SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

9 Tips Fotografi Spesial Eksklusif dari Justin x Joni

Hae tayangku, apa kabarnya? Foto di atas keren ya wkwk. Saya belakangan baru sadar ada topik yang belum pernah sama sekali dibahas di blog ini padahal sangat saya suka: fotografi. Cerita perjalanan tanpa foto itu bagai sayur bayam tanpa kuah alias tidak lengkap gitu. Foto membantu saya bercerita tentang suatu tempat, dan membantu cerita saya bisa lebih dinikmati sama umat pembaca sekalian.

Kamera pertama yang saya punya adalah toycam/lomo apa ya saya lupa. Warnanya hitam, teksturnya doff, dan saya bawa setiap hari. Setelah itu saya terus tambah koleksi toycam/lomo analog itu termasuk juga disposable camera. Since then, taking picture has been my favorite thing to do. Tahu-tahu bisa senang gitu padahal hanya snap snap sembarangan.

Lalu saya beli kamera mirrorless dan membawanya traveling keliling dunia. Selama rajin pakai kamera di 3 tahun belakangan ini, ada banyak hal yang saya pelajari, diantaranya 9 hal yang akan saya bagi ke sobaqu semuanya. Apa saja? Cekindut.

1. Kamera apa saja bagus
"Tidak ada kamera yang cocok untuk pemula, yang ada itu kamera yang sesuai budgetmu." kata Mbak Sasha, editor majalah Linkers yang kamu kamu juga kenal dia sebagai fotografer ciamik. Saya mengamini benar kata-kata Mba Sasha karena sebenarnya mau kamera merk apapun dasarnya sama: mampu beli dan mampu mengoperasikan.

Kalau ada yang bilang kamera pemula adalah merk X lalu harganya 30juta, tempeleng saja dia. Biasanya kalau ada yang minta (((advice))) sama saya, saya akan tanya budgetnya dulu, sudah coba kamera apa saja dan mana yang menurutnya paling nyaman. Saya jarang kasih rekomendasi merk karena itu sungguh selera personal. Paling saya tunjukkan hasil foto berbagai jenis kamera milik orang-orang.

Pas sebelum beli Joni, saya coba banyak kamera yang budgetnya mirip-mirip untuk membandingkan dari sisi kemudahan, kenyamanan, dan kegantengan. Actually Joni was love at the first sight. Setelah coba Sony A6000, Sony A5100, Fujifilm X-T10, Nikon J1, dan Olympus OMD10 Mark II, tetap hati saya jatuh ke Joni, Panasonic Lumix Gx85 (thanks manteman yang sudah pinjamkan kameranya!).

Sudah punya kamera, tinggal pakainya nih. Semua kamera punya buku manual, kita tinggal baca dan praktikan. Semua ya mau itu toycam, lomo, single-used camera, mirrorless, DSLR, analog (kalau ini, manual book bisa Googling kali ya wkwk), kamera digital, atau apapun lah yang bisa jeprat jepret. Kalau malas baca, di yucub banyak video pengoperasian kamera, kamu bisa tonton. Mau tambah ilmu praktik, ikutan kelas basic photography yang menjamur di mana-mana dengan pengajar berpengalaman.

2. Foto yang lurus
"I think you're making progress," kata seorang teman tentang kemampuan foto saya. Dia bilang begitu setelah membandingkan foto saya pas pertama kali ke Malaysia dan setelah-setelahnya, saya tidak lagi foto miring-miring dan mulai bisa menentukan komposisi yang pas. Semua ini berkat kelas foto yang sering saya ikuti dan core of the core ilmu foto lurus ternyata ada di dua poin: grid 3x3 dan garis horizon hijau.

Grid 3x3 menjadi panduan untuk membuat garis horizontal dan vertikal sesuai kodratnya. Saya paling suka grid 3x3 ini dibandingkan yang ada silangnya atau yang lebih banyak jendela. Lalu garis horizon sebagai tanda sukses apakah kamera dan foto sudah lurus atau belum. Kalau grid 3x3 sudah dianggap useful sebagai penentu garis lurus, tahap berikutnya tentang rule of third.

