SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

The Girl on the Boat Go Round and Round Flores

Saya masih ingat betul saat naik kapal menyeberangi Danau Toba dari Parapat menuju Pulau Samosir beberapa tahun lalu, saya berada di sisi atas kapal menatap langit dan danau hanya dibatasi garis tipis, dengan angin yang kencang dan sejuk mengisi mulut saya yang terbuka sedikit. Selain gigi jadi kering, saya membayangkan bagaimana rasanya bermalam di kapal, mengelilingi danau, mancing, masak ikan bakar, bangun melihat matahari terbit dari atas danau. Tapi lamunan itu seketika bubar ketika mengetahui teman saya buang permen karet ke danau. Rusak mood eike.

Bayangan itu akhirnya terwujud dalam versi lebih baik. Saya bermalam di Kapal Pinisi Cheng Ho keliling Laut Flores, lompat dari pulau ke pulau, berenang bersama ikan, dan menikmati hidup yang mengalir mengikuti arus. Meski hanya punya dua hari dengan agenda yang padat, tapi waktu berjalan sangat lambat di sini. Tak ada lelah yang berlebihan, tak ada pula aktivitas berlebihan. Semua berjalan sempurna. The only problem? Pulang.

Dan di sini saya ingin menceritakan pengalaman ini kepada umat pembaca sekalian tentang apa yang akan kalian temukan, rasakan juga nikmati ketika live on board naik kapal pinisi keliling salah satu gugusan pulau tercantik Indonesia. Oh sekedar kasih tempe nih gengs, kali ini saya tidak dalam #qisminmode yha wkwk. Perjalanan kali ini agak mewah, semua gratis tis tis jadi maaf sekali saya tidak bisa kasih gambaran harga. Tapi yang pasti, gambar-gambar bagus ada semua di sini haha.

Kapalnya
"WOOOOWWW besaaaar!", ucap saya saat melihat kapal pinisi Cheng Ho dari dekat. Rasanya gembira sekali, seperti naik kapal Thousand Sunny! Pinisi Cheng Ho adalah salah satu yang terbesar di kelasnya. Dibangun tahun 1996 silam, kapal ini masih kokoh dan berfungsi dengan baik. Thanks to kayu ulin atau orang luar menyebutnya ironwood, bahan kayu yang terkenal super kuat ini menjadi tulang-tulang utama kapal pinisi.

Kapal ini sangat charming dengan sentuhan kayu, desain klasik, juga suasana kapal yang syahdu. Kapal bisa menampung 24 orang tamu, namun saat itu saya hanya berenam belas jadi terasa private dan bebas gangguan. Kapal ini makin tampak keren saat semua layarnya ditegakkan. Gagah sekali! "Kalau sekarang kapal tidak perlu pakai layar, terus kenapa masih ada (layarnya)?", tanya saya ke Pak Andi, crew leader Sea Safari Cruise yang mendampingi pelayaran ini. Lalu dia jawab, "Ya buat foto-foto saja hahaha."

Ganteng banget ya si Kapal Cheng Ho dengan layar berflower seperti ini. Gagah betul. Dan waktu yang dibutuhkan semua kru untuk membuka semua layar adalah kira-kira 10 kali saya mutar-mutarin kapal dengan boat kecil wkwk.

Pemandangannya
Tak heran sejuta umat menaruh gugusan Flores sebagai destinasi impian yang ingin didatangi berkali-kali, memang cakep banget view-nya! Saya sampai absen tidur siang di kamar dan mengisi waktu dengan duduk di deck melihat semua pemandangan itu! Foto mah tidak ada apa-apanya, lihat aslinya jauh lebih bagus. My favorite view? Saat melihat matahari terbenam dari balik jendela kapal yang berjalan menjauh. Seperti melihat frame film bergeser, dengan pemandangan cahaya oren keemasan dibalik bukit-bukit segitiga.

Kapal terus berlayar menuju pulau selanjutnya tapi pemandangan bukit hijau tak ada habisnya. Banyak banget pulau di sini, sampai-sampai orang Labuan Bajo tak tahu lagi harus menamai apa. Saya menikmati sekali memandangi perbukitan hijau, dengan liuk dan bentuk seperti pegunungan, tampak serasi dengan laut dan langit Flores yang biru. Awalnya saya setel musik santai 80an supaya lebih gimana gitu suasananya, tapi akhirnya malah saya tidak dengarkan musik sama sekali karena suara air laut bertabrakan dengan badan kapal terasa lebih merdu uwuwu~

Pemandangannya sebagus ini sepanjang pelayaran.
My favorite view. Ever.
Ini photoshop. Serius. Tuhan yang edit. Yhaaaaaa.

