SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Kenapa Saya Tidak Menunggu Senja Datang di Florence dan Memilih Tidur Lebih Awal

Satu-satunya jendela kecil yang ada di kamar dormitory Hostel Santa Monaca itu mulai menampakan garis-garis emas pantulan langit sore. Dari pinggir daun jendela, lalu mulai memenuhi ruang-ruang kaca. Saya memandanginya sambil membayangkan betapa cantik Florence saat senja, sambil menarik selimut lebih tinggi sampai ke dagu karena meski berada di kamar berisi enam belas orang, dua buah AC tetap saja terlalu dingin.

Pemberhentian saya di Italia seharusnya ada di Genoa. Itu sudah diputuskan sejak lama tanpa ada pergolakan demo huru hara. Tapi teman saya, Mira, mampu menggoyahkan iman bahkan sehari sebelum keberangkatan untuk mengganti kota tempat bersatunya Genoa dan Sampdoria dalam satu sekutu persepakbolaan itu menjadi Florence, kota yang hanya punya satu klub sepak bola bernama Fiorentina.

Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Mira memberikan rekomendasi dua kali agar saya tetap mengunjungi Florence. "Harus kena sunset di sana," katanya. Dua kali diyakinkan seperti itu tentu saya tergoda. Bahkan Mira bantu saya mengecek jalur kereta, jalur metro, lokasi hostel apakah dia dekat dengan tempat makan enak atau tidak, sampai aturan refund dan arrange jadwal perjalanan. Ada kerugian beberapa euro karena reschedule bus, tapi ada yang lebih menarik ternyata.

Nyamuk dari Asia dan Italia

Sebelum sampai di Florence, bus kami transit di airport Verona. Dasar memang Flixbus itu, dia memilih 'halte' yang kadang tidak manusiawi. Seperti kali ini, bukan hanya jauh dari akses umum, atau toilet umum, atau supermarket, dia berada di parkiran bandara dan tidak ada sticker huruf F warna hijau yang setidaknya bisa diartikan 'Ya, kamu menunggu di titik yang benar'. Plus satu lagi. Di sini, di Verona, di Italia, banyak sekali nyamuk.

Nyamuk besar dan ganas ini ternyata oh ternyata, adalah nyamuk Asia. Nyamuk ini 'kebawa' orang Asia yang pergi ke Italia lewat jalur laut, makanya bisa tahu-tahu banyak karena di perjalanan pun mereka sudah beranak pinak, kan jauh bok wkwk. Wah kalian harus tahu betapa durjananya nyamuk ini, benar-benar sekali gigit langsung gatal! Mana besar-besar, seperti nyamuk hasil uji coba serum penguat otot. Semakin malam semakin banyak. Semakin banyak semakin kesal. Rasanya semakin ingin mengutuk Flixbus. Tapi apa daya, dia membuat saya bisa menuju Florence dengan waktu perjalanan overnight, sehingga tak perlu ada biaya inap tambahan. Penyelamat sobat down to earth tak boleh dikutuk.

Setelah 4 jam perjalanan dari Verona, bus kami sampai subuh sekali di Florence tapi halte yang salah. Supir bus yang pandai berbahasa Italia itu sama sekali tak peduli apa yang kami ucapkan, bahkan untuk menjawab apakah halte ini tujuan akhir kami atau bukan saja dia enggan dan malah membuat kami bingung (ingin rasanya ku tempeleng). Tapi tak apa, berkat dia, kami jadi bisa coba tram lokal Italia yang ongkos jarak dekatnya hanya €1,5 per orang. Memang sobat down to earth selalu positive thinking.

Sebelum membeli tiket tram, saya dan Mas Gepeng menunggu di halte bersama orang lain. Sepertinya bukan orang Italia, tapi mereka orang Eropa. Seorang ibu muda bersama dua nenek hendak menemui kerabatnya di Florence. Mereka memberi tahu bahwa tak ada transportasi umum dekat halte dan satu-satunya cara menuju kota adalah dengan taksi. Mereka bahkan memberi kami nomor telepon taksinya (saya masih simpan, kalau kalau kamu mau tinggal minta ya). Kami iya-iya saja, termasuk saat mereka bilang taksi tidak bisa jemput langsung ke sini, kita harus jalan kaki ke pintu depan. Saya yakin mereka bukan orang jahat, mereka hanya kurang tempe saja.

