SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

October 12, 2019

5 Pesan untuk Hostel dari Sobat Setia Hostel

"Di Edinburgh, cobain inap di dorm yuk, mau gak?" ajak Mas Gepeng tahun 2017 lalu dan The Edinbrugh Hostel jadi pengalaman pertama saya tidur di bunk-bed ramai-ramai sama traveler lain dari seluruh dunia. Nagih banget ternyata! Selain murah, biasanya hostel punya fasilitas yang ciamik buat pejalan gembel macam kita ini, juga pengalaman yang seru. Nah buat para pemilik/ pengurus/ temannya pemilik hostel, saya ada 5 masukan demi kehidupan perhostelan yang lebih aselole nich. Cekidot.
No comments

October 6, 2019

Tentang Rasa Bosan di Interlaken

Hari itu angin berhembus sejuk dan matahari tampak lebih bundar dibandingkan hari-hari kemarin. Mendung pergi, burung-burung piknik keluar sarang ikut merayakan selesainya perbaikan salah satu sisi jalan kota Interlaken. "Orang sini suka sekali festival," kata Johanna, adik grosmami—ya bisa dibilang juga dia eyang kami from far far far away, tentang Strassen Fest. "Apalagi jalanan di sini sering rusak, jadi setiap ada proyek selesai, mereka akan merayakannya dengan membuat festival seperti ini." Jadi bukan hanya Bekasi yang jelek jalannya, Interlaken juga jek wkwk.
2 comments

September 26, 2019

'Jika Kita Poop di Pesawat Apakah akan Membuat Langit Menjadi Kotor?' dan Jawaban atas 14 Pertanyaan Lainnya di Pesawat

Hae apa kabar semua? Selama bulan Maret ini saya belum naik pesawat lagi. Rencana long weekend pulang kampung ke Semarang malah road trip alias jadi supir Bapak Mama. Padahal saya mau lihat-lihat lagi hal seru di pesawat. Berarti penerbangan terakhir saya saat marathon Jakarta - Medan - Pekanbaru - Jakarta. Beruntung naiknya pesawat yang indah-indah salah satunya Citilink. Saya suka Citilink! Selain karena menempati ranking 5 besar maskapai yang paling ontime di tahun 2017 (cool!), saya suka disana awak kabinnya ramah dan in-flight magazine-nya bagus banget! Majalah Linkers adalah salah satu in-flight magazine favorit saya, selain Colours-nya Garuda dan Mabuhay-nya Philippine Airlines.

Lalu kenapa ya ada majalah in-flight yang tidak boleh dibawa pulang? Tulisan ini adalah Part 2 dari tulisan sebelumnya yang menganalisis dengan khidmat dan bersahaja segala hal di pesawat yang sungguh bikin penasaran. Oke, langsung saja cekidot gaes.

10 comments

July 31, 2019

9 Tips Fotografi Spesial Eksklusif dari Justin x Joni

Hae tayangku, apa kabarnya? Foto di atas keren ya wkwk. Saya belakangan baru sadar ada topik yang belum pernah sama sekali dibahas di blog ini padahal sangat saya suka: fotografi. Cerita perjalanan tanpa foto itu bagai sayur bayam tanpa kuah alias tidak lengkap gitu. Foto membantu saya bercerita tentang suatu tempat, dan membantu cerita saya bisa lebih dinikmati sama umat pembaca sekalian.

Kamera pertama yang saya punya adalah toycam/lomo apa ya saya lupa. Warnanya hitam, teksturnya doff, dan saya bawa setiap hari. Setelah itu saya terus tambah koleksi toycam/lomo analog itu termasuk juga disposable camera. Since then, taking picture has been my favorite thing to do. Tahu-tahu bisa senang gitu padahal hanya snap snap sembarangan.

Lalu saya beli kamera mirrorless dan membawanya traveling keliling dunia. Selama rajin pakai kamera di 3 tahun belakangan ini, ada banyak hal yang saya pelajari, diantaranya 9 hal yang akan saya bagi ke sobaqu semuanya. Apa saja? Cekindut.
8 comments

July 25, 2019

Mau Menghabiskan Masa Tua di Swiss? Sini Saya Kasih Bocorannya!