Deck-nya
Jikalau matahari sedang di depan kapal, top deck adalah tempat paling nikmat di dunia ini. Pertama, langit masih adem. Kedua, bentuk kursinya yang rebahan gitu langsung nyaman ditiduri. Ketiga, duduk-duduk di deck di atas kapal berlayar dengan pemandangan pulau-pulau hijau itu perfect binggo, alfonso! Saat malam pemandangannya lebih gila lagi. Banyak sekali bintang bertaburan di langit. Terlihat jelas dari yang hanya setitik kecil sampai yang terang benderang. Seperti berlayar di luar angkasa.

Kalau mau deck dengan tutupan juga ada di upper deck bagian belakang kapal (ini enak banget buat bobok siang), atau agak atasnya dikit ada yang pakai payungan juga nyaman buat tiduran santai sambil minum jus jeruk dingin. Di sini juga tempat yang menyenangkan untuk menikmati malam penuh bintang. Tenang, tidak ada nyamuk atau serangga nakal yang bakal ganggu.

Kursi merah itu lah top deck, dan yang ungu dengan payung biru adalal upper deck. Di belakang upper deck ada lagi kursi yang tidurable dan banyak spot untuk tiduran melihat bintang.

Ada satu lagi tempat yang nikmat banget untuk sekedar duduk menikmati angin yaitu deck kecil yang ada ditengah tiang layar tengah. Biasanya kru naik ke situ untuk melepas tali layar atau untuk melihat situasi yang jauh atau yah numpang ngopi saja. Saya naik ke atas situ lewat tangga kayu yang menggantung di tali-tali. Turun dan naiknya harus hati-hati. Kalau jatuhya ke laut ya syukur sih kan tidak sakit, lha jatuhnya ke kapal?


Tangga untuk naik deck kecil. Lompat ke laut dari situ enak kayaknya ya~

Kamar tidurnya
I was lucky enough to have my own double-bed in the lower deck with porthole—and that was the best part! Jendela kapal yang bulat tampak keren sekali. Sudah ada Tintin, Tony Tony Chopper 'One Piece', The Beatles, Spongebob, Dory, yang 'tertangkap kamera' mengintip dari balik porthole. Sekarang saya sudah tahu rasanya. The not-so-best part? Porthole-nya ketinggian haha. Jadi saya tidak bisa tuh bikin video klip duduk di kasur lalu memandangi laut dari jendela sambil nyanyi "...perahu kertasku 'kan melajuu..."

Dan kalau kamu khawatir akan sulit tidur karena bunyi mesin atau goyangan air laut, Awkarin pelihara perkutut kamu tak perlu takut. Suara mesin tidak mengganggu selama kamu memang bukan yang sensitif banget gitu. Bahkan masih terasa kedap kok suaranya. Saya malah khawatir dengan bau bensinnya, tapi untung tidak ganggu juga. Goyangan air laut? Yah, goyang duo gobas masih lebih bikin mabok kayaknya hahaha. Emangnya tahu duo gobas? Jangan ketawa.

Kamar super nyaman selama di kapal. Karena sebenarnya kamar ini untuk dua orang, jadi memang handuk dan semuanya disiapkan dua, termasuk life jacket dan handuk kimono. Mereka juga sediakan hairdryer, selimut tambahan, safe deposit box, dan amenities.
Porthole.

Makanannya
Kakak saya cerita dulu dia pernah live on board juga keliling Flores, lalu kru kapal bawa ayam hidup, dipotong dan dimasak di atas kapal. Kurang kerjaan amat, pikir saya. Untung adegan qurban itu tidak dipertontonkan di edisi pengarungan kali ini meski ada menu makanan ayam goreng dan ayam kecap. Kru dapur semuanya pria, tapi masaknya jago lho bep. Was it a Michelin-star meal? No. Tapi ketika selesai snorkeling dan tenaga habis, lalu saya makan terus beberapa jam kemudian lanjut snorkeling lagi? Yup, quality.

