SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Ajak Ribut Monyet dan 9 Hal Bodoh Lain yang Sebaiknya Tidak Kamu Lakukan di Angkor

"APAH!? Tiga puluh tujuh dolar? Wah tengkyu deh, no no!", tegas saya pas Mas Gepeng bilang harga tiket masuk Angkor Wat yg terbaru. Berdua bayar sejuta lebih buat lihat candi itu menurut saya berlebihan. Namanya juga qismuin~ Tapi akhirnya saya melakukan hal yang benar, sebenar-benarnya fakta kawasan Angkor itu LUWAS BWANGET yaloooord! Perhitungan Mas Gepeng salah, bukan 8 kali lipatnya Borobudur, tapi 600 kalinya (in exact size)! Itu Angkor Wat-nya saja ya, belum total sama candi lain se-kawasan Angkor.

Jadi dengan luas yang mungkin butuh sejuta reinkarnasi untuk mengukurnya dengan mistar plastik tukang foto kopi, lalu cuaca Kamboja yang tak jauh beda dengan Jakarta tanpa hujan dua tahun, lalu debu, turis, tuktuk, hutan, dan segala hal yang ada di Angkor, saya ingin menyampaikan nasihat terbaik agar siapa pun yang hendak ke sana tidak melakukan hal bodoh, demi kemaslahatan umat di Angkor.



1. Tidak bebersih

Jika kamu berangkat dari Phnom Penh, naik sleeper bus murah dengan bau kaki dan tungau, lalu sampai Siem Reap pagi-pagi buta dan langsung menuju Angkor Wat, maka jangan sampai lupa bahwa kamu belum mandi. Panas dan debu di Kamboja tak bisa diajak kompromi.

Pakai lah baju bersih saat ke Angkor. Jika belum mandi, maka syarat ini mutlak gengs. Saya kemarin ganti baju subuh-subuh, di atas tuktuk yang berjalan menuju Angkor Wat. Kalau mau lebih secure, di kawasan Angkor ada beberapa toilet umum, bisa ganti sekalian bebersih di situ.

Ingat, bau kelekmu itu bisa membuat siapa saja mengumpat, atau malah pusing, atau mau muntah, atau pengsan. We're not that bad guys right?

Naik sleeper bus yang meski AC-nya dingin, tapi tetap selimut dan bantalnya bau apek. Ini masih pakai baju kemarin yang sudah dipakai seharian main di Phnom Penh. Mas Gepeng memakainya juga di Angkor, dan kalian harus tahu baunya OMG huek huek!

2. Hanya datang ke temple terkenal

Ini adalah hal bodoh yang kami lakukan, yaitu mengunjungi sebagian kecil temple saja dan semuanya well-known. Ya bagaimana, rencana mau seharian di Angkor, tahu-tahu kami malah sudah kelojotan dan minta pulang di jam 3 sore. Dengan harga tiket semahal itu, memang sebaiknya tidak menyia-nyiakan kesempatan mengelilingi sampai tetes keringat terakhir.

Meski dibilang kami mendatangi candi yang terkenal, nyatanya kami melewatkan Banteay Srei, Preah Khan, Prasat Kravan, juga Pre Rup yang juga well-known. Angkor Wat saja luasnya sudah seperti negara (it even wider than VaticanSan Marino, dan Macau digabung jadi satu!), apalagi jika tambah ke candi lain. Buat kamu yang mau banget khatam eksplor Angkor, bisa beli three or seven day pass yang memang lebih ekonomis. Kamu piknik seharian di candi, melakukan penelitian, atau ya inap candi saja sekalian wkwk.