Dear netizen yang sedang digandrungi virus #AgeChallenge, gimandose? Apaqa kamu puas dengan tampilan kerutan fiktif di wajahmu? Apaqa kamu tampak menawan, atau malah seperti tawanan? Selain tampilanmu dan pasanganmu—bagi yang punya ya wkwk, apaqa saat melihat gambar itu kamu juga membayangkan bagaimana kehidupanmu kelak? Dibalik caption copy-paste 'grow old with you', apaqa kamu melihat kehidupanmu berjalan sempurna di tempat yang kamu idam-idamkan, seperti di Swiss misalnya?

Saat libur lebaran lalu, saya berkesempatan menghabiskan beberapa hari tinggal di rumah grospapi dan grosmami (alias eyang)-nya Mas Gepeng di Bern, Swiss. Karena mereka sudah pensiun, jadi dari saya bangun pagi, sarapan, masak, ngobrol, jalan-jalan, sampai balik tidur lagi semua bareng grospami. Saya jadi lumayan tahu sedikit-sedikit gimana sih kehidupan old-people di Swiss. Buat umat pembaca yang punya mimpi menghabiskan masa tua di Swiss, sini saya kasih 5 poin bocoran kayak apa sih kehidupannya di sana.
12 comments

July 15, 2019

17 Menit Terwaswas dalam Hidup #justinindyo ada di Cinque Terre

"Apa sih itu, apa? Cikungunya?", tanya Mas Gepeng saat saya mengatakan mau melihat bangunan warna warni di atas tebing dengan lautan biru, yang selalu tampak cantik ketika difoto oleh orang-orang. Dia tak tahu tentang 5 desa maha famous alias Cinque Terre ini, tak pernah dengar, tak pernah lihat juga di Instagram. Mungkin karena dia tak follow akun para travel influencer dan mayoritas feednya diwarnai oleh sungai dengan perahu kayak meliuk-meliuk diatasnya.

Saya sudah tahu Cinque Terre itu indah dari foto-foto orang baik yang amatiran asal jepret miring-miring maupun pro dengan sudut dan lighting super kece. Apalagi saya berkunjung pas summer, saat langit biru matchy matchy dengan laut, lalu ditengahnya ada bangunan merah kuning hijau, sudah pasti ciamik lah. Terus kamu bertanya basa basi, untuk apa ke sini kalau sudah tahu? Basi banget memang pertanyaannya, jangan coba-coba tanya begitu di dunia nyata ya.

Karena di balik tempat fotojenik sejuta umat, pasti ada cerita sharingjenik yang bisa saya museumkan di blog ini dan dinikmati oleh umat pembaca sekalian seperti kisah saya dan Mas Gepeng bisa selamat eksplorasi Cinque Terre sampai titik terakhir di Levanto dengan selamat, tanpa diusir, dideportasi, dipukuli, atau diikat, lalu ditambatkan di jangkar dan dibuang ke dasar laut :')))

Bagaimana ceritanya?

8 comments

July 6, 2019

Kenapa Saya Tidak Menunggu Senja Datang di Florence dan Memilih Tidur Lebih Awal

Satu-satunya jendela kecil yang ada di kamar dormitory Hostel Santa Monaca itu mulai menampakan garis-garis emas pantulan langit sore. Dari pinggir daun jendela, lalu mulai memenuhi ruang-ruang kaca. Saya memandanginya sambil membayangkan betapa cantik Florence saat senja, sambil menarik selimut lebih tinggi sampai ke dagu karena meski berada di kamar berisi enam belas orang, dua buah AC tetap saja terlalu dingin.

Pemberhentian saya di Italia seharusnya ada di Genoa. Itu sudah diputuskan sejak lama tanpa ada pergolakan demo huru hara. Tapi teman saya, Mira, mampu menggoyahkan iman bahkan sehari sebelum keberangkatan untuk mengganti kota tempat bersatunya Genoa dan Sampdoria dalam satu sekutu persepakbolaan itu menjadi Florence, kota yang hanya punya satu klub sepak bola bernama Fiorentina.

Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Mira memberikan rekomendasi dua kali agar saya tetap mengunjungi Florence. "Harus kena sunset di sana," katanya. Dua kali diyakinkan seperti itu tentu saya tergoda. Bahkan Mira bantu saya mengecek jalur kereta, jalur metro, lokasi hostel apakah dia dekat dengan tempat makan enak atau tidak, sampai aturan refund dan arrange jadwal perjalanan. Ada kerugian beberapa euro karena reschedule bus, tapi ada yang lebih menarik ternyata.