Kru menyediakan makan 3 kali sehari dengan menu dan style berbeda-beda. Kadang western pakai mashed potato, kadang Jepang dengan sashimi, kadang juga full menu lokal ikan bakar, udang goreng, bakwan, sayur tumis, dan sebagainya. Serunya adalah mereka selalu fusion, jadi siapapun bisa bebas memilih. Dan supaya tidak banyak-banyak botol plastik kemasan, kru menyediakan botol air minum untuk kita bawa-bawa. Botolnya pun bisa dibawa pulang, buat kenang-kenangan katanya. Mau minum teh, kopi, atau susu tinggal ambil, air panas selalu tersedia. Oh jangan lupa cobain sambal buatan para kru, karena ada kru orang Jawa yang jago bikin sambal enak.

Salah satu menu favorit saya yaitu bubur kentang, bakwan jagung, ikan bakar sambal matah, dan tumis sawi. Perpaduan yang asyik. Bakwannya super enak!
Sashimi! Saya lupa ini ikan apa tapi saat itu sashimi tidak laku, hanya saya saja yang ambil. Sehabis makan malam pun saya duduk santai menikmati bintang di top deck sambil makan semangkuk sashimi ini. Heaven~

Fasilitasnya
Apa yang sudah pasti kru Sea Safari Cruise sediakan ketika mereka memberikan perjalanan mengarungi laut dengan kapal pinisi? Yak benar! Alat pancing! Hahaha. Bukan deng, tapi mereka menyediakan peralatan snorkeling dan diving lengkap dan ada banyak sekali. Berhubung ini perjalanan santai, kami lebih memilih snorkeling di titik-titik fenomenal. Tak boleh mancing di sini yha gengs, kasihan ikannya.

Saya overall puas dengan semua peralatan yang disediakan mulai dari scuba diving mask sampai fins-nya. Mask-nya nyaman dengan snorkel yang pas di mulut, jadi tidak bocor-bocor airnya lewat gusi—you know kan ini mengesalkan sekali kalau sampai bocor, lagi tarik nafas malah minum air asin. Untuk fins, mereka menyediakan banyak, meski ukuran paling kecil untuk orang dewasa masih agak kebesaran di saya tapi masih nyaman dipakai (kaki saya 36 - 37) dan berfungsi dengan baik.

Kapal memiliki 2 boat kecil untuk mengantar kita ke pantai/pulau yang dituju. Setiap mau snorkeling, kru menyiapkan peralatan, handuk bersih, juga pelampung buat kita yang masih takut berenang di laut. Yang kerennya adalah saya pernah sehari dua kali snorkeling (bahkan sebenarnya jadwalnya 3 kali), tapi handuk bersih dan keringnya selalu baru lho! Waw mereka punya stok handuk ini berapa yha.

Boat kecil yang diikat mengikuti kapal pinisi.
Container yang selalu dibawa saat menuju tempat snorkeling. Yang satu berisi handuk bersih, satunya lagi scuba diving mask.

Selesai snorkeling dan kembali ke kapal, ada shower bilas di dekat deck peralatan. Kita bisa mandi di situ atau kalau bajunya sudah lumayan kering dan ingin segera mandi bersih, bisa langsung ke kamar saja asal jangan bikin becek kapal yha, kasihan nanti kalau ada yang terpeleset. Enaknya kapal pinisi Cheng Ho ini menyediakan mandi dengan air panas, jadi bisa langsung rileks badannya setelah kedinginan berenang di laut.


Kru-nya
Pak Kapten Jitru, crew leader Pak Andi, Bli Nyoman, dan semua kru kapal dari Sea Safari Cruise sangat baik budi pekertinya. Selama di kapal, mereka sangat bersahabat, santai, no canggung canggung, dan helpful. Ada salah satu teman saya yang rempong pun para kru tetap sabar menemani dan membantu, contohnya ketika dia mau ganti baju pas trekking di Pulau Padar, kru mau mendadak jadi fitting room dan mendampingi naik sampai atas. Mereka pun fast response ketika sedang menemani snorkeling lalu ada yang butuh pertolongan seperti kelilipan air laut atau capek berenang.

"Kenapa kru kapal tidak ada ceweknya, Pak Andi?", tanya saya setelah mengetahui kru di dapur pun cowok semua. Pak Andi mengatakan kalau cewek tidak banyak yang kuat kerja di kapal. "Terlalu melelahkan dan berat," katanya. Mungkin berat di sini maksudnya adalah seorang kru, meski tugasnya memasak di dapur, dia juga harus siap dan cepat tanggap saat keadaan darurat misalnya ada kebocoran atau tiang rusak atau kran rusak.