Candi terbesar, Angkor Wat, saat matahari terbit. Candi ini biasa menjadi titik start untuk mulai eksplorasi. Mengelilingi Angkor Wat saja bisa setengah hari sendiri, apalagi ditambah candi lain.
Baru beberapa jam di Angkor Wat, baterai kamera sudah hilang satu bar dan sudah ada hampir 150 foto. Angkor Wat memang sefotojenik itu. Tapi ingat, luas pisan. Jadi jangan habiskan eksplor di satu candi. Otre?
Wat Bayon yang juga dikenal dengan candi seribu wajah. Ada banyak wajah buddha di sini dan semuanya tersenyum. Takut jadinya akutu~

3. Ajak ribut monyet

Yang bangun dan datang pagi untuk menikmati sunset di Angkor Wat bukan hanya para turis dan biksu, tapi penghuni aslinya yaitu para monyet. Mereka tinggal di dalam hutan dan keluar ketika ada banyak potensi manusia untuk diisengin atau makanan untuk dicuri diminta. Tipikal monyet liar yang terbiasa dengan keberadaan manusia.

Dan seperti biasa, jika ada monyet liar suka maling minta makanan, di situ pasti ada jenis orang yang sok ajak ribut monyet. Paling malas kalau sudah lihat yang begini. Caper amat! Ketemu baru sekali, belum saling kenal, lalu marah-marah ke monyet. Siap mau adu pukul, malah sok mundur-mundur dan akhirnya sok ngalah. Hadeeeeeh. Sudah lah, civil war cukup di Avengers saja, jangan di Angkor Wat.

Baca juga deh: Minggu Pagi di Martapura

Sarapan bersama pak monyet. Tebak, diantara 5 orang di foto ini, mana yang ajak ribut monyet?

4. Coret-coret candi

Pernah dengar kabar burung bahwa Angkor Wat itu dibangun oleh raksasa? Kota kuil ini dulu sempat 'menghilang', sembunyi di kedalaman hutan dengan pepohonan besar dan tinggi menjulang sampai akhirnya ditemukan oleh seorang misionaris Perancis tahun 1860. Dengan kemistisan macam itu, masih ada saja orang yang berani merusak tempat ini. Wow ingin dikutuc yha dek?

Ada beberapa bekas coret-coret menggunakan cat terlihat di beberapa spot. Ada di tiang, ada juga ditembok. Meski sudah tampak pudar karena digosok, tapi masih tampak jelas itu ada bekas perbuatan kampungan bocah tengik. Kesal sekali lihatnya. Rasanya ingin berkata kasar.

Dari pada coret-coret candi, mending coret-coret buku ((((LKS)))).

5. Marah sembarangan

Saat duduk-duduk di Wat Bayon, saya melihat dua orang anak main dengan pecahan batu candi. Mereka memukul-mukul batu, seolah sedang bermain tukang-tukangan. Orang tua mereka duduk di sisi yang lain, tampak 'matang' sekali dengan kulit kemerahan dan keringat di sekujur wajah.

Kemudian ada seorang turis yang sedang lewat, mereka melihat si anak kecil dan berteriak, "Hey! Hey! Hey! What are you doing!? Kalian tahu gak itu batu umurnya ribuan tahun! Malah dipukul-pukul!" sambil membelalak dan tangannya melayang-layang di udara. Mereka lalu memandang orang tua si anak dengan tatapan bertanya-tanya yang kesal.

Setelah para turis itu pergi dan keluarga kecil itu juga hendak melanjutkan petualangannya, betapa kagetnya saya saat tahu bahwa si kakak (yang peremuan) ternyata tidak bisa jalan. Sang ayah terus menggendongnya dengan baby-carrier sepanjang jalan keliling Angkor Wat, di bawah terik panas matahari.

Saya hanya bisa memegang dada dan feel sorry for them. Tidak semua orang punya pengalaman berinteraksi dengan anak kecil, some people are just don't want to. Tapi bicara yang baik? We don't know what they've been through, darling. 


Sabar ya dek. Batunya jangan dipukul, disusun-susun saja jadi tinggi~

6. Sekali foto untuk 9872396 gaya

Angkor Wat tidak diciptakan sebagai tempat wisata selfie, namun berfoto di situs yang termasuk dalam UNESCO List of World Heritage in Danger ini memang tak boleh dilewatkan. Banyak spot cakep, apalagi kalau langit sedang biru-birunya, bisa semakin dramatis. Jangan-jangan fotomu bisa menyaingi @doyoutravel atau siapa lah yang fotonya coklat-coklat.

