SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

17 Menit Terwaswas dalam Hidup #justinindyo ada di Cinque Terre

"Apa sih itu, apa? Cikungunya?", tanya Mas Gepeng saat saya mengatakan mau melihat bangunan warna warni di atas tebing dengan lautan biru, yang selalu tampak cantik ketika difoto oleh orang-orang. Dia tak tahu tentang 5 desa maha famous alias Cinque Terre ini, tak pernah dengar, tak pernah lihat juga di Instagram. Mungkin karena dia tak follow akun para travel influencer dan mayoritas feednya diwarnai oleh sungai dengan perahu kayak meliuk-meliuk diatasnya.

Saya sudah tahu Cinque Terre itu indah dari foto-foto orang baik yang amatiran asal jepret miring-miring maupun pro dengan sudut dan lighting super kece. Apalagi saya berkunjung pas summer, saat langit biru matchy matchy dengan laut, lalu ditengahnya ada bangunan merah kuning hijau, sudah pasti ciamik lah. Terus kamu bertanya basa basi, untuk apa ke sini kalau sudah tahu? Basi banget memang pertanyaannya, jangan coba-coba tanya begitu di dunia nyata ya.

Karena di balik tempat fotojenik sejuta umat, pasti ada cerita sharingjenik yang bisa saya museumkan di blog ini dan dinikmati oleh umat pembaca sekalian seperti kisah saya dan Mas Gepeng bisa selamat eksplorasi Cinque Terre sampai titik terakhir di Levanto dengan selamat, tanpa diusir, dideportasi, dipukuli, atau diikat, ditambatkan di jangkar, dan dibuang ke dasar laut :')))

Bagaimana ceritanya?

4.30 AM

Alarm pertama saya berbunyi. Dua belas menit berikutnya akan nyala lagi sekali, lalu sepuluh menit berikutnya juga. Tapi saya sudah me-non-aktifkan semua alarm di putaran pertama karena saat bangun, saya membaca lagi rincian tiket kereta yang akan mengantar kami ke La Spezia. Ternyata tertulis umur tiket adalah 4 jam terhitung dari waktu keberangkatan yang saya pesan. Makanya, saya memutuskan untuk tidur lagi. Masih lamaaa~~

Lho bukannya kemarin berkelit untuk istirahat di Florence demi bisa eksplor semua desa di Cinque Terre seharian? Iya benar, tapi badan rasanya tidak enak sekali. Sedikit meriang dan dia menginginkan pagi yang santai. Jadi lah saya dan Mas Gepeng mulai bersiap pukul tujuh, lalu ikut jadwal kereta pukul sepuluh. Ya jangan ambisius gitu lah ya, tydac baic.

Pagi santai memang layak dinikmati. Setelah mandi, packing, beresin tempat tidur, kami lalu turun ke ruang makan untuk sarapan. Tapi sialnya, kantung makanan berisi roti-roti leftover itu hilang dari kulkas hostel. Wah durjana! Ternyata semalam kami lupa kasih nama dibungkusnya! Pantas dibuang! Sudah makanan sisa, dibuang pula. Betapa sedihnya hati ini. Niat hati mau meninggalkan kopi kapal api di hostel kami urungkan. Kami tersaqiti.

9.30 AM

Kami sampai di stasiun utama Santa Maria Novella setelah jalan kaki sekitar 15 menit. Kalau sudah booked ticket in advance, kita tak perlu cetak tiket dan bisa langsung menuju gate. "Nanti tunjukan saja tiket (online) mu ke petugas sana," kata petugas ticket machine di lobi utama. Yang perlu diwaspadai kalau naik kereta di Florence (atau negara Eropa lain) adalah gate-nya. Seringkali berubah dan lokasinya bisa saja gabung dengan gate lain yang mana kalau tak tanya petugas ya tak akan tahu. Selalu perhatikan papan pengumuman digital.

