SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

July 15, 2019

17 Menit Terwaswas dalam Hidup #justinindyo ada di Cinque Terre

"Apa sih itu, apa? Cikungunya?", tanya Mas Gepeng saat saya mengatakan mau melihat bangunan warna warni di atas tebing dengan lautan biru, yang selalu tampak cantik ketika difoto oleh orang-orang. Dia tak tahu tentang 5 desa maha famous alias Cinque Terre ini, tak pernah dengar, tak pernah lihat juga di Instagram. Mungkin karena dia tak follow akun para travel influencer dan mayoritas feednya diwarnai oleh sungai dengan perahu kayak meliuk-meliuk diatasnya.

Saya sudah tahu Cinque Terre itu indah dari foto-foto orang baik yang amatiran asal jepret miring-miring maupun pro dengan sudut dan lighting super kece. Apalagi saya berkunjung pas summer, saat langit biru matchy matchy dengan laut, lalu ditengahnya ada bangunan merah kuning hijau, sudah pasti ciamik lah. Terus kamu bertanya basa basi, untuk apa ke sini kalau sudah tahu? Basi banget memang pertanyaannya, jangan coba-coba tanya begitu di dunia nyata ya.

Karena di balik tempat fotojenik sejuta umat, pasti ada cerita sharingjenik yang bisa saya museumkan di blog ini dan dinikmati oleh umat pembaca sekalian seperti kisah saya dan Mas Gepeng bisa selamat eksplorasi Cinque Terre sampai titik terakhir di Levanto dengan selamat, tanpa diusir, dideportasi, dipukuli, atau diikat, ditambatkan di jangkar, dan dibuang ke dasar laut :')))

Bagaimana ceritanya?

8 comments

July 6, 2019

Kenapa Saya Tidak Menunggu Senja Datang di Florence dan Memilih Tidur Lebih Awal

Satu-satunya jendela kecil yang ada di kamar dormitory Hostel Santa Monaca itu mulai menampakan garis-garis emas pantulan langit sore. Dari pinggir daun jendela, lalu mulai memenuhi ruang-ruang kaca. Saya memandanginya sambil membayangkan betapa cantik Florence saat senja, sambil menarik selimut lebih tinggi sampai ke dagu karena meski berada di kamar berisi enam belas orang, dua buah AC tetap saja terlalu dingin.

Pemberhentian saya di Italia seharusnya ada di Genoa. Itu sudah diputuskan sejak lama tanpa ada pergolakan demo huru hara. Tapi teman saya, Mira, mampu menggoyahkan iman bahkan sehari sebelum keberangkatan untuk mengganti kota tempat bersatunya Genoa dan Sampdoria dalam satu sekutu persepakbolaan itu menjadi Florence, kota yang hanya punya satu klub sepak bola bernama Fiorentina.

Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Mira memberikan rekomendasi dua kali agar saya tetap mengunjungi Florence. "Harus kena sunset di sana," katanya. Dua kali diyakinkan seperti itu tentu saya tergoda. Bahkan Mira bantu saya mengecek jalur kereta, jalur metro, lokasi hostel apakah dia dekat dengan tempat makan enak atau tidak, sampai aturan refund dan arrange jadwal perjalanan. Ada kerugian beberapa euro karena reschedule bus, tapi ada yang lebih menarik ternyata.

15 comments

May 24, 2019

Bertemu Bob Marley di Thailand dan Dia Bertanya, 'Apakah Kamu Bahagia?'

Tulisan panjang ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan standar tapi tak jarang orang-orang menjadi bingung menjawabnya. 'Apa yang membuat kita jatuh cinta pada sebuah tempat?' Teman saya yang baru pulang dari Swiss mengatakan bahwa pemandangan di sana adalah yang membuatnya jatuh cinta. Adalagi yang mengatakan karena negara itu indah dengan budaya dan kesederhanaannya, sebagai alasan dia mencintai Nepal. Lalu apa yang membuat saya jatuh cinta dengan Bangkok?

