SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Arung Jeram Makan Pasir di Sungai Trishuli (+ Perjalanan Ngebus dari Kathmandu ke Pokhara)

Nepal yang dikenal sebagai Negeri Atap Dunia, mengalami hari yang sangat buruk pada April 2015 lalu. Tubrukan dua lempeng paling aktif di dunia, Lempeng Eurasia dan Lempeng India, mengguncang kencang Kathmandu dengan kekuatan 7,9 skala richter. Gempa hebat ini merupakan bencana alam terburuk sejak 80an tahun lalu, setelah pada tahun 1934 sekitar 16ribu korban jiwa meninggal akibat gempa luar biasa di Nepal.

Selama di Kathmandu kami memang banyak melihat banyak perbaikan mulai dari jalan, bangunan, dan infrastruktur lainnya. Negeri Atap Dunia sedang berbenah. Debu dan udara berpasir seperti sudah wajar disini karena terlihat gak banyak orang yang pake masker untuk sekedar menghalau debu-debu itu mempersempit lobang hidung mereka. Kami lumayan tangguh untuk urusan debu, termasuk saat mengarungi sungai yang namanya diambil dari salah satu simbol keagamaan umat Hindu-Buddha, Sungai Trishuli (Kyirong Tsangpo).

Sungai Trishuli

Kalau search di Google, berita yang banyak berkaitan dengan Sungai Trishuli adalah tentang perjuangan anak-anak yang harus nyebrang lewat jembatan kabel untuk pergi ke sekolah. Miris memang, karena hal ini juga masih terjadi di Indonesia. Tapi pemerintah Nepal sepertinya gak main-main dengan janjinya untuk membangun jembatan karena beneran sudah ada beberapa jembatan untuk siapa aja menyebrang sungai! Yaaaay! Semoga semakin banyak lagi jembatan yang dibangun karena beneran ini sungai panjang banget, penduduknya yang tinggal dan perlu menyebrang juga pasti banyak. Keep on progress, Nepal!

Terzebak trip tapi happy

Berita lain tentang sungai ini selain jembatan kabel yang bisa ditemui di Google adalah arung jeram di Sungai Trishuli. Awalnya kami gak berniat ngarung di sana dengan pertimbangan pasti harganya mahal. Tapi saat di Thamel kami ‘terhipnotis’ oleh tawaran seorang marketer dari Ammonite Adventure & Treks untuk short trip arung jeram di Trishuli.

Harga penawaran awalnya USD90, tapi karena dia jarang ketemu orang Indonesia dan kami juga melakukan pertarungan tawar menawar sengit, akhirnya kami dikasih harga USD83 untuk dua orang dengan fasilitas bus keberangkatan dari Kathmandu ke titik start, perlengkapan arung jeram lengkap, guide, makan siang, air mineral, kamar mandi (untuk ganti baju di akhir pengarungan), dan (untuk kami) tiket bus lanjut dari finish ke Pokhara.

Hati-hati sama orang ini, pengetahuannya terlalu luas dan sulit mengelak tawaran-tawaran paket wisatanya. Kalau ketemu, tolong sampaikan saya titip salam ya.
Kalau kamu ambil paket naik gunung, nanti pas foto-mu dipajang di papan.
Pemaparan program-program liburan dan menyertakan harga, fasilitas, jarak, akomodasi, pokoknya lengkap. Bahkan kami dibuatkan paket ekonomisnya. Dua program yang dia tawarkan adalah liburan di Chitwan National Park dan hiking sampai ketinggian 2000an mdpl.

Naik Bus ke Pokhara, Tapi Mampir Trishuli Dulu Dong

Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap menge-pack semua barang dan jalan menuju tempat bus di pinggir jalan Kantipath. Bus sudah standby, termasuk para penumpang dan para penjual makanan. Busnya lumayan antik, mirip MetroMini hanya lebih terawat, gak bau, dan bunyi-bunyi reyotnya masih aman lah ya. Rute bus ini menuju Pokhara dengan pemberhentian di beberapa kota kecil. Kami dititipi oleh pihak tour agent bahwa akan turun di tengah jalan.

Perjalanan dari Kathmandu menuju titik start arung menghabiskan waktu 3 jam dengan dua kali mampir istirahat. Sepanjang perjalanan akan melihat pemandangan apik pegunungan hijau, sawah, lembah, desa, bahkan ketika jalan terus menanjak pun pemandangan makin bagus. Seperti lagi mudik ke kawasan pegunungan. Namun karena kawasan ini lumayan berpasir, jadi ya berdebu dan suasananya jadi kayak gloomy gitu.