Ada banyak teori soal ini dan yang hamba pahami, tiga titik dalam grid 3x3 membantu menentukan porsi dari objek apa yang mau ditonjolkan dari sebuah foto dan membuat foto jadi lebih greget dan tidak membosankan gitu. Saya masih belajar soal ini, fotografer di yutup ada banyak bagi bagi ilmu rule of third silahkan tonton yah.

Foto lurus dengan perspektif (Jerman, 2019).

3. Jangan lupa nengok ke belakang
Bayangkan ini, kamu sedang jalan-jalan pagi menikmati sejuk dan tenangnya Igls, sebuah desa cantik di Innsbruck, Austria. Kamu melihat sebuah restoran pasta mungil dengan meja kayu, taplak renda, dan langit-langit pepohonan. Pemandangan langit biru membuat restoran makin cantik. Kamu memotretnya lalu lanjut jalan, tidak tengok-tengok lagi. Padahal kalau kamu balik badan dan lihat restoran mungil itu lagi, dia berubah.

Berubah jadi rumah hantu.

Boong ding.

Dia berubah jadi restoran yang ternyata nempel sama rumah tua berlantai tiga. Temboknya biru pucat, berandanya penuh dengan bunga warna warni, lalu di ujung atapnya ada panah arah mata angin bergambar beruang. Tahu-tahu restoran itu tampak satu frame dengan Gunung Patscherkofel dan bangunan tua khas Eropa yang tidak akan kamu temukan di Glodok atau kawasan kota tua favorit kita semua. Itu lah kerennya menengok ke belakang. Kita bisa lihat nuansa yang jauh berbeda dari yang kita lihat dari depan. Jangan lupakan ini yha.

Tengok ke belakang bisa lihat paket komplit seperti ini (Liverpool, 2017).

4. Sama jangan lupa izin
NAH benar ini. Saya sudah beberapa kali kena omel orang-orang yang tidak terima dirinya, anaknya, atau barang dagangannya saya foto. Iya kalau foto orang memang wajib banget izin sih, kecuali candid dan tidak single potrait gitu kayak lagi foto nuansa pasar masa minta izin ke semua orang, kita kan bukan mau minta sumbangan.

Tapi kalau barang dagangan sama dalamnya kafe/restoran, kadang kurang tempe juga kalau harus izin atau tidak. Mending ada tanda dilarangnya, kalau tidak ada? Pas di Jepang saya dilarang foto dapurnya Fuji Soba, galak betul melarangnya sudah kayak marahin anak tiri padahal tidak ada info dilarang foto.

Lucu lagi pas di Jerman saya foto replika daging dengan aneka tulisan jenis daging dan harga, lalu dimarahi sama ibu penjaga toko. Literaly dimarahi. Padahal foto dari jalan depan toko, tapi tidak boleh juga. Sepanjang jalan di Viktualienmarkt saya insecure banget dan selalu izin foto di setiap toko. 

5. Auto itu bukan dosa
Kalau sudah desperate atur-atur P, A, ISO tapi tidak bisa juga dapet foto, pakai auto saja. I often use auto setting and I don't feel embarrassed! Memang kalau mau mastering fotografi baiknya pakai mode A atau M sekalian. Tapi karena saya tipikal orang oon dan kalau foto tuh spontan, jadi biarlah kamera saya yang atur harus gimana dengan mode auto intelligence-nya. Kalau saya pakai manual atur semua satu-satu, yang ada kucingnya keburu melahirkan wkwk.

Yang tidak menarique adalah ada makhluk-makhluk durjana yang menghujat kaum pengguna mode auto. Katanya "Sayang banget kamera bagus pakenya auto" atau "Cemen banget pake auto, gak skillful!" atau "Pakai M dong, masa auto." Ini makhluk-makhluk pada minta dipukul pakai apa? Teflon apa sandal jepit?

Sudah biarkan saja mereka. Tak apa pakai auto, kamera bagus kan berarti sistem autonya lebih canggih wkwk. Sayang juga sudah beli mahal-mahal tapi tidak diajak mikir, nanti 'otak'nya tumpul. Lagian yang dosa itu kalau sudah punya kamera tapi tidak dipakai motret, bukan gegara pakai auto.

Kalau lagi main kucing atau mau tangkap momen-momen spontan begini tinggal mode auto andalanque~ (Samarinda, 2019).