Kami naik kereta dengan tempat duduk bebas mau di mana pun. Banyak turis yang naik kereta hari itu, mayoritas pada mau ke Cinque Terre, tapi ada juga yang ke Roma atau kota lain. Saya dan Mas Gepeng duduk berhadapan dengan dua orang wanita yang sedang solo traveling. Pertama ada Shika, seorang mahasiswi filsafat dari India, lalu Carmen, seorang istri yang lanjut jalan-jalan sendiri karena suaminya harus balik ke negara asalnya Meksiko untuk urusan kerjaan.

Suasana stasiun Santa Maria Novella Carita de Angel.

Kami berempat tak berhenti mengobrol dari awal berangkat sampai akhir. Sangat menarik bisa bertukar cerita dan informasi dari negara kami masing-masing mulai dari kebiasaan yang tetap harus ada saat traveling, kebiasaan mereka sebagai warga negara, buah lokal, juga masakan-masakan yang mungkin ada sisi miripnya ada juga tidak. Yang paling lucu adalah Carmen tidak bisa hidup tanpa alpukat dan kacang karena orang Meksiko menaruh kedua bahan itu hampir di setiap masakannya. She always has avocado in her bag while traveling around Europe dan dia bilang dengan bangga alpukat paling enak ada di negaranya.

Kalau Shika, saya paling lucu ketika dengar dia bicara. Sejak bahasa Inggris jadi bahasa nasional India, Shika tak ada masalah dalam berkomunikasi. Tapi ya, logat orang India pas ngomong bahasa Inggris itu agak gimandose gitu. Omongnya cepat, mulutnya mingkem, terus ada cengkok-cengkoknya kayak cadel gitu. Kebayang tidak? Harus dengar sendiri, coba Youtube gih haha.

Carmen paling kaget saat tahu sapi tidak boleh dimakan di India, Shika tidak terlalu kaget dengan apapun, saya kaget dengan banyak hal yang disampaikan Carmen, Shika berambut sedikit ombre, Carmen memakai kaca mata tebal, Mas Gepeng cerita tentang kopi luwak dan luwaknya juga, Shika lebih suka susu, saya suka teh apalagi teh Darjeeling, Carmen makan apel karena dia eneg makan roti melulu, saya dapat cokelat dari Shika, Mas Gepeng bertanya hal serius tentang Meksiko, saya bilang tomat di Itali sangat enak, dan sebagainya sebagainya. Kami mengobrol banyak sekali sampai saya lupa apa saja.

Foto gengges yang saya suka sekali. Ini pemandangan saat perjalanan ke La Spezia, memotret jendela seberang.

12 PM

Sudah dua jam perjalanan saya mulai panik karena kok ternyata jauh juga ya. Dua jam lebih. Sudah tidak mungkin rasanya mengikuti ambisi mendatangi 5 desa di Cinque Terre. Saya sebelumnya sudah baca tulisan Mira tentang desa-desa ini, dari situ saya sudah ada gambaran jika akhirnya kami mengunjungi 3, maka saya akan pilih Riomaggiore, Manarola, dan Vernazza. Semua karena foto dan cerita Mira, tak ada alasan lain. Memang Mira ini panutanque. Coba baca blognya, siapa tempe jadi panutan kamu juga, setelah aqu dong pastinya.

Carmen sudah turun duluan karena tujuannya ke Roma, jadi sisa perjalanan hanya ada saya, Mas Gepeng, dan Shika. Kami bertiga sama-sama mau ke Cinque Terre. Bedanya adalah Shika akan stay dua malam di Manarola, saya dan Mas Gepeng half day trip terus lanjut ke Milan (saya kasih tempe, menginap di Cinque Terre sebenar-benarnya ide yang brilian dan kamu sejatinya harus melakukannya!). Shika menemukan hostel tak begitu mahal dengan lokasi cukup strategis dan memudahkan dia membawa koper ungu besarnya. Meski saya pikir seharusnya tak begitu mudah karena Manarola memiliki banyak jalan menanjak.