Rasanya tak mungkin halte bus tidak dekat dengan transportasi umum. Ya jauh sedikit tak apa, tapi rasanya impossible kalau sampai tidak ada. Karena kebelet pipis dan jadi tidak bisa mikir, kami menuju toilet dan duduk santai di kafe yang tutup. Nah pas sekali saat menuju toilet, ada sebuah ticket vending machine untuk tram! Dan ta daaaa, tramnya ada di depan sana!

Tram angkutan pertama, masih sepi.

Sebelum masuk ke menu utama di vending machine, akan selalu ada pengumuman hati-hati dengan para nyamuk asli Italia atau bahasa lokalnya adalah pickpocket. Pengumuman ini tak bisa di-skip, kamu harus benar-benar baca, tahu, dan aware. Jangan kan turis, orang lokal saja bisa dimaling lho! Jangan berpikir bahwa hanya orang kaya saja yang akan dimaling, mereka juga suka ambil dompet meski isinya hanya passpor dan foto jelekmu itu, atau ambil koper sekalian biar dapat stok baju OOTD. Prinsip para nyamuk itu adalah ambil dulu, isinya apa dipikir belakangan!

Istirahat dan ambisi

Baik Genoa maupun Florence sebenarnya tak jadi soal, karena hari itu saya siapkan untuk beristirahat maksimal sebelum besoknya menghabiskan waktu keliling Cinque Terre sambil membawa tas-tas kami dan menuju Milan di tengah malam. Jadi, kota mana pun ayok saja asal kami bisa santai menikmatinya dan ada supermarket murah dan tempat duduk santai dan air minum gratis dan toilet gratis juga (lha banyak maunya!). Namun ada sedikit masalah di sini.

Sesampainya kami di Santa Maria Novella, matahari baru mulai menampakkan sinarnya. Kami berjalan menuju Santa Monaca sambil menikmati Florence yang dingin di pagi hari. Tram dan bus umum mulai beroperasi pukul enam, orang-orang mulai tampak menuju kantor namun ya masih segelintir saja. Florence mulai ramai pukul delapan dan mobil-mobil sampah menyebalkan mulai bekerja mengambil semua kantung hitam baik yang ada di tempat wisata maupun daerah sekitar kawasan tinggal.

Suasana pagi di Florence
Jalan gang di Florence, parkir sepeda di mana-mana
Salah satu sudut kota yang ditengahi oleh jembatan

Kami mulai menjelajahi Florence dari sudut ke sudut, dari satu jembatan ke jembatan lain dengan tujuan akhir menikmati Florence saat senja dari Piazzale Michelangelo. Kota Florence dipenuhi bangunan klasik berwarna pucat berpadu jalanan batu membuat saya seolah berada di zaman berbeda. Tram pagi tadi seperti mesin waktu yang membawa kami ke zaman paleolithikum (yailah ngarang benar wkwk).

Tapi benaran deh, Florence tak tampak metropolitan sama sekali meski ada satu kawasan berisi outlet dari brand-brand yang tak saya pahami seperti Gucci, Louis Vuitton, Prada, Furla, Tory cheese cracker, dan sebagainya. Banyak sekali bangunan yang masih menyimpan gaya ukiran masa lalu, juga jalanan berbatu yang bukan sekedar untuk pejalan kaki tapi jadi jalan utama kendaraan.

Semakin siang sinar matahari semakin terik. Jika sedang berada di bawah langit langsung, rasanya semua cairan dalam kulit terserap hilang dan tahu-tahu wajah rasanya perih. Kulit eike sudah tampak seperti pohon cabe tak disiram dua minggu nich~ Paling benar memang berjalan di dalam bayangan gedung atau jalan kecil antara gedung atau melewati bangunan beratap, karena disitu benar-benar terasa dingin. Bukan lagi angin semilir, tapi dingin sedingin-dinginnya dingin. Gimana tuch?

Karena tema hari ini istirahat, maka kami jalan santai saja. Jika ada toko menarik, ya mampir sebentar. Jika terasa lelah sedikit, duduk di tempat adem. Jika mau ngemil, jajan manis-manis. Jika malas tanjakan, ya balik dan memutar dikit. Pokoknya tujuannya sampai di Piazzale Michelangelo dan sunset-an di sana. Meski badan terasa tak enak karena kena panas lalu berteduh dingin, kena panas lagi lalu berteduh dingin lagi, tapi tetap harus lihat sunset di atas bukit sana. Pokoknya harus ke sana! Dan sayangnya, kami tiba jauh lebih awal yaitu lima jam sebelum matahari tenggelam. Itu masalahnya.

