SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Bertemu Bob Marley di Thailand dan Dia Bertanya, 'Apakah Kamu Bahagia?'

Tulisan panjang ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan standar tapi tak jarang orang-orang menjadi bingung menjawabnya. 'Apa yang membuat kita jatuh cinta pada sebuah tempat?' Teman saya yang baru pulang dari Swiss mengatakan bahwa pemandangan di sana adalah yang membuatnya jatuh cinta. Adalagi yang mengatakan karena negara itu indah dengan budaya dan kesederhanaannya, sebagai alasan dia mencintai Nepal. Lalu apa yang membuat saya jatuh cinta dengan Bangkok?

Meski datang di titik di mana banyak sekali orang yang menikmati makan malam dan suasana ramai di Khao San Road, tapi Bangkok sebenarnya menyentuh saya dengan hal yang lebih sederhana, yang lebih mudah, dan tidak membuat pusing. Seperti suara Natalia Lafourcade di lagu Alma Mίa, ah tapi kan ogut lagi di Bangkok, bukan Amerika Latin—dan sulit mencari lagu lembut berbahasa Thai, terlalu banyak khrab khrab dan tidak terdengar nyaman sama sekali, tahu kan yah maksudnya? Wkwk. Perjalanan ke Bangkok merupakan salah satu yang cukup membahagiakan buat saya. Begini alasannya.


Kucing liar menerima donasi

Kami sampai di Bangkok malam hari dan tidur lebih awal sekitar pukul 9. Esok paginya, kami bersemangat dan berjalan-jalan keliling untuk mencari sarapan dan menikmati aktivitas pagi warga lokal. Tak di sangka, yang banyak menyambut malah kucing-kucing liar yang sehat, bersih, dan ramah. Hampir di setiap sudut ada kucing liar, apalagi jika di kuil, tempat makan, dan masjid.

Kabar menggembirakan bahwa kucing liar di Bangkok memiliki kehidupan yang baik. Mayoritas semua dalam berat badan cukup dan menerima kasih sayang. Senang sekali rasanya. Bahkan saya berencana membuat sebuah tulisan dokumentasi semua kucing yang ditemui di Bangkok dan saya ingat Mas Gepeng sempat mengeluh, "Ketemu kucing, foto, ketemu kucing, foto" padahal kami masih harus menempuh perjalanan. Foto kucing memang tidak pernah berakhir hanya foto saja, sekalian elus-elus gendong-gendong sayang-sayang dong!

Kucing yang tak ingin disayang, langsung kabur padahal baru di ckckck-in saja. Meski langsing dan warna bulunya acakadut, tapi dia bersih lho.

Tidak ada daftar negara paling ramah kucing liar di dunia di Google, tapi jika saya bisa meretas sistemnya dan membuat list itu menjadi trending, mungkin Bangkok ada di sepuluh besar, lalu ada juga Turki, Rusia, Jepang, dan mana lagi yha? Taiwan?

Selain kucing-kucing manjah itu, ada sesuatu yang sangat SANGAT menghangatkan hati yaitu kotak donasi untuk kucing liar. Mungkin kita sendiri sudah sangat familiar dengan organisasi atau gerakan masyarakat yang menyelamatkan kucing dan anjing terlantar, merawat, memelihara, open adopt, dan siapa saja yang ingin membantu bisa transfer sejumlah dana ke rekening atau via PayPal. Tapi kotak donasi? Yang mana kita bisa setiap hari menaruh receh yang banyak di sana, baru saya temui di Bangkok. Terharu qu dibuatnya~

Kucing liar di kolong meja makan, nongkrong menunggu sumbangan daging ayam yang tidak habis dimakan, atau ya sekedar elusan ringan karena badannya sudah cukup gemuk.
Kotak donasi untuk beli makanan kucing. Tak tampak aman seperti kotak amal masjid, tapi semoga tidak ada kampret-kampret yang ambil uangnya.

Berbagi WiFi, berbagi kebahagiaan

Di hari-hari berikutnya dalam perjalanan menuju mall, saya dan Mas Gepeng duduk di bagian paling belakang bus lokal butut. Saya ingat sekali itu hari Jumat, dan kami makan siang di gang Masjid Chakkaphong selepas Mas Gepeng solat. Ternyata neraka bocor pas Jumat siang bukan lah fenomena spesial di Jakarta, tapi di Bangkok juga. Panash. Banget. Sumpadah! Makanya setelah makan, kami tak butuh apa-apa lagi selain AC dingin demi baju dan ketek tetap kering sepanjang hari.


