SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Makanan Maha Enak di Nepal (dan juga Halal-Food Guide)

Menjadi orang yang suka mencoba makanan baru, berada di Nepal adalah anugerah. Ini bukan tentang mencoba makanan murah dan mau tidak mau saya harus menikmatinya dengan rasa syukur setinggi-tingginya. Tapi jujur, makanan di Nepal sungguh penuh kejutan. Gak ada satu kali pun saya harus makan obat maag atau teh manis untuk menetralisir rasa. Dan sebelum kalian menerima informasi berharga berikut ini, pahamilah beberapa hal.

Pertama, kalian akan menemukan kata-kata penuh penekanan yang akan banyak saya gunakan dalam menggambarkan kelezatan makanan disini, jadi bersiaplah. Kedua, hampir 99% makanan di Nepal enak sesuai kapasitas dan kualitas indera pengecap saya, jadi jika ada yang mau protes, simpan aja di kantong ya. Sudah siap? Kita mulai dari makanan di Pokhara dulu.

Pokhara

Masakan Tabasum

Saya, Mas Gepeng, Mas Marocco, dan Tabasum.

Di Pokhara, kami bertemu dengan orang muslim yang baik hati, yaitu Pak Syafi—yang mentraktir kami makan setelah solat id, dan Pak Rasshool Beigh, yang dua kali mengajak kami makan malam. Tabasum, anak pertama Pak Rasshool, sedang menempuh pendidikan masternya di Kasmir, India. Kebetulan saat itu ia sedang libur semester sehingga bisa menjenguk ayahnya, sementara ibu dan adiknya tetap tinggal di India. Pak Rashool meminta Tabasum mengajak kami makan malam dirumahnya, bersama dengan laki-laki dari Marocco yang namanya saya lupa ehehehe.
Makanan pembukanya adalah kudapan buka puasa yaitu ferni dan buah-buahan. Ferni adalah minuman yang dibuat dari campuran susu, gula, semolina (tepung suji), dan dried fruits seperti kismis dan almond. Rasanya enak! Dan mengenyangkan! Mirip kayak minum (atau makan?) sereal. Berhubung saya sudah intip dapurnya Tabasum dan melihat banyak masakan yang sudah disiapkan, firni saya habiskan dan tidak sentuh buahnya banyak-banyak. Takut kenyang duluan. Berikut masakan-masakan Tabasum yang saya coba.

Saya menyebut ini sambal a la Nepal (atau India kali ya). Telur, tomat, cabai, dan bumbu-bumbu dicampur jadi satu jadilah kayak cocolan sambel. Percayalah, ini pedas naujubilah! Sebenarnya saya ketagihan karena enak banget, tapi pedasnya luar biasa, saya tidak kuat. Yang membuat sambal ini spesial adalah karena dia berbahan dasar telur, jadi seperti scrambel egg pedas, teksturnya lembut sekali.

Kita sebut saja ini semur ayam. Gak tahu berapa lama Tabasum memasaknya tapi bumbu karinya benar-benar meresap sampai ke tulang-tulang ayam (saya tahu karena tulangnya saya kunyah juga haha). Selain ayam, semur ini berisi kentang dan bawang bombay. Karinya enak, sedap, tapi sedikit terlalu asin hehe.

Ini semacam sayur yang Tabasum sendiri gak tahu juga nama daunnya apa haha. Sayur daun ditumis dengan bumbu kari yang lumayan manis, lalu dicampur ayam dan diungkep sampai harum. Daunnya sedap, seperti kangkung dan jika dimakan bersama ayam, rasanya seperti memakan ayam rempah basah dengan balutan rasa manis dan gurih.

Masakan ini memakai daun yang sama, bedanya kali ini dimasak sebagai sayur bersama kentang. Bumbunya lebih gurih dan pedas, dan ada tambahan sayur apa gitu saya lupa. Ini enak lho! Sebagai pecinta kentang saya sangat terharu bisa makan kentang seenak ini. Jika diperhatikan, sebenarnya bumbu dasar yang digunakan terlihat dan terasa sama, hanya saja beda di kadar kuantitasnya saja.