Pak Andi yang sudah terjun di dunia kelautan puluhan tahun dan termasuk orang keren karena sudah hidup mengikuti panggilan hatinya. Oh Pak Andi ini pernah lihat ikan manta melahirkan lho!


Petualangannya
Sea Safari Cruise sebenarnya punya best itinerary yang durasinya seminggu, tapi karena kondisi laut yang diprediksi akan hujan dan ombak tinggi di hari-hari ke depan, saya hanya dua hari di sini. Dan dua hari itu jadi hari terbaik dalam hidup saya. Bagaimana tidak, saya snorkeling dengan pemandangan bawah laut yang cuantik banget, ketemu komodo di Taman Nasional, juga bisa melihat Pulau Padar pas hijau-hijaunya sambil berkata "Oh ini toh yang semua orang pada foto itu," terus saya juga foto wkwk.

Terlalu bagus di atas sini. Sampai-sampai saya tak rela turun dan ingin kemping saja. Ku ingin kemping, melampiaskan~~~
Kamu bisa lihat baju saya dan Alam basah kuyup begitu bukan karena habis berenang tapi keringatan gobyos habis trekking di udara lembab! Saya langsung titip minta kru yang stay di kapal untuk bikinin es teh dan sediakan handuk dingin.


Pulau Padar memang undoubtedly beautiful, sangat sangat eksotis. Bentuk liuk bukitnya, pulaunya, savananya, semua memang sangat cantik. Bahkan tanpa sunset atau pun sunrise, Pulau Padar tetap mempesona. Yah memang trekking-nya lumayan durjana, tapi worth every little sweat in your armpit. Tidak akan sia-sia. I promise! Lalu bagaimana dengan komodo? Apakah dia setampan dan seromantis itu? Pasalnya setiap ada iklan tentang Labuan Bajo, mereka selalu menampilkan komodo sedang pelukan atau guling-gulingan manjah.

Komodo yang saya temui kemarin ada tiga dan semuanya sedang tiduran santai. Masih melek, tapi tidak melakukan apa-apa. Kalau kata Pak Ranger, ini malah kondisi yang patut diwaspadai. Komodo suka melihat musuhnya lengah dengan menganggap mereka gendut, kaki pendek, diam saja, dan tidak bisa lari. Saya yang hari itu memakai baju kuning dan sedang menstruasi pun langsung jaga jarak dengan kuda-kuda siap lari kalau kalau komodo menjentikkan jarinya lalu saya musnah.

Emm monmaap, ini komodo ya, bukan Thanos.

Tapi komodonya memang mirip Thanos. Tinggal kasih jubah sama cincin saja. Iya apa iya?

Selain lihat komodo jutek, saya juga diajak lihat yang jutek-jutek di bawah laut. Sea Safari Cruise mengajak kami snorkeling ke Pulau Rinca, Pantai Pink, dan Manta Point. Saya juga dapat tambahan trip kecil bersama kru Ayana Komodo Resort ke Pulau Kenawa. Kalau diurutkan, saya paling senang ke Pantai Pink karena karang, anemon, dan ikan-ikannya semua bagus. Apalagi saya ketemu penyu juga yang besaaaar sekali ada dua! Saya juga ketemu ikan pelangi pink galak yang pas berenang maunya tabrak-tabrak ke muka.

Another best part? Saya ketemu keluarga Nemo alias ikan badut yang sedang main di anemon. Saya juga girang sekali ketemu ikan biru terang kecil-kecil segerombol. Dan yang kuning hitam garis-garis. Oh ada yang ungu kemerahan. Juga butterflyfish corak hitam putih dan jambul panjang ke belakang. Aaaak banyak sekali ikan ikan di laut I'm so happyyyy!

Ini pertama kalinya saya snorkeling melihat kehidupan bawah laut yang sebenarnya. Belum pernah seumur-umur lihat ikan terang benderang di bawah sana, dengan aneka karang dan anemon warna-warni. Dan ternyata, mengapung diam sambil mengamati ikan itu menenangkan ya. Mengamati mereka mondar-mandir entah sedang apa, pergi ke sana ke mari, apakah mereka sedang bekerja atau lagi belanja atau jajan Krabby Patty, tapi melihatnya benar-benar bikin senang. Tahu gini bagusnya, dari dulu kenapa saya pakai takut-takut snorkeling yha.