Di sisa menit terakhir sebelum sampai La Spezia, saya masih bertahan dengan rencana mengunjungi 3 desa. Tapi ada yang masih belum pasti, apakah saya akan beli tiket terusan Cinque Terre Pass atau ketengan saja. Bedanya apa? Kalau tiket terusan, kamu membayar €16 untuk tiket kereta bebas hop on hop off dari La Spezia sampai Levanto dan tentu saja ada lima desa diantaranya. Kamu juga bisa masuk toilet umum gratis—ini penting karena toilet umum di Italia harganya €1,5 sekali masuk! Nah untuk tiket ketengan, kamu akan beli satu satu per trip dan harganya €4 sekali jalan.

12.45 PM

Sampai di La Spezia, sepertinya semua orang di kereta turun karena tahu-tahu dunia jadi sempit. Banyak sekali orang, seperti mau ada konser. Antrean di tourist information sudah mengular panjang ratusan kilometer (lebay ding ini wkwk), dan karena saya pusing lihat banyak orang, saya jalan ke luar stasiun dulu lalu duduk-duduk. Mas Gepeng coba membeli Cinque Terre pass secata online, tapi gagal karena sinyal jelek. Saya kira ini dampak dari jeleknya hape Mas Gepeng, tapi benar masalah sinyal karena saya coba di hape saya pun tidak bisa.

Saya pun kembali ke dalam dan antre tiket di vending machine. Selagi antre, saya ngobrol dengan turis cantik yang sudah beberapa kali main ke Cinque Terre. Dia bilang waktu masih mencukupkan kalau saya mau datangi 3 desa, "Kamu paling butuh sejam saja di setiap desa, itu cukup kok, tourist spot pun dekat stasiun semua." Tapi pas mau beli tiketnya, tak ada tulisan 'Cinque Terre Pass' atau one day ticket atau apa kek gitu yang harganya €16. Saya bingung dan antrean di belakang masih panjang. Daripada hamba dijitakin masal, akhirnya tak jadi beli (padahal sudah antre 10 menit) lalu pindah antre ke tourist information.

Antrean di tourist information jauh lebih panjang dan lamaaa banget geraknya. Ingin menangis rasanya, waktu sudah terbuang banyak dan nanti day pass-nya rugi banyak juga dong. Saya tak mau buang waktu lebih banyak lagi, akhirnya saya antre lagi 5 menit beli tiket ketengan di vending machine (yhaa ngapa gak kek gitu daritadi, malih!)

Langit biru, laut biru, kapal biru, gunung biru.

1.30 PM

Selamat datang di Riomaggiore! Kalau kamu pernah lihat foto bangunan warna merah di ujung tebing di pinggir Laut Liguria, nah itu ada di desa ini. "Oh ini toh yang mau kamu lihat itu..." kata Mas Gepeng mengangguk angguk sambil berseru dan dia beneran belum pernah tahu ini dong! Kasihan betul haha. Kami jalan santai menikmati bangunan antar bangunan, mendatangi toko souvenir, menyapa kucing-kucing, mencium aroma masakan, lalu menikmati angin sejuk pelipur lara. Saat berada di view point, Mas Gepeng duduk bersama tas dan membiarkan saya keliling sendiri. A glimpse of solo traveling when you're not is something brisk me. Ada rasa yang berbeza saat kamu jalan sendiri di tengah kota meski hanya 30 menit (btw ogut pernah jalan beberapa menit sendirian di Ljubljana, Slovenia, terus nyasar. Very nice ya wkwk).

Laut!
Toko souvenir menjual aneka sabun lemon, permen, dan asesoris pantai. Monmaap kalau beli souvenir di sini tak bisa nawar yha, harga pas.
That beautiful colors. Ini pemandangan dari view point di atas tebing.

Setelah puas jalan sendiri, saya kembali ke Mas Gepeng. Lucunya saat mau naik, ada macet kecil yang terjadi karena seorang ibu-ibu kesulitan naik tangga sambil membawa koper ukuran mediumnya. Jalan menuju tangga kecil memang sudah tanjakan, jadi saya rasa si mbak sudah kelelahan dan koper membuatnya makin sulit menanjak. "Could anyone help her with the luggage?" kata seseorang di belakang saya mulai esmochi. Memang durjana teman seperjalanan mbak itu, mereka menunggu saja tanpa sadar temannya butuh bantuan. Tapi ya pada happy happy saja sih.