Pemandangan pinggir jalan yang gloomy tapi cantik.
Banyak bus dan angkot nyentrik, yang kadang stel musik kencang banget. Spesial hiburan lucu di perjalanan.
Syarat naik bus di Kathmandu: kumel. Ya biar gak keliatan turis turis amat haha.

Di perjalanan kami sempet jajan snack ringan. Tau gak, snack (dan mayoritas produk makanan pabrikan) di Nepal memiliki tenggat waktu kadaluarsa yang sebentar. Misalnya snack kemasan –atau biasa kita sebut ciki, kadaluarsanya mulai dari 4 sampai 6 bulan setelah keluar dari pabrik. Nah dikemasannya pun tertulis tuh tanggal kapan snack ini mulai terdistribusi. Jadi siapa aja bisa itung sendiri, snack ini masih layak makan atau gak. Karena gak ada jajan yang pake label halal, kami pilih snack bertanda kotak-lingkaran yang artinya dia snack vegetarian.

Arung Jeram di Sungai Trishuli

Sesampainya di titik start, kami ketemu guide dan beberapa tamu lain: tiga cewek Australia, beberapa anak mahasiswa Kathmandu, dan beberapa mbak-mbak Pokhara (penjelasan macam apa ini hahaha). Kami ganti baju dan meninggalkan tas di bascecamp untuk nanti di bawa panitia ke titik finish. Guide kami, sebut aja si Iteng (item tengil) melarang saya membawa kamera yang sudah di cover Dicapac. "Takut hilang", katanya. Saya menjamin ini benar-benar kedap air (setelah terbukti aman dipakai jalan seharian saat hujan di Kathmandu) dan kalau pun hilang, saya gak akan nuntut kalian. Tapi Iteng ini maksa banget buat saya gak bawa kamera padahal dia ngebiarin mbak Australia bawa kamera waterproof-nya yang hanya diamankan dengan hand-strap. Endingnya? Saya tetep bawa dong! Lagian si Himalayan River Fun ini gak ada dokumentasinya juga. Myeh.

Akhirnya! Salah satu keinginan terbesar alias bucket list kita untuk arung jeram berdua di luar negeri tercapai! Woo hoo!
Para guide sedang mempersiapkan perahu karet.

Sungai Trishuli karakteristiknya lebar dan gak terlalu bergradien alias cenderung datar. Gak banyak batu di tengah sungai jadi bentukan jeram sebenarnya gak variatif. Jeram didominasi standing wave besar dan tebal seperti bolu. Uuuw menyenangkan. Sebelum pengarungan, para guide akan mengajak tamu melakukan pemanasan sedikit dan briefing singkat tentang perintah-perintah dayung, prosedur penyelamatan, dan instruksi lain.

Untuk alasan safety, ada perahu kayak yang standby mengiringi pengarungan. Dia akan membantu apabila ada alat yang hanyut atau orang hanyut. Sejauh ini, hanya si kayaker yang gak norak dan paling enak diajak ngobrol. Si Iteung paling sebal kalau saya sudah pegang kamera. Setiap pegang dan mau foto, langsung teriak suruh dayung padahal lagi flat. Pas dia suruh dayung tapi saya masih foto, dia langsung bilang ke tim untuk ikut perintah demi keselamatan bersama. Ngeselin amat. Pingin ogut cemplungin saja rasanya. Orang lagi wisata, bukan lagi lomba dayung.


Ayo goyang~~ Dayuuung~~
Kayaker.
Gerumulan ombak.

Iteng melakukan beberapa permainan salah satunya flip flop. Itu lho, permainan tematik para guide arung jeram yang tebalikin perahu terus pada panik kan penumpangnya. Dia melakukannya. Saya sudah siap-siap aja karena satu-satunya yang harus saya jaga adalah kamera, baru nyawa saya hahaha.

Saat jatuh, saya panik selain karena memang begitu skenarionya, saya juga gak percaya sama Iteng bakalan menyelamatkan saya. Tebalikin perahunya aja susah. Myeh. Akhirnya saya gelayutan sama perahu kayak dan tiba-tiba gigi saya berasa kreset-kreset. Ya benar, debu bukan hanya ada dipermukaan, tapi juga di sungai. Sungai Trisuli selain dimanfaatkan untuk wisata dan pasokan air, juga sebagai sumber tambang pasir dan batu.