Meski datang di titik di mana banyak sekali orang yang menikmati makan malam dan suasana ramai di Khao San Road, tapi Bangkok sebenarnya menyentuh saya dengan hal yang lebih sederhana, yang lebih mudah, dan tidak membuat pusing. Seperti suara Natalia Lafourcade di lagu Alma Mίa, ah tapi kan ogut lagi di Bangkok, bukan Amerika Latin—dan sulit mencari lagu lembut berbahasa Thai, terlalu banyak khrab khrab dan tidak terdengar nyaman sama sekali, tahu kan yah maksudnya? Wkwk. Perjalanan ke Bangkok merupakan salah satu yang cukup membahagiakan buat saya. Begini alasannya.

8 comments

May 11, 2019

The Girl on the Boat Go Round and Round Flores

Saya masih ingat betul saat naik kapal menyeberangi Danau Toba dari Parapat menuju Pulau Samosir beberapa tahun lalu, saya berada di sisi atas kapal menatap langit dan danau hanya dibatasi garis tipis, dengan angin yang kencang dan sejuk mengisi mulut saya yang terbuka sedikit. Selain gigi jadi kering, saya membayangkan bagaimana rasanya bermalam di kapal, mengelilingi danau, mancing, masak ikan bakar, bangun melihat matahari terbit dari atas danau. Tapi lamunan itu seketika bubar ketika mengetahui teman saya buang permen karet ke danau. Rusak mood eike.

Bayangan itu akhirnya terwujud dalam versi lebih baik. Saya bermalam di Kapal Pinisi Cheng Ho keliling Laut Flores, lompat dari pulau ke pulau, berenang bersama ikan, dan menikmati hidup yang mengalir mengikuti arus. Meski hanya punya dua hari dengan agenda yang padat, tapi waktu berjalan sangat lambat di sini. Tak ada lelah yang berlebihan, tak ada pula aktivitas berlebihan. Semua berjalan sempurna. The only problem? Pulang.

Dan di sini saya ingin menceritakan pengalaman ini kepada umat pembaca sekalian tentang apa yang akan kalian temukan, rasakan juga nikmati ketika live on board naik kapal pinisi keliling salah satu gugusan pulau tercantik Indonesia. Oh sekedar kasih tempe nih gengs, kali ini saya tidak dalam #qisminmode yha wkwk. Perjalanan kali ini agak mewah, semua gratis tis tis jadi maaf sekali saya tidak bisa kasih gambaran harga. Tapi yang pasti, gambar-gambar bagus ada semua di sini haha.

13 comments

March 21, 2019

Pad Thai Manis, Pisang Goreng Tahi, dan 16 Fakta Lainnya tentang Kuliner Thailand

Suatu siang yang panas di Malaysia, saya mencicipi odeng kuah tom yum di Family Mart. Sesuai janji teman saya, rasanya memang nikmat sekali (apalagi memakannya di tengah orang berpuasa wkwk). Sejak saat itu, saya selalu suka tom yum, mau yang instan atau pun dengan racikan manual.

Bisa mencicipi tom yum asli di Thailand adalah semacam traveling goal buat saya. Rasa happy-nya sama kayak makan ramen di Jepang, makan bibimbap di Korea, makan keju di Inggris, juga makan dimsum di Hong Kong.

Tapi eh tapi, ternyata tom yum di Thailand tak selamanya pedas lho gaes-gaesqu! Dan ternyata orang sini suka banget makan mie. Di tulisan ini saya cerita fakta seru yang saya temui ketika cicip kuliner Thailand. Silahkan cekidot. Ada 18!

18 comments

March 11, 2019

Perbatasan Kamboja - Thailand: Pengalaman Melintasi Negara dari Kota Kumuh menuju Senja Keemasan

After a very long journey with red-old-uncomfortable economy bus, Mas Gepeng and I arrived safe and sound right in front of Khao-san Road, menghirup udara beraroma manis kelapa dan gula yang berlebihan. Menempuh jalan darat dari Kamboja, kami punya sepuluh jam yang isinya tak jauh dari tidur-bangun-kentut-tidur-bangun-kentut. Dan ini adalah pengalaman melintasi negara via darat dengan cara gembel pertama saya! Congratulation to me!

Ide ini tidak seburuk bayangan saya. Bus ini masih memiliki AC prima untuk meneduhkan keringat-keringat yang hendak marah. Itu cukup menghibur kami yang hanya membawa KFC, roti tawar murah, dan air mineral seliter setengah sebagai bekal seharian. Kursi tegaknya juga yah, lumayan, masih bisa membantu kami tidur dan melewatkan kabar baik bahwa hampir tidak ada macet dari kendaraan besar atau kecelakaan di bahu jalan.