Beli jus segar yang jeruknya diperas dengan mesin otomatis. Keren sekali mesin ini. Beli di mana ya?
Melewati Ponte Vecchio untuk menuju Piazzale Michelangelo. Dan jembatan dengan bangunan ini adalah salah satu dari sekian banyak hal yang saya suka dari Florence.
Roti roll kecil murah dan enak.
Cannoli pistachio, dessert klasik Italia yang khas rasa krimnya. Tak terlalu manis, sukak deh.

Istri Durjana

Kawasan Piazzale Michelangelo sangat terbuka dengan taman-taman teduh disekitarnya. Ada kafe fancy di seberang jalan, juga beberapa warung kecil menjual aneka cindermata. Karena senja datangnya masih lama, saya memutuskan untuk stay di kawasan situ saja.

Kami menuju taman seberang yang memiliki pohon-pohon tinggi. Saya tidur siang sebentar, sementara Mas Gepeng duduk-duduk santai (padahal saya minta dia tidur juga, karena sepanjang jalan dia bilang ngantuk ngantuk melulu). Mas Gepeng sudah tampak tua dan lelah keringat mengucur deras. Wajar saja, kami naik bus semalaman dan tanpa istirahat langsung jalan keliling Florence. Dia pun mulai mempertanyakan, apakah saya yakin mau nunggu di sini sampai senja? Apakah saya benar ingin menjadikan hari ini hari istirahat? Dan apakah itu akan membuat kami berdua baik-baik (sehat) saja?

Dari bangun tidur, membuang kaus kaki Mas Gepeng yang baunya sudah tembus langit ke tujuh, lalu jalan-jalan sekitar mencari semak tersembunyi untuk Mas Gepeng pipis (monmaap satu-satunya toilet umum di sana bayarnya €2 per orang wkwk), saya masih terus berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan itu.

Zuzur, Florence belum membuat saya terkesima. Kota ini begitu pucat, begitu redup, kayaknya kota ini kurang bergairah gitu sehingga saya berambisi untuk menunggu  saat sunset dengan asumsi akan membuat saya mendapatkan pemandangan ciamik di Florence. Makanya saya kekeuh untuk tetap berada di Piazzale Michelangelo, mau lima jam juga hayuk yang penting ketemu sunset!

Elemen kayu banyak dipakai di kafe-kafe
Bangunan klasik kotak-kotak dengan warna pastel pucat, khas Florence.
Pepohonan rindang, lokasi cintaku untuk ngadem dari panas dan kejamnya dunia.
Teman kecil yang hobi lalu lalang.

Lalu perdebatan itu di mulai. Bukan antara saya dan Mas Gepeng, tapi dengan diri saya sendiri. Mas Gepeng memahami keinginan saya untuk lihat sunset dan bersedia menunggu sambil tidur entah di mana. Tapi itu malah membuat saya semakin bingung. Kondisinya adalah kami benar-benar harus istirahat, harus tidur lebih awal, dan jika menunggu sampai sunset yang datangnya masih nanti jam sembilan malam, maka kami akan pulang larut karena jarak Piazzale Michelangelo ke hostel kurang lebih satu jam jalan kaki, pakai foto-foto jadi tambah setengah jam wkwk.

Perdebatan itu semakin lama semakin sengit, antara sunset dan tidur, antara pemandangan dan rasa lelah, antara keinginan dan kebutuhan. Tak ada yang lebih melelahkan dari berdebat dengan diri sendiri, ya tidak sih? Dan lagi-lagi, saya hanya melibatkan diri saya sendiri. Maksudnya adalah saya ingin lihat Florence saat terpapar senja (dan cuaca hari itu meyakinkan saya bahwa cahayanya akan sangat seksi!), saya ingin lihat itu, tapi saya besok harus bangun pagi dan istirahat, besok perjalanan panjang seharian, tapi saya mau lihat Florence pas cantik. Dan Mas Gepeng, yang membawa beban tas paling berat, harusnya dia lebih lelah, dia butuh istirahat jauh lebih dari yang saya butuhkan. Nah lupa kan? Dasar istri durjana.

Kota Florence dari Piazzale Michelangelo lima jam sebelum sunset.

Menuju pukul delapan malam

Akhirnya kebutuhan yang menang, harusnya memang begitu kan? Sudah tampak seperti blog self-help belum? Wkwk. Kami pun turun gunung ke kota menuju hostel di Santa Monaca. Masih ada yang ganjal di hati, tapi rasanya saya sudah mengambil langkah yang tepat. Mas Gepeng sabar sekali, dia memang selalu seperti itu, senang deh. Ciye.

