besar, rapih, dan terawat (meski tetap ada sampah ya). Banyak aktivitas dilakukan oleh warga lokal mulai dari piknik, jogging, main sepak takraw, pacaran, mabuk, ajak jalan anjingnya, jualan, foto-foto, dan lain sebagainya.

Setelah melepas sore dengan pemandangan matahari tenggelam, kami menyeberang jalan dan menjelajahi Phnom Penh Night Market.

Pasar malam di Phnom Penh adalah kawasan yang sangat lively yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Banyak sekali penjaja serba murah di sini. Kamu bisa menemukan aneka pakaian, dari yang branded-palsu-saja sampai branded-palsu-banget. Ada juga asesoris, oleh-oleh, tas, kaus kaki, dan sepatu.

Di bagian belakang terdapat food court yang menyediakan aneka jenis makanan dan minuman dingin. Di sini kami menemukan banyak penjaja bakso seafood olahan, rujak buah, spring roll, sate daging, es krim kelapa, aneka hidangan mie, dan sayuran rebus. Dengan berbagai menu-menu itu, mereka bisa menyediakan berbagai hidangan seperti mie goreng, mie rebus, mie tumis, (semacam) steam boat, tumis daging, dan sebagainya.


Satu-satunya food stall yang pajang logo halal. Varian makanannya tidak jauh beda dengan yang lain, hanya beda pakai bismillah atau tidak wkwk.
Gerobak rujak yang lumayan populer di Kamboja.
Remaja Kamboja, kira-kira beda setahun lah umurnya sama eike~

Area food court ini adalah bagian yang paling saya suka dari Phnom Penh Night Market. Pasalnya mereka menyediakan lesehan luas sekali untuk kongkow para pengunjung. Lesehan ini dikelilingi oleh food stall dan mayoritas menggunakan lampu kuning. Jadi suasananya temaram sekaligus meriah karena dilengkapi pemandangan orang lalu lalang. Jika kamu tidak biasa makan lesehan, mereka tetap menyediakan meja kursi di belakang gerobak dagangannya. Tapi sungguh gengs, lebih enak lesehan!

Makan mie goreng dengan potongan bakso ikan. Lihat suasana di belakang saya, seru sekali ya. Semakin malam akan semakin penuh dan ramai, semakin asyique untuk dinikmati.
Pasar buah di sisi luar Phnom Penh Night Market.
Suasana malam di Phnom Penh dari tuktuk.

Sudah merasa seperti orang lokal belum? Jika belum, jelajahi lagi besok dengan cara yang sama. Atau sekalian tinggal dan cari kerja di sini, jadi asisten koki atau apa gitu yang sesuai dengan minat bakat wkwk. Ada seorang mas blogger yang bilang Phnom Penh gitu saja tidak seru, tapi dia tidak cerita dulu. Nah setelah baca ini, menurutmu Phnom Penh seru ndak?

16 comments

  1. kok jadi kaya jakarta jaman dulu yo, ada bajajnya si badjuri segala. hihihihi
    tapi mie-mie-annya bikin ngiler!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jakarta juga masih ada bajajnya lho, bajaj qute tuh yg biru biru. Tampilannya lebih mulus dan lebih lucu. Malah mereka ada yg bisa bayarnya pakai QR kayaknya.

      Iya mienya enak di sini, rasanya unik dan seger soalnya banyak pakai sereh. Porsinya juga banyak, jd kenyang pol!

      Delete
  2. Salah satu yang keren dari tulisan ini adalah lagu numpak er ek king numpak er ek king treng teng teng teng teng treng teng teng teng teng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kakanda sudah memperkenalkan diriqu pada lagu itu. Untung gak terngiang-ngiang~

      Delete
  3. Rekomen buat destinasi ke negara tetangga nih, makasih ya dah mau nulis tentang perjalanan nya. Sangat bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heyho! Makasih yaa 😘😘 Iya seru nih Kamboja. City-tour seru, nemu banyak banget hal-hal menarik mulai dari kebiasaan orang sini, warung makan pinggiran yg lucu lucu, lalu lintas yg agak kusut, dan makanan enak-enak.

      Delete
  4. Mirip Indonesia ya mbakk makanannya, apalagibyang bersantan2 itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Amirotul,

      Penampakkannya mirip ya, tapi rasanya beda banget. Rempahnya memang sama, tapi pengolahan dan rasanya beda karena tumbuhnya juga di tanah yg beda. Makanan bersantan di Kamboja segar karena serainya banyak, namun tetap kental dan gurih santannya. Menarik untuk dicoba~

      Delete
  5. Lengkap banget tulisannya. Dan foto-fotonya bikin ngiler haha. Di sisi lain aku jadi mikir, "gak susah ternyata nyari makanan yang bisa dimakan di Kamboja."

    Soal sewa kendaraan, aku baru sekali nyoba di Langkawi, Malaysia. Sewa mobil dan motor. Nyaman. Nah kalau di tempat yang polisi ngehe kayak gini khawatir juga kalau dicari-cari kesalahan hiks. Secara kadang bukan bermaksud melanggar, kalau tempat asing gitu kan ada aja kadang khilafnya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu suamiku bilangnya gitu juga Mas Yan, cari makanannya susah. Tapi ternyata gak juga, malah gampang dan Kamboja punya banyak olahan ikan dan seafood, jadi aman.

      Iya nih, aku juga degdegan jangan-jangan nanti ditilang asal-asalan. Makanya pas motoran pelan banget di pinggir-pinggir dan gak klakson sama sekali wkwk.

      Delete
  6. Sama Mbak. Waktu saya ke Phnom Penh, saya juga nggak ke Genocide Museum dan Genocial Center. Serem aja ngeliat kisah kekejaman masa lalu. Mending lihat yang menyenangkan saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku liat foto-fotonya udah merinding, Mba Dyah, makanya mending gak usah liat langsung, makan enak aja wkwk.

      Kirain memang itu aja highlights di Phnom Penh, ternyata gak. Banyak yg menarik di kota ini, ritmenya yg pelan juga bikin makin enjoyable yah.

      Delete
  7. setelah baca cerita ini, pastinya kamboja seruu. Tinggal nunggu kapan terealisasi aja kesananya nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesss seruuu! Berasa ada di dunia lain lah hahaha. Semoga segera terealisasi yaa Mba Ainun~~

      Delete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.