6. Edit juga bukan dosa
Saya ingat beberapa bulan lalu unfollow sebuah akun Instagram travel blogger yang fotonya bagus-bagus. Mostly kebanyakan potrait ya, tapi komposisinya saya suka. Terus ngapa di unfollow? Karena dia edit fotonya di Liverpool pakai template dia yang biasanya dan membuat kota itu tampak seperti Jaipur! Sad.

But that's okay. Itu adalah 'dia'. Setiap orang bebas memperlakukan fotonya seperti apa, mau dibuat nuansa summer semua, mau dibuat gloomy, colorful, sharp, extreme contrast, low contrast, apa pun sesuai salero bundo sajo. I even editing all my photos pakai preset sendiri di Snapseed dan PS. Editing is also one of the creative processes from photography. Kita kan mau buat foto kita khas dan berbeza dari orang lain. Jadi jangan baper kalau ada orang ngomong "Gue lebih suka foto original gak diedit, lebih asli gitu lho," biar saja itu salero dia, setiap orang punya salero bundo masing-masing.

Tapi saran saya ya, jangan berlebihan lah kalau edit. Tidak perlu dikasih burung-burung, atau pelangi buatan. Jangan juga buat tempat yang nuansanya blue jadi summer berlebihan. Jangan buat daun hijau itu berubah jadi oren demi tampak seperti sedang musim gugur. Oke.

7. Coba berbagai cara foto
Ada sebuah foto dari siapose ya saya lupa, tapi keren sekali. Dia memotret kota dari lubang tembok. Lubang bulat jadi frame yang bagus sekali, apalagi pas golden hour, jadi keren banget fotonya. Saya baru sadar, bisa juga foto seperti itu ya. Akhirnya saya mulai coba-coba cari cara foto framing seperti itu, baik pakai daun-daun maupun yang lewat lubang atau dari dalam mobil atau apa yang bisa membingkai objek biar jatuhnya jadi tidak biasa.

Pas belajar tentang framing, teman saya dulu suruh foto cari frame dulu. Tujuannya untuk meningkatkan kepekaan kita kalau banyak objek yang bisa digunakan untuk membingkai sebuah objek. Pas itu saya jadi rajin foto dari balik jeruji motor, diantara pohon-pohon, diantara orang-orang (dibuat blur dengan F besar), dan sebagainya. Jadi mulai tahu kalau ada banyak hal yang bisa jadi frame foto. Terus jadi rajin coba deh membingkai objek. Meski masih dengan frame standar, tapi lumayan dari pada lumanyun wkwk.

Salah satu foto favorit saya dengan framing pepohonan di sekitar shrine (Jepang, 2018).

8. Belajar dari siapa saja
Since Instagram being my best-travel-photography-guru, saya hampir tiap hari lihat social media kecintaan kita semua itu. I love seeing other people photos and get insight tentang sudut pengambilan foto, setting apa kira-kira yang dipakai, framing, komposisi, terus kok bisa ambil foto begini jadi bagus itu kadang seru untuk dikulik. Bahkan ada yang datang ke tempat yang sudah saya datangi sebelumnya dan dia ambil gambar jauh berbeza dan saya tidak kepikiran sama sekali. Sebal, sekaligus terinspirasi.

Terus kamu jangan hanya melihat koleksinya para fotografer kelas kakap, yang kelas teri medan sama teri asin juga bisa kamu jadi kan inspirasi. Kadang lihat yang fotonya terlalu amazing bisa bikin ciut, jadi pastikan gurumu beragam levelnya ya. Beberapa guru belajar foto favorit saya di Instagram ada @PeterMcKinnon (his youtube channel is everything!), @her_journeys, @capra311, @instanusantara, @mary_quincy, @kylekotajarvi, @folkindonesia, duh banyak lah pokoknya, lihat saja di following Instagram saya wkwk.

Dan ingat ya sobatqu sayang, guru terbaik adalah pengalaman. Jangan lupakan pengalamanmu dan jejaknya di folder-folder berantakan di laptopmu itu. Lihat kembali, bayangkan lagi tempatnya, dan kira-kira kalau ke sana lagi, kamu mau ambil foto itu dari sudut mana dan gunakan framing seperti apa. Saya paling suka lihat foto lama selain untuk throwback, ya untuk belajar lagi.