Kami lalu bertemu dengan pasangan New Zealand di sisi bawah dekat port kapal, mereka minta bantuan Mas Gepeng untuk foto dan menawarkan untuk difoto balik. Mas Gepeng sempat menolak karena melihat saya jauh di ujung pantai lagi foto-foto bangunan. Tapi mendengar ada yang menawarkan memfoto, tentu saya tak keberatan berlali kecil melewati bebatuan. Hari itu hari lebaran, dan sayang kalau tidak ada foto berdua untuk dibuat kartu lebaran (dasar Mas Gepeng tidak oportunis!).

2 PM

Saatnya berlanjut ke desa berikutnya, Manarola. Jarak dari Riomaggiore ke Manarola hanya 5 menit naik kereta—bahkan sepertinya lebih singkat lagi. Sempat terpikir untuk jalan kaki saja demi menghemat €8 tiket untuk berdua. Lalu ada tanduk setan muncul di kepala saya, "Kita gak usah beli tiket yuk." ajak saya ke Mas Gepeng dengan mata menyeripit dan mulut manyun-manyun lucu. Pasalnya di Italia ini jarang sekali ada petugas cek tiket. Perjalanan dari Florence ke La Spezia pun tak ada petugas cek tiket, bahkan pas kami masuk gate di stasiun pun tak ada yang tanya soal tiket. Melihat crowd hari itu, rasanya malas betul kalau jadi petugas harus cek satu-satu.

Mas Gepeng agak takut, tapi ya sudah coba saja, hanya 5 menit ini kok waktu tempuhnya. Dan voilaaaa! Kami sampai Manarola tanpa tiket! HAHAHA. Memang tidak ada petugas yang cek tiket baik di kereta maupun di stasiun, semacam woles saja gitu sama turis. Kami beruntung siang itu, dan beruntungnya lagi, kami melihat Manarola super cantik!

Bangunan warna warni Manarola sangat eye-catchy, mempesona, dan ada jalan di pinggir tebing untuk menikmati keindahan itu. Kami menyusuri setengah jalan sambil foto-foto, duduk-duduk, mengamati sekitar, dan rasanya akan jadi hari yang sempurna kalau kami menginap di sini (meski agak ekspencip kayaknya). Sejak bisa menikmati berenang di laut Flores, saya jadi ingin nyemplung setiap lihat laut apalagi yang cantik dan bersih begini. Pagi siang malam nyemplung teruuus.


Manarola cantik!
Keniqmatan hakiki jadi sarden di pinggir laut.
Suasana di tengah desa Manarola.

Waktu sudah semakin sore dan cacing-cacing di perut kami sudah demo minta makan. Awalnya kami mau makan di Marina Piccola, restoran dengan Michelin Star dan lokasinya persis menghadap laut. Kami sudah siap dengan segala harga yang terpampang, bodo amat lah mau berapa euro pokoknya mau makan siang enak di Italia. Sayangnya, pelayanan di sini agak lambreta. Meja sudah ada yang selesai tapi tak kunjung dibersihkan. Mereka juga mondar-mandir cek sana sini tapi tak ada yang peduli dengan kami dan beberapa tamu lainnya. Padahal saya sudah pasang tampang 'punya duit'.

Malas membuang waktu, kami pindah ke restoran yang kami lewati sebelum ke pantai. Namanya La Scogliera. Tidak mengantre, tidak dicuekin, dan aromanya tak kalah sedap. Restoran ini tak punya Michelin Star, pun bukan termasuk 15 terbaik versi TripAdvisor. Tapi tempat ini jadi tempat makan yang memberikan kebahagiaan, setidaknya untuk kami berdua. Kami memesan main course yang ada di halaman 'Today's Special' yaitu homemade fish ravioli untuk saya dan spaghetti alla Scogliera untuk Mas Gepeng. Both have different taste bases but have one thing in common, yaitu sama-sama menggunakan wine as the sauce basic ingredients. Cicip wine pas hari lebaran? Astaghfirullah. Solat eid kagak malah makan makanan yang pakai wine. Mau jadi apose kami ini hah!