This one is my personal favorite and won my own award of the best food I've tried in Nepal. Pernah kah kamu membayangkan keju yang padat seperti tahu kukus, teksturnya lembut, dan dimasak bersama gulai pedas? Masakan ini spesial sekali. Enaknya tidak terduga. Jika pengecapmu hanya mengenal keju sebagai produk susu yang selalu diolah manis atau creamy atau crunchy khas baked pasta, maka saat mencoba masakan ini, kamu seolah menemukan harta karun.

Kita beralih dari bumbu yang menyala ke bumbu yang lebih soft. Saya sebut ini opor a la Nepal—pas kan ya nuansa lebarannya. Bahan utamanya daging domba (mutton) yang lembut, dengan kuah opor yang tidak terbuat dari santan seperti biasa kita menyajikannya di Indonesia, melainkan yogurt. Rasanya unik sekali. Asam gurih yogurt mixed bumbu masala yang ringan, lalu direbus hingga aroma khasnya menyeruak tajam membuat kita lupa bahwa daging domba seharusnya berbau anyir.

Kembali dengan bumbu merah, kali ini yang lebih kental namun tidak begitu pedas. Bola-bola daging (saya lupa ini daging sapi atau domba) dimasak bumbu balado yang persis seperti bumbu buat milkcheese tadi. Kepadatan dagingnya pas sekali dan tanpa dikuahi pun rasanya sudah nikmat karena bumbu masala juga dicampurkan pada cincangan daging. This is also a masterpiece. Rasanya ingin bungkus wkwk.

Naaah ini satu-satunya yang saya tidak suka (1% itu tetap ada kan? Haha). Ini adalah teh dari Kashmir, India. Tehnya berwarna pink dan rasanya asin. Iya betulan. Asin! Unik sekali ya. Benar kah orang Kashmir minum ini untuk menghangatkan diri? Apakah mereka tidak tahu ada yang namanya jahe merah? Tabasum bilang rasanya seperti sup, buat saya ini seperti, emm, benda asing.

Berikutnya adalah tempat makan langganan kami di Pokhara, yang letaknya gak jauh juga dari penginapan, sekitar 10 menit jalan kaki. Namanya Pokhara Halal Food Land. Semula kami kira ini semacam food court karena namanya "land", tapi ternyata satu buah tempat makan, dalam suatu kompleks yang isinya penjual macam-macam. Kesamaannya adalah mereka semua di komplek ini muslim.

Jika saya tadi bilang bahwa tahu milkcheese memenangkan penghargaan nomor satu, maka di posisi dua adalah buff momo. Selama di Pokhara, saya sepertinya sudah pesan buff momo halal disini sekitar 5 kali dan lezatnya ajaib banget. Momo adalah dimsum a la Nepal yang bentuknya seperti buah persik. Isiannya bisa daging sapi, kerbau, atau ayam, dan penyajiannya bisa disteam atau digoreng. Kerennya di tempat ini, momo made by orderjadi akan disajikan saat hangat dan ngebul-ngebul (itu adalah saat momo jadi enak seenak-enaknya).

Selain momo, yang selalu saya pesan di sini (dan tempat lain) adalah masala tea. Kalau saya perhatikan papan reklame yang tersebar, masala adalah semacam main ingredient atau bumbu sakti makanan/minuman Nepal. Nah yang dijadikan teh ini adalah salah satu yang terenak. Rasanya seperti Thai Tea dan teh tarik, tapi lebih lembut dan creamy

Masala tea my love.
Buff momo alias momo daging sapi yang disteam. Jangan lupakan saus cocolan asam pedasnya, so good!
Salah satu menu makanan berat, namanya choewmien alias mie tumis. Mie dengan tekstur mirip spaghetti dan ditumis bisa pakai ayam (NPR250), daging sapi (NPR200), daging domba (NPR350), telur (NPR225), dan juga sayur-mayur (NPR190).