Kami melalui jalan yang sama seperti saat berangkat, dan ternyata semakin malam suasananya semakin berbeza. Ponte Vecchio mulai dinikmati orang-orang yang hendak melukis, lalu kawasan Cathedral of Santa Maria del Fiore menjadi lebih hidup dengan aktivitas yang lebih dari sekedar antre panjang dan foto-foto. Rasanya orang-orang menikmati sore di Florence dengan cara yang benar.

Beranda rumah orang yang saya suka banget!
Kami beli eskrim dan mengatakan ke mbak penjualnya bahwa jika diterjemahkan ke bahasa Inggris, maka toko ini artinya must be happy. Terus mbaknya bingung wkwk.
Gang kota saat sore.
Suasana sore, banyak artist lokal keluar kandang menunjukkan buah karyanya.
Trio pemusik menyanyikan lagu Italia. Lagu-lagunya jogetable.

Saat itu saya merasa terobati karena Florence saat sore sangat menyenangkan. Bisa saja kalau saya benar menunggu senja di Piazzale Michelangelo lalu turun ke kota saat malam, suasana kembali sepi seperti pagi tadi—meski tetap ada kemungkinan suasanya bisa jauh lebih menarik, tapi dengan kondisi kelelahan rasanya mungkin tak senikmat itu. Tambah lagi carousel yang menari dengan lampu-lampu neon kecilnya, lalu pengamen menyanyikan lagu Italia, orang-orang duduk sambil tertawa, keluarga menikmati hidangan pasta di kafe mungil, wah rasanya saya ingin berada lama-lama di sini.

Kami berjalan membeli makan malam panini legendaris Florence versi Insider Food bernama All'antico Vinaio, yang sudah saya siapkan sebagai pemanis hari karena tak jadi lihat sunset di atas bukit. Kami duduk di tangga depan Basilica of Santa Croce dan menikmati salami terenak dalam hidup saya itu, sambil berbagi ke burung kutut remahan roti schiacciata yang krispinya melukai langit-langit mulut saya. Sayang saya tidak coba panini best seller mereka yang pakai saus homemade berbagai macam karena semuanya menggunakan daging babi. Satu-satunya yang sapi ya yang saya makan dan hanya ada saat summer. Oh, it's even felt special then!

Papan menu All'antico Vinaio.
Is this a real life? Is this a fantasy? 

Setelah itu kami mengunjungi beberapa toko souvenir untuk beli fridge magnet, dan ke apotek beli after sun aloe vera gel karena sudah tak tahan benar ini wajah perih sekali kena panas. Kami pun sampai di hostel tepat pukul delapan, lalu mandi bersih, ganti baju tidur, minum Tolak Angin, pakai aloe vera gel, lalu bersembunyi di balik selimut.

Tak butuh lama, Mas Gepeng tahu-tahu sudah mengorok kencang sekali (untung kasurnya dapat yang ujung wkwk). Saya mengintip sedikit dari balik selimut, dan melihat senja mulai datang lewat satu-satunya jendela yang ada di kamar. Semburat emas itu mulai dari setitik, lama-lama menjadi garis, dan akhirnya tampak seperi tirai. Cantik sekali. Ternyata melihatnya dari dalam kamar sebelum tidur cantik juga.

Kebagian matahari terbenam sedikit pas mau ke hostel.

I still surprised how a day in a new place could bring this kind of experience. Sehari di Florence, saya tidak mendapat yang saya inginkan tapi memenuhi apa yang dibutuhkan, dan itu sebenarnya a little progress I still working on. Saya adalah (((budak duniawi))) yang seringkali tergoda akan hal-hal yang sebenarnya tak dibutuhkan. Lapar mata, haus hasrat.

And I think Florence looks pretty just the way it is. Saya terpaku pada 'Florence cantik pas sunset' padahal ya dia memang sudah cantik dengan warna pastel pucatnya. Florence cantik sepanjang hari, baik saat disinari matahari maupun bulan benderang. Jahat rasanya jika saya tidak menerima apa adanya, padahal dia terima saya yang hitam kumal tidak mandi dari kemarin malam lalu jalan-jalan dan bau ketek.

Apakah kamu pernah mengalami pergulatan batin pas traveling?

15 comments

  1. Wkwkwkwk ill miss those socks, baunya kek terasi ungu di pasar Berau.

    Oh pemirsa sekalian tau ga justin pas molor itu ngorok dan lama bgt tidurnya sampe hampir sejam. Trus akutu d ngantuk bianget ga bisa tidur karena ga ada kursi panjang.