But seriously, pasta siang saat itu adalah pasta terenak dalam hidup kami. Tak karuan lezatnya. Semua seafood-nya segar, sungguh segar. Bahkan kerang ijonya tak terasa kotor. Kuahnya (yang pakai wine itu) memang sangat unik. Gurih, agak asam, bercampur dengan rasa ikan, lalu dinikmati bersama pasta yang dimasak sempurna alias al dente, wah ingin menangis saking enaknya. Dan Mas Gepeng benar-benar menangis! Serius! Sebersyukur itu dia bisa makan pasta marinara seenak itu!

Sphaghetthi mharinhara shupher enhak~
Di eman-eman sausnya karena saya tidak bisa bikin ini di rumah. Too good!

"Kayaknya aku cukup deh dengan dua desa ini," ucap saya di sela waktu makan. Melihat Riomaggiore dan Manarola begitu cantik, lalu makan pasta enak dan mendapati Mas Gepeng begitu senang (sampai mewek!), rasanya hati ini sudah komplit gitu. Tidak ada lagi keinginan mengunjungi desa berikutnya, sisa waktu dan tenaga ini bisa kami gunakan untuk santai menikmati Manarola dan membeli oleh-oleh. Mas Gepeng tentu saja setuju, dia mana tahu juga apa yang dilewatkannya.

4.30 PM

Karena tidak ingin ke mana-mana lagi, maka pemberhentian kami berikutnya adalah Levanto, kota penutup di ujung perjalanan mengeksplorasi Cinque Terre. Saat berjalan menuju stasiun, tanduk setan saya muncul lagi (ke mana dia pergi tadi ya?). "Mau coba gak beli tiket lagi, gak?" ajak saya ke Mas Gepeng. Meski dia setuju, kali ini agak lebih degdegan karena jarak tempuhnya tidak sesingkat tadi. Kami harus melewati beberapa stasiun sebelum sampai ke Levanto dan rasanya akan jauh lebih lama dari lima menit.

Kami mengamati petugas di pintu stasiun, dia tampak ramah dan banyak orang bertanya padanya. Dia tak pernah meminta turis menunjukan tiketnya, yang dilakukannya hanya menjawab pertanyaan, mengarahkan pengunjung, dan menyapa balik jika ada yang menyapa. Kami dengan santai melewatinya sambil melempar senyum. Ini salah, harusnya kami pura-pura mengobrol saja mengomentari Cinque Terre, karena jika kamu bisa melihat senyum kami ke petugas, kamu akan lihat kepalsuan yang hakiki dan dia bisa saja curiga.

Saat menunggu kereta, kami duduk di tempat teduh. Betapa degdegannya saya ketika tahu-tahu ada petugas stasiun wanita yang berdiri bersama rombongan turis lainnya. Dia melihat-lihat sekitar dan mulai berbaur dengan para turis yang mengajaknya ngobrol. "Waduh, itu petugas nanti naik kereta gak yah?" bisik saya ke Mas Gepeng. "Kayaknya gak deh, dia petugas service yang buat ditanya-tanya saja," jawabnya dan terbukti benar, si mbak petugas tidak naik kereta.

Tapi rasanya hati ini tak berhenti tenang. Mungkin detak jantung saya siang itu sudah seperti genderang mau perang. Kami mempersiapkan aneka skenario jawaban kalau ketahuan tak punya tiket, begini kira-kira rencananya:

Pura-pura bodoh "Wah maaf Pak, saya kira ini tiket terusan ehe ehe."
Pura-pura kaya "Ah baik, kalau begitu bisa kami beli tiketnya saja ke Anda (Pak Petugas)?"
Pura-pura tidak bisa bahasa Inggris "Um, aaaa, enggg, ya, ticket, machine, ummm, what?"
Pura-pura kehilangan tiket "Yea yea we have our tickets, just wait.." lalu cek kantong celana, tas, dompet, semua tidak ada. "Yah, hilang nih kayaknya nih, aah tadi ada yang menyenggol saya, sepertinya copet, huaa saya dicopek Paaak huwaaaa....."