"Kalau orang-orang tahu lautan seluas dan sebagus ini, tidak ada lagi orang kerja jadi tukang becak", kata Pak Andi saat kami sedang duduk santai setelah snorkeling di Pulau Rinca. Pak Andi salah, bahwa yang ingin ada terus di laut ini bukan tukang becak saja, tapi saya juga wkwk. Rasanya saya mau-mau saja setiap hari main ke laut, lihat ikan, mengamati mereka, terus menggambarnya di buku kecil saya dan menceritakannya ke umat pembaca sekalian.

Kasih makan ikan di Pulau Kanawa. Tebak makanannya apa? (a) Daki di kaki, (b) Kotoran ujung kuku jempol, (c) Harapan palsu.

Begitulah petualangan saya naik Kapal Pinisi Cheng Ho keliling laut Flores. Gimana kalau sudah begini? Satu-satunya hal yang tidak ingin dilakukan adalah pulang, bukan? Tapi saya tetap harus pulang, bekerja cari uang beli baju diving dan peralatan snorkeling sendiri terus ke laut lagi main sama ikan. Until then, bong-boooong and ciao!

11 comments

  1. Kalo aku jadi kamu aku bakal loncat dr tangga dek kecil 🤣🤣🤣
    Hika iri akutu bagus banget Labuan Bajo tu


    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-
    -tp tidak ada di tulisan ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku takut nanti kalau lompat, diajak pergi sama ikan manta gak balik balik wkwk. Kasian kamu ya, ndak ikutan main bermewah-mewah~ Nanti kita berlayar yah berdua, nyanyi lagi Moana, bawa ayam wkwk

      Delete
    2. Tydac boleh kalo dibawa manta, bolehnya sama ubur ubur

      Delete
  2. "Live on board" atau "live on boat"?

    You were so blessed to have this opportunity, Jus! (sok akrab). Itu ikan sambal matahnya menggoda bangeeettt. Btw, gue nggak akan berani naik tangga kayu itu, takut ketinggian dan nggak bisa berenang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski artinya sama, tapi biasanya disebut live on board sih, Guh. Hahaha iya alhamdulillah, aku happy bisa ngerasain beginian. Kalau bayar sendiri, mungkin pakai kapal klotok wkwk. Yaudah duduk duduk di deck aja melihat bintang juga seru kok~

      Delete
  3. Mantap sekali perjalanan naik kapal Pinisi Cheng Ho, kapal Pinisi merupakan kapal layar tradisional khas asal suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang,biasanya untuk angkut barang tapi sekarang jd kapal pesar dg nama Cheng Ho ya, kapal blasteran Bugis ama CHINA. OK kisah yg menyenangkan sekali juga neh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weheeeeyy makasih sekali infopedianya. Bener lho layarnya jumlahnya segitu! Saya juga diceritain banyak tentang kapal keren ini. Meski gak persis sama kayak kapal Laksamama Cheng Ho yg beneran, tapi gagahnya mirip lha yaa~

      Delete
  4. pgn cobain dr dulh LOB begini. tp ga pgn utk diving ato nyebur k aer karenaaa aku mnding disuruh terjun dr gedung tinggi drpd masuk ke laut wkwkwkwkwk. setakut itu ama danau, ato laut sih.

    dgr cerita dr temen yg udh pernah LOB, makanan yg disediain di kapal enak2 hahahah. ith sih yg bikin pgn aja. ngebayangin seafood yg skalu seger di masak tiap hari :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whyyy kok takuuut? Aku juga awalnya takut, agak claustrophobic sebenernya. Tapi pas di laut yg bening dan tenang, rasanya juga ikutan tenang. Khidmat gitu lho rasanya, kayak gak ada masalah apa apa. Coba deh~~

      Tapi emang makan seafood di atas kapal gimana gitu, lucu gitu. Tinggal di kapal, gak mancing, tapi makan ikan wkwk. Penasaran jangan jangan didapurnya ada kolam ikan~~

      Delete
  5. aduhhh seru banget naik kapal phinisi, aku juga pengeeeeen!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuuukkk! Seru banget apalagi Flores memang cuantik tik tik! Bener bener memanjakan mata, hati, dan pikiran deh~~

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.