Nah masalahnya, mereka yang bisa foto puluhan kali di lokasi yang sama itu banyak. Misalnya dia pergi berlima. Foto sendiri sudah lima puluh gaya. Lalu berdua, juga sama banyak. Lalu bertiga, berempat, berlima, lalu boomerang lagi sendiri, berdua, bertiga. Eh lupa bawa topi dan kaca mata hitam, foto lagi. Wah minta diobong ini namanya!

Rasanya ingin segera ikutan kuis di Indomaret untuk dapat hadiah payung, lalu kasih Mas Gepeng yang sudah siap memotret dari ujung sana namun status masih stand by all the time. Tolong, ada banyak hamba sahaya yang butuh foto demi feed Instagram.

Untuk mendapatkan foto yang 'bersih' di sini, saya perlu menunggu kira-kira dua juta tetes keringat yang sudah mengalir deras di ketek, punggung, dan belahan dada.
Salah satu spot bagus untuk foto karena gerbang masuk kawasan Angkor ini memang keren. Butuh kesabaran untuk menunggu gerbang kosong tapi worth to wait. Jangan lupa gantian sama yang lain.

7. Pakai high heels

Selain Anaz Siantar dan mereka yang hendak photoshoot, saya rasa berjalan di atas tanah berdebu, lalu menapaki lantai demi lantai candi bertekstur kasar dan lubang-lubang dengan sepatu hak tinggi adalah keputusan yang bodoh.

Saya tidak bilang yang pakai sepatu kets atau sandal itu pintar ya, karena yang pintar kan yang minum Tolak Angin. Tapi high heels? Tolong deh, situ tak punya super power untuk membuat kaki keseleo segera sembuh dengan satu mantra. Lagian kasihan pacarmu nanti harus memapah kalau kamu keseleo dan jadwal pergi ke Haji Naim masih sebulan lagi.

8. Menghilangkan tiket masuk

Tiket masuk Angkor Wat seharga setengah juta rupiah itu memang tidak biasa. Kertasnya lumayan tebal, full color, dan —yang paling cool adalah— ada foto wajah kita di situ! Waw. Seperti punya KTP Thailand! Tenang, kamu tidak perlu bawa pas foto dari rumah karena di loket kasir sudah ada kamera kecil untuk memotret wajah kumel mu. Karena fotonya hanya sekali, pastikan kamu tampak sedap dipandang ya.

Tapi kalau wajahmu tidak tampak paripurna, kamu tetap harus simpan tiketmu dan menunjukkannya kepada petugas setiap datang ke suatu candi. Petugasnya memakai seragam biru terang, celana biru tua, topi, dan biasanya duduk di pintu masuk. Mereka akan meminta tiket dan mencocokan wajah.

Buat yang pakai cadar, (sepertinya) tetap harus dibuka karena saat itu petugas meminta saya membuka masker yang saya pakai. Lalu bagaimana kalau tiket hilang? Sudah pulang saja. Kamu akan disangka pengunjung gelap nanti. Daripada digebukin, mending kabur duluan.

9. Tidak jajan es tongtong

Siapa juga yang tidak mau jajan es tongtong ketika keliling Angkor Wat di siang bolong. Takut pusing? Takut brain freeze? Takut mahal? Don't worry. Esnya murah, beli dua lebih murah lagi. Dia juga tidak begitu dingin I don't know why, dan cepat sekali mencair. Jadi tidak usah khawatir ya, ini es kualitas bawah wkwk.


Es tongtong murah rasa susu dan durian uw enak~
Ibu penjual es krim, luar biasa pakai kemeja flanel panjang dan masih pakai kaus juga. Mungkin karena jualan es krim, jadi ibu tidak kegerahan wkwk.