Foto makanan begini ilmunya dari banyak orang, sebut saja mbak awet muda sayangku @astridfebrinarizal, juga foodblogger kondang @AnakJajan (Kamboja, 2018).

9. Foto lah sesuka hati mu
Ini juga jangan lupa, foto apa saja bebaskan dirimu. Suka foto lanskap? Eksplor juga yang ada di sekitarnya seperti rumah petani, peternakan sapi, danau yang bening, taman rusa, restoran di bawah tanah, jembatan gantung, apa saja di eksplor dan dokumentasikan. Suka foto makanan? Coba dari berbagai sudut, properti, dan nuansa, terus jangan hanya desert saja yang difoto, pecel lele sama pecel Madiun juga dong wkwk. Pokoknya apapun kesukaanmu, bebaskan. Tak usah pikirkan apa kata orang, foto saja, nikmati prosesnya. Janji ya! ❤

--

Tulisan ini dipersembahkan untuk Joni, kamera Panasonic Lumix GX85 yang sudah bersama saya selama dua tahun setengah. Kamera yang saya idam-idamkan, yang banyak bantu memahami lebih soal fotografi dan mengabadikan momen persis seperti yang saya mau. Joni sudah naik gunung salju di Innsbruck, berenang di laut Palawan, di sungai Progo juga, hujan-hujanan di Scarborough, merinding kedinginan di Bled, kepanasan di Kamboja, ketinggalan di ruang ganti Uniqlo Bangkok, jajan-jajan di Tokyo, wah luar biasa tangguh lah si Joni ini.

Trip pertama bersama Joni ke UK. Selalu menggantung di leher biar sigap pas mau kasih asi ekslusif (Skotlandia, 2017).

Terima kasih Joni. Nikmati petualangan baru dengan pemilik barumu ya. Semoga senang! Dan semoga tips foto receh ini bermanfaat buat sobatque semua ya. Muah!

4 comments

  1. Waw sarannya bagus-bagus hihihi saya juga kalau pakai kamera selalu mode auto, nggak pernah diutak-atik karena nggak paham apa itu ISO dan lainnya. Sudah pernah baca-baca tapi kepala langsung 'ngebul' jadi yasudahlah hahahahaha~ dan saya pakai auto juga karena kalau foto kebanyakan jepret terus jalan, jepret terus jalan, bukan yang berhenti lalu ambil foto satu tempat sampai 100x (bisa-bisa dimaki sama yang jalan bareng saya) hihi~ dan saya setuju soal foto apa saja yang memang kita suka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kadang penasaran sama para fotografer itu, mereka bisa aja ya langsung kepikiran setting yang oke waktu ngeliat objek foto terus tangannya udah gerak cepat gitu atur atur. Terus kadang sudutnya bisa so cool banget, kepikiran gitu, canggih ya!

      Oh aku dapet insight juga nih dari beberapa fotografer yang aku ikutin. Untuk mengasah kepekaan kita terhadap komposisi, coba berhenti di satu tempat, lihat ke berbagai sisi. Masih belum cucok? Pindah lagi berdirinya, lalu lihat ke berbagai sisi. Pasti nanti dapat nuansanya berbeda-beda. Jadi tambah peka deh. Biasanya kalau mau foto objek diam yah kayak lanskap, gedung, makanan, gitu gitu.

      Semoga bermanfaat tulisannya ya:)

      Delete
  2. Khukhukhu tulisan ini rangkuman dari apa yang harus aku pelajari dan pahami yah.

    Tau ga gaes sepanjang aku sama Justin jalan, skill motretku ga berflower. Kalo aku yang ngliat ngrasa uda epic tp begitu jepret kok hasilnnya E L E Q ya.. sampe sampe Justin sering mutung, ada pokoknya setiap jalan tu Justin mutung gara-gara hasil fotoku hahahha

    Gepenk
    -nama yang sering disebut di blog ini-
    -tukang foto angin-anginan yang hasilnya kadang apik kadang E L E Q-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak berflowerrrrr sama sekali KZL BGT Y! Udah sampe ke tempat bagus kayak Austria, Slovenia, Swiss segala masih aja gak peka mau dokumentasiin perjalanan. Dasar lelaki gak peka! Kamu telenji aja aku dokumentasiin zzzz

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.