Setelah makan, biasanya restoran selalu menyediakan mouth freshner—biasanya ditempatkan di meja kasir. Mungkin karena masakan di sini menggunakan banyak bumbu, jadi perlu mouth freshner supaya mulu kembali segar dan terasa bersih. Mouth freshner ini isinya ada gula batu, souffdan sesuatu yang mirip batang pohon. Kunci kesegaran sebenarnya ada pada souff yang rasanya seperti mint tapi lebih herbal. Untuk mengimbangi rasanya yang strong, tambahkan gula batu. Ini gratis kok tenang saja, minta bungkus juga dikasih.

Mouth freshner. 

Breakfast Menu Grand Holiday Hotel Pokhara

Di hotel tempat saya dan Mas Gepeng inap di Pokhara, memili berbagai pilihan breakfast menu yang beragam mulai dari yang tradisional a la Indian dan Tibet, ada juga yang internasional. Kami mencobanya bergantian, ada yang di makan saat pagi, ada juga yang disimpan sampai waktu buka puasa tiba (alhamdulillah wkwk). Menu-menu favorit saya adalah...

Indian Breakfast ini menu utamanya adalah puri si roti gembul yang dipanggal di dalam tong, lalu cocolan bhaji alias kari kentang kental dan sangat berbumbu. Ini benar benar enak. Paling nikmat dimakan saat masih panas, jadi rotinya masih renyah.
Tibetan breakfast adalah pilihan sarapan manis dan butuh effort mengunyah lebih. Kenapa? Roti Tibetnya padat banget dan sedikit alot, jadi kenyang sampai siang. Cocolannya bisa pilih antara madu, butter, atau selai.
Tips untuk menjaga makanan yang disimpan di kamar hotel supaya gak disemutin.
Selain menu-menut tadi, hotel ini juga menyajikan makanan lain seperti momo, bubur, muesli, papad, alu sadeko, beer, soup, vegetarian Nepali Thali (isinya kari sayur, nasi, salad, yoghurt, acar), vegetarian Indian Thali (sama kayak versi Nepali tapi tambah chapati), macam-macam kari, makanan Itali, chowmien, dan sebagainya.

Makan sarapan western di atap hotel biar keren hahaha.

Kathmandu

Al Madina

Salah satu tempat makan halal yang bisa saya rekomendasikan ketika kalian stay di Thamel adalah Al Madina. Tempatnya gak sengaja ditemukan saat pulang dari Kathmandu Durbar Square jadi saya gak bisa kasih penjelasan detail arahnya dimana. Kami makan disini dua kali dan rasanya selalu enak, jadi sudah teruji kualitasnya ya hahaha. Tempat ini sederhana, mirip warung makan bakso. Tapi meskipun begitu, mereka juga punya 'ruang premium' yang letaknya di belakang warung utama yang lebih cakep.

Daging sapi disini digiling, dibumbui, dibentuk gulungan seperti guling, lalu dimasak. Apa yang membuat dia spesial? Minyak daging yang secara alami keluar saat dipanggang! Jika saya bisa rangkum tentang daging ini, pertama ya, dagingnya empuk dan bertekstur. Kedua, bumbunya pas sedap dan sangat legit. Ketiga, harganya murah. Keempat, porsinya banyak. Serius makan daging ini 4 gulung saja sudah kenyang.

Versi daging ayam, rasanya lebih light dan tekstur daging lebih tipis.
Versi daging domba/mutton. Tidak terlalu bold seperti daging sapi, tapi gurihnya sedikit berbeda dan teksturnya sedikit lebih kering

Makan daging menggunakan nan(roti). Selain butter, nan juga ada yang bawang putih, keema, dan plain. Jika ingin menambah sedikit asupan karbo dengan gurih protein yang rich, paduan ini sangat pas.

Makan daging gulung tadi juga tambah asyik dengan cocolan hijau ini. Saos minty segar dengan cacahan dedaunan menciptakan rasa gurih yang segar, seperti acar namun gak terlalu asam.


Selain daging gulung yang murah meriah itu, Al Madina juga punya salah satu menu jagoannya yaitu chicken seekh kabab alias ayam ungkep panggang bumbu merah yang sangat kering namun dagingnya tasty tiada dua. Rasa ayamnya tuh seperti seafood, seperti makan kepiting, kok bisa begitu ya. Harganya lumayan mahal kalau tidak salah NPR250—mahal yaa buat kami haha. Kalau lagi ke Thamel, pastikan kamu coba ayam ini ya. You can thank me later.