Dan kami pun mulai membayangkan kalau ternyata petugasnya kejam dan tanpa tanya-tanya, dia langsung tendang kami keluar kereta dan terjun bebas ke laut lalu dimakan hiu. Yhaa lebay amat, tapi serius, kami was was sekali. Jangan-jangan kami harus dipukuli dulu baru diampuni, atau dihukum membersihkan gerbong kereta, atau pahit-pahitnya, dideportasi. Baru curang soal tiket kereta saja kami sudah waswas setengah mati. Bahkan saking degdegannya, saya sampai mau nangis. Tahu kan rasanya degdegan sampai mau nangis? Apalagi kami habis buat dosa cicip wine itu tadi, takut sekali Tuhan marah dan menjatuhkan azab langsung hari itu juga. Sungguh. Ingin. Menangis. Mamaaaaa tolooonggg~

5.30 PM

Sebelum ini, saya dan Mas Gepeng tak pernah sekalipun curang-curangan pas traveling. Kami usahakan jujur supaya tak kena karma menyedihkan seperti ketinggalan pesawat, paspor hilang, kepeleset pas lagi turun tangga, kamera rusak, kena copet, atau hal-hal sedih lainnya. What goes around comes around adalah salah satu prinsip hidup yang saya pegang teguh, seteguh-teguhnya teguh prasojo. Lha sapatu?

And as you know from the begining of the story, Mas Gepeng and I arrived safe and sound and happy and nyengir lebar bagai quda di Bahnhof Levanto without, any, ticket, and, drama.

What happened in Levanto, stay in Levanto. Tapi diceritain di blog, yhaaa~
Seceria itu bisa sampai Levanto tanpa tiket!

Kami berdua tak bisa berhenti tertawa. Lega, tapi masih ada getaran kecil di kaki yang membuat lemas dan terhuyung-huyung. Tapi benar-benar lega bisa selamat sampai tujuan dan hemat €24 total berdua, sebuah pencapaian luar biasa bagi cheap gang macam kami.

Tentu cerita ini bukan contoh yang baik ya adik-adik sekalian. Sangat tidak dianjurkan karena kalau ketahuan tak punya toket, eh, tiket, bisa kena denda sedikitnya €50 + harga tiket. Mayan bikin manyun kan. Saya rasa keberuntungan kami hari itu karena perbuatan baik kami di hari-hari lalu, atau karena pas makan siang tadi ucap bismillah setiap suap, atau karena bantu pasangan mendapat foto-foto bagus, tidak tahu juga. Hanya Tuhan yang Maha Tahu dan Dia Maha Baik.

Perjalanan kami berikutnya adalah ke Milan dengan transit sebentar di Genoa. Betapa kagetnya pas di kereta ada petugas tiket dua orang! Waw! Waw! Gimandose ini? Khukhukhu, selain di Cinque Terre, semua perjalanan sudah ada tiketnya dong! Saat petugas datang, saya kasih lihat tiket online Trenitalia yang sudah booked jauh-jauh hari itu. Awalnya dia cukup lihat itu saja, tapi saya 'maksa' tunjukin tiket Mas Gepeng juga. Sombong betul mentang-mentang punya tiket wkwk.


Sunset Italia mengantar kami ke Milan.

Perjalanan ini berakhir bahagia. Kami sampai di Milan tanpa kekurangan apapun, tanpa ada drama tiket ataupun copet, dan hatinya penuh, penuh banget! Berkaca dari apa yang saya alami di Florence dan Cinque Terre, rasanya saya masih akan terus menikmati perjalanan santai tanpa terburu-buru, tanpa ada kata 'harus', tanpa ada paksaan. I'm not good being ambitious, I'm good at enjoy everything. Kayanya begitu.