Beautiful view di sekitar Sungai Trishuli.

Setelah satu jam pengarungan, kami istirahat makan siang. Tamu disajikan nasi, daging ayam, sayur kentang, lalapan tomat timun, dan papad (semacam kerupuk opak asin gitu). Tempat istirahatnya lumayan oke, ada camping ground, kamar mandi bersih, aula, dan kolam renang. Saya jalan-jalan sekitar dan mengobrol dengan beberapa tamu lokal yang dari Kathmandu dan Pokhara. Mereka baik-baik sekali. Yang gak baik cuman si guide caper dan ganjeng itu aja.


Salah seorang wanita dari Pokhara berbaju hitam dan celana pendek, menghampiri saya dan bertanya apakah saya dan Mas Gepeng sepasang kekasih. Pasalnya dia melihat Mas Gepeng begitu menyayangi saya apalagi pas perahu terbalik, Mas Gepeng hanya menyelamatkan saya. "You're so lucky.." katanya. Hahaha dia gak tau skenarionya memang saya minta diselamatin karena males berenang dan harus pegangin kamera. Sungguh drama~

Air pancur cakep.
Apakah kolam renang ini ada pasirnya juga?
Ayunan sempit nan bikin pantat sakit.

Drama di 2nd section pengarungan

Setelah makan kami lanjut ngarung lagi dengan karakteristik sungai yang gak jauh beda dengan first section tadi. Forever yihaa yihaa lah pokoknya. Pemandangan kanan kiri Sungai Trishuli sangat priceless. Gak hanya jembatan kabel, atau jembatan beton, atau kabel katrol, tapi tebing tinggi yang hijau, langit cerah, Nepali yang sedang bercocok tanam, duduk istirahat, mandi, mencuci, seneng banget liatnya.

Oh ada something bad happened, bukan ke saya tapi ke para tamu remaja dari Australia. Saat di akhir-akhir, kami semua turun ke sungai untuk berendam lucu (dan mungkin pipis sekalian). Nah pas sudah mau dekat jeram, kami semua disuruh naik ke perahu. Saya yang sudah diatas, bantu naik salah seorang remaja itu dengan cara tarik pelampungnya. Sialnya pas sedang naik, waterproof camera yang dia sangkutin di klep pelampung terlepas dan hilang di gelapnya sungai. Wajahnya bete (of course!) dan si Iteung tengil itu hanya memandang kaku sambil mencoba sedikit tersenyum. Semoga dia dan si remaja belajar sesuatu yang baik hari itu ya.

Saya meminta maaf ke si remaja karena gak ngeh soal kamera itu dan mungkin saya bisa mengingatkannya sebelum menariknya ke perahu. Dia hanya bilang, "Yah gak papa, nyawa saya lebih penting untuk diselamatkan". Sabar ya, Dek. Paling cuman dipotong uang jajan sebulan aja wkwk.

Suasana pengarungan.

Setelah satu jam pengarungan, sampailah kita di titik finish. Jadi dua jam saja nih ngarungnya? Iya. Delapan puluh tiga dolar? Iya. Dan gak bisa banyak ambil foto? Iya. Begitulah hahaha. Kalau baca beberapa referensi paket arung jeram Sungai Trishuli lewat Google, ada yang menulis durasi 9 jam (go check out Viator di Lonely Planet), 2 hari trip dari Himalayan River Fun (yang ternyata hari pertama adalah river-side party dan hari kedua ngarung 3 jam aja), 3 hari pengarungan dengan ada trip kecil setiap hari dari Basecamp Trekking (gak dijelasin berapa jam pengarungan). Jadi 2 jam ini memang sebagian kecil trip saja.

Kami disediakan kamar mandi yang super kecil (sepertinya milik penduduk). Kami harus antre karena hanya ada 3 kamar mandi untuk tamu 3 perahu. Gak ada tempat colokan buat hairdryer, satu-satunya yang disediakan selain kamar mandi adalah kantung kresek dan ruangan untuk beberes tas. Secara umum fasilitas yang disediakan selain alat pengarungan, kurang memuaskan. Benar-benar serba seadanya. Jadi sebenarnya masih banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini, agar warga sekitar juga sejahtera.

Mas Gepeng melewati jembatan di titik finish.
Tebak mana yang kehilangan kamera?

Until we meet again, Trishuli! Thank your for manifesting one of my 2016's resolutions!

No comments

Post a Comment

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.