Bus siang itu berlantai kayu dan rangka buluk. Tata letak kursinya dua satu dan bagian belakang ada 5 kursi, mirip MetroMini lah ya. Hanya yang ini asap knalpotnya masih abu-abu. Saat bus berhenti di suatu halte, ada seseorang yang naik dan minta duduk di ujung kursi belakang dekat jendela. Dia membawa carrier lumayan besar, mengenakan celana pendek kargo, kaus hijau kuning biru dengan slayer dilehernya.

Satu hal yang paling mencolok, dia banjir keringat. Benar-benar banjir! Dari hidung, alis, pipi, bibir, dagu, telinga, rambut, leher, tangan, semuanya basah! Untungnya tidak bau badan, untung sekali wkwk. Kami pun mempersilahkan karena dia adalah satu-satunya orang yang butuh angin segar siang itu.

Bus lokal yang membawa saya bertemu Pak Jepang. Sebenarnya Pak Jepang ajak kami foto wefie, too bad saya tidak melakukan hal yang sama. Semoga dia masih menyimpannya meski saya tampak bapuq sekali di situ wkwk.

"Dari mana, Pak, asalnya?", tanya saya memecah hening. "Oh, Jepang. Ah, kamu?", dia menjawab sambil terus mengelap keringat dengan sapu tangan yang sudah lepek. Seandainya saya bawa kanebo~ "Saya dari Indonesia. Baru sampai yah? Mau ke mana, Pak?" tanya saya kepo. Saya bertanya karena dia tampak bingung membaca peta dan sangat keringatan. Sepertinya butuh bantuan. Tambah lagi bahasa Inggrisnya tidak lancar dan dia traveling sendiri.

Dia menuju hotel yang sudah dibooking dan menunjukkan alamat serta step by step menuju ke sana dari bandara yang di email oleh pihak hotel. "Saya tidak tahu ini di mana, dan saya tidak bisa connect internet, tidak ada WiFi," katanya. Saya hanya melongo, bisa-bisanya dia jalan sendiri all the way from Japan dan tidak bawa portable WiFi dan tidak beli SIM Card di bandara dan tidak tahu di mana hotelnya dan dia naik bus! Savage binggo uyeaa!

"Hey, pakai WiFi saya saja nih. Saya akan berbagi. Mana hengpong-nya sini connect ke saya," tawar saya ke si Pak Jepang. Dia pun kaget dan terkagum-kagum haha. "Sudah nih, Pak. Sekarang tinggal cari via GoogleMaps, atau hubungi orang hotel. Cari tahu juga halte terdekat hotelnya ya, Pak." jelas saya. Percakapan ini tak semulus yang kalian baca gaes, bahkan untuk menjelaskan beli SIM Card di 7-Eleven saja saya harus pakai bahasa tubuh berlebihan dan menyampaikan bahasa Inggris yang dipakai untuk ngomong ke kasirnya.

Pak Jepang kemudian menunjukan layar GoogleMaps-nya bertanya di mana titik ini berada. Yamplooop Pak baca GoogleMaps saja susah, Pak. Anda ini tinggal di mananya Jepang sih HAHAHA. Core of the core alias inti daripada inti, hotelnya masih di depan sana. Setelah agak lega dan mengucapkan terima kasih, dia kemudian menghela nafas panjang dan bisa merebahkan punggungnya ke kursi lalu menatap keluar sambil mengelap keringat (teteuuup).

Beberapa saat kemudian, terdengar ada bunyi krenceng-krenceng tanda mbak kernet keliling tarik ongkos bus. Mbak kernet tidak tagih si Pak Jepang (karena dia nagih yang sudah tampak ingin bayar) padahal saya tahu sekali dia belum bayar dan Pak Jepang tampaknya tak paham dengan konsep kernet lha di negaranya cashless semua transportasinya.

"Pak, belum bayar bus kan?" "Ah iya belum. Gimana bayarnya? Berapa yang harus saya siapkan?" Saya menyebutkan angka dan dia menyiapkan uang lembaran dan menggenggamnya  kuat-kuat. "Pak, itu kebanyakan kalau segitu, nanti kembaliannya susah. Koin saja, yang seperti ini, ada?" Dan dia mengambil koin dari dompet kecilnya yang tersimpan aman di kantong celana kargo. "Aah ada!" ucapnya senang.