    Oh pas liat pengamen di piaza de michaelangelo mereka nyanyi Tu Vuò Fà L'Americano

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaos kakimu ituuu RACUN MEMATIKAN BAUNYAAAAA! Jauh jauh lebih dari terasi ungu! Dasar. Jijaaay yek yek! Pokoknya gak ada lagi cerita kamu pake sendal gunung dengan kaoskaki.

      Penyanyi yg gondrong mirip Josh Goban yah Oyong~

      Delete
    2. Gimana nasib abang abang yg bersihin kos kakiku yah? Dipake buat nyaring keju parmagiano kali yah...pasti tasty

      Delete
  2. Suka sekali dengan paragraf penutupnyaa.
    Abis baca ini, aku jadi sadar kalau yg menurut kita bagus, ga mungkin 100% sama juga buat orang lain. Berhubung konteks dan suasananya pasti ga mungkin sama jugaaa. Hehe

    Ga sabar baca tulisan-tulisan di Eropa berikutnyaa

    Mira
    -nama yang kadang-kadang disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kata Paul Thereoux, perjalanan itu bersifat pribadi. Itu juga yang aku suka dari traveling, kisah dan pengalamannya beda-beda, meski apa yg dilihat sama. Makaci Mira yg namanya kadang-kadang disebut di blog aku, udah rekom ke Florence. Kalau jadi ke Genoa, hamba jadi bolak balik di Cinque Terre-nya hahahaha

      Delete
  3. aku lupa ini pas summer yaaa, makanya matahari lama terbenamnya. duuuh aku ga kebayang liburan pas summer soalnya mba, kena matahari indo aja lgs sakit kepala wkwkwkwkwk.. makanya aku pergi slalu winter kan

    tp kalo ttg skip 1 destinasi yg udh direncanain, aku sering bgt jg. alasannya jg krn setelah dipikir msh ada kebutuhan lain yg hrs diutamain.

    kayak kmrn di jepang, aku batal ke museum ninja, dan gunung moster. itu museum ninja sampe 2x batal tiap k jepang. alasnnya keduanya krn wkt itu aku bareng temen yg budget keuanganny lbh ketat dr aku. so setelah aku bilang biayanya segini, kliatan dia agak berat walopun di depanku angguk2.. aku pikir, ya sudlah, ga ush dipaksa.mungkin memang blm rezeki utk liat monster zao ato museum ninja. aku toh lbh milih liburan bareng sahabat yg bisa bikin sama2 happy. bukan cm akunya... toh plan B,C,D dan E selalu aku siapin utk jaga2 ada plan yg diskip :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pas masih belom durjana panasnya Mba Fanny. Dua minggu setelah aku tuh baru sampai heatwave wow, botak deh itu kepala kepanasan wkwkwk.

      Ini keknya kamu kalo jalan sama aku bakal banyak-banyak ngalah, apalagi soal yg mahal mahal hahahaha #sobatdowntoearthsadardiri

      Delete
  4. Ah... Jadi pengen menjejak ke benua biru.. Semoga next time Allah beri kesempatan.. Aamiiiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inshaa allah Mba Nabila bisa ke sana sama suami dan dedek bayinya yah, jalan jalan menikmati indahnya dunia. Ajak aku boleh mba buat foto-fotoin gitu wkwkwk

      Delete
  5. Wawww keren bangeeet! Waww waww waaaawww.... Tin aku kangen njulid, ayok ngko awan njulid kita...

    ReplyDelete
  6. ponte vecchio, jembatan yang udah aku incer sejak sma dan sampe sekarang belom kesampean. hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pas pertama kali lihat langsung suka banget. Jembatan ini kayaknya ada banyak di film-film gak sih. Mirip sama rumah yang jual parfum di film Perfume, sama rumah si bibi di film Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events. Dulu ngincer kenapa Mba Dita?

      Delete
  7. waw anda cocok jadi pembaca berita saudariku!
    selamat ya, sukses terus dan teruslah berkaya membangun bangsa.
    lain kali ajak jalan2 ke luar negeri yaaaa :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho pas nulis ini suasana hatiqu seperti pembaca puisi, bukan pembaca berita. Anda ini kurang akurat, sisterqu. Tolong lebih pas lagi analisisnya, dan menangkan tiket jalan-jalan gratis khusus untuk babang nuel aja tapi~

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.