10. Tidak mampir ke Angkor Night Market

NAAAAHH dosa besar ini kalau kamu di Siem Reap, eksplor Angor Wat, tapi tidak mampir ke Night Market-nya. Memang lokasinya bukan di dalam kawasan candi, tapi tetap harus didatangi dong. Pasar ini berbeda sekali ambience-nya dengan yang di Phnom Penh. Lokasinya sangat mudah dicapai dengan berjalan kaki. Kawasannya luas, menjalar dari gang ke gang sehingga bisa memilih mau hang out di pusat pasar atau di ujung-ujungnya.

Ketika kamu berada didalamnya, kamu akan mendengar hiruk pikuk orang interaksi dengan meriah. Mereka menikmati malam dengan musik dan makanan enak. Ada beberapa kafe menyajikan live music dan siapapun bisa sumbang suara di sana. Jika ingin berjalan-jalan, kamu bisa mengelilingi gang dan menikmati suasana yang gempita. Jangan biarkan mulutmu diam, bawa lah beberapa cemilan manis atau segelas jus dingin. Saya akan ceritakan lebih lengkap tentang pasar ini di artikel berikutnya ya.

Pemandangan di salah satu gang yang berisi restoran-restoran lucu.
Jadi anak disko!


Setengah juta di Angkor apakah kamu melakukan hal yang benar, my friend? Apakah kamu juga memiliki $37 dolar terbaik dalam hidupmu, seperti Mas Gepeng saat ke Angkor beberapa tahun silam? Buat saya, mengeluarkan uang segitu untuk eksplor candi di Kamboja, lumayan lah daripada lumanyun wkwk. Candinya memang bagus, sangat artistik dan otentik. Saya juga suka lihat ekspresi orang-orang dalam menikmati candi, termasuk ekspresi saya sendiri.

Jadi kapan ke Angkor?

8 comments

  1. Wah cerita ini bikin komplit ceritaku dulu di 2013. Plus ada link nya lg di awal awal post ini. Makasih yak. Keep good work
    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya oyong. Kapan-kapan ke sini lagi, kapan-kapan tapi wkwkwk

      Delete
  2. Selalu suka sama tone foto2nya justin 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiii Mba Ica penulis kondang! Novelnya difilm-in dong!

      Delete
  3. mba justin, serius sih, setelah membaca ini aku semakin tidak mau lg ke angkor wat wkwkwkwkwkwkw... tidak sanggub rasanya menjelajah ini candi kalo memang segitu panas dan luasnya hahaha.. aku bisa pingsan...

    Tapi jujur nih, aku melihat angkor wat ini, samasekali ga cantik gitu.. jauuuh lbh canti prambanan dan borobudur.. kalo luas okelaah, udh jelas angkor.. tp ngeliat fot2 candinya, batunya belang2 kayak jamuran.. seperti kurang terawat.. prambanan dan borbudur lbh enak dipandang :D.. hanya komen ga ptg sih :D.. krn aku jg bukan penyuka candi.. itu sih alasan kenapa dulu aku ga mau samsekali ke angkor wat, dan lbh milih naik perahu bareng anak2 lokal siam rep ke danau tonle sap :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang panas banget dan super luas, bakalan ngebosenin buat yang gak kuat panas dan gak terlalu interest sama candi. Temenku ada arkeolog, dia bisa aja tuh batu dilihatin satu per satu sambil cerita sejarah. Aku yang ikut jadi happy soalnya diceritain macem-macem. Mungkin kalau someday aku balik sini, atau Mba Fanny mau ke sini, biar asyique, ajak temen arkeolog terus piknik bawa nutrisari~~

      Delete
  4. wah wah waaah, lengkap bgt.. jadi tercerahkan ternyata seluas itu,, errrr... berarti kayanya ga cukup seharian kesana ya kalau mau explore semuanya dengan khidmat.. lalu persiapkan juga baterai cadangan... ah cant wait jelajah kesana..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
  5. Kayaknya bakalan seru kalau bisa mengunjungi tempat satu ini :)

    ReplyDelete

I'd love to hear from you!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.