Siapa yang habis ini ke Cinque Terre terus tidak mau beli tiket? 

8 comments

  1. Kalo ada yang mau ke chikungunya, tak saranin dateng pas musim panas, bawa spatu treking, baju renang kumplit, nginep disana dan perut dikosongin. Kemarin tu kebayang treking susur pantai trus brenang trus maem pasta marinara trus malemnya bobok nyenyak sambil kena sembrinit angin pantai (untuk antisipasi minum tolak angin-bahasa italinya respingere il vento, kalo kalo mau beli di apotek sana 不不不)

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-
    -mulai terancam dengan keberadaan mira si nama yang kadang disebut di blog ini tp sekarang mulai sering-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keknya kita harus balik lagi deh Oy, kita trekking terus inep-inep di desanya. Terus intip dapur restoran buat liat resep masaknya, terus berenang tiap sore. Oh mentemen dont forget beli aloe vera gel di Italia, baguc banget buat kulit dan bikin kulit terbakar bisa kembali haluuusshhh, beda sama yg Korea punya~

      Delete
  2. aku yang komen kedua horeeeeeeeeee.
    terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat yha. Besok besok komentarnya bisa lebih panjang lagi kek perjalanan kita jadi sales mesin edc kemarin wkwkwk

      Delete
  3. wkwkwkwkwkwk! edaaan. aku deg2an juga bacanyaaa!

    Pas di cinque terre aku jg nyesel jadinya uda mahal2 beli pass, tp diceknya cm di toilet ajaa. Aku tp pernah curang gt jg pas di Praha karena naik bus / metro jarang dicek. Deg2an parah jugaa parno dideportasi. Mungkin karena kita pada dasarnya baik hati yhaa.

    Mira
    - nama yg mulai sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kita baik hati, sampe nakal begini aja mau nangis rasanya. Meski nangisnya campur bahagia juga bisa hemat tiket. Tapi Italia why oh why ya, kriminalitas tinggi banyal maling, copet, scam, dll, tapi kepercayaan juga tinggi. Percaya gitu punya tiket sampe gak perlu dicek wkwk, percaya juga satu punya tiket yg lain punya juga tanpa dicek. Menarique~

      Delete
  4. Sungguh tindakan tidac baic. Ckckck. Eh tapi aku juga melakukannya! wakakakak. *celingkukan, bisa-bisa diketuk palu sama netijen.

    Kalau pengalamanku itu pas di Jerman haha. Beli sih tiketnya, tapi gak ditaping. Dalam pikiranku, "ntar kalo ada petugas buru-buru taping." Atau, berlaga bego, "ini aku udah beli loooh tiketnya." Trus kalau ditanya kenapa gak ditap, bilang aja, "ya Malih, aku ini baru pertama kali ke sini, kagak tahu." hwhwhw. Di semua negara yang kudatangi hanya Jerman yang gak ada petugasnya. Tapi katanya sering razia.

    Well, tapi itu juga cuma sekali. Sumpah gak enak, padahal berhemat 4 euro doang hwhwhwhw.

    OOOO CINGUE TERRE LIYE. Tunggu aku ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emmm Mas Yan, jikalau daku boleh zuzur, pas di Jerman aku juga gak tapping tiket 不不 Bukan tapping, apa sih itu yg tiketnya dimasukin ke mesin terus nanti jadi ada tanggal sama jamnya dan mulai terhitung argo tiketnya.

      Itu pas aku mau ke terminal bus bandara dari hotel kan lewat beberapa stasiun, nah tiketnya cuman buat 3 stasiun apa ya dan sempat nyasar sekali. Akhirnya tapping di stasiun paling akhir hahahaha! Gak pernah ada petugas ya dan pas masuk bus atau tram juga gak ada yg nanya soal tiket. Aku lihat juga warga lokal yg gak tapping atau insert tiketnya ke mesin. Duduk aja langsung gitu. Berarti memang sudah jadi kearifan lokal wkwkwk

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.