"Eh, Pak, turun depan situ ya, nanti jalan dikit ke sana tuh," saya mengingatkan si Pak Jepang dan setelah say goodbye, dia berjalan melewati para manusia yang berdiri. Eh dia belum turun, busnya sudah jalan MUAHAHAHAHA. Drama banget hidup lau Paaaak! Dia pun akhirnya turun di halte berikutnya dan ketika bus sudah jalan lagi, dia mendongak ke arah kami dan menunjukkan koinnya masih tergenggam. Hasembuh Pak.

Masih tersisa khawatir, rasanya ada yang salah. Bukan kah sebaiknya kami temani dia sampai hotel? Seperti yang dilakukan sepasang kekasih saat saya kebingungan cari hostel di Korea Selatan. Tapi Pak Jepang sudah dewasa dan saya sangat menghargai rencana besarnya kesasar saat solo traveling ke Bangkok tanpa internet, SIM card, dan kipas angin elektrik—saya kan tidak rencana kesasar di Korea, orang bawa portable WiFi wkwk.


Pak Jepang ini usianya tak muda, mungkin sekitar 37 dan dia berani-beraninya cabut dari Jepang pergi ke Bangkok yang jauh betul dari segi cuaca, makanan, kebersihan, dan kemudahan transportasi dengan bekal seadanya dan kemampuan bahasa inggris pas-pasan. Salut, meski kesal juga kenapa tidak well-prepare sih haha. Dan membantunya meski sedikit rasanya senang sekali. Satu hal yang saya pelajari hari ini adalah happiness is only real when shared, so does WiFi.

Are you happy?

Di pinggir jalan pusat kota Bangkok, ada sebuah ruko berdinding hitam dengan ornamen daun ganja warna merah kuning hijau, juga berbagai asesoris seperti kain-kain, kalung kayu, beberapa foto, dan lampu neon yang letaknya tak beraturan. Ada sofa hitam yang tampak nyaman, dan di depannya ada meja dengan beberapa botol minuman dan asbak penuh dengan puntung rokok. Lalu ada bar kecil dengan beberapa pajangan foto penyanyi reggae dan akhirnya saya tahu, "Waw, rumahnya Bob Marley nich!"

Saya melewati ruko itu hampir setiap hari karena posisinya ada di antara Khao San Road dan hostel. Ingin mampir, tapi takut. Takut apa? Kalau disuguhkan rokok tapi tak bisa menghisapnya, disuguhkan minuman tapi tak bisa meminumnya, disuguhkan suntikan malah saya buat main dokter-dokteran. Duh pikiran saya terlalu negatif, itu tidak baik.

Sampai akhirnya saya berada di 7-Eleven untuk beli minuman dingin dan di situ lah saya bertemu jelmaan Bob Marley yang hendak membeli bir dingin. Saya mengantre di belakangnya, memperhatikan rambut gimbal medusanya, kaus hitam bulak kebesaran, celana hitam menutup mata kaki, juga pundaknya yang lesu. Merasa diperhatikan, Bob membalikan badan dan dia berkata, "Hei!" Spontan saya menjawab, "Hei, Bob!" Lalu dia balik badan. Tak lama dia tengok lagi ke belakang dan berkata, "Hei, are you happy?"

The night after we met Bob Marley gadungan, hujan-hujanan mencari kaus kaki.

Dengan nada bicara teler dan pandangan mata redup nan mengantuk, dia bertanya hal yang mungkin bisa saya jawab dengan mudah, mungkin juga susah. Wajahnya begitu lelah, kulitnya turun dan matanya merah. Saya yakin dia memang sedang teler-telernya dan mungkin itu satu-satunya bahasa Inggris yang bisa dia ucapkan kepada orang asing. Hemm, atau memang dia bertanya hal itu karena merasakan sesuatu? Dunia memang penuh misteri.

Setelah bayar, Bob langsung pergi. Langkahnya gontai tapi masih bisa melewati anak tangga menuju jalan utama dan berjalan ke rukonya yang berjarak sekitar 10 menit. Saya tidak memikirkan kenapa Bob bertanya hal itu, tapi dia adalah orang asing pertama di dunia ini yang inadvertently care about my happiness. I don't even remember are my close friends have asked me that question. And I don't even remember either, when the last time I ask that question to someone, to my families, or my husband.