Beli 3 ayam KFC untuk bekal. Targetnya untuk makan siang, tapi malah habis di dua jam pertama keberangkatan wkwk.

Yang paling menarik dari perjalanan ini tentu saja pengalaman di perbatasan. Saya pernah mengalami ketika pergi ke Singapur via Malaysia, hanya saja kondisinya sangat jauh lebih baik dengan mobil travel nyaman dan kondisi dua negara sama-sama memiliki fasilitas imigrasi dan perbatasan yang apik (halo pendapatan per kapita!).

Baca juga dong: Touchdown Singapore!

Bagaimana dengan dua negara yang meski bertetangga dan memiliki banyak kesamaan, tapi tidak akur ini? Let's see.

Poi Pet dan segala kesuramannya
Krong Poi Pet adalah kota di Kamboja yang berbatasan dengan Aranyaprathet, kota di Thailand. Selain nama yang aneh, kedua tempat ini punya karakteristik yang sama: gersang, panas, dan bau. Kotanya sama-sama dinamis, tapi ya namanya di perbatasan, aksesnya jauh dari pusat kota jadi memang tidak modern amat.

Jika dibandingkan, Poi Pet tampak lebih kumal ketimbang Aranyaprathet. Nuansanya coklat kekuningan dengan debu merah bertaburan karena tanah yang kering. Asal kamu tahu, Poi Pet itu sarang judi di Kamboja lho. Dan ternyata aktivitas yang dilegalkan ini jadi salah satu 'primadona penghasil devisa' di Kamboja. Well, yang satu —Angkor Wat— adalah tempat ibadah ke Tuhan, yang satu tempat melupakan Tuhan. Yin dan yang, wkwk.

Tapi, saya ingatkan lagi ya, kota ini berdebu dan kumuh. Jangan bayangkan Las Vegas atau Macau. Kota ini lebih tampak seperti kota buangan yang tidak punya ide lain untuk menghibur diri selain dengan judi. Saya beberapa kali tertangkap melamun bertanya-tanya bagaimana kehidupan di sini, apa cita-cita para anak yang sekolah di sini, apa yang mereka makan untuk sarapan, dan apakah mereka merasa terancam sepanjang waktu.

Pasar di pinggir trotoar.

Tingkat kejahatan di Poi Pet termasuk tinggi. Orang-orang bisa merampok bahkan membunuh sesukanya. Bukan kah kota judi selalu punya imej seperti itu? Dengan para preman menghajar kaum proletar yang mabuk, atau seorang yang butuh uang lalu membunuh dengan brutal demi merampas tas hitam penuh uang, yah atau paling 'biasa', saling bertukar narkoba. Tapi karena kota ini jelek, jadi lupakan semua adegan serba cool yang ada di sinema. Judi, di tempat buruk. Mana senangnya?


Saya menggunakan bus yang berangkat dari Siem Reap, bersama dengan 20 orang lainnya. Ini bukan tour bus, hanya bus umum biasa yang dipesan lebih dulu saja. Kamu bisa booking bus ini di mana saja, hostel tempatmu menginap atau travel agent (lebih murah yang mana? Baca tulisan ini dulu dong). Karena ini Poi Pet, banyak yang menyarankan setidaknya kamu jangan sendiri deh, apalagi buat female solo-traveler #sekedarmengingatkan.

Ini bus merah kedua yang dinaiki setelah imigrasi Thailand. Jika bus ini tampak kinclong, bus yang pertama berwarna sama tapi lebih buluk.

Jurus anti-palak-palak-club
Kantor perbatasan di Poi Pet berupa bangunan kotak satu lantai yang sudah usang, berwarna kuning coklat dengan noda di mana-mana, kipas angin kecil, ventilasi seadanya, dan petugas di balik jendela kaca buram berwajah mencurigakan.

Saya selalu degdegan dengan wajah ini. Wajah yang memberikan tatapan serius sepersekian detik, lalu menunduk sok mengecek paspor atau menggerakkan tangan, dan menatap lagi agak intimidatif tapi ragu-ragu, dan ketika jempolnya mengusap hidung, aaa ini dia, tepu-tepu!

