SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Khusyu' Ibadah Makan Pas Lebaran di Pokhara, Nepal

Lebaran pertama kami sebagai suami istri ternyata bisa jadi sespesial ini karena dirayakan berdua saja  di Pokhara, Nepal, tanpa satu pun sanak keluarga. Memang mungkin tampak kurang ajar ya, tapi kamu berdua sudah dapat restu dari keluarga kami masing-masing kok dan sudah sungkeman duluan hahaha. Sebelumnya kami banyak cari tau soal lebaran di sini dan mendapati ternyata ada 3 masjid tersebar di pusat kota Pokhara. Sayangnya kami belum tau kapan lebaran dirayakan di Nepal, dan saat itu lah kami bertemu Pak Syafi, seorang penjual kerajinan di pinggir Danau Phewa.

Waktu itu kami menghampiri Pak Syafi karena penampilannya memang sudah akhwan banget dengan baju gamis putih, jenggot panjang tebal, dan peci kecil. Pak Syafi merekomendasikan kami ke sebuah masjid terdekat, yang bisa ditempuh beberapa menit saja naik taksi. He? Gak yang jalan-kaki-friendly saja? Gak ada hahaha. Dan datang lah hari itu, hari kemenangan, hari di mana kami sampai di Masjid Chiple Dunga.

Masjid atau Ruko?

Supir taksi menurunkan kami di depan gang, sehingga harus berjalan sedikit untuk menuju masjid. Sepanjang jalan kami sudah melihat banyak orang berpakaian sama seperti Pak Syafi, dan saling bertegur sapa. Kami yang pakaiannya beda sendiri lumayan banyak dipandangi, apalagi saya yang wanita. Mayoritas yang datang ke masjid adalah pria karena orang Nepal gak terbiasa dengan perempuan solat di masjid. Kebetulan saat itu saya juga lagi haid jadi tidak tahu juga kondisi di dalam seperti apa.

Nepali muslim yang solat Id kebanyakan pada pakai gamis putih dan sorban, ada juga yang pakai baju biasa tapi tidak sampai 'sebiasa' kami yang hanya kaosan dan celana panjang kargo hahaha. Disana kami janji temu dengan Pak Syafi, pemilik toko di Lake Side. Dia sedang bersilaturahmi dengan sesama muslim lain dan sementara kami menunggu, kami mencoba mengamati sekitar.

Di dekat masjid ada beberapa lapak, salah satunya adalah lapak untuk pembayaran zakat fitrah. Cara pembayarannya cash dan dilakukan sambil berdiri. Sepertinya zakat ini akan diberikan langsung ke yang membutuhkan karena dari awal sampai, saya sudah lihat beberapa mustahiq standby menunggu di sekitaran. Kurang tau juga sih tapi karena panitia idul fitri memarahi pengemis yang masih meminta-minta.

Nah bicara soal masjid, ada yang menarik dari Masjid Chiple Dunga. Masjid ini gak ada namanya, hanya dinamai berdasarkan nama daerahnya saja. Pun gak ada papan nama atau ukir-ukiran apapun. Jadi tampak dari luar, malah benar-benar mirip ruko dengan tingkat 3. Secara bangunan ini sepertinya memang dibuat sebagai masjid karena desain pintu masuk, daun jendela, dan tiangnya sudah 'masjid banget'. Mungkin karena kurang lahan kali ya, atau sengaja memang dibuat seperti ini karena kebiasaan.

Pagi di Pokhara, dalam perjalanan menuju masjid. Apakah kalian lihat pegunungan Himalaya mengintip di balik awan?
Masjid untuk Shalat Id di Pokhara
Suasana di depan Masjid. Ada pengumpul zakat dan reporter. Mengingat muslim di Nepal lumayan banyak, jadi perayaan ini memang perlu diberitakan di TV nasional.

Traktor memeriahkan Solat Ied

Agama islam adalah minoritas di Nepal, tidak heran di acara perayaan seperti ini tidak terjadi hal yang spesial seperti biasa kita alami di Indonesia. Kalian tahu, setelah solat Id, ada mobil (lebih deket dengan traktor sih) penyedot tinja yang berusaha lewat di tengah kerumunan orang. Traktor ini berisik luar biasa dan tidak berhenti membunyikan klakson. Orang-orang yang naik motor dan mobil pun berlaku sama. Mereka memaksa lewat di tengah kerumunan tanpa rasa sungkan menekan klakson dalam-dalam. Gak lama seorang bapak marah-marah ke supir traktor dan satpam, dia protes ke satpam yang mempersilahkan traktor lewat sini padahal lagi ada solat Id.

Adegan ini lumayan lama karena pengendara traktor juga gak mau mengalah dan merasa dia berhak lewat. Makin ribut lah dunia persilatan hahaha. Saya hanya mengamati dari samping sambil masih menggenggam mukena yang saya beli khusus untuk shalat Id di Nepal tapi malah gak terpakai.

Setelah puas bertemu dengan sanak kerabat, Pak Syafi mengajak kami menuju jalan besar untuk menemaninya membeli kue. Pas jalan, kami melewati sebuah tenda yang ternyata sengaja dibuat khusus pas hari lebaran. Kami disapa dan dipersilahkan ambil makanan untuk sarapan. Wow. Sarapan gratis! Kami langsung dikasih piring kecil untuk kurma, dan piring besar untuk puri bhaji. Alhamdulillah.