Ayam goreng merah rasa kepiting.

Satu-satunya tempat makan yang agak berkelas yang kami sambangi saat di Kathmandu adalah Shafqat Halal Restaurant. Tempatnya bagus, benar restoran lah bukan warung makan bakso hahaha. Kami makan disini tiga kali (saking sukanya) itu juga kami jatuh cinta pada sajian-sajian mereka yang luar biasa. Menu favorit saya adalah nasi gorengnya. Kenapa? Karena dia murah haha. Tapi yang benar-benar membuat saya melayang adalah kebabnya.

Kebab di sini gak kayak yang dibungkus roti gitu, tapi lebih kayak sate daging dibakar dan disajikan tanpa tusukannya. Daging, bawang bombay, paprika, tomat, dipanggang dengan berkali-kali dioles saus merah yang khas, lalu disajikan dengan saus minty segar. Yummy! FYI kata teman saya yang tinggal di Dubai, saus yang biasanya dicocol kebab itu adalah yogurt yang diblend sama daun rempah corriander.

Selain itu, variasi kebab di sini banyak dari yang dikuahin, sampai ada juga yang lapis telur dadar. Semuanya disajikan dengan salad dan saus mint. Kalau gak suka kebab, bisa makan daging kari. Kamu bisa pesan kari sebagai lauk utama atau cocolan roti. Kari di sini teksturnya mirip bumbu rendang, tapi rasanya jauh lebih mild.

Kebab ayam panggang yang harumnya seperti surga.
Versi kebab yang lain yaitu lapis telur dadar. Kombinasi menarik.
Kari ayam
Kari ayam dinikmati dengan nan. Bumbu kari gak pedas namun sangat berbumbu sesuai takarannya.
Nasi goreng yang sudah saya take awaydua kali karena rasanya enak! Nasinya banyak, sayurnya banyak, dagingnya juga banyak, rasanya gurih dan dasar bumbu masala, nasi goreng ini benar-benae berada di level yang berbeda. Oh coba juga nasi gorengnya disiram saus minty deh!

---

Yaaaa itu dia semua makanan yang menyenangkan perjalanan kami di Nepal. Bagaimana? Mana yang kira kira akan kamu makan kalau kamu pergi ke Nepal? Atau ada yang pernah cobain makanan Nepal lainnya? Ceritain dong!

Salam dari momo hangat untukmu~

8 comments

  1. Enak enak bangeet kayaknyaaa.. Baca ny pas lg laper lg, makin aja ngiler.. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak banget Mbak Ichaaaa :D Makanan di Nepal gak ada yang mengecewakan

      Delete
  2. Yummi banget nih bim.. Apalagi kalo dapat suvenirnya wkwkwk.. :p

    ReplyDelete
  3. Setuju soal enak dan murahnya, kami sekeluarga baru dari Nepal awal tahun ini. Sayang kami tidak menikmati sebanyak yang Mbak ceritakan. Tapi overall saya puas dengan pengalaman selama di Nepal, khususnya menikmati Himalaya dari Sarangkot + penerbangan 1 jam dengan Buddha Air mengelilingi Himalaya dari atas. Thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget keliling melihat Himalaya! Pasti indah banget ya ngebayanginnya aja saya berkaca-kaca :') Saya bakalan balik kesana lagi untuk main ke Himalaya

      Delete
  4. Iya Mbak, alhamdulillah. Kami naik 18 seater plane baling2. Masing2 duduk di samping jendela, setiap orang dapat kesempatan masuk cockpit dan terima penjelasan dr pilot ttg nama2 puncak Himalaya. Sungguh terasa, betapa kecilnya kita. Saat mendarat, kami masing2 mendapat sertifikat telah terbang di atas Himalaya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. What a magical experience! Seru yaa! Saya langsung googling foto-foto puncak Himalaya, terharu lihatnya apalagi Mas Arie sekeluarga melihat langsung :)

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.