15 comments

May 24, 2019

Bertemu Bob Marley di Thailand dan Dia Bertanya, 'Apakah Kamu Bahagia?'

Tulisan panjang ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan standar tapi tak jarang orang-orang menjadi bingung menjawabnya. 'Apa yang membuat kita jatuh cinta pada sebuah tempat?' Teman saya yang baru pulang dari Swiss mengatakan bahwa pemandangan di sana adalah yang membuatnya jatuh cinta. Adalagi yang mengatakan karena negara itu indah dengan budaya dan kesederhanaannya, sebagai alasan dia mencintai Nepal. Lalu apa yang membuat saya jatuh cinta dengan Bangkok?

Meski datang di titik di mana banyak sekali orang yang menikmati makan malam dan suasana ramai di Khao San Road, tapi Bangkok sebenarnya menyentuh saya dengan hal yang lebih sederhana, yang lebih mudah, dan tidak membuat pusing. Seperti suara Natalia Lafourcade di lagu Alma Mίa, ah tapi kan ogut lagi di Bangkok, bukan Amerika Latin—dan sulit mencari lagu lembut berbahasa Thai, terlalu banyak khrab khrab dan tidak terdengar nyaman sama sekali, tahu kan yah maksudnya? Wkwk. Perjalanan ke Bangkok merupakan salah satu yang cukup membahagiakan buat saya. Begini alasannya.

8 comments

May 11, 2019

The Girl on the Boat Go Round and Round Flores

Saya masih ingat betul saat naik kapal menyeberangi Danau Toba dari Parapat menuju Pulau Samosir beberapa tahun lalu, saya berada di sisi atas kapal menatap langit dan danau hanya dibatasi garis tipis, dengan angin yang kencang dan sejuk mengisi mulut saya yang terbuka sedikit. Selain gigi jadi kering, saya membayangkan bagaimana rasanya bermalam di kapal, mengelilingi danau, mancing, masak ikan bakar, bangun melihat matahari terbit dari atas danau. Tapi lamunan itu seketika bubar ketika mengetahui teman saya buang permen karet ke danau. Rusak mood eike.

Bayangan itu akhirnya terwujud dalam versi lebih baik. Saya bermalam di Kapal Pinisi Cheng Ho keliling Laut Flores, lompat dari pulau ke pulau, berenang bersama ikan, dan menikmati hidup yang mengalir mengikuti arus. Meski hanya punya dua hari dengan agenda yang padat, tapi waktu berjalan sangat lambat di sini. Tak ada lelah yang berlebihan, tak ada pula aktivitas berlebihan. Semua berjalan sempurna. The only problem? Pulang.

Dan di sini saya ingin menceritakan pengalaman ini kepada umat pembaca sekalian tentang apa yang akan kalian temukan, rasakan juga nikmati ketika live on board naik kapal pinisi keliling salah satu gugusan pulau tercantik Indonesia. Oh sekedar kasih tempe nih gengs, kali ini saya tidak dalam #qisminmode yha wkwk. Perjalanan kali ini agak mewah, semua gratis tis tis jadi maaf sekali saya tidak bisa kasih gambaran harga. Tapi yang pasti, gambar-gambar bagus ada semua di sini haha.

13 comments

March 21, 2019

Pad Thai Manis, Pisang Goreng Tahi, dan 16 Fakta Lainnya tentang Kuliner Thailand

Suatu siang yang panas di Malaysia, saya mencicipi odeng kuah tom yum di Family Mart. Sesuai janji teman saya, rasanya memang nikmat sekali (apalagi memakannya di tengah orang berpuasa wkwk). Sejak saat itu, saya selalu suka tom yum, mau yang instan atau pun dengan racikan manual.

Bisa mencicipi tom yum asli di Thailand adalah semacam traveling goal buat saya. Rasa happy-nya sama kayak makan ramen di Jepang, makan bibimbap di Korea, makan keju di Inggris, juga makan dimsum di Hong Kong.

Tapi eh tapi, ternyata tom yum di Thailand tak selamanya pedas lho gaes-gaesqu! Dan ternyata orang sini suka banget makan mie. Di tulisan ini saya cerita fakta seru yang saya temui ketika cicip kuliner Thailand. Silahkan cekidot. Ada 18!

18 comments
© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.