Do you travel feel happy, my darling?

Pertanyaan itu ternyata sangat powerful, way more powerful than ask about how's your latest trip or how's good the food. Pertanyaan ini mungkin sering kita temui dalam versi lebih sederhana seperti "Suka gak?" ketika kita memberikan atau dikasih hadiah. Tapi tentang kebahagiaan? Kita lebih suka menebak dengan beberapa bukti yang kita ambil sendiri, misalnya kita bilang dia happy karena dia punya rumah bagus, atau dia tampak mudah berbelanja, atau dia memiliki anak yang lucu, atau pekerjaannya begitu bergengsi. Tapi pernah kah kita konfirmasi apakah dia benar-benar bahagia? Or maybe we have to just ask ourself, are we happy?

Traveling won't make you happy

Bagi yang hobi traveling, atau bekerja dengan traveling, rasanya sering mendapat umpatan iri yang bilang "Asyik banget sih bisa jalan-jalan terus" atau "Gak habis-habis yeee duitnya" atau "Seandainya bisa jalan-jalan terus, pasti aku lebih happy" atau "Aku terjebak terus di kantor, gak bisa jalan-jalan kayak kakak. Sad".

Dear tayang-tayangqu, here's my thought. Traveling won't make you happy. It won't. Traveling is only way to make us happy, like a healthy relationship, or a good job, or a productive day, or a cat. Dan yang menentukan kita bahagia atau tidak adalah diri kita sendiri lho. Mau ada di Kopenhagen sekali pun kalau tidak menikmati apapun di sana, kalau tidak membawa diri untuk senang, ya tidak jadi bahagia juga.

Dengan saya menemukan kotak sumbangan makan kucing, melihat kucing sehat-sehat, bertemu Pak Jepang, lalu Bob Marley juga dan menikmati hal-hal tak terduga, bertemu banyak orang lain di pasar dan kebingungan bersama, rasanya itu hal-hal yang membuat saya menikmati perjalanan di Bangkok.

Happiness is a state of mind, as Steve Maraboli and Dada Vaswani said. Saya sendiri masih belum paham benar, kebahagiaan itu gimana bentuknya. Tapi yang saya yakini tentang mencari kebahagiaan lewat sebuah perjalanan, adalah dengan menikmati semua di perjalanan itu dan merayakannya. Life is worth celebrating, termasuk pas kita sedang berada di tempat yang berbeda.

Kalau belum happy pas traveling, mungkin perlu ajak kita berdua. Ajak ajeee, ntar jadi happy atau grumpy urusan situ wkwk.

⌘⌘⌘

Jadi, apa yang membuatmu jatuh cinta pada suatu tempat? Apakah kamu punya pengalaman yang membuat kamu bahagia saat traveling? Share your story so it would help people get more inspirations about travrling.

7 comments

  1. Baguuuuuus tulisannya. So, are you happy?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makaci Mira 😘 Dan makaci udah nanyain wkwk. Semoga kamu dan Junda always happy no matter what happened yaaa

      Delete
  2. Ejiyeeee tulisannya edisi tjurhat nich uwuwuwuw. So are you happy?

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-
    -ada pap tt di tulisan ini 🤣-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy kalau tiap malem Oyong elus elus punggung pake minyak kutus kutus~

      Delete
  3. Habis baca ini jadi pengen bikin postingan tentang kucing-kucing liar di Turki, asli unyuk banget. Malaysia yang kucing aja jadi simbol gitu masih kalah menurutku sama Turki. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru bangeeett bisa liat kucing-kucing liar di Turki yang ginuk ginuk gemesh semua itu. Plis tulis ya! Gambarnya yang banyak hahahaha.

      Delete
  4. ah kucing.....
    jadi kangen kedi alias kucing di turki.
    tapi di bangkok gak sebanyak di turki sih menurutku, apa akunya yang jarang ketemu ya pas ke bangkok. hihihi
    itu cerita pak jepang jadi inget kemaren nemu mas bule nyasar di medan, gak punya wifi/paket data juga. doi kebingungan nyari tourist office. ganteng-ganteng kok gak punya wifi to mas... :((

    ReplyDelete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.