"Do you have three dollars?" "Sorry?" "Three dollars" "No, I don't bring dollars" "Or three hundred baht" "All the money is in my husband, I don't have any, I'm sorry" "...."

Pemerintah Kamboja menggratiskan biaya bagi siapapun yang mau keluar dari negaranya, jadi yang minta uang ini jelas ilegal. Beberapa turis lain pun ternyata juga dimintai dan kebanyakan sudah sadar kalau ini scam, jadi mereka mengaku tidak bawa atau tidak perlu kasih uang. Apakah kalau tidak kasih uang, tidak dikasih cap di paspor? Dikasih dong, tenang saja. Tapi jangan lupa dicek wkwk.

Setelah dari situ, saya berjalan menuju gerbang imigrasi Thailand. Memang dari awal turun di halte terakhir sebelum kantor perbatasan, lalu ke kantor imigrasi dan menuju bus lagi, kita akan jalan kaki terus. Ini bukan dalam rangka gerakan 10.000 langkah tapi memang begitu aturannya. Ada berbagai scam di sini, hati-hati ya bro n sis qu.

Padahal setelah kantor perbatasan ada pasar, Apa jadinya kalau semua turis kena scam dipalak di perbatasan? Mau jajan di pasar tidak jadi dong. Tidak koordinasi nih wkwk.

Welcome to Thailand! But first, antre dulu bok!
Kantor imigrasi Thailand tidak begitu jauh, kurang dari sepuluh menit jalan kaki. Kalau lari bisa setengahnya kali ya. Bangunannya lebih manusiawi meski bukan yang bagus-bagus banget. Nuansanya putih abu-abu, bersih, dan ada standing AC di beberapa titik. Sudah senang? Jangan dulu, adinda. Karena antreannya ya itu seperti usus besarmu itu. Puwanjang pwol!

Kami beruntung pas masuk sudah ada di baris ke 6, tapi tak sampai setengah jam, tahu-tahu sudah mengular sampai keluar pintu. Agak durjana. Eh bukan, durjana banget! Jika kamu membawa tas carrier/koper besar atau banyak, ada beberapa trik yang bisa dicoba supaya tidak bikin icemochy saat antre:
  • Jika kamu pergi bersama pacar atau teman-teman, titip saja ke teman mu dan dia akan stay jaga di satu titik. Dia akan menyusul sambil oper barang ketika kita sudah di shaf terakhir. Tidak akan ada yang memprotes cara ini kok. Kalau pun ada, minta saja yang protes bawain tas kita wkwk.
  • Jika kamu sendiri, taruh saja di bawah garis batas antrean. Setelah kamu jalan sampai lewat satu shaf dan bertemu kembali dengan tas, pindahkan ke garis depan. Begitu seterusnya
Petugas di kantor imigrasi tampaknya tak ada yang resek, hanya memang tidak cekatan dan wajahnya penuh kecurigaan. Tidak ada yang tersenyum, tidak ada juga yang tampan. Mungkin memang begitu default-nya. Saya hanya ditanya apakah pergi sendiri atau dengan orang lain, selebihnya hanya kesunyian diantara kita. Setelah mendapatkan stamp, saya menuju pintu keluar dan joged-joged happy akhirnyaaa sampai jugaaa di Thailand!


Aranyaprathet, si kota nanggung
Matahari masih bertengger di langit yang sama tapi kaki saya sudah berada di negara yang berbeda. Keluar dari kantor imigrasi menuju parkiran bus, saya melihat mall di seberang jalan. WOW. Lalu ada hotel bagus juga di seberangnya. Mobil bagus pun lalu lalang di sekitar situ, termasuk mobil hatchback modern. Kontras sekali dengan Poi Pet yang seperti gudang berdebu wkwk.

