SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Shree Gha Gumba dan Swayambhunath yang Super Eksotis

Memiliki waktu kurang dari dua minggu membuat kami membatasi kota yang akan dikunjungi, yaitu Kathmandu dan Pokhara. Tapi dua tempat ini saya sudah kasih pengalaman buanyaaak buanget.

Di Kathmandu, kami tinggal di kawasan Thamel karena lokasinya dekat ke mana-mana, tempat menginap banyak yang murah, merupakan lokasi touristy (ditandai dengan banyaknya kedai makan, toko souvenir, dan bule nongkrong), dan banyak rumah makan halal tersedia disini. Di Thamel pun kami melihat banyak gambaran kehidupan sehari-hari Nepali.

Pas pertama kali datang, kami menginap di Khangsar Guest House di pinggir jalan besar Thamel. Kami suka sekali duduk santai di atap guest house saat pagi. Dan kalau kamu ke Nepal juga, pastikan kamu juga coba menghabiskan pagi di sini. Kenapa? Karena saat pagi, banyak aktivitas menarik yang dilakukan Nepali.

Misalnya nih kami melihat ada seorang ibu yang membunyikan lonceng dari atap rumahnya yang ternyata itu untuk memanggil burung-burung merpati. Kleneng kleneng kleneng. Seketika kerumunan berbulu itu datang dan si ibu memberikan makanan. Terus terdengar lagi suara lonceng dari rumah lain lalu burung-burung itu berpindah. Seru banget. Selain memberi makan burung, atap rumah juga jadi tempat Nepali berdoa.

Pemandangan Thamel yang penuh dengan bangunan flat. Lucu ya warna warni.
Tempat ibadah sekaligus jadi tempat kumpul burung-burung merpati.

Tapi saya bukan mau fokus cerita soal kawasan Thamel, melainkan tempat-tempat menarik yang bisa dijangkau dari Thamel, dari yang ditemukan secara sengaja maupun tau tau ada aja haha. 

Shree Gha Gumba (डुगन-जाञ्चु गोम्पा)

Shree Gha: Shanti Ghat Bajradhatu Mahachaitya kami 'temukan' ketika lagi jalan kaki keliling Thamel. Saya agak lupa arahnya dari mana jalan ke mana, tapi dia ada di jalan Chandraman Maskey dan gapuranya kelihatan kok dari jalan utama. Kalau gak nemu, ya bisa tanya orang sana saja haha. Shree Gha adalah sebuah biara Buddha yang tersembunyi di gang terpencil, yang isinya gak cuma ada biara Drubgon Jangchup Choeling tapi juga tempat ibadah, temple, dan stupa-stupa.

Kawasan ini selain jadi tempat ibadah, juga merupakan bagian dari kehidupan harian Nepali mulai dari anak-anak sekolah, orang berjualan di warung, juga ratusan burung merpati. Banyak rumah tinggal yang untuk menuju ke sana, perlu lewati biara ini, jadi situasinya akan ramai apalagi saat jam jam produktif.

Masuk ke sini gratis dan gak ada juga yang minta sumbangan sukarela. Tapi karena ini tempat ibadah, kita harus jaga ketertiban ya. Jangan nyampah, jangan berisik, burung merpatinya jangan ditangkapin apalagi ditepokin biar kawin.

Burung merpati penghuni setia biara.
Stupa stupa kecil
Stupa yang agak besar, jumlahnya gak sebanyak stupa kecil, dengan patung dewa berbeda di tiap sisinya
Wihara juga tempat sekolah biksu biksu
Salah satu tempat berdoa.

Di bagian tengah Shree Gha,  ada Kathesimbu Stupa yang menjadi kuil terbesar dan paling utama.  Stupa ini sangat colorful dengan Mata Kebajikan Sang Buddha di atasnya, prayer flag, lumut yang mulai memenuhi dinding, juga tingkatan-tingkatan menara, sungguh sungguh eksotis.

Sebenarnya Mata Kebajikan Sang Buddha ini ada di mana-mana. Orang Nepali percaya bahwa Buddha selalu mengawasi, jadi jangan berani-berani berbuat jahat. Nepali melukis mata Buddha di dinding kuil, dinding gang, pintu rumah, kaca jendela, lalu mengukir juga di pintu rumah ibadah, pun stiker-stiker mata Buddha menempel di bus-bus.

Kathesimbu Stupa, kuil utama di Shree Gha, yang membuat saya merasa yaquin kalau memang sedang berada di Nepal haha.
That hipnotic eyes, dan hidung seperti tongkat jin kura-kura. Eh, maaf Buddha.
Avalokiteshvara Statue



Swayambhunath (स्वयम्भूनाथ स्तुप)

Swayambhunath adalah sebuah kompleks peribatan tertua di pinggir barat Kathmandu. Nama lainnya adalah Monkey Temple, dan merupakan salah satu alasan utama saya bersemangat pergi kesini dengan jalan kaki dari Thamel, berhenti sebentar di sekitar Jembatan Sobhavagbati untuk berteduh dari hujan, lalu lanjut jalan lagi menanjak, dan pas sudah sampai kuil, saya masih harus menaiki ratusan anak tangga demi melihat monyet-monyet di salah satu tempat yang sangat atraktif di Kathmandu.

Kuil ini besar dan luas. Ketika sampai, kamu akan melihat jejeran gerbang yang terdiri dari kuil-kuil, tembok ukiran dewa dewi, juga paryer wheels. Gak lupa prayer flags tergantung hampir di seluruh bagian gerbang, membuat nuansa gerbang makin meriah.