Eh, ada iklan wkwk. Traktor lewat di antara jamaah yang sedang berkerumun.
Masuk TV dulu bro
Salah satu pengemis. Biksu atau pengemis saya kurang tahu.
Pelapak kerupuk jualan setelah shalat Id.
Nice hair, bro! 
Wah, ada bidadara surga~
Puri Bhaji gratis untuk jemaah solat id.
Syamala, semacam susu dengan kacang-kacangan dan rumput laut. Segelas kecil gini kenyangnya awet.

Pak Syafi dan Drama Menunggu Makan

Setelah menyantap sarapan singkat, kami diajak Pak Syafi beli kue. Bukan, bukan kue buat kitorang, tapi buat kerabat-kerabatnya saat halal bi halal nanti. Sebenarnya sudah berharap ya, tapi apa boleh buat, kami bertepuk sebelah tangan hahaha. Toko kue ini namanya Marwadi Sewa Bhojanalaya. Dari luar sudah tercium aroma haruuum kue-kue enak. Harum banget. Pak Syafi beli 3 kotak, dan gak satupun kue dibagi ke kami (tau gitu kan ogut beli kemarin).

Toko kue yang juga menjual aneka gorengan.
Silahkan dipilih.

Setelah itu, kami diberhentikan taksi oleh Pak Syafi dan menginstruksikan untuk membututi motor Pak Syafi sampai menuju rumahnya di dekat Danau Phewa. Ternyata rumahnya dekat juga dengan hotel kedua kami, Future Way Guest House—pindah hotel yang lebih murah haha. Kami disambut oleh istri dan tiga anaknya. Rumahnya gak yang besar banget gitu, tapi dua lantai dengan dinding wallpaper. Kami duduk lesehan di ruang tamu dan disajikan jus mangga dan syamala hangat.

Sayangnya, pagi itu listrik sedang mati. Jadi kondisinya kami benar-benar kegerahan dan harus minum jus mangga dan syamala (lagi). Sebenarnya gak masalah, tapi ada yang memalukan di sini. Ingat kan tadi pagi kami sudah makan di masjid? Karena tadi habis menyantap puri bhaji, kami tidak habiskan suguhannya, takut kenyang dan berakhir gak bisa makan siang. Pak Syafi sekeluarga menemani kami makan dan kami saling melempar bahan obrolan.

Saya pun sebenarnya bingung, Pak Syafi menunggu apa kok gak segera ajak ke meja makan saja? Ternyata eh ternyata, Pak Syafi sekeluarga menunggu kami menghabiskan si makanan pembuka itu dulu dong baru bisa makan siang. OMG OMG. Pantas saja saya mendengar Pak Syafi berdecak saat saya mencoba membuka pembicaraan lagi yang mungkin menurut beliau, saya bertele-tele. Akhirnya saya minta izin untuk menghabiskan ini nanti dan kita bisa mulai makan besar.

Anak bontot Pak Syafi.

Bu Syafi menyajikan banyak makanan. Ada daging mutton dimasak gulai, milkcheese bumbu balado, opor ayam, dan buah mangga. Banyak hal yang menarik ketika kami makan bersama. Meja makan dibuat lesehan, kami berdua diberi bantal untuk alas duduk. Bu Syafi memberi taplak tambahan di mejanya dan semua orang duduk mengelilingi meja. Yang paling kelihatan dari mereka adalah, mereka makan nasi banyak sekali. Banyak! Seperti porsi nasi di warung padang, bahkan anak-anak mereka pun makan dengan porsi sebegitu banyaknya! Mereka duduk sambil mengangkat kaki kanan, melipatnya di depan dada, tangan kanan melingkari dan mengambil makanan. Mereka makan menggunakan tangan dengan kaki terangkat a la makan di warteg, dan makannya lahap sekali.

Mereka gak peduli dengan meja berantakan yang kotor karena ceceran nasi dan kuah yang tumpah. Mereka makan seperti itu adalah makanan terakhir yang mereka makan. Mereka juga gak terbiasa makan dengan sayur bening berkuah, makanya mereka mencampur mangga sebagai lauk pauk. Dan kalian harus tahu juga rasanya enak lho!

Kami sangat menikmati makan siang hari itu, meski perut sudah begah banget kepenuhan nasi yang ditambahkan Bu Syafi (dia akan sangat senang kalau kami nambah nasi, by the way). Jujur, semua masakan Bu Syafi sangat sangat enak. Saya bisa meyakinkan kalian semua sepanjang hari kalau masakannya sangat enak. Jadi tidak masalah kan kalau tidak ada foto? Hahahaha.

Sesi foto setelah makan. Sayang anak cowoknya gak mau difoto, malu malu kucing.

Saya betul-betul begah sampai ingin muntah, apalagi dengan porsi nasi sebanyak itu. Rasanya perut ini mau meledak. Jangankan kentut, sendawa saja gak bisa. Alhamdulillah. Berkah ramadhan. Setelah makan pun kami pamit karena Pak Syafi akan segera keliling untuk bertemu keluarganya. Untung jalan kakinya lumayan, jadi bisa nurunin makanan supaya bisa segera sendawa haha.

Saya harus bilang kalau lebaran pertama kami sebagai suami istri memang luar biasa. Nepal! Pokhara! Semoga ada kesempatan balik lagi ke Nepal untuk mengunjungi Pak Syafi sekeluarga.


Selamat lebaran dari Nepal!

2 comments

  1. Wiih... Lebaran nya istimewa... Ke Nepal berapa lama mbak? Treking juga kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin 11 hari (udah sama perjalanan). Gak pake trekking karena uangnya gak cukup hahaha jadi kami explore kotanya banget. Suatu hari mau balik lagi mau trekking :D

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.