Kota ini sebenarnya kecil, tapi diberdayakan agar pertumbuhan ekonominya bagus dan maju. Ada pasar tradisional yang memperkenankan orang Kamboja berjualan, ada juga beberapa tempat wisata untuk dikunjungi. Lumayan lah daripada lumanyun. Tapi memang kecil sih, mungkin sehari di sini ya sudah keliling semuanya. Baru naik bus, lihat-lihat sebentar, tahu-tahu sudah pemandangan semak belukar. Nanggung sekali,

Minum cincau selebrasi mendapatkan stamp ke Thailand. Minum cincau di siang bolong memang menakjubkan rasanya~~
Senja yang menyambut kedatangan kami di Bangkok. Cantik banget!

Kenyataannya perjalanan paling panjang adalah setelah dari imigrasi Thailand menuju pusat kota Bangkok. Perjalanan menempuh enam jam lebih dengan sekali berhenti di tempat makan dan dua kali ke toilet umum. Saya hanya tidur sepanjang jalan, menahan lapar seperti anak kucing liar di pojokan pasar. Saya hanya ingin makan makanan enak, bukan makanan yang asal mampir di pinggiran. Sore hari saat terbangun dari mimpi yang tak khusyuk, saya melihat semburat oranye dan kuning keemasan di langit, membentuk lapisan cantik. Ah, inikah yang dinamakan langit pad thai?
6 comments

February 22, 2019

Angkor Night Market dan Sedikit Tentang Orang-Orang Kamboja

Mengeksplorasi Angkor Wat dari subuh hingga ashar membuat kami menghabiskan petang dengan tidur. Selain lelah, rasa lega karena hostel melayani pemesanan tiket bus dari Siem Reap, Kamboja menuju Bangkok, Thailand yang harganya jauh lebih murah ketimbang travel agent, membuat tidur kami dua kali lebih nyenyak.
7 comments

February 8, 2019

Ajak Ribut Monyet dan 9 Hal Bodoh Lain yang Sebaiknya Tidak Kamu Lakukan di Angkor

"APAH!? Tiga puluh tujuh dolar? Wah tengkyu deh, no no!", tegas saya pas Mas Gepeng bilang harga tiket masuk Angkor Wat yg terbaru. Berdua bayar sejuta lebih buat lihat candi itu menurut saya berlebihan. Namanya juga qismuin~ Tapi akhirnya saya melakukan hal yang benar, sebenar-benarnya fakta kawasan Angkor itu LUWAS BWANGET yaloooord! Perhitungan Mas Gepeng salah, bukan 8 kali lipatnya Borobudur, tapi 600 kalinya (in exact size)! Itu Angkor Wat-nya saja ya, belum total sama candi lain se-kawasan Angkor.

Jadi dengan luas yang mungkin butuh sejuta reinkarnasi untuk mengukurnya dengan mistar plastik tukang foto kopi, lalu cuaca Kamboja yang tak jauh beda dengan Jakarta tanpa hujan dua tahun, lalu debu, turis, tuktuk, hutan, dan segala hal yang ada di Angkor, saya ingin menyampaikan nasihat terbaik agar siapa pun yang hendak ke sana tidak melakukan hal bodoh, demi kemaslahatan umat di Angkor.



8 comments

January 19, 2019

Bagaimana Menikmati Sehari di Phnom Penh seperti Orang Lokal?

Pagi itu saya bangun sebelum ayam berkokok. Kasur sekeras bata, rasa gatal dari selimut, bantal kasar, dan keroncong perut kopong membangunkan saya seolah berkata "Bangun kau, upik abu! Cuci piring sana!"
16 comments

November 25, 2018

Sehari di Glodok: Mengenal Etnis Tionghoa dan Aneka Kudapan Tak Lekang Zaman

"Kerusuhan di Indonesia itu ternyata bukan hanya pas tahun 1998, tapi ada juga dulu di sini (baca: Glodok)", kata Suci, teman Linkers saya yang hari itu jadi guru sejarah berjalan acara #jalanbareng #ErrinaxSuci mengajak kami berenam belas mengenal lebih dekat tentang Jakarta khususnya etnis Tionghoa. Pernyataan itu muncul setelah ia menerangkan bahwa ada pembantaian etnis Tionghoa dulu di pertengahan abad 17 karena permasalahan ekonomi yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pendatang. Pernyataan itu membuat saya bergidik, meski di satu sisi saya penasaran karena saat ini, orang Tionghoa memiliki 'posisi khusus' di gunjingan para masyarakat lokal yang merasa lahan rezekinya diambil.

10 comments
© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.