Salah satu kuil kecil di gerbang bawah Swayambhunath.
Ukiran dewa dewi. Keren sekali dan pemilihan warnanya cakep!
Prayer wheels yang dilukis warna warni. Kalau kamu lihat ini, putar semuanya serentak ya.

Setelah menikmati gerbang, saat masuk ke halaman utama dan mulai lah naik 365 tangga-tangga kecil. Secara umum sih  tangganya gak curam, apalagi di bagian awal-awal ada banyak lapak penjaja seperti kaos, kerajian ukiran, gelang kalung, rajutan, minuman dingin, dan lain-lain.

Di sini disediakan toilet umum gratis, kalau gak salah ada tiga pintu. Tapi saran saya sih tahan aja lah kalau kebelet pipis, atau mending pas sebelum ke stupa, sudah dihabiskan itu isi perutnya karena toilet umumnya bau banget!

Saya sejujurnya gak tau dia ini pengemis atau pendeta atau pekerja seni atau apa ya hahaha.
Patung-patung Buddha di tengah anak tangga.
Stupa stupa kecil di mana mana.

Saat sudah dekat ke atas, ada loket karcis di sebelah kiri. Petugasnya satu orang standby di dalam, satunya lagi di luar untuk mengecek tiket. Kenapa loket tiketnya di atas sini mungkin karena sudah naik susah payah, masa mau turun lagi hanya karena gak mau beli tiket kali ya. Agak menjebak, tapi bisa juga kok gak beli. Ya bisa apa gak tergantung amal ibadah, saya dan Mas Gepek sok pura-pura gak tau lalu jalan terus hahaha.

Dan akhirnya sampailah kami di  puncak Swayambhunath!



Saat berdoa mengitari stupa, orang-orang juga akan memutar prayer wheels searah jarum jam
Semua yang ada di atas sini sangat atraktif. Kubah putih stupa utama mewakili rahim penciptaan dengan pelangkap phallik di menara persegi. Di setiap sisi dinding terdapat sepasang mata Buddha, yang diantaranya alisnya ada mata ketiga Buddha, yang konon dapat mengeluarkan sinar kosmik yang dapat mengurangi penderitaan masyarakat selama Buddha berkeliling untuk berdakwah. Sedangkan untuk hidung Buddha yang tergambar melingkar, hal itu serupa dengan tulisan Nepal untuk angka 1, dengan filosofi simbol persatuan melalui ajaran Buddha.

Postcard template
Di atas kubah tadi, ada tiga belas undakan menara yang menunjukan tahapan perjalanan yang harus ditempuh makhluk hidup untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi. Eh tau gak, Raja Ashoka pernah main kesini lho dulu pas abad ke-3! Tau Ashoka kan? Ituuu Ketua Kekaisaran Gupta yang serialnya ada di ANTV, yang Ashoka muda-nya diperankan oleh adek ganteng berotot bernama Siddharth Nigam. Kalo gak tau, coba tanya mamamu.

Harati Devi Temple, adalah bangunan yang didedikasikan untuk dewi Hindu penyakit cacar, juga dewi pembela perempuan dan anak-anak. Bagi siapa saja yang mencari berkat, akan melemparkan beras, kelopak bunga, bubuk berwarna, dan air suci diatas gambar Harati atau mangkuk kuningan besar. Setelah itu, dia akan menerima tika dari imam penduduk. Nanti monyet, anjing liar, dan burung merpati pada berebut makanan itu semua.

Percaya gak, anjing disini kalah galak sama monyet hahaha. Beware of the monkey. Eh tapi monyetnya gak suka iseng kok. Itu karena makanan untuk mereka selalu tersedia, jadi gak perlu nakalin manusia untuk dapat makan.

Dua candi berbentuk seperti roket yang terdapat di setiap sisi stupa dikenal sebagai Pratappur dan Anantapur (mungkin mereka kembar). Konon dua candi ini merupakan pemberian Raja Pratap Malla sebagai usaha mendapatkan kemenangan atas Tibet di abad 17  lalu (dan doi menang!). Kebanyakan orang kesini juga mengincar pemandangan kota yang dilihat dari ketinggian. Orang-orang berebut foto dengan lanskap kota padahal hari itu sedang mendung.

Saya bersama stupa favorit karena warnanya merah. Ya untung merah, kalau kuning nanti saya bawa pulang.



Selain dua stupa maha atraktif itu, masih banyak hal yang kami temukan di hari terakhir kami di Nepal salah satunya Garden of Dreams. Seorang teman yang pernah naik pegunungan Himalaya mengatakan kalo kami ke Nepal, kami harus mengunjungi Garden of Dreams. Pas mau masuk, saya kaget ngeliat harga tiketnya. Agak lupa berapa tapi akhirnya bikin kami males juga masuk. Isinya taman, yaaa taman. Ada juga kafe untuk anak-gaul-menengah-atas Nepal. Saya duduk aja di pinggir ngeliatin siapa aja yang masuk dan keluar Garden of Dreams.

Yaay tulisan tentang tempat-tempat di Nepal akhirnya mencapai garis finish! Buat yang ketinggalan, saya udah cerita banyak mulai dari sampe ke Tribhuvan International Airport, main-main di Kathmandu, oh ke Kathmandu Durbar Square juga, arung jeram di Sungai Trishuli, santai-santai di Pokhara, lebaran juga di Pokhara, tempat-tempat wisata yang kami kunjungi selama di Pokhara, juga nanti akan saya berikan sebuah laporan tentang semua makanan yang kami makan mulai dari Thamel sampe Pokhara. Jika ada informasi tambahan yang ingin kalian tanya tapi belum saya ceritakan disini, silahkan tinggalkan komentar atau kirim e-mail. Saya akan sangat senang jika bisa membantu :)

No